《[Indonesian] Great world traveler》
chapter satu
Ingatanku berawal sejak aku berumur 6 tahun. Aku tidak memiliki kenangan tentang apa yang telah terjadi sebelum itu. Yang kutahu hanyalah, aku telah diadopsi oleh pasangan suami istri baik hati yang tidak dapat melahirkan seorang anak. Aku merasa sangat berterimakasih pada mereka, karena telah menjagaku sampai aku tau siapa diriku sebenarnya.
Cukup menyebalkan rasanya jika terus-menerus dipuji dan dipuja-puja, sungguh bukan karakterku untuk suka akan terus mendapat pujian dan pujaan, itu membuatku merasa risih. Aku hanya harus bertahan menghadapinya, cobaan yang kudapatkan sejak pertama kali aku masuk sekolah.
Aku memang aneh. Normalnya anak-anak akan merasa senang jika terus dipuji dan disanjung, sedangkan aku terpaksa harus memasang ekspresi palsu dalam menerimanya.
Hal yang membuatku terus dipuji dan disanjung adalah kepintaranku sendiri, aku tau itu salahku sendiri. Aku bahkan tidak menyadarinya, pertama kali aku belajar huruf, dan hari itu pula aku bisa langsung membaca. Materi pelajaran yang selalu diajarkan di kelas, itu hanya seperti ingatan lama yang berusaha terkuak. Meski tidak di semua mata pelajaran termasuk matematika.
"Rafa sangat jenius .... keren..."
Begitulah respon rata-rata perempuan di kelasku terhadapku, belum lagi respon guru yang kagum dengan diriku. Lagi-lagi mereka ikut menyanjungku dan memberikan nilai-nilai plus yang sangat berlebihan. Namun itu hanya sisi positifnya, ada juga respon negatif yang kudapatkan juga karena ulahku sendiri.
Terkadang seakan aku menggantikan posisi mereka sebagi pengajar. Atau aku yang selalu menyanggah mereka saat melakukan kesalahan.
"Rafa, bisakah kau biarkan aku mengajar dulu. Aku sama sekali tidak mengharapkan bantuanmu disini!!"
Guru sepertinya tidak suka jika aku menjelaskan lebih terperinci dari pada mereka.Yah, aku paham perasaan mereka, jadi biasanya aku hanya menjawab dengan "baiklah" dan sebuah senyuman pahit di wajah. Aku harusnya lebih menahan diri saat ini, tapi menahannya itu sulit saat dirimu dengan jelas melihat kesalahan di depan mata.
Aku juga begitu mudah dalam mempelajari bahasa asing, aku bahkan tidak tau kenapa, hanya berpikir itu semacam kemampuan ajaib yang ada di cerita fiksi fantasi. Aku bahkan hampir percaya fantasi seperti itu nyata.
Karena kepintaranku yang rasanya hanya seperti bagaimana mengingat huruf, aku tidak pernah menghabiskan waktuku untuk belajar sama sekali, terkadang waktu belajarku hanya untuk mengerjakan tugas atau mempelajari sedikit tentang sejarah.
Bermain game, baca novel atau komik, makan dan tidur. Aku sering menghabiskan waktuku hanya untuk hal-hal seperti itu, Tentunya karena itu menyenangkan. Orang tuaku disini saat ini hanyalah ayahku. Sejak ibu meninggal 3 tahun yang lalu, ia frustasi dan hanya sibuk dengan pekerjaannya. Ia hanya mengirimkanku uang lewat rekening bank dan jarang bertemu. Meskipun ia hanyalah orang tua angkat, ia tetap ayahku di dunia ini. Aku merasa kasihan tapi tidak ada yang dapat kulakukan, jadi aku hanya berdoa.
Akhir-akhir ini sering terjadi hal-hal aneh dengan kepalaku, terkadang ingatan aneh dan tidak masuk akal selalu menghantui pikiranku bahkan terbawa kedalam mimpi. Aku selalu berpikir bagaimana cara membersihkannya, hal-hal aneh itu sangatlah menganggu. Andaikan alat pencuci otak praktis ada, aku pasti akan menggunakannya.
Namun pada akhirnya aku menyadari, hal itu bukan hanya sesuatu yang tak masuk akal dan aneh, itu adalah masa laluku.
~~
Berjalan di koridor sekolah menuju kelas, serasa seperti pemberian jalan untuk pejabat kelas atas, dalam hati aku berkata ¡°sungguh aku tak menginginkannya!!¡±. Aku tak menginginkannya, andaikan ada cara aku bisa teleport ke kelas mungkin aku akan menggunakannya setiap hari.
"Kyaa... Rafa.... Itu Rafa, huh jantungku serasa berhenti berdetak... "
"""Kyaa"""
Ensure your favorite authors get the support they deserve. Read this novel on Royal Road.
Aku hanya mengabaikan respon-respon berlebihan itu dan terus berjalan kedepan. Bukan hanya itu saja, bahkan respon anak laki-laki tidak jauh beda dengan gadis-gadis, mereka seperti seorang butler yang menghormati tuannya.
Menyebalkan.
Tanpa mempedulikan mereka, aku berusaha lewat menganggap mereka hanya robot yang diprogram untuk bergerak dan bertindak seperti itu. Lalu segera menuju kelas dan duduk di kursiku. Menanti hingga tiba guru pengajar hari itu.
Jam istirahat tiba, aku pun segera naik menuju atap sambil membawa bekal makanku. Sebenarnya merepotkan untuk berjalan menaiki tangga dan hanya ingin duduk tenang di kelas, tapi dengan sorotan mata menyebalkan seakan ingin melahapku yang tak hentinya terpaku padaku, aku tak sanggup. Oleh karena itu aku memilih tempat di atap, di pojok yang orang lain takkan bisa melihat ku dari depan, dan aku takkan menghadapi sorotan mata mereka.
"Yo, apa kau akan menemaniku lagi? "
Tapi ternyata tak semua siswa memiliki pemikiran yang sama, aku sudah lama menyadarinya.
"Seperti yang kau lihat. "
Jawabku singkat, mengambil posisi duduk dan bersandar.
"Haha... Sungguh bagiku sangat merepotkan berada di posisi sepertimu, aku bersyukur tak mengalaminya"
"Aku bahkan berharap begitu"
Bisa di bilang kami ngobrol tanpa bertatap muka. Laki-laki itu duduk bersandar dengan kaki dipanjangkan dan buku ditangan dan di sampingnya adalah halaman belakang sekolah yang artinya berjarak 5 lantai ketanah dari tempat ia duduk.
Sedangkan aku di depannya menghadap kebawah, dalam artian halaman belakang, sambil menikmati makan siangku. Beruntung ia tidak menganggapku ¡®yang mulia¡¯ seperti yang lainnya sehingga aku bisa mendapat percakapan santai denganya.
"Tapi, kenapa kau berharap begitu. Biasanya tokoh populer yang kubaca di komik, selalu berbangga dan bersikap sombong"
"Hei, jangan samakan aku dengan bajingan seperti itu, aku bahkan tak menginginkan menjadi seperti ini, tapi terkadang aku tak dapat mengendalikan naluriku"
"Hh, naluri? Itu lebih terdengar seperti kau adalah Demi-human"
Anggapan macam apa itu, .... kalau dipikir-pikir itu benar juga. Tapi aku akan membenarkan sedikit pemikirannya itu.
"Bisakah untuk tidak menyamakan hal di komik dan novel fantasi dengan kenyataan!¡±
POOF! ia menutup bukunya.
".... Ahaha, kebiasaan burukku timbul lagi. Huhf... kau benar, ini adalah dunia nyata"
Baiklah, aku sudah kenyang dan bekalku habis, rasanya pikiranku lebih segar. Ini saatnya untuk kembali ke kelas. Kalau tak salah aku juga sekelas dengan anak ini, ia selalu duduk di pojok. Tapi bukan urusanku, jadi aku akan ke kelas duluan.
"Aku mau kembali ke kelas dulu, permisi "
"Tunggu, "
"Huh? "
"Mungkin aku akan jadi pengawalmu kali ini... "
Apa? Baikalah kutarik prasangkaku sebelumnya, ia sama saja. Pria menyebalkan, kenapa semuanya harus menunjukan sikap seperti itu padaku!? Ayolah, padahal aku berusaha agar tidak merasa terlalu sombong, tapi sulit jika terus seperti ini!
Sialan! Bahkan ia berlutut?
"...tch "
Rasanya menjijikan jadi aku abaikan
".... Baiklah bagaimana kalau teman. Kita sepertinya punya hobi yang sama, bung"
Ia langsung mengganti sikapnya, ekspresinya, dan nada bicaranya, yang sebelumnya seperti seorang bawahan terhadap atasan menjadi seperti teman akrab bertahun-tahun. Aku kagum dengan isi pikiranya yang begitu cepat berubah. Apa ia sangat pintar berakting?
Tapi menilai dari apa yang dikatannya, itu adalah tentang, teman? Kurasa baik-baik saja jika aku menolak, itu memang pilihan yang terbaik untuk menjauh dari banyak gangguan. Tapi ...
"Hanya untuk saat ini."
Entah kenapa aku menerimanya.
"Baiklah! Aku Katsuragi Jio, kau bisa memanggilku Jio.¡±
¡°Aku, Rafa.¡±
¡°Kalau begitu ayo ke kelas, teman. "
Seperti nostalgia, tiba-tiba bayangan orang-orang yang tak kukenal masuk ke pikiranku, tapi aneh... aku merasa mereka sangat familiar. Siapa yang tahu? Aku bahkan tidak bisa melihat masa depan, tapi dengan aku menerima pertemanan ini, aku mendapatkan imbalan yang sangat besar.
Tiba-tiba fenomena aneh terjadi di ruang kelas.
Satu, dua, tiga, empat, lima orang yang ada di kelas tiba-tiba diselimuti cahaya dari lingkaran Oktagonal di kaki mereka. Aku tidak tau kenapa kelas begitu sedikit, sehingga menyisakan hanya lima orang di kelas. Mereka semua kebinguang, terdiam ditempat karena rasa terkejut mereka sendiri.
Kemudian hal yang sama terjadi padaku dan Jio. Tiba-tiba cahaya itu seakan menyerap mereka semua, mulai dari kaki hingga ke kepala mereka tidak dapat melarikan diri dan mereka semua menghilang. Tapi hal seperti itu tak terjadi padaku, aku tidak merasakan apa-apa selain rasa bingungku sendiri. Seakan melemah cahaya di kakiku mulai meredup.
¡°Tidak mungkin.... Uaagh.... "
Semacam sengatan ribuan vol listrik menyerang kepalaku, hal-hal aneh tapi familiar mulai merasupi pikiranku.
(Perasaan apa ini?!!)
"Uaaah.... "
Semakin sakit hingga keringat bercucuran dari tubuhku. Otakku terasa disengat listrik, panas dan panas. Gambaran itu bermunculan seperti clip film, berputar. Jutaan informasi mengisi memori otakku dan otakku menyerapnya dengan paksa. Tidak kuat menahan, aku pun jatuh berlutut sambil meremas kepalaku.
"...haa... haa... "
Rasanya mulai dingin, seperti batu es kutub selatan diletakan diatas kepalaku. Lalu semua perasaan aneh itu hilang.
"Aku... Mengingatnya"
Sekali lagi kuperhatikan cahaya yang meredup di bawahku, itu belum menghilang.
Pikiranku penuh dengan hal-hal baru yang sebenarnya sudah ada lama terjadi, sangat lama sekali hingga buku-buku setebal bantal takkan cukup untuk mencatatnya. Perasaan ingin bertemu dan membalaskan sebuah dendam kekalahan memenuhi jiwaku.
"Aku akan kesana"
Tanganku seakan menggenggam cahaya yang mulai meredup itu. Lalu aliran energi membuncah keluar darinya. Listrik putih bergejolak menyelimuti tubuhku. Aku tak merasakan sakit dari itu sama sekali, itu adalah kumpulan energiku sendiri, kekuatanku.
Ada kemungkinan pemanggilan yang terjadi pada mereka enam anak di kelas Jio baruku tidak sanggup untuk membawa diriku ini kesana. Bukan berarti aku sombong, tapi itu adalah kenyataannya.
Setelah itu, suara yang menggelegar bergema di satu sekolah tersebut, tidak. Itu mungkin satu kota.
Jldar!!
Petir putih muncul dari langit, dan menyambar diriku, aku tenang menerimanya. Perasaannya adalah seperti ditarik oleh cahaya yang memiliki sengatan. Itu terjadi dalam sedetik.
Dengan begitu aku telah berada di dalam kumpulan energiku sendiri, melewati lorong tak terlihat, yang menghubungkan antar dunia-dunia. Dimensi yang hanya bisa dilewati oleh individu yang mampu mencapai ribuan kali kecepatan cahaya sepertiku. Menuju dunia yang berbeda tempat mereka menunggu.
Aku pun meninggalkan dunia ini yang menampungku selama 10 tahun. Dan kembali menjadi diriku yang sebenarnya,
Namaku Armil Zefrana, aku adalah Great World Traveler.
.
.
.
chapter dua
Tahun ke-197 Era perang, 02/12
---
Hutan kabut berada di perbatasan benua dengan laut berada pada ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut. Dengan termasuk sebagai dataran tinggi di benua barat, hutan kabut memiliki suhu yang relatif rendah dan dingin sehingga menyebabkan kabut untuk tidak hilang dan tetap tebal.
Wilayah hutan kabut bukanlah pegunungan maupun perbukitan, itu hanyalah dataran tinggi yang memiliki curah hujan yang tinggi, yang dipenuhi oleh hutan yang sangat lebat seluas lebih kurang 5.000.000 km persegi, yang bahkan lebih luas dari pada hutan amazon di brazil.
Pada hari itu awan mendung membuat langit menjadi gelap, guntur menggelegar dan mengguncangkan udara. Saat badai yang semakin kuat, tanpa turunya hujan, tekanan sihir yang besar mulai berkumpul di satu titik di langit
Hewan-hewan, burung-burung, binatang sihir, dan binatang iblis. Berlarian dan berterbangan menjauh dari dari daerah itu. Seakan bahaya besar akan mendatangi mereka. Suatu eksistensi yang energinya bahkan mengalahkan eksistensi terkuat yang pernah ada di dunia itu.
Jldar.....
Petir putih menyambar dari satu titik, bersama sebuah massa bercahay berwujud manusia.
Menyambar, dan meluncur. Wujud itu menembus tebing Batu dan menumbangkan banyak pohon untuk menahan kecepatan mendaratnya. Hingga akhirnya berhenti.
Kepulan debu bertebaran di sekitar hutan, hanya menampilkan wujud manusia yang cahayanya mulai meredup. Tersangkut di pohon setengah tumbang dengan kepala kebawah dan kaki tersangkut di dahan. Posisi yang sangat lucu seakan ia baru saja menginjak jebakan.
Bruak
Lalu ia terjatuh ke tanah dengan kepal lebih dulu, setelah itu bangkit.
"Huh.... Aku terlalu berlebihan sepertinya"
"Hm... Baiklah,...."
Ia berdiri dan sedikit meregangkan ototnya, seperti senam.
".... Akhirnya aku kembali,... Sayang... "
Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan kekacauan di belakangnya, dimana tampak seperti tanah itu benar-benar di keruk dan barisan pohon habis berserakan.
~~
Hutan berkabut, tempat aku mendarat. Begitu sepi dan sunyi. Jika kucermati keadaan disini adalah benar-benar kacau. Baru saja, aku telah menghancurkan segunung batu besar dan puluhan pohon berlumut.
Harusnya tempat ini ramai oleh binatang-binatang berbahaya, binatang sihir atau Binatang iblis. Tapi aku tidak merasakan keberadaan mereka dalam radius 100 kilometer lebih. Mungkin kah ini karena kebocoran energiku? Hm, mungkin saja, sudah 10 tahun aku tak menggunakan kekuatanku.
Binatang sihir adalah binatang yang hidup dengan kekuatan sihir bagi mereka sihir seperti oksigen bagi manusia. Mereka tak bisa hidup tanpanya, Binatang sihir pada umunya tidak berbahaya karena mereka tidak memerlukan banyak makanan. Mereka hanya memerlukan energi sihir untuk dapat bertahan hidup. Mereka hampir sama seperti binatang herbivora.
Sedangkan binatang iblis adalah binatang sihir pemakan daging. Kategori binatang sihir yang memerlukan energi sihir dan daging memiliki kekuatan dan insting pemangsa yang besar. Sebagian dari jenis mereka ada yang pintar, jenis tertinggi dari para binatang iblis adalah sang penguasa langit, Naga.
Ini adalah dunia dimana sihir itu nyata, dunia yang dipenuhi oleh manusia, demi-human, dan Iblis.
Musuh, yang telah membuatku menjadi anak berumur 6 dan mencampakkanku ke dunia itu, mengalahkanku dalam pertempuran dahsyat, waktu itu. Tapi aku berhasil mencegah keinginannya, meskipun aku kalah. 4 fragmen bagian kekuatanku yang lain dari ke-6 fragmen berhasil di segel di dunia ini dengan tempat penyegelan yang terjamin. Aku merasakannya, aura yang masih bocor meski sudah di segel, sejak menginjakkan kaki di dunia ini.
Tersisa, satu fragmen yang merupakan inti jiwa ku saat ini, dan fragmen terbesar, yang takkan pernah bisa lepas dari tubuh dan jiwaku. Dan satu lagi, di tangan musuh.
Menjadi yang terkuat bukan berarti tak terkalahkan, selalu ada yang lebih hebat darinya. Ada semboyan, ''di atas langit masih ada langit'', dan itu terbukti, oleh karena itu janganlah sombong. Aku baru menyadarinya karena pada waktu itu, aku masih bisa kalah, oleh diriku sendiri.Love what you''re reading? Discover and support the author on the platform they originally published on.
Ya, musuh yang mengalahkanku itu tidak lain adalah diriku sendiri.
"Uh... "
Sudah sekitar satu jam lebih aku berjalan santai tanpa menemui satu mahluk pun. Semua binatang melarikan diri setelah menyadari keberadaanku. Mungkin mereka merasakan bahaya terhadapku dengan insting mereka. Menarik, meskipun mereka tidak dapat menganalisis kekuatan, tapi insting yang tajam menyelamatkan mereka.
Untuk saat ini, yang harus aku lakukan adalah mencari informasi. Dimana aku berada dan sudah berapa tahun terlewatkan sejak terakhir kali aku disini. Perbedaan waktu antar dunia sudah merupakan hal yang wajar. 10 tahun aku pergi, bisa jadi sudah 100 tahun terlewatkan. Tapi itu hanya spekulasi, siapa yang tahu, kebenarannya.
Akhirnya aku melihat sebuah desa. Ditengah hutan yang lebat dan pohon-pohon raksasa. Rumah-rumah unik dari bangkai pohon dan jamur raksasa. Dan cahaya matahari lembut kehijauan menembus daun-daun hijau tipis transparan. Itu masih puluhan kilometer dari tempat aku berdiri, tapi bukan hal yang sulit bagiku untuk melihat dari kejauhan.
Samar-samar aku mengingat daerah ini, tapi aku masih tidak begitu ingat, mungkin karena telah banyak yang berubah atau mungkin itu hanya mirip dengan tempat-tempat yang pernah kudatangi.
Kemudian aku merasa banyak kehadiaran yang menunjukan perlawanan mendekat, selagi memikirkan itu, sepertinya saat ini aku sudah di kepung.
Zrukzruk.
Tiga demi-human jenis werewolf muncul dihadapanku sambil menodongkan tombak mereka kearahku. Juga beberapa werewolf lain yang bersembunyi sambil bersiaga dan yang diatas pohon mempersiapkan serangan panah mereka. Ini cukup sambutan yang mengejutkan dan tidak sopan untuk seorang pengunjung. Aku berpikir mungkin mereka tidak pernah menerima para wisatawan.
Namun, sergapan ini sama sekali tidak membuatku tegang atau gemetar. Jika aku berusaha sombong maka akan aku katakan ini hanya seperti kepungan serangga kecil. Aku tidak gentar sedikitpun. Tapi sepertinya aku harus bersandiwara sedikit, aku tidak boleh menunjukan kekuatanku saat ini.
Jadi...
"T-tunggu, a-ampuni aku..., aku tersesat"
Aku berlutut dan mengangkat tangan, tentu aku berusaha menyembunyikan senyum ku dan hanya tertawa di dalam hati. Sungguh, ini hanya sandiwara.
"Apa yang manusia sepertimu lakukan di tempat ini?! Jawab?! "
Muncul dari atas pohon seorang werewolf muda berotot, berwajah sangar dengan sebuah pedang pendek ditangannya, yang ditodongkan kearahku bertanya dengan keras. Dari bagaimana aku melihat sikap mereka terhadapnya, sepertinya werewolf muda ini adalah pemimpin mereka.
"A-aku tersesat, setelah diserang oleh sekelompok bandit-"
"Bohong! Tidak pernah ada bandit di hutan terlarang ini!"
Sial, aku membuat kebohongan yang jelas.
"Tenang dulu, Rig. ..."
Salah satu werewolf yang menodongkan tombak, langsung memotong pembicaraan. Tentu saja, aku berbohong soal ''bandit'' aku tidak sempat memikirkan hal lain selain itu. Harusnya aku memikirkan hal lain, di hutan menyeramkan seperti ini memang mana ada bandit?!.
Lalu si bocah pemimpin kembali melihatku dengan mata marah dan mengancam.
"... Apa kau ada hubungannya dengan ledakan itu?! "
"Ledakan? "
Ulangku.
"Jangan pura-pura tidak tahu!!! Dan juga bagaimana mungkin manusia biasa bisa baik-baik saja ditengah hutan kabut, aku juga tidak merasakan binatang sihir dan Binatang iblis di sekitar sini. Itu perbuatanmu bukan!!"
"".....""
Ah,... Ia begitu menekan di bagian yang terakhir. Aku cukup takjub, dengan analisisnya, dan itu membuat werewolf lain berisik. Mereka semua terkejut, disadarkan oleh pemimpin mereka tentang lingkungan yang berubah karena ulahku, mereka segera bersikap waspada terhadapku. Tapi sebenarnya itu bukan ulahku, hanya saja binatang-binatang itu punya insting yang cukup kuat. Aku ingin tertawa sekarang tapi mungkin, aku menahannya.
Aku tidak berpikir akan jadi seperti ini. Kalau begitu, apa sandiwaraku akan berakhir disini?
"Hoi!! Jawab"
Mengubah ekspresi, menjadi santai dan kuturunkan tanganku lalu berdiri dengan baik, tanpa merasa terintimidasi oleh suasana. Aku benar-benar memasang ekspresi bosan saat ini, baiklah... apa aku harus jujur?
"Ya, mungkin aku bukan manusia biasa... "
""....""
Mendengar itu, mereka semua langsung mengambil sikap bertarung, itu cukup cantik, begitu serentak. Tapi aku tidak menginginkan ini.
"T-tapi aku tidak ingin bertarung, hentikan itu! Sungguh! "
Melihat mereka mengambil sikap bertarung, itu cukup membuatku cemas. Aku tidak ingin ada yang cedera karena aku masih belum bisa mengontrol kekuatanku. Aku langsung mengangkat tangan dan menggelengkan kepala. Dalam bahasa isyarat itu berarti ''tidak''.
"Lalu apa maumu?!"
"Kalau boleh, aku ingin beristirahat di desa kalian, aku cukup lelah."
Jujur, aku ingin beristirahat setelah mengeluarkan banyak kekuatan untuk datang ke dunia ini.
"APA?! kau pikir kami akan mengizinkan manusia memasuki desa kami?,... jangan harap!"
Werewolf bernama ''Rig'' tadi kembali marah, dan mulai mendekati dengan tombaknya. Si pemimpin itu hanya membiarkannya, sepertinya ia juga marah dengan kalimatku barusan. Tentu saja, tidak mungkin mereka akan menerima orang asing berkekuatan super yang baru mereka temui dan mengizinkannya tinggal di rumah mereka. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Aku akan memikirkan cara lain, jika negoisasinya berakhir dengan kekalahanku. Aku tidak akan menggunakan paksaan
"... Kau hanya ingin menangkap saudara kami dan menjadikannya budak! Kan?!..."
"Ha? Budak?"
Aku cukup terkejut, itu jauh dari perkiraanku.
¡°T-tidak tidak aku tidak punya maksud_¡±
"... Dasar sialan!!!!..."
Ia tidak mengizinkanku berbicara.
Ia mulai menutup jarak, dan mengacungkan tombaknya kearahku. Aku tidak mengira ini akan terjadi, tapi aku yakin hal ini tidak bisa dihindari. Mereka juga sepertinya ras petarung. Jadi aku akan sedikit melawan.
Aku menyiapkan tangan kananku dan mengibaskannya diagonal dari bawah. Kupikir itu cukup untuk menghentikannya. Namun...
Whuszz
Ia terpelanting cukup jauh, hingga menabrak batang pohon.
... Ternyata itu berlebihan. Sial, aku masih belum bisa mengontrol kekuatanku dengan baik.
Mereka semua terkejut, rahang mereka terbuka dan mata mereka melotot, menyaksikan teman mereka tumbang dengan mudah. Bahkan si bocah pemimpin juga. Ini buruk, aku sudah membuat masalah dengan mereka, akan sulit untuk mendapat bantuan mereka setelah ini.
"K-kau...!!? "
Katanya penuh penekanan dan mendekatiku dengan pedangnya.
"A-aku tidak bermaksud begitu, sungguh. Jika kau melanjutkan maka akan ada cedera yang lebih hebat nantinya. Jadi hentikan! "
Cukup panik, bisa-bisa aku membunuh mereka secara tidak sengaja nantinya.
~
"Baiklah, tapi dengan borgol ditanganmu! "
"Baik! "
Pada akhirnya aku berhasil membujuknya untuk membawaku ke desanya. Aku sedikit memainkan trik mengancam padanya dan mengatakan apa yang terjadi jika ia menolak. ¡°Mungkin aku sendiri yang akan datang ke desa kalian dan mencari jawabannya disana¡± itu yang kukatakan. Ternyata ia cukup bijaksana dan memilih pihan berdasarkan resikonya.
