AliNovel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
AliNovel > Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar > Bab 2151

Bab 2151

    Bab 2151


    Bab 2151 Bebas


    Mina mengenakan setn hitam, sosoknya kecil di antara para pria, namun ada rasa heroik dan agung


    padanya.


    Dewi sedikit geli, ia merasa Lorenzo benar–benar keteluan, tidak memperbolehkan Mina


    mengenakan gaun, mh memintanya mengenakan seragam pengawal.


    Apa karena Lorenzo takut Mina akan mencuri pusat perhatian?


    Pria ini, terkadang sangat menggemaskan.


    Untungnya Mina tidak keberatan, ia tersenyum dan mmbaikan tangan ke arah Dewi.


    Wezo menarik tangannya, mengingatkannya untuk tetap sopan, ia pun berbalik.


    Dewi menoleh kembali, ia pikir ia masih harus menungguma, tepat pada saat ini, Lorenzo berkata,


    “Baih, para wanita sudahpar, mari kita makan.”


    “Hahaha, aku yang tidak mempertimbangkan dengan benar, menarikmu untuk mengobrol,


    mengabaikan Nona Wiwi.”


    Presiden secara otomatis sadar Lorenzo merasa kasihan dengan Dewi, ia secepatnya mengundang


    semua orang untuk duduk.


    Lorenzo berjn menghampiri Dewi dan duduk di sampingnya, ia menggenggam tangan Dewi di


    bawah meja, kesepuluh jari mereka terikat erat.


    Dewi tersenyum menatapnya, matanya penuh dengan senyuman manis.


    Lorenzo mengecup keningnya dan bertanya dengan penuh perhatian, “Kamu sudahpar?”


    “Iya.” Dewi menganggukkan kep dengan jujur.


    “Haha…” Lorenzo tertawa, iangsung memotongkan sebuah steik sapi untuknya, “Sekarang sudah


    boleh makan.”


    Pada saat bersamaan, Presiden mengangkat gsnya hendak bersng dengan semua orang,


    menyadari Lorenzo sedang memotong steik, iangsung menurunkan gsnya, menunggu sampai


    Lorenzo selesai menyuapi Dewi sepotong steik,lu ia kembali mengangkat gsnya dan berkata,


    “Smat datang bertamu di rumahku, aku dan istriku ingin bersng untuk kita


    semua!”


    “Smat datang!”


    “Terima kasih Tuan Presiden, terima kasih Nyonya Presiden!”


    Semuanya mengangkat gs,lu minum dm satu tegukan.


    “Hari ini adh perjamuan kekeluargaan, anggap seperti rumah sendiri, harap santai, tidak perlu


    begitu sungkan….”


    Presiden menginstruksikan.


    Saat ini, semua orang baru berani makan secara resmi.


    Sedangkan, Dewi sudah makan beberapa suap steik, ia merasa dirinya sendiri sedikit kurang sopan, ia


    berhenti sejenak, namun Lorenzo menyuapinya dengan lembut.


    Dm sekejap, Dewi tidak merasa dirinya tidak sopangi.


    Melihat pemandangan ini, Tuan dan Nyonya Presiden saling bertatapan dengan tatapan mata yang


    penuh makna.


    Semua orang mi makan.


    Para pria berbincang sambil makan, mereka membahas tentang isu internasional.


    Beberapa wanita terus memperhatikan pasangan mereka dengan hati–hati, bahkan Nyonya Presiden


    juga terus mengawasi gerak–gerik Tuan Presiden, memberikannya sesuatu yang diperlukan setiap


    saat.


    Hanya Dewi yang tertunduk dan terus makan.


    This text is property of N?/velD/rama.Org.


    Bahkan Lorenzo mengambilkannya minuman dan memotong steik untuknya.


    Juliana melihat semua pemandangan ini dengan matanya, namun ia tetap bersikap tenang, anggun,


    tidak tergerak sama sekali.


    Sebaliknya, Dewi merasa sikap Juliana sedikit tidak dapat diprediksi, apa wanita ini benar–benar tidak


    ada hubungan sama sekali dengan Lorenzo? Jika memang tidak ada, ia pasti juga bisa merasa


    cemburu? Bagaimana bisa tidak ada respons sama sekali?


    Dewi tidak mengerti, namun ia juga ms untuk terus memikirkan hal ini.


    Bagaimanapun juga, Lorenzo mempekukannya dengan baik, ia juga memperkenalkannya di depan


    semua orang, ia tidak punya san untuk tidak memercayainya.


    Hidangan ini seharusnya dinikmati secara pn, semua orang menikmatinya dengan pn sambil


    mengobrol.


    Namun karena Dewi makan dengan cepat, ia juga kenyang dengan cepat, ia tidak ingin tinggal di meja


    makan mendengar omong kosong mereka.


    Lorenzo menyadari Dewi yang tidak nyaman, berbisik padanya, “Pergh jn–jn.”


    “Iya.” Dewingsung mengerti, ia segera mendorong kursi dan meninggalkan meja.


    “Apa Nona Wiwi butuh sesuatu?” Nyonya Presidenngsung berdiri dan bertanya.


    “Aku ….”


    “Dia ingin ke toilet.” Lorenzongsung menggantikannya menjawab.


    “Biar aku antar.” Nyonya Presiden bersiap mengantar Dewi pergi.


    “Eh, tidak perlu.” Dewi buru–buru menk, “Aku bisa sendiri….


    “Hm, Nyonya Presiden tidak perlu sungkan.” Lorenzo tersenyum, Wiwi terbiasa bebas sendirian, dia


    tidak tahan dengan formalitas, biarkan dia pergi sendiri.”
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Shadow Slave Beyond the Divorce My Substitute CEO Bride Disregard Fantasy, Acquire Currency The Untouchable Ex-Wife Mirrored Soul