Bab 178
Bab 178
Text ? 2024 N?velDrama.Org.
Dada Samara terasa dingin dan dia baru menyadari ku kemejanya sudah setengah terbuka.
“Kenapa kamu boleh....”
“Kenapa saya tidak boleh?” mata tajam Asta terlihat gp, “Kamu boleh mhirkan Javier dan Xavier,
kenapa tidak boleh?”
Samara tahu ku Asta sedang serius, dan ini tidak seperti berada di ambang bahaya seperti
beberapa kali sebelumnya
Dia panik tiba–tiba, dia tidak boleh membiarkan sesuatu benar–benar terjadi antara dirinya dan Asta,
atau dia benar–benar tidak akan bisa menyingkirkan Asta.
II
“Bukankah kamu juga sama? Kamu juga memiliki Oliver dan Olivia dari wanitain!”
“Itu adh keckaan yang tidak disengaja....” Asta meraih dagu Samara dan menjskan, “Dan
saya masih menyelidiki keckaan ini.”
“Itu juga tidak boleh....”
Asta tidak memberikan Samara kesempatan untuk berbicara, danngsung menciumnyagi.
Nafas keduanya menjadi semakin kacau, dan seluruh ruangan dipenuhi suasana yang sangat ambigu.
Tepat ketika Asta merasa tidak puas dengan ciuman itu saja, pintu tiba–tiba terbuka dan Dokter
Patricia masuk.
“Asta, saya datang untuk ......”
Kata ‘memeriksa‘ belum sempat keluar dari mulutnya, Dokter Patricia sudah terkejut dengan adegan
yang ada didepan matanya.
Pakaian Samara berantakan, kulitnya yang putih mulus bersinar, rambutnya acak–acakan, mulutnya
sedikit terbuka untuk bernafas, dan ku bukan karena wajahnya yang berbintik bintik itu dia lebih
cantik dari banyak wanita cantik yang pernah dilihat Dokter Patricia…
Bahkan orang bodoh juga tahu apa yang sedang terjadi dihadapannya!
“Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk pintu!” Asta sangat marah seperti seekor binatang
buas, dan berteriak dengan tajam, “Keluar!”
Dokter Patricia terpaku.
Asta tidak pernah menunjukkan ekspresinya, tapi ini pertama kalinya Dokter Patricia melihat pria ini
marah dan lepas kendali.
Samara, wanita bermuka dua yang licik ini!
Dia baru mengatakan bahwa hubungannya dengan Asta ditakdirkan untuk gagal, tapi dia tidak
ragu–ragu untuk naik ke tempat tidurnya tanpa malu–malu hanya bersng beberapa menit
sethnya...
“Saya... saya akan segera pergi.”
Dokter Patricia berbalik dengan panik, menutup pintu dan pergi.
Seth pergi, Samara ingin mrikan diri dari tempat tidur, tetapi begitu dia bergerak, Astangsung
mengetahui niatnya.
Pergngan kakinya dicengkeram, dan dia terjatuh ke tempat tidurgi.
“Kamu......”
“Tarik kembali kata–kata yang baru saja kamu katakan.” Asta menunduk dan menatapnya, aura
berbahaya di mata tajamnya terasa semakin kuat.
“Saya sudah mengatakan apa yang saya katakan, bagaimana saya bisa menariknya kembali?”
“Saya bng tarik ya tarik.” Jari–jari Asta membi tubuhnya, menyebabkan tubuhnya gemetar. “Jika
kamu tidak menariknya kembali, maka saya...”
Sh satu pintu masuk‘ di bagian tubuhnya dieksplorasi oleh jari–jari pria itu seperti tidak ada apa–apa
...
Ini benar–benar ancaman!
Dia memaksanya untuk menarik kembali kata–katanya.
Samara menggigit bibirnya dengan keras, dan memutuskan untuk tidak mwan Asta secara
langsung : “Baik, saya akan menarik kembali kata–kata tak berguna itu...”
“Tidak cukup.”
Samara mengerutkan kening dan bertanya, “Apa yang tidak cukup? Apa yang kamu ingin kukatakan?”
“Katakan bahwa perasaan akan tumbuh diantara kita berdua.” Dahi Asta melotot, dan ujung jarinya
menjjah sedikit lebih dm saat dia berbicara, “Katakan kamu akan mencoba untuk menyukaiku
...”
Tubuh Samara semakin panas, sepertinya dia akan dibuat g oleh pria yang ada diatas tubuhnya.
Jika tidak mengatakannya sekarang, maka dia akan mati dengan menyedihkan.
“Tidak mau mengatakannya?”
“Baik, saya akan mengatakannya...” Samara memejamkan mata cotnya dan segera berkata, “Saya
menarik kembali kata–kata yang mengatakan ku tidak ada yang akan terjadi antara diriku dan Asia.
Asta dan saya pasti akan memiliki perasaan yang bermekaran, dan saya akan berusaha menyukainya,
mungkin suatu hari nanti saya akan sangat menyukainya...”
Seth mengucapkan kata–kata ini, Samara rasanya ingin mati saja.
Untuk waktu yangma, tidak ada respon.
Ketika Samara membuka matanyagi, dia melihat senyum di mata Asta.
Empat mata itu saling menatap.
Asta tersenyum dan berkata, “Samara, saya akan menunggumu.”