Tapi werewolf lain tidak setuju.
"Hei!! Gora! Apa maksudnya ini. Kau mengizinkan manusia itu ke desa!"
"Ada apa denganmu Gora!?"
Mereka semua mendesak Gora karena telah mengizinkanku memasuki desanya.
"Itu lebih baik dari pada kita semua dibunuh olehnya!!"
"... Apa kau meremehkan kemampuan kita Gora! Aku tau itu bukan sifatmu untuk menyerah!! "
""Ya... Ayo kita bunuh manusia itu""
Satu persatu penolakan datang dari setiap werewolf. Gora hanya diam menahan emosinya akan kebodohan teman-temannya, setelah ia tidak bisa menampungnya, ia melepaskannya.
"Apa kalian tidak paham, masih bisakah kalian berpikir!! Bahkan ratusan Binatang sihir dan Binatang iblis menjauh dari manusia ini!! Apa kalian masih berpikir bisa menang melawannya, Rig juga telah tumbang hanya dengan satu ayunan tangan.!!! Bisa kalian pikirkan itu!!?! "
""....""
Mereka semua terdiam, itu cukup jawaban yang hebat. Aku berikan plus untukmu, Gora.
"Tapi apa kau yakin ia tidak berbohong? "
Dan Gora menatapku intens. Matanya memicing, ada keheningan sejenak. Udara jadi terasa berat.
"Ya, aku yakin"
Apa ia baru saja membaca tatapanku?
"Baiklah, aku percaya padamu. Pemimpin"
Aku bersyukur mereka tenang, meskipun mereka masih mengawasiku dengan waspada. Itu lebih baik dari pada mereka melawanku. Hanya akan ada korban yang berjatuhan dengan sia-sia, kemudian aku juga tak kan bisa menikmati desa mereka dengan tenang.
"Ayo, jalan"
"Ya... "
Dan aku berjalan sambil digiring dan tangan yang di borgol dengan Batu anti sihir, untuk menghalangiku mengaktivasi sihir. Tapi itu percuma, jika aku ingin aku bisa membuka borgol ini dengan mudah. Yah, aku tak ingin bertarung untuk saat ini. Maka...
Ayo ikuti mereka.
-----------------------------------
Side story 1
Hero Pov
Semuanya terjadi secara tiba-tiba, andai saja aku tak mampu menahan rasa terkejut ini, mungkin aku sudah jantungan di tempat.
Seingatku, hanya beberapa menit yang lalu aku mulai berteman dengan Rafa Trafalgar, yang ternyata tak seperti dalam gambaranku. Ia tidak sombong, itulah kesimpulan yang dapat kubuat untuk saat ini.
Namun, sesuatu yang melebihi batas akal sehat muncul tiba-tiba hingga membuatku tak dapat bergerak. Dan dengan cahaya yang menyelimutiku aku di kirim kemari, bersama lima orang lainnya. Tapi ada yang salah, dimana Rafa? Aku masih ingat melihatnya yang juga diselimuti cahaya,... aku ingat cahaya yang menyelimutinya meredup, setelah pandanganku menghilang. Setelah fungsi Indraku kembali aku telah berada disini.
(Jadi hanya kami ber-6 yang terpanggil kemari kah?)
(Suasana seperti ini sangat cocok sekali dengan novel-novel yang kubaca, sial. Aku sudah dapat melihat niat mereka!)
Tatapan marah pun ku tujukan pada orang bermahkota disana.
~
Ke-6 siswa sekolah SMA biasa, telah terpanggil ke sebuah tempat asing yang biasa disebut dunia lain.
Di tengah ruangan besar, berupa Aula berbentuk segi 8, berdiri 6 pahlawan yang telah di panggil. Lalu disetiap sudutnya orang-orang berjubah ungu sedang berlutut tampak bahwa mereka sangat kelelahan. Dan dihadapan para pahlawan, seorang Raja duduk di kursinya juga seorang gadis yang tampak seperti Putri berdiri di sampingnya dengan senyum yang hanya tampak di bibir mereka.
"Selamat datang para pahlawan, di kerajaan Hyugland..."
".. Saya Putri kerajaan Hyugland, Himria Syrofath Hyugland mengucapkan terimakasih kepada anda semua, para pahlawan"
Ujar Himria lancar tanpa penjedaan, ia berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan kesan terbaik para pahlawan. Karena harapan mereka ada di tangan pahlawan, jadi tentu bagaimana pun mereka tidak boleh membuat kesan terburuk untuk pahlawan.
"Hei, apa maksudnya ini, atas maksud apa kami di panggil kemari?!"
Laki laki berambut pirang itu protes.Tampaknya seorang emosional mulai menunjukkan ketidaksenangannya terhadap sesuatu yang tiba-tiba ini. Karakter seperti ia biasanya cocok untuk memimpin squad para idiot dengan nasionalisme tinggi.
"Saya mohon maaf atas ketidaksenangan anda Pahlawan. Saya akan menjelaskan semuanya kepada anda-"
"Tidak! Himria! Biar ayah yang menjelaskannya "
Mendadak pria tua bermahkota disana berkata ia akan menjelaskan beberapa hal untuk pahlawan. Entah ada maksud lain ia mengambil tempat menjelaskan hal itu, kemungkinan takut putrinya membocorkan hal yang tak perlu.
"Baiklah para pahlawan sekalian, perkenalkan saya, Raja Hyugland Robert Syrofath Hyugland III. Sebagai yang memanggil anda semua kemari, saya minta maaf atas kegelisahan anda semua. "
"Lalu apa yang kau inginkan, membunuh Raja Iblis? "
"Sepertinya anda punya tebakan yang tepat Pahlawan" [Robert]
"Seigi! kamu seharusnya tidak boleh bicara seperti itu dengan raja, Seigi."
Seorang gadis rambut coklat panjang menegur pria emosional itu langsung. Mereka berdua adalah teman yang sangat akrab, karena sudah saling mengenal sejak kecil. Tapi hubungan mereka tampak lebih dari sekedar teman
"Uhm, baiklah Minami aku akan mencoba berlaku sopan"[Seigi]
Aura pink pun terpancar oleh mereka berdua, para pahlawan lainnya, menatap mereka seolah berkata ''hentikan itu'' , bukan saatnya untuk membuat suasana semacam itu. Mereka seakan tidak pandai melakukan sesuatu pada tempatnya, dan mereka berhenti.
"Sebelum itu bolehkah, kita pindah keruangan yang lebih nyaman? sehingga anda semua bisa duduk santai dan menikmati pembicaraan "
"Y-ya"
Maksud dari kata raja itu memang mengajak mereka untuk berbicara dengan nyaman. Seperti halnya negosiasi.
Tanpa rasa curiga, mereka mengikuti raja tersebut, 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Dan Putri mengikuti dari belakang bersama para pengawal. Tapi ekspresi salah satu pahlawan yang terpanggil, benar-benar menunjukan ekspresi negatif. Karena tidak selalu menjadi pahlawan adalah hal yang baik. Jika seandainya negeri yang mereka selamatkan dari iblis, berkelakuan lebih dari iblis jika iblis lenyap, maka ia benar-benar akan mengutuk dirinya sendiri karena sudah menjadi pahlawan. Itulah yang dipikirkan oleh pahlawan muda itu.
Melihat ke sekitar, akan kebesaran tempat mereka berada saat itu, dan jauhnya langit-langit. Masih belum tergambar di kepala mereka wujud besar istana tempat mereka di panggil. Tapi kemudian area sekitar mulai berukuran normal.
Setelah mengikuti raja itu, mereka pun akhirnya tiba, di sebuah ruangan yang masih cukup besar tapi jarak langit-langit nya normal. Meja melingkar disertai kursi, menjadi interior pada ruangan itu.
"Silahkan duduk, " [Robert]
Mendapat undangan baik itu, mereka segera menerimanya dan duduk di kursi masing-masing.
"Akan saya ceritakan tentang perdamaian yang hilang dari dunia ini, 100 tahun yang lalu... "
Dahulu, negri ini damai dan tentram. Namun dengan kemunculan Iblis di benua Utara 100 tahun lalu, wabah penyakit mulai menyebar dari tanah yang dihuni manusia di pinggiran kerajaan-kerajaan manusia. Kemudian kerajaan mulai mengirim tentaranya untuk berperang melawan ras Iblis. Tapi hasil tidak seperti yang diharapkan, ras iblis begitu kuat, dan kejam, menhabisi semua tentara manusia dengan sadis. Hingga saat ini peperangan antar benua Utara dengan timur dan barat tidak pernah berhenti. Kerajaan Hyugland di barat dan kekaisaran Teramus di Timur selalu berperang melawan ras Iblis yang menduduki benua Utara.A case of content theft: this narrative is not rightfully on Amazon; if you spot it, report the violation.
Semua orang kecuali para pahlawan memasang wajah suram setelah raja bercerita. Mereka seakan bersedih. Dan para pahlawan merasa iba dengan hal itu. Tapi sekali lagi tidak, untuk satu pahlawan muda itu ia berprasangka ''mereka pandai bersandiwara''. Prasangka negatif, akan tetapi tidak dapat dikatakan bahwa sepenuhnya itu, ''benar''.
"Oleh karena itu,.. kami meminta bantuan anda para pahlawan untuk melawan ras Iblis dan memperoleh perdamaian sejati bagi seluruh manusia" [Robert]
"Melawan? Bagaimana mungkin kami bisa melakukannya. "
Gadis berambut hitam pendek sebahu dengan potongan ala Jepang dan mata hitam, menyanggah dengan tegas. Ia cukup merinding saat mendengar kata ''melawan''.
Tentu saja, mereka sebelumnya hanya pelajar biasa yang berperang menggunakan pena dan otak. Lalu tiba-tiba mereka diminta untuk berperang secara nyata, melawan ras Iblis. Itu hanya seperti mempercepat kematian mereka saja.
"Tenanglah, pahlawan, kekuatan sihir dan fisik kalian jauh lebih besar dari kami, kemudian ksatria kami juga akan mengajarkan caranya melawan iblis. Dengan kekuatan pahlawan dan latihan dari kami, kalian akan menjadi kekuatan besar untuk melawan kerajaan iblis.¡±
¡°... untuk melihat kekuatan pahlawan, kalian bisa melihatnya... di alat sihir ini...¡±
Kemudian seorang pelayan raja datang membawakan alat sihir berupa batu kristal sebesar kepala manusia bewarna biru. Sepertinya alat itu akan menunjukan tingkat status bagi seseoarang yang menyentuhnya.
¡°Silahkan para pahlawan...¡±
Akahiro Seigi
Ras : Manusia
Usia :17 tahun
Level :1
?HP :1400/1400
?MP :1350/1350
?SP : 1320/1320
?Fisik: 340
?Sihir : 330
?Atribut : Api, Angin, petir, cahaya, Langit
Reina Minami
Ras : Manusia
Usia : 17 tahun
Level : 1
HP :1300/1300
?MP :1260/1260
?SP : 270/270
?Fisik : 200
?Sihir : 340
?Atribut : Api, Tanah, angin, es
Kakihara Souri
Ras : Manusia
Usia : 16 tahun
Level :1
? HP :1280/1280
?MP :1390/1390
?SP : 1127/1127
?Fisik : 120
?Sihir : 350
?Atribut : Angin, Air, cahaya, Tumbuhan
Hebihime myuka
Ras : Manusia
Usia : 16 tahun
Level :1
? HP :1280/1280
?MP :1280/1280
?SP : 900/900
?Fisik : 110
?Sihir : 310
?Atribut : cahaya, air, angin, Ruang
Higiya Toriko
Ras : Manusia
Usia : 19 tahun
Level : 1
? HP :2010/2010
?MP :1290/1290
?SP : 2040/2040
?Fisik : 520
?Sihir: 250
?Atribut : Api, Bumi
Katsuragi jio
Ras : Manusia
Usia : 17 tahun
Level 1
? HP :1300/1300
?MP :1420/1420
?SP : 1330/1330
?Fisik : 305
?Sihir : 320
?Atribut : Api, petir, kegelapan, cahaya,
"Whoa... Ini memang seperti game, aku adalah Hero! " [Seigi]
"Ya.. Ini seperti status di game, bagaimana denganmu Souri" [Minami]
"Luar biasa... aku tidak pernah menyangka akan melihat statusku sendiri seperti di game RPG... ini seperti mimpi "
Mereka bertiga adalah gamer sejati didalamnya. Tidak sadar akan kenyataan di depan mata, mereka menganggap fenomena yang terjadi pada diri mereka bukan sesuatu yang berbahaya. Mereka buta terhadap kenyataan.
"Sepertinya ini akan jadi menyenagkan, bukan begitu?" tanya Seigi pada tiga yang lainya.
Sayangnya tanggapan mereka tidak seperti yang diharapkannya. Apa yang dilihat Seigi adalah seorang gadis SMA biasa yang menangis minta di pulangkan setelah di tahan oleh sekelompok penjahat.
"...aku tidak ingin bertarung, aku mau pulang!! Aku mau pulang!!, uwaa... hiks... Hiks... ¡°
Dia adalah Hebihime Myuka, anak perempuan normal yang tidak paham akan kondisi saat itu dan seorang yang tidak terkontaminasi oleh game. Ia menangis saat melihat status miliknya, membayangkan apa yang akan dilaluinya dengan segala keabnormalan dihadapannya.
"Myuka, tenanglah aku disini akan melindungimu, kita pasti akan menemukan jalan pulang..." [Higiya]
Lalu Higiya, pasangan kekasih Myuka, memelototi Seigi sekilas kemudian beralih ke Raja.
"Hei raja! Bagaimana cara kami bisa pulang, kau harus bertanggung jawab memulangkan kami!! karena telah memanggil kami kesini!!! Kami bukan petarung yang akan mempertaruhkan nyawa kami hanya demi orang-orang yang tak kami kenal, kami hanya manusia biasa yang hidup demi mempertahankan diri dan orang yang kami cintai! Kutanya sekali lagi, apa kau bisa memulangkan kami?!!!" [Higiya]
Para pengawal istana dan bawahan raja diruangan itu tersentak mendengar perkataan tidak sopan yang diarahkan kepada raja mereka. Mereka maju mengangkat tombak mereka dan berniat menjatuhkan Higiya. Kesetiaan mereka terhadap kerajaan dan raja negeri ini tidak bisa dipatahkan sehingga mereka menghancurkan siapapun yang merendahkan raja, sekali pun itu adalah pahlawan.
Namun raja menghentikan mereka dengan isyarat tangannya.
"Uhm, bisakah kau tenang dan menikmatinya? " dan Seigi berusaha menenangkannya
"Diam kau!! Maniak Game! "
Hebihime Myuka, gadis itu menangis dalam pelukan Toriko. Tubuh kecilnya seperti boneka yang bersembunyi di tubuh besar berotot, Toriko. Dengan hanya melihat, yang lainnya tau bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mereka tidak memahami, hal yang disebut ''status'' mereka sendiri. Wajar, mereka berdua bukan maniak game seperti kelompok Seigi. Mereka hanya siswa SMA yang menjalani kehidupan normal, dan aktivis.
Saat atmosfer sudah semakin berat, laki-laki yang dari tadi hanya diam merenungkan banyak hal akhirnya berbicara.
"Oi Raja! Apa kau bisa mempertimbangkan kata-katanya? "
Dan sekali lagi para ksatria pengawal raja tersentak.
~~
Jio pov
(Whoah... Aku tak percaya, kegelapan dan cahaya? Hal ini sangat aneh, dua atribut yang berkebalikan? Aku merasakan firasat aneh untuk masa depanku nanti)
Aku sibuk berpikir merenungkan data diriku yang ditampilkan di panel jendela ini. Awalnya aku tak memperdulikan ocehan mereka, Seigi dan dua wanitanya. Mereka hanya berpikir bahwa dunia ini hanyalah game, kurasa itulah efek menjadi seorang gamer tanpa memahami kenyataan. Aku juga gamer, tapi aku tak separah dia.
Aku mengambil acuh saat mendengar tangisan si gadis boneka Hebihime Myuka, kenapa aku memanggilnya begitu? Krena menurutku ia memang imut seperti boneka.
"Hei raja! Bagaimana cara kami bisa pulang, kau harus bertanggung jawab memulangkan kami!! karena telah memanggil kami kesini!!! Kami bukan petarung yang akan mempertaruhkan nyawa kami hanya demi orang-orang yang tak kami kenal, kami hanya manusia biasa yang hidup demi mempertahankan diri dan orang yang kami cintai! Kutanya sekali lagi, apa kau bisa memulangkan kami?!!!" [Higiya]
Itu..., pernyataan dan pertanyaan yang bagus. Kupikir ia hanyalah otak-otot. Aku berpikir kira-kira apa jawaban raja. Aku sudah yakin ia takkan mampu untuk memulangkan kami. Dan aku juga, ingin menikmati dunia ini sesaat. Tapi menjadi Pahlawan yang slalu dipuji di percaya dan dikagumi sama sekali bukan keinginanku. Ah, aku jadi ingat dengan Rafa Naulan, ia bahkan sudah lelah dengan hal seperti itu. Aku sama sekali tidak ingin sepertinya.
Baiklah aku akan membantu si otot ini.
"Oi Raja! Apa kau bisa mempertimbangkan kata-katanya? "
~
Taak
Ksatria di belakang raja itu menghentakkan tombaknya, ada apa? Apa dia marah karena aku memanggil rajanya dengan tidak sopan. Yah biarlah, aku hanya ingin raja itu bertanggung jawab.
"Hm... Saya, tidak... kami mohon maaf wahai Pahlawan. Kami tidak bisa memulangkan anda semua, bahkan untuk pemanggilan... Kami sudah menggunakan sihir gabungan dari 50 penyihir tinggi kerajaan. Dan kami belum menemukan cara untuk memulangkan para pahlawan. Saya... mohon maaf " [Robert]
(Sudah kuduga)
"Jadi kalian hanya tau cara membawa kami kemari tanpa tau cara memulangkan kami?!!!! "
Bruak
"Dasar Bodoh!!!"
Tepat setelah aku mengucapkan kalimatku, si otot itu langsung melontarkan kata kotornya...
( Oi! Kau hampir menghancurkan mejanya)
Aku ingin memperingatinya.
Si otot ini berdiri dan meluapkan emosinya pada raja yang duduk diam sambil menahan ksatrianya bergerak. Dan si gadis boneka masih menangis menyembunyikan wajah dibalik baju belakang si otot.
Tekanan udara jadi terasa semakin kuat, apa perlu aku cairkan?
"... Tapi ada cara lain, di wilayah Iblis terdapat peralatan-peralatan sihir tingkat tinggi dan perkamen-perkamen kuno. Ada kemungkinan kita bisa mendapatkannya dan membuka jalan bagi kalian untuk pulang. " [Robert]
Uhm, ia sudah duluan bicara.
¡°... Dan itu akan menjadi hubungan kerjasama yang baik, Kerajaan kami akan terselamatkan dari ancaman iblis, dan kalian juga dapat pulang ketempat asal kalian.¡± Lanjutnya.
(Siapa yang menjebak kami ke dunia ini??)
Aku ingin mengatakannya saat emosiku sendiri sudah mulai memuncak. Mereka seenaknya menjebak kami ke dunia ini, lalu memaksa kami untuk bekerja dengan mereka. Jaminan bagi kami untuk pulang adalah hanya pada perkamen sihir yang dimiliki oleh kerajaan iblis, yang belum pasti kebenarannya. Nasib kami memang burur.
"Pada akhirnya kami harus melawan ras Iblis, untuk dapat pulang. " kata Higiya dengan nada suram.
"Tidak ada pilihan lain, pahlawan."
Tampilan si otot semakin suram. Aku tau apa yang di pikirkan olehnya, tapi aku tak dapat memahamj perasaannya, ia kuat untuk apa takut? Oh, mungkinkah karena si gadis boneka? Ya itu pasti, perasaan ingin melindungi orang yang di cintai. Aku tak dapat membayangkan apa yang terjadi padanya jika gadis itu menghianatinya. Itu pasti sakit sekali.
"...hiks... Hiks" dan gadis boneka itu tidak berhenti menangis. Ia benar-benar anak yang cengeng.
"Myuka, kita pasti akan baik-baik saja percayalah padaku. Kita akan tetap hidup. " Higiya berusaha untuk menenangkannya, sebagai kekasihnya.
"Un... Ya, "
Dari yang terlihat, cinta diantara mereka berdua begitu besar, tapi itu belum semuanya. Kehidupan mereka sebelumnya hanyalah kehidupan anak sekolahan yang damai tanpa pernah mempertaruhkan nyawa sekalipun. Namun sekarang tidak, mulai saat ini cinta mereka benar-benar akan diuji dengan nyawa sebagai taruhannya. Aku tidak sabar melihat.
"Okey, jadi bagaimana dengan tempat tinggal kami? " aku menyanyakan kepada raja itu tentang dimana rumah kami mulai sekarang.
Tentunya tempat tinggal adalah hal yang utama. Jika ada pelatihan tempur nantinya ada kemungkinan bahwa kami akan tinggal di kerajaan. Tapi aku tak bisa menganggap akan seperti itu.
"Hm... Trimakasih sudah bertanya. Anda semua akan tinggal di asrama kerajaan dan akan mengikuti pelatihan mulai besok. Silakan nikmati penyesuau diri anda di kerajaan untuk satu hari ini" [Robert]
Oh, jadi ternyata memang di kerajaan, tebakanku benar... baiklah aku akan berkeliling untuk satu hari ini. Mencari informasi tentang dunia ini adalah hal pertama yang harus kulakukan.
...........
Dan untuk beberapa menit ruangan ini senyap, termenung? Bahkan Seigi dan wanitanya.
"Jadi... Bisakah kami menuju kamar kami sekarang? "
Setelah itu sang Putri pun mengantarkan kami ke kamar masing-masing.
"Hm.... Saatnya berkeliling... "
Pov end
~~~
Note :
- HP = point darah / daya hidup / nyawa.
?MP = point mana / daya sihir
?SP = point stamina / tenaga
?Fisik = Tingkat kemampuan atau kekuatan fisik seseorang
?Sihir = Tingkat atau level kemampuan sihir seseorang
......
Tbc.
Chapter tiga
Seperti yang kulihat dari jarak jauh. Desa ini unik, rumah dari bangkai pohon dan jamur raksasa. Warganya merupakan ras demi-human.
Setelah aku memasuki desa, tatapan tidak senang ditunjukkan oleh semua warga terhadapku, aku menghiraukannya. Bukan berarti aku tidak terusik soal itu, aku paham bahwa ras manusia dan ras demi-human sering bertolak belakang. Manusia selalu memandang rendah terhadap demi-human dan menjadikan mereka budak. Itu kasus di 90 persen dunia yang sudah kukunjungi.
Tapi aku tidak termasuk dari salah satu jenis manusia seperti itu. Sebenarnya aku bahkan tidak lagi menganggap diriku manusia, sudah jelas karena kekuatan jauh di luar batas manusia. Untuk saat ini yang kuperlukan adalah informasi, maka dari itu aku harus menyamar.
Sialnya penyamaranku terbongkar.
Seorang werewolf berbadan besar berotot dan bertelanjang dada terlihat segar dan aura kekuatan yang besar, dan juga rambutnya yang mulai beruban mulai mendominasi di kepalanya. Yang mengherankan adalah, ia menatapku dengan tatapan yang berbeda dari yang lainnya. Ia mungkin adalah seorang tetua disini atau juga kepala desa disini, itu hanya tebakan.
Tapi ada apa? Dengan tatapannya? Belum lagi keringat yang mulai muncul di wajahnya, seperti seorang yang ketakutan sekaligus terkejut, yang berusaha menyembunyikan wajahnya. Aku ragu ia mungkin mengenalku, karena aku juga merasa tidak asing dengannya, ia cukup familiar. Tapi siapa?
Tap
Lalu tiba-tiba ia jatuh berlutut dihadapanku, membuat kaget semua warga termasuk diriku.
"O-oi... "
Aku mencoba untuk menyapanya. Tapi sekali lagi ia mengejutkanku
"S-selamat datang kembali, master"
~
(Ha? Master?....Hm.. tunggu apa itu dia? Sibocah serigala itu, pantas saja terasa familiar)
Aku ingat dulu, salah satu muridku adalah seorang dari ras werewolf, namanya Zelioth. Nah, sepertinya aku sudah tidak membutuhkan lagi penyamaran.
Borgol di tanganku retak kemudian jatuh ke tanah. Ya, kupikir aku tidak harus menggunakannya lagi. Tak ku pedulikan reaksi pasukan penyergap dan pemimpinnya Gora, yang bertambah terkejut serta marah dengan tindakanku.
"Hoi! Manusia, sialan! Apa yang kau lakukan pada Zelioth-sama! Hah? "
"...."
Apa ia berpikir aku melakukan sesuatu terhadapnya tetuanya, apa ia bodoh? Harusnya ia paham sendiri apa yang terjadi. Sudah jelas, aku bukan musuh disini.
"K-kau telah berbohong! Bre-"[Gora]
"Gora! Hentikan itu! " [Zelioth]
Aku cukup panik, kupikir ia akan menyerangku dan setelah itu aku akan membunuhnya. Untungnya Zelioth langsung menegurnya. Aku berpikir berapa lama waktu yang telah terlewati hingga membuat Zelioth ini menjadi tetua disini. Hm... Mungkin sangat lama.
".... T-tapi tetua, k-kau... ?"[Gora]
"Aku baik-baik saja, diam disana dan jangan mengganggu! " [Zelioth]
"B-baik" [Gora]
Gora diam, dan mengamati. Ia masih bingung dengan perintah tetuanya barusan. Bukan hanya itu, ia juga masih marah denganku, masih berpikir bahwa aku melakukan sesuatu pada tetuanya. Warga lain juga sama.
Sampai akhirnya mereka kaget besar dengan apa, yang diucapkan tetua mereka.
