Bab 850
Menantu Dewa Obat Chapter 850
Anissa tampak bingung: “Reva?”
*Mengapa?”
“Mengapa dia bisa berbicara dengan dokter Tanaka?”
Alina menggelengkan kepnya: “Aku juga tidak tahu.”
“Namun, sepertinya hubungannya dengan dokter Tanaka sangat baik.”
―
Anissa terheran heran. Dia tidak mengerti mengapa seorang menantu yang diremehkan oleh semua
orang di keluarga ini bisa begitu hebat?
Pertama Anya,lu Spoon & Stable dan sekarang dia juga memiliki hubungan yang baik dengan
dokter Tanaka. Apa yang terjadi di dm sini?
Mata Jaydenngsung berbinarlu dia berkata, “Tante kedua, aku tahu sannya.”
“Pasti Devi sudah berselingkuh dengan Reva.”
“Dia bekerja di kantor Reva dan menjalin hubungan dengan Reva.”
“Waktu itu, aku tidak tahu hubungannya dengan Reva jadi aku berkonflik dengannya.”
“Hubungan Reva dengan dokter Tanaka pasti ada hubungannya dengan Devi!”
Air muka Anissangsung berubah: “Apa masih ada hal seperti itu?”
“Kakak kedua, si.. si Reva ini juga sangat keteluan, kan?”
“Mash dengan Anya saja masih belum js dan sekarang munculgi seorang Devi. Sebenarnya
apa mau dia?”
“Dia hanya seorang menantu pria yang hidup dan tinggal di dm keluarga kita namun berani –
beraninya di luar sana dia menggoda wanitain. Kualitas pria ini juga telu rendah rasanya!”
Alina mengerutkan keningnya, “Jayden, apa benar yang kau katakan itu?”
“Apa si Devi itu benar–benar menjalin hubungan dengan Reva?”
Jaydenngsung mengangguk dengan cepat: “Benar sekali!”
“Aku melihat dengan js bahwa keduanya bergandengan tangan!”
“Tante kedua, justru karena aku tidak suka dengan hal ini makanya aku bertengkar dengannya.”
Alinangsung geram, sambil menggebrak meja dia berkata, “Reva, si bajingan ini, apa dia ingin
memberontak sekarang?”
“Putriku sudah mempekukannya dengan baik namun berani beraninya dia mkukan sesuatu yang
bobrok di luar sana!”
“Ku hari ini aku tidak memberinya pjaran, namaku bukan Alina!”
Alina mengeluarkan ponselnya dengan marahlu menelepon Axe, Hana dan Hiro. Dia meminta
mereka semua png untuk menangani mash ini bersama–sama.
Diam–diam Jayden tersenyum.
Ini adh hal yang dia inginkan.
Dia tahu bahwa sangat kecil kemungkinannya untuk meminta bantuan dari Reva atas mash kali ini.
Property ? of N?velDrama.Org.
Jadi satu–satunya cara, dia hanya memperbesar semuanya dengan melibatkan Reva.
Dengan begitu, sekalipun keluarga Tanaka datang untuk mencarinya, keluarg Shu juga harus
menyelesaikan mash di antara Devi dan Reva dulu. Jadi bagaimana mungkin mereka akan punya
waktu untuk mengurusi mashnya?
Sementara mengenai perselingkuhan antara Devi dengan Reva itu juga tidak penting. Yang penting
adh keluarga Shu mempercayainya.
Setengah jam kemudian, Axel, Hana dan Hiro sampai di rumah dengan terburu–buru.
Saat Axel mendengarkan cerita Alina di telepon, wajahnya penuh dengan amarah.
Begitu masuk diangsung menggebrak meja dan meraung: “Jayden, kau katakan yang sebenarnya!”
“Apa kau melihat mereka berdua menjalin hubungan dengan mata kepmu sendiri?”
Jayden menjadi panik.
Alina memelototi Axellu dengan marah berkata, “Apa yang kau bicarakan itu?”
“Apa mungkin keponakan aku berbohong?”
Dengan dingin Axel berkata, “Apa kebohongan yang dibuat oleh keponakanmu masih kurang?”
“Apa kau sudah lupa dengan mash Anya waktu itu?”
Alina tertegunlu dengan marah berkata, “Axel, apa maksudmu?”
“Kita sedang membahas mash yang sekarang. Untuk apa kau mengungkit mash yang sudah
lewat?”
“Kenapa? Apa kau sekarang hendak memb si bajingan Reva itu?”
Axel tertegun sejenak, “Kapan… kapan aku memb dia?”
“Setidaknya aku harus memperjs mashnya dulu!”
Hana yang berada di sampingnyangsung mengibaskan tangannya dan berkata, “Sudah, pa, ma,
kalian berdua jangan bertengkargi.”
“Sebenarnya, aku merasa bahwa ada kemungkinan seperti itu.”
“Coba kalian pikir, si Devi ini, keluarganya sangat kayalu mengapa dia ingin bekerja sebagai
perawat di rumah sakit?”
Mata Alina berbinarlu diangsung mengangguk, “Hana, ucapanmu sangat benar.”
“Si Devi ini tidak hanya menjadi perawat tetapi juga bekerja di kantor Reva?”
“Coba saja kau pikir saja dengan dengku!mu!”
“Ku keduanya tidak ada hubungan apa–apa, aku akan jadikan kepku sebagai kursi untuk kau
duduki!”