Bab 174
Bab 174
“Tolong tanda tangani!” Kurir itu mengingatkangi.
Tracy buru–buru menandatangani dan kembali ke dm rumah sambil membawa kotak hadiah itu.
“Mami, siapa yang mengirim hadiah?”
Ketiga anaknya berkumpul dengan rasa penasaran.
“Dari paman yang tidak kalian kenal...”
Suasana hati Tracy menjadi kacau. Jika Daniel benar–benar si gigolo, maka dia adh ayah dari
anak–anaknya.
Apakah dia sudah tahu yang sebenarnya? Ku tidak, kenapa mengirim hadiah ke rumahnya?
“Hadiah apa? bukh.”
Ketiga anaknya menatap kotak hadiah dengan mata besar mereka yang seperti anggur dan penuh
penantian.
Tracy sedang membuka kertas kado kotak hadiah yang dibungkus dengan rapi. Sebenarnya apa ini?
Suasana hatinya rumit dan kacau...
“Astaga mami, kamu bodoh sekali, sini aku bantu.”
Carles tidak sabar untuk mengambil kotak hadiah dan membukanya.
Carlos juga mengambil gunting untuk membantu.
Ca menggosok kedua tangan kecilnya dan menunggu dengan gembira.
Akhirnya kotak hadiah terbuka. Di dmnya ada kotak merah muda dengan aroma bunga segar.
Ketika Tracy hendak membuka kotak itu, Ca berkata dengan penuh semangat, “Aku saja, aku saja
yang membukanya!”
“Ok ok, bukh!”
Tracy mengerti bahwa gadis kecil suka membuka hadiah, kemudian dia menyerahkan kotak hadiah itu
kepada Ca.
Ca memegang tutup kotak hadiah, mengambil napas dm–dm, dan membukanya dengan
tegang: “Dung dung dung dung!”
“Ah ––”
Detik berikutnya, teriakan ketakutan Ca terdengar di dm rumah...
Kemudian Carles dan Carlos juga berteriak ketakutan.
Roxy mengepakkan sayapnya di dm sangkar dan berteriak berng kali: “Takut, takut!”
Tiba–tiba rumah itu penuh dengan kepanikan dan kekacauan.
ConTEent bel0ngs to N?v(e)lD/rama(.)Org .
Tracy terblak karena terkejut dan hampir tidak percaya ketika melihat isi kotak tersebut,
Isinya adh bangkai anak kucing yang baru sajahir, yang js–js dibunuh secara brutal oleh
seseorang, sangat mengerikan dan penuh darah.
Ada juga mainan kecil denganmpu berkedip di sebhnya dan wajah badut tersenyum yang
tertempel di bagian atas...
“Jangan takut, jangan takut, ada mami di sini.”
Tracy dengan cepat bereaksi dan buru–buru menutup kotak itu dan bersiap untuk membuangnya.
Begitu dia mengangkatnya, dia merasa ada yang tidak beres, karena dari dm kotak terdengar suara
hitung mundur.
“Itu bom, mami cepat buang!!!”
Carlos segera merebut kotak yang ada di tangan Tracy dan beri keluar.
“Carlos —”
Tracy berteriak dan bergegas keluar.
Tepat ketika Carlos melemparkan kotak itu ke koridor, terdengar suara ledakan “duar” dari dm kotak.
Seluruh ruangan bergetar dan beberapa potongngitngit koridor berjatuhan dan hampir mengenai
Carlos.
“Carlos, Carlos!” Tracy bergegas seperti orang g dan memeluk Carlos dengan erat, “Carlos, kamu
baik–baik saja? Jangan menakuti mami.”
“Mami, aku baik–baik saja, uhuk uhuk ... Carlos batuk karena tersedak oleh debu, tapi dia baik baik
saja.
Tracy segera menggendong Carlos masuk ke rumah dan menutup pintu.
“Mami ...” Ca berteriak ketakutan dan wajahnya memerah. Carles melindunginya dm pelukannya,
berpura–pura tenang dan menghibur: “Jangan takut, kakakmu ada di sini.”
“Siapa yang mengirim barang itu? Kenapa dia ingin menckakan kita?” Carlos bertanya dengan
panik.
“Orang itu ...” Tracy kebingungan, dia tidak mengerti kenapa Daniel mkukan ini.
“Ya ampun, apa yang terjadi?”
Pada saat ini, Bibi Juni kembali dari berbnja dan dia merasa terkejut melihat situasi ini, “Nona,
anak–anak, apakah kalian baik–baik saja?”
“Bibi Juni, segera bawa anak–anak kembali ke desa.” Tracy sudah mi tenang dan memutuskan hal
ini, “Cepat kemasi beberapa barang bawaan secukupnya, aku akan memanggil mobil.”
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Bibi Juni sangat ketakutan hingga gemetar. “Apakah seseorang
mencoba menyakiti kita? Siapa?”
“Aku tidak tahu siapa, tapi orang itu sudah tahu mat rumah kita. Kita dm bahaya. Bibi dan anak–
anak harus segera pergi.”
Tracy memanggil Pak Sarwan, dia adh satpam komplek rumah, “Pak Sarwan, bapak menjadi supir
taksi paruh waktu, kan? Saya akan bayar harga dua kali lipat, tolong antar Bibi Juni dan anak–anak
kembali ke desa.”
“Dua kali lipat? Ok ok, saya segera ke sana, bantu mengangkat koper kalian.”