"Mohon maaf atas ketidaksopanan ini, master. Jadi izinkan sekali lagi saya katakan, sebagai muridmu. Selamat datang kembali kedunia ini, masterku, guruku, Armil-sama"
~~
""Ha? ""
"M-master Armil? M-manusia itu? T-tidak mungkin"
"D-dia, Armil-sama? "
"A-armil-sama? "
Dan keributan besar lainnya terjadi tepat setelah Zelioth mengucapkan namaku, nama asliku.
(Oi-oi... ada apa dengan perubahan situasi mendadak ini? Aku jadi canggung)
Kira-kira apa yang telah dilakukan Zelioth semasa aku pergi? Apa ia melakukan sesuatu terhadap namaku? Aku tidak ingin namaku dijadikan aliran kepercayaan baru dan disembah-sembah.
Merasa tidak nyaman dengan suasana seperti itu, aku pun meminta Zelioth untuk membawaku ketempat yang nyaman untuk berbicara dan juga cemilan. Lalu aku mengikutinya.
Aku sampai di Sebuah pohon raksasa yang masih hidup dan Batang besarnya berpadu dengan batu hitam besar, yang berlubang dan berongga di bagian dalamnya sehingga dapat ditinggali. Aku tak habis pikir, bagaimana pohon raksasa itu masih dapat hidup setelah bagian dalam Batangnya yang berlubang besar dan berongga seperti itu, membuat bagian dalamnya lebih seperti kastil.
Mungkin keajaiban alam, dan bedanya akal sehat. Ya aku sudah paham itu seharusnya.
Masih mengikuti Zelioth, akhirnya aku tiba di ruangan santai yang di hadapkan pada jendela Batu langsung melukiskan pemandangan desa dari atas. Cukup menarik.
"Aku tak menyangka kau menjadi tetua di desa ini? " [Armil]
This tale has been unlawfully lifted without the author''s consent. Report any appearances on Amazon.
"Fufu... Telah banyak yang berubah sejak master, meninggalkan dunia ini" [Zelioth]
Ia berdiri dibelakangku, mengamati desa dari jendela.
"Banyak yang berubah? " [Armil]
"Ya... Bahkan kau juga berubah, master... lebih muda dari sebelumnya " [Zelioth]
"Ah, ini hanya efek dari kekalahan... " [Armil]
Merasa bosan di jendela, aku pun duduk di kursi yang telah disediakan, dan menyeruput minuman hangat yang juga telah di sediakan. Aku tak begitu tau apa ini, tapi terasa nikmat.
Zelioth juga ikut duduk di depanku.
"Jadi sudah berapa tahun terlewatkan? "[Armil]
"162 tahun. "
Baah
Tak sengaja aku semburkan minumanku sedikit. Seharusnya aku tak terkejut, tapi tetap saja.... itu bukan jumlah sedikit. Aku sudah melewatkan banyak kejadian.
¡±... itu lama... " [Armil]
"Aku juga tidak mengira ledakan di hutan kabut adalah ulah master. "
"Yah, sudah 10 tahun aku tak menggunakan kekuatanku, itu membuatku kesulitan untuk mengontrolnya saat teleport ke dunia ini. " [Armil]
"Perbedaan waktu sangatlah kejam. " [Zelioth]
"Ya, yang seperti itu takkan dapat diatasi dengan mudah" [Armil]
Sekarang aku sudah sampai di dunia ini, apa yang akan kulakukan pertama kali? Dan kemana aku harus pergi?. Aku sudah memutuskannya dari awala, bahwa aku akan kesana.
"Aku ingin bertanya, desamu ini di daerah mana? Kalau bisa aku ingin ke tempatnya secepatnya " [Armil]
"Ke tempatnya? " [Zelioth]
Ia menunjukkan wajah bingung. Ayolah... tidak mungkin ia tidak paham maksudku! Apa ia benar-benar muridku?
"Ya, tempatnya! " [Armil]
Zelioth terdiam dan tersenyum sedikit, lalu menjawab.
"... Aku paham, desa ini berada di barat kerajaan Hyugland. Jika master terbang ke langit, maka akan terlihat kota manusia 5 mile dari sini. " katanya sambil tersenyum.
"Kamu tau ukuran mile? " [Armil]
"Bukankah itu ajaranmu master? " [Zelioth]
"... Oh benarkah?... " [Armil]
Aku tidak ingat pernah mengajarkan fisika bumi kepada mereka. Aku memang telah mengajarkan banyak hal sejak pertama kali aku datang ke dunia ini dan bertemu dengan mereka. Aku tidak ingat apa saja yang telah aku ajarkan.
"Ngomong-ngomong, kenapa master baru datang ke dunia ini setelah 10 tahun? Kenapa tidak-" [Zelioth]
"-Aku lupa ingatan! " [Armil]
"Lupa... Ingatan? " [Zelioth ]
Zelioth sedikit memicing matanya. Sepertinya ia sulit untuk mempercayainya, bagi masternya untuk lupa ingatan dan melupakan mereka semua.
¡°Maafkan aku, tapi setelah kekalahan itu... aku tidak mengingat apa-apa dan berada dalam wujud yang berbeda...¡±
".. Kalau tidak karena pemanggilan pahlawan, ingatanku takkan kembali dan aku juga takkan pernah kembali kesini, aku harus berterimakasih pada yag melakukannya." [Armil]
¡°Pemanggilan pahlawan? Jadi kerajaan sudah berhasil melakukan pemanggilan pahlawan, padahal sebelumnya itu hanyalah sesuatu yang mustahil. Mereka telah berkembang.... Tapi sekarang aku harus berterima Kasih kepada mereka karena telah mengembalikan ingatan master." ia menunjukan ekspresi penuh syukur.
"Ya... Aku akan menyampaikan nya kalau sempat. Tapi kerajaan Hyugland bukankah itu hanya kerajaan kecil? Apa mereka yang melakukan pemanggilan pahlawan? Dan apakah telah terjadi peperangan dengan ras Demon?" [Armil]
".....Master telah banyak melewatkan sesutau." [Zelioth]
"... Huh, kau mengucapkan itu lagi. Tapi tidak apa-apa jika kau tidak ingin memberitahuku, aku akan mencari taunya sendiri!" [Armil]
"T-tidak bukan maksudku begitu, master. Aku hanya_ " Zelioth mulai pucat.
"-Sudah, tidak apa-apa, aku juga ingin terkejut" [Armil]
"Ha? " [zelioth]
"Aku juga ingin terkejut, dengan perubahan dunia ini. Tidak adil jika hanya kalian saja yang terkejut dengan kedatanganku. " [Armil]
"... Hoh fufu... Kau memang benar-benar master, kau tidak berubah, sifatmu masih seperti dulu." [Zelioth]
¡°Aku ini Egois... kau tau?¡± [Armil]
¡°Ya... begitulah master kami.¡± [Zelioth]
Aku kembali berdiri karena minuman yang sudah habis, dan juga ingin melihat pemandangan sekali lagi...
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang. " [Armil]
"Hu? Apa tidak terlalu cepat. " [Zelioth]
"Hn? Seperti yang kukatakan barusan, aku juga ingin terkejut, jadi berlama-lama disini hanya akan memperbesar rasa penasaranku saja "
"Fufu, jadi begitu. Master sedang penasaran. Seharusnya aku paham itu. Maafkan aku, " [Zelioth]
Ia menundukan kepalanya. Sungguh hal kecil begitu tidak perlu untuk meminta maaf. Dan kali ini aku jadi semakin bersemanga, telah berapa jauh dunia ini berubah sejak kutinggalkan.
"Hei, sudah tidak perlu, lebih baik kau antarkan aku ke gerbang. Aku akan pergi sekarang" [Armil]
"Baiklah... " [Zelioth]
Setelah itu aku turun dari kastil pohon raksasa. Oh aku tidak tau namanya, baiklah aku akan bertanya...
"Oi, apa nama dari pohon raksasa aneh ini" [Armil]
"Pohon? Oh pohon ini. Namanya pohon istana" [Zelioth]
"Fhufu... Seperti yang kupikir kan" [Armil]
Jadi namanya pohon istana. Aku tak mengira namanya akan mirip dengan apa yang ada di pikiranku.
Selagi berjalan aku melihat ekspresi semua penghuni pohon istana, para pengawal dan ksatria desa sepertinya. Ekspresi mereka masih seakan mencurigaiku. Biarlah, harusnya aku tidak peduli dengan itu.
"Apa master berniat untuk terbang setelah melewati gerbang? " [Zelioth]
Oh, Zelioth bertanya, aku tidak melihat wajah bingungnya beberapa saat lalu.
"Tidak, aku masih belum dapat terbang, kekuatanku masih disegel. Jadi aku hanya akan berjalan saja.." [Armil]
"Oh, maafkan aku karena tidak mengetahuinya " [ Zelioth]
Ia minta maaf lagi, harusnya tidak perlu.
"Hentikan itu, tidak perlu minta maaf! " [Armil]
"Baiklah... "[Zelioth]
Kami pun sampai di gerbang desa, diikuti oleh Gora dan pasukannya juga beberapa warga yang ingin melihatku. Seperti dugaanku, mereka masih curiga.
"Tetua! Apa memang benar ia adalah mastermu Armil-sama? " [Gora]
"Kau masih meragukan itu Gora?! Aku kenal bagaimana sifat master dan kekuatan nya, tidak ada kesalahan saat aku berbincang dengannya, ia memang masterku! " [Zelioth]
Aku lupa. Aku belum bertanya bagaimana namaku bisa dihormati sebegitunya di desa ini. Tapi baiklah aku akan mencari tau nya sendiri.
"Armil-sama mohon maaf atas perlakuan burukku, dan pasukanku tadi. Saya benar-benar minta maaf" [Gora]
Ha? Permintaan maaf lagi, dan apaan dengan perubahan tanggapan secepat ini. Lalu si ksatria tombak werewolf.
"Mohon maafkan saya yang telah menyerang anda Armil-sama, saya bersedia untuk menerima hukuman " [Rig]
Oi, oi... Aku sama sekali tidak punya niat untuk memberikan hukuman. Lalu, apa yang harus kukatakan. Pada dua orang yang menunduk ini.
"Sudah! Angkat kepala kalian, kalian ingin hukuman? Baiklah, berlatihlah dan perketat pertahanan desa kalian. Sergapan sebelumnya sudah baik, tapi ditingkatkan lagi! Itu saja! " [Armil]
"Hn, terimakasih Armil-sama, akan saya jalankan" [Gora]
"Terimakasih Armil-sama" [Rig]
Sekarang mereka tersenyum penuh semangat. Tidak ada lagi kecurigaan. Aku juga puas. Sepertinya tidak ada lagi yang aku perlukan jadi aku akan berangkat sekarang.
"Zelioth! Sepertinya tidak ada lagi yang kuperlukan bukan? " [Armil]
"Tidak! Masih ada! " [Zelioth]
Jawaban tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Aku pun menoleh padanya. Ditangan terdapat kain seperti jubah yang dilipat.
"Apa? "[Armil]
"Ini! Tidak mungkin master akan berjalan dengan pakaian itu. Master akan di curigai." [Zelioth]
Ia memberikan jubah itu padaku. Jubah hitam dengan hoodi atau penutup kepala dan dua kantong di depannya, benda ini menarik. Sungguh tidak terpikirkan, aku masih memakai seragam sekolahku. Menyadari itu, aku langsung membuat ekspresi payah. Aku bersyukur Zelioth mengingatkanku.
"Terimakasih sudah mengingatkan, dan terimakasih sudah menyiapkan jubah ini.. " [Armil]
"Hu... Tidak masalah, aku juga senang" [Zelioth]
Baiklah, kalau begitu kurasa tidak ada lagi kepentinganku disini. Aku akan pergi dan mengucapkan sampai jumpa. Karena, aku tidak berniat untuk tidak singgah ke sini lagi nanti. Sekarang aku harus menemuinya, lalu kemudian 5 muridku yang lainnya. Salah satunya manusia dan salah satunya adalah demon. Jadi tidak menutup kepastian aku akan ke wilayah mereka.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi.."
"Ya... Nikmati perjalananmu master... "
"Sampai jumpa! Aku akan singgah kemari suatu hari nanti. "
"Ya.. Kami akan menantikan master pada saat itu.. Sampai jumpa"
Dengan begitu, aku melesat ke dalam hutan, semakin jauh dan semakin jauh dari desa sang murid, yakni Zelioth.
Sangat cepat aku berjalan. Dan sambil berjalan aku mencoba untuk mengkonsentrasikan kekuatanku agar dapat mengontrol nya dengan baik saat di kota manusia.
.
~~~
.
Tap tap tap
Hentakan kuat langkahan kaki terdengar di sepanjang koridor mewah itu. Rambut pirang panjangnya bergoyang kesana kemari, karena jalannya yang terlalu cepat. Pakaian mewah dengan lambang kerajaan jelas terlihat di punggung nya. Namun moodnya tampak sangat buruk, dilihat dari ekspresi wajah cantiknya yang masam.
Baam
Ia membanting pintu sekuat mungkin, dan memaksa masuk. Orang di dalam ruangan itu sama sekali tak bergeming dengan bantingan pintu tersebut. Ia masih tenang menatap keluar jendela. Orang itu tak lain adalah Raja.
"Ayah! Bukankah Sudah kukatakan padamu tidak perlu melakukan pemanggilan pahlawan. Lihat bagaimana reaksi mereka, hasilnya seperti ini!!. " [Gadis pirang]
"Berapa kali sudah kukatakan padamu! Hah!? " [Gadis pirang]
"Tenanglah Himria, tidak ada cara lain. Sudah puluhan tahun lebih kita berperang dengan ras Demon, kau tau kita selalu kalah. Beruntung kita masih dapat mempertahankan kerajaan. Pemanggilan pahlawan adalah jalan terakhir kita untuk menang" [Raja]
"...., tch kau selalu mengatakan hal yang sama, dunia ini adalah milik kita bukan milik mereka, ini tanggung jawab kita.... argh,... terserah ayah... Silahkan urus sendiri para pahlawan itu. Aku tidak perduli, mereka hanya sekumpulan bocah lemah yang sama sekali tidak paham apa itu pertempuran!! " [Himria]
"Apa kau akan kembali kesana Himria? Aku sebenarnya ingin kau membantu para pahlawan untuk dapat semakin kuat. Mereka adalah senjata kerajaan yang terbaik, aku ingin kau mengasahnya" [Raja]
Raja berbalik dari depan jendela. Menatap intens kedalam mata putrinya, sang Putri kerajaan Hyugland. Berusaha meyakinkan putrinya untuk percaya dengan tindakannya, menggunakan pahlawan sebagai senjata, sebagai alat.
"Ha? Senjata?... Aku tidak akan jatuh sepertimu, ayah.... Aku tidak akan pernah menggunakan manusia sebagai alat! " [Himria]
Putri itu pun membalik badannya bersiap meninggalkan ruangan tersebut. Ekspresi di wajahnya terlihat lebih kesal dari sebelumnya....
"Himria! Tunggu!. Apa yang telah kau pelajari dari elf sesat sialan itu!! " [Raja]
Mendengar itu Himria berhenti.
"Suatu ideologi yang berbeda dengan dunia ini. Dan jangan sekali-kali kau mengatai hal buruk tentang guruku!!! Sekalipun kau adalah ayahku. " [Himria]
Setelah mengatakan itu Himria pergi meninggalkan raja sendirian di ruangannya. Putri Himria sangat menghormati
Terlihat bahwa ia begitu sangat menghormati gurunya, seorang elf.
"Dasar elf sialan! Berapa lama lagi kau akan tetap diam tentang perang ini... Kekuatan yang bahkan dapat melenyapkan Negara. Berapa lama lagi kau akan tetap diam elf brengsek! "
Brak
Ia sangat kesal sampai memukul dinding. Begitu kesal hanya terhadap seorang elf.
Sementara itu di suatu tempat yang jauh. Elf berambut Pirang gelap terbatuk tanpa sebab.
Ukhuk
"Sepertinya ada yang mengataiku hari ini... cepatlah, aku menunggumu... "
~~~~~
Tbc
Chapter empat
Beberapa jam kemudian setelah aku meninggalkan hutan kabut aku sampai disebuah kota perbatasan, kota Jerkin.
Saat ini aku sedang berada di salah satu bar kota dan sedang menikmati makan malamku berupa daging panggang tusuk, yang dioleskan saus hitam yang rasanya seperti kecap.
Bukan hal yang sulit untuk memasuki kota, hanya dengan menghipnotis para penjaga gerbang aku sudah dapat memasuki kota ini, tanpa perlu mengatakan sepatah kata pun. Tapi hanya unutk kali ini saat aku membutuhkan informasi lebih dari siapa pun, aku tidak boleh memanfaatkan kekuatanku untuk hal yang buruk terus-terusan. Hal itu hanya akan membawa dampak buruk pada jiwaku nantinya. Dan ia pasti akan marah.
Mayoritas penduduk kota Jerkin hanyalah orang biasa, pedagang dan petualang. Para petualang biasanya melakukan pekerjaan dengan melaksanakan quest-quest yang disediakan oleh guild. Dan para pedagang biasanya menjajakan barang dari luar atau dalam kota. Sebelum memasuki kota, aku juga melihat para pedagang dan para petualang yang mengantri di depan gerbang. Ini hampir seperti game. Ya, jika kuingat dulu memang begitu. Hanya saja dulu masih belum berkembang seperti sekarang. Aku memang telah melewatkan banyak hal.
Aku tak berpikir, kota di wilayah pinggiran, seperti ini akan memiliki penduduk sesibuk ini. Dulu seingatku kota dipinggiran tak beda jauh dengan desa. Bangunan mereka dominannya seperti rumah penduduk desa, dari kayu. Sedangkan sekarang dominan bangunan kota terbuat dari batu.
Hn, aku masih penasaran dengan kota-kota yang lain apalagi dengan ibukota kerajaan Hyugland. Sepertinya mereka menggabungkan banyak kerajaan kecil hingga membentuk sebuah kerajaan besar. Itu mungkin dampak dari peperangan melawan ras iblis. Bukan dampak yang buruk, kurasa.
Konflik antara ras iblis dan manusia menciptakan persatuan antar kerajaan manusia, yang biasanya saling berperang. Mereka menyatukan kekuatan untuk melawan ras iblis. Tapi aku masih bingung, bagaimana hal itu dapat terjadi? Dulu, tidak ada permushan seperti ini antar ras.
Namun sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu. Untuk saat ini aku harus kesana terlebih dahulu. Lalu aku mendengar pembicaraan beberapa orang yang kuduga adalah petualang, yang duduk di meja belakangku. Sebenarnya niatku disini memang untuk mengumpulkan informasi.
"Hei! kau tau, kudengar Academy town kembali membuka pendaftaran murid baru" [petualang A]
"Yah... Aku sudah tau itu, aku sudah mendaftarkan putriku sebulan yang lalu... " [petualang B]
"Sebulan yang lalu? Kau tak menceritakannya padaku? " [petualang A]
"Untuk apa? Kupikir itu percuma saja" [petualang B]
"Ha?" [petualang A]
"Kau mau masuk kesana bukan? Itu percuma, mereka membatasinya dengan umur, untuk manusia batasnya adalah umur 20 tahun. Kau sudah 36, mana bisa masuk kesana, dasar bodoh!!" [petualang B]
(Oh, jadi sekarang ada yang namanya Academy ya?, dan namanya ''Academy town'', apa kah itu sebuah kota Academy? Kenapa mereka memberi nama yang membosankan seperti itu,... tapi... menarik.)
Setelah mendengar informasi yang menarik aku kembali diam dan mendengarkan pembicaraan lanjut mereka, sambil meneguk segelas air. Tapi akhirnya aku terkejut...
"Begitukah? Jadi tidak bisa ya, padahal aku ingin melihat kecantikan elf yang seksi itu" [petualang A]
Mereka membicarakan tentang elf. Ras elf yang biasanya identik dengan hutan karena ras mereka yang tinggal di hutan dan menjaga kelestarian hutan dengan ketat. Kadang mereka dijuluki sebagai peri hutan, karena ras mereka masih kerabat dari ras peri. Ciri-ciri mereka adalah bertelinga panjang dan berbadan ramping. Ras elf juga adalah ras paling Setia kepada orang yang dipercayainya dan takkan pernah menghianatinya. Jenis ras yang tunduk dengan masternya.
Seringnya elf wanita, di jadikan budak s*x karena bentuk tubuh mereka yang mempesona, belum lagi keindahan dari telinga panjang dan wajah halus mereka. Tapi ada satu elf yang berbeda di dunia ini, seorang elf wanita yang kekuatannya diperkirakan dapat melenyapkan sebuah kota dalam sekejap, bahkan lebih. Jantungku berdetak kencang mengingatnya, perasaan ini semakin memuncak kala aku mengingatnya.
(Elf? Apakah itu...? tidak... tidak mungkin.)
Semakin ku perjelas pendengaranku.
"Ha?! Kau mau cari mati apa, daftar ke Academy hanya untuk mengintip keseksian kepala Academy, Felis Kelina sang elf paladin!? " [petualang B]
Brussh
(Apa? F-Felis? Jadi Kepala Academy? Dan Elf paladin?)
Sesuatu yang membuatku terkejut, hingga menyemburkan air di mulutku. Setelah mereka mengatakan tentang ''Felis Kelina''. Seorang elf wanita pirang gelap, yang menjadi teman pertama sejak petualanganku di mulai, dan yang selalu Setia denganku.
Sulit dipercaya
Dialah elf yang berbeda dengan yang lainnya. Itu karena ia adalah elf dari dunia yang berbeda, yang telah melakukan banyak perjalanan bersamaku, dan mendapatkan banyak kekuatan selama perjalanan. Di adalah teman seperjuanganku, kekasihku. Tapi aku tidak tau, sekarang ia sudah di takuti seperti itu, Elf Paladin? Kepala Academy? Yang benar saja... apa yang sudah kau lakukan selama ini, dan apa yang sudah aku lewatkan???If you discover this tale on Amazon, be aware that it has been stolen. Please report the violation.
"Hei... Kau bicara terlalu keras..." [petualang A]
Mungkin mereka menyadari aku terkejut. Itu karena aku cukup kuat menyemburkan air dimulutku sehingga mereka mengetahuinya.
"Ah, maaf" [petualang B]
"...Aku tidak ingin ada orang yang merebut elf itu sebagai target cintaku, aku ingin menikmati kecantikannya.. Dan tubuhnya" [petualang A]
(Bajingan itu....apa yang mereka bicarakan?)
Entah kenapa aku menjadi panas dan ingin menghajar mereka. Mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan. Itu seperti pelecehan bagiku.
"Sebaiknya jangan, kau hanya akan mati sebelum berhasil mendapatkannya! Elf paladin tidak se-bodoh dan se-lemah yang kau kira. Tapi..... aku juga ingin menikmati nya sedikit" [petualang B]
Bruak
Suara hentakan tanganku di meja terdengar oleh semua orang di ruangan itu. Mereka merasa terganggu dan itu membuat mereka menatap kesal padaku.
"Bisa tenang, tidak?! " [orang1]
"Jangan berisik!! " [orang2]
"Tolong tenang, tuan! " [pelayan]
Sedangkan aku hanya berdiri diam sambil menunduk. Perasaanku pukulanku tadi cukup pelan. Mungkin aku tak menyadarinya karena emosi. Aku bersyukur tak menghancurkan meja ini, karena aku tidak mau repot membayar uang ganti rugi.
"Hei, bocah! Jangan berisik kau! [Petualang A]
"...."
Aku diam sejenak mencari kata-kata yang Bagus untuk di ucapkan. Lalu, merasa sudah siap aku pun menoleh kearahnya, sambil menunjukan tatapan dan ekspresi menantang. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya. Tapi aku yakin, emosinya meningkat setelah melihat reaksiku.
"Terimakasih informasinya, dengar pak tua! aku! akan ke Academy town dan mendapatkan elf itu lebih dulu! dan menjadikannya milikku! Sehingga kalian tidak akan bisa mendapatkannya. Dan.... Tentunya, Aku juga akan menikmatinya.... tua-tua seperti kalian tidak pantas mendapatkannya!! "
Entah dari mana munculnya kata-kata jahat seperti itu, tapi sebenarnya itu tidak benar. Aku memang sudah mendapatkannya sejak lama. Aku tidak benar-benar melakukan hal-hal kasar terhadap Felis. Tapi jika kuingat, dulu malah ia yang sering memintaku untuk melakukan hal-hal kasar itu.
"K-kau_" [petualang A]
Ekspresinya mulai kacau, kutebak ia tidak tau apa yang harus dikatakan. Kemudian pak tua disebelahnya tersenyum dan menggantikan ia untuk berbicara.
"Baik! Aku akan pegang kata-katamu bocah! Apakah kau akan berhasil mendapatkan elf itu atau tidak? Jika berhasil, aku akan memberikanmu putriku jika tidak aku akan memburumu sampai mati. Bagaimana? " [Petualang B]
Ia membuatku bertaruh, apakah aku bisa mendapatkan Felis, atau tidak. Jelas saja aku sudah mendapatkan hatinya sejak lama. Haruskah kukatakan itu? Tentunya tidak, aku tidak ingin membuat gempar sedunia.
Juga, aku tidak menginginkan putrinya sama sekali. Apa yang membuat seorang ayah berpikir untuk menjual putrinya sendiri? Aku tidak tau.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu bertaruh seperti itu, tapi baiklah! Akan kuterima"
Setelah mendengar jawabanku, ia pun tersenyum. Aku tak dapat mengartikan senyum itu, yang jelas itu bukan senyum jahat. Lalu ia mengulurkan tangannya.
Awalnya aku agak curiga apa yang akan dilakukannya, tapi ternyata itu aman-aman saja.
"Hm.... Cordy Mayor, itu namaku! "
Nama yang aneh kupikir. Lalu namaku... namaku... mungkin akan buruk jika aku memberitahukan nama asliku jadi, namaku bagi mereka adalah...
