Bad 1104
Bab 1104 Harapan Berat
Tangan Sonia terlihat gugup saat menatap pria di sofa di sebhnya. Sonia tidak bisa
menyembunyikan kekagumannya pada Rendra dan berkata, “Saya harap saya tidak telu terburu–
buru untuk mengatakan ini, namun saya slu memperhatikanmu, Rendra. Saya harap saya memiliki
kesempatan untuk bjar dan melengkapi kekurangan saya sendiri.”
“Anda tidak perlu telu rendah hati, Nona Sonia. Anda th berhasil dengan pencapaian Anda
sendiri,” jawab Rendra dengan ramah.
Sonia sangat ingin membuat Rendra terkesan dan dia berkatagi. “Saya mendengar bahwa Anda.
memiliki piano di ruang kerja, saya bertanya–tanya apakah saya mendapatkan kehormatan untuk
memainkangu untuk Anda atau tidak.”
Rendra melirik arlojinya. “Maaf, mungkinin kali. Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan ayah
saya sekarang.”
Kemudian, Rendra bangkit berdiri dari sofa dan berjn keluar dari ruang tamu.
Sonia sedih dengan respons Rendra. Meskipun Rendra tidak terlihat sombong atau bersikap dingin,
Sonia tahu dari cara dia memandangnya. Sepertinya Rendra tidak keberatan berbicara dengan Sonia,
namun Rendra tidak berniat terlibat dm percakapan yang lebih mendm atau terbuka. Rendra
sangat sulit dipahami sehingga orang akan ragu untuk menyelidikinya lebih jauh. Namun, hal tersebut
mungkin yang membuatnya begitu menarik. Rendra adh pria yang kuar yang peduli pada orang.
Kharisma kemampuan kepemimpinan dan keyakinannya dm menegakkan apa yang baik secara
inheren. Sayangnya, pengabdiannya pada dunia politiknya tidak ditemukan dm kisah cintanya.
Sonia mengepalkan tinjunya. Pamannya th memberinya kesempatan untuk menaikkan status
sosialnya, dan dia akan rugi jika dia menyerah karena sikap apatis Rendra. Sin itu, Sonia memiliki
kesempatan yang lebih baik daripada gadisin karena Hardi dan Sherin menyukainya.
Sementara itu, Rendra naik ke atas dan melihat ayahnya sedang menonton televisi. Hardi menikmati
kesendiriannya sambil menonton televisi.
“Hei, Papa,” Rendra menyapanya sambil membuka pintu. Rendra memasuki ruangan dan duduk di
seberangnya.
Hardi menatapnya dengan penuh harap dan bertanya, “Rendra, apakah kamu sudah bertemu. Nona
Sonia?”
“Ya, sudah.”
“Bagaimana menurutmu?”
N?velDrama.Org owns all ? content.
“Dia gadis yang luar biasa,” jawab Rendra datar sambil menuangkan secangkir teh untuk Hardi.
“Redra, ada pepatah yang mengatakan bahwa seseorang harus menghormati orang tuanya.” Hardi
mengatakan, “Mamamu dan papa semakin mua. Kami tidak punya apa–apagi untuk diminta darimu
kecuali kamu menikah dan memi sebuah keluarga.” Perkataan tersebut menjadi melhkan seth
dikatakan berkali–kali, namun dia tetap mengatakannya setiap kali
dia melihat Rendra.
Rendra mengangguk dan menjawab, “Saya berpikir akan menikah.”
“Benarkah?” Mata Hardi berbinar.
“Ya. Idealnya setahungi,” kata Rendra dengan sungguh–sungguh.
Hardi mengh napas lega. Tampaknya Sherin memilih gadis yang tepat kali ini! Rendra hanya
bertemu. Nona Sonia sekali, dan dia sudah berencana untuk menikahinya. Seth Hardi menerima
tanggapan dari Rendra, pria tua itu tampak santai dan mengganti topik pembicaraan. “Ku begitu,
kamu harus berkonsentrasi pada pemilihan berikutnya. Kamu masih sangat dihormati oleh masyarakat
umum, jadi ada harapan kamu akan terpilih kembali.”
Hardi sangat gembira karena karier politik putranya melejit dan th mencapai ketinggian yang tidak
dapat dia capai sma masa jayanya. Dia hanya bisa berharap kemuliaan seperti itu akan diturunkan
dari generasi ke generasi.
Namun, Rendra sedikit mengernyit dan mengatakan, “Saya hanya akan mengikuti arus, Papa.
Sejujurnya, saya tidak telu peduli dengan pemilihan.”
“Yang harus kamukukan adh terus bekerja dengan baik, dan semuanya akan berjn sesuai
keinginanmu,” jawab Hardi, dan ambisinya terlihat js di matanya. “Prestasi politikmu lebih dari cukup
untuk memastikan bahwa kamu akan terpilih kembali. Kamu tidak tiba–tiba bersikap dingin, bukan?”
Rendra mengerutkan alis saat dia menjawab dengan suara pn, “Tidak.”
“Bagus,” kata Hardi. Dia dengan bangga mengamati putranya dan mengatakangi, “Rendra, saya
tahu bahwa saya slu dapat mengandalkanmu. Saya yakin kamu akan memenangkan pemilihan
berikutnya.”
Pukul 18.30 sore itu, Raisa dan orangtuanya tiba di ruang makan privat di restoran.
Pasangan paruh baya dan seorang pria muda berada di satu sisi meja. Temanma Roni, Aliando
Kemal, hadir dan duduk bersama.
Raisa mengamati situasi di hadapannya dan bertanya–tanya apakah dia baru saja masuk ke sesi
perjodohan.
Mereka diperkenalkan seth duduk. Aliando tidak membuang waktu menyelidikitar bkang
keluarga masing–masing. Kemudian, dia mengizinkan orang tua untuk mendiskusikan betapa
cocoknya Raisa dengan pria muda tersebut.
Pria muda yang dimaksud bernama Luis Gildano. Tingginya hampir 180 cm, berpakaian bagus, dan
tampak seperti orang yang baik. Meski begitu, dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Raisa sejak
dia memasuki ruangan.