Bab 1867
Bab 1867
Dm hati Dewi kaget, tapi raut wajahnya terlihat sangat tenang, “Aku pernah dengar orang ini,
sepertinya sangat hebat.”
“Benar, dia juga seorang gadis muda.” Jasper tertawa, “Sangat mirip denganmu.”
“Lalu?” Dewi mengangkat alisnya.
“Eh….” Jasper tiba–tiba tidak tahu bagaimana merespons, “Aku tidak ada maksudin, hanya saja …”
“Baih, nanti aku ke sana.”
Dewingsung masuk ke kamar, dm hati berpikir, sepertinya dia harus sedikit lebih lembut, jangan
sampai identitasnya terungkap sebelum pergi.
Jika sampai Lorenzo tahu bahwa dia adh abib Dewa, takutnya jika ketahuan bahwa dia membohongi
dan
mempermainkannya, kk dia akan semakin ketat terhadap dirinya. Jika begitu, dia akan semakin sulit
kabur.
“Nona Wiwi, kamu minum bir? Kamu baik–baik saja? Apa kamu ditindas?”
Nora melihat Dewi dari atas ke bawah, tatapannya penuh kekhawatiran.
“Tidak apa–apa.” Dewi bisa merasakan, perhatian Bibi Nora terhadapnya sangat tulus, dia merasakan
kelembutannya.
“Bibi Nora, air mandi sudah siap.”
Kata pyan di depan kamar mandi.
“Mari, aku mandikan, lihat kamu terluka atau tidak.”
Nora menjaga Dewi seperti menjaga anak kecil.
“Aku sungguh tidak apa–apa.” tawa Dewi, “Aku mandi sendiri saja, kalian bantu aku siapkan baju.”
Seth bicara, Dewi berjn masuk ke kamar mandi. Dia menutup pintunya, menyembunyikan tasnya
di
This text is property of N?/velD/rama.Org.
lemari kamar mandi.
Sebelumnya Lorenzo tidak menggeledah tas dan dokumennya, karena Lorenzo tidak mencurigainya.
Tapi, sekarang dia ingin kabur, Lorenzo pasti akan lebih memperhatikannya.
Barangkali dengan menggeledah tasnya, dapat memeriksa identitasnya yang sebenarnya.
Karena itu, dia harus menyembunyikan dokumennya baik–baik.
Dewi berendam sambil melihat–lihat ponselnya.
Ada 2 panggn tak terjawab dari Brandon, juga ada 2 pesan teks, “Telepon kembali ku sudah baca
pesan!”
Karena mempertimbangkan ponselnya ada kemungkinan disadap, jadi mereka sepakat berkomunikasi
dengan cara seperti ini untuk menghindari bocornya informasi penting.
Di daftar panggn tak terjawabnya juga ada telepon masuk dari Pangeran Willy, bahkan dia juga
mengirimkan beberapa pesan teks→→
“Dewi, kenapa kamu mematikan ponselmu? Apa yang terjadi?”
“Dewi, kamu kenapa? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Seth baca pesan ini, ingat telepon aku
kembali.”
“Dewi, kamu di mana?”
Meski pesan ini tidak berarti apa–apa, tapi jika Lorenzo melihat pesan–pesan ini, maka identitasnya
akan
terungkap
Seth dipikir–pikir, dia pun menelepon Pangeran Willy ….
“Dewi, akhirnya kamu telepon, kamu hampir membuatku mati karena panik ….”
“Willy, beberapa waktu ini aku tidak leluasa menghubungimu. Jangan kirim pesangi, beberapa waktu
lagi,
aku yang akan menghubungimu.”
“Kamu di mana?”
“Aku ….”
“Nona Wiwi, Nona baik–baik saja?”
Di saat itu, dari luar pintu terdengar suara Nora.
Dewi buru–buru menjawab, “Aku tutup dulu. Ingat, jangan kirim pesan.”
Seth bicara, dia pun menutup teleponnya …..
Lalu, menjawab orang di depan pintu, “Aku baik–baik saja. Masih mandi.”
“Baik, aku tunggu di depan pintu. Ku ada sesuatu, panggil saja.”
“Oke, terima kasih….”
Ku begini sudah tidak mash.
Kk sudah bisa menggunakan ponsel secara terang–terangan.
Seth mandi, Dewi bersiap–siap dan ikut Nora ke ruang kerja dintai 2.
Pintu dibuka, cahaya di kamar agak gp.
Lorenzo duduk di sofa dengan elegan, memakai kacamata berbingkai perak, sedang melihat dokumen.
Melihat Dewi datang, ia mendongak dan menatapnya, tatapannya lebih lembut dari sebelumnya, tapi
ada kerumitan dan tampak serius.
“Tuan, saya pergi dulu.”
Nora meletakkan segs air putih hangat dan segs susu hangat di hadapan Dewi, kemudian keluar
pehan.
Jasper menunduk memberi hormat, juga undur diri.