Bab 325
Ruang Untukmu
Copyright by N?v/elDrama.Org.
Bab 325
Felly yang prihatin dengan penuh perhatian mengingatkan, “Pak n, tolong jaga Nona Tasya.”
“Serahkan dia padaku,” jawab n dengan suara pn. Kemudian, n membuka pintu kc kursi
pengemudi dan masuk.
Felly mau tidak mau merasa senang saat dia melihatnya pergi dengan Tasya. Felly sudah tahu bahwa
n adh san mengapa Tasya minum sampai mabuk.
Tasya yang hampir tidak sadar sedang duduk di tempat yang dia pikir adh mobil Felly. Dia
memegang dahinya untuk menekan sakit kep yang menyiksa saat dia berkata ke arah kursi
pengemudi. “Felly, bawa aku ke hotel terdekat. Aku tidak mau png.”
Tasya tidak ingin ayah dan anaknya melihatnya dm suasana hati yang buruk dan jika mereka
melihatnya, dia akan menakut-nakuti mereka dengan sisi dirinya yang seperti itu.
n menjawab dari kursi pengemudi, “Apakah ada yang menjaga putramu?”
“Ayahku ada di rumah,” jawab Tasya dengan patuh.
Semakin pusing saat mobil bergerak, Tasya semakin merosot dari kursinya.
Ketika n menunggumpulu lintas berubah menjadi hijau, dia mengambil ponsel Tasya dengan
jari-jarinya yang panjang dan mengirim pesan kepada Frans atas nama Tasya bahwa dia akan
menghabiskan mm dengan seorang teman.
Tidakma seth n mengirim pesan itu Frans segera membs pesan tersebut, bahwa Tasya
tidak perlu khawatir mengenai putranya.
Tasya mungkin tidak sadar, tapi dia masih mampu berpikir dan emosi. Dia mi bergumam dm
keadaan mabuk ke arah n, “Felly, biarkan aku memberitahumu sebuah rahasia. n adh
seorang bajingan! Dia adh orang yang jahat, jahat…”
n diam terpaku sesaat ketika dia terkejut bahwa Tasya marah di bkangnya, tetapi n segera
memiringkan kepnya ke arahnya dan bertanya, “Jadi, apakah kamu menyukainya? Atau apakah
kamu membencinya?”
“Aku membencinya.” Suaranya terdengar seperti dia ingin menangis.
n terhibur oleh perku mabuknya dan n mencoba menyelidikinyagi, “Kamu mengatakan
padaku bahwa kamu membencinya meskipun kamu mabuk karena dia?”
“Aku tidak minum karena dia … aku idiot jika aku menyukainya …” Tasya bergumam dan menggerutu
dm keadaan mabuknya.
Kemudian. Tasya tergagapgi, “Aku benci dia … Dia bisa menyukai siapa pun yang dia mau. Itu tidak
ada hubungannya denganku.”
Tasya tampaknya tidak tahu apa yang sedang dia katakan dan dia pasti tidak tahu di mana dia berada.
Suara di dm mobil hanya dipenuhi kata-kata seperti bajingan, pecundang’, dan Aku tidak pernah
ingin melihatnya sebelum Tasya hening.
“Aku tidak minum karena dia … aku idiot jika aku menyukainya …” Tasya bergumam dan menggerutu
dm keadaan mabuknya.
Kemudian, Tasya tergagapgi, “Aku benci dia … Dia bisa menyukai siapa pun yang dia mau. Itu tidak
ada hubungannya denganku.”
Tasya tampaknya tidak tahu apa yang sedang dia katakan dan dia pasti tidak tahu di mana dia berada.
Suara di dm mobil hanya dipenuhi kata-kata seperti ‘bajingan’, ‘pecundang, dan ‘Aku tidak pernah
ingin melihatnya’ sebelum Tasya hening.
Tasya sepertinya sudah tertidur saat itu.
Sd
n merasa sedikit patah hati. Aku pasti sudah sangat menyakitinya kali ini, pikirnya.
Ketika mereka sampai di perhentianmpu merahinnya, n berbalik untuk melihat Tasya yang
tergeletak di kursi bkang sebelum dia mengh napas. “Maafkan aku. Ini semua shku. Aku
seharusnya tidak menghukummu dengan perku yang begitu bodoh.”
n mengemudi ke hotel milik keluarga Sofyan, dan ketika dia menggendong wanita mabuk itu ke lobi
hotel, manajer hotel segera memberi mereka akses ke kamar presidensial.
n dengan lembut membaringkan Tasya di ranjang empuk sebelum dia mengulurkan tangan untuk
membi beberapa hi rambut di dahinya. Kemudian, n mencium dahinya. “Tiduh yang
nyenyak. Aku akan menjskan semuanya saat kamu bangun.”
Tepat saat n memyelimutinya, matanya yang berkaca-kaca menatapnya.
Tasya pikir dia bermimpi tentang ngi. Pikirannya sangat sibuk 2 hari ini sehingga dia berpikir apa
yang dia lihat adh mimpi.
“Pergi… Pergh… aku tidak menginginkanmugi dm mimpiku.” Seth mengatakan itu, Tasya
menampar dahinya sendiri beberapa kali.
n mau tidak mau terkejut ketika Tasya tiba-tiba mi memukul dirinya sendiri dan n dengan
cepat menariknya ke dadanya untuk menghentikan tangannya yang memukul diri sendiri.
“Untuk apa kamu memukul dirimu sendiri?” n bertanya.
Kecantikannya menakjubkan ketika dia tidak berdaya di dadanya. Dengan penampnnya yang acak-
acakan, sudut matanya dan kulit putih di wajahnya memerah karena alkohol. Dm benak n
muncul ide saat tatapannya mengikuti ujung hidungnya ke bibir merahnya, dan ke tng lehernya
yang indah.
Namun, sepanjang mm, n tidak bisa menyentuhnya.
Keesokan paginya, wanita pemarah itu mungkin akan mematahkan lehernya jika n menyentuhnya
lagi tanpa izinnya.
Previous Chapter
Next Chapter