Bab 2148
Bab 2148 Mengambil Keputusan Sendiri
Lorenzo menoleh dan melihat Dewi, ia mengernyitkan keningnya….
Dewi mengenakan gaun putih pendek, terlihat sangat manis, tapi dandanannya telu sederhana.
Sebaliknya Mina, tampak anggun dm balutan gaun panjang berwarna kuning berku.
Dan kaki Mina terluka, jadi Dewi terus memapalnya menuruni tangga.
Jika dilihat seperti ini, Mina seperti nyonya rumah dan Dewi hanyh seorang pengikutnya.
“Kapan kamu kembali?”
Dewi memapah Mina untuk berdiri tegak, dan dengan senang hati menghadap Lorenzo.
“Beberapa menit.”
Lorenzo mengelus rambutnya, dia bahkan tidak menggunakan hairspray, terlihat terurai dengan
sendirinya, tapi kurang halus.
“Mina juga mau pergi, aku sudah berjanji untuk membawanya pergi bersamaku.”
Dewingsung memberitahu Lorenzo, bukan meminta pendapatnya.
“Boleh saja jika mau pergi, tapi ganti pakaianmu.”
Lorenzo melirik Mina, dan mengedipkan mata pada Jasper.
“Baik.” Jasper segera memberi perintah, “Wezo, bawa Nona Mina untuk berganti pakaian.”
“Kenapa akugi….” Wezo bergumam dengan suara pn, dan segera menghampiri Mina, “Nona
Mina, skan.”
“Gaun ini cantik, aku memilihkannya untuknya.” Dewi merasa tidak perlu, “Itu untuk menutupi kakinya
yang terluka, dan dia juga terlihat bagus mengenakannya.”
Lorenzo tidak bicara apa pun, dan keluar sambil merangkulnya.
Keduanya masuk ke dm mobil, mobil itu mju keluar, Dewi buru–buru bertanya, “Tunggu sebentar,
Mina belum masuk ke dm mobil.”
“Nona Mina naik mobil di bkang,” Jasper menjskan, “Apa Nona Dewipar? Nona bisa makan
dulu.”
“Ada makanan?” Perhatian Dewi tiba–tiba teralihkan.
“Camn.”
Lorenzo mengelus kep kecilnya, mengeluarkan sebuah kotak yang sangat indah,
membukanya, itu adh kotak berisi kue–kue yang indah, memancarkan aroma yang menggoda.
“Wow, apa ini?” Dewi mengambil sepotong dan mencicipinya dengan gembira, “Wow, enak,
enak!”
“Bagus ku kamu suka.” Lorenzo juga merasa sangat senang melihatnya bahagia.
“Tuan dengar ada toko kue tradisional baru dibuka di kota. Tahu Anda menyukainya, jadi Tuan pergi
membelinya,” Jasper menjskan sambil tersenyum, “Perjamuan mm ini juga ….”
“Kamu telu banyak bicara omong.”
Lorenzo memelototinya, kemudian dia segera tutup mulut, tidak berani berkata apa–apagi.
“Ada apa dengan perjamuan mm ini?” Dewi merasa penasaran, seh–h ada sesuatu dm
kata–kata Jasper.
“Tidak apa–apa, kita akan tahu ketika sampai di sana.” Lorenzo mengp makanan yang menempel di
sekitar mulutnya, “Makah pehan, tidak ada yang akan merebutnya darimu.”
Property of N?)(velDr(a)ma.Org.
“Ya.” Dewi mengangguk sambil tersenyum, “Enak, kamu cobh!”
“Aku tidak makan yang manis–manis, kamu makan saja.” Lorenzo menatapnya sambil tersenyum,
“Aku senang melihatmu makan.”
“Hehe.” Dewi tersenyum padanya,lu mnjutkan makan.
Lorenzo menatapnya diam–diam dari samping, dengan senyum manis di bibirnya.
Takma kemudian, mereka tiba di tempat tujuan.
Dewi selesai makan setengah kotak makanan ringan, sambil menyentuh perutnya, ia melihat ke luar,
dia pun terkejut, “Ini… Istana Kepresidenan?”
“Ya.” Lorenzo mengangguk, “Tuan Presiden mengadakan perjamuan. Kamu akan bertemu dengan
beberapa temanma dan beberapa teman baru mm ini.”
“Ugh….”
Dewi mau tidak mau memikirkan terakhir kali dia menghadiri jamuan makan di kediaman Ivan, dia
slu berfirasat buruk.
“Seharusnya tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi mm ini.” Lorenzo tahu apa yang dia
pikirkan, “Tapi, kamu harus terus berada di dekatku dan jangan berian, mengerti?”
“Oh.” Dewi mengangguk, “Mina juga ada di sini, dia juga bisa melindungiku.”
“Lain kali ku ada sesuatu, diskusikan denganku lebih dulu, jangan mengambil keputusan sendiri.”
Lorenzo mengingatkannya, “Untuk acara seperti ini, kamu tidak seharusnya
mengajaknya.”