Bab 2200
Bab 2200 Lorenzo Marah
“Sudah, oleskan obatnya.”
Dewi membersihkan luka Willy,lu menyerahkan obatnya pada Mina, “Taburkan bubuk obat secara
merata pada lukanya, nanti akan aku balut.”
“Oh, oh.” Mina segera menerima obatnya.
Dewi melepas sarung tangan dan hendak mencuci tangannya, tapi menemukan Lorenzo berdiri di
depan pintu, dia pun tertegun, “Kapan kamu datang?”
“Baru saja.” suara Lorenzo sangat dingin, “Sudah selesai? Butuh bantuan?”
“Tidak perlu.” Dewi tidak menyadari ada yang tidak beres dengannya dan menambahkan, “Aku cuci
tangan dulu,lu balut luka Willy. Kamunjuh kerja, nanti aku mencarimu.”
Seth mengatakannya, dia cuci tangan, sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini dia masih
mengenakan kemeja Lorenzo, meskipun semua dikancingkan dan kemejanya cukup panjang….
Tapi, sepasang kaki indah itu menjuntai di depan matanya, membuat Lorenzo mengerutkan kening….
“Aku yang akan mengoleskan obat dan membalutnya.” Mina merasakan Lorenzo yang senang, dan
segera berkata, “Nona Dewi, istirahah, serahkan padaku.”
tidak
“Kamu bisa?” Dewi keluar dari kamar mandi dan mi mengenakan sarung tangan, hendak membalut
luka, “Kamu bukan perawat, tidak bisa mkukannya dengan benar.”
“Aku bisa….
Sebelum Mina selesai bicara, Dewingsung menarika Willy ke bawah dan mi memeriksa
luka di pahanya.
“Dewi, Dewi….” Willy cemas, “Biarkan Mina saja.”
“Iya, Nona Dewi ….” Mina juga menghngi Dewi dan berbisik, “Tuan marah, cepah kembali.”
Baru saat ith Dewi mengerti, saat dia menoleh, Lorenzo sudah pergi.
“Dasar, sudah dewasa, tapi begitu picik.”
Dewi bergumam dengan suara rendah, mengajari Mina cara memeriksa luka Willy dan cara
mengoleskan obat,lu keluar.
Mina cepat–cepat menutup pintu,lu mengh napas panjang, menggigit bibir bawahnya,
mengumpulkan keberanian untuk memeriksanya dengan seksama ….
“Kk kamu harus mempjarinya, jangan biarkan Dewi sendiri yang mkukannya.”
1/2
Perintah Willy dengan suara rendah.
“Baik, aku bjar dengan baik.” Mina mengangguk berng kali, “Tapi Pangeran, aku, aku tidak
berani….”
Dia tersipu malu, tadi Dewi menyuruhnya untuk memeriksa dengan seksama, termasuk area itu, tapi
dia sama sekali tidak berani melihatnya.
“Tidak apa–apa, kamu adh orang terdekatku sekarang, tidak perlu malu.” Willy menyemangatinya,
“Lebih baik daripada membiarkan Dewi sendiri memeriksanya.”
“Benar….”
Mina tersipu malu dan mengumpulkan keberanian untuk memeriksa.
Dewi kembali ke kamar dan menemukan bahwa Lorenzo sedang mandi, jadi dia tidak telu
memikirkannya,lu ia pun duduk di sofa merapikan kotak obat.
Takma kemudian, Lorenzo keluar, menatapnya, dan duduk di ranjang mengeringkan rambutnya.
“Aku juga mau mandi.”
Content protected by N?v/el(D)rama.Org.
Dewi mengambil kaos dari kopernya,lu ke kamar mandi.
Kep dan betisnya juga terluka, jadi dia hanya bisa membasuh tubuhnya sebentar, jadi keluar
dengan cepat, tapi ada air dintai, dia tidak seimbang saat berjn, kakinya terpeleset, dan
terjatuh…..
Kali ini, Lorenzo tidak membantunya.
“Ah-” Dewi menjerit kesakitan, “Sakit sekali!”
“Apanya yang sakit?” Lorenzo bersandar di ranjang, menatapnya dengan dingin.
“Pantatku sakit.” Dewi bangkit darintai sendirian, berjn tertatih–tatih ke ranjang, dan mengeluh
sambil cemberut, “Kamu tidak peduli padaku.”
“Kamu begitu cakap, masih butuh bantuanku?” Lorenzo menjawab dengan dingin.
Dewi tidak bisa menahan amarahnya saat melihat tatapannya yang penuh amarah, tapi dia tetap.
menahan diri, “Aku hanya mengobati pasien, kamu marah?”
Lorenzo ms bicara dengannya,ngsung mematikanmpu dan tidur.
“Kamu ….” Dewi sangat marah hingga melemparkan bantal, menahan amarah di hatinya. Pria ini picik
dan mudah tersinggung, masih harus dibujuk.
2/3
Menyebalkan.