Bab 2226
Bab 2226 Mengajarinya Dari Balik Layar
Content is property of N?velDrama.Org.
Lima bs menit kemudian, Dewi sampai di tempat Willy.
Berkat pengobatan beberapa waktu ini, luka Willy sudah jauh membaik. Sekarang dia sudah bisa
duduk, raut wajahnya juga sudah membaik.
“Willy, kenapa kamu mencariku?”
Dewi masih mengira Willy tidak enak badan, maka sengaja membawa kotak medisnya. Namun, saat
melihat Willy, sepertinya baik–baik saja.
“Aku mendengar rm peringatan, maka menebak terjadi sesuatu.” Willy bertanya, “Sekarang
bagaimana kondisinya? Lorenzo putus kontak atau yakin terjadi mash?”
“Putus kontak.” Sekarang Dewi baru sadar ternyata Willy benar–benar sangat cerdas. Ada banyak hal
tanpa perlu dikatakan, dia sudah bisangsung mengetahuinya dengan sekali lihat.
“Ku putus kontak, berarti situasi masih belum telu serius.” Willy sedikit bernapas lega, “Apa Jeff
bergegas pergi ke sana dengan membawa orang–orang?”
“Benar.” Dewi mengangguk, “Aku mau ikut pergi, tapi mereka tidak mengizinkan.”
“Di saat seperti ini, lebih baik kamu tetap di sini.” Willy sangat tenang, “Dewi, dengarkan aku, besok
mungkin akan heboh. Diperkirakan akan ada banyak orang yang datang untuk menanyakan situasinya.
Kamu harus bersikap tenang….
“Benarkah? Siapa saja yang akan datang?” Dewi buru–buru bertanya.
“Sammy Moore, masih ada orang–orang dari tiga keluarga besar, bahkan Nyonya Presiden.” Willy
menjskan satu per satu, “Tidak peduli bagaimanapun mereka bertanya, kamu katakan bahwa kamu
tidak tahu dengan js, tapi kamu yakin Lorenzo baik–baik saja.”
“Ku mereka membicarakan mash perusahaan, kamu beri tahu mereka bahwa seg mash
baru dibicarakangi begitu Lorenzo png. Siapa pun tidak boleh membuat keputusan sendiri. Ku
tidak, saat Lorenzo kembali, dia pasti akan meminta pertanggungjawaban mereka.”
“Ku mereka bng ada mash yang mendesak dan harus segera diputuskan, maka kamh.
yang membuat keputusan. Jangan biarkan siapa pun memegang kendali.”
“Ku mereka tidak terima, maka undang Nyonya Presiden untuk jadi penengah.”
“Kamu Karus ingat, kamu adh tunangan Lorenzo yang sudah diumumkan ke dunia keluar, berarú
kamu adh nyonya di Grup Moore. Tidak peduli apa pun yang orangin katakan, sekarang kamh
yang membuat keputusan di Grup Moore….”
Willy mengajari Dewi satu per satu, juga berng kali menasihatinya.
“Di saat seperti ini, kamu harus tenang dan mengeluarkan karismamu. Kamu tidak perlu jaga
1/2
kesopanan. Ku ada orang yang bng kamu tidak bisa membuat keputusan karena belum menikah
dengan Lorenzo, kamungsung tanya apa mereka mau bertindak di luar otoritas mereka.”
“Intinya, meskipun harus bersikap tidak masuk akal, kamu juga harus menekan mereka. Apa
mengerti?”
“Mengerti.” Dewi mengangguk, “Tapi, sungguh akan terjadi hal–hal seperti itu?”
“Ya, pasti akan.” Willy tertawa mencibir, “Aku sudah pernah menyaksikan secarangsung. Begitu
terjadi mash pada pemimpin suatu perusahaan besar, semua orang akanngsung berebut
kekuasaan….”
“Untung saja, sebelum terjadi mash pada Lorenzo, dia sudah mengumumkan hubungannya
denganmu. Sin itu, kamu terus tinggal di sini. Para bawahan Keluarga Moore pun hanya akan
mengikuti perintahmu. Ku tidak, begitu terjadi mash pada Lorenzo, Grup Moore akan kacau
bu.”
“Aku mengerti.” Dewi mengangguk, “Aku pasti akan membantunya melindungi keluarga ini dan Grup
Moore.”
“Ku ada situasi mendadak, carh aku kapan saja.” Willy menasihati, “Meski aku tidak punya
kemampuanin, tapi mengenai konflik perebutan kekuasaan ini, aku sudah sangat terbiasa. Aku tahu
bagaimana harus menghadapinya!”
“Aku mengerti.” Dewi mengangguk berng kali.
“Adagi, ku besok Nyonya Presiden memanggilmu untuk mengobati Tamara, kamu jangan pergi.”
Willy berkatagi, “Katakan bahwa ada banyak urusan di rumah, kamu tidak bisa pergi. Kondisi
penyakit Nona Tamara sudah stabil, bisa ditangani oleh dokter spesialis.”
“Aku juga ada rencana seperti itu.”
Sekarang Dewi sudah tidak ada niat untuk mengurus mash itu. Kondisinya juga bukan sekarat, tidak
harus diobati olehnya.
“Jangan khawatir, dia akan baik–baik saja.” Willy menghibur dengan lembut, “Pnh dan istirahat.
Besok masih ada banyak hal yang harus dihadapi.”
“Ya.” Dewi mengangguk, “Terima kasih, Willy!”
Saat Dewi hendak pergi, Willy menghentikannyagi, “Besok tidak perlu datang mengobatiku.
Kondisiku juga sudah stabil. Sma tiga hari ini, kamu uruh mash Keluarga Moore dulu.”