Bab 1820
Bab 1811
“Ku begitu, pikirkan baik–baik.” Kesabaran Lorenzo sudah habis, “Perjamuan belum dimi, masih
sempat untuk menyesalinya sekarang!”
“Ugh….” Pangeran Willy buru–buru menjskan, “Bukan itu maksudku.”
“Kekayaan tidak datang dengan mudah.” Lorenzo berkata dengan datar, “Di dunia ini, tidak ada
kesuksesan tanpa risiko!”
“Ya, aku tahu ……..”
Sebelum Pangeran Willy selesai berbicara, Lorenzo sudah meletakkan gs anggurnya, berdiri dan
pergi….
“L.” Pangeran Willy buru–buru menghentikannya, “Aku memang sedikit khawatir. Justru karena kita
adh rekan dan sahabat, makanya aku berterus–terang padamu.
Tapi, ini tidak berarti bahwa aku akan memutuskan hubungan kerja sama. Kamu benar, kesuksesan apa
pun berisiko, aku tahu itu. Aku tidak pernah berpikir untuk mundur
“Tidak apa–apa.” Lorenzo melihat jam tangannya, “Kamu masih punya waktu satu jam untuk
mempertimbangkannya.”
Seth mengatakannya, dia berbalik dan pergi
Pangeran Willy menatap punggungnya dengan ekspresi khawatir.
“Sifat Tuan L benar–benar….” Robin hanya bisa mengh napas, “Pangeran, Anda hanya
mengungkapkan kekhawatiran Anda. Kenapa sikapnyangsung berubah seperti itu?”
“Diam.” Pangeran Willy dengan tegas menegurnya.
Robinngsung menundukkan kepnya, tidak berani banyak bicara.
“Sikap L. memang angkuh, aku yang sh bicara.” Pangeran Willy merasa malu, “Tuan Besar dari
Keluarga Louis Prancis slu ramah padanya, tapi dia memilih untuk bekerja sama denganku.
Seharusnya aku memanfaatkan kesempatan ini dan tidak berpikir telu banyak.”
“Tapi wajar bagi Anda untuk mengungkapkan kekhawatiran Anda.” Robin merasa kasihan padanya,
“Sekarang kalian berada di kapal yang sama, semua orang harus memikirkan kepentingan bersama….‘
“Dia memiliki temperamen yang angkuh, tidak suka dicurigai, dan tidak suka dibandingkan dengan
Daniel.” Pangeran Willy masih merenung, “Kk, aku harus lebih hati–hati.”
“Anda juga jangan telu menyhkan diri sendiri. Anda th mkukannya dengan baik.”
Robin merasa sedikit kasihan melihat tuannya yang begitu mengintrospeksi diri.
“Bersiap–siah dulu, kita akan berangkat satu jamgi.”
Desak Pangeran Willy.
“Baik.” Robin segera pergi untuk mempersiapkannya.
“Oh ya….” Pangeran Willy tiba–tiba menghentikannya, “Cari kesempatan dan atur agar Dewi satu mobil
denganku.”
Exclusive ? material by N?(/v)elDrama.Org.
“Mengerti ….”
Dewi berbaring dengan ms di sofa sambil makan apel.
о
Di ruang tamu kecil, dua pyan sedang mengemasi barang bawaannya, dan Kelly sang perawat, juga
memeriksa kotak obat berng kali, memeriksa secara teliti karena takut ketinggn
sesuatu.
Seth makan apel, semuanya sudah dikemas. Ada petugas di luar yang mengingatkan bahwa sudah
hampir waktunya.
Dewi hanya bisa bangkit, memakai sepatu dan jaketnya, mengikuti mereka keluar.
Melewati koridor, turun dari tangga spiral, melewati a yang mewahgi, dan tiba di gerbang istana, di
mana antrian panjang mobil sudah menunggu.
Lorenzo dan Jasper menaiki mobil Rolls–Royce Limousine. Saat Dewi hendak menaikinya, Robin tiba–
tiba berkata dengan hormat, “Tabib Dewi, Pangeran memperskan Anda menaiki mobil kami.”
“Hah?” Dewi tanpa sadar menoleh ke arah Lorenzo,
“Aku sudah minta izin pada Tuan L.” Robin berkata sambil tersenyum, “Kaki Pangeran sedikit sakit, ingin
meminta Anda untuk memeriksanya.”
Entah kenapa hati Dewi agak tidak senang, tapi dia tetap masuk ke mobil Pangeran Willy.
Mobil mi mju pehan.
Lorenzo bersandar di kursi, melihat dokumen di tablet.
Jasper seperti memikirkan sesuatu dan berkata, “Aneh, mereka tampaknya sangat tertarik dengan Tabib
Dewi.”
“Hm?” Lorenzo menjawab dengan datar, “Apa maksudmu?”
“Saat Anda sedang tidur tadi mm, Robin terus bertanya padaku tentang Tabib Dewi, kemudian
memintanya untuk memeriksa Pangeran….
“Bukankah itu wajar?” Lorenzo tidak sependapat dengannya.
“Tuan, Anda benar–benar tidak tertarik dengan tabib ini, ya.” Jasper mengh napas, “Ku tidak,
dengan penglihatan Anda, pasti akan menemukan ada yang tidak beres ….”
“Hm?” Lorenzo menatapnya.