《Yowamono kara no Tensei: Chikara wo Motometa Monogatari[indonesian]》 KEHIDUPAN BARU DI DUNIA LAIN Gelap. Itu yang pertama kali dia rasakan. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, hanya kegelapan yang menyelimuti. Tapi perlahan, dia mulai merasakan sesuatu. Suara samar yang entah berasal dari mana, lalu cahaya terang menyilaukan yang tiba-tiba menyapanya. Saat membuka matanya, dia tidak melihat gedung-gedung tinggi atau jalanan kota yang sibuk. Sebaliknya, dia berada di sebuah ruangan sederhana dengan dekorasi kayu. Di sampingnya, ada seorang wanita cantik dengan rambut cokelat panjang yang tersenyum lembut. "Dia sangat lucu..." suara wanita itu penuh kasih sayang. "Dia anak kita. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi pria hebat," kata seorang pria berwajah tegas yang berdiri di sebelahnya. Saat itulah dia sadar. "Aku dilahirkan kembali?" pikirnya. Semua kenangan dari kehidupannya sebelumnya masih jelas di pikirannya. Sebuah kehidupan yang penuh dengan rasa tidak berdaya, ketidakberuntungan, dan kegagalan. "Aku diberi kesempatan kedua..." Dia sekarang menjadi bayi di dunia baru. Namun, meski tubuhnya lemah dan kecil, tekadnya untuk menjalani hidup yang lebih baik sudah mulai tumbuh. --- Seiring waktu, dia mulai mengamati dunia barunya dengan lebih jelas. Rumahnya sederhana, tetapi hangat. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ayahnya seorang petualang yang pernah menjelajahi berbagai tempat, sementara ibunya adalah seorang penyihir yang sudah pensiun. Meski tubuhnya masih kecil, dia sudah mulai belajar membaca. Orang tuanya sering membacakan buku-buku cerita dan buku dasar sihir untuknya sebelum tidur. Dia memperhatikan setiap huruf, setiap kata, dan secara perlahan mulai memahami isi buku-buku tersebut.If you spot this story on Amazon, know that it has been stolen. Report the violation. Orang tuanya kagum melihat betapa cepatnya dia belajar. Namun, mereka tidak tahu bahwa anak mereka sebenarnya membawa jiwa seorang pria dewasa yang sudah memiliki pengetahuan dasar dari kehidupan sebelumnya. --- Di umur tiga tahun, rasa ingin tahunya terhadap sihir semakin besar. Ketika orang tuanya sibuk, dia sering mengambil buku-buku sihir dari perpustakaan kecil di rumah. Awalnya, dia hanya mencoba membaca mantra dasar seperti "Ciptakan Cahaya" atau "Panggil Air." Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dia tidak perlu merapalkan mantranya. Dengan hanya membayangkan hasilnya, sihir langsung terjadi. Sebuah bola cahaya kecil muncul di tangannya, atau air tiba-tiba mengalir dari udara. "Apa... aku bisa melakukannya tanpa merapal?" pikirnya, terkejut sekaligus kagum pada dirinya sendiri. Dia memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari orang tuanya. Dia tidak ingin mereka menganggapnya aneh atau terlalu berbeda. Jadi, setiap kali dia berlatih, dia melakukannya diam-diam di malam hari saat semua orang tertidur. Pada usia lima tahun, semuanya berubah. Suatu hari, saat sedang bermain di halaman belakang rumah, tanpa sengaja dia memanggil pusaran air besar yang membuat kebun menjadi kacau balau. Kedua orang tuanya, yang melihat kejadian itu, sangat terkejut. "Anak ini... dia memiliki bakat yang luar biasa," kata ibunya dengan mata penuh kekaguman. Ayahnya mengangguk setuju. "Dia butuh bimbingan. Seseorang yang benar-benar ahli dalam sihir." Mereka pun memutuskan untuk memanggil seorang guru privat. Tidak main-main, mereka menghubungi salah satu penyihir paling hebat di wilayah itu¡ªSiana, seorang penyihir air tingkat raja yang terkenal dengan kemampuannya yang luar biasa. Ketika Siana pertama kali bertemu dengan Ryo, dia terkejut. "Anak ini... auranya sangat kuat untuk seseorang seusianya. Apa kamu yakin dia baru lima tahun?" tanya Siana kepada kedua orang tuanya. "Dia memang luar biasa," jawab ibunya dengan bangga. Siana pun mulai mengajarinya dasar-dasar sihir. Namun, dia segera menyadari bahwa anak ini berbeda. Ryo tidak perlu merapalkan mantra seperti murid lainnya. Dalam waktu singkat, dia sudah bisa menguasai berbagai teknik yang bahkan sulit untuk penyihir dewasa. Namun, di balik bakatnya yang luar biasa, Ryo tetap rendah hati. Dia mendengarkan setiap nasihat gurunya dan terus belajar dengan giat. Langkah pertama Setelah mengetahui kalau Ryo memiliki bakat luar biasa dalam sihir, keluarganya memutuskan untuk memaksimalkan potensinya. Ayahnya, Kazuki, yang merupakan mantan petualang terkenal, mulai melatihnya ilmu pedang. Sedangkan Siana, guru privatnya, fokus mengajari Ryo pengendalian sihir tingkat lanjut. Di umur dua tahun, Ryo sudah bisa membaca huruf dasar dengan lancar. Ayame, ibunya, memperkenalkan berbagai buku sihir yang disimpan di rumah mereka. