Bab 2234
Bab 2234 Bertemu Juliana Lagi
Sonny sangat khawatir, Bibi Lauren menghiburnya, “Jangan khawatir, orang biasa tidak bisa
melukainya sama sekali.”
“Tapi…”
“Tadi aku menemukan ada ptihan binatang buas di bkang? Kamu bawh aku pergi lihat- lihat.”
Bibi Lauren tiba–tiba mengalihkan topik pembicaraan.
N?velDrama.Org holds text ? rights.
“Baik.”
Dewi membawa mobil sampai di tempat yang th disepakati, Hotel Benhil.
Mobil Nyonya Presiden sudah parkir di luar, pengawal dan penanggung jawab hotel sedang menunggu
di depan pintu, melihat Dewi, buru–buru menyambutnya, menyapanya dengan hormat.
Dewi turun dari mobil, buru–buru berjn masuk ke hotel, “Apa Nyonya Presiden sudah sampai?”
“Sudah sampai dari tadi.”
Pengawal mengantar Dewi masuk, penanggung jawab hotel tetap di depan pintu untuk menunggu
orang dari keluarga Henderson..
Dewi menyadari bahwa hari ini tidak ada satu orang pun di hotel, sangat js sudah diborong oleh
Nyonya Presiden.
Sampai di ruang VIP, Nyonya Presiden sedang mencicipi teh, melihat Dewi datang, ia buru–buru
menyapanya, “Dewi, kamu sudah datang, cepat kemari cicipi teh hitam ini.”
Dewi sama sekali tidak ada suasana hati untuk minum teh, tapi ia tetap duduk, menunggu dengan
sabar.
“Dewi, nanti mereka kemari, biar aku yang tanyakan.” Nyonya Presiden menepuk–nepuk tangan Dewi,
dan berpesan, “Kamu jangan khawatir, mereka tidak berani menyembunyikan apa pun
dariku.”
Baru selesai berbicara, penanggung jawab hotel sudah membawa orang dari keluarga Henderson
masuk.
Dewi menoleh untuk melihat, tidak bisa menahan diri untuk tercengang…
Michael mendorong kursi roda, yang duduk di kursi roda adh Juliana yang terluka parah.
1/3
“Juliana?” Nyonya Presiden sangat terkejut, “Kapan kamu png?”
Ini juga pertanyaan yang ingin Dewi tanyakan.
“Pukul 3 dini hari sampai di rumah.”
Suara Juliana serak dan rendah, kepnya terbungkus kain kasa yang tebal, satu kakinya dipasang
gips, lengannya juga ada luka, yang paling penting adh dadanya th tertembak, sekarang duduk
saja sangat memakan tenaga.
“Kenapa kamu jadi begini? Apa sebenarnya yang terjadi? Di mana Lorenzo???” Dewi buru–buru
bertanya.
Juliana sangat lemas, tidak berbicara.
Pada saat ini, Nyonya Presiden bertanya, “Ya, apa sebenarnya yang terjadi?”
Aku dan Tuan diserang, dia melindungiku dan mundur dulu, dm proses mrikan diri, aku terluka
dan tidak sadarkan diri, saat bangun baru sadar bahwa diriku sedang berbaring di rumah sakit. Tuan
dan anak buahnya semuanya hng kontak, aku utus orang pergi mencarinya, tapi terus tidak ada
kabar, kemarin aku diserang sekaligi, hanya bisa kembali ke negara Emron dulu
Juliana menceritakan kejadiannya dengan lh.
Ketika mendengar kata–kata ini, hati Dewi semakin tidak tenang, Lorenzo dan orangnya melindungi
Juliana untuk mundur, Juliana saja terluka parah, bisa dilihat bahwa serangannya
sangat ganas….
“Kenapa bisa begini? Siapa yang menyerang kalian?” Nyonya Presiden buru–buru bertanya.
“Seharusnya orang–orang Pastorico dan Ivan.” Juliana mengerutkan keningnya, “Sebelumnya Tuan
mengembangkan pasar Eropa, th memutuskan jn bagi Pastorico untuk mendapatkan
keuntungan, Pastorico slu menyimpan dendam di dm hati. Sin itu, kekuatan di bkangnya
ingin menarik Tuan di pihaknya, tapi Tuan juga tidak setuju.”
“Jadi, orang–orang itu membiarkan Pastorico berbuat sembarangan, sin itu, ada bantuan dari Ivan
dan orang keluarga Wance, kekuatan mereka bertambah besar dari hari ke hari, ditambahgi,
orang–orang yang Tuan bawa kali ini tidak cukup, jadi kami terus berada di kondisi yang dirugikan….”
“Lorenzo benar–benarlai kali ini.” Michael mengh napas dan berkata, “Biasanya dia keluar
mengurus sesuatu akan bawa banyak orang, kenapa kali ini hanya bawa bsan orang?”
“Katanya mau tinggalkan lebih banyak orang di rumah untuk melindungi yangin.” Juliana memelototi
Dewi dengan benci, “Tuan bertindak tergesa–gesa kali ini, js persiapannya tidak cukup, makanya
dimanfaatkan oleh orangin.”
“Jangan omong kosong.” Dewi tidak menyukainya, “Kalian diserang di mana? Beri tahu aku dengan
js mat lengkapnya dan kondisi spesifiknya….”
2/2
“Aku sudah pernah berdiskusi dengan Jeff.” Juliana berkata dengan dingin, “Kesmatan Tuan, aku
lebih peduli darimu!”