Bab 1146
Bab 1146 Tersembunyi Dengan Baik
Di Kediaman Keluarga Maldino.
Guntur dan istrinya, Darwanti, th menyiapkan makanan mewah untuk putri dan calon menantu
mereka. Meskipun Anita dan Raditya belum menikah, pernikahan akan dngsungkan segera seth
Natal, dan yang bisa dipikirkan pasangan tua Keluarga Maldino itu hanyh cucu yang akan segera
mereka miliki.
Anita ingin mengeluarkan album fotomanya untuk dilihat Raditya, tetapi begitu dia mengambilnya,
Darwanti bergegas menghentikannya. “Hei! Letakkan itu. Kamu seharusnya tidak membawa barang
seberat itu. Saya akan mkukannya. Berikan pada saya.”
“Ma! Bukankah Mama telu paranoid? Ini hanya album foto!” Anita menggelengkan kepnya tak
berdaya. Dia bukan terbuat dari kaca. Dia hanya hamil! Dia merasa sama seperti biasanya!
Satu–satunya pengecualian adh batasan yang dikenakan pada aktivitas mm pasangan itu, yang
merupakan sesuatu yang sangat tidak disukai Anita. Dia ingin menikmati tahun bn madu mereka
hanya dengan mereka berdua.
Content provided by N?velDrama.Org.
Guntur sedang menikmati secangkir teh dan dia tertawa ketika mendengar percakapan itu. “Ibumu
telu cemas. Dia juga kurang tidur, tahu? Dia tidak tidur nyenyak sma dua hari terakhir.”
“Itu hanya karena saya tidak sabar untuk menggendong cucu saya!” Darwanti mencemaskan putrinya.
Anita adh bayinya yang berharga, yang dia besarkan sma bertahun–tahun, dan mhirkan
bukah hal yang mudah. Bagaimana mungkin bayinya yang takut jarum suntik dan mkukan tes
darah bisa menahan rasa sakit saat mhirkan?
Raditya sangat mengerti dan menemukan cara terbaik untuk menghujani istrinya dengan kasih sayang.
Dia bangkit dan mengambil album Anita darinya. “Mi sekarang, serahkan apa pun yang beratnya
lebih dari satu pon kepada saya.”
Anita mendengus dan bersandar di bahunya. “Kenapa kamu jadi paranoid juga?!”
Raditya membantunya duduk di sofa sebelum mi melihat–lihat album foto. Guntur keluar untuk
menerima telepon, sementara Darwanti menyibukkan diri di dapur.
Di luar, dunia diselimutipisan salju putih bersih; tetapi di dm, terasa hangat dan nyaman.
“Ya ampun! Ma, kenapa Mama memasukkan foto saya yang basah kuyup dengan mengenakan
popok?!” Anita mengomeli Darwanti karena malu.
Dia menutupi foto itu dengan tangannya dan menoleh ke pria di sampingnya. “Kamu tidak diizinkan
untuk melihat yang
ini.”
Raditya menyeringai dan tidak memprotes. Seth membalik hman, dia melihat Anita yang berusia
tiga tahun yang merupakan seorang gadis kecil yang cantik mengenakan gaun putri. Dia terlihat
menggemaskan.
Saat Raditya duduk di sana membk–balik foto, dia mi mendambakan seorang anak perempuan–
yang akan secantik dan semanis Anita.
Dia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintainya dan melindunginya.
“Mari kita punya anak perempuan! Yang mirip denganmu,” kata Raditya dengan suara serak.
Anita tersenyum. “Baih.”
Mereka terus melihat foto demi foto sgi Anita menjskan peristiwa atau cerita di balik masing–
masingnya.
Sekarang sudah sore.
Raisa menghabiskan sepanjang pagi membaca di ruang kerja. Tiba–tiba, dia teringat anak kucing kecil
yang dia lihat bersama Rendra terakhir kali. Dia tidak membawanya png bersamanya. Apa dia
meninggalkan kucing itu di toko hewan peliharaan agar mereka mengurusnya atas namanya?
Dia melihat buku catatan yang terlihat agak tua. Itu tampak mencolok di antara buku–bukuin, jadi dia
mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Dia menariknya telu keras dan benda itu terlepas dari
genggamannya.
Meski berhasil menangkapnya sebelum jatuh kentai, beberapa foto masih berjatuhan dan
berserakan dintai.
Raisa tersentak kaget saat melihat foto–foto itu. Itu adh foto–fotonya ketika dia masih kecil.
Seth mengambilnya untuk melihat lebih dekat, dia menyadari bahwa itu adh foto yang diambil
ketika dia berusia empat atau lima tahun. Kenapa dia tidak mengingatnya sama sekali?
Dia yang masih balita memiliki ekspresi yang agak sombong dan congkak di wajahnya. Dia terkejut
Rendra memiliki foto–foto ini.
“Kenapa dia menyimpan foto–foto saya yang tampak jelek ini padahal dia bisa saja menyimpan yang
lebih bagus?” Raisa menggerutu.
Dia duduk dan mi melihat–lihat buku catatan itu. Namun, dia menyadari bahwa itu bukah buku
catatan Rendra. Minkan, buku itu dipenuhi garis–garis berlekuk–lekuk dan coretan tulisan yang
sepertinya dibuat oleh anak berusia tiga tahun.
Dia terpikirkan sesuatu. Seorang anak berusia tiga tahun? Apa itu saya? Apa ini milik saya ketika saya
dulu bjar menulis di Kediaman Keluarga Hernandar?
Benar saja, seth membk–balik beberapa hman, dia menemukan coretan namanya yang hampir
tidak bisa dibaca, Raisa Sayaka.
Jantungnya berdegup kencang. Rendra pasti mengajarinya cara menulis ketika dia masih kecil. Saat dia
terus menatap tulisan itu, hatinya menjadi hangat.
Merupakan hal yang mungkin untuk menemukan jejak cinta yang terukir dm waktu. Raisa meletakkan
dagunya di tangannya dan memikirkan betapa cinta Rendra untuknya tersembunyi dengan baik. Jika
bukan karena itu, dia setidaknya akan merasakan sesuatu lebih cepat.