Bab 1423
Bab 1423
“Ada kemungkinan, tapi juga tidak bisa dipastikanl” Carlos mengangguk, “Namun, Bibi terlihat js lebih
mudah dicari daripada Paman.”
“Menemukan Bibi dulu, baru dibicarakangi.” Tracy mengerti dengan js, “Meskipun tidak bisa
menemukan Paman, tapi juga bisa membantu ketiga anak itu menemukan Mami mereka.”
“Benar.” Carlos menatapptopnya, sambil diam–diam membtkan tekad, “Aku akan mencari cara, tapi
memerlukan waktu.”
“Tidak apa–apa, Mami akan menunggumu.” Tracy memegang pipi mungil Carlos,lu mengecupnya,
“Carlos sungguh hebat.”
Carlos merasa malu hingga pipinya memerah, “Apa yang Mamikukan? Aku sudah besar.”
“Wah, masih bisa merasa malu.” Tracy tertawa sambil menggodanya, “Tidak peduli seberapa besar,
kamu tetah putra Mami.”
“Tidak mau memedulikan Mamigi, huh.” Carlos beri keluar sambil memelukptopnya.
“Haha…”
Tracy tertawa keras. Meskipun masih belum bisa menemukan orang yang dicari, tetapi Carlos
menemukan terobosan dan perkembangan baru, ini juga termasuk kabar baik.
Dia percaya bisa segera menemukan Tabib Dewa dan menyembuhkan Daniel…
Dengan membawa suasana hati yang baik ini, mm ini Tracy pun tidur dengan sangat nyenyak.
Namun, di V Sisi Stan, Daniel mh tidak bisa tidur.
Melihat Ryan yang menemaninya di sofa, Danielngsung merasa emosi. Sepanjang mm ini, dirinya
sudah mencari berbagai macam san untuk mengamuk padanya.
Ryan sangat kesusahan dan menderita, dm hati diam–diam berdoa agar Daniel bisa tidur lebih cepat.
Dengan begitu, dia sendiri pun bisa tidur.
Namun, sampai pukul 1 lebih, Daniel masih belum tidur. Dia ingin membalikkan tubuhnya, tetapi tidak
bisa bergerak. Sungguh ingin meluapkan emosinya…
Tiba–tiba Ryan berkata dengan lemah, “Jika tidak, bagaimana jika aku minta Nona Tracy kembali?”
Emosi Daniel seketika berhenti, raut wajahnya terlihat js membaik, tetapi tetap berpura–pura bersikap
dingin, “Aku tidak berkata seperti itu.”
Seth beristirahat sma sehari, sekarang dia sudah lebih bersemangat, bicaranya juga sudah
lancar.
“Ya, ya, Anda memang tidak ada pemikiran ini.” Ryan sangat cerdas, maka berbicara mengikuti
maksudnya, “Aku yang ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Naomi, jadi tanpa tahu malu
memintanya kembali..”
“Ada apa? Sudah ada pacar, maka tidak perlu memedulikan bos?” Daniel memelototinya dengan dingin.
“Aku tidak berani.” Dm hati, Ryan diam–diam mengeluh, js–js ia sedang membantunya, tapi
mh ditindas seperti ini, “Tentu saja melindungi Bos lebih penting. Ku begitu, tidak jadi memintanya
kembali?”
“Hubungi dia.” Daniel bicara secara spontan, tetapi kemudian dia mengubah perkataannya, “Jika tidak,
kk kamu akan menyhkanku sebagai bos yang tidak berperikemanusiaan!”
“Bagaimana mungkin berani…“ Baru bicara sampai setengah, Ryanngsung mengubah perkataannya,
karena melihat raut wajah Daniel menjadi masam, “Aku akan segera meneleponnya.”
“Telepon di sini saja,lu nykan pengeras suara.”
Daniel sangat ingin mendengar bagaimana respons Tracy
“Baik.” Ryan mencoba menelepon nomor Tracy, sambil bicara sendiri, “Entah Nona Tracy sudah tidur
atau belum, sekarang sudah pukul 1 lebih…“
Panggn terhubung, bunyi “Tut, tut” menggoyahkan hati Daniel.
All content is property ? N?velDrama.Org.
Dia menatap ponsel Ryan, sangat berharap bisa mendengar suara Tracy.
Namun, satu detik, dua detik, lima detik, sepuluh detik, bahkan dua puluh detik belu…
Panggn terputus.
Hati Daniel juga jatuh ke “jurang“.
“Kelihatannya Nona Tracy sudah tidur.” Ryan menatap Daniel dengan takut–takut, “Apa masih mau
meneleponnyagi?”
“Tidak perlu.”
Daniel merasa sedikit sedih, juga sedikit marah. Tanpa ada dirinya, wanita ini mh masih bisa tidur
dengan nyenyak. Kelihatannya wanita ini tidak memedulikan dirinya sedikit pun.
“Mungkin besok pagi Nona Tracy akan kembali.” Ryan menghibur dengan hati–hati, “Meskipun tidak
kembali, ia juga pasti akan menelepon kembali.”
“Terserah dia mau kembali atau tidak.” Daniel berkata dengan kesal, “Tidur!”
“Baik.” Ryan akhirnya bisa mengh napas lega. Dia meletakkan ponselnya dan bersiap tidur.
“Besok pagi jika dia menelepon balik, kamu katakan bahwa kamu sendiri yang meneleponnya, tidak ada
urusannya denganku.” Semakin memikirkannya, Daniel semakin marah, maka dia pun mi meluapkan
emosinya, “Semua gara–gara kamu. Aku sudah mau tidur, kamu mh mau menelepon.”
Sudut bibir Ryan berkedut, ingin menangis tetapi tidak bisa.