Bab 1839
Bab 1839
“Masih belum pergi?” Lorenzo tersenyum dan berkata dengan arogan, “Apa kamu benar–benar ingin
menunggu peluru itu? Nanti ditambah dengan berita yang mengejutkan dunia, kalian benar–benar
untung banyak!!”
“Kamu ….”
Muka Rodhe menjadi pucat karena marah dan seluruh tubuhnya gemetar.
Ini adh pertama kalinya dm hidupnya dia menghadapi tantangan, bahkan diinjak di bawah kaki
orang.
“Anak muda, jangan telu sombong, kk kita akan bertemugi!!!”
Rodhe meninggalkan kata–kata ini, kemudian memimpin anak buahnya dan pergi dengan marah.
Di dm mobil, Dewi akhirnya mengh napas lega, untunh, nyawanya tersmatkan.
“Tabib Dewi, apa kamu baik–baik saja?” Sonny menghampiri dan membuka pintu mobil, dia berkata
sambil tersenyum, “Jangan takut, kita sudah aman.”
Dewi keluar dari mobil dan menatap Lorenzo dengan marah, “Kamu punya kartu AS mereka, kenapa
tidak bng dari awal? Membuatku bergegas kembali untuk menymatkanmu, dan hampir mati kena
ledakan di mobil.”
“Siapa yang menyuruhmu bertindak begitu bodoh?” Lorenzo menjawab dengan marah.
“Kamu ….”
Wajah Dewi memucat karena marah, berharap dirinya bisa mencekiknya sampai mati.
Pada saat itu, suara gemuruh semakin dekat, helikopter terbang mendekat dan myang di atas kep
mereka, membentuk embusan angin yang bertiup kencang.
Dewi menyipitkan matanya dan melihat ke atas….
Ada Jeff dan yanginnya di pesawat, ternyata mereka sudah punya persiapan sejak awal, pantas saja
Jeff begitu tenang sebelumnya dan terus membujuknya untuk tidak kembali.
Helikopter pehan turun,lu menurunkan beberapa tali.
“Berikan kalung itul”
Dewi tahu mereka sudah akan pergi, jadi dia buru–buru mengulurkan tangan untuk merebut kalung itu.
“Hei!”
Dewi berteriak dengan panik.
Tapi Lorenzo tidak berbalik, dia hanya meninggalkan satu kalimat, “Kk tidak bertemugi!”
Helikopter itu dengan cepat membawa Lorenzo pergi.
Jasper juga menggunakan cara yang sama dan pergi bersamanya.
“Sin!!!”
Dewi menghentakkan kakinya dengan marah.
“Tabib Dewi, kami akan mengantarmu ke Denmark.” Sonny menatap Dewi sambil tersenyum, “Tuan
memerintahkan kami harus mengawalmu ke Denmark untuk bertemu Pangeran Willy!”
“Cedera Willy sudah stabil, cari dokter profesional yangin sudah cukup, tidak perlu akugi.”
Tatapan Dewi masih tetap terarahkan kengit, melihat ke arah Lorenzo pergi.
Brengsek, dia pasti akan menemukannya dan mendapatkan kembali kalungnya
Tapi sekarang kalung itu belum diambil kembali, uang di Swednd itu tidak bisa diambil.
Dia hanya memiliki lebih dari 100 juta, bagaimana bisa cukup?
“Tabib Dewi….” Sonny memanggilnya beberapa kali, barh Dewi tersadarkan kembali dan dengan
cepat berkata, “Cepat kalian ikut kelompok kalian, tidak perlu mengawalku.”
“Bagaimana bisa? Tuan bng….”
Sonny masih ingin mengatakan sesuatu, Dewi sudah melompat ke dm mobil dan pergi dengan
kecepatan tinggi ….
“Tabib Dewi, Tabib Dewi ….”
Sonny mengejar di bkang.
Dewi menjulurkan kepnya dan berkata, “Kk kita masih akan bertemugi!”
Lalu, dia menginjak pedal gas, mobil itu pun melesat pergi dan menghng dm sekejap ….
Sonny berhenti dan menatap kosong ke arah Dewi pergi, matanya penuh kekecewaan ….
Sonny berjn tigangkah dan berbalik, berharap bisa melihat Dewigi, tetapi Dewi th menghng,
seh–h dia tidak pernah muncul sebelumnya ….
Dewi mengemudikan mobil,ngsung menuju bandara dan naik pesawat penumpang ke Swednd.
This text is property of N?/velD/rama.Org.
Sebelum menaiki pesawat, dia menelepon Brandon dan memintanya untuk menunggunya di bandara.
Ingatannya sedang pehan pulih, tentang Brandon, tentang Yayasan, tentang Bibi dan Paman Joshua,
tentang anak–anak itu …..
Dia sudah pehanhan mengingatnya, tetapi masih ada beberapa ingatan yang perlu dicari kembali
pehan.
Meskipun dia tidak punya cukup uang, tapi dia masih harus pergi ke Swednd untuk menangani
mash Yayasan ….
Seth mash ini ditangani, dia baru akan mkukan operasi untuk mengeluarkan pecahan logam
dari otaknya.
Tidak bisa ditunda lebihmagi, akhir–akhir ini dia semakin sering sakit kep…..