Bab 2142
Bab 2142 Berkobar–kobar
“Aku baru saja menemui Lorenzo, dan bahkan bertengkar dengannya.” Dewi tampak sedikit. frustrasi,
“Dia pandai dm seg hal, tapi dia sedikit keras kep. Aku mungkin perlu lebih banyak waktu
untuk berdiskusi dengannya dan menjskan mash ini…”
“Betul, betul,” Mina berkata dengan tergesa–gesa, “Tidak perlu terburu–buru, kita pn–pn saja,
dan jangan membuat Tuan L marah. Sebelumnya aku tidak berpikir dengan hati–hati, tidak seharusnya
mendesakmu.”
“Itu bukan shmu.” Dewi menghiburnya, “Aku juga telu terburu–buru.”
“Ya, ya, mash ini membutuhkan keterampn, jadi jangan terburu–buru…. Mina berkata dengan
cara yang berbeda, “Dm dua hari ini jangan bicarakan hal ini, Nona dan Tuan L sudahma tidak
bertemu, kalian harus kembali akur, jangan karena kejadian ini, suasana hati Nona jadi terganggu.”
“Hah?”
Dewi tidak mengerti, kenapa sikap Mina berubah begitu cepat?
“Dengarkan aku, dm dua hari ini jangan bahasgi, jangan meributkan mash inigi.” Mina.
menasihatinya, “Dm beberapa hari, ketika kalian sudah berbaikan dan suasana hatinya sudah baik,
baru bahasgi, aku akan mengajari Nona bagaimana cara mengatakannya.”
Mendengar kata–kata ini, Dewi segera mengerti bahwa Mina mengantarnya kembali tidak hanya untuk
memastikan kesmatannya, tapi juga untuk mengawasi dan membimbingnya untuk menymatkan
para pengawal ….
Dewi tidak tahu apakah itu maksud terselubung Willy atau dari Mina sendiri, pada akhirnya, dia hanya
merasa sedikit jijik.
Namun seth dipikir–pikir, nyawa Willy sudah diambang batas, meski wajar mkukan hal tersebut,
Mina merupakan seseorang yang dibesarkan sendiri oleh Willy, sehingga dapat, dipahami jika dia
sangat khawatir.
Hanya saja, Dewi tidak menyukai cara ini …..
“Nona Dewi, Nona Dewi….” Mina memanggil dengan cemas, “Apa Nona baik–baik saja?”
“Tidak apa–apa Dewi kembali sadar, “Sembuhkan lukamu dengan baik, aku akan menemuimu
besok.”
“Tidak perlu cemas, Nona temani Tuan, lukaku baik–baik saja….”
“Baik, sampai jumpa besok.”
Seth Dewi mengatakan hal itu, dia menutup telepon.
1/2
Dia merasa Mina terluka karena dirinya, dan dia harus bertanggung jawab untuknya, dia khawatir
dokterin memiliki keterampn medis yang terbatas dan tidak dapat memberikan pengobatan
tercepat dan terbaik pada Mina, sehingga dia harus pergi untuk melihat lukanya besok.
N?velD(ram)a.?rg owns this content.
Tapi pada saat yang sama, Dewi juga tidak suka diawasi.
Dia merasa harus menjskan hal ini pada Mina.
Dewi merasa sangat tertekan, dia tiba–tiba menyadari bahwa menymatkan orang tidak hanya
membutuhkan keterampn medis, tapi juga otoritas dan status….
Sama seperti kasus Willy, jika dia bisa menymatkan seseorang hanya dengan keahlian medisnya,
kenapa harus begitu merepotkan?
Tapi sekarang, jika dia ingin menymatkan Willy dan orang–orang di kastelnya, dia harus meminta
bantuan Lorenzo.
Tapi, Lorenzo adh orang yang keras kep….
“Masih marah?”
Sebuah suara yang akrab datang, Dewi kembali sadar, ia menoleh dan melihat Lorenzo yang sedang
berjn masuk.
Sambil membuka kancing bajunya, ia berjn menghampiri Dewi, matanya dipenuhi dengan keinginan
terselubung….
“Apa yang kamukukan?” Dewi tiba–tiba berbalik dari tempat tidur, menatapnya dengan marah,
“Jangan main–main, aku kasih tahu ya, hari ini sudah beberapa kali … ah….”
Sebelum dia selesai berbicara, Lorenzo melemparkannya ke tempat tidur.
Dia menekannya ke bawah seperti binatang buas, membuatnya tidak bisa bergerak, danngsung
memasukkan satu tangannya ke dm roknya….
“Bajingan… Ugh….”
Sebelum Dewi selesai bicara, dia dicium oleh Lorenzo.
Ciuman itu sangat panas, membuat Dewi terkejut.
Dia memberontak beberapa kali, kemudian akhirnya dia berhenti, dan segera tenggm di bawahnya.
Dua bayangan yang saling terkait terpantul ke dinding olehmpu, bergelombang, liar dan intens
Suhu di dm ruangan berangsur–angsur memanas, seperti api yang berkobar–kobar….