Bab 1803
Bab 1803
“Ku tidak ada apa–apagi, aku pergi dulu.”
Dewi mengangkat tas medisnya,lu berbalik dan pergi.
“Dewi….” Pangeran Willy masih ingin menahannya, “Bisa tetap di sini sebentargi?”
“Tidak bisa, Lorenzo sedang demam, aku harus kembali melihatnya.” Dewingsung berkata, “Oh ya,
kakimu, bisa disembuhkan, tapi harus aku pikirkan caranya, seth aku menemukannya, baru kita
bicarakangi ya.”
Seth berbicara, dia juga mengembalikan kertas ceknya pada Robin, “Seth aku mi
menyembuhkannya baru aku terima uangnya.”
“Tidak apa–apa, Tabib Dewi, pegang saja dulu uang ini, ku kurang, katakah padaku kapan saja….”
“Ini bukan dari hasil usahaku, aku tidak mau.”
Dewi memasukkan kertas cek itu ke dm tangannya,lungsung pergi.
Pangeran Willy melihat punggungnya, ia merasa putus asa.
Robin buru–buru menghiburnya, “Pangeran, jangan khawatir, Tabib Dewa, ah, bukan, Tabib Dewi seperti
itu karena lupa ingatan, tunggu dia sembuh, pasti dia akan bersikap sama pada Anda seperti dulu.”
“Ya.” Pangeran Willy mengangguk, “Benar, itu pasti ….”
“Tapi Tuan Lorenzo di sana, kita sepertinya akan sulit berurusan dengannya.” Robin sedikit tidak enak,
“Barusan Jasper terus menanyaiku tentang Tabib Dewa, aku mengikuti perintah Pangeran, menghindari
pembicaraannya, aku rasa dia sudah curiga.
Lagip, berdasarkan hubungan Anda dengan Tuan Lorenzo, seharusnya tidak ada yang
disembunyikan, apakah mereka akan merasa ku kita punya motif tersembunyi?”
“Tidak akan sampai seperti itu.” Pangeran Willy tertawa, “Mereka ingin mencari Tabib Dewa, seharusnya
untuk menyembuhkan Tuan Lorenzo, hanya saja ia tidak tahu ku orang itu adh Tabib Dewi.
Lagip, Tabib Dewa memang sedang menyembuhkan Tuan Lorenzo, tidak akan mempengaruhi
kondisinya, jadi kita tidak perlu telu memikirkan hal ini.”
“Benar juga.” Robin mengangguk, “Ku begituin kali, ku Jasper bertanya padaku, aku akan
langsung berkata, keterampn medis Tabib Dewi sangat tinggi, agar mereka tenang menerima
pengobatannya.”
“Ya.” Pangeran Willy mengangguk, “Tabib Dewa slu rendah hati, tidak suka orangin mengetahui
identitasnya yang sebenarnya, jadi di awal saat dia memberikanku penangkal racun, awalnya ada tiga
kesepakatan, yaitu meminta kita untuk menjaga rahasianya.”
“Lalu, hagaimanapun juga dia berkaitan dengan kesmatan nyawa banyak orang, kadang musuh tidak
bisa menyentuh orang tersebut, sehingga harus berurusan dengannya, seperti insiden kapal pesiar itu
….”
Robin terlihat sangat khawatir.
“Insiden kapal pesiar itu awalnya ditujukan untukku, orang yang mkukannya mengira, ku Tabib
Dewa terbunuh, aku tidak akan bisa sembuh, seumur hidup duduk di kursi roda, juga tidak akan bisa
mewarisi tahta.”
Memikirkan hal ini, tatapan Pangeran Willy berubah menjadi dingin, “Dari kecil hingga besar, aku
menanggung penghinaan, mendapat kekangan dimana–mana, tapi mereka masih tidak mau
melepaskanku.”
“Mungkin seperti kata Ibu, menghindar tidak akan menyelesaikan mash, harus menjadi kuat, barh
bisa melindungi diri sendiri dan keluarga.” Robin mengingatkan dengan suara lembut.
“Benar.” Pangeran Willy mengangguk dengan kuat, “Aku harus menjadi kuat, melindungi Dewi dengan
baik, juga membuat orang–orang itu tahu, ku aku tidak mudah ditindas!”
N?vel/Dr(a)ma.Org - Content owner.
“Oleh sebab itu, memenangkan hati Tuan Lorenzo adh pilihan terbaik kita ….” Robin kembali
membahas topik ini, “Kita tidak boleh menyinggungnya.”
“Aku tahu, besok aku akan menjskannya sendiri padanya.” Willy mengangguk, memutar matanya dan
melihat ke arah pintu, “Entah kapan Dewi akan mengingatku
Dewi kembali ke ruangannya, sedang bersiap untuk istirahat, tiba–tiba Kelly datang mencarinya, “Tabib
Dewi, demam Tuan sudah mencapai 38.8 derajat.”
“Siapkan kotak obat.”
Dewi bergegas pergi ke ruangan Lorenzo, pertama–tama dia memeriksa suhu tubuhnya, kemudian
segera memberinya obat….
Seth mkukan serangkaian operasi, Dewingsung bertanya pada Jasper: “Apa sebenarnya obat
kimia yang kalian berikan pada r berbisa itu? Sampai racunnya bermutasi terus menerus.”
“Saat ini kami tidak bisa menjskannya, hanya bisa memperlihatkan resepnya padamu.” Ekspresi
Jasper sangat khawatir, “Bagaimana keadaannya sekarang? Apa sangat parah?”