Bab 829
Bab 829
Raditya mengangkat kepnya dengan tajam dan berkata, “Apakah kakek bercanda?”
“Apakah saya terlihat seperti seseorang yang sedang bercanda denganmu? Jika kamu sangat sibuk
sehingga kamu tidak punya waktu untuk menikah, kamu bisa bertunangan dan memberi saya cicit
terlebih dahulu.” Panji tidak sabar untuk melihat cicitnya.
Namun, ekspresi enggan terlihat di wajah Raditya. “Saya masih memiliki beberapa pekerjaan penting
yang harus dikerjakan, dan saya tidak punya waktu untuk bertunangan.”
This content ? 2024 N?velDrama.Org.
“Tidak peduli seberapa sibuknya kamu, kamu masih bisa meluangkan waktu di mm hari.
Kesepakatan sudah selesai. Kami akan makan mm dengan keluarganya besok mm, dan
pernikahanmu akan diputuskan saat itu juga.” Panji berkuasa sejak dulu, jadi dia slu memiliki
keputusan akhir dan siapa pun tidak diizinkan membantahnya. Hal ini juga beku untuk pernikahan
cucunya sendiri.
“Maaf, Kakek. Saya tidak bisa mkukan itu. Saya harus pergi sekarang.” Saat Raditya
mengatakannya, dia mngkah menuju pintu, dia tampak seperti sedang mrikan diri.
Ketika Panji melihat Raditya pergi, dia mengh napas dan tiba–tiba menekan dadanya.
Melihat adegan tersebut dari sisi samping, pyanngsung berteriak, “Tuan Besar Panji! Kembalh,
Tuan Muda Raditya!”
Raditya yang baru saja sampai di sisi mobilnya mendengar suara pyan tersebut. Raditya dengan
cepat melemparkan tasnya dan beri kembali menuju a, dan dia melihat wajah pucat Panji yang
sedang menekan dadanya, tidak bisa bernapas. Pyan itu dengan cepat memberi Panji masker
oksigen.
Seth menghirup oksigen, Panji tersadar kembali dan wajahnya terlihat lebih baik. Kemudian, dia
duduk dan menarik napas dm–dm sebelum menatap cucunya. “Tubuh saya sudah tidak sebaik
dulu.”
Tak perlu dikatakangi, Raditya juga merasa bersh karena dih yang membuat kakeknya sakit
karena marah. Karena itu, Raditya duduk dan melihat foto gadis di atas meja sebelum berkata, “Baih.
Saya akan bertunangan dengannya. Namun, saya benar–benar memiliki mash yang mendesak, jadi
untuk saat ini kita hanya bisa bertunangan.”
“Baih. Kamu bertunangan terlebih dulu!” Panji tersenyum. Akhirnya dia mendengarkan saya kali ini.
Peristiwa ini terjadi tepat pada waktunya.
Pada saat itu, ponsel Raditya berdering. Dia melihatnya dan berkata, “Kakek, saya memiliki mash
mendesak yang harus ditangani. Saya harus bertemu dengan orang–orang saya sekarang. Hubungi
saya jika terjadi sesuatu.”
“Jika terjadi sesuatu, saya akan menelepon rumah sakit terlebih dahulu. Pergh dankukan urusanmu
dengan santai.” Panji mmbaikan tangannya, menyuruhnya pergi. Panji merasa lega menyerahkan
cucunya ke negara, dan dia juga bangga akan hal itu.
Sambil mengangkat telepon, Raditya keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya. Raditya hanya bisa
mengh napas pasrah karena yang bisa diakukan sekarang hanyh membujuk kakeknya dan
kemudian meminta maaf kepadanya seth dia selesai menangani hal ini.
Raditya bersikeras tidak mau menikah karena tragedi pernikahan orang tuanya. Karena pekerjaan
Raditya
sama dengan pekerjaan ayahnya, yang penuh dengan risiko yang tidak pasti, Raditya tidak ingin
mengikuti jejak ayahnya. Terlebihgi, Raditya tidak ingin anak–anaknya di masa depan menjadi seperti
dirinya.
Di bandara internasional, ada seorang wanita muda berpakaian menggoda di pesawat yang baru saja
mendarat. Wanita itu memeriksa kerumunan di sekitarnya dengan waspada dengan menggunakan
earpiece bluetooth di telinganya sementara seseorang berkomunikasi dengannya.
“Apakah kamu yakin semuanya ada bersamamu?”
“Jangan khawatir, bos. Semuanya ada bersama saya.”
“Bagus. Kegagn tidak akan ditoleransi dm kesepakatan ini.”
“Saya mengerti. Saya pasti akan berhati–hati.” Saat wanita itu mengatakannya, dia mengeluarkan lipstik
dari sakunya dan melihatnya. Tepat ketika dia akan memasukkannya kembali ke sakunya, tiba–tiba, dia
ditabrak oleh seorang gadis yang berjn dari bkang dengan kep tertunduk.
Seketika, lipstik terlepas dari tangan wanita itu, dan pada saat itu juga, tas tangannya juga jatuh ke
lantai. Beberapa produk kecantikan wanita jatuh dari dm tas tangan yang resletingnya terbuka.
Kejadian tersebut menarik perhatian beberapa polisi yang ada di samping. Ketika gadis itu melihat polisi
mendatanginya, dia dengan cepat menundukkan kepnya dengan cemas. Saat itu, dia melihat lipstik
di samping kakinya, jadi dia segera membungkuk, mengambilnya, dan memegangnya erat–erat,
menekannya di dadanya seh–h itu lebih penting daripada nyawanya.
Bahkan ketika gadis yang menabraknya meminta maaf, dia tidak memandangnya sama sekali. “Maaf
Nona.”
Ketika gadis itu melihat barang–barangnya berserakan dintai, dia berlutut dan mengambilnya satu per
satu, memasukkannya kembali ke dm tasnya. Dia mengenakan topi yang menutupi matanya yang
memerah karena menangis. Terlihat js bahwa dia th mlui beberapa hal yang membuatnya
kesal, dan ith sebabnya dia berjn dengan linglung dan menabrak wanita itu.