Bab 2143
Bab 2143 Hanya Dia
Seth mkukan adegan ranjang cukupma, akhirnya Lorenzo tertidur dengan Dewi di pelukannya.
Dewi meringkuk dm pelukannya seperti anak kucing, menatapnya dengan marah, pria ini tertidur tak
lama seth menyelesaikan permainannya.
Menganggapnya apa?
Sungguh menyebalkan.
Dia ditekan hingga tidak nyaman olehnya, dia berbalik badan dan ingin pindah ke sisi samping, tetapi
Lorenzo menariknya ke dm pelukannyagi, dan menguncinya dengan tangan dan kakinya yang
panjang.
Dewi tidak bisa bergerakgi….
Dia berbaring tak berdaya di tempat tidur, mmun menatap pemandangan salju yang indah di luar
jend ….
Tapi, suara dengkur Lorenzo seperti memiliki efek menghipnotis, takma, dia tertidur juga.
Mm itu, mereka berdua tidur dengan nyenyak….
Keesokan paginya, ketika Dewi bangun, dia mendengar suara air dari kamar mandi, dia tahu. Lorenzo
sedang mandi, jadi dia mengabaikannya, berbalik, memeluk bantal dan mnjutkan
tidur.
Tidakma seth selesai mandi, Lorenzo datang dengan mengenakan handuk, menyeka rambutnya
dan berkata, “Banguh, temani aku sarapan.”
Dewi meregangkan pinggangnya, memeluk bantal, cemberut, dan menatapnya dengan tidak senang,
“Maaf!”
“Hah?” Lorenzo terkejut, “Kenapa?”
“Kata–kata yang kamu katakan kemarin membuatku marah, maaf.”
Dewi menggosokkan kaki indahnya ke kaki Lorenzo.
“Kata–kata apa?” Lorenzo sepertinya tidak ingat sama sekali.
“Kamu….” Dewi tiba–tiba berbalik, dan berkata dengan marah, “Kamu mengatakan bahwa aku
menikah denganmu karena Willy, dan kemarin mkukan itu denganmu juga karena dia… Kata-
katamu th menyinggungku.”
“Ugh….” Lorenzo akhirnya ingat, “Ku begitu, apa benar?”
“Tentu saja tidak.” Dewi berdiri di tempat tidur dengan menaruh kedua tangannya di pinggang.
kemudian berkata dengan marah, “Aku, Dewi, tidak bisa ditundukkan karena kekuasaan, tidak akan
goyah oleh kekayaan, dan apagi mkukan itu?
Kesimpnnya, aku tidak akan mkukan apa pun yang tidak ingin akukukan untuk tujuan apa pun,
apgi pernikahan dan hal–hal pentinginnya!!!”
“Oh!” Lorenzo menjawab dengan santai, seh dia tidak peduli dengan jawabannya, iangsung pergi
ke ruang ganti….
Property of N?)(velDr(a)ma.Org.
Hanya saja ketika dia berbalik, ia sedikit tersenyum.
Dia sangat senang dan puas dengan jawaban ini.
“Hei, bajingan, apa kamu mendengarku?”
Dewi mengikuti di bkang dan berteriak dengan marah.
Lorenzo mengabaikannya dan hanya memedulikan dirinya sendiri dan mengganti pakaiannya.
Dewi sangat marah sehingga dia bergegas ke ruang ganti, meletakkan tangannya di pinggang dan
terus mengomel, “Bajingan, bicarh!”
“Aku dengar,” Lorenzo menjawab dengan santai, “Masih tidak mau mandi? Aku menunggumu untuk
sarapan bersama.”
“Huh.” Dewi sangat marah, membuatnya menjadi sangat emosional dan berdebat dengan sekuat
tenaga, tapi dia menanggapinya dengan ms dan dingin, tidak meresponsnya….
Dia sangat marah, perasaan hatinya….
Sangat kacau.
“Baih.”
Melihat ekspresinya yang sedang marah itu membuat Lorenzo ingin tertawa, diangsung
menggendongnya duduk di atas rak, sehingga dia bisa menatap matanya….
“Mi sekarang, di hatimu, pikiranmu, dan tubuhmu hanya ada aku seorang, mengerti?”
“Apa?” Dewingsung tersipu malu seth mendengar kata–kata ini, “Kenapa kata–kata itu terasa
sangat cabul…
“Katakan kamu paham.” Lorenzo mencubit dagunya, membuatnya menatapnya.
“Paham.” Dewi berseru, segera seth mengatakan itu dia menambahkan, “Sh, masih ada anak-
anak di panti asuhan, Brandon, Bibi Lauren, Paman Joshua, dan ….”
“Cukup.” Lorenzo segera memotongnya, “Tidak perlu membicarakan itu.”
“Oh.” Dewi cemberut, “Bagaimana denganmu, apa aku satu–satunya di hati, pikiran, dan tubuhmu?”
“Tentu saja, slu seperti itu!” Lorenzo menggigit bibirnya, “Aku mau menggodamugi, apa yang
harus kkukan? Hm?”