"?Baiklah... Aku Nikola Mylene,"
Alasanku tidak menggunkan nama asliku, aku takut ternyata aku sudah dikenal sebagai legenda di dunia ini. Dan kembalinya diriku akan membuat menggemparkan satu dunia.
" Dengan begitu kau, telah menerima taruhanku Cordy Mayor. Sang Raja taruhan yang tak terkalahkan, bertaruh untuk mendapatkan Felis sang elf paladin! Jika kau tidak berhasil aku akan memburumu sampai mati, tapi jika kau berhasil kau akan mendapatkan putriku sebagai hadiahnya!!!" [Cordy]
Ia mengucapkan itu dengan keras, dan itu menarik perhatian semua orang.
"""Uooo"""
Setelah itu cahaya muncul dari tangan kami yang bersalaman. Membentuk sebuah lingkaran biru lalu membungkus tangan kami, dan menghilang. Aku merasakan firasat buruk tentang hal ini.
(Sialan...)
Dan terlebih semua orang di ruangan menonton dengan takjub, bersorak, dan mata melongo. Mereka semua menghentikan makan dan menonton kami. Sepertinya pak tua ini, terkenal di kota ini. Dan Raja taruhan katanya? Aku jadi ingin tertawa, tapi kutahan.
Kemudian kami melepaskan tangan kami.
"Taruhan sudah di pasang, dan kau tidak akan bisa lepas darinya. Jika dalam waktu sebulan kau belum melaksanakannya, maka aku akan terus muncul didekatmu dan menerormu sampai mati!! Apa kau takut bocah? kau telah terjebak" [Cordy]
Ia mencoba menakutiku, dan mengatakan telah menjebakku. Itu percuma aku sama sekali tidak merasa terjebak. Namun setelah kupikir sekali lagi, kurasa aku memang terjebak, untuk mengurus putrinya suatu hari nanti. Ah, aku takkan peduli soal itu.
"Fhufu... Aku tidak takut. Aku bahkan akan menyelesaikannya dengan cepat. Itu hal yang mudah..." [Nikola]
"Bhuahahaha... Aku suka gayamu. Kalau begitu buktikan. " [Cordy]
"Baik., kurasa sudah cukup, aku pamit dulu. " [Nikola]
Dan, datang sudah satu masalah.
Aku sangat tidak ingin menciptakan harem dimasa depan kelak, ataupun di masa yang telah berlalu. Jadi akan ku pikirkan soal Putri tuan Cordy kapan-kapan.
~
Setelah pamit, aku membayar makanan dan menuju keatas, tepatnya ke kamar sewaanku. Seperti yang kukatakan sebelumnya ini adalah penginapan dan restoran.
Aku beruntung, ternyata Zelioth telah menyiapkan 10 koin emas di kantong jubah yang di berikannya.
Uang disini terbagi atas koin tembaga, perunggu, perak, dan emas. 1 koin emas sama dengan 10 perak, sama dengan 100 perunggu, dan sama dengan 1000 tembaga. Dan biaya penginapan satu malam adalah 1 koin perak, ditambah makan malam 3 koin perunggu. Itu biaya yang cukup murah bagiku.
Kemudian aku juga telah menerima taruhan aneh, dari orang aneh. Yang menawarkan Putrinya sendiri seperti barang. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang ayah bisa menjadikan putrinya sebagai hasil taruhan untuk orang yang tak dikenal. Hanya satu yang bisa kusimpulkan, ''ia gagal sebagai seorang ayah'', mungkin saja, atau ''ia sudah muak dengan kenakalan putrinya'' itu akan menjadi buruk jika aku menang.
Huh..., sudah banyak aku menyaksikan hal seperti ini, di bagian dunia-dunia yang lain.
Jadi tidak ada gunanya aku berpikir terlalu keras, yang ku perlukan saat ini adalah istirahat untuk perjalanan besok, ke-Academy town. Sebelum itu, aku mengirim sebuah transmisi,
Aku akan ketempatmu, jadi tunggu aku disana. Aku akan dalam mode penyamaran.
Setelah itu aku tidur. . .
~~
Di sebuah gedung Indah, di salah satu ruangan yang lampunya masih menyala, dan berbeda dari semua lampu atau alat penerang sihir yang ada di dunia itu.
Seorang elf wanita berambut pirang gelap, Felis Kelina. Menatap lembut ke-kejauhan kawasan hutan di hadapannya, lewat jendela yang terbuka dan angin yang menggoyangkan rambutnya dan menerpa tubuhnya, membuatnya lebih erat memeluk dirinya di dalam mantel merah gelap yang hangat itu.
"Baik... Aku akan menunggumu, Sayangku Armil"
Lalu air mata mengalir di wajah cantiknya, dan jatuh ke lantai. Ia menangis bukan karena sedih, lantaran itu karena ia senang, dan bahagia. Setelah menerima sebuah kabar, langsung tanpa perantara.
Kemudian ia menutup jendela mematikan lampu, dan berjalan menuju kamarnya.
Lalu, tidur...
~~~
Beberapa Bulan yang lalu, sebuah desa telah hancur menjadi reruntuhan kerena serangan goblin. Semua laki-laki disana terbunuh, sedangkan perempuannya menjadi mainan bagi para goblin. Tempat itu pun menjadi sarang goblin
Jeritan dan tangisan para wanita berperut buncit, yang selalu di jadikan objek hubungan badan untuk para goblin, telah menjadi musik di reruntuhan itu. Disana mereka menggali lubang dan membuat goa. Reruntuhan desa menjadi tempat yang menyeramkan sejak saat itu.
Hal itu membuat kecemasan penduduk Kota dan desa di sekitar reruntuhan desa itu. Quest-quest pembersihan sarang goblin pun telah ditempelkan di guild petualang kota dan desa, sebagai misi rank-B. Akan tetapi setiap party petualang yang mengambil quest tersebut, belum ada satupun yang kembali. Hingga harapan penduduk hampir musnah.
Hal seperti itu harusnya ditangani oleh guild petualang bagian pusat di ibukota. Namun karena jarak dan kondisi tertentu menghalangi jalannya informasi dan bantuan. Guilp petualang bagian pusat memang sudah mengetahui itu, tapi mereka belum mengambil tindakan tentangnya.
Sampai akhirnya quest itu diambil oleh salah satu party atau kelompok besar,serigala kuning. Dengan begitu harapan penduduk kembali tumbuh terhadap mereka. Bukan hanya penduduk biasa, bahkan bangsawan yang mengepalai kota itu pun berharap banya kepada Party serigala kuning. Meskipun ia tidak memikirkan keselamatan mereka, ia masih memikirkan nasib penduduk kotanya nantinya.
Party serigala kuning pun memanggul banyak harapan di pundak mereka.
Dan pagi yang Indah itu adalah hari keberangkatan mereka.
30 orang yang merupakan campuran dari petualang rank-B dan rank-A, berjalan di kota dengan kereta dan kuda mereka. Penduduk kota memberi jalan untuk mereka hingga sampai ke pintu gerbang. Mereka menatap Party serigala kuning dengan tangan di dada mereka seakan mengatakan. ''Semoga berhasil''.
Mereka berharap banyak pada Party serigala kuning.
"Ketua... Ayo kita berangkat. "
"Ya... Menuju pertempuran "
Pagi itu serigala kuning berangkat menuju pertempuran mereka.
~~~~~
chapter lima
~
Pernah ada yang mengatakan,
''jangan buat seorang gadis menunggu''.
Kalimat itu tentunya di tujukan bagi sepasang kekasih. Banyak cabang makna dalam kalimat itu. Jika berpikir dari cabang negatif, maka yang terpikirkan adalah untuk tidak membuat si gadis menunggu terlalu lama untuk kedatangan lelakinya di ranjang. Sedangkan cabang positifnya adalah untuk tidak membuat si gadis menunggu terlalu lama akan kepulangan lelakinya.
Dan situasiku ada di cabang positif.
Bagaimana pun aku akan berusaha secepat mungkin mencapai tujuanku. Walaupun waktu normal tercepat untuk kesana adalah 2 bulan, aku akan melampauinya. Kerinduanku mengalahkan batasku.
Setelah check out dari penginapan, aku mendapat sedikit informasi tambahan dari pemilik penginapan. Mungkin ini karena aksiku tadi malam, yang membuat seisi ruangan ribut.
"Kamu terlalu berani untuk menerima taruhannya, nak. " ujar pemilik penginapan dengan santai.
"Aku sangat yakin dengan kemenanganku! " jawabku deangan yakin.
"Haha... Aku tidak tau dengan pasti dimana Academy town itu. Tapi kalau mungkin aku bisa membantumu sedikit," [pemilik penginapan]
Ibu pemilik penginapan ini ingin membantuku tentang sesuatu. Itu mungkin tentang academy town, tapi bantuan semacam apa itu?
"Ya... Boleh saja. Apa itu? " [Armil]
Lalu ia mengambil selembar kertas dari bawah meja resepsionis. Itu...
Selembaran pengumuman.
"Ini... "
Aku di berikan selembaran kertas berisikan tentang academy town yang membuka penerimaan murid baru. Disana juga di jelaskan rute untuk ke Academy town. Sebenarnya meskipun tanpa menggunakan ini aku sudah tau di mana Academy town itu. Tapi supaya tidak menimbulkan masalah lebih banyak, menggunakan ini mungkin lebih baik.
"Semoga perjalananmu lancar, nak."
"Ya, Terimakasih... sampai jumpa. "
Dia orang yang baik.
Aku tidak banyak bicara pagi ini. Setelah mengucapkan "sampai jumpa" dan memberikan senyuman, aku meninggalkan penginapan. Selembaran tadi kulipat dan kumasukan kekantong jubahku.
Untuk penyimpanan barang dalam jumlah besar aku memiliki semacam ''item room'', dimensi hampa yang hanya berfungsi sebagai penyimpanan benda mati. Sayangnya aku tidak memilikinya saat ini. Aku meninggalkannya bersama Felis.
Mencari tempat yang sesuai aku memanjat gedung tertinggi di kota. Dari atas sana aku melihat ke kejauhan.
(Masih sangat jauh)
Aku melihat ke kejauhan, dimana tempat matahari terbit, yang mana disanalah tujuanku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, normalnya waktu yang di butuhkan untuk ke Academy town adalah 2 bulan menggunakan kuda. Aku akan membuatnya menjadi 3 hari paling lambat.
Mungkin aku akan melewatkan banyak pemukiman setelah ini, yah aku tidak peduli. Kecepatan kuda biasanya berkisar antara 40-70 km/jam. Menurut perhitunganku jika mereka berjalan fulltime ke Academy town dan mungkin akan mengurangi menjadi 1 bulan , maka kira-kira jaraknya adalah sekitar 40000 km lebih, itu termasuk perjalanan memutari pegunungan dan hutan-hutan berbahaya, tapi karena mereka tidak berjalan fulltime pasti jaraknya kurang dari itu. Sedangkan untuk saat ini kecepatan penuhku adalah 1000 km/jam menyamai kecepatan suara. Maka kira-kira paling cepat aku akan sampai dalam 2 hari, tapi karena aku butuh istirahat maka akan jadi 3 hari.
Saat ini aku belum mampu untuk mencapai kecepatan cahaya, hanya sekali saat penyebrangan antar dunia. Itu karena aku menitipkan sisanya pada Felis.
Aku juga punya taruhan dengan si Raja taruhan Cordy. Apa ia memang mau membunuhku? Waktu tenggang taruhannya adalah 1 Bulan sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk ke academy juga 1 Bulan. Kenapa ia tidak memperpanjang waktunya sedikit. Tapi terserah, aku akan mencapai academy dalam waktu 3 hari.
Jadi tujuan utamaku saat ini adalah Academy town. Tanpa memperpanjang waktu, sebaiknya aku segera berangkat.
"Baiklah, ayo berangkat"
Setelah mengatakan itu, aku menghilang dari kota Jerkin.
~~~
Berjam-jam aku berlari, melewati banyak hal, hutan, kota dan desa. Beberapa kali aku mengejutkan para petani, dengan wujud sesosok hitam yang bergerak cepat. Dan beberapa kali juga aku menghajar dan mengahancurkan, monster dan pohon yang menghalangi jalanku.
Hanya ada sekali aku singgah di sebuah kota dan menyempatkan diriku untuk membeli makanan untuk makan malam, makanan hangat yang lezat. Kemudian aku melanjutkan perjalanan setelah memastikan makanan terbungkus dan tersimpan kehangatannya.
Hari menjelang malam dan aku harus segera mencari tempat beristirahat. Aku tidak tau sudah berapa jauh perjalananku, aku malas menghitungnya secara numerik.
''Tempat beristirahat'', pada saat aku menggumamkan itu, saat itulah aku menemukannya. Aku mendeteksinya dengan mataku, kemampuan melihat jarak jauh. Dan mendeteksi benar keberadaannya dengan kemampuan persepsi, yang bagaikan radar, mendeteksi pada radius 10 km lebih.
Desa yang terbengkalai, atau mungkin desa yang hancur, itu kesimpulan awalku. Suasana disini benar-benar menyeramkan, tapi tidak jika aku tidur dengan memandang keindahan cahaya bintang dilangit malam.
Aku tau desa ini awalnya milik manusia dengan melihat peralatan dan perabotan mereka. Namun sekarang sepertinya sudah di tempati oleh mahluk yang berbeda. Tidak ada cahaya selain cahaya bintang malam ini, aku heran kemana perginya Bulan. Sia-sia saja jika adanya desa tapi tak ada cahaya, yah... Aku tau ini adalah desa mati, tapi... memiliki suara bising desahan menjijikan? itu Aneh untuk sebuah desa mati.
Itu membuatku tidak bisa tidur, sehingga aku harus melakukan sesuatu tentang hal itu. Tapi nanti setelah aku kenyang, jadi untuk saat ini aku harus menganggap itu hanyalah musik penghibur dimalam hari.
Saat ini aku sedang berada di bangunan tertinggi yang seperti menara, hanya saja tidak memiliki atap karena sudah rusak. Ada beberapa kain dan kapuk. Aku pun menatanya hingga dapat digunakan untuk bersantai sambil menatap Bintang. Setelah itu aku mengeluarkan makan malamku dari bungkusan kain, berupa daging panas dengan sayur rebus. Hanya sebuah makanan yang sederhana, tapi perut laparku membuatnya terasa istimewa.
"Ini lezat... " Gumamku.
Makan daging bercampur sayur, dengan sekantong air untuk minum, sambil memandang Bintang dilangit malam, dan dihibur dengan musik desahan dimalam hari.
Untuk bagian terakhir adalah hal yang ku paksa untuk dianggap sebagai ''indah''.
Help support creative writers by finding and reading their stories on the original site.
"Tapi sampai kapan musiknya akan berhenti... Aku terpaksa harus mematikannya nanti."
Aku benar-benar akan mematikannya nanti, karena aku tidak akan bisa tidur jika musik itu masih hidup.
.....
"Eeee.... "
Sendawa, tanda perutku sudah kenyang dan makananku pun sudah habis.
"Kenyangnya.... "
Aku mengabaikan makan siang dan hanya makan malam saja. Meski tadi siang aku tak merasa lapar tapi sekarang laparnya dua kali lipat. Aku menahan sarafku tadi sehingga aku tak merasakannya. Yang penting sekarang aku sudah kenyang, dan setelah istirahat sebentar, aku akan beraksi kemudian.
"Hua.... Aku masih penasaran dimana Bulan bersembunyi, hanya ada Bintang saja tak membuat malam menjadi terang. Tapi Indah. "
Di sekitar ruangan bobrok ini aku menemukan beberapa belati dan pisau meski tidak begitu tapi masih bisa di gunakan.
"Kurasa ini cukup. "
Dua belati dikedua tanganku dan beberapa pisau di kantongku. Ini cukup untuk pertempuran sederhana. Aku tidak tau berapa jumlah musuh, mungkin ratusan. Tapi tugasku hanya mematikan musik, itu saja.
Berdiri di jendela yang bobrok, aku memandang kebawah. Sekitar 7 meter ketanah dari tempat aku berdiri. Bukan masalah jika aku lompat ke bawah, malahan tanah itu yang mungkin tidak akan kuat menahannya.
"... Baiklah, ayo lompat. "
Sampai saat ini, aku hanya bergumam sendiri. Itu adalah kebiasaan burukku saat sendiri, jika ada yang melihatnya aku akan dianggap Gila...
Aku pun mencapai tanah, dengan lubang jejak kakiku yang tercetak di tanah. Jika orang normal ia akan langsung patah kaki ketika meniru adeganku barusan. Dalam artian aku bukanlah orang normal, lebih tepatnya abnormal.
Tak kusangka respon musuh begitu cepat. Baru saja aku berusaha melihat apa yang ada di depanku, aku langsung disambut oleh banyak musuh. Musuh alami para petualang, Goblin.
Aku malas menghitung mereka dan memperkirakan jumlah mereka. Lagi pula kuantitas tak berlaku bagiku, yang hanya kualitas. Aturan perang ''kemenangan ditentukan oleh jumlah'', aku sudah lama mematahkan sistem itu terhadap diriku. Mungkin aku memang sombong, tapi itulah kenyataannya.
Mereka semua waspada terhadapku. Aku juga memperhatikan genggaman yang semakin erat pada senjata mereka masing-masing. Sebegitu berbahayanya kah diriku?.
Aku lupa, insting mereka seperti hewan. Sehingga dapat mengantisipasi musuh.
"Ada yang mau maju duluan? "
Ya ampun kenapa aku masih bercanda disaat seperti ini.
"GUGAA.... "
Satu goblin maju sambil mengangkat pedangnya.
""Guga.... Guga..... ""
Dan diikuti oleh yang lainnya.
"Wuw... "
Mereka menyerang berkelompok. Ini sama sekali tidak adil. Tapi tunggu, aku tidak perlu takutkan? Ya sudahlah.
Tanpa ragu aku juga maju, menuju ke goblin itu. Dan memakai penutup kepalaku.
¡¡
sret
Aku tak merasakannya.
sret sret
Ini masih lembut.
sret sret sret
Ini terlalu cepat.
Tepat saat aku bergerak, memposisikan dua belati dengan kuda-kuda bela diri. Menebas goblin pertama dengan lembut tepat dileher. Lanjut dengan gerakan memutar menebas lima goblin dalam satu waktu. Ayunan belatiku yang serupa tarian pisau, menciptakan angin tajam yang juga menebas goblin yang tidak dalam jangkauan belatiku. Dan tak kusadari aku sudah menyelesaikan semuanya.
Aku menyesal melupakan sesuatu. Aku baru saja membuat jubahku kotor, dengan darah dan daging yang menjijikkan.
(Sialan! Huft... Ya sudah apa boleh buat)
Ini sudah terlanjur, jadi aku berniat untuk melanjutkannya saja. Aku akan membersihkan nya di sungai nanti.
Suara musik masih terdengar, aku beruntung itu mempermudahku untuk mencapai asalnya.
Terimakasih sekali lagi kepada Zelioth. Berkat jubah ini seragam sekolah yang kugunakan masih bersih. Meski tidak untuk sepatuku. Harusnya aku mengganti pakaian dulu saat akan kedunia ini. Aku menyesal, aku terlalu berantusias akan ke dunia ini kemarin. Yah, salahku.
Sambil mengikuti suara itu, aku bergerak dan menebas setiap goblin yang mendekat, kadang aku menendang kadang memukul. Namun sekali lagi aku dibuat lupa akan kekuatanku.
Saat aku menendang satu dari mereka, satu itu terpelanting menembus rumah-rumah, atau saat mengenai kepalanya, kepala itu hancur menjadi serpihan daging.
Saat aku memukul mereka, jika itu didada maka akan tembus sampai mengenai goblin lain yang dibelakangnya. Saat aku memukul kepala, kepala itu hancur.
Dan pilihan terbaik adalah menebas mereka, sehingga hanya akan menghasilkan irisan-irisan daging saja.
Hasilnya sekarang adalah tangan dan kakiku yang berlumuran darah, dan jubahku yang diselimuti darah. Bukan darahku. Mungkin sudah lebih dari seratus goblin yang kubunuh saat ini.
Aku pun sampai.
Suara itu berasal dari sebuah rumah besar yang disana terdapat lorong kebawah tanah. Kurasa mereka membuat tempat dibawah tanah sebagai tempat spesial untuk melindungi barang spesial. Sekarang percuma, aku akan melakukan sesuatu dengan itu dan barang spesial itu.
Aku masuk, sambil melangkah pelan.
slash slash slash
Lima goblin mati, lalu berdatangan lagi dan lagi. Semuanya kutebas.
Hingga aku sampai dipengakhir, tempat dimana musik menyala, dari suara desahan perempuan manusia.
.....
"Aah... "
"Uh, uh... Ah..."
"Arhg... Aaah... Ah.. "
"Astaga"
Begitu menjijikan.
Apa yang kulihat begitu menjijikan. Dan sambil diwaspadai oleh dua goblin yang aneh.
Perut buncit, telanjang, sambil dimainkan oleh goblin.
(Oi, apa kalian tak menyadari ada aku disini!!)
Aku ingin mengatakan itu, melihat mereka yang tak peduli akan kehadiran ku.
Beberapa ada yang berlinangan air mata, tapi raut wajah senang, juga dengan perut buncit, telanjang. Dan keluar sesuatu menjijikkan dari kelamin nya. Menggeliat dan berlumuran lendir putih, memiliki dua tangan dan dua kaki, kulit putih kehijauan, juga botak.
Itu bayi goblin, dari perut manusia.
"Bagaimana bisa?! "Tak sengaja aku terkejut.
Hal yang sama juga terjadi pada perempuan lainnya.
"Berhenti!... Manusia... "
(Eh? Dia bicara?)
Satu goblin yang masih mewaspadaiku, bicara sambil tetap menodongkan tombaknya.
Aku tidak tau ada goblin yang bisa bicara di dunia ini di dunia ini mereka tidak tergolong mahluk yang berakal, yah aku sudah melewatkan banyak waktu. Tapi goblin ini juga aneh, perawakannya lebih seperti manusia.
"Menjauhlah!... Dari ibu...! "
(Ibu? Siapa yang berperan sebagai ibumu disini ?)
Mereka mengatakan ''menjauh dari ibu'', aku tidak paham, masih banyak hal yang membuatku bingung, aku akan berpikir sebentar.
...
(... Ah aku paham, siapa ibu mereka. Dan juga Monster seperti goblin bahkan dapat dewasa dalam waktu satu minggu.)
Ibu mereka adalah gadis-gadis manusia itu, para perempuan yang menjadi mainan para goblin itu. Sungguh mengejutkan.
Dan mereka lahir dari perempuan manusia, kemudian mereka juga menggauli ibu mereka itu. Bagaimana menggelikannya itu?
Mereka merawat perempuan manusia, yang kini mereka sebut ''ibu''. Sebagai wadah untuk digauli, dan menghasilkan goblin baru, setengah manusia yang lebih cerdas. Sangat tabu, aku membenci situasi ini.
Bahkan di banyak tempat, menggauli ibu sendiri adalah tabu. Tempat dimana mereka lahir, disitu pula tempat yang juga mereka gauli. Ibu adalah orang tua yang harus dihormati, bukan untuk digauli. Dan disini ''ibu'' hanyalah sebagai pemuas dan pabrik.
(Tch...)
Aku akan segera melenyapkan semua ini.
slap slap
Dua pisau kulemparkan dalam satu waktu, menembus kepala dua goblin setengah manusia ini.
Mereka mati.
"A... A-anakku!..."
Satu dari perempuan itu meneriakkan dua mayat goblin ini.
(Njiirrt!!... Kau masih mengaggap dua goblin ini anakmu?... Meski kenyataannya memang benar sih... tapi mereka juga udah menghamilimu, oi!! )
¡°Bodoh sekali!!¡±
(Sepertinya aku tak punya pilihan selain membersihkan mereka semua)
"Hiks.... Hiks.... "
"Hiks.... "
Bagaimana bisa ia menangisi goblin ini. Meskipun memang benar, ini anaknya. Tapi anak dari goblin yang bahkan ia tidak tau wajahnya, seekor monster mesum yang menyerangnya dan membuatnya menderita.
Aku benar-benar tidak tau perasaan seorang ibu. Namun setidaknya ia harus bisa merelakan anaknya yang merupakan monster perusak yang juga merusak dirinya sendiri.
"Gu... Aa..... "
"Manu... Sia... "
Beberapa demi-goblin muda yang tampaknya baru saja menggauli ibu mereka, terkejut akan kedatangan ku. Dalam pikiranku, ''Apa mereka baru menyadariku sekarang?''.
slap slap
Mereka mati dengan cara yang sama seperti dua demi-goblin sebelumnya.
slap slap slap
Lalu aku membunuh goblin dan demi-goblin yang tersisa. Aku tak peduli maupun itu muda, anak-anak, ataupun bayi. Aku membunuh semuanya hingga hanya tersisa para ''ibu'', perempuan-perempuan manusia. Anehnya mereka menangis, meratapi demi-goblin itu, dan menatap marah padaku.
Bahkan dengan perut buncit mereka, mereka sulit untuk bergerak, apa yang bisa lakukan terhadapku emangnya?
Dan sekarang saatnya pembersihan.
Aku melepaskan dua belati ditanganku, lalu menengadahkan satu tangan, seperti berdoa. Bola cahaya kecil muncul disana, begitu terang. Kemudian bola itu membesar berkali-kali lipat, lalu terbagi menjadi sembilan buah dengan ukuran yang sama seperti sebelumnya.
Jumlahnya sembilan sesuai dengan jumlah perempuan manusia yang ada disini.
Kemudian bola cahaya itu melesat terbang ke sembilan perempuan manusia itu. Menembus dada mereka dan menyesak masuk ketubuh mereka.
"""Guah.... Argh....... Kya......"""
Teriakan tinggi melengking diteriakkan oleh masing-masing mereka. Aku yakin itu sangat sakit sekali, tapi hasilnya juga sepadan.
