AliNovel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
AliNovel > Ruang Untukmu > Bab 1048

Bab 1048

    Bab 1048


    Ruang Untukmu


    Bab 1048


    Raisa merasa malu saat mengingat bagaimana Rendra menutup teleponnya hari ini. Rasanya sangat


    memalukan untuk meminta bantuannya sambil menk untuk tinggal di tempatnya. Tetap saja, dia tidak


    berniat menghabiskan mm di sini. Mengeluarkan ponselnya, dia menemukan nomor telepon Rendra


    dan meneleponnya, dengan gugup menunggu panggn telepon dijawab.


    Suara Rendra yang dm dan serak terdengar sangat memesona di ruang kerja yang sunyi dan luas.


    “Halo.”


    “Hei, Pak Rendra, apa kamu sibuk? Saya ingin meminta bantuan darimu,” Raisa bertanya dengan nada


    manis di suaranya.


    “Mm–hmm. Skan!” Suara pria itu terdengar tanpa emosi.


    Dia memohon, “Saya sekarang terkunci di dm perpustakaan departemen penerjemahan. Apa Anda


    bisa menelepon kantor departemen untuk mengutus seseorang mengeluarkan saya dari sini?” Dia


    merasa malu karena harus mengganggu wakil presdir dengan mash sepele seperti


    itu.


    Suaranyangsung menunjukkan sedikit urgensi. “Bagaimana bisa kamu terkunci di sana?”


    “Saya lupa waktu saat membaca tadi. Mungkin orang yang mengunci pintu tidak menyadari bahwa saya


    masih di dm. Juga,mpu di sini tidak berfungsi. Gp sekali. Saya takut,” ujarnya. saat dia


    menyampaikan keluhannya.


    “Jangan panik, oke? Saya akan segera ke sana,” katanya menghiburnya dengan suara berat.


    “Hah? Kamu datang? Kenapa repot–repot? Yang perlu kamukukan hanyh menelepon-”


    Rendra memotongnya, berkata, “Saya di dekat sini.”


    Meskipun Raisa ingin pria itu menymatkannya, dia tidak ingin pria itu datang sendiri. “Tapi kamu tidak


    perlu mkukan upaya khusus untuk datang ke sini hanya untuk ini. Cukup telepon saja. Pasti masih


    ada orang di departemen penerjemahan.”


    Rendra js tidak mau menelepon. Dia menjawab dengan tegas, “Jangan khawatir. Bersabah dan


    tunggu saya. Saya akan ke sana sebentargi.” Dengan itu, dia menutup telepon.


    Alhasil, kini Raisa pun semakin tertekan. Oh tidak! Sangat memalukan! Saya bukan hanya terjebak di


    sini, tetapi wakil presdir sekarang bersusah payah datang sendiri untuk menymatkan saya. Namun


    demikian, dia berhenti berteriak minta tolong.


    Namun, di luar sangat gp. Berkat dahan–dahan tebal di luar jend, ruangan menjadi gp gulita.


    “Ayh, tidak ada yang menakutkan,” bisik Raisa pada dirinya sendiri sambil menepuk–nepuk dadanya


    sambil berusaha keras untuk tetap tenang dengan memikirkan hal–hal yang akan memberinya


    keberanian–kejadian tadi mm di mana Rendra menciumnya, misalnya. Saat dia mengingat kejadian


    itu, pipinya memerah di tengah kegpan. Kenapa saya harus memikirkan hal ini, dari seg hal? Tetap


    saja, saya tidak bisa menghngkan ciuman tadi mm dari pikiran saya. Dan sin itu, itu adh


    ciuman pertama saya, oke? Tunggu, saya memberinya ciuman pertama saya di mobil


    sebelum itu. jadi itu dianggap sebagai ciuman kedua saya saat dia mencium saya tadi mm.


    Saat ini, beberapa karyawan sedang keluar dan mengobrol di pintu masuk departemen penerjemahan.


    Tiba–tiba, sebuah sedan hitam berhenti di depan mereka, seth itu sosok orang yang dihormati


    dengan aura yang tegas mngkah keluar dari mobil.


    Seketika, para karyawan tercengang sma beberapa detik. Mereka tidak percaya mereka melihat wakil


    presiden saat ini. Apa dia di sini untuk sesuatu yang penting? Itu pasti hal yang sangat penting yang


    mengharuskan dia datang sendiri di waktu seperti ini!


    Belongs to (N)?vel/Drama.Org.


    Emir lebih familier dengan tempat itu daripada yangin, jadi dia dengan cepat membawa Rendra ke


    arah perpustakaan. “Pak Rendra, perpustakaanma dipindahkan ke sini. Ini adh tempat menyimpan


    dokumen, jadi biasanya tidak ada orang yang datang ke sini.”


    Berjn denganngkah cepat, Rendra js mengkhawatirkan gadis yang terjebak di dmnya. Dia


    dan Emir adh satu–satunya yang berjn di sepanjang koridor karena tidak ada orangin yang


    datang.


    Bosan berdiri, Raisa duduk di kursi di sebh pintu, menunggu. Ketika dia tiba–tiba mendengar suara


    langkah kaki, dia sangat senang. Apa Pak Rendra sudah tiba? Atau apakah lia mengutus seseorang


    ke sini?


    “Nona Raisa, apa Anda di dm?” tanya Emir.


    “Ya,” jawab Raisa.


    “Pak Rendra, tolong tetap bersama Nona Raisa sebentar. Saya harus meminta seseorang untuk


    membuka kunci pintunya,” tambah Emir sebelum mngkah pergi.


    Hanya ada sebuah pintu baja antara Raisa dan pria di luar. Meskipun gp, dia bisa merasakan tatapan


    tajam Rendra padanya. “Maaf sudah mengganggumugi,” dia meminta maaf dengan sungguh–


    sungguh.


    “Saya suka saat kamu mengganggu saya,” jawab pria itu dengan suara yang dm dan serak.


    Rona merah timbul di pipi Raisa, dan dia tidak bisa berkata apa–apa. “Saya tidak ingin menyusahkanmu,


    tapi saya benar–benar tidak punya orangin untuk dimintai bantuan,” dia menjskan dengan tergesa–


    gesa.
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Shadow Slave Beyond the Divorce My Substitute CEO Bride Disregard Fantasy, Acquire Currency The Untouchable Ex-Wife Mirrored Soul