Chapter 131
Bab 131
Tracy tidak berkata sepatah kata pun, hanya menunduk merapikan dokumen dan menaruhnya di atas
meja.
Lalu mengambilp, berlutut membersihkan noda darah.
Setiap kali mengp seperti sedang menyeka darah sendiri…
“Stanley terluka, apakah kamu sedih?” Daniel bertanya sekaligi.
Tracy tidak menjawab, ianjut bersih-bersih.
Daniel kehngan kesabaran, ia mengernyitkan alisnya, dan berkata dengan dingin, “Apakah kamu
bisu? Bicarh!”
Tracy akhirnya berhenti dan menatap Daniel, “Mengapa kamu begitu suka menggunakan kekerasan?
Apa tidak dapat dibicarakan baik-baik? Apa harus melukai orang?”
Daniel menatap Tracy, tidak bicara, matanya penuh dengan tatapan yang rumit.
Seth beberapama, ia berdiri dan berjn ke arah Tracy dengan pehan…
Sinar matahari bersinar menghiasi tubuhnya, js-js adh warna yang hangat, namun juga penuh
dengan makna.
Daniel mendekat secara pehan, Tracy mi merasa takut, tanpa sadar mngkah mundur. Tatapan
matanya yang sebelumnya penuh kemarahan, pehan menghng, dengan rasa bersh berkata,
“Aku hanya merasa, kamu tidak perlu mkukan kekerasan seperti ini…”
Daniel masih mendekatinya, Tracy terus mundur, meskipun takut, Tracy mengumpulkan keberanian
untuk berkata, “Presdir Stanley datang kesini untuk kerja sama denganmu. Jika kamu tidak ingin
bekerja sama dengannya,ngsung tk saja, kenapa harus melukainya?”
Sepatu hitam Daniel terlihat di garis pandangannya saat ia menunduk, disertai dengan napas tajam di
depan matanya.
Suara Tracy mi gemetar, “Jika kamu seperti ini, seluruh karyawan perusahaan akan takut padamu,
mitra kerja juga akan takut padamu…”
“Hanya kamu yang tidak takut padaku.”
Daniel mendesaknya ke dinding, Tracy tidak ada ruang untuk kabur.
Ia meletakkan satu tangan ke bahu Tracy, satu tanganinnya mencubit pipi Tracy, memaksa Tracy
menatap matanya yang sedang berapi-api.
“Aku…”
Tracy kebingungan, tidak tahu harus berkata apa agar dirinya bisa lolos dari bahaya
ini.
“Kamu pikir dengan cara seperti ini, dapat menarik perhatianku?” Daniel tertawa dingin dan bertanya,
“Atau kamu merasa aku menyukaimu, jadi kamu begitu manja?”
“Aku tidak pernah merasa kamu menyukaiku…” Tracy berkata tanpa berpikir, “Orang seperi kamu,
tidak akan menyukai siapapun, yang kamu sukai hanyah dirimu sendiri.”
“Bagus!” Daniel mencibir dingin, seperti bs kasihan binatang buas sebelum membunuh mangsanya.
Tracy panik, ia mi menyadari kata-kata yang barusan ia katakan seperti granat, yang bisa
meledakkan diri sendiri.
“Aku harus pergi…”
ConTEent bel0ngs to N?v(e)lD/rama(.)Org .
Tracy bermaksud pergi, namun tubuh tinggi besar Daniel yang seperti sangkar menyelimutinya, ia
membungkuk pergi, lewat mlui bawah lengannya.
Daniel tidak menghnginya, ia menjentikkan jarinya, kemudian sensor inframerah berwarna merah
kecotan di pintu meny.
Tracy tidak dapat membuka pintunya.
Ia menggunakan seg cara untuk membuka pintu tersebut, namun pintu tetap tidak bisa terbuka.
Kemudian suara peringatan terdengar, “Pintu terkunci, skan masukkan sidik jari anda atau kata
sandi!”
Tracy gugup dan bingung, ia berbalik bertanya pada Daniel, “Apa yang ingin kaukukan? Biarkan aku
keluar.”
Daniel tidak menjawab, dengan santainya ia memutar kursi kulit hitam presdir, dan menykan cerutu.
“Presdir Daniel…” Tracy dengan cepat datang menghampirinya, dengan rendah hati memohon
kepadanya, “Aku minta maaf atas perkataanku tadi, aku tidak seharusnya berkata sembarangan. Anda
adh orang berwibawa yang tidak akan mengingat keshan orang kecil, mohon lepaskan aku.”
Daniel masih tidak menjawab, ia menghisap cerutunya dengan elegan.
“Ini di kantor, jika anda tidak melepaskan aku, apa yang akan orangin pikirkan?” Tracy panik, jika
cara lembut tidak mempan, gunakan cara keras, “Beberapa karyawan sudah ada yang membicarakan
hubungan kita ini tidak biasa, jika kamu seperti ini, orangin akan menganggap kamu melecehkan
karyawan wanita…”
“Ha!” Daniel tertawa dingin, “Aku melecehkan karyawan wanita?”
“Kamu…”
“Aku sangat penasaran…” Daniel menghembuskan asap cerutu, “Siapa yang membicarakan hubungan
kita? Apa yang mereka bicarakan?”
“Mereka bng…” Tracy bertanya dengan ragu-ragu, “Hari itu, saat aku terjebak mash di bar,
apakah kamu yang menymatkan aku?”