Bab 1809
Bab 1809
Dewi terkejut, dan melihat ke bkang ….
Lorenzo mengenakan setn warna putih, tampak dingin. Bahkan pangeran dm mitos pun, tidak
bercahaya seperti dirinya.
Jantung Dewingsung berdetak kencang!
Sial ….
Mengapa pria ini begitu tampan?
“Tuan L!” Pangeran Willy menjskan sambil tersenyum, “Tabib Dewa membantuku mendiagnosis
kondisiku tadi mm, dia juga tamu terhormatku, jadi aku mengundangnya untuk makan siang
bersama!”
“Mendapatkan dua bayaran sekaligus?” Lorenzo mengangkat alis dan menatapnya.
“Itu juga tidak akan menunda pengobatanmu.” Dewi menatapnya dengan tidak puas, “Sin itu, aku
hanya mendiagnosis, masih belum memi pengobatan.”
“Haha….” Pangeran Willy tertawa, “L bercanda denganmu. Kita berteman baik, dia tidak akan peduli
tentang hal ini, benar, ‘kan L?”
“Hm.” Lorenzo menjawab, berjn melewati Dewi, dan duduk di sebh Pangeran Willy.
“Tabib Dewi, skan!”
Robin datang untuk menyambut Dewi.
Dewi duduk di seberang mereka berdua, mengatur serbet secara pehan, dan menatap Lorenzo,
“Meskipun sekarang demammu sudah turun, tapi kondisimu masih belum stabil. Seth menyelesaikan
pekerjaanmu mm ini, cepah kembali….”
“Berisik.” Lorenzo menynya.
“Aku belum selesai bicara.” Dewi berkatagi, “Kamu tidak boleh minum minuman beralkohol, tidak
boleh makan makananut dan ….”
Sebelum dia selesai berbicara, Lorenzo mengambil gs anggur dan menyesapnya.
“Hei, kamu….”
“Diam!” Lorenzo mengerutkan kening, menatapnya dengan kesal.
Dewi terdiam,lu berkata dengan marah, “Ku kamu demamgi, aku tidak akan peduligi.”
Cara keduanya bertengkar, seperti sepasang kekasih muda yang berselisih.
Pangeran Willy melihat adegan ini, matanya sedikit gelisah, tapi ia masih tersenyum tampan, “Tabib
Dewi mengkhawatirkanmu. L, kamu harus mendengarnya.”
“Kenapa kamu jadi banyak omong?” Lorenzo meliriknya.
“Haha….” Pangeran Willy tersenyum ringan, dan menjamu dengan sopan, “Ayo mi makan. Aku
menyuruh orang untuk menyiapkan makanan Prancis. Semoga kalian menyukainya.”
Têxt belongs to N?velDrama.Org.
“Terima kasih!”
Dewi mengambil cangkirnya, hendak minum jus dan tiba–tiba teringat bahwa dia masih memakai
masker. Jika dia melepasnya, Lorenzo akan melihat wajahnya…
Tapi, jika tidak melepasnya, ia tidak bisa makan.
Pada saat ini, Pangeran Willy dan Lorenzo sedang mengobrol dengan suara rendah dm bahasa
Denmark, sama sekali tidak memperhatikannya.
Perhatian orangin juga tertuju pada tuannya masing–masing.
Dewi berpikir sejenak. Berpikir wajahnya tidak dicuci, rambutnya juga pendek, tanpa riasan, sangat
berbeda dari penampn sebelumnya sebagai gadis penari. Lorenzo seharusnya tidak bisa
mengenalinya, ‘kan?
Jadi, dia menarik masker ke dagunya dan makan dengan kep tertunduk.
Jasper terus berdiri di bkang Lorenzo. Awalnya, perhatiannya terpusat pada tuannya.
Namun, ketika dia menyerahkan ponsel pada Lorenzo, dia tidak sengaja melirik ke seberang, dan tiba–
tiba menemukan bahwa Dewi tampak agak aneh ….
Dia menundukkan kepnya begitu rendah, seh takut seseorang akan melihat wajahnya.
Dia melihatnya tadi mm, dan sepertinya tidak ada bekas luka yang js di wajahnya. Tidak separah
cacat yang mereka kira …..
Apa sebenarnya yang dia sembunyikan?
Saat memikirkannya, Lorenzo tiba–tiba berkata, “Apa yang kamukukan?”
Semua orang tercengang, memandangnya pada saat yang sama, dan mengikuti pandangannya melihat
ke arah Dewi….
Dewi segera menarik maskernya, dan masih mengunyah steak.
Lorenzo menyipitkan mata dan menatapnya dengan rumit. Aneh, tadi saat wanita ini menarik
maskernya, sepertinya tampak familier….
“Aku sudah selesai makan, kalian makah pn–pn.”
Dewi tiba–tiba berdiri, bersiap untuk pergi.
о
“Hei, De ….” Pangeran Willy hampir memanggil namanya, tapi berhenti di saat genting, “Tabib Dewi,
kenapa kamu pergi begitu cepat?”
“Aku kurang tidur tadi mm, ingin tidurgi.”
Dewi mencari san dan bersiap untuk pergi.