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Ryo mencoba mempraktikkan sihir dengan mengikuti teks di buku itu. Hasilnya, dia berhasil menciptakan bola api kecil tanpa perlu mengucapkan mantra. Saat Ryo menunjukkan kemampuannya itu ke kedua orang tuanya, mereka tercengang. Kemampuan semacam ini biasanya hanya dimiliki oleh penyihir kelas atas. Maka dari itu, mereka memanggil Siana Aquafleur untuk menjadi guru pribadinya. Di bawah bimbingan Siana, Ryo belajar berbagai dasar sihir¡ªmulai dari elemen air, api, hingga kontrol energi sihir. Siana, yang awalnya menganggap Ryo hanya anak berbakat biasa, mulai menyadari bahwa bakatnya jauh melampaui ekspektasi. Meski begitu, dia tetap tegas dan disiplin dalam mengajarinya. "Ryo, jangan gunakan sihir sembarangan," kata Siana suatu hari saat melihat Ryo mencoba menciptakan pusaran air di taman belakang rumahnya. "Kekuatanmu besar, tapi jika tidak terkontrol, bisa membahayakan dirimu sendiri dan orang lain." Di sisi lain, latihan pedang bersama Kazuki menjadi ujian fisik yang berat bagi Ryo. Berbeda dengan sihir, ilmu pedang membutuhkan stamina, kekuatan tubuh, dan fokus yang tinggi. Kazuki sering berkata, "Seorang petualang sejati harus menguasai sihir dan ilmu bertarung. Jangan hanya bergantung pada satu kemampuan."You might be reading a pirated copy. Look for the official release to support the author. Waktu terus berjalan, dan Ryo pun tumbuh menjadi anak yang kuat dan cerdas. Di usia delapan tahun, Siana harus meninggalkan keluarga Arata karena dipanggil untuk menjadi penyihir kerajaan. Meski perpisahan itu berat, Siana meyakinkan Ryo bahwa dia sudah cukup kuat untuk melanjutkan pelajaran sihirnya sendiri. Namun, pelajaran pedang bersama Kazuki tetap berjalan. Ryo semakin mahir menggunakan pedang dan mengkombinasikannya dengan sihir dasar. Beberapa bulan setelah kepergian Siana, Ryo sedang berlatih di hutan dekat rumahnya. Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah saat dia mendengar suara gaduh. "Oi, makhluk aneh! Pulang aja ke tempatmu!" teriak seorang anak laki-laki. Ryo bergegas menuju sumber suara dan menemukan tiga anak laki-laki mengejek seorang anak yang tampak lemah. Anak itu memiliki rambut hijau keperakan, warna yang jarang terlihat di desa mereka. "Berhenti!" seru Ryo, berdiri di antara mereka dan anak itu. "Apa yang kalian lakukan itu pengecut. Bertiga melawan satu orang? Memalukan!" "Dia bukan manusia normal!" salah satu dari mereka balas berteriak. "Makhluk aneh seperti dia nggak pantas ada di sini!" Namun, sebelum Ryo sempat menjawab, salah satu anak itu mencoba menyerangnya. Dengan sigap, Ryo menghindar dan menjatuhkan lawannya dengan satu gerakan sederhana. Dua anak lainnya, yang kini ketakutan, segera melarikan diri. Setelah memastikan mereka pergi, Ryo berbalik ke arah anak yang dibela tadi. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Anak itu mengangguk pelan. "Terima kasih... Aku Mira," jawabnya dengan suara kecil. Ryo terdiam sejenak, memperhatikan wajah Mira. Dia sempat berpikir bahwa Mira adalah anak laki-laki, tetapi setelah melihat lebih dekat, dia menyadari bahwa Mira sebenarnya seorang perempuan. "Kau... seorang gadis?" Ryo bertanya dengan ekspresi bingung. Mira tersipu dan mengangguk. "Ya, aku seorang elf... Maaf kalau penampilanku membingungkanmu." Ryo merasa sedikit malu karena telah salah mengira, tetapi dia segera mengulurkan tangan. "Aku Ryo. Jangan khawatir, aku nggak peduli kau elf atau manusia. Kalau kau butuh teman, aku ada di sini." Mira tersenyum kecil, untuk pertama kalinya merasa diterima. Pertemuan dengan gadis elf Setelah mengetahui kalau Ryo memiliki bakat luar biasa dalam sihir, keluarganya memutuskan untuk memaksimalkan potensinya. Ayahnya, Kazuki, yang merupakan mantan petualang terkenal, mulai melatihnya ilmu pedang. Sedangkan Siana, guru privatnya, fokus mengajari Ryo pengendalian sihir tingkat lanjut. Di umur dua tahun, Ryo sudah bisa membaca huruf dasar dengan lancar. Ayame, ibunya, memperkenalkan berbagai buku sihir yang disimpan di rumah mereka. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Ryo mencoba mempraktikkan sihir dengan mengikuti teks di buku itu. Hasilnya, dia berhasil menciptakan bola api kecil tanpa perlu mengucapkan mantra. Saat Ryo menunjukkan kemampuannya itu ke kedua orang tuanya, mereka tercengang. Kemampuan semacam ini biasanya hanya dimiliki oleh penyihir kelas atas. Maka dari itu, mereka memanggil Siana Aquafleur untuk menjadi guru pribadinya. Di bawah bimbingan Siana, Ryo belajar berbagai dasar sihir¡ªmulai dari elemen air, api, hingga kontrol energi sihir. Siana, yang awalnya menganggap Ryo hanya anak berbakat biasa, mulai menyadari bahwa bakatnya jauh melampaui ekspektasi. Meski begitu, dia tetap tegas dan disiplin dalam mengajarinya. "Ryo, jangan gunakan sihir sembarangan," kata Siana suatu hari saat melihat Ryo mencoba menciptakan pusaran air di taman belakang rumahnya. "Kekuatanmu besar, tapi jika tidak terkontrol, bisa membahayakan dirimu sendiri dan orang lain." Di sisi lain, latihan pedang bersama Kazuki menjadi ujian fisik yang berat bagi Ryo. Berbeda dengan sihir, ilmu pedang membutuhkan stamina, kekuatan tubuh, dan fokus yang tinggi. Kazuki sering berkata, "Seorang petualang sejati harus menguasai sihir dan ilmu bertarung. Jangan hanya bergantung pada satu kemampuan."Reading on Amazon or a pirate site? This novel is from Royal Road. Support the author by reading it there. Waktu terus berjalan, dan Ryo pun tumbuh menjadi anak yang kuat dan cerdas. Di usia delapan tahun, Siana harus meninggalkan keluarga Arata karena dipanggil untuk menjadi penyihir kerajaan. Meski perpisahan itu berat, Siana meyakinkan Ryo bahwa dia sudah cukup kuat untuk melanjutkan pelajaran sihirnya sendiri. Namun, pelajaran pedang bersama Kazuki tetap berjalan. Ryo semakin mahir menggunakan pedang dan mengkombinasikannya dengan sihir dasar. Beberapa bulan setelah kepergian Siana, Ryo sedang berlatih di hutan dekat rumahnya. Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah saat dia mendengar suara gaduh. "Oi, makhluk aneh! Pulang aja ke tempatmu!" teriak seorang anak laki-laki. Ryo bergegas menuju sumber suara dan menemukan tiga anak laki-laki mengejek seorang anak yang tampak lemah. Anak itu memiliki rambut hijau keperakan, warna yang jarang terlihat di desa mereka. "Berhenti!" seru Ryo, berdiri di antara mereka dan anak itu. "Apa yang kalian lakukan itu pengecut. Bertiga melawan satu orang? Memalukan!" "Dia bukan manusia normal!" salah satu dari mereka balas berteriak. "Makhluk aneh seperti dia nggak pantas ada di sini!" Namun, sebelum Ryo sempat menjawab, salah satu anak itu mencoba menyerangnya. Dengan sigap, Ryo menghindar dan menjatuhkan lawannya dengan satu gerakan sederhana. Dua anak lainnya, yang kini ketakutan, segera melarikan diri. Setelah memastikan mereka pergi, Ryo berbalik ke arah anak yang dibela tadi. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Anak itu mengangguk pelan. "Terima kasih... Aku Mira," jawabnya dengan suara kecil. Ryo terdiam sejenak, memperhatikan wajah Mira. Dia sempat berpikir bahwa Mira adalah anak laki-laki, tetapi setelah melihat lebih dekat, dia menyadari bahwa Mira sebenarnya seorang perempuan. "Kau... seorang gadis?" Ryo bertanya dengan ekspresi bingung. Mira tersipu dan mengangguk. "Ya, aku seorang elf... Maaf kalau penampilanku membingungkanmu." Ryo merasa sedikit malu karena telah salah mengira, tetapi dia segera mengulurkan tangan. "Aku Ryo. Jangan khawatir, aku nggak peduli kau elf atau manusia. Kalau kau butuh teman, aku ada di sini." Mira tersenyum kecil, untuk pertama kalinya merasa diterima.