Bab 1070
Ruang Untukmu
Bab 1070 Ith Kehidupan Pribadi Saya
Ketika dia turun ke bawah, dia melihat Emir sudah menunggunya di depan pintu. Dia menyapanya,
“Smat pagi, Emir.”
“Nona Raisa, seorang pengawal akan mengantar Anda ke kantor nanti. Saya akan tinggal di bkang
untuk menjaga Pak Rendra.”
“Baih. Jaga dia baik–baik.” Dengan adanya seseorang yang menjaga Rendra, Raisa bisa pergi
bekerja dengan tenang.
Begitu Raisa tiba di kantor Departemen Penerjemahan, asisten Victoriangsung menghampiri dari
pintu masuk. “Raisa, Nona Victoria mencarimu di kantornya.”
Raisa juga tahu apa yang sedang terjadi dan dia menarik napas dm–dm sebelum berjn ke
kantor Victoria.
Di kantor, wajah Victoria terlihat tegang sepanjang pagi. Kulitnya sedikit pucat dan tatapan yang dia
berikan pada Raisa mengandung sedikit kekesn.
“Bukankah kamu berjanji untuk mengantar saya png tadi mm? Kenapa yang datang mh Emir?
Kemana kamu dan Rendra pergi?” Meskipun Victoria sedang mabuk, dia mengingat semuanya.
Raisa meminta maaf, “Maafkan saya, Nona Victoria. Anda sangat mabuk tadi mm sehingga Anda
terjatuh saat saya menolong Anda, jadi saya hanya bisa meminta Emir untuk membawa Anda
kembali.”
Victoria terlihat kesal saat itu. Dia ingat dengan js bahwa Rendrh yang dipeluknya semm.
Namun, dia berpegangan pada Emir sma perjnan. Meskipun Emir dianggap sebagai pemuda
yang sangat baik, dia hanya memiliki Rendra di dm hatinya.
“Lalu kemana kamu pergi dengan Rendra seth kamu pergi? Apa kamu pergi ke rumahnya?” Victoria
mau tidak mau bertanya.
Raisa mengerutkan keningnya. “Itu adh kehidupan pribadi saya. Saya rasa saya tidak perlu
menjawab pertanyaan itu.”
Dari reaksi Raisa, Victoria bisa menebak bahwa mereka pergi ke rumah Rendra bersama.
Dia menatap wajah Raisa yang polos dan mencibir, “Kamu bng kamu tidak berpacaran, tapi saya
tidak percayagi. Bagaimana mungkin tidak ada apa–apa di antara kamu dan dia saat kalian
menghabiskan mm bersama?”
Wajah Raisa tiba–tiba memanas, tetapi ekspresinya tetap tenang. Dia mengangkat kepnya dan
berkata, “Nona Victoria, Anda menghina saya. Hubungan saya dengan Pak Rendra dan apakah kami
memiliki sesuatu di antara kami atau tidak seharusnya tidak mengganggu Anda, bukan?”
Mata tajam Victoria menyipit. “Apa kamu mengabaikan apa yang saya katakan tadi mm? Jika kamu
berani menghancurkan Rendra, saya tidak akan memaafkanmu. Raisa, kamu boleh menyukai siapa
saja asalkan bukan dia. Apa kamu tidak sadar ku dia adh Om kamu?”
Raisa memejamkan mata dan mengerucutkan bibirnya. Dia tidak butuh Victoria untuk
mengingatkannyagi tentang hubungan mereka.
“Terima kasih atas pengingatmu. Saya akan menangani mash saya sendiri.” Mengatakan itu, Raisa
berbalik dan pergi.
Victoria mengertakkan gigi karena marah. Raisa th dengan patuh mendengarkannya tadi mm,
tapi kenapa tiba–tiba dia berani membantahnya hari ini? Apa Rendra membantunya?
Raisa kembali ke kantor, tiba–tiba merasa bingung. Kata–kata Victoria terdengar di telinganya. seperti
sebuah peringatan- “Apa kamu mencoba menghancurkannya?”
Jika mereka benar–benar bersama, apa dia akan menghancurkannya? Saat Raisa tenggm dm
pikirannya sendiri, Monika dan Inayah mengobrol tentang serial TV yang mereka tonton pada mm
sebelumnya di depannya.
“Apa editornya sudah g? Mempertemukan paman dan keponakannya dm sebuah hubungan? Apa
editornya tidak tahu ku itu tidak bermoral?”
Content property of N?velDra/ma.Org.
“Itu hanya acara TV. Lagip, mereka tidak memiliki hubungan darah. Kenapa kamu menanggapinya
dengan sangat serius?” Monika menjawab.
“Itu juga tidak berhasil. Saya pikir paman dan rekannya adh pasangan yang lebih baik. Saya hanya
tidak setuju jika dia mengencani keponakannya. Sebagian besar komentar juga menentang hal ini.
Bukankah ini sh?” Inayah bersikeras dengan tegas.
Nafas Raisa tertahan di tenggorokannya. Kata–kata Inayah seakan mengingatkannya akan sesuatu.
“Kamu benar tentang hal itu. Jika ini kenyataan, semua orang pasti tidak akan bisa menerimanya.
Begitu juga dengan saya, saya tidak akan bisa.” Monika setuju.
“Jika ada yang berani mkukan ini di dunia nyata, saya akan memberi mereka pjaran,” kata
Inayah dengan ekspresi bermusuhan.
Hati Raisa tersentak tajam dan ia menatap Inayahgi. Karena Inayah kebetn berada di
seberangnya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening dan bertanya, “Raisa,
kenapa kamu begitu gugup?”
“Saya tidak gugup!” Raisa menggelengkan kepnya.