Bab 1801
Bab 1800
“Ya, sudah disiapkan.” Robin segera memberikan selembar kertas cek dengan kedua tangannya,lu
berkata sambil tertawa, “Suaramu, nada bicaramu, juga sifat terus terangmu ini, sangat mirip dengan
Tabib Hebat itu.”
“Benarkah? Siapa namanya?”
Dewi melihat kertas cek, tanpa sadar ia tersenyum.
Dengan hati–hati ia melipat kertas ceknya, meletakkannya di kantong,lu menepuk–nepuk kantongnya
dengan lembut, takut akan hng.
“Tabib Dewa!” Robin menatap matanya dm–dm. “Tabib Dewa dari Negara Nusantara.”
Mendengar perkataan itu, Dewi tercengang, “Bukankah Tabib Dewa adh seorang pria tua?”
“Ya….”
Robin diam tertegun seketika, saat itu juga ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
“Bagaimana bisa aku mirip dengannya?”
Dewi juga tidak memperhatikannya, dianjut makan.
“Ku begitu, seth Tabib Dewi selesai makan mm, bisakah melihat Pangeran?”
Robin masih tidak putus asa, dia berkeliling ingin melihat wajah Dewi dengan js.
“Tentu saja bisa, uangnya sudah diterima.” Dewi segera menarik maskernya ke atas, “Tunggu aku
sebentar ya, seth aku ganti baju baru berangkat.”
“Baik, aku akan menunggu Anda di luar.” Robin menunduk dan keluar.
“Tabib Dewi, apa Anda butuh pyan kami untuk mengganti baju?” Dua pyan wanita bertanya
dengan sopan.
“Tidak perlu, aku sendiri saja.” Kata Dewi, “Aku mau mengeringkan rambut, mungkin butuh waktu
setengah jam.”
“Tidak apa–apa, Anda pn–pn saja.”
Pyan wanita memberi hormat padanya, kemudian menundukkan kep dan pergi.
Dewi merasa aneh, mengapa orang–orang kerajaan ini, begitu hormat padanya?
Sin itu, Pyan Robin itu seperti ingin melihat wajahnya dengan js.
Secara logika, dia hanyh seorang tabib biasa, kelihatannya level Robin sangat tinggi, Jasper sangat
sopan berbicara dengannya, tapi kenapa sikapnya padanya begitu hormat?
Sikapnya itu, bisa dikatakan lebih baik dari Lorenzo.
Mungkin penyakit Pangeran mereka tidak ringan, sampai menunggunya untuk menymatkannya.
Dewi tidak berpikir panjang, dianjut makan, seth makan beberapa suap, dia mi mengeringkan
rambutnya ….
Lagigi muncul rasa sakit yang hebat dari luka di bkang kepnya, seperti ada jarum yang
menusuk kepnya dengan keras, begitu sakit seperti kepnya akan terbh.
Dia minum sebutir obat penghng rasa sakit, mengganti baju,lu mengambil tas medis dan keluar
ruangan.
“Tabib Dewi!”
Robin menunggu di luar, melihat Dewi, dia segera membungkuk dan menyambutnya.
Dewi mengikuti mereka pergi menemui Pangeran Willy, sebelum pergi, dia berkata kepada Kelly, “Kelly,
bng Jasper, aku akan kembali dengan cepat.”
“Baik.”
Kelly bergegas masuk dan mporkan situasi pada Jasper.
“Baik, pergh.”
Jasper tidak berkata banyak, hanya saja tatapannya sedikit bingung.
Dia baru saja menanyakan tentang Tabib Dewa pada Robin, Robin terus menghindari topik tersebut,
menk memberinya petunjuk, tapi dia mh mendesak dan menanyainya tentang Dewi.
Dia merasa sangat aneh….
Ku itu adh mash yang berbeda, mereka tidak mau mengungkapkannya juga tidak mash, tapi
Tuan dan Pangeran Willy th bekerja sama bertahun–tahun, hubungannya sangat erat, hanya seorang
tabib, dan juga tidak ada konflik apapun, kenapa mereka menghindarinya?
Kenapa dia begitu tertarik pada Dewi?
Lorenzo meminum obat, ia tertidur dengan cepat.
Jasper mengukur suhu tubuhnya, sudah mi stabil, dia tidak berpikir panjanggi, lebih baik
menunggunya tenang dulu ….
Saat ini, Robin seharusnya sudah membawa Dewi pergi menemui Pangeran Willy, kemampuan medis
Dewi yang tidak terampil itu, bagaimana mungkin bisa menyembuhkan kaki Pangeran Willy?
Dipikir–pikir, mereka mungkin sudah hampir putus asa….
“Pangeran! Tabib Dewi sudah datang!”
Robin mporkannya dari luar ruang kerja.
“Cepat masuk.”
Suara Pangeran Willy sangat merdu, seperti angin semilir.
Robin membawa Dewi masuk, Dewi melihat orang yang duduk di atas kursi roda itu, tak terduga, ada
sebuah perasaan familier yang sulit dijskan ….
“Dewi?”
Pangeran Willy melihat Dewi, dengan semangat dia memanggil namanya.
Dewi tercengang, dan menatapnya dengan terkejut.
Exclusive ? material by N?(/v)elDrama.Org.
Bagaimana dia tahu nama ini?
Mungkinkah ini benar–benar namanya?
“Dewi, apa ini benar–benar kamu?” Pangeran Willy memutar roda kursinya dan menghampiri, dengan
bersemangat dia menarik tangan Dewi dan bertanya, “Kapalnya meledak, mereka semua bng ku
kamu sudah meninggal, akungsung bergegas ke sana untuk mencarimu ….”