Bab 1444
Bab 1444
Saat senja, Tracy mencari beberapa buku medis tentang detoksifikasi, membawa foto itu, meninggalkan
Bukit
Oldish……
Matahari terbenam seperti warna merah darah, menyinari jn turun bukit, warna yang hangat.
Tracy melihat sosok Amanda dan Dixon mlui kaca spion yang pehanhan menghng, akhirnya
menarik kembali pandangannya, menatap foto di tangannya.
Dia sudah mengirim foto dan informasi terkait yang dia dapatkan hari ini kepada Thomas, berharap bisa
memberikan beberapa petunjuk, secepat mungkin menemukan Tabib Dewa…..
Waktu tidak akan menunggu orang, sekarang hanya tersisa 14 harigi.
Hati Tracy sangat cemas, mendesak dengan cemas: “Kemudikan dengan lebih cepat, png lebih
awal!”
“Ya, Nyonya.”
Daniel tidur seharian di rumah, sampai mm baru memaksakan diri untuk bangun dan mandi, turun ke
lantai bawah untuk menemani anak–anak makan.
Dia mengira, tenaganya sudah pulih sekarang, namun saat turun kentai bawah, kakinya lemas,
hampir terjatuh, untungnya Ryan memapahnya tepat waktu.
“Tuan Daniel, aku mau mporkan sesuatu……”
Ryan berpura–pura mau mporkan sesuatu kepada Daniel, berbicara sambil turun kentai bawah.
Sebenarnya, dia hanya ingin memapah Daniel dengan tenaganya sendiri.
Pengikut yangin dan para pembantu tidak bisa melihat mashnya.
Begitu turun kentai bawah, sekelompok anak mengelilinginya kemari…….
“Papi, Papi!”
“Paman, Paman!”
Anak baik!” Daniel mendorong Ryan dengan ringan, membungkukkan badan untuk memeluk anak–
anak, namun begitu berjongkok, bagian kepnya terasa pusing.
“Tuan Daniel….” Ryan sangat khawatir.
“Kalian ribut sekali.” Carlos tiba–tiba berteriak kencang, “Semuanya kembali ke tempat duduk, cepat!”
v
Anak–anak tercengang sejenak, satu demi satu mengerucutkan bibirnya dengan sedih, tetapi tetap
kembali ke tempat duduk mereka dengan patuh.
Memanfaatkan saat anak–anak naik ke atas kursi, Ryan memapah Daniel untuk duduk di tempatnya,
kemudian mengobrol dengan anak–anak sambil tersenyum: “Anak–anak, apakah senang di sekh hari
ini?”
“Senang~~~”
“Hari ini kami ujian, aku mendapat ni 100 di semua pjaran.”
“Aku juga.”
“Hari ini kami bjar menyanyi……”
“Juga bjar menggambar……”
Anak–anak mengobrol mash yang dipjari di sekh dengan Ryan, hanya Carlos yang tidak
berbicara, tetapi diam–diam membawakan segs air hangat untuk Daniel: “Papi, minum air!”
“Terima kasih, Carlos.”
Kondisi mental Daniel sangat buruk sekarang, bahkan tidak bisa mengobrol dengan anak–anak.
Jadi Ryan sengaja mengobrol dengan anak–anak, mengalihkan perhatian mereka.
Semua ini, Carlos bisa melihatnya.
Dia melihat tampang Papinya yang lemah dan lh, sangat tidak tega, tetapi juga tidak berani
menunjukannya, hanya bisa mencari san untuk bertanya: “Papi, apa Papi telu lh?”
“Masih oke.” Daniel mengusap–usap kep Carlos, “Sudah mau makan, pergh duduk.”
“Ya.” Carlos kembali ke tempat duduknya.
Bibi Riana dan para pembantu menyajikan hidangan yang terakhir, semua orang mi makan.
Daniel tidak ada nafsu makan, memaksakan diri untuk mencicipi beberapa suap, kemudian bersiap–siap
hendak naik kentai atas, tetapi baru saja berdiri,ngsung terjatuh…….
“Tuan Daniel!!!!”
Kali ini, meskipun Ryan tetap pergi memapah Daniel, tetapi sudah tidak sempat, Danielngsung
terjatuh di samping meja…
“Papi——
ConTEent bel0ngs to N?v(e)lD/rama(.)Org .
Ini pertama kalinya Daniel hng kendali dan tumbang di depan anak–anak, tanpa bisa dicegah.
Tiba–tiba, orang–orang di rumah panik semua.
Ryan segera mengantar Daniel ke kamar tidurnya, dan meminta Lily untuk menanganinya.
Carles dan Ca mengelilingi di samping ranjang, menangis sampai gemetar, tetapi menutup mulutnya
dan tidak berani mengeluarkan suara.
Carlos berdiri di sudut, tidak berani mendekat, tetapi air matanya mengalir tanpa henti……
Bibi Riana dan para pembantu semuanya terlihat panik.
Hanya ketiga anak kecil itu, sepertinya tidak mengerti apa–apa, masih makan di depan meja makan…..
“Apakah Paman sakit?”
“Sepertinya iya.”
“Pasti iya.”
“Sepertinya Paman sakit parah.”
“Bodoh sekali, mengapa Bibi tidak mengundang Mami untuk mengobatinya?”