Bab 630
Itu adh Selena! Cinta sejati Harvey.
Sampai saat ini, Vanya baru mengetahui bahwa dulu bukannya Harvey tidak tertarik pada wanita,
Harvey tidak pernah menjskan pada Vanya karena dia memang tidak tertarik, dan dia merasa tidak
perlu.
Vanyah yang telu berkhayal, diam–diam berusaha membantu di tempat yang tidak terlihat oleh
Harvey, bahkan setiap hari membayangkan berada di sisi Harvey di masa depan.
Sesudah ditk, Vanya merasa sangat putus asa dan sedih, hingga mkukan begitu banyak hal
yang
ekstrem.
Kini dia merasa seperti orang mng yang hina. Saat melihat wanita di samping Harvey yang begitu
anggun dan memesona, sin dari segi penampn, kepribadiannya juga dia kh.
Melihat kaki Selena yang utuh, Vanya menjadi semakin marah, mengapa Tuhan begitu kejam dan
membuatnya mengenal Harvey.
“Sudah sadar?”
Harvey yang duduk tegak di kursi menatapnya dengan santai, “Katakan, siapa yang menyuruhmu,”
ujarnya.
Namun, pikiran Vanya terfokus pada Selena, matanya menatap lurus ke arah Selena, hingga membuat
Selena menjadi agak merinding.
Adanya kemiripan wajah membuatnya berinisiatif untuk bertanya, “Kamu mengenalku?:
Vanya tertawa terbahak–bahak, “Ternyata kamu, kamu sudah membuatku sangat menderita!”
jawabnya.
Selena merinding mendengar tangisan sedih yang terngiang di setiap sudut ruangan.
Dengan kebingungan, dia menatap Harvey, “Harvey, apa dulu aku mengenalnya?” katanya.
Content rights belong to N?velDrama.Org.
Wupun tidak ingat, naluri tubuhnya tetap bisa merasakan sesuatu yang familier saat bertemu
beberapa orang.
Akan tetapi, orang ini js tidak dikenalnya, tidak familier sedikit pun.
“Nggak kenal kamu juga nggak perlu mengenalnya,” jawab Harvey dengan sangat dingin.
Bahkan menurut Harvey, mengetahui nama Vanya saja sudah hina untuk Selena.
Selena menggigit bibirnya. Ku tidak kenal mengapa wanita itu menatapnya sampai seperti itu?
Sementara itu, Arnold pun menendang pinggang wanita itu dan berkata, “Tuan Harvey tanya, cepat
jawab! Kamu disuruh siapa?”
Vanya menatap pria yang dulu begitu mencintainya, namun sekarang marah besar padanya.
Semua pria memang pembohong, “Baih, aku akan menjawab. Kemarh, aku akan memberitahumu
siapa yang menyuruhku,” ujar wanita itu yang tampak marah.
Kemudian, Harvey pehan membungkuk, sedangkan Vanya pehan merangkak menghampirinya.
Seperti seekor r yang terluka, wanita itu meninggalkan noda darah di karpet, membuat kaget orang-
orang.
Anehnya, Selena tidak merasa kasihan dengan wanita ini sama sekali, seh memang sudah
seharusnya dia bertindak demikian.
Vanya merangkak dengan susah payah, tatapannya terhadap Harvey penuh cinta dan keengganan.
Wu Harvey sudah sengaja membungkuk, tetap saja sulit bagi wanita itu untuk mendekat.
Dia hanya bisa terus mendongak, namun darah mes pehan dari dagunya dan menodai karpet
putih yang bersih.
Tes, tes.
Tes, tes.
Tindakan ini hampir menguras seluruh tenaganya, seperti masalunya yang berantakan ini.
Wupun wanita Itu menggunakan seluruh tenaganya, dia tetap tidak bisa berdiri di samping Harvey.
dia hanya bisa mkukan sesuatu seperti ini di ujung hidupnya.
Vanya mencium pipi kanan Harvey.
Akhirnya dia berhasil, ini adh momen paling dekat yang pernah dia rasakan dengan Tuhan.
“Bruk!”
Harvey hampir menendang jantungnya secara refleks. Wanita yang terluka dan terguncang itu sampai
jatuh kentai akibat sebuah tendangan keras dan hampir mati.
Arnold bahkan lebih g–gan menghajarnya, wajahnya yang berwibawa penuh dengan kebencian,
“Dasar wanita murahan, padahal aku slu menghormatimu, bahkan nggak merendahkanmu
wupun kamu cacat, begini pekuanmu padaku?!”
Situasi menjadi sangat kacau, sementara Harvey terus mengusap pipi kanannya yang dicium oleh
Vanya.
Sambil tersenyum licik, wanita yang berada dintai itu menatap Selena lekat–lekat. “Kamu lihat ‘kan
akh orang yang paling mencintainya!” ucapnya.