Bab 1807
Bab 1807
Seorang pyan wanita tanpa sadar berkata “baik“,lu terkejut seketika, ia menatap Jasper dengan
takut.
Jasper memberikan isyarat,lu mereka mkukan sesuai perintah Dewi, merapikan barang,
menyiapkan air minum, kemudian membungkuk dan pergi.
Jeff mengerutkan alis, pergi diam–diam,lu duduk di ruang tamu kecil itu.
Seth Jasper menunggu para pyan wanita keluar, ia bernegosiasi sebentar dengan Dewi,lu
menunggu di ruang tamu juga.
Jeff tidak tahan untuk berkata dengan suara pn, “Ku seperti ini terus, aku khawatir dia akan
menjadi setengah Nyonya.”
“Uhuk, uhuk.” Jasper terbatuk–batuk, “Dia memang mengesankan, tidak heran para pyan dan
perawat semua takut padanya.”
“Ini semua karena dia dimanja.” Jeff menggelengkan kep, “Kamu telu mentolerirnya.”
“Kenapa aku?” Jasper merasa sangat tidak adil, “Dia bahkan tidak takut pada Tuan, bagaimana aku bisa
mengendalikannya?”
“Omong–omong….” Jeff mengernyit dm, “Tuan tidak mungkin suka dengannya, ‘kan? Bagaimana
mungkin bisa tahan terhadapnya?”
“Aku juga merasa ada yang tidak beres….” Jasper diam–diam berspeksi, “Sebenarnya Tuan telu
mentolerirnya, meskipun marah, tapi slu berhenti di saat–saat penting.”
“Tuan masih telu polos mengenai hubungan antara pria dan wanita….” Jeff sangat khawatir, “Benar–
benar tidak baik seperti ini, sangat mudah ditipu oleh wanita, seth Tuan sembuh, kita harus
membawanya pergi melihat dunia….”
“Baih, nanti kita bicarakangi.”
Jasper terus berdiri di sisi tirai, menjulurkan lehernya untuk melihat ke dm kamar.
Dewi mengukur suhu tubuh Lorenzo, menutupinya dengan selimut,lu duduk dintai dekat kasurnya,
bermain “Angry Bird” di iPad.
Volumenya diatur sangat kecil, tapi masih bisa terdengar.
Jasper mendesah, mereka begitu khawatir hingga berapi-api, tapi Tabib Dewi ini masih bisa bersantai–
santai, sama sekali tidak khawatir…..
“Dia, dia….”
“Sudah.”
Exclusive ? material by N?(/v)elDrama.Org.
Jeff hampir saja ingin mengecamnya,ngsung ditahan oleh Jasper, “Biarkah dia main, Tuan sudah
minum obat, juga sudah di akupuntur, mungkin sekarang memang sudah tidak mash.”
“Tidak masuk akal.” Jeff hampir mengamuk.
“Tenang.” Jasper menenangkannya, juga menenangkan dirinya, “Setengah jamgi, aku akan tanya
padanya.”
“Baih….”
Jasper dan Jeff sangat khawatir, mereka sangat tidak tenang, berjn mondar–mandir di ruang
tamu.
Akhirnya setengah jam kemudian, Jeff segera mendorong Jasper untuk pergi menanyakan keadaannya.
Tapi saat Jasper masuk ke kamar, ia melihat sebuah pemandangan yang membuatnya tertegun….
Dewi lh bermain game, dia duduk di atasntai, tidur bersandar ke kasur.
Mungkin karena dingin, dia menarik selimut Lorenzo untuk menutupi dirinya sedikit.
Tapi sh satu tangan Lorenzo yang menggantung di sisi jend, terjatuh dan diletakkan ke wajahnya
….
Posisi keduanya terlihat agak ambigu….
Jasper ingin menegur Dewi karena tidak bertanggung jawab, tapi baru saja ingin berbicara,ngsung
ditahannya kembali.
Dia takut membangunkan Lorenzo.
“Aih….”
Jasper mendesahgi, berjn ke sisi tempat tidur,lu mengukur suhu tubuh Lorenzo dengan
termometer elektrik, menyadari panasnya sudah turun, dia baru menghembuskan napas lega.
“Bagaimana?”
Jeff tidak tahan untuk menghampiri dan bertanya.
“Ssttt~” Jasper buru–buru menyuruhnya mengecilkan suara.
Melihat Dewi yang duduk tertidur di atasntai, Jeff sangat marah, Jasper buru–buru menariknya pergi.
“Panasnya sudah turun.”
“Benarkah? Baguh ku begitu… Tapi wanita itu….”
“Biarkan saja, abaikan saja dia.”
“Tapi….”
“Sabar, semua urusan tunggu Tuan sembuh baru dibicarakangi.”
“Baih….”
Dewi bermimpi, dia kembali memimpikan gadis muda yang tersenyum ceria itu, dan pemuda yang
penampnnya tidak terlihat js itu….
Kali ini, keduanya saling bergandengan tangan, beri melintasidang.
Matahari terbenam menyinari tubuh mereka, ada kehangatan yang lembut, persis seperti senyum
mereka, membawa rasa bahagia ….