Bab 1969
Bab 1969 Cemburu
Tidak tahu apakah karena ada di dm pelukan Lorenzo, Dewi merasa sangat tenang.
Mm ini, Dewi tidur nyenyak….
Tidak bermimpi sepanjang mm, bangun secara mi di pagi hari.
Dewi merasa fisk dan mentalnya sangat nyaman, berbaring seperti biasanya, menguap, dan berguling di
tempat tidur, seperti kucing kecil yang ms.
Tiba-tiba, dia menyadari bahwa orang di sampingnya sepertinya th menghng.
Dia melihat sekeliling, benar-benar tidak ada!!!
Juga tidak ada suara di kamar mandi.
“Lorenzo, Lorenzo!!!” Dewi berteriak dua kali, “Pria Brengsek?? Kamu ada tidak???”
Masih tidak ada suara.
Baih, mungkin dia bangun pagi.
Tadi mm, Dewi merasa bahwa Lorenzo tidak tidur nyenyak. Meskipun tidak ada pergerakan di tengah
mm, tapi tubuhnya terus kaku dan tegang. Kondisinya tidak rileks sama sekali.
Tapi, dirinya mh tidur nyenyak. Seh-h, merasa dia bisa menghipnotisnya.
Suasana hati Dewi sangat baik,lu bangun untuk mandi. Pada saat ini, terdengar ketukan di pintu,lu
suara N terdengar, “Nona Wiwi, bolehkah aku masuk?”
“Skan masuk!”
Dewi masih menyikat giginya, mulutnya dipenuhi dengan busa.
N masuk bersama dua pyan untuk merapikan kamar, dan membawakan Dewi teh jahe g merah
untuk menghangatkan perutnya….
“Nona Wiwi, turuh seth minum teh. Tuan sedang menunggumu untuk sarapan.”
“Ya.”
Dewi merapikan dirinya dan turun bersama N.
Lorenzo duduk tegak di ruang makan, sedang sarapan. Meja penuh dengan sarapan lezat. Semuanya
masakan Nusantara, dan itu makanan favorit Dewi.
“Pagi!”
Dewi berjn ke meja makan dengan energik, duduk dan mi makan.
Tingkahkunya ini, benar-benar seperti anak kecil.
“Pagi!” Lorenzo menatapnya sambil tersenyum. Sorot matanya terlihat sangat memanjakannya, “Makan
pn-pn. Tidak ada yang merebutnya darimu.”
“Enak, yang ini juga enak ….” Mulut Dewi penuh makanan, dan berkata sambil makan, “Hmm… aku
ingat. Sepertinya, aku tidak makan apa-apa tadi mm.”
“Haha….” Lorenzo tidak bisa menahan tawa, “Berarti, kamu di pekukan dengan tidak baik!”
Dewi tidak membsnya, dan terus makan.
Lorenzo menyesap tehnya dengan anggun dan melihatnya makan sambil tersenyum. Seh, ini juga
semacam kenikmatan….
Tuan, Nona Juliana ingin bertemu Anda!”
Pada saat ini, bawahan datang untuk mpor.
Content (C) N?v/elDra/ma.Org.
“Beri tahu dia, aku tidak punya waktu sekarang.” Lorenzo melihat jam tangannya, “Suruh dia datanggi
saat mm.”
“Baik.” Bawahan segera pergi untuk menyampaikan.
Datanggi saat mm….
Keempat kata kunci ini, seperti dua tng ikan yang menusuk di tenggorokan Dewi.
Dia tidak bisa makangi, meletakkan pertan makan, menyeka mulutnya dan menatap dingin
ke arah Lorenzo.
“Hm? Kenapa tidak makangi?” Lorenzo menatapnya sambil mengangkat alisnya.
“Karena aku sedang tidak bisa, kamungsung suruh orangin datang?” Dewi menyipitkan mata dan
bertanya dengan marah, “Perencanaan ini, dkukan dengan baik ya!”
“Eh….” Lorenzo tertegun sejenak,lu tertawa “haha”, “Kamu cemburu?”
“Cih!” Dewi memelototinya, bangkit dan hendak pergi.
Lorenzo buru-buru menahannya,lu memerintah bawahannya, “Katakan padanya, tidak perlu datang
lagi saat mm. Sore minta Jasper pergi mencarinya dan sampaikan pesanku.”
“Baik. Bawahan itu segera menyusul keluar.
“Sekarang sudah oke?” Lorenzo menatap Dewi sambil tersenyum.
Dewi duduk dan merasa dirinya sedikit tidak masuk akal. Sebenarnya, Lorenzo seharusnya tidak tertarik
pada Juliana, jika tidak, ia tidak mungkin berkata demikian di hadapannya…..
Mungkin saja, mereka hanya membicarakan bisnis?
Memikirkan hal ini, dia pun berubah pikiran dan berkata, “Sebenarnya, aku tidak bermaksud begitu.
Ku kamu ingin menemuinya, temui saja. Aku tahu, kalian mungkin membicarakan bisnis.”
“Bisnis apa yang aku bicarakan dengannya?” Lorenzo berkata dengan santai, “Membicarakan bisnis,
tidak dengan dia”
“Jadi maksudmu, membicarakan mash pribadi?”
Dewi bertanya dengan tidak senang.