Bab 1943
Bab 1943
“Oh? Sepenting itu?” Dewi tidak telu mengerti.
“Benar, ini sangat penting.” Juliana masih tersenyum, namun tatapannya begitu serius, “Ku pesta
perjamuan ini sampai berantakan, Wakil Presiden mungkin akan menarik ketiga keluarga besar untuk
melengserkan Tuan Lorenzo!”
“Rumit sekali …” Dewi mengernyitkan alisnya, “Maksudmu, kehadiranku akan merusak acara ini?”
“Ya,” Juliana memberitahunya dengan sangat js, “Sekarang Grup Moore harus bersatu mlui ikatan
pernikahan di antara empat keluarga besar ini, sehingga semua orang bisa menjadi komunitas yang
saling menguntungkan.”
“Dan hanya aku satu-satunya pilihan tepat dari keempat keluarga besar kami. Jadi, saat ini kuncinya
hanya terletak pada hubunganku dengan Tuan
“Oh,” Dewi terlihat bingung. “Jadi
Juliana terpana. Apa ucapannya itu masih kurang js juga? Sebenarnya ia benar-benar tidak mengerti,
atau berpura-pura bodoh?
“Aku mengerti…” Dewi berpikir sejenak,lu berkata dengan sungguh-sungguh, “Maksudmu, jika aku
bersama Lorenzo, itu akan memengaruhi masa depannya? Dan akan lebih baik jika kamu bersamanya?”
“Bagus, ku kamu sudah mengerti
Tapi, seharusnya kamu tidak membahas mash ini denganku,” Dewi memotong perkataannya dan
berkata dengan ekspresi tertekan, “Dia yang tidak mau melepaskanku. Aku juga merasa begitu tertekan.
Seharusnya kamu menyuruhnya untuk segera melepaskanku, demi kepentingan keluarga ini.
“Kamu tidak perlu memberitahuku semua ini,” amarah Juliana meluap-luap, namun ia tetap berusaha
menjaga sikapnya, “Aku tidak bisa menghngi Tuan, tapi kamu bisa membuat pilihan yang bijak!”
“Aku tidak mengerti,” Dewi mengernyitkan alisnya, wajahnya terlihat bingung.
“Seandainya Wakil Presiden menikah dengan keluarga Henderson, maka itu akan membawa mash
besar bagi keluarga Moore dan Tuan Lorenzo ke depannya ….”
Juliana th kehngan kesabarannya.
“Aku sudah mengatakan dengan sangat js, ku kamu benar-benar mencintai Tuan, kamu harus
berpikir demi kebaikannya. Terlebihgi, ku kamu tidak mencintainya, seharusnya kamu sudah
meninggalkannya sejak awal, agar tidak mendatangkan kekacauan.”
“Ku memang kunci penyelesaian dari semua mash ini terletak padamu, kenapa bukan kamu yang
mengambil keputusan?” Dewi memandangnya lucu, “Pernikahanmu adh kunci dari situasi ini.
Bahkan, kamu begitu mengkhawatirkan Lorenzo, kenapa kamu tidakngsung menikahinya? Kenapa
mh datang mencariku?”
Content (C) N?v/elDra/ma.Org.
“Kamu …” Juliana dibuat tercengang olehnya.
“Oh, apa Lorenzo yang menk menikah denganmu, jadi kamu datang membujukku untuk
meninggalkannya?” Dewi menatapnya sambil tersenyum, “Tapi, tidak mungkin. Kamu begitu sempurna,
bahkan bisa membantu mempertahankan kedudukannya. Kenapa ia tidak mau menikahimu?”
Wajah Juliana seperti membiru, ekspresinya berubah buruk
“Sudah, sudah. Pertikaian antara keluarga kalian telu rumit, aku tidak mengerti,” Dewi menguap,
“Intinya, ini bukan urusanku. Jangan katakan semua ini padaku, katakan saja pada Lorenzo. Aku
ngantuk, mau tidur. Skan keluar sendiri, ya.”
Ekspresi Juliana menggp penuh amarah. pun berbalik keluar dengan kesal
Di dm ruang kerja, Lorenzo mendengarkan ocehan panjang lebar dari Sammy. Akhirnya, ia pun
berkata datar, “Aku akan menghadiri pesta perjamuan itu, tapi bukan bersama Juliana, minkan
dengan Wiwi!”
“Kamu …. amarah Sammy meluap-luap hingga ia terlihat hampir terkena serangan jantung. “Apa kamu
sengaja mkukan semua ini? Kamu js-js mengetahui apa konsekuensinya, dan kamu masih
“Paman Sammy,” Lorenzo memotongnya, dan berkata pn, “Jangan khawatir, aku tidak akan
membiarkan Grup Moore jatuh ke tangan orangin. Aku juga tidak akan membiarkan keluarga Moore
mengmi mash. Sedangkan untuk halinnya, Paman tidak perlu khawatir.
“Tapi ….”
Sammy masih ingin mnjutkan pembicaraannya, namun tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. diikuti
dengan Jasper yang membawa Juliana masuk ke dm.
Melihat ekspresi Sammy dan suasana yang terasa begitu kaku di dm ruangan itu, Julianangsung
mengetahui Sammy th gagal membujuk Lorenzo.
Tatapannya berubah muram, namun dengan cepat ia bersemangat kembali dan berkata sambil
tersenyum, “Karena Tuan sudah membuat keputusan, mari kita hormati keputusannya!”
212