Bab 1904
Bab 1904
“Tuan L akan melindunginya. Negara Emron adh wyahnya dan semua orang di sekitarnya adh
kaum elit. Tidak ada yang bisa menyentuh Nona Dewi.”
Robin membujuk dengan sungguh–sungguh, “Pangeran, jangan telu ikut campur dan hadirh
pernikahan dengan tenang.”
Willy terdiam sejenak,lu berkata dengan suara rendah, “Ku Dewi baik–baik saja, aku tidak akan ikut
campur. Tapi, ku tidak, aku harus membawanya pergi.”
“Aih….”
Robin mengh napas dm–dm, tidak berani berkata–katagi.
Dia tahu, begitu Willy sudah memutuskan, tidak ada yang bisa mengubahnya.
Dia hanya berharap pernikahan antara Lorenzo dan Dewi bisa berjnncar atau Dewi bisa kabur
dengan kemampuannya sendiri….
Bagaimanapun, jangan melibatkan tuannya.
Dewi ada di dm mobil dan tiba–tiba merasa pusing….
Ada rasa sakit yang luar biasa di kepnya, seh–h penusuk mencongkel otaknya dengan keras,
mencoba melepaskan tengkoraknya ….
Dia memegang kepnya dengan satu tangan dan menutup matanya, merasakan sakit yang nyata.
Menurut dokter, kondisinya memburuk dan pecahan logam itu menekan saraf otaknya dan operasi harus
segera dkukan ….
“Nona Wiwi, Anda kenapa?” Sonny yang berada di kursi penumpang melihat Dewi kesakitan dan buru–
buru bertanya, “Apa tidak enak badan?”
Dewi tidak bicara, dia memegang kepnya dengan satu tangan dan menekan titik akupuntur dengan
tanganinnya untuk menghngkan rasa sakit….
“Nona Wiwi….”
Sonny masih ingin bertanya, tapi tiba–tiba berhenti, penampnnya begitu familiar, sepertinya dulu Tabib
Dewi juga seperti ini saat sakit kep.
“Ada apa?” tanya Wezo cepat.
“Mungkin tidak enak badan, parkir dulu mobilnya di pinggir jn dan biarkan Nona Wiwi istirahat,” kata
Sonny buru–buru.
This content ? 2024 N?velDrama.Org.
“Hm.” Wezo memarkir mobil di pinggir jn, “Aku belikan Nona Wiwi segs kopi hangat, kamu jaga dia
baik–baik.”
“Baik.” Sonny memperhatikan Wezo pergi, menoleh pada Dewi dan bertanya dengan hati–hati, “Anda,
apa Anda adh Tabib Dewi?”
Dewi agak terkejut,lu mendongak dan menatapnya dengan pandangan kabur.
“Benar?” Sonny mendapat jawaban dari reaksinya, “Sejak awal aku slu merasa agak mirip, meskipun
gaya pakaiannya berbeda, tapi suaranya dan cara bicaranya dan juga matanya….”
“Jangan beri tahu orangin,” Dewi mengingatkan dengan suara rendah.
“Aku tidak akan beri tahu.” Sonny bertanya dengan cemas, “Tabib Dewi, apa luka di bkang kep
Anda masih belum sembuh? Apa Tuan tahu? Kita ke rumah sakit saja?”
“Tidak perlu….” Dewi menggelengkan kepnya, “Berpura–pura saja kamu tidak tahu
apa–apa.”
“Baik.” Meskipun Sonny tidak begitu mengerti, tapi dia mengangguk, “Ku begitu Anda ….”
Sebelum dia selesai bicara, Wezo sudah kembali sambil membawa kopi hangat, “Nona Wiwi, minuh
kopi hangat.”
“Terima kasih.” Dewi sekarang sudah sedikit lega, mengambil kopi panas, dan bersandar di kursi, “Ayo.”
“Baik.” Wezo menykan mobil mju dan bertanya dengan prihatin, “Nona Wiwi, ku Anda merasa
tidak enak badan, apa kita ke rumah sakit dulu?”
“Oke.”
Dewi melirik ke kaca spion dan ada dua mobil di bkang, keduanya diutus oleh Lorenzo untuk
melindunginya.
Jika pergi mencoba gaun pengantin, Lorenzo seharusnya akan datang juga, dia slu membawa
banyak orang dan akan semakin sulit baginya untuk kabur….
Jika sekarang ke rumah sakit, ada banyak orang di sana dan mungkin ada kesempatan
untuk kabur.
Lagip saat mkukan pemeriksaan di rumah sakit, para pengawal ini tidak bisa ikut masuk dan ada
jeda waktu di dm ruangan yang merupakan kesempatan yang
baik untuk kabur.
Segera, mobil mju ke rumah sakit.
Sonny dan Wezo, serta rombongan mengawal Dewi ke rumah sakit.
Wezo hendak menelepon rumah sakit, tapi Dewi segera menghentikannya, “Hanya konsultasi dengan
dokter, jangan mempengaruhi orang, akan berdampak buruk.”
“Betul juga.” Wezo dengan cepat menutup telepon, “Anda dan Tuan akan segera menikah dan Tuan juga
tidak menonjolkan diri akhir–akhir ini. Ku begitu, akungsung carikan dokter untuk Anda saja?”
“Oke.”