Bad 1128
Bab 1128 Tamparan
Dia menunjuk Raisa. “I–Ibu tidak menyangka kamu mkukan sesuatu yang sangat kotor. Kamu
mengecewakan Ibu. Kamu itu anak saya. Sta itu ibu baptismu. Bagaimana kamu bisa mkukan ini?”
Raisa terkejut. Dia tak tahu apa yang dibicarakan ibunya, tapi melihatnya begitu sedih membuat Raisa
ikut sedih. “T–Tenang, Bu. Kita bisa membicarakan ini sampai selesai.” Dia mencoba memeluk ra.
ra mendorongnya. “Katakan pada Ibu, kenapa kamu berkencan dengan Rendra? Apa yang ada di
kepmu? Seharusnya kamu tidak menjadi cewek matre. Kamu tidak boleh berkencan dengan
seseorang hanya karena mereka kaya, kenapa kamu mkukan ini?”
Raisa tersipu lebih kuat,lu dia memucat. Bagaimana ibu tahu tentang
itu?
Ccontent ? exclusive by N?/vel(D)ra/ma.Org.
“Saya melihat semuanya. Kamu memeluk dan menciumnya. Bagaimana kamu bisa mkukan itu? Apa
kamu tidak malu? Dia itu pamanmu! Kamu menodai nama baik kami!” ra masih menangis karena
marah. Dia sangat jengkel dan kecewa.
Raisa panik. Dia telu malu untuk menghadapi ibunya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, dan air mata
membendung di matanya. Kekecewaan ibunya telu berat untuk dipikul. Dia juga tidak tahu bagaimana
menghibur ra.
Dia bahkan tak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin dia bisa
memberitahu ibunya ku mereka saling mencintai, dan bukan karena dia merayu Rendra. Itu hanya
akan memperburuk keadaan Ibu.
“Maafkan saya, Bu. Maafkan saya th mengecewakanmu,” Raisa meminta maaf. Ia hampir menangis
juga.
“Sejauh apa hubungan kalian? Apa kamu..
“Tidak! Tidak, tentu saja tidak. Kami masih pacaran biasa. Tidak ada yang seksual.” Dia malu dan
gugup, tetapi dia harus menjskannya.
“Apa kamu jatuh cinta padanya seth kamu tinggal bersamanya terakhir kali?” dia bertanya. ra
mengira ini dimi karena putrinya ingin menikah dengan pria kaya dan berkuasa.
Raisa menggelengkan kepnya. “Bu, tidak seperti itu-”
“Bersumpah… Bersumpah ku kamu tidak akan pernah mendekatinya. Bersumpah kamu bahkan
tidak akan mengetahui apa pun tentangnya, atau saya akan menkmu dan mengusirmu dari rumah?
ra mi mengancam Raisa.
Raisa memejamkan matanya dan menahan air matanya. Dia bisa merasakan hatinya hancur berkeping–
keping, tetapi dia tidak menunjukkannya, atau ibunya mungkin akan semakin murka.
Raisa mengangguk. “Jangan khawatir, Bu. Saya tidak akan mendekatinyagi.”
ra merasakan tusukan rasa sakit di dadanya. Dia duduk di tempat tidur sambil memegangi dadanya.
Raisa segera mendekat untuk memeriksanya. “Jangan sakiti dirimu sendiri karena ini,
Bu. Ini tidak seserius yang kamu pikirkan. Saya akan menjauhinya. Saya akan mkukan apa yang Ibu
katakan, oke?”
“Saya berutang banyak padamu, tapi saya juga berutang segunung terima kasih kepada Sta dan
keluarganya. Saya tak menyangka kamu mkukan hal seperti ini. Kamu kira apa yang akan saya
rasakan?” ra marah besar pada putrinya karena mkukan sesuatu yang kelewatan.
Raisa menyadari bahwa seg sesuatunya tidak sesederhana yang dia pikirkan. Ada telu banyak hal
yang harus diperhitungkan, misalnya, orang tuanya berutang budi kepada keluarga Hernandar karena
mereka membesarkan Raisa.
“Apa kamu tahu siapa Rendra itu? Dia itu Wapres, dan yang kamukukan itu akan menghancurkan
masa depannya di kancah politik!” ra merasakan hatinya hancur oleh kemarahannyagi.
Raisa menjadi pucat. Dia bergetar ketakutan, dan dia memeluk ra. “Maafkan saya, Bu. Saya tidak
akan pernah menemuinyagi, saya janji.”
ra dengan marah menampar punggung Raisa. “Bagaimana kamu bisa mkukan ini, Raisa? Apa
yang saya katakan padamu? Kita ini berutang segunung rasa terima kasih kepada keluarga Hernandar,
dan kamu membsnya dengan … ini?”
Mata Raisa memerah. Dia menatapntai dan membiarkan ibunya memukulnya. Rasa sakit itu tidak
bersifat fisik minkan emosional. Air mata berlinang di pipinya pehan saat mimpinya menghng
menjadi debu.