Bab 1903
Bab 1903
Mendengar kata–kata ini, hati Dewi sedikit tergerak, dia tidak tahu banyak tentang masalu Lorenzo,
hanya mendengar bahwa dia berdarah dingin dan kejam, serta akan mkukan apa saja demi
mencapai tujuannya….
Legenda mengatakan bahwa saat dia berusia enam bs tahun, demi merebut posisi penguasa dm
keluarga, dia meracuni seluruh keluarga Keluarga Moore dm semm, matanya merah dan
kemudian dia keluar dari kastel sambil berlumuran
darah!
Pada saat itu, dia mirip seperti iblis ….
Semua orang takut padanya, bahkan mendengar namanya saja sudah ngeri ….
Dewi sejak awal sudah pernah dengar legenda ini.
Ith sebabnya dia sangat ingin kabur.
Tapi sekarang N menceritakan hal ini dari sudut pandangin dan membuat Dewi mi melihat
Lorenzo dengan pemikiran barugi ….
“Nona Wiwi, apa aku telu banyak bicara?” N merasa agak tidak enak hati, “Aku harap aku tidak
mengganggu Anda.”
“Tidak.” Dewi tersenyum kecil pada Bibi N, “Lanjuh bekerja, aku sudah bangun.”
“Oke, aku siapkan sarapan.”
N bergegas pergi.
Seth Dewi mandi dan mengganti pakaiannya, dia turun untuk sarapan dan menemukan bahwa Willy
juga ada di ruang makan, dia sedang membaca koran dengan santai, bersama Robin yang
menemaninya.
Para pyan di rumah sangat menghormatinya dan ini bukan pertama kalinya dia mengunjungi kastel
ini.
Dewi turun dan dengan santai menyapa Willy, “Pagi, Willy!”
Begitu kata–kata terucap dari mulutnya, dia merasa agak bersh dan melihat kembali ke pyan di
sekitarnya. Untungnya, semua orang tidak memperhatikan.
“Pagi, Nona Wiwi!” Willy sangat tenang, “Apa tidurnya nyenyak tadi mm?”
“Lumayan.”
Dewi duduk dan pyan membawakan susu hangat untuknya.
“Banyak minum susu bagus untuk kesehatan.” Willy memandangnya sambil
tersenyum.
Dewi makan tanpa memperhatikan tatapannya.
Saat ini, Wezo masuk dan berkata, “Nona Wiwi, mobilnya sudah siap.”
“Hm? Pergi ke mana?” Dewi berseru.
“Nona Wiwi, Anda lupa, Tuan ingin Nona memilih gaun pengantin dan perhiasan untuk pernikahan hari
ini. Tadi aku sudah memberi tahu Anda,” js N sambil
tersenyum.
“Oh….” Dewi merasa agak tertekan, tapi memikirkan rencana Brandon, dia tetap berkompromi, “Pergi
seth sarapan saja.”
“Oke, aku ambilkan mantel Anda.”
N?velD(ram)a.?rg owns this content.
N sangat senang dan buru–buru menyuruh orang mengambilkan mantel dan sepatu bot Dewi.
“Pilih gaun pengantin?” Willy sedikit mengernyit dan bertanya dengan cemas, “Apa pernikahannya
sudah ditetapkan?”
“Iya, Tuan akan mengumumkannya di rapat dewan hari ini,” jawab Wezo.
Willy memandang Dewi dengan rumit, ragu untuk bicara….
“Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.” Dewi mengisyaratkan,lu meletakkan pertan
makan, “Aku sudah kenyang, ayo!”
“Nona Wiwi, pakah mantelnya dulu.”
N mengenakan mantel pada Dewi dan berkata dengan prihatin, “Di luar dingin, jangan sampai masuk
angin.”
“Aku tahu, terima kasih, Bibi N.”
Dewi tersenyum padanya,lu naik mobil bersama beberapa pengawal.
Willy memperhatikannya pergi dan kehngan nafsu makan, ia meletakkan pertan makan dan
berkata ingin kembali ke kamarnya.
N berkata dengan hormat, “Pangeran, Tuan memberi pesan sebelum pergi, Pangeran bisa masuk
ruang kerja dan ruang teh di rumah kapan saja dan jika Anda merasa bosan, Anda bisa keluar jn–
jn.”
“Terima kasih Bibi N, aku ingin istirahat sebentar.”
Willy mengucapkan terima kasih dengan sopan dan meminta Robin untuk mendorong kursi rodanya
kembali ke kamar.
Saat pintu tertutup, Robin pun mengingatkannya, “Pangeran, pernikahan antara Tuan L dan Nona Dewi
sudah ditetapkan dan juga diumumkan di depan dewan direksi. Nasi sudah menjadi bubur, jadi Anda
jangan ikut campurgi.”
“Aku khawatir orang–orang dari tiga keluarga besar dan kngan politik akan menyerang Dewi.” Willy
berkata dengan serius, “Pernikahan L akan mempengaruhi masa depan Keluarga Moore. Jika dia
sembarangan menikah dengan orang tanpatar bkang yang js, maka mereka akan menuga–
duga,lu pakai seg macam cara untuk mengacaukannya.”