Ini adalah pembersihan yang kumaksud, kemampuan yang berasal dari unsur cahaya. Apa yang kubersihkan adalah jiwa dan raga mereka. Ini bukan hanya berasal dari unsur cahaya saja, tapi juga dari kemampuan manipulasi jiwa, dan manipulasi raga milikku.
Dari pada disebut pembersihan mungkin lebih tepat disebut, penyucian. Bukan penyucian biasa yang terasa menyenangkan seperti kemampuan pendeta di gereja, ini level yang lebih tinggi.
Hasil dari ini adalah mereka yang sudah diperkosa berkali-kali oleh goblin-goblin itu akan mendapatkan keperawanan mereka kembali. Sesuatu yang terdengar mustahil bukan?.
"""Uwarhg... """
Perut-perut buncit mereka mengecil, dan dari kelamin mereka tak henti-hentinya mengeluarkan cairan putih, darah, dan daging lembut. Kemampuan penyucianku juga sekaligus membunuh janin demi-goblin itu, mungkin itulah yang membuat sakit.
"Hiks.... urgh..."
Ada satu yang tak berperut buncit, masih seorang gadis belasan tahun. Ia menangis sambil menahan sakit, dan cairan putih tak henti-hentinya keluar dari sana, hanya cairan putih.
Hanya menunggu waktu, hingga kesakitan berubah menjadi kehangatan. Dan proses selesai.
~
(Huahm... Aku sudah ngantuk.)
Misi selesai, aku sudah mematikan musik. Menunggu proses selesai bukan kewajibanku. Aku ingin segera tidur.
Jadi aku keluar dari bekas markas bawah tanah goblin. Kini sudah menjadi ''bekas''
Saat aku akan keluar, lagi-lagi aku disambut oleh goblin dipintu masuk itu. Mereka lumayan banyak, dan marah. Tentu saja, aku baru saja memasuki markas mereka. Meski kini sudah bukan lagi markas.
(Ada berapa banyak goblin sih... Aku ngantuk)
Tanpa dapat dibaca oleh mata mereka, aku sudah ada di depan salah satu mereka dan menyentuh kepalanya. Kulit yang menjijikan, tapi aku ingin menyelesaikannya dalam satu aksi, ini terpaksa.
Aku berjalan menghindari mereka semua, aku tak ingin lari, aku ingin mereka semua mengikutiku.
"""Guga..... """
Dan mereka dengan mudah terpancing.
Tak lama aku sampai di bawah bangunan tempat aku makan malam sambil menatap Bintang. Diikuti dengan banyak goblin yang datang dari setiap arah, tanpa ada satupun yang menyerangku.
Itu Bagus.
"Huh... Saatnya pembersihan total. "
Bola cahaya kembali muncul di satu tangan ku yang mengarah kelangit, tangan yang sama saat menyentuh kepala goblin barusan. Bola cahaya itu semakin besar, besar, dan besar. Berkali-kali lipat dari ukuran manusia. Kamudian mengecil tiba-tiba dan kutembakkan ke langit, bagaikan peluru cahaya.
"Hoam... Huh... Harusnya aku tak melakukan ini, Felis akan marah nantinya. "
Cahaya juga memiliki kehangatan, dan bagaimana jika aku membuat kehangatan itu hingga dapat meleburkan mahluk hidup? Aku sudah menandainya hanya untuk goblin, jadi cahayaku akan meleburkan setiap jiwa dan raga goblin yang terkena olehnya.
Tsung
Pilar cahaya muncul dari langit dan jatuh tepat diatas diriku, lalu menyebar dalam sekejap mata hingga ke perbatasan desa mati ini.
Dapat di bayangkan apa yang terjadi dalam sekejap mata itu. Setiap goblin yang terkena cahaya lenyap tak berbekas, bahkan tak menyisakan secuil pun dari mereka. Cahaya yang begitu kuat, yang masih menarangi wilayah itu selang waktu 3 detik.
Setelah itu malam kembali seperti semula.
"Arh... Ngantuk sekali rasanya, aku mau tidur. "
Dan aku pun tertidur dikasur bekas bermandikan cahaya Bintang. Menganggap kejadian barusan, bukan sesuatu yang luar biasa.
Itu benar, ini hanya 1 % dari kekuatan penuhku.
~~~
Di balkon sebuah bagunan besar, seorang yang merupakan wujud keindahan untuk Armil berdiri disana. Elf paladin berambut pirang gelap, Felis Kelina.
"Uuh.... Kau mengundang banyak perhatian lagi sayang.... "
Ia terlihat kesal, dengan sebuah pilar cahaya raksasa yang muncul dari langit di kejauhan.
".... Kau masih belum berubah, aku senang. "
Tak sadar matanya sudah mengeluarkan air mata kebahagiaan.
"Aku tak sabar.... Bercinta denganmu, sayang. "
.
.
~~~~~
Tbc
Chapter enam
cit cit cuitt... cit cit cuitt
Burung-burung bersiul merdu di pagi yang cerah. Bertengger diatas kayu-kayu lapuk, sambil membersihkan badan dengan paruh kecil mereka.
Membersihkan diri, itu seperti mandi bagi manusia.
Pagi hari adalah saat yang baik untuk membuang kotoran. Dari makanan yang telah dimakan sehari penuh, akan diolah diolah dengan baik di dalam perut saat tubuh dan pikiran mengambil waktu untuk beristirahat. Bukan hanya manusia, itu juga berlaku untuk hewan.
Ada pun salah satu burung di sana, mengeluarkan kotoran dari lubang pencernaannya.
Tepat, kotoran itu jatuh di atas permukaan hangat, lembut, berwarna kream, kulit, dan sebuah pipi. Namun tidak ada respon.
Beberapa saat setelah itu. Kotoran kedua jatuh, ditempat yang sama.
"Woahm... "
Dan dengan teriakan itu, pria pemilik pipi itu pun terbangun.
~~
Jres...
Ini adalah sungai.
Setelah dibangunkan oleh burung dengan kotoran mereka. Aku bersegera mencari sungai setelah menangkap Burung yang melepaskan kotorannya diwajahku itu. Sangat tidak sopan, membuang kotoran diwajah seseorang. Meskipun aku tau ia hanyalah hewan yang tak berakal, aku tetap ingin menghukumnya.
Aku akan menjadikannya sarapan pagiku.
Air sungai pun berubah menjadi merah saat aku mencuci jubahku. Itu darah hasil pertempuran tadi malam. Bukan darahku tentunya.
Darah goblin.
Padahal aku hanya ingin mematikan musik tapi hal yang tidak diinginkan terjadi. Sangat menyebalkan jika bau darah dan daging itu masih melekat di jubahku.
Sambil mengeringkan pakaian dengan api yang kubuat. Aku membuat burung tadi menjadi daging burung panggang. Itu rasanya seperti daging ayam, tapi tidak selezat ayam.
Aku makan secukupnya pagi itu, dengan meminum banyak air.
Merasa perutku sudah terisi dan jubahku pun sudah kering. Aku pun melanjutkan perjalanan, menuju Academy town.
~~
Kurasa perjalananku hingga saat ini cukup aman. Tidak, tapi... sangat aman.
Tak ada satupun monster yang menyerangku hingga saat ini. Padahal sudah berjam-jam sejak saat aku berangkat. Aku tak menemukan satupun Magical Beast ataupun Demon Beast.
Itu mungkin wajar, daerah yang kulalui adalah daerah disekitar pemukiman dengan jumlah penduduk yang tinggi. Tidak seperti daerah pemukiman sebelumnya, yang di dekat perbatasan. Meskipun mereka ada, aku yakin mereka sudah lebih dulu diburu oleh para petualang.
Aku ingin makan siang. Tapi karena tidak ada monster maka tidak ada makan siang.
Aku tidak akan seperti kemarin, menahan makan siang dengan mematikan sarafku. Itu hanya memperburuk kondisi tubuhku. Meski aku kuat.
Jadi aku terpaksa memakan burung lagi. Cukup dengan melempar Batu, satu burung kudapatkan. Kupanggang dengan api lalu kumakan. Santapan yang sama seperti sarapan tadi.
Beruntung, aku mendapat beberapa buah sebagai pencuci mulut. Hanya meminum air saja tidak akan cukup. Dan juga buah ini lezat, dan tidak beracun.
Ini adalah saat bersantai.
Aku ingin mencoba sesuatu
Aku baru ingat, bahwa aku memiliki beberapa skill diantaranya adalah penilaian. Aku bisa melihat tingkat kekuatanku sendiri dalam bentuk numerik menggunakan skill ini. Singkatnya aku akan melihat statusku sendiri.
"
"
Dan data diriku pun muncul.
Nama :
-Armil Zefrana
-Rafa Travalgar
-Nikola Mylene
Usia : 260 tahun
Ras : High Human
Level : 1
?HP : 210.320/210.320
?MP : 295.340/295.340
?SP : 287.650/287.650
?Fisik: 344350
?Sihir: 327760
?Atribut : cahaya
?Skill :
-Penyucian. Lv 100
-Manipulasi raga. Lv 5
-Manipulasi jiwa. Lv 5
-Psikis. Lv 5
-Kombinasi. Lv 10
-Berpedang. Lv 6
-Bela diri. Lv 10
-?????
-?????
-?????
-?????
?Title : Great world traveler, Seorang master dari para murid, ?????, ?????, ?????, dst.
"Hm... "
Tiga nama yang kupunya, ada disana. Padahal nama ''Nikola'' aku hanya mengarangnya.
Lalu, angka numerik yang sangat kacau. Hingga ratus ribuan itu pasti sangat jarang. Seingatku dulu angka-angka itu tidak berantakan seperti itu. Dulu aku punya tujuh angka nol dibelakang angka selain nol.
Kemudian, Terlalu banyak tanda tanya!!.
Apa maksudnya itu? Apa mungkin karena itu semua adalah skill-skill yang belum ku tunjukan. Jika kuingat lebih, skillku memang ada ratusan. Tapi itu ketika semua atribut sihirku lengkap.
Memang begitu, aku hanya menggunakan Sihir saat mematikan musik, dan pembersihan tadi malam. MP-ku yang berkurang pun juga sudah pulih.
If you find this story on Amazon, be aware that it has been stolen. Please report the infringement.
Salah satu skill yang sangat berguna adalah psikis, saat ini masih level 5. Aku dapat menggunakannya sebagai telepati atau transisi, baca pikiran, penilaian, dan Hipnotis. Aku juga dapat menggunakannya untuk telekinesis dan hal lainnya yang melibatkan pikiran, tapi itu haruslah level 10.
Aku perlu mengambil satu fragmen kekuatanku, untuk menjadikannya level 10.
Oke, itu tidak perlu di permasalahkan. Hanya dengan kekuatan fisik saja aku sudah mampu bertahan. Aku yakin belum ada yang mampu mengalahkanku sekarang. Bukan berarti aku sombong.
Rasku adalah high human, itu seperti jenis manusia ditingkat yang lebih tinggi. Umunya dibeberapa mitos dunia lain, ras high human adalah utusan dewa, tingkat kekuatannya berada dekat dengan dewa atau hampir menyamainya. Aku mendapatkannya dulu sekali saat perjalananku hanya berdua dengan Felis.
Umurku adalah 260 tahun, itu sesuai dan tidak ada yang salah, tapi itu perhitungan dari sisi diriku. Aku baru saja melewatkan 10 tahun hidupku lupa akan semuanya sedangkan dunia ini sudah lewat 1 abad lebih, yang berarti Felis sudah lebih tua 160 tahun dariku begitu juga dengan murid-muridku yang lainnya. Aku merasa ketinggalan jauh.
Atribut yang ditampilkan juga, hanya cahaya. Wajar, yang lainnya masih tersegel ditempat tertentu di dunia ini. Karena aku yang menyegelnya.
Untuk status ku ini.
Yah... Agar tidak menimbulkan kegemparan suatu hari nanti. Aku akan menyamarkannya.
-Nikola Mylene
Usia : 17 tahun
Ras : manusia
Level : 10
?HP : 10/10
?MP : 10/10
?SP : 10/10
?Fisik : 10
?Sihir : 10
?Atribut : cahaya.
?Skill
-Penyucian. Lv 1
-Berpedang. Lv 1
-Bela diri. Lv 1
?Title : none
Baiklah, kurasa ini akan menjadi status yang lucu. Aku mengubah semuanya menjadi 10, kecuali untuk level skill. Karena level 10 pada skill adalah level terakhir, tidak mungkin aku akan membiarkan levelku itu diketahui.
Namun untuk sebelumnya, skill penyucianku level 100. Itu sangat aneh. Mungkin itu tanda kemampuanku memang sudah sangat melampaui batas. Tanda bahawa kini aku adalah ras yang berbeda.
Baik, sepertinya istirahat kali ini sudah selesai. Tidak ada gunanya aku berlama-lama. Itu hanya akan memperlambatku untuk mencapai tujuanku.
Aku kembali melanjutkan perjalanan. Siang masih cerah, cahayanya melewati celah-celah dedaunan. Pohon-pohon lebat yang rindang membawa suasana sejuk di siang hari. Keindahan yang alami.
Menatap sebentar kesekeliling sambil tersenyum, kemudian di detik selanjutnya aku menghilang dari pandangan.
~~~
Malampun hampir tiba, ternyata waktu memang berjalan begitu cepat, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku tidak berencana untuk tidur diluar malam ini, jadi sore ini aku memasuki kota, aku berencana untuk menyewa kamar di penginapan. Jadi sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang beberapa hal. Setelah apa yang kualami tadi.
Saat memasuki gerbang kota, kali ini aku tidak menggunakan hipnotis. Para penjaga gerbang memintaku untuk menunjukkan kartu identitasku. Dan karena aku tidak punya, mereka meminta 1 koin perak sebagai ganti perizinannya.
Jadi aku berpikir, aku harus membuat kartu identitas terlebih dahulu. Mungkin kartu identitas petualang baik-baik saja. Meski perkiraanku aku akan sampai besok siang di Academy Town, kupikir ini juga diperlukan untuk jaga-jaga.
Guild petualang di kota ini, adalah bangunan besar kayu berpadu Batu 3 tingkat. Dari jendelanya aku sudah dapat melihat petualang-petualang kumuh tertawa sambil meminum minuman alkohol mereka menggunakan cangkir kayu oak.
¡°Baiklah, ayo masuk¡±
~
Guild petulang tempat dimana orang-orang yang disebut petualang menerima dan mendapatkan imbalan atas pekerjaan instan mereka. Mereka mengerjakan misi-misi seperti pencarian, penaklukan, pengkawalan, dan lain-lainnya, umumnya pekerjaaan-pekerjaan itu berhubungan dengan monster-monster di hutan.
Sekarang aku akan mendaftar sebagai petualang, alasannya tentu saja sebagai identitas palsu diriku untuk bepergian di dunia ini. Saat aku memasuki guild semua tatapan tertuju padaku, aku lihat mereka semua adalah pemabuk. Akan tetapi itu tidak cukup untuk mengintimidasiku, rasanya aku hanya seperti di tatap oleh beberapa serangga.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu? " Resepsionis itu menyapakuu dengan kalimat yangbahkan ia sudah bosan mengucapkannya.
"Ya. Aku ingin mendaftar sebagai petualang. " jawabku.
"Pertama tolong bayar sebesar 2 koin perunggu untuk pendaftarannya."
"Ini... "
2 keping koin perunggu kuletakkan di atas meja.
"Kemudian silahkan letakan telapak tangan anda disini... "
Itu sebuah benda dengan Batu transparan bulat dengan bagian runcing seperti pena yang melekat dan mengarah pada lempeng mengkilap di bawahnya.
"... Benda ini akan menyalin identitas dari status anda ke kartu guild, menggunakan mana di tubuh anda, jadi silahkan letakan tangan anda dengan rileks. " [Resepsionis]
Alat itu, mampu menilai status seseorang dan menuliskannya di lempengan besi dengan kata-kata sihir. Meski mampu menilai status, sistem pada alat itu masih rendah, alhasil yang di tampilkan hanyalah
Nikola Mylene
Usia : 17 tahun
Ras : manusia
Level : 10
?HP : 10/10
?MP : 10/10
?SP : 10/10
?Fisik : 10
?Sihir : 10
?Atribut : cahaya.
Ia bahkan tidak mampu membaca skill dan title.
"Baik."
Saat telapak tanganku menyentuhnya. Batu itu bersinar biru lalu bagian runcing itu menuliskan data diriku pada kartu guild kosong yang telah dipersiapkan, dengan cahaya biru yang memancar darinya.
Setelah selesai, gadis resepsionis mengambil kartu itu dari tempatnya. Lalu menyalin apa yang tertera disana pada buku catatan tebal di mejanya.
"Baiklah, uhm... , Nikola-san? Benar? " [Resepsionis]
Gadis Resepsionis mengatakan itu sambil membaca apa yang tertera di kartu guild tersebut.
"Y-ya, benar saya Nikola. " entah kenapa aku jadi gugup, mungkin karena aku menggunakan nama baru itu.
"Mulai sekarang anda adalah petualang rank-E. Silahkan patuhi semua peraturan yang tertulis di kartu anda¡" gadis resepsionis itu menyerahkan kartu tersebut kepada ku " Terutama jangan sampai menghilangkan kartu anda, karena akan dikenakan denda 10 kali lipat dari harga pendaftaran, untuk mendapatkan yang baru."
"Baik, aku paham."
Kemudian untuk peraturan yang tertulis di sana ialah,
-Dilarang mengambil quest yang dengan rank yang lebih tinggi dari rank pada kartu.
-Dilarang bertarung di dalam guild, dan merusak perabotan guild.
-Imbalan quest hanya berlaku untuk yang mengambil lembar quest dan menyelesaikan questnya.
Bukan peraturan yang sulit untuk dijalankan.
"Dan apakah anda ingin mengambil quest pertama anda? " [Resepsionis]
"Tidak, aku berencana untuk pergi ke kota lain besok. Jadi aku akan mengambilnya di guild adventure yang ada disana saja. "
"Baiklah, kalau begitu semoga perjalanan anda besok lancar, terimakasih sudah mendaftar. "
"Ya... "
Setelah itu aku pun meninggalkan guild petualang. Kupikir tadinya akan ada diskriminasi terhadap petualang baru, atau sambutan untuk pemula, tapi ternyata tidak ada.
Biasanya akan ada petualang senior yang mencoba untuk menakut-nakuti petualang baru agar tidak pergi membuang nyawa mereka dalam bahaya. Tapi mengejutkan tadi tidak ada skema seperti itu. Mungkin tidak semua tempat memiliki paham yang sama.
Mencarai penginapan, kemudian makan malam, itulah bagaimana aku menghabiskan waktu sebelum tidurku. Kemudian aku tidur dikasur nyaman menuju datangnya hari esok.
~~~
Kota Furin, kota yang berada paling dekat dengan reruntuhan desa Koch yang sudah menjadi sarang goblin yang pada malam sebelumnya telah dibersihkan oleh kelompok serigala kuning. Meskipun bukan itu kenyataannya. Dengan ketidaktahuan warga, setidaknya itulah yang mereka yakini.
Pada malam itu ketua serigala kuning, bersama beberapa rekannya, sedang dalam perbincangan dengan master gilda petualang kota Furin dan sekretarisnya. Mereka sedang membicarakan kejadian sebenarnya berdasarkan laporan kelompok sergigala kuning.
"Bagaimana mungkin seorang berkekuatan seperti itu tidak dapat kita identifikasi sebelumnya? " kata Master gilda dengan nada tidak percaya.
"Aku juga terkejut dengan hal itu. Dia adalah orang baru jadi kami masih tidak begitu mengenalnya, tapi tidak ada keraguan lagi pasti dialah orangnya. " jawab ketua kelompok serigala kuning.
"Bagaimana mungkin kau bisa seyakin itu?! bukankah kau tidak menyaksikan kejadian itu secara langsung? " Master gilda kembali menanyakan pertanyaannya.
"Pada saat itu, ia telah lebih dulu menuju ke sarang musuh, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku tak tau siapa lagi selain dia. Aku juga tidak tau alasannya menghillang setalah itu. Di sana juga tidak ada manusia selain kami kecuali perempuan-perempuan yang menjadi korban di sarang goblin tersebut... "
"... Dan mereka, para korban itu, juga mengatakan ciri-ciri yang sama, mata hitam rambut hitam sama dengan salah satu anggota kelompok serigala kuning yang hilang sekarang. " lanjut Ketua itu dengan lancar.
Pemahaman dan kesimpulan yang diambilnya memang sudah mencapai titik itu. Ia begitu percaya diri dalam menyimpulkan yang buktinya saja belum jelas.
"Begitukah... hm.. Lambert Jyats, tidak ada satupun informasi tentang dirinya yang dapat ditemukan, kecuali hanya data dari identitasnya sebagai petualang. " [Master gilda]
"... Ia juga tidak banyak bicara" [Ketua ]
Lambert Jyats salah seorang anggota baru serigala kuning. Ia menghilang dalam misi pembersihan sarang goblin, dan disangka telah menunjukan sihir level atas yang melenyapkan ratusan goblin dalam satu hit. Sekalipun perkiraan mereka seperti itu, pelaku sebenarnya tentu saja bukan seorang bernama Lambert.
"Seorang yang melakukan itu kemudian akan menjadi incaran kerajaan ataupun kekaisaran. Bagaimana pun Ia akan dicap sebagai eksistensi berbahaya kedua setelah paladin itu. " [Master gilda]
Paladin yang ia maksud adalah elf paladin, Felis. Eksistensi berbahaya yang sangat diwaspadai hingga saat ini, bahkan ras demon sekalipun. Tidak ada yang dapat menundukannya, dan ia pun juga tidak mengganggu ketiga domain.
Kemudian saat diketahui munculnya eksistensi berbahaya kedua itu akan membuat gelisah setiap penguasa. Kalau bisa mereka membuatnya berada disisi mereka itu adalah keuntungan besar dalam kekuatan wilayah mereka.
¡°Namun demi kebaikan bersama, bukankah akan lebih baik jika berita ini disembunyikan, karena jika berita ini tersebar maka akan benar-benar menggemparkan dunia.¡± [Master gilda}
"Kamu benar.... dan juga dalam waktu dekat mungkin akan banyak yang memata-matai kita. "
"Serigala kuning akan lebih terkenal, bukankah itu baik? " [Master gilda]
"Aha... Aku tidak suka jika kami terkenal hanya karena satu anggota yang kini telah menghilang. Akan lebih baik jika itu karena prestasi kami."
"... Keyakinan yang Bagus. "
Ketua kelompok serigala kuning adalah seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi dan keyakinan yang cocok sebagai pemimpin. Ia tidak bisa hanya mementingkan keegoisannya sendiri tanpa mempertimbangkan apa yang dipikirkan oleh anggotanya. Oleh karena itu ia memikirkan segala cara yang akan menciptakan keuntungan bersama.
"Jika kerajaan dan kekaisaran menemukannya lebih dahulu, kekuatan sebesar itu pasti akan dimanfaatkan untuk melawan demon... itu mungkin bagus, tapi tetap saja, ia adalah anggota serigala kuning, tidak mungkin kami akan meembiarkannya dimanfaatkan sebagai alat perang."
".... Jadi informasi ini memang lebih baik dirahasiakan. Tidak ada yang tau dimana keberadaan Lambert, jadi,... itu akan menjadi kesempatan bagi kalian untuk menemukannya." [Master gilda]
"Baik, kami pasti akan menemukannya lebih dulu. Teman adalah yang terpenting. "
Pada akhirnya perbincangan selesai dengan kesimpulannya, informasi itu akan dirahasiakan dan serigala kuning akan mencari anggotanya yang hilang.
Namun percuma, karena seorang bernama Lambert memang sudah lenyap dari dunia ini.
~~~
Chapter tujuh
.
.
.
Disaat Armil membuat taruhan dengan Cordy. ~
Bertepatan pula dengan kejadian genting yang terjadi di rute perjalanan ke Academy town, yang melewati 4 kota kecil setelah ibukota. Di lapangan hijau penuh rumput, 5 kereta pedagang tengah di kepung oleh para bandit.
Bagi para pedagang yang ''berdompet tebal'' istilah dari ber-uang banyak. Dengan uang yang mereka miliki, mereka melindungi diri mereka. Taktik umum bagi para pedagang yakni dengan membuat misi untuk mengawal mereka ke kota tertentu, dan mendaftarkan misi tersebut di guild petualang.
Para pedagang biasanya melakukan perjalanan dengan rombongan, ditambah petualang yang mereka sewa. Kebiasaan para bandit adalah untuk menyerang serombongan pedagang dan menjarah Harta dan barang para pedagang. Jika itu kelompok bandit yang cerdas, mereka akan menyelidiki dulu tentang petualang yang disewa oleh pedagang tersebut, untuk mengetahui kekuatan lawan mereka dan memperkirakan apakah mereka bisa menang. Tapi jika itu sekelompok bandit bodoh, mereka hanya akan terbunuh sia-sia oleh lawan kuat yang tak mereka selidiki terlebih dahulu.
Sialnya, malam itu adalah serangan dari sekelompok bandit yang cerdas. 6 kereta pedagang itu benar-benar terkepung oleh puluhan bandit berjubah hitam kumuh. Para petualang yang hanya berjumlahkan belasan orang dibuat kewalahan oleh para bandit itu. Dua dari mereka bahkan sudah tumbang di menit awal. Serangan sihir, dan pedang menciptakan Medan tempur skala kecil di Padang rumput itu. Beruntung tanahnya kering, jika basah itu akan lebih menyulitkan.
Namun diakhir perjuangan para petualang yang sudah diambang batas, bantuan tak terduga muncul. Seorang gadis berkerudung turun langsung ke Medan pertempuran. Ia muncul tiba-tiba dari salah satu kereta dan langsung menghajar salah satu bandit dengan pedang rapier miliknya. Tebasan pedangnya menghasilkan luka diagonal yang memuncratkan semburan darah dari tubuh bandit itu, lalu ia tumbang.
