Bad 1280
Bab 1280 Jangan Malu–Malu di Sekitarku
“K–Kamu pacar Pak Nando?” Cecilya bertanya dengan berani.
“Ya. Itu saya. Saya ada saat kamu terakhir kali mengantarkan pakaian ke rumahnya. Terima kasih.
banyak atas perhatianmu.” Qiara mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Cecilya hanya bisa bergidik. Ketika dia memikirkan tentang bagaimana dia mengusik Qiara di masa
lalu. Cecilya menjadi sangat cemas hingga dia hampir pingsan. “Tidak perlu dibahas, Nona Qiara.
Saya harus kembali bekerja.”
Seth membuat pernyataan itu, dia dengan cepat berbalik dan menuju ke lorong.
Saat makan siang di restoran hotel, Qiara memberi tahu Nando tentang kesehatan ayahnya, seth
itu Nando setuju untuk mengizinkannya mengel perusahaan sementara ayahnya istirahat.
N?velDrama.Org holds text ? rights.
“Meskipun saya tidak memiliki pengman, saya akan mencoba yang terbaik.”
“Kapan pun kamu memiliki pertanyaan, jangan ragu–ragu untuk bertanya kepada saya. Jangan malu
danngsung tanyakan kepada saya.” Nando khawatir tekanannya akan telu berat untuk ditanggung
Qiara.
“Saya pasti akan mkukannya!” Qiara tersenyum.
Kecemasannya belum sepenuhnya mereda sma perjnan, namun dia merasa jauh lebih aman
mengetahui bahwa dia mendapat dukungan Nando. Sepertinya pria itu akan slu ada untuknya, apa
pun rintangannya.
“Kenapa kamu malu–malu di sekitar saya? Saya js tidak akan berada di sisimu.” Nando
melengkungkan alisnya.
“A–Apa maksudmu?!” Qiara menundukkan kepnya dengan malu–malu.
Nando menatap mengancam padanya. “Seperti yang kamu ketahui dengan baik, saya akan segera
berusia dua puluh dpan tahun, dan pria seusia saya memiliki stamina seperti binatang buas.
Anggap itu pengingat yang ramah.”
Begitu Qiara mendengar itu, telinganya memerah.
“Jadi, jangan malu–malu di dekat saya, oke?” Nando menyeringai dan berhenti menjahilinya.
Mengumpulkan keberaniannya, Qiara dengan berani menjawab, “Mengerti. Saya tidak akan malu–
malu di dekatmu.”
Melihat Qiara diprovokasi membuatnya geli. Bagi Nando, sangat manis ketika Qiara bisa
memercayainya dan memberinya kesulitan tanpa merasa bersh karenanya. Itu adh satu- satunya
cara baginya untuk mendapatkan arti penting dm hidupnya.
Seth makan, Qiara memutuskan untuk membeli pakaian kerja di toko terdekat. Karena dia
diharapkan untuk menjaga penampn profesional, dia tidak bisa memakai gaun untuk bekerja setiap
hari.
“Ayo pergi! Saya akan ikut denganmu.”
“Apa kamu tidak ada rapat di sore hari?” Qiara bertanya sambil melemparkan tasnya ke arah Nando.
“Kenapa? Mungkinkah rapat itu lebih penting daripada menghabiskan waktu bersamamu?”
Seth mendengar perkataannya, Qiara hampir meleleh menjadi genangan air karena Nando bahkan
lebih manis daripada makanan penutup yang baru saja dia makan. Dia dengan patuh memeluk
pinggang Nando dan menjawab, “Oke, ku begitu! Mohon bantu saya membuat pilihan pakaian yang
mencerminkan seleramu, Pak Nando.”
Ketika dia menyentuh pinggang Nando yang berotot dan kokoh, dia merasa harus mencubitnya
seh–h untuk memastikan bahwa itu kekar. Sin itu, Nando juga menyukai keintiman yang ia
bagi dengannya. Begitu mereka mngkah keluar restoran, mereka disambut oleh sekelompok staf
hotel berseragam.
Gerakan berani Qiara tiba–tiba terhenti, dan dia dengan cepat menarik tangannya. Pada saat itu,
Nando merangkul bahunya untuk menariknya mendekat saat mereka berjn melewati sekelompok
staf.
“Smat siang, Pak Nando.” Serentak, sekelompok orang menyapanya sambil menatap dengan
penasaran ke arah wanita di pelukan Nando. Mereka berspeksi bahwa dia pasti calon istrinya!
“Smat siang,” jawab Nando sambil mengarahkan wanita itu ke lift.
Saat mereka berada di lift, tangan Qiara berada di pinggang Nando sekaligi. Qiara memujinya
sambil mengangkat kepnya, “Pak Nando, kamu sering berhraga.”
“Tentu saja. Saya tidak bisa mengecewakan calon istri saya, bukan?” Dia menatap tajam ke arahnya.
Itu adh kata–kata yang dia ucapkan untuk didengar Qiara. Qiara mengangguk tanpa sedikit pun
tanda–tanda malu. “Yah, saya cukup senang.”
Nando mendengus saat Qiara masuk ke pelukannya.
Wajah lembut Qiara menempel di dadanya, dan bibirnya hampir menciumnya mlui pakaiannya.
Matanya seks menjadi gp sebelum dia membungkuk untuk mencium Qiara dengan penuh gairah
di bibir merahnya.