AliNovel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
AliNovel > Empat bayi Kembar Kesayangan Ayah Misterius > Bab 75

Bab 75

    Bab 75


    Bab 75


    Ketika Asta mendekat ke Samara, samar–samar dia bisa mencium aroma obat di tubuhnya.


    Dia th bertemu telu banyak wanita.


    Tapi dia satu–satunya yang membuatnya tidak bisa berhenti.


    Bahkan dengan wajah seperti ini, dia merasa bahwa dia cantik, bahkan semakin dia melihatnya, dia


    semakin menyukainya.


    “Buka matamu sebelum berbohong.” Samara mendengus, merendahkan dirinya dm kemarahannya:


    “Dengan wajahku yang sepert ini, jangan bng bahwa kamu benar–benar menganggapnya cantik


    “Cantik


    Samara meletakkan tangan kecilnya di dada Asta untuk mencoba mendorongnya menjauh: “Siapa yang


    percaya...”


    Namun, detik berikutnya.


    Bibir Asta dengan cepat menutup bibirnya, secepat kt.


    Dengan penuh keheranan, Samara pun mngkah mundur tanpa sadar, namun seth mundur


    beberapangkah, punggungnya menempel ke dinding yang dingin.


    Dia sudah berada di situasi dimana tidak ada jn untuk kembaligi.


    This belongs ? N?velDra/ma.Org.


    Bibir dan gigi yang terjalin itu semakin memanas, dan ciuman itu juga membuat nafas Samara terengah–


    engah.


    Ketika Asta melepaskan Samara, tangan Samara pun terangkat dan dia menampar wajah Asta.


    “Piakk“, tangan kecil itu mendarat di wajahnya yang tampan, dengan suara yang js.


    Lalu, Samara tertegun sesaat.


    Dengan keterampn Asta, tidak sulit baginya untuk menahan tangannya dan menghindar dari


    tamparannya, namun dia tidak menghindarinya, dia menerima tamparan yang tiba–tiba itu.


    Samara terengah, bibirnya memerah dan sedikit membengkak: “Asta, ini masih di taman kanak–kanak...


    kamu tidak tahu malu!”


    “Saya tidak bisa menahan diri.” Mata Asta sedikit terangkat, tatapan matanya dm, sedikit merasa


    bodoh akibat keinginannya: “Saya... saya tidak slu se bergairah yang kamu kira, dimataku, kamu


    lebih menarik daripada wanita mana pun.”


    Kalimat ini... terdengar bodoh.


    Namun, ketika Samara menatap matanya, tidak ada keraguan dari tatapan matanya.


    Dia memakai topeng wajah untuk menyembunyikan identitasnya.


    Sma beberapa tahun ini, dia juga sudah terbiasa melihat semua kejahatan karena wajahnya yang


    jelek ini.


    Namun di mata Asta, dia sama sekali tidak membenci ‘kejelekan’–nya.


    Hati Samara sangat terpana, seperti ada semacam ketergantungan, kehangatan dan kesetiaan yang


    belum pernah dia rasakan sebelumnya.


    Dia merindukan kehangatan seperti ini, namun dia juga takut kehangatan yang dia dambakan ini


    akhirnya akan menckai dirinya sendiri.


    Dia ragu untuk berjuang.


    Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Asta, dia hanya bisa buru buru berbalik untuk pergi, seperti


    binatang buas terperangkap yang berusaha mrikan diri.


    Samara menghabiskan waktu yangma untuk kembali tenang,lu dia berjn kembali ke gedung


    sekh untuk mencari Oliver dan Olivia


    Ketika dia melewati kantor guru, diangsung melihat Monica sedang berjn keluar dengan sebuah


    kotak kardus di tangannya.


    Sepertinya dia mengundurkan diri karena tekanan dari Asta.


    Mata Monica memerah karena menangis, dia menggertakkan giginya seth melihat Samara:


    “Mengapa? Mengapa? Mengapa Asta membenciku, namun sangat peduli padamu?”


    Samara teringatgi pada ciuman dari pria itu,lu bergumam pada dirinya sendiri: “Ya, kenapa, ya?


    Apakah dia buta?”


    “Kamu,” Monica menghentakkan kakinya dengan keras: “Jangan sombong, ibu kandung Oliver dan


    Olivia adh wanita tercantik, dan kamu juga tidak akan pernah bisa berakhir bersama dengan Asta!”


    “Kamu telu banyak berpikir, saya tidak pernah berpikir untuk bersama dengannya.”


    “Kamu—”


    “Mengajar dan mendidik anak itu bukah suatu hambatan.” Samara berkata dengan santai: “Daripada


    bertanya mengapa? Lebih baik tanyakan pada dirimu sendiri. Dunia ini sangat adil, kamu menuai apa


    yang kamu tanam.


    Kamu membuatku merasa kamu sangat menyukai Asta, namun apa yang th kamukukan


    untuknya?”


    Monica yang baru saja mengg karena kecemburuannya pun terpaku.


    Melihat b mata Samara dari dekat, dia merasa bahwa sepasang mata ini sangat berbinar dan berku


    seperti bintang yang indah, sehingga membuat orang–orang tidak bisa mengalihkan pandangan


    darinya.


    Samara tidakgi melihat Monica yang terpana, dan berjn lurus ke arah ks.


    Ks yang tadi baru saja berakhir, snjutnya adh ks hraga orang tua–anak


    Oliver dan Olivia pergi ke ruang ganti dengan hati senang untuk berganti


    pakai hraga, bahkan Samara dan Asta juga harus mengganti pakaian.


    Samara sedikit mengernyit ketika melihat pakaian hraga berwarna putih yang diserahkan oleh Asta:


    “Saya juga harus mengganti pakaian?”


    “Oliver dan Olivia tidak pernah memiliki ibu untuk menemani mereka ke acara seperti ini.” Mata Asta


    sedikit sendu: “Saya tidak ingin mereka kecewa, seharusnya kamu juga berpikir seperti itu, kan?”


    Asta memanfaatkan kelemahannya dengan sangat tepat.


    Ya, dia tidak ingin.


    Kasih sayangnya terhadap kedua anak kecil Oliver dan Olivia itu tidak bisa dijskan, tidak berwujud


    dan tidak bisa di gambarkan.


    Dia tidak perlu menghabiskan begitu banyak energi dan waktu untuk kedua anak yang tidak


    berhubungan dengannya itu, namun setiap berbicara mengenai mereka, hatinya akan melemah, dan dia


    tidak tega.


    Bibir Samara mengerut, dialu berbalik untuk masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaian hraga.


    Asta memandang punggungnya, rencana licik melintas di matanya yang tajam itu, dan sudut bibirnya


    pun terangkat.


    Samara bisa menknya dengan kejam, namun, dia tidak percaya bahwa Samara bisa menk Oliver


    dan Olivia, kedua anak kecil yang imut itu.


    Next Chapter
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Shadow Slave Beyond the Divorce My Substitute CEO Bride Disregard Fantasy, Acquire Currency The Untouchable Ex-Wife Mirrored Soul