Bab 2154
Bab 2154 Masing–masing Punya Tujuan
Melihat hal ini, Tuan dan Nyonya Presiden bisa disebut berakal sehat, seth mengetahui Lorenzo
sudah memiliki tunangan, mereka menghngi putri mereka untuk keluar dan‘ membuat keributan.
Dan gadis itu tampaknya th mengmi banyak hal menyakitkan, ia memiliki mash mental,
sungguh kasihan ….
Secara keseluruhan, keluarga ini adh orang–orang yang berakal sehat.
Memikirkan hal ini, Dewi tidak telu peduli, ia membalikkan badan dan kembali ke a utama.
Pada saat ini, acara perjamuan sudah selesai, Tuan Presiden mengusulkan untuk bermain di tempat ia
biasa berburu, para pria bergantian mengungkapkan ketertarikan mereka.
“Aku tidak ikut, kalian maih.”
Lorenzo terus menatap Dewi, Dewi sedang berjn masuk dari a luar sambil mengangkat roknya,
raut wajahnya penuh dengan kebingungan, sungguh menggemaskan.
“Lorenzo, baru jam 9, bermaih sebentar.” Cole berkata sambil tersenyum, “Yang terpenting ada
Wiwi juga, anggap saja kamu menemaninya main, ku tidak, dia akan sangat bosan di dm kastel
setiap hari.”
“Main apa?” Dewi yang baru saja datang, mendengar perkataan ini.
“Berburu, apa Nona Wiwi tertarik?” Tuan Presiden bertanya dengan akrab.
“Aku tidak ikut.”
Dewi tidak suka berburu binatang, namun ia juga sadar ia tidak punya kekuatan untuk mengubah apa
pun, jadi ia hanya dapat menjauh.
“Ku begitu, kita tidak usah berburu, kita ke bawah saja main catur dan kartu.” Tuan Presiden
menyarankan sambil tersenyum, “Ada beberapa permainan sederhana di sana, kalian juga bisa main.”
“Betul, Wiwi, aku juga minta orang untuk membuatkan teh khusus untukmu, kamu belum
mencicipinya.” Nyonya Presiden berkata dengan ramah.
Perhatian Tuan dan Nyonya Presiden semuanya terpusat ke Dewi, sepenuhnya mengikuti
keinginannya, orang–oranginnya terus memperhatikan perasaannya.
Pada saat ini, jika Dewi masih bertindak sesuka hatinya, ia juga akan merasa malu, terlebihgi, di
masa depan Lorenzo harus menyelesaikan hal ini, cepat ataumbat ia harus bisa melebur menjadi
satu.
Memikirkan hal ini, Dewi menoleh menatap Lorenzo, Lorenzo juga menatapnya seakan bertanya
apa maksud tatapannya.
“Baih.” Dewi menyadari Lorenzo tidak bersikeras untuk pergi, yang juga berarti ia bersedia untuk
tinggal, iangsung berkata, “Terima kasih Tuan Presiden, terima kasih Nyonya Presiden!”
“Baguh!” Cole bertepuk tangan senang, “Mm ini bisa bjar main kartu dengan baik dari
Lorenzo.”
“Kekhan tempo hari belum cukup?” Winston bercanda.
“Kamu berkata seperti kamu tidak pernah kh.” Cole menatapnya.
“Hahaha …” Presiden tertawa terbahak–bahak, “Aku tidak tahu bahkan Lorenzo juga jago main kartu.”
“Daya ingatnya sangat bagus, ia bisa mengingat setiap kartu.” Michael mengh napas, “Kami tiga
orang semuanya kh tk.”
“Ku begitu, aku harus coba main dengannya.”
This text is property of N?/velD/rama.Org.
Presiden memanggil semua orang untuk turun ke ruangan bawah.
Nyonya Presiden memanggil seluruh wanita untuk turun, Dewi menoleh ke arah pengawal- pengawal,
seluruh pengawal menunggu di lobi, sin Jasper, tidak ada pengawalinnya yang ikut turun ke
bawah.
Mina mmbaimbaikan tangan kepadanya dan berdiri jauh darinya.
Dewi merasa sedikit tidak enak hati, ia secara khusus membawanya datang, pada akhirnya ia harus
terus berkumpul bersama pengawal–pengawalinnya, tampaknya ia tidak merasakan rasa partisipasi
dm pesta.
Orang–orang masuk ke ruangan bawah tanah, para pria berkumpul duduk di meja kasino, mi
bermain kartu sambil mengobrol, mendiskusikan isu internasional.
Dewi merasa mereka main apa pun itu hanya san, tujuan utamanya adh mereka ingin berdiskusi.
Presiden itu tampak sangat ramah, namun sepasang matanya begitu jeli, ia tanpa henti secara diam–
diam mengamati kata–kata dan tingkahku semua orang.
Sepertinya ia juga sedang memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat kemampuan semua
orang.
Lorenzo tidak banyak bicara, namun setiap perkataannya tepat sasaran, seluruh orang di tempat
menjaga perasaannya, termasuk Presiden.
Begitu juga di sisi wanita, setiap wanita memiliki tujuannya sendiri, seluruh wanita menjt Nyonya
Presiden dengan hati–hati, pada saat bersamaan juga tidak berani menyinggung Dewi, mereka diam–
diam mengamati setiap kata dan perbuatan Dewi.
Kali ini, Juliana tidak duduk satu meja bersama dengan para pria, minkan berdiskusi dengan para
wanita, EQ–nya yang luar biasa itu benar–benar sempurna dan tanpa c.