Bab 2295
Bab 2295 Ingin Mati
Saat mendengar perkataan Jasper, perasaan Lorenzo terasa campur aduk
Dia pernah mendengarnya dari Dewi. Meskipun Paman Joshua dan Bibi Lauren slu bertengkar dan
suka beradu mulut, sebenarnya mereka berdua sudah mengmi hal yang membahayakan sejak
muda. Mereka berbagi suka dan duka, hubungan mereka juga sangat dm….
Bibi Lauren sudah tiada, Paman Joshua juga tak ingin hidupgi.
Jadi, dia tahu tembakan saat itu tidak membuat Presiden mati. Meskipun seth dia mati pun tidak
ada kesempatangi, dia r mempertaruhkan nyawanya untuk menembak sekaligi.
“Mungkin sebelum dia datang ke sana, sudah memikirkan seg kemungkinan.” Lorenzo menganalisis
dan berkata, “Dia sama sekali tidak berniat keluar hidup–hidup.”
“Seharusnya memang begitu.” Lorenzo mengernyit.
“Sebenarnya mudah saja. Aku sudah menyelidiki penjara bawah tanah tempat Paman Joshua dikurung
sama seperti punya Nona Dewi. Aku bisa menyuap penjaga sipir di sana. Saat itu, aku akan
menelepon dan bertanya pada Paman Joshua mengenai mashnya,” kata Jasper.
Saat mendengar perkataannya, Lorenzo hanya terdiam.
“Tuan merasa cara ini tidak bagus?” Jasper bertanya dengan pn.
“Sebenarnya tidak perlu ditanya juga tahu. Paman Joshua berani ke Pusat Konferensi
Internasional untuk menembak Presiden berarti sudah bersiap untuk mati. Seperti yang kamu duga,
dia sama sekali tidak ingin hidup….”
Ekspresi wajah Lorenzo sangat serius, “Dia mau hidup atau tidak, aku smatkan atau tidak, adh
hal yang berbeda.”
“Memang seperti ith maksudnya.”
Exclusive content ? by N?(v)el/Dr/ama.Org.
Jasper mengerti, yang sebenarnya Lorenzo pedulikan tidak hanya hidup mati Paman Joshua, juga
perasaan Dewi.
Semua ini berm dari Lorenzo. Sampai melibatkan Bibi Lauren saja membuatnya merasa bersh.
Jika sampai terjadi sesuatu pada Paman Joshua, seumur hidup Dewi pasti tidak akan memaafkannya.
“Aku hampir lupa.” Jasper memukul kepnya, “Nona Dewi tadi menelepon menanyakan kondisi
Paman Joshua. Aku bng Anda sedang menelepon, seth ini baru meneleponnya kembali.”
Sambil berkata, Jasper meminta orang mengambil ponsel baru dan memasukkan kartu Lorenzo
Ponselnya tadi sudah dilempar sampai rusak.
1/2
Lorenzo melihat ponsel baru, tapi memberi isyarat agar membawa pergi ponsel itu.
Saat ini, dia sungguh tidak tahu bagaimana menghadapinya.
Dewi kembali ke rumah. Menunggu sekianma, tapi tidak mendapat panggn dari Lorenzo.
Hatinya sangat panik. Dia segera mengambil ponsel Brandon dan menelepon Lorenzo. Saat ini, dari
ponsel Brandon mendadak masuk sebuah pesan teks dari Negara Emron.
Dengan penasaran, Dewi membukanya. Ternyata itu ada sepenggal rekaman.
“Lorenzo, begitu saja tidak bisa negosiasigi? Aku sudah menyelidiki. Paman Joshua ini adh ayah
angkat tunanganmu. Ibu angkatnya sudah mati. Ku sesuatu terjadi padanya juga, apa tunanganmu
itu akan memaafkanmu?”
“Tidak penting dia mau maafkan atau tidak, yang paling penting adh membunuhmu!”
“Kamu … Sepertinya kamu sama sekali tidak peduli hidup dan mati Paman Joshua.”
“Orang yang tidak ada hubungan, mati atau tidak, mana ada hubungannya denganku?” Lorenzo
berkata dengan dingin, “Kamu mengira aku akan mundur demi dia? Konyol sekali!”
“Lorenzo, kamu cukup kejam!”
Saat mendengar penggn percakapan ini, Dewi bagai disambar petir. Dia mengira Lorenzo akan
berusaha keras untuk menymatkan Paman Joshua dan masih sepenuh hati menunggu telepon
darinya…..
Ternyata yang dia dapatkan adh ini.
Sebenarnya di mata Lorenzo, apa itu nyawa manusia?
Bagi Lorenzo, dia itu apa?
Apa semua ini tidak penting?
Hanya kekuasaan dan statusnya yang paling penting?
“Lorenzo telu berengsek. Kenapa dia bng begitu?” Saat Brandon mendengarnya, ia juga. sangat
marah. “Apa dia benar–benar tidak mau menolong Paman Joshua?”
Dewi tidak berbicara. Dia hanya menggenggam ponsel dengan erat dan berusaha untuk menenangkan
diri…..
“Bukan, siapa yang mengirim pesan teks ini?” Brandon mendadak teringat poin yang penting.
“Percakapan Presiden dan Lorenzo seharusnya hanya mereka berdua yang tahu, ‘kan?“