Bab 1050
Bab 1050
Tracy marah hingga menggertakkan giginya saat mendengar perkataan ini, hebat sekali diangsung
menanyakan ke anak–anak, tentu saja anak–anak setuju. Jika dirinya masih bersikeras maka ia akan
menjadi orang yang berdosa.
“Apa yang terjadi dengan kakek buyut?” benar saja, anak–anakngsung bertanya dengan cemas,
“Apa kakek buyut sakit?”
“Apa arti dari kritis?” hanya Carlos yang mendengar kata kunci ini.
“Itu... smanya akan meninggalkan kita.” Daniel berkata dengan sedih, “Kita harus pergi ke rumah
sakit sekarang untuk bertemu dengannya untuk terakhir kali.”
“Apa...” Carles terkejut, “Maksud Papi, kakek buyut akan meninggal?”
Ca menangis kencang, ia sangat sedih dan takut.
“Ca...” Tracy bergegas memeluk Ca, dan menenangkannya, “Jangan takut, Mami di sini.”
LII
Ca masuk ke dm pelukan Tracy, ia menangis pilu.
Tracy menatap Daniel dengan marah, menurutnya Daniel tidak seharusnya mengatakan ini kepada
anak–anak, membuat anak–anak sedih.
N?velDrama.Org content rights.
Namun, Daniel dengan tenang menjskan: “Semua orang akan meninggal pada akhirnya, orang
jahat pergi ke neraka, orang baik pergi ke surga, tidak perlu sedih, kakek buyut tetap akan melindungi
kalian meskipun ia sudah berada di surga.”
“Kakek buyut orang yang baik, ia pasti akan pergi ke surga, kan?” Carles bertanya sambil menangis.
“Betul.” Daniel menganggukkan kep.
Carlos memeluk Daniel sambil menangis.
Daniel memeluk Carles dengan satu tangannya, satu tanganinnya memeluk Carlos, ia menghibur
mereka dengan lembut: “Sudah–sudah, kita harus secepatnya pergi ke rumah sakit!”
Ia menggendong kedua anak itu sambil berjn hendak pergi, Tracyngsung menghnginya dan
berbisik, “Apa yang kamukukan? Apa aku sudah setuju?”
“Kita bicarakan seth kembali dari rumah sakit, sekarang ke rumah sakit dulu.” Daniel mengerutkan
kening.
“Daniel, jangan telu serakah.” Tracy sangat marah.
“Kamu seharusnya tanya pendapat anak–anak.” Daniel bertanya ke anak–anak, “Carlos, Carles, Ca,
apa kalian bersedia pergi bersama Papi ke rumah sakit untuk bertemu kakek buyut?”
“Bersedia.” Anak–anak menganggukan kep.
Kemarahan Tracy semakin menjadi–jadi, ia merasa Daniel sangat licik.
“Mami, kami akan pergi bertemu kakek sebentar,lu kembali.” Carlos membujuk Tracy.
“Mami, izinkan kami pergi.” Carlos menangis sambil memohon, “Kakek buyut sangat baik pada kami,
sekarang dia sudah mau pergi, biarkan kami bertemu dengannya.”
“Betul, mami...” Ca juga ikut membujuknya, “Aku mohon.”
Melihat ketiga anak itu memohon seperti ini, Tracy tidak tega untuk menk, ia hanya dapat
menganggukan kep setuju: “Baih, bertemu sebentar,lu kembalh.”
“Apa kamu tidak takut aku tidak mengembalikan mereka?” Daniel tiba–tiba bertanya.
“Kamu berani?” dm sekejap Tracy marah.
“Mari pergi bersama, agar kamu tidak khawatir, seth bertemu dengan kakek, kamu bolehngsung
membawa mereka png.” Daniel menggunakan metode psikologis ini.
Tracy tahu maksudnya, namun seth dipikir–pikir, ia benar-benar khawatir, jika Daniel benar benar
meminta anak–anak untuk tinggal bersamanya, jika ia datang merebut mereka dengan paksa, pada
akhirnya yang terluka tetah anak–anak.
“Siapkan mobil!”
“Baik.”
Lima orang sekeluarga pergi ke rumah sakit dengan mobil.
Anak–anak sedih, mereka menangis di sepanjang perjnan.
Daniel menghibur anak–anak: “Kakek buyut sudah berusia 98 tahun, sebenarnya kakek sangat
bahagia bisa hidup sampai usia ini, kalian harusnya bahagia untuk kakek. Semasa hidupnya, kakek
mkukan kebaikan, seth meninggal kakek bisa pergi ke surga...”
Tracy memutar b matanya mendengar kata–kata ini, mkukan kebajikan? Entah sudah berapa
banyak nyawa orang yang hng karena kekuatan dan sifat keras kepnya...
Sh satunya adh Bibi Juni.
Tracy belum mati dibunuh oleh Tuan Besar, itu karena keberuntungannya besar, di bkangnya juga
ada perlindungan dari Keluarga Moore.
Jika tidak, dia tidak tahu, dia akan mati berapa kali.
Anak–anak berhenti menangis usai dibujuk oleh Daniel, suasana hati mereka jauh lebih tenang.
Ca mengangkat kepnya dan bertanya dengan polos, “Apa Kakek buyut akan bertemu dengan
Nenek buyut di surga?”
“Itu...” Daniel kehngan kata–kata, “Seharusnya, iya.”