Melihat rekan mereka terbunuh, bandit lain datang dari samping dan menyerangnya. Bandit itu tersenyum karena ia berpikir gadis itu takkan sempat menebasnya dengan pedang rapier itu. Sayangnya perkiraannya salah.
Gadis itu telah menyiapkan mantra untuk sihir ditangan kirinya. ''Bola api'' , ucapnya dan langsung menempatkan bola apinya di Perut si bandit.
Bham
Bandit itu terlempar bersama dengan asap yang mengepul dari perutnya yang hangus. Bau daging gosong tercium kesekitar, tapi tidak ada yang memperdulikan itu dalam pertempuran. Itu hal yang biasa.
Bandit lain datang lagi menyerang gadis itu. Namun tiba-tiba ia telah tumbang duluan, oleh gadis berkerudung yang berbeda. Ia juga turun ke pertempuran dan menghampiri gadis berkerudung yang pertama.
"Tuan Putri! Bukankah sudah kuperingatkan, jangan bertarung! Berbahaya! " [Gadis berkerudung2]
"Aku tidak bisa membiarkan para bandit itu membunuh rakyatku" [Putri]
Katanya sambil menebas musuh dengan rapier-nya. Mereka berbicara sambil bertarung, seorang putri dan pelayannya.
"Kau selalu saja begitu, tuan Putri... "
"... Dan bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya, kita sedang menyamar! Mira! " [Putri]
"Uh, maafkan aku... N-Nora! " [Mira]
Lalu mereka melanjutkan pertarungan, melawan para bandit. Kehadiran dua gadis berkerudung misterius itu membawa angin segar bagi para pedagang yang sudah ketakutan dari tadi, dan para petualang sewaan yang sudah kewalahan. Andai mereka tau bahwa kedua gadis itu adalah tuan Putri dan pengawal pribadinya, kira-kira akan bagaimana reaksi mereka?
Mereka berdua bertarung dengan saling membelakangi. Sang Putri dengan rapier dan sihir apinya. Sedangkan Mira juga dengan rapier dan sihir anginnya.
Para bandit sudah mewaspadai mereka berdua, sehingga target mereka berubah menjadi ''Bunuh kedua gadis itu'', itulah yang diteriakkan pemimpin mereka.
2 bandit mendatangi Mira dari depan, Mira menebasnya sekaligus. Lalu datang lagi dari belakang, Mira menghindar dan melemparkan mereka dengan sihir anginnya. Namun kemudian ia terdesak, musuhnya terlalu banyak, dan ia terpisah dari Putri Himria. Ia terpaksa harus melompat, menghindar dan menyerang.
Begitu pula dengan Putri Himria, ia juga semakin terdesak. Saat ia membuat dinding api dengan sihirnya, bandit dengan kemampuan sihir air mematikan apinya. Beberapa bandit berbadan besar muncul dan menyerangnya bersamaan.
Putri Himria hampir mati saat, ia akan menyerang bandit pengguna sihir air dengan rapiernya, lalu bandit lain tiba-tiba mematahkan lengannya dari belakang. Itu membuatnya berteriak "Argh... " melompat mundur, terduduk dan melepaskan rapier dari genggamannya.
"Tu-, nora!!! "
Mira panik setelah melihat Putri Himria yang berteriak kesakitan dan terjatuh, ia tidak bisa melindunginya dan itu malah membuatnya hilang kosentrasi, dan juga ditumbangkan oleh lawannya. "Ghuargh... " Mira terhempas ketanah setelah lawannya menendang tepat di perutnya.
"Mira!!! " [tuan Putri]
Putri Himria meneriakkan juga setelah melihat sahabat sekaligus pengawal pribadinya itu, terhempas ketanah dan terbaring hampir tak berdaya. Sementara ia terduduk sambil mencengkeram kuat lengan kanannya dengan tangan kirinya, dan menatap marah pada musuh.
"Hoho... Sepertinya kau sudah tak berdaya lagi gadis cantik. Tenang, aku akan memperlakukanmu dengan lembut malam ini jika kau menyerah... Hehe... " [Bandit]
Bandit berbadan besar yang baru saja mematahkan lengan putri Himria. Kini memandangnya dengan penuh nafsu, hingga meneteskan air liur. Itu mirip seperti binatang yang baru saja menemukan mangsanya. Sedangkan Himria masih menatapnya marah, sambil mengkonsentrasikan sihir di tangannya.
"lagi pula kau sudah tak berdaya lagi, aku... ingin menikmatimu sekarang juga!!! " [Bandit]
Ia langsung terjun kearah putri Himria, memegang kedua pergelangan tangannya dan menelantangkannya di tanah sambil kakinya menahan kedua kaki putri Himria, membuatnya berteriak "Kyaa...".
Himria masih menggunakan kerudungnya sehingga bandit itu tidak dapat melihat keseluruhan wajahnya. Tapi ia akan membukanya sebentar lagi. Ia juga tak peduli reaksi Himria terhadap air liurnya yang menetes di wajah cantik itu, malahan itu membuatnya senang.
"Menjauh dariku!!! Brengsek!!! " teriak putri Himria sia-sia.
Akan tetapi, hidup bandit itu berakhir setelah sang putri berteriak.
Sebuah pisau menancap tepat di atas kepala si bandit. Darah pun menetes dari sana hingga mengenai wajah Himria. Menyadari hal itu Himria menendang mayat bandit tersebut menyingkirkannya dari atas tubuhnya. Lalu ia berusaha bangkit berdiri dan terdiam setelah menerima uluran tangan.
Ia tidak dapat melihat wajah di balik jubah hitam dan kerudung gelap itu. Tapi ia tau orang itu laki-laki. Karena mencurigakan ia tidak menerima uluran tangan tersebut, dan berdiri setelah mengambil pedangnya.
"Terimakasih"
Ucapnya datar pada pria berjubah itu. Lalu ia beralih pada Mira yang terlentang di tanah sambil memegang perutnya. Ia juga melihat bandit disekitar Mira sudah menjadi mayat. Bukan hanya itu, semua bandit telah mati.
Ia menghampiri Mira, diikuti oleh pria berjubah tersebut. Membantu Mira duduk dan memegang pundak nya. Kemudian ia melirik pada pria berjubah itu.
"Apa?... Yang telah kau lakukan? "
Putri Himria bertanya dengan tujuan menyelidik.
"Hm... Aku hanya membantu "
Bersamaan sambil mengatakan itu, pria berjubah membuka kerudungnya. Memperlihatkan wajahnya. Dan itu membuat putri Himria terkejut...
"K-kau? "
~~~
Jio pov
Beberapa jam sebelum itu.
Setelah pertemuan kami dengan Raja, kami diantarkan ke kamar masing-masing oleh putri Himria. Kamar yang mewah besar dan penuh dekorasi, kasur besar dan beberapa patung hiasan.
Aku tak berpikir ini kamar yang baik untukku, malahan sebaliknya. Hal seperti itu akan membuatku tidak nyaman berada disini. Apalagi patung itu, seolah hidup dan menatap ke arahku. Jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota, setelah mengganti baju dan mengubah penampilan. Akan terlihat aneh jika aku masih menggunakan seragam sekolahku dulu untuk hidup di dunia ini.
Uang juga sudah disiapkan oleh kerajaan di kamar masing-masing, jadi aku tidak perlu cemas tentang hal itu. Saat aku keluar, pahlawan lain juga keluar dari kamar mereka. Sepertinya mereka juga ingin berjalan-jalan, aku jadi bertanya-tanya apakah kami di perbolehkan untuk berjalan-jalan ke kota.
Dan jawabanku terjawab setelah aku di hadang oleh penjaga gerbang kerajaan. Kami hanya di perbolehkan untuk berkeliling disekitar kerajaan saja, alasannya karena di luar terlalu berbahaya.
(Mereka terlalu meremehkan kami meskipun kami masih level 1)
Tapi kurasa itu wajar, apa juga karena itu mereka hanya meletakkan uang di kamar kami karena bukan untuk di gunakan hari ini. Atau mungkin uang itu hanya sebagai permintaan maaf karena telah memanggil kami secara paksa kedunia ini.
Yah, aku takkan mempermasalahkan itu. Ini ada untungnya juga untukku. Dengan begitu aku bisa melatih sihir milikku untuk keluar dari kerajaan tanpa di ketahui.
Aku sudah melakukan percobaan, menggunakan sihir ternyata tidak sesulit yang ku kira. Aku bisa memunculkan api lilin di jari, setelah membayangkan api menyala dengan bahan bakarnya adalah oksigen di udara.
Untuk menggunakan sihir aku hanya butuh imajinasi, dan itu keahlianku.
Jadi sekarang aku akan menggunakannya untuk keluar dari istana ini.
Dan hasilnya seperti yang kuduga...
Sihir bayangan hanya dapat aktif selama 1 menit. Bagiku itu sudah cukup lama untuk melewati para penjaga dan selama sihir itu aktif tubuhku dan keberadaanku takkan dapat dirasakan oleh orang lain. Aku menjadi bayangan dan melewati gerbang dengan wujud itu. Teknik sihir itu adalah hasil dari imajinasiku sendiri.
Akan tetapi akan muncul saatnya aku perlu menggunakan sihir ini lebih lama lagi, jadi aku akan berlatih menggunakannya selama di kota.
Ibu kota kerajaan memang besar dan luas. Bangunan yang terbuat dari Batu, juga ukiran-ukiran didinding nya, menunjukan keindahan dan kemewahan. Ini hampir sama dengan Eropa abad pertengahan. Aku juga melihat orang-orang berpakaian mewah, ibu dan anak atau pun sekeluarga, berjalan santai di sekeliling kota. Rasanya seperti dikelilingi oleh para bangsawan, atau memang begitu kenyataannya. Namun jika aku melihat lebih luas, hanya kawasan disekitar istana saja yang tampak begitu mewah, rumah-rumah penduduk yang jauh dari istana tampak berdempet-dempet dan sempit.
(Huah... Melelahkan...)
Aku menggerutu kesal.
Ternyata itu cukup jauh. Setelah berjalan selama setengah jam aku pun tiba di pinggiran ibukota. Untuk orang dari dunia modern sepertiku yang terbiasa dengan buku dan game, dan jarang berolahraga, perjalanan seperti ini melelahkan. Mungkin aku harus melatih fisikku lebih kuat lagi suatu hari nanti.Unauthorized tale usage: if you spot this story on Amazon, report the violation.
Di sini cukup ramai, orang-orang berlalu lalang kesana kemari sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, dan juga restoran-restoran biasa yang di penuhi oleh pekerja-pekerja yang makan siang untuk beristirahat.
Jika kulihat arlojiku yang juga ikut terbawa ke dunia ini, sekarang adalah jam 11.30. Jadi jam makan siang memang sudah dimulai. Aku tidak tau apakah istilah seperti itu ada, tapi sepertinya mereka memang tengah beristirahat saat ini.
Kroourg
Kebetulan aku juga lapar. Maka kuputuskan untuk mencari makanan. Seakan menjawab keinginanku, hidungku mencium dan mataku kini tertuju pada sebuah kedai kecil yang mengeluarkan aroma masakan yang lezat.
Jadi, ku putuskan untuk kesana dan mengisi perut kosongku.
~
Setelah selesai makan, aku sekarang sedang duduk di kursi di depan sebuah toko bunga yang sedang tutup, jadi kupikir tidak ada salahnya aku duduk disini.
Saat ini mataku sedang fokus pada selembaran kertas yang kupegang. Aku awalnya heran bagaimana aku bisa mengerti bahasa dan tulisan dunia ini. Rasanya seperti pengetahuan tentang itu sudah tertanam otomatis dikepalaku, sejak terpanggil kedunia ini. Itu cukup menyenangkan sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk mempelajarinya. Tapi aku tidak boleh hanya menikmati hal itu tanpa belajar apapun. Aku yakin masih banyak hal yang tak dapat dicapai dengan kemampuan itu. Mungkin masih ada buku atau makhluk yang menggunakan bahasa yang berbeda dari yang lainnya.
Dan selembaran yang kubaca saat ini adalah tentang ''Academy Town''.
(Kota academy? Apakah itu seperti sekolah, atau akademi sihir?) itu awalnya yang kupikirkan saat menemukan selembaran ini di dinding.
Disana juga tertera bahwa academy town sedang membuka penerimaan murid baru. Dan pada saat waktunya habis selembaran ini akan lenyap dengan sendirinya. Ia juga mencantumkan jalur untuk pergi ke Academy town tersebut.
Namun ada yang aneh, penataan tulisan kemudian gambar academy di selembaran ini terasa berbeda dengan latar belakang zaman di dunia ini. Meskipun hanya seperti goresan tinta yang ada di selembaran ini, tapi aku tidak merasakan tinta yang menggembung di kertas atau bekas tulisannya. Ini semacam hasil mesin fotocopy dari dunia modern.
(Apa mungkin ada rahasia menarik di academy town tersebut?)
Aku berpikir sejenak. Dari pada hanya belajar di kerajaan bersama ksatria-ksatria mereka, yang hanya mengajarkan tentang pertarungan, mungkin lebih baik aku mencoba belajar di academy town. Mungkin penduduk dunia ini tak menyadarinya, tapi selembaran ini dibuat dengan teknologi yang berbeda. Tentu saja, aku sebagai orang dari dunia modern menyadari hal itu.
"Baiklah! Sudah kuputuskan, aku akan ke-Academy town. "
Kataku sambil bersemangat.
(Aku harus menyiapkan barang-barang ku, yang dikerajaan dulu)
Setelah itu aku berniat kembali ke kerajaan. Untuk sihir bayangan milikku telah meningkat hingga dapat bertahan selama 5 menit. Itu hasil yang Bagus, setelah aku menggunakannya berulang-ulang kali selama berjalan-jalan dikota. Tapi aku tidak bisa menggunakan berulang dalam jarak waktu yang dekat. Setelah penggunaan 5 menit, akan ada 3 menit untuk cooldown setelah itu baru bisa digunakan kembali.
Itu masih menguntungkan menurutku.
"Kyaa... "
Selagi berpikir sambil berjalan aku mendengar suara teriakan perempuan. Firasatku klise seperti ini adalah saat seorang gadis yang diganggu oleh beberapa pria. Baiklah, aku akan mencoba bertindak sebagai pahlawan untuk pertama kalinya.
Setelah melewati persimpangan sepi, di dalam gang kecil itu aku melihat 2 orang berbadan besar dan berotot juga bertelanjang dada menyudutkan seorang gadis yang kira-kira berusia 15 tahun. Aku akan mencoba meneriakinya.
"Hentikan! Itu Bajiangan! "
Mereka melihat kearahku
Apakah aku sudah terlihat seperti pahlawan? Ah kurasa belum. Bagaimana aku harus melawan mereka? Mungkin dengan sihir api hitam, baiklah akan ku coba.
"Haah... Mau apa kau? Menyelamatkannya? Huahaha... Kami punya urusan dengan ayah anak ini, jadi pergi sana kau! " [premanA]
"Ya... Tikus kecil, sebaiknya menyingkir saja... " [premanB]
Mereka kembali beralih ke pada gadis itu.
(Sialan... Tapi kalau begitu aku akan menyerang mereka dari belakang)
Kucoba kosentrasikan sihir di tangan kananku. Ini pertama kalinya aku mencoba melakukan serangan sihir. Jadi aku hanya mencoba untuk membayangkannya saja. Lalu
"Apihitam"
Gumamku pelan, ini demi menambah kosentrasi dalam suasana tegang.
....
Tapi tidak berhasil, aku tidak tau kenapa? Apa itu mungkin karena aku sudah menggunakan point mana ku untuk berlatih sihir bayangan dari tadi, atau karena konsumsi mana yang terlalu besar.
Akhirnya kedua preman itu sudah berhasil memegang tangan gadis tersebut.
"Sialan.... "
Aku mengambil Batu di tanah dan melemparkannya ke salah satu preman itu.
Pham
Batu mengenai kepalanya, membuat benjolan disana. Harusnya itu berdarah? Oh, ia adalah musuh yang kuat.
"Sialan kau!!! Tikus!!! " [premanA]
Segera ku aktifkan sihir bayangan, dan bersembunyi di bayang-bayang bangunan. Ini adalah taktikku.
"Hoi!! Jangan bersembunyi kau tikus! Keluar kau!" [premanA]
Preman A yang emosional mencariku ke sekeliling tempat, tapi tak dapat apa-apa. Aku semacam tak terlihat. Sementara itu premanB masih diam didekat gadis itu. Sial... Harusnya ia juga ikut sibuk. Baiklah aku akan menarik gadis itu diam-diam.
Namun saat aku hampir berhasil menyelamatkannya dari preman B. Ia menyadari keberadaanku saat melihat gadis itu bergerak.
Bhuak
Ia langsung menendangku diperut saat aku baru keluar dari bayangan. Aku terpelanting ke dinding. Lalu ia menangkapku dan mencengkram kerah bajuku dan memaksaku berdiri.
bhuak
Ia memukulku lagi tepat di wajahku. Nafasku jadi tak teratur, dan aku merasakan darah menetes dari bibirku.
"Bukankah kau sudah diperingatkan sebelumnya. Jangan ikut campur!!! Tapi karena kau telah melanggar kau akan ku bunuh disini!! " [premanB]
Ternyata premanB lebih sadis dari pada premanA. Aku jadi ingin segera menghajarnya. Dan keinginanku pun terjawab.
"Apihitam"
Gumamku pelan.
"Apa yang kau katakan, Tikus!! " [premanB]
Ia semakin mendesakku kedinding, hingga aku hampir sulit bernafas.
"Gadis kecil!! Tutup matamu! " perintahku.
"Eh? "
Ia pun menutup matanya.
Yah, entah karena terdesak, aku berhasil mengaktifkan apihitam ditanganku dan membakar wajah preman B dengan itu. Aku menggenggam kepalanya dengan tangan kananku yang diselimuti api hitam.
"Argh..... " [premanB]
Ia berteriak kesakitan. Karakteristik api hitam adalah, ia akan terus membakar sampai habis kecuali di matikan oleh yang meaktifkannya sendiri.
"Hoi... Hoi... " [premanA]
Dan premanA menjadi cemas, menyaksikan temannya yang hangus terbakar dari kepalanya.
"Apa-apaan ini? " [PremanA]
Ia ketakutan, tapi aku tak perduli aku langsung berlari kearahnya sambil mengaktifkan sihihr bayanagan. Aku pun membakarnya tepat di perut.
"Uarghh.... "
Akhirnya ia tumbang. Aku menang dan bau daging gosong jelas tercium. Akan tetapi, apihitamku terus membakar mereka hingga tak bersisa.
Kemudian aku mematikan api di tanganku, dengan membayangkannya padam. Api itu padam dan hilang begitu saja. Aku terduduk diam dan jantungku berdetak kencang. Entah apa yang kurasakan, dan perasaan ini sangat aneh. Ini adalah pertama kalinya aku membunuh manusia.
Aku gemetar.
~
"Hei! Sudah selesai. Kau bisa buka matamu... "
Ia membuka matanya dan melihat ke sekitar. Lalu kembali melihat ku.
"Kemana mereka? " [gadis kecil]
"Mereka sudah pergi... " Jawabku, lesu.
......
Aku tak berpikir ada hal yang harus kulakukan disini. Jadi aku berpikir untuk pergi dan bersegera kembali ke kerajaan.
"Kalau begitu aku juga akan pergi" lanjutku.
"T-tunggu, pahlawan..." [gadis kecil]
(Pahlawan, katanya?) Aku kembali melihatnya. Wajah manis itu.
"K-kau pahlawanku, jadi biarkan aku membalas kebaikanmu! Siapa namamu?" [gadis kecil]
(Oh, jadi begitu. Kupikir ia tau identitasku. Hn, baiklah) Pikirku sesaat.
"Namaku, Katsuragi jio. Namamu sendiri siapa? Gadis kecil.. " kataku sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
"Aku, Celi. Celi Gruka! Dan aku bukan gadis kecil!! " [Celi]
"Baiklah, Celi. "
Dan kami pun berjabat tangan. Diiringi oleh cahaya mentari sore yang jatuh dari langit. Benar-benar mendramatisir.
~
Aku tidak bisa menolak. Saat aku di ajak oleh Celi untuk menemui ayahnya. Dan itu benar-benar membawa keberuntungan untukku.
"Oh... Terimakasih banyak Jio-san, kau telah menyelamatkan putriku... Aku tidak tau bagaimana harus berterimakasih. Orang-orang itu memang sudah sering kali menggangguku.. Sekali lagi terimakasih jio-san. " [ayah celi]
Ia menundukkan kepala, sambil menangis dan menyalamiku. Aku tidak tau harus berkata apa.
"A-aha.. ha. Tidak perlu segitunya... Dan ngomong-ngomong kau mau kemana.?" [jio]
Saat aku di bawa kemari oleh Celi. Aku ayahnya yang cemas kesana kemari, lalu kereta-kereta penuh barang tersusun rapi di belakangnya. Ku tebak, ayah Celi adalah pedagang. Dan ternyata benar.
"Ah.. Aku..., maksudku kami berencana untuk pergi kekota Archana. Apa ada yang bisa kulakukan untuk Jio-san tentang hal itu? " [Ayah celi]
Tanyanya kepadaku sambil berharap mendapatkan jawaban ''iya''.
Kota Archana, untuk dapat pergi ke Academy town harus melewati kota itu. Bukankah ini kebetulan yang Bagus?
"Ya... Aku berencana untuk pergi ke Academy town, jika bisa-"
"A.. Tentu, tentu saja. Saya sangat senang bisa membantu Jio-san. Kami akan berangkat saat matahari terbenam. Celi pun akan ikut senang bersama pahlawannya... " [ayah celi]
Ia sudah menjawab sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Aku jadi canggung.
"Ah.. Kalau begitu, aku menyiapkan barang-barangku dulu. " [jio]
"Ya... Saya Alga Gruka akan menunggumu, pahlawannya putriku." [Alga]
"Yeah... Pahlawanku akan bersamaku malam ini... Aku senang! " [Celi]
Dan di belakang Alga-san, Celi bersorak kegirangan. Aku akan menantikan apa yang akan terjadi malam ini. Setelah itu aku mengemas barang-barangku dikerajaan. Kembali ke tempat Alga-san dan Celi-chan. Lalu berangkat dari ibukota. Dan bercanda tawa selama di kereta.
Kemudian bandit menyerang kami, dan para petualang kewalahan. Awalnya aku ragu untuk bertarung setelah tadi siang aku membunuh manusia. Tapi setelah kusadari, ternyata tuan putri ikut bertarung dan mulai kewalahan. Aku terkejut...
Aku mulai bertarung setelah meminjam dua pisau dari Alga-san dan sebuah jubah. Aku akan mengubah prangsangka negatifku terhadap tuan putri seperti sebelumnya. Ia bukanlah putri yang manja.
Aku bertarung tanpa memperhatikan musuh, dan lancar mengaktifkan apihitamku. Menyayat mereka dengan pisau dan membakar mereka dengan api hitam. Sampai tak kusadari, aku telah menghabisi semua bandit.
Lalu aku menolong tuan putri dan temannya. Kemudian mengulurkan tangan untuk tuan Putri, tapi ia menolak. Ini semakin baik. Jika menerima uluran tangan dari sembarang orang yang tak dikenal. Itu hampir sama seperti wanita murahan, lacur.
Kemudian ia melirikku.
"Apa?... Yang telah kau lakukan? " [Himria]
Ia berusaha menyilidiki tujuanku. Tapi aku tak punya tujuan lain selain membantu. Dan saat ini baru kusadari. Putri Himria pantas mendapatkan gelar putri.
Jadi aku membuka kerudung jubahku.
"Hm... Aku hanya membantu " [Jio]
Dan itu membuat putri Himria terkejut...
"K-kau? "
Pov end
~~
.
"T-tuan pahlawan?! "
Putri Himria terkejut, begitu mengetahui bahwa pria berjubah itu adalah salah satu dari enam Pahlawan yang dipanggil ke dunianya tadi pagi. Dan malam ini ia telah keluar dari kerajaan dan menghabisi bandit-bandit seorang diri. Meskipun setengah dari pasukan bandit sudah tumbang, tapi Pahlawan ini berhasil mengalahkan setengahnya lagi. Belum sampai satu hari penuh ia berada di dunia ini. Namun ia telah menunjukan kehebatan sebagai Pahlawan atau pahlawan.
Himria bingung harus mengatakan apa.
"Ha? B-benarkah orang ini adalah Pahlawan?.... Putri?!" [Mira]
Mira si pengawal pribadinya Putri bahkan juga ikut terkejut, dan tergagap-gagap berbicara, saat mendengar gumaman putri beberapa detik yang lalu.
"I-iya... dia benar-benar Pahlawan yang baru saja di panggil tadi pagi. Aku sama sekali tidak melupakan wajah mereka." [Himria]
"Lalu, apa yang ia lakukan disini..., bukankah seharusnya Pahlawan tinggal di asrama kerajaan dan berlatih di kerajaan.?" [Mira]
"Aku juga tidak tau... " [Himria]
Sementara itu, Jio hanya diam saja sambil mengacuhkan perbincangan mereka. Sampai ia merasa tatapan yang kuat dari tuan putri di balik kerudungnya itu.
"Apa yang kau lakukan disini, Pahlawan?. Bukankah seharusnya kau berada di kerajaan? Bagaimana bisa kau meninggalkan kerajaan? Apa ayah yang_" [Himria]
"_Ah.... Sudah! pertanyaanmu kebanyakan, aku disini cuma mau membantu. Dan aku tidak betah berada di kerajaan, jadi aku mau jalan-jalan, mengerti! " [Jio]
Jio langsung memotong perkataan putri Himria, yang terlalu banyak bertanya. Itu membuatnya sulit untuk menjawab pertanyaan sebanyak itu.
(Putri ini, mulutnya pedas juga kayaknya) Itu hanya tebakan Jio.
Lalu Putri Himria kembali bicara.
