Bab 106
Bab 106
“Nando?” Tasya mau tak mau menatapnya dengan tercengang. Nando memberinya senyum kekanak-
kanakan sambil menahan pintu penumpang terbuka,lu mengeluarkan buket mawar dan
menyerahkannya kepada Tasya. “Ini. Ini untukmu.”
Belongs ? to N?velDrama.Org.
“Kenapa kamu memberiku bunga ini?” Tasya bertanya dengan suara yang agak bingung sambil
menerima buket itu dari Nando.
“Kamu menyukainya?” Nando menatapnya dengan penuh kerinduan. “Ayo makan mm bersama
mm ini!”
“Mm ini? Um … Oke!” Begitu Tasya menyelesaikan kalimatnya, dia dengan sengaja menoleh untuk
melirik mobil mewah dengan kehadiran yang menindas itu. Nando berbalik dan berpura pura bahwa
dia baru saja melihat mobil itu. Dia menyeringai sebelum berjn untuk menyapa orang di dm.
Jend mobil turun, dan n menoleh untuk menatap Nando. “Apa kamu sudah selesai bekerja,
n?” Nando menyapanya sebelum mengubah topik pembicaraan dengan sengaja. “Aku datang
menjemput Tasya untuk makan mm. Kami akan pergi sekarang.” Seth mengatakan itu, Nando
berjn kembali ke Tasya,lu merangkul bahu wanita itu secarangsung. Dia membuka pintu
penumpang, dan tubuhnya membungkuk begitu dekat dengan Tasya saat dia membantunya masuk ke
mobil.
Tasya duduk di kursi penumpangnya dengan buket bunga masih di tangannya. Begitu Nando naik ke
mobil, diangsung menginjak pedal gas dan mju kencang. Nando berencana untuk singgah dan
merebut wanita itu dari n, dan dia terkejut ketika rencananya benar-benar berhasil.
Mobil hitam n pehan keluar dari tempat parkirnya. Kaca mobil yang berwarna gp tidak
memungkinkan siapa pun untuk melihat ke dm mobil, jadi tidak ada yang tahu ekspresi wajah n
saat dia mju pergi. Namun, seth Rolls-Royce hitam itu berjn lebih jauhgi, ia melesat dan
meliuk-liuk di antara mobil-mobil di jn seh-h pengemudinya mengamuk.
Sementara itu, Tasya merasakan perasaan lega yang aneh saat dia duduk di mobil Nando. Sekarang
n tahu aku makan mm dengan Nando, aku punya san untuk tidak menirakuirnya makan
mm. Tasya mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada pria itu. “Mm ini aku tidak
punya waktu untuk mentraktirmu makan mm. Kamu bisa makan sendiri!”
“Bagaimana kabarmu?” tanya Nando.
“Lumayan!” kata Tasya sambil mengusap alisnya.
“Aku sudah memutuskan untuk menyewa gedung kantor di dekat tempat kerjamu, Tasya. Aku akan
memindahkan kantorku, jadi kita akan sangat dekat satu samain di masa depan,” katanya.
“Apa kamu menyewa seluruh kantor hanya untuk lebih dekat denganku? Apa uangmu sudah telu
banyak?” Tasya tertawa geli.
“Bukan itu keseluruhan ceritanya. Aku tidak menyukai kantor ayahku – kantor itu agak telu kuno
untukku. Jadi, aku pikir aku akan merenovasi ruang yang sama sekali baru untukku sendiri.
Lalu, demi bisa makan siang denganmu, aku memutuskan untuk memilih tempat yang lebih dekat
denganmu!” Nando sudah memutuskan untuk memberikan segnya dm mengejar
Tasya.
“Wanita biasa sepertiku tidak akan pernah mengerti apa yang dipikirkan orang kaya sepertimu,”
gumam Tasya dengan datar.
“Ayo. Ayo jemput Jodi sebelum kita pergi makan mm.” Nando sudah mengemudi ke arah taman
kanak-kanak. Sementara Tasya turun untuk menjemput bocah kecil itu, Nando menunggu di gerbang
depan. Takma kemudian, mereka bertiga pergi ke restoran terdekat untuk makan mm.
Tasya mencuri pandang ke ponselnya dan melihat bahwa n tidak menanggapi pesannya — dia
bahkan tidak yakin apakah n sudah melihat pesannya. Seth makan mm, Nando mengajak
Jodi untuk berbnja hadiah seperti biasa. Tasya sangat tahu bahwa dia tidak akan bisa
menghentikan Nando mkukan hal-hal seperti itu. Saat Nando menggendong Jodi di tangannya,
Nando tampak seperti seorang paman yang mengajak keponakannya berjn-jn. Nando agak
telu muda untuk terlihat seperti seorang ayah.
Seth mereka selesai berbnja di mal, Nando mengantar mereka ke pintu masuk area tempat
tinggal Tasya. Ketika dia mengingat bagaimana Tasya dan n membawa png bnjaan ke rumah
sebelumnya hari itu, dia memutuskan untuk mengunjungi rumah Tasya juga.
“Bolehkah aku mengunjungi rumahmu sebentar? Aku ingin minum,” kata Nando.
“Ada toko serba ada di sana,” jawab Tasya sambil menunjuk ke suatu arah.
Nando tidak memedulikan toko serba ada itu. “Aku ingin minum di rumahmu.”
Tasya tersenyum. “Oke! Ku begitu, ayo!” Ini pertama kalinya Nando berada di rumah baru Tasya,
dan dia melihat ke sekeliling rumah seh-h dia sedang mencari semacam petunjuk atau bukti.
“Apa yang kamu cari?” tanya Tasya sambil menyerahkan segs air kepadanya.
“Ini hanya pengingat, Tasya, kamu tidak boleh mengajak sembarang pria ke rumahmu! Kamu seorang
wanita, jadi kamu perlu memastikan bahwa pria itu tidak memanfaatkanmu,” kata Nando.
Previous Chapter
Next Chapter