Bab 948
Bab 948
Anita berkata, “Ani dan saya slu sangat dekat sejak kami masih kecil. Dia adh adik sepupu, namun
kami seperti saudara kandung. Apa menurutmu saya masih cukup tebal muka untuk menghadapinya?
Saya senang kita tidak sampai pada titik di mana kerusakannya tidak dapat diubah, jadi belum tembat
bagi kita untuk mengakhiri hubungan kita sekarang. Raditya, saya akan menarik kembali semua
perasaan yang saya miliki untukmu, dan saya mohon lupakan kncangan saya. K–Kita bisa berteman.”
Perkataan ini mencerminkan pikirannya sesungguhnya saat ini. Dia memandang Raditya dengan
tatapan memohon.
Duduk di kursinya, Raditya memandangnya dengan tenangyaknya sebuah patung sambil
mengerutkan bibir tipisnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hati Anita masih terasa sakit; dia sedang menunggu pria itu untuk memberinya tanggapan alih–alih tetap
diam seperti ini. Namun, dia tidak bisa mendapatkan jawaban darinya, yang membuatnya merasa sedikit
getir. Dia mengh napas, berkata, “Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu ingin saya mkukan apa?
Bagaimana saya harus meminta maaf kepadamu sehingga kamu akan memaafkan saya atas seg
yang th sayakukan padamu hari ini?”
Pertanyaannya membuat pria itungsung berdiri dari kursinya. Kemudian, dia mngkah ke arahnya.
dengan kakinya yang panjang dan ramping.
Anita hanya bisa menn ludah sambil menatapnya dengan gugup. “A–Apa yang kamukukan?”
Tubuh Raditya dipenuhi oleh kekuatan luar biasa saat dia mendekati Anita. Di sisiin, Anita sudah
duduk di ranjang sejak awal, jadi dia tidak punya carain sin berbaring agar tidak berdekatan
dengan pria itu. Akibatnya, dia berbaring telentang di tempat tidur dengan meletakkan tangannya di
kedua sisi kepnya untuk menopang, menghasilkan postur yang agak telu sugestif.
“A–Apa yang kamukukan? Raditya, saya peringatkan kamu…” Anita tergagap panik.
Raditya menatapnya tajam dengan kening berkerut. “Ambil inisiatif sekaligi, ku begitu. Jika saya
puas, saya mungkin akan menyetujui permintaanmu dan tidak munculgi.”
Anita gugup. Bukankah pria ini teluncang untuk membuat permintaan seperti itu? Bagaimana
mungkin saya bisa menciumnya atas inisiatif saya sendiri sekarang? “Tidak, saya tidak akan
menyetujuinya.” Dia menggelengkan kepnya,
“Ku begitu, saya tidak akan setuju untuk putus denganmu.” Raditya menatapnya dengan tegas.
Anita bahkan lebih tegas. “Tidak, tidak, tidak. Kita harus putus-”
Pria itu menjng di atasnya bagaikan gunung raksasa. Seperti penjara yang tidak bisa dihancurkan,
dia membuat wanita itu tidak memiliki ruang untuk mrikan diri ataupun menghindarinya. Dia menatap
wanita itu dengan mata gp yang menunjukkan emosi yang membuncah di bawah cahaya tatapan
yang berati dia terangsang oleh wanita itu.
–
Merasakan kehadiran yang sangat menindas, Anita mengulurkan tangannya untuk mendorongnya.
Kesal dan malu, dia memerintahkan, “Bangun, Raditya.”
Raditya menatap wajah Anita yang memerali dengan penuh arti, rambutnya yang acak–acakan, dan
ekspresi kesalnya. Wanita di bawahnya itu seperti mantra yang membuatnya tidak bisa membebaskan
diri.
“Apa yang berusaha kamukukan?! Saya peringatkan kamu, ku kamu berani menyentuh saya, saya
akan memberitahu kakekmu tentang itu,” kata Anita, mengancamnya.
Raditya menyeringai dengan dengusan tawa. “Kakek saya tidak sabar untuk memiliki cicit. Jika kamu
bisa memberinya satu, dia akan sangat berterima kasih padamu.”
Wajah Anita sangat merah seh nyaris berdarah. “Kamu… Siapa yang mau mhirkan anak
untukmu?”
Raditya hanya menggodanya pada awalnya. Melihat bagaimana wajah Anita memerah, dia tahu bahwa
wanita mungkin akan kesal jika dia membuatnya semakin marah. “Sudah. Ruangan ini telu kecil
bagi saya untuk tampil,” katanya sambil menegakkan tubuh sebelum mengambil mantel trench di
sampingnya dan menyampirkannya di bahu.
Copyright by N?v/elDrama.Org.
Mendengar ucapan provokatif seperti itu, Anita mengatupkan giginya dan menatap tajam ke arahnya.
Coba saja ku kamu berani!
“Saya akan tidur di mobil. Berhati–hath dan tetap hangat,” kata Raditya. Dengan itu, dia membuka
pintu dan pergi.
Anita hanya bisa menatapnya dengan sedikit kekhawatiran di matanya. “Raditya…”
Namun, pria itu sudah menutup pintu.
Anita tidak berniat mengejar pria itu keluar ruangan. Di luar sangat dingin, jadi dia pasti kedinginan di
dm mobil. Tetap saja, hanya ada satu ranjang di sini. Jika dia tinggal di sini, apa yang harus kami
lakukan?
Dia berbaring di ranjang dengan kelhan seh–h dia baru saja berperang sambil masih
mengenakan mantel besar militer pria itu. Dia hanya bisa memeluk erat dirinya sendiri.