"Aku belum selesai bertanya!" [himria]
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu! " [Jio]
"Tapi aku belum menanyakan semuanya! " [Himria]
"Aku tidak mau menjawab semuanya itu" [Jio]
"Kau harus menjawab semua pertanyaanku!!" [Himria]
"Sudah kubilang, aku tidak mau!" [Jio]
"Kenapa? " [Himria]
"Itu bukan urusanmu! " [Jio]
"Itu urusanku! " [Himria]
"Bagaimana bisa jadi urusanmu? Hidupku adalah hidupku! Tidak ada hubungannya denganmu" [Jio]
"Kau adalah pahlawan! Maka hidupmu akan menjadi hidup dunia ini! Dan urusanmu akan menjadi urusan warga dunia ini, dan itu berarti juga urusanku!!! " [Himria]
"... Kau menyebalkan! " [Jio]
"Kau lebih menyebalkan! [Himria]
".... He-hei.... " [Mira]
Mereka bertengkar hingga semakin memanas. Dan Mira mencoba meleraikan tapi ia diacuhkan.
"Kau yang menyebalkan! " [Jio]
"Tidak! Tapi kau! " [Himria]
"Banyak omong! " [Jio]
"Dasar Pelit! " [Himria]
" Diam kau! putri manja! " [Jio]
"Aku tidak manja! Pahlawan sialan! Pelit! Menyebalkan! Tak berperasaan!_" [Himria]
"_Diam kau, RATA! " [Jio]
.....
"Ha?... Ra-ta?"
Himria terdiam dengan pernyataan itu, lalu ia melirik kearah dada Mira yang besar menonjol dan bergoyang saat ia bergerak dan kearah dadanya yang kecil tak menunjukan keindahan, ia melirik berulang-ulang sambil membandingkan keduanya. Kemudian ia memanas hingga wajahnya memerah dan emosinya memuncak. itu tertuju kepada Jio.
Gleb
Jio hanya bisa menelan ludah setelah apa yang baru saja ia katakan tanpa ia sadari. Ia mulai merinding dan perlahan berusaha mundur langkah demi langkah dari Himria yang semakin merah.
"Uhm... Putri? " [Mira]
Mira mencoba menyapa tapi itu sia-sia.
"Pahlawan sialan!!!! " [Himria]
Bhuak
Sebuah pukulan kuat mendarat di pipi Jio, menciptakan bekas pukulan merah disana. Sementara ia melayang di udara lalu jatuh ketanah, diikuti air mata yang mengalir dipipinya. Jio pun pingsan tak sadarkan diri, karena ulahnya sendiri.
"Bawa dia!! Ayo kita pergi!! " [Himria]
"B-baik, Putri! " [Mira]
"....Nora! " [Himria]
"Baik, Nora. " [Mira]
Setelah kejadian itu, sang Pahlawan yang pingsan oleh pukulan sang putri yang sedang menyamar, diseret oleh pengawalnya ke kereta. Mungkin terdengar kejam jika dikatakan ''diseret'' tapi memang itulah kenyataannya. Putri Himria itu yang memerintahkannya.
~
"Hue... Apa yang terjadi pada pahlawan-ku~"
Tepat saat Mira menyeret Jio ke-kereta salah seorang gadis yang lebih kecil dari dia berteriak histeris. Sementara itu semua orang melihat hal itu juga para petualang yang sudah pulih. Mereka mengetahui kekuatan dua gadis berjubah tersebut ditambah seorang pria berjubah.
Dengan melihat dari jauh perbincangan mereka setelah bertarung dengan bandit, lalu diakhiri dengan pukulan dari salah satu gadis berjubah kepada si laki-laki sampai pingsan. Siapapun yang melihatnya dapat menyimpulkan bahwa mereka akrab, dan hanya bisa mengangguk-angguk saat melihat laki-laki itu diseret. Kecuali si gadis kecil itu, yang tidak memahami hal tersebut.
"Hei!!! Jangan menyeret pahlawanku ditanah seperti itu,!" [Celi]
"".....""
Mereka mengacuhkannya.
"Berhenti!!! " [Celi]
Celi berdiri di depan Mira dengan merentangkan kedua tanganya, bermaksud untuk menghentikannya. Awalnya Mira memang mengacuhkannya, tapi setelah dihentikan oleh Celi juga dengan wajah marah yang imut itu, Mira menyerah.
Mengetahui Mira yang berhenti berjalan, Putri Himria berbalik dan memelototinya. Ia masih kesal dengan kejadian beberapa saat yang lalu, dan sebagian rasa kesalnya juga berasal dari Mira, tepatnya dada Mira.
Himria pun menghampirinya dan ingin menyingkirkan gadis kecil penghalang jalan itu, saat itu juga. Namun seseorang memanggilnya, dan orang itu adalah pedagang yang memimpin rombongan.
"Ah... P-permisi nona. " [pedagang]
"Ya...? " [Himria]
"Uhm... Perkenankan saya sebagai pemimpin rombongan untuk mengucapkan rasa terimakasih karena telah menghabisi para bandit. Terimakasih. " [pedagang]
"Ya?.... Sama, " [Himria]
Suasana yang tercipta membuat Himria cukup gugup. Ia sedang menyamar, tak semestinya orang ini berbicara formal dengannya.
"Dan untuk sebagai tanda terimakasih, anda mungkin dapat ikut bersama saya di kereta saya_"
"Tidak! Terimakasih. " [Himria]
Ia langsung menolaknya tanpa ada jeda.
"... Percayalah, Saya tau siapa anda ''putri''." [pedagang]
"Ha? "
Mendengar bisikan kecil itu ia terkejut.
Cukup mengejutkan bahwa penyamarannya di ketahui oleh pedagang ini. Ia cukup yakin sudah menyembunyikan identitasnya dengan baik.
"Ini demi kebaikan anda. Di kereta saya hanya ada saya dan putri saya bersama dengan Jio-san. Setelah itu hanya ada barang-ba_"
"_Baiklah, saya terima. Mira! Ayo! " [Himria]
"Bahkan saya belum_... Fufu, tuan putri tidak sabaran seperti yang dirumorkan.. " [pedagang]
"......" [Himria]
Tanpa penjedaan lagi, bahkan memotong kalimat pedagang. Himria menerima permintaan pedagang, lebih tepatnya tanda terimakasih.
"Baik! " [Mira]
"Hei!! " [Celi]
Celi masih berusaha menghalanginya.
"Celi!! Ayo!!" [pedagang]
"Tapi yah... " [Celi]
"Biarkan saja dulu, mungkin Jio-san memang bersalah... " [pedagang] ia mengatakan dengan sedikit senyum kemudian ia bergumam kecil ¡°indahnya masa muda¡±
" .... Baik.. " [Celi]
Mereka pun menuju kereta pemimpin rombongan, yang setengahnya hanya berisikan barang pribadi. Kereta yang tidak begitu buruk dan tidak pula begitu mewah. Itu kereta normal yang kuat dan nyaman.
Setelah semuanya bersiap untuk berangkat, memastikan yang terluka sudah diobati dan sudah naik ke kereta. Rombongan itu pun melanjutkan perjalanan kembali, ditengah malam yang gelap dengan penerangan yang minim.
Di kereta tempat Jio pingsan berada saat ini. Putri Himria dan pengawalnya Mira, melepas tudung mereka karena identitas mereka sudah diketahui. Mereka cukup beruntung pedagang itu baik dan ternyata kenal dengan Jio. Hal itu membuat Putri Himria penasaran, di mulai dengan pertanyaan tentang Jio.
"Bagaimana kalian bisa mengenal Jio? " [Himria]
"Itu... Ahn... Sebelumnya kenankan saya memperkenalkan diri, saya Alga Gruka lalu ini putri saya Celi Gruka. "
Celi menundukan kepalanya kepada putri Himria saat namany disebut oleh ayahnya. Kali ini ia bertindak sopan setelah di peringati oleh ayahnya dan mengetahui bahwa yang ada di hadapannya adalah sang putri kerajaan Himria.
"Aku minta maaf tentang sebelumnya, tapi aku takkan membiarkan pahlawan ku Jio menjadi milik putri! " [Celi]
Tindakannya memang terlihat sopan, tapi ucapannya belum ia masih 15 tahun.
"..... Aku tidak pernah menginginkannya.! " [Himria]
Himria memalingkan wajahnya kesal, pada anak yang tiga tahun lebih muda darinya.
"Jadi... Bolehkah saya bercerita? Putri?" [Alga]
"Ya... Silahkan. " [Himria]
"Saat itu... "
Kemudian Alga-san menceritakan tentang bagaimana Jio-san menyelamatkan putrinya dari para penjahat yang menginginkan ia untuk menjual putrinya kepada mereka, karena hutang. Berkat Jio penjahat itu sudah tidak ada lagi dan putrinya selamat, itu kesimpulan yang ia dapat.
Putri Himria mendengarkan itu dengan cermat. Tapi ia masih belum dapat jawaban, bagaimana Jio bisa berkeliaran di kota semudah itu, dan bukankah ia masih lemah, levelnya seharusnya masih satu, bagaimana bisa ia sekuat itu dihari pertama ia dipanggil kedunia ini.
Setelah Alga-san bercerita, ia baru menyadari bahwa putrinya sudah tertidur di samping Jio. Himria yang melihat hal itu menjadi luluh hatinya dan tersenyum simpul.
"Kalau boleh bertanya dimana ibu anak ini? " [Himria]
Himria menanyakannya begitu saja tanpa mengalihkan pandangan dari anak gadis itu.
"..... Dia..., sudah meninggal saat Celi baru berusia 4 tahun. " [Alga]
¡¡
"Oh.. Uhm, maaf kan aku. " [Himria]
"Tidak apa-apa, putri. Tidak perlu minta maaf, saya senang anda sudah bertanya.. " [Alga]
"Hn.. ~"
Lalu Himria melihat kesampingnya, dimana Mira sudah tertidur sambil duduk. Melihat itu Himria tersenyum lagi. Ia jadi ikut ngantuk dan ingin tidur.
"Huft... Yang lainnya sudah tidur. Kalau begitu aku juga akan tidur" [Himria]
"Silahkan, Putri"[Alga]
....
Malam yang tenang setelah melewati ketegangan. Cahaya rembulan menyinari dimana rombongan itu berjalan. Pada akhirnya mereka semua tertidur. Tapi itu tidak akan menjadi tidur yang nyenyak, sebab malam sudah mulai mencapai ujungnya.
~~~
Chapter delapan
Himria pov.
Aku masih sulit melupakan apa yang telah terjadi tadi malam. Saat bandit itu menindihku, aku tidak lagi dapat berpikir jernih. Mungkin itu adalah akhir hidupku sebagai putri kerajaan? Aku tidak tau. Namun kenyataannya aku selamat, aku diselamatkan oleh salah satu pahlawan.
Dalam hatiku aku tidak akan bersedia memanggil mereka pahlawan. Dimataku, mereka hanyalah orang-orang tak berguna yang bahkan tidak tau cara bertarung. Ada apa dengan dunia mereka? Tempat seperti apa itu? apa itu adalah dunia yang damai tanpa peperangan?... jika memang benar seperti itu, maka mereka hanyalah pengecut yang akan lari saat berhadapan dengan musuh.
Namun, aku terkejut dengan kenyataannya. Namanya adalah Katsuragi Jio, dia adalah pemuda berambut hitam. Aku tau para pahlawan memiliki kekuatan jauh diatas rata-rata warga asli dunia ini, tapi itu tidak dengan mental meraka, mental mereka pasti hanyalah mental pengecut yang tidak koheren dengan kekuatan mereka. Akan tetapi menghiraukan itu semua, pria ini yang memanggil dirinya sendiri sebagai Jio, tidak memiliki mental seperti itu.
Itu dilihat bukan dari cara bertarungnya, aku melihat ia masih sedikit kaku. Seakan-akan ia mampu membuang perasaannya saat berhadapan dengan musuh. Ia mampu mengendalikan cahaya dan kegelapan didalam hatinya. Aku kagum...
Mungkin anggapanku tentang pahlawan akan naik.
"Kau sudah bangun? "
Saat aku membuka mataku, aku dikejutkan oleh suara itu dan sepasang mata tepat berada dihadapanku, sangat dekat.
"J-jio?... A-apa yang kau lakukan?? Kau terlalu dekat!! ...! "
Bhuak
Aku langsung mendaratkan pukulan ke wajahnya.
"Mesum!! Kurang ajar! Jio cabul!! "
(........)
Kemungkinan wajahku sangat merah saat ini. Aku marah, marah, marah. Sudah berapa lama ia menatap wajah tidurku?? Ia benar-benar mesum laki-laki tak tau sopan santun.
Seorang laki-laki sialan seenaknya memangku kepalaku di pahanya, dan memandang wajah tidurku. Aku tidak dapat membayangkan apa yang telah ia lakukan selama aku tidur. Apa mungkin ia telah?...
Aku meraba pakaianku, dan aku mendapatkan satu kancing baju di depan dadaku sedikit lepas.
Aku sangat marah, marah, marah,.
(Hwua...... Aku pasti akan membunuhnya suatu hari nanti.!!!) Ternyata dunia pahlawan itu isinya hanyalah orang-orang cabul!!.
"Huft..."
Aku tidak boleh seperti itu harus tenang
(Tenang Himria, tenang...)
Aku adalah putri, aku tidak boleh bersikap seperti itu, aku bukan anak kecil jalanan, aku adalah putri yang bermartabat.
"Haah.... Huuh... Haah... Huuh.. "
Aku mencoba menenangkan diri, tarik nafas, buang. Untuk kedepannya mungkin aku harus banyak bersabar.If you discover this tale on Amazon, be aware that it has been stolen. Please report the violation.
Setelah merasa tenang, aku mencoba meneliti keadaan.
Saat ini aku masih berada di kereta, dan kereta masih sedang berjalan. Lalu kupandang orang yang ada di sekitarku. Mira masih tidur bersandar, juga Alga-san dan Celi-chan masih tidur. Kemudian si Pahlawan sialan! Jio, pingsan di lantai kereta. Itu bukan salahku, itu salahnya sendiri.
Langit sudah mulai terang, matahari terbit dari ufuk Timur. Burung berterbangan di langit, dan aroma rumput yang begitu segar. Pemandangan sederhana ini bahkan dapat menyegarkan setiap pikiran orang yang memandang. Tak sepatutnya alam yang Indah ini dirusak oleh perang. Tapi mau bagaimana lagi hal itu sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu.
(Pagi yang Indah)
Yah, pikiranku segar sekarang. Ditambah lagi setelah menghajar Pahlawan sialan ini. Kemudian setelah kuintip jauh kedepan lewat celah di kereta, gerbang kota Archana telah nampak. Kami sudah dekat dengan tujuan. Aku akan menunggu hingga lebih dekat dan membangunkan mereka.
Dan kami pun semakin dekat...
"Alga-san!!! Waktunya bangun! kita sudah dekat!! "
".....Huh? Hi-hime-sama?"
Ia bangun, setelah itu aku juga membangunkan Mira, lalu Celi. Untuk Jio aku tak memperdulikannya. Pahlawan sialan mesum seperti dia aku tidak peduli, mungkin aku menendangnya nanti setelah kami berhenti.
Tidak menunggu lama, kami sampai di depan gerbang. Disamping ada barisan antrian panjang manusia, dan kami ada dibarisan antrian kereta. Seperti biasa, penumpang kereta juga di perikasa satu persatu begitu pula dengan dagangannya. Jadi ini akan memakan waktu yang panjang.
Para penjaga gerbang telah mendatangi kereta kami, dan kini sedang berbicara dengan Alga-san. Dan rekan-rekannya akan mengecek kereta, beserta penumpang, termasuk para petualang yang mengambil quest mengawal kereta.
Akhirnya kami akan berpisah disini.
Sebenarnya aku sangat tidak mengharapkan hal ini. Tapi karena ia telah menyelamatkan nyawaku, maka aku akan membalas kebaikannya, juga karena tujuan kami kebetulan sama. Aku akan membantunya sampai ke Academy town. Mungkin aku juga akan menjadi senpainya disana, jadi kupikir akan menyenangkan, bukan?. Membalas perlakuan buruknya padaku, si Pahlawan mesum sialan, Jio.
(Huhuhu... Aku akan membalasnya, mulai dari sekarang)
Phuak
Orang itu terbang melayang dari kereta, jatuh dan berguling-guling di tanah. Mungkin semacam itulah yang dilihat orang-orang di depan gerbang ini. Beberapa ada yang terkejut, beberapa ada yang biasa saja. Tapi yang paling membuatku nyaman adalah para penjaga gerbang, mereka tak mempedulikan. Sebenarnya itu tidak baik sama sekali, saat melihat dua orang berkelahi dan mereka tak berusaha menghentikannya padahal mereka bagian dari pasukan kerajaan.
Mungkin saat aku yang berkuasa nanti aku akan sedikit menekan disiplin mereka.
"Mira! Ayo kita pergi! "
"B-baik Hi-Nora. "
Sepertinya ia masih terperangah dengan apa yang baru saja kulakukan.
Sedangkan Jio yang baru bangkit dari tanah, mendatangiku segera. Pahlawan ini benar-benar marah nampaknya.
"Bisakah, kau bangunkan aku lebih baik!? " [Jio]
"Tidak!!! Setelah apa yang kau perbuat padaku dasar mesum! " [Himria]
"Apa...? Aku hanya menyapamu saat kau bangun. " [Jio]
"Ugh.... Dan kau pikir aku menginginkannya? Juga setelah kau membuat kancing bajuku terbuka!! " [Himria]
"K-kapan? Aku sama sekali tak melakukan hal itu!!. Untuk apa coba? aku memegang sesuatu yang datar! Aku tidak suka dada datarmu" [Jio]
"D-datar? " [Himria]
Kuharap telingaku tidak salah dengar. Ia mengatakan ''datar'', sebelumnya ia juga mengatakan ''rata''.
(Datar katanya? Aku tidak datar! Aku hanya belum... Ugh Pahlawan mesum sialan!!!)
Aku ingin memukulnya, aku akan memukulnya sekarang...
Aku mendatanginya dengan siap memukul. Namun..
"Cukup!!! Hentikan! kalian berdua! "
Namun aku dihentikan oleh Mira. Kenapa?
"Apa kalian sadar kita ada dimana? " [Mira]
(Dimana katanya?)
Lalu aku melihat kesekeliling. Kami menjadi perhatian kerumunan orang. Para pengantri, petualang, pedagang, dan juga penjaga gerbang. Mereka seakan berhenti melakukan aktivitas, dan mulai berbisik diantara mereka.
(T-tunggu, apa yang baru saja telah aku katakan? K-kancing baju? Lalu juga tentang d-dada?. Kya.... !!! Aku malu)
Uwaaa.... apa sebentar lagi akan muncul rumor-rumor memalukan, seperti seorang putri yang.... bersama dengan laki-laki mesum di kereta??
(Tidak!!!!!)
Aku tidak tahan lagi. Uh, akh ingin segera pergi dari sini, dan lari dari istuasi ini. Tapi untunglah aku masih memakai kerudung jubahku, jadi tidak ada yang mengenalku, mungkin.
"Mira! Ayo pergi! "
"B-baik! "
Aku berjalan cepat arah gerbang, tak kupedulikan semua mata yang memandangku. Lagi pula mereka juga tidak melihat wajahku. Aku tidak perlu khawatir.
"T-tunggu!! Kalian sudah mau pergi!? " [Celi]
Namun kalimat Celi-chan menghentikan langkahku. Aku meliriknya sedikit, dan yang kulihat adalah wajah sedihnya, seperti anak-anak.
Aku tidak terlalu suka melihat wajah manis seperti itu. Tapi, begitu imut... Aku tidak tahan.
"Kami tidak bisa selamanya ikut dengan kalian. " [Himria]
Aku menjawab sebisa mungkin agar ia tak menunjukkan wajah itu lagi. Akan tetapi ia membuatku terkejut sekali lagi.
"....K-kalau begitu, aku yang akan ikut dengan kalian! Bolehkah?" [Celi]
"Ha? Tapi... "
Saat aku masih terkejut, ia sudah menghilang dari mataku. Ia berlari ke-ayahnya. Aku tau, ia pasti sedang memohon dengan ayahnya untuk ikut dengan kami. H-hey!! Aku tidak mengharapkan ini sama sekali.
Kemudian ia kembali kepadaku.
"Ayahku sudah membolehkan, jadi boleh ikut dengan kalian dan mendaftar ke Academy.. "
"?? O-oi"[ Himria]
"Aku juga membawa uang, jadi aku tidak akan merepotkan kalian " [Celi]
Kata Celi sambil menunjukan sekantung uangnya.
"...??" [Himria]
Aku bahkan belum sempat berkata-kata. Wajahku pastinya masih tegang saat ini. Kemudian manusia sialan yang tak diinginkan malah nyambung seenaknya.
"Eeh...? Celi mau ikut dan masuk keAcademy town juga? " [Jio]
"Iya, Jio. Aku akan bersama pahlawan-ku untuk seterusnya." [Celi]
"Dan Hime-sama, akan jadi senpai-ku! Bolehkan Senpai?" [Celi]
"A-ah.. Ya, baiklah" [ Himria]
"Yeah..." [Celi]
Aku menyerah. Dan sekarang anggota kami bertambah dua orang. Sialnya pagi ini.
Setelah itu kami memasuki kota setelah Mira bernegoisasi dengan penjaga gerbang disana. Dengan melihat reaksi penjaga gerbang itu saat melihatku, aku yakin ia membocorkan identitasku padanya.
(Huh... Tidak biasanya aku pergi ke-Academy dengan keadaan seperti ini. Oh, ya tuhan masalah apa lagi yang akan menungguku didepan!!!)
Pov end
~~~
Pada saat rombongan empat orang itu sedang berjalan, Celi menanyakan sesuatu kepada Jio.
"Pahlawan-ku, apa kamu tidak suka yang datar? " [Celi]
Chapter sembilan
Disaat Mentari menjelang malam dan gerbang kota akan di tutup. Dua kuda yang kelelahan, ditunggangi oleh 4 orang melewati gerbang tanpa hambatan. Dilanjutkan dengan antrian dibelakang mereka, sekelompok orang dengan dua kuda itu memasuki kota Klem
Kota Klem, kota terakhir bagi setiap orang yang ingin pergi ke Academy town. Dinding yang mengelilinginya sangat besar, menara-menara pemanah berdiri menjulang disetiap sudut dinding kota. Kota tersebut di apit oleh dua bukit batu dan padang rumput yang luas. Lurus terus dari gerbang timu kota adalah jalan menuju benua tengah, Academy Town, yang disambut oleh hutan yang super lebat.
Kota benteng ini ada dibawah kekuasaan marquess Graham.
"Huah... Akhirnya kita tiba di kota Klem. Aku lelah berkuda... " [Celi]
"Cel!, yang seharusnya lelah itu aku!... " kata Mira setelah ia kembali dari hadapan penjaga gerbang, menggiring kudanya lalu memimpin masuk.
"Bagaimana denganmu... Nora? " tanya Mira yang merupakan pelayan putri yang menyamar sebagai Nora.
"Aku baik-baik saja, tapi yang paling menyedihkan adalah pahlawan sial yang tak hentinya gemetaran dipunggungku ini! " balas Himria.
Dibelakang Himria, tepatnya Jio yang bergemetar hebat sambil memeluk Putri Himria dari belakang. Itu berlangsung sangat lama sejak beberapa jam yang lalu, sejak mereka mulai berkuda.
Wajar, seorang Jio yang berasal dari dunia modern, tidak lagi menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Ini adalah pertama kalinya Jio menunggangi kuda, itu membuatnya sangat gugup dan gemetar.
"Tapi sepertinya anda menikmatinya. Dipeluk? " kata Mira.
"Pahlawan-ku dan tuan putri memang cocok. " sambung Celi.
Mendengar itu Himria langsung merasa malu dan pipinya memerah. Kemudian karena tidak tau mau dilampiaskan kemana rasa malunya itu, ia memukul kepala Jio dengan sikunya hingga ia jatuh dari kuda ke tanah.
BHUAK
"Aadaw!! " pekik Jio.
"A-ak-aku tidak akan pernah menikmatinya dari pahlawan menjijikan yang mesum ini!! Dan panggil aku Nora disini!!" Himria marah dengan kedua orang itu.
Mungkin orang-orang yang melihat adegan ini akan menaruh iba pada Jio. Mereka mungkin akan beranggapan bahwa laki-laki itu telah dicampakkan oleh pacarnya. Betapa malangnya nasibnya.
"Ah... Jio Pahlawan-ku!! Kau sangat kejam sekali Hi_ No-nora! " [Celi]
Celi langsung turun dari kuda dan memeluk Jio, yang setengah pingsan ditanah. Sedangkan Mira hanya melihatnya dengan wajah rumit, mungkin ia bingung harus berbuat apa. Ia berdiri disamping Himria yang duduk di atas kudanya.
¡°Lagi pula ngapain juga aku harus berdua dengannya...!¡±
¡°Mohon maaf, itu karena hanya saya dan Nora saja yang bisa menunggangi kuda dengan baik.¡± [Mira]
"Mungkin... Sebaiknya kita sekarang mencari penginapan untuk malam ini. " [Mira]
"Ya..." [Himria]
Mereka berjalan sambil menyeret kuda sedangkan Jio yang pingsan ditidurkan diatas kuda.
~
Saat ini kelompok itu sedang menikmati makan malam mereka di salah satu restoran penginapan di kota Klem. Mereka makan dengan cara mereka masing-masing, dan yang paling elegan adalah Himria. Tentu saja bagaimana pun ia adalah seorang Putri.
"Aku yakin ayahku pasti sangat sibuk sekarang. " [Himria]
"Apa karena fenomena cahaya itu? " [Jio]
"Ya... Ku perkirakan itu adalah kekuatan sihir atribut cahaya yang jelas melampaui pendeta suci gereja. " [Himria]Stolen from its rightful place, this narrative is not meant to be on Amazon; report any sightings.
"Kau sudah mengatakan itu sebelumnya... " [Jio]
Pada saat itu, saat fenomena cahaya yang tiba-tiba jatuh dari langit itu, mereka berada di sebuah bukit dan berkemah disana. Saat mereka sedang menikmati makan malam, tiba-tiba di barat muncul pilar cahaya raksasa dari langit dan kemudian melebar. Jarak antara tempat jatuh cahaya itu dengan tempat mereka berada sangat jauh. Meskipun begitu, langit masih dapat dilihat dan tak berujung, sehingga jatuhnya pilar cahaya yang seakan-akan dijatuhkan oleh dewa itu terlihat dengan jelas, dan posisi mereka yang berada di bukit juga menguntungkan untuk melihatnya.
"Cahaya itu sangat terang, seakan-akan jatuh dari langit, dikirim oleh dewa. Aku jadi ingin melihatnya lagi " [Celi]
Bukan hanya mereka tapi mungkin semua penduduk kerajaan yang terjaga pada malam itu telah menyaksikan fenomena tersebut, dan mungkin rata-rata berpikiran sama, ¡°Dewa telah memberikan pertolongannya.¡±. Kecuali bagi kekaisaran yang mustahil mereka untuk dapat melihat itu, karena jarak yang sangat jauh dari kerajaan.
Dengan munculnya seorang berkekuatan seperti itu para penguasa tentu akan sibuk. Tidak terkecuali kerajaan Iblis.
Contohnya saja kini, Raja Hyuglan Robert pasti sibuk memerintahkan intelejennya untuk mencari informasi tentang orang itu, yang kemudian diharapkan akan menjadi boneka kerajaan. Ia panik mengumpulkan informasi dari setiap bangsawan, pendeta, petualang dan orang-orang berpengaruh lainnya di kerajaan.
Mungkin kalau mereka tau siapa sebenarnya orang itu, mereka akan lebih ketakutan.
"Perkiraanku ada warga dunia lain juga selain para Hero. " Tiba-tiba Jio mengeluarkan isi pikirannya.
"Ha? Apa maksudmu? " [Himria]
""....??"" [celi] [Mira]
Celi dan Mira lebih tidak dapat memahami apa yang dimaksud oleh Jio. Bagi Celi meskipun ia telah di beri tahu bahwa Jio memang adalah pahalawan yang dipanggil kerajaan ia masih belum paham. Apa memang benar seperti itu? bagaimana itu bisa terjadi? Jika iya, dimana kampung halaman Jio?
Ia masih mengganggap bahwa Jio adalah pahlawan hanya baginya saja.
"Contohnya, Gurumu itu! " kata Jio.
"Guruku? " Ulang Himria.
" Yang selalu saja kau ceritakan diperjalanan itu. " [Jio]
"Oh... maksudmu master Felis. Ia bukan secara langsung adalah guruku. Elf cantik nan kuat itu, ia bagaikan idolaku. "
"Ya Ya.. kau sudah mengatakan itu berkali-kali. Aku ingin tau apa kau sadar bahwa ia adalah warga dari dunia lain?" tanya Jio.
"Bagaimana mungkin kamu bisa menduga seperti itu sedangkan kamu belum menemuinya atau bahkan melihatnya? " Himria jadi curiga.
"Aku tau dari... Ehm?"
Jio terlihat kebingungan saat ia merogoh kantongnya seperti orang kehilangan sesuatu.
"Sepertinya aku menjatuhkannya." [Jio]
"Menjatuhkan apa? " [Himria]
"Kamu kehilangan sesuatu pahlawan-ku? " [Celi]
Celi yang melihat tingkah Jio tersebut bertanya penasaran dan khawatir.
"Y-ya... Sepertinya begitu, itu selembar kertas. " [Jio]
"Selembar, apa? " [Himria]
"Pengumuman pendaftaran siswa baru academy town. " [Jio]
Jio mengucapkan itu dengan ekspresi pahit berusaha mengingat dimana ia menghilangkannya.
"Kalau itu aku punya. " [Mira]
Mira pun mengeluarkan selembar kertas dari kantongnya. Persis itu adalah selembaran pengumuman. Jio merasa terselamatkan dari kebingungannya, ia mengambil selembaran itu dan melihatnya sekilas, memastikan bahwa itu sama dengan selembaran yang ditemukannya waktu itu.
"Jadi apa yang aneh dengan selembaran ini? " Tanya Himria penasaran.
Himria bertanya penasaran. Karena ia sama sekali tidak menemukan keanehan pada selembaran tersebut.
"Penulisannya. Kau lihat!!, tidak ada perbedaan antar permukaan kertas yang dikenakan tinta dengan yang tidak, ini terasa sama. Seakan tulisannya bukan ditulis dengan pena!¡± jelas Jio.
"Memang seperti itu! " Jawab Himria datar.
"Ha? "
"Academy town memiliki sebuah alat sihir yang dapat memperbanyak tulisan pada banyak kertas dengan bentuk tulisan yang sama. " [Himria]
Itu benar, ada sebuah alat sihir di academy town yang berfungsi untuk memperbanyak dokumen dengan mudah tanpa perlu ditulis tangan.
"Mesin fotocopy !" [Jio]
"Me... apa? " [Himria]
"Itu seperti mesin fotocopy dari duniaku. Dengan fungsi yang sama memperbanyak dokumen. Tapi ini alat sihir, berarti mesin fotocopy sihir! " [Jio]
"Dari dunia pahlawan-ku? " [Celi]
"...." [Mira]
"Aku tidak tau hal itu. " [Himria]
"Keren... Kalau begitu berarti dugaanku tepat, elf paladin Felis juga warga dunia lain yang berasal dari dunia mo... dern. Tunggu dia kan seorang elf? " [Jio]
Jio baru saja menyadari sesuatu, Felis Kelina adalah seorang elf. Dan di dunianya tidak ada yang namanya elf, elf biasanya berasal dari hutan dan juga dikenal sebagai penjaga hutan. Namun elf bernamakan Felis ini adalah elf dengan ilmu dunia modern. Kenyataan itu membingungkan Jio.
"Felis memang dari dunia lain. " [Mira]
Tiba-tiba Mira yang dari tadi diam, kini berbicara.
"... Hime juga mengetahui itu. Penduduk kelas atas rata-rata mengetahuinya. " [Mira]
Tentu saja Jio cukup terkejut bahwa dugaannya benar. Tapi tentang dugaan bahwa Felis berasal dari dunia yang sama dengannya itu adalah sebuah kesalahan.
"Jadi itu sudah menjadi rahasia umum. Lalu Sejak kapan ia berada di dunia ini? " [Jio]
"Semenjak 200 tahun yang lalu. Kisahnya bagaikan legenda, dan ia datang kemari bersama dengan laki-lakinya. " [Mira]
Kisah mereka memang sudah menjadi legenda, sejak sebelum manusia mengenal ras demon. Felis bersama laki-lakinya yang kini namanya sudah hampir dilupakan karena nama Felis yang selalu saja diingat.
"Ia sudah tua ternyata...."
Jio berpikir lagi, ternyata memang tidak mungkin elf itu sendirian kedunia ini tanpa maksud tertentu. Lalu laki-laki itu...
"Lalu kemana perginya laki-lakinya itu? Apa ia meninggal? " [Jio]
"Tidak, ia menghilang sejak 150 tahun yang lalu, diasumsikan bahwa ia telah pergi ke dunia yang berbeda meninggalkan Felis sendirian. " [Mira]
Mendengar penjelasan Mira, Jio terdiam sebentar. Ia kembali memikirkan hal yang ada kaitannya dengan cerita itu.
Felis bersama laki-lakinya yang mungkin adalah kekasihnya telah mendatangi dunia ini. Tapi kemudian laki-lakinya itu meninggalkan Felis sendirian di dunia ini dengan pergi ke dunia lain. Itu berarti ia adalah seorang yang dapat dengan mudah berpindah-pindah antar dunia.
Ia juga bersama Felis yang berarti kekuatannya setara atau lebih dengan Felis. Dan untuk sekarang baru saja telah muncul kekuatan besar yang seperti ku pikirkan barusan.
Itu yang dipikirkan Jio.
"Jadi ia hanya laki-laki brengsek! Dan... aku yakin sekarang ia sudah kembali. " [Jio]
"Kembali? Apa maksudmu? " [Himria]
Jio memegang kepalanya sebentar setelah mendengar respon Himria.
"Tidakkah kau memikirkannya. Felis adalah eksistensi terkuat di dunia ini, ia datang dari dunia lain bersama seseorang, kemudian orang itu menghilang dan diasumsikan telah pergi dari dunia ini.
Jika ia adalah kekasihnya Felis tentunya ia adalah seorang yang setara dengan Felis atau bahkan melebihinya.
Kemudian malam sebelumnya kekuatan besar muncul dari langit wilayah barat, dan tidak pernah sekalipun kekuatan besar seperti itu muncul kecuali dari Felis sendiri. Tapi itu bukan darinya, yang berarti telah muncul seorang yang lain yang kekuatannya menyamai Felis.
Dan.... dugaanku dia adalah mantan kekasihnya Felis! Bukan begitu. "
Jelas Jio panjang lebar akan apa yang ada dipikirkannya. Bagaimana pun juga ia adalah anak yang cerdik.
".... Aku... tidak memikirkan sejauh itu. "
~~~
Keesokan paginya, kelompok Jio akan berangkat kembali melanjutkan perjalanan. Dari gerbang timur kota Klem, ia akan lurus terus sampai memasuki hutan. Ia sama seperti Armil, yang tidak ingin berlama-lama di kota dan segera mencapai tujuannya. Ia sangat penasaran dengan Academy Town itu.
¡°Apa kau tidak bisa lebih cepat dari itu?¡±
¡°Apa tak ada yang bisa kau lakukan selain memerintahku?¡±
¡°Sudahlah... kalian berdua jangan bertengkar lagi, kita akan berangkat,¡±
Seperti biasa, Mira selalu jadi penengah. Celi? Ia hanya penonton.
Setelah itu, dua kuda dengan empat orang itu pun meninggalkan kota Klem menuju Academy Town
Tbc
Chapter 10
.
Di ruangan gelap dengan sedikit cahaya. Dimana cahaya Mentari sudah menyelinap masuk lewat celah gorden tebal itu. Kasur berantakan, kain yang tak beraturan, bantal guling yang terjatuh dan kaki putih pucat yang menyelip keluar dari bawah selimut.
Nyaris sedikit lagi tubuh dibalik selimut itu yang berada di pinggir ranjang akan jatuh ke bawah. Andai bergerak ke kanan sedikit saja ke kanan itu akan menimbulkan suara ''Gedebuk'' di lantai. Namun harapan untuk selamat dari itu tidak ada. Apa yang diperkirakan terjadi ketika benda itu berbunyi seperti alarm jam beker.
Kriiiiing.......
Benda bulat dengan tampilan layar jam 7 AM yang berbunyi sebagai deringan alarm. Membangunkannya dengan kejut suara, dan ia pun terjatuh.
Gedebuk
~
Felis Kelina, setelah dibangunkan oleh jam bekernya dan jatuh ke lantai kamarnya, ia tidak dapat kembali ke tidurnya lagi. Terdiam sesaat disana dengan rambut kusut, yang beberapa menempel dipinggir bibir Indah berliur itu.
Matanya sayu, telinga elfnya bergerak naik turun, dan pikirannya masih linglung. Tepatnya seperti orang yang baru bangun tidur. Mungkin ia tidak sadar bahwa ia baru saja jatuh dari ranjangnya.
"Ah... Aku hampir lupa ini adalah hari itu!"
Setelah baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting baginya, lamunannya langsung buyar dan ia segera bangkit, lalu menuju kamar mandi. Mungkin, ia akan membuat dirinya semenarik mungkin untuk pertemuan yang dinantikannya.
~~
Academy Town, tempat apa itu? Mungkin jawabannya akan berbeda-beda menurut setiap orang dari kalangan berbeda.
Jika ditanyakan kepada rakyat kelas bawah seperti petani maka jawaban mereka akan "itu adalah kota tempat orang-orang bisa mempelajari sihir "
Jika ditanyakan kepada orang-orang berpikiran kotor jawaban mereka akan,"Itu adalah tempat yang banyak cewek cantiknya"
Jika ditanyakan kepada pedagang manusia, "Itu adalah tempat yang menguntungkan untuk memasarkan barang-barang dan biaya hidup yang rendah. namun sulit untuk dimonopoli, karena mayoritas penduduknya bukan manusia."
Jika ditanyakan kepada bangsawan manusia, "Itu adalah tanah yang kaya dan aman dari perang namun di kuasai oleh orang-orang yang berbahaya "
Dan jika ditanyakan kepada para penguasa, "itu adalah kawasan netral, yang mendukung kedua belah pihak perang dan keberadaannya merugikan kedua belah pihak dalam perang, namun juga menguntungkan bagi rakyat dari kedua belah pihak. Sebuah tempat dimana eksistensi terkuat didunia berada, dan tak dapat diusik oleh pihak lain."
Academy Town, adalah sebuah kota para pelajar yang diperuntukkan bagi ras apapun. Dipimpin oleh seorang elf paladin, Felis Kelina dan tak terikat dengan perang antar manusia dan iblis, meskipun disana Iblis dan manusia berada dalam satu kelas yang sama tidak ada permusuhan yang jelas dipermukaan.
Semua pendapat diatas adalah benar. Academy town satu-satunya kota yang sangat berbeda dengan yang ada di dunia itu, seperti sebuah negara yang berdiri sendiri.
Teknologi mereka juga tidak dapat disaingi oleh bangsa maupun kota lain. Sekalipun utusan suatu Negara bersekolah disana, tetap saja apa yang diajarkan terbatas pada hal yang disetujui oleh Felis. Dan meskipun mereka mencoba mencari tau, sistem di kota itu secara otomatis menolaknya. Sebuah sistem hukum yang hanya dapat diatur oleh adminnya, Felis.
Ada banyak sistem hukum otomatis yang diprogram disana. Demi keamanan kota dan penduduknya. Seperti saat ada seseorang yang ingin melakukan pembunuhan, ketika senjatanya atau sihirnya hampir mencapai targetnya, detik itu juga mereka diteleportasikan dalam jarak tertentu sehingga pembunuhan gagal, atau aktivasi sihir itu segera dibatalkan oleh sistem.
Atau saat seseorang akan melakukan pencurian, aksinya itu akan secara otomatis diketahui oleh divisi keamanan dengan, bunyi alarm dan tampilan dalam layar seperti TV.
Kekuatan itu tidak ada seorang pun yang berani berbuat jahat di Academy town. Akan tetapi, meski itu adalah kekuatan mutlak seorang penguasa, tetap saja punya kelemahan. Sistem itu berfungsi selama masih dikawasan Academy Town. Setelah diluar dinding kekuatan sistem itu akan melemah.
Kemampuan itu adalah sistem master, adalah kemampuan milik Armil yang dititipkan pada Felis. Pengertian umum sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan diantara mereka. Nah, prinsip kemampuan sistem master ini adalah untuk mengubah, membuat dan mengatur hubungan tersebut.
Contohnya dapat mengubah aturan yang berlaku di alam, seperti mengubah hukum alam air mengalir ke bawah akan berbalik ke atas selama berada di dalam wilayah sistem hukum itu aktif. Atau bahkan seperti, ¡°seseorang akan mati jika kepalanya terpisah dari badannya¡±, akan diubah menjadi, ¡°seseorang yang kepalanya terpisah dari badannya akan tersambung kembali dan kematian tidak akan menghampirinya¡±. Itu adalah hukum mutlak yang sudah dibuat dengan kemampuan sistem master. Did you know this story is from Royal Road? Read the official version for free and support the author.
Academy town.
Hingga kemarin suasana disana masih normal seperti biasa. Namun hari ini ada yang berbeda. Felis yang biasanya bersikap dingin dan hanya peduli pada tugas, kini terlihat bersemangat dan ceria. Bahkan setelah menyapa beberapa pengurus rumahnya ia melompat terjun dari jendela yang jaraknya puluhan meter dari tanah. Itu jelas membuat mereka terkejut, meskipun mereka tau ia akan baik-baik saja dengan hal itu tapi bagi akal mereka yang mengatakan itu berbahaya tidak mungkin untuk tak terkejut melihat aksi itu.
Kenyataannya, Felis dapat terbang dengan mudah diudara tanpa sayap.
"Wiii.... "
Langit pagi Academy Town, dibalik kabut pagi, elf cantik itu mengudara dengan ceria. Wajah ceria sambil meneriakkan keceriaan dan telinga yang bergerak naik turun.
Setelah berputar berkali-kali dilangit, dan ia telah puas meneriakkan kesenangannya, ia mendarat di balkon kantornya. Saat membuka pintu kaca itu, ia langsung disambut oleh seorang wanita berpakaian hitam rok panjang dengan belahan hingga kepinggang, seperti rok gadis cina. Ditangannya beberapa dokumen yang sepertinya akan diselesaikan hari ini.
"Sangat jarang anda ceria seperti pagi ini, Felis."
"Oh...? Auly? Aku sangat senang hari ini, kau tau. Aku yakin kau pasti juga akan senang mendengarnya. " [Felis]
Aulin Clotaire, sekretaris Felis dalam memimpin Academy Town, posisinya lebih seperti Perdana mentri dalam kerajaan. Wanita setengah demi-human, dari ras manusia burung. Ia tidak sepenuhnya demi-human karena ibunya yang manusia dan ayahnya yang manusia burung. Jadi parasnya sangat menyerupai manusia hanya saja memiliki sayap bewarna hitam. Andai saja ras Angel ada, maka ia hampir mirip seperti itu.
"Kalau boleh saya tau, hal apa itu, Felis? " [Aulin]
"My Honey telah kembali! "
Felis menjawab lembut dan dengan wajah merona yang tak dapat ditahan.
Yang ia maksud tentu saja adalah Armil.
...
"My Ho_?.... Tunggu apa maksudmu..... "
Kali ini Aulin tidak menggunakan bahasa formalnya, setelah rasa terkejut yang mulai keluar.
"Ya.... Armil telah kembali. " [Felis]
"Ha?...... M-Ma-Master Armil? Kembali?... Benarkah itu? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tau? Bagaimana keadaannya? Dimana master saat ini? Apakah ia baik-baik saja? " [Aulin]
Aulin terkejut gembira sekaligus juga panik. Itu jelas, Aulin juga salah satu murid Armil sejak lebih dari 1 setengah abad yang lalu. Ia diselamatkan oleh Armil saat ia diusir dari desa oleh rasnya sendiri. Itu terjadi saat ayahnya sakit lalu wafat, dan ibunya yang adalah manusia dibunuh oleh ras manusia burung, sehingga ia melarikan diri dan diselamatkan oleh Armil. Apa yang terjadi beberapa tahun setelah itu adalah ia yang membantai desa tempat ia tinggal dulu, sehingga hanya ia yang tersisa dari rasnya. Yang ironisnya adalah Armil hanya membiarkan itu terjadi. Ia sebenarnya memang tidak peduli dengan konflik dendam antar mereka. Meskipun begitu, Armil telah menyelamatkannya sehingga ia akan tetap setia padanya.
Saat ini Aulin dalam penampilan pakaian hitamnya, dengan sihir tertentu ia telah menyembunyikan sayapnya cukup lama. Karena selama ini bekerja dengan Felis dan sudah lama tidak ada pertarungan yang dibutuhkan hingga ia harus membuka sayapnya.
"Tenangkan dirimu Auly. Sayangku saat ini sedang dalam perjalanan ke sini, mungkin ia akan tiba sore nanti! "
"Benarkah? maka aku akan membuat sambutan untuk master di kota kita! " [Aulin]
Aulin begitu bersemangat, untuk master tersayangnya yang telah kembali setelah 1 setengah abad, ia akan memberikan sambutan terbaik yang pernah ada. Tapi...
"Itu tidak perlu, Sayangku Armil sama sekali tidak ingin membuat banyak perhatian terhadap dirinya. Ia masih ingin keberadaannya dirahasiakan. Jadi mari kita berikan sambutan terbaik hanya cukup dari kita saja!! " [Felis]
"Oh... Aku hampir lupa sifat master, mohon maafkan aku. " [Aulin]
"Tidak apa-apa. Silahkan beritahukan kepada para resepsionis, jika ada seorang dengan ciri-ciri Sayangku Armil menemui mereka, segera temui aku diruanganku!! " [Felis]
"Baik master Felis, pasti akan aku kerjakan. Aku tidak sabar untuk menemui master. Tunggu... Bagaimana jika aku saja yang menemuinya?" [Aulin]
Aulin merasa bahwa memberitahukan keresepsionis hanya akan memperlambat pertemuan dengan master. Jadi ia berpikir untuk menemuinya lalu membawanya ke Felis.
"Tidak! Itu tidak akan menjadi kejutan yang menarik! Aku minta juga padamu untuk menemui dan juga mengajak Darkon!! Nanti. " [Felis]
"Benar juga, aku hampir melupakan si pemabuk itu. anda juga sepertinya ingin menjadi orang pertama yang menemui master... Baiklah kalau begitu aku pamit! " [Aulin]
"Eh? Y-ya... "
Setelah perbincangan itu, Felis duduk dikursinya ingin melanjutkan beberapa dokumen yang harus diisi dan diselesaikan setelah kemarin yang tersusun dimejanya. Sambil akan mengerjakan itu, ia tidak bisa menghilangkan senyum dan rona merah diwajahnya untuk beberapa saat. Ia terkadang hanyut dalam khayalannya.
"Ufufu... "
.
~~~
.
Tak menunggu lama waktu pagi telah menjadi siang, itu hanya melewati beberapa jam. Terkadang waktu berjalan begitu cepat, dan siang itu adalah sekitar pukul 2 PM jika dilihat dari jam beker Felis di kamarnya.
Disudut-sudut kota Academy, tempat yang sama sekali bukan untuk para pelajar, dimana para demi-human tua menikmati hidup mereka dengan minuman dan gadis-gadis. Sebuah tempat yang sering membuat sakit kepala bagi Felis.
Ditempat itu seorang peminum langganan disalah satu bar, meneguk minumannya sambil menyembunyikan setengah wajah dengan topi bundarnya. Setelah satu tegukan dan mengembalikan botol kemeja, ia masih memainkan topi di wajahnya itu. Terkadang ia memutarnya atau meniup dengan nafasnya.
"Apa aku membuat kesalahan lagi? "
"Seingatku aku hanya menghabiskan minumanku, dan terkadang bertukar pukulan dengan beberapa orang..."
Glup Glup
Ia meneguk minumannya lagi. Itu sudah hampir tegukan terakhir sebelum minuman alkohol di botol itu habis.
(Baru seminggu yang lalu aku menemui Felis, dan sekarang burung seksi itu memintaku menemuinya lagi. Apa mungkin akan ada ceramah? Atau mungkin...)
"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan pilar cahaya itu?. "
Entah karena lelah dengan memainkan topinya, ia membuka dan meletakannya disamping botol.
Kini wajah merah kasar bersisik dan beberapa bagian yang menyerupai tanduk mengarah kebelakang dan rambut putih dibaliknya, terekspos cukup jelas dibawah remang-remang ruangan. Itu wajah seorang dari ras naga.
Tap tap tap,
Suara beberapa orang berlarian dijalanan Batu, lalu masuk dengan membanting pintu bar, membuat seisi bar terkejut.
"Pak Darkon! Darurat, Wofleo barat diidentifikasi telah dihancurkan! "
"Apa?!!! "
Dan si wajah naga itu tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Meja dan kursi disana sempat bergetar kuat saat ia berdiri spontan. Dialah yang dipanggil sebagai Darkon.
(Jadi ternyata masih ada yang ingin menantangnya untuk kesekian kalinya. Apa pilar cahaya itu ulahnya juga? Apa mungkin itu hanya provokasi saja? )
"Bagaimana keadaan disana sekarang? " [Darkon]
"Beberapa magical beast yang menghadang juga telah dibersihkan, kini pasukan divisi-1 sedang dalam perjalanan"
"Baik kalau begitu aku juga akan segera kesana. "
Setelah mengatakan itu, ia kembali mengenekan topinya. Postur tegapnya dapat dilihat oleh semua orang. Kulit naga bersisik merah dibalik pakaian yang menyerupai seragam militer cina, dan pedang katana merah yang tergantung di pinggangnya. Setelah sekian lama waktu yang ditunggu pun tiba.
(Huhu... Sudah lama aku tidak mendapatkan lawan yang tangguh. Aku tidak bisa mengatakan ini di depan tuanku, Felis tapi aku senang)
Itu adalah keinginan para pecandu bertarung. Disana tidak ada yang lebih kuat atau setara dengannya selain Felis dan Aulin. Ia suka pertarungan tapi mereka berdua tidak. Dengan munculnya seorang yang kuat, itu membuat jiwa petarungnya bangkit. Meski dalam kesimpulannya orang tersebut datang untuk menantang Felis. Jelas sebagai bawahan Felis ialah yang akan lebih dulu mengatasi orang itu.
"Darkon!! Semoga kau berhasil!! Aku menunggumu kembali dan minum di barku untuk hari-hari berikutnya!! "
Si pemilik bar yang saat itu sedang mengelap gelasnya dengan sapu tangan, mengatakan hal itu kepada Darkon. Bukan hanya ia, tapi semua orang sebenarnya juga mengharapkan itu. Andai saja Darkon tidak ada mungkin tempat-tempat disana telah lama digusur atas keputusan Felis.
Mereka para bajingan tua dalam artian.
"Haha... Tentu saja aku akan kembali. " [Darkon]
Darkon begitu semangat akan pertarungan. Hanya saja ini akan menjadi alur yang sedikit berbeda dengan yang diharapkan. Karena ia tidak tau siapa sebenarnya ''orang'' itu.
Kemudian, Divisi keamanan Academy Town, menuju pertempuran.
~~~
Chapter 11
.
.
Akhirnya aku sampai. Itu yang kupikirkan tentang saat ini.
Namun apa yang kuhadapi melebihi apa yang kuharapkan. Sebuah gerbang dari pohon raksasa yang membentuk celah raksasa ditengahnya, dan memiliki daun pintu ganda disana. Jika kuingat, ini belum ada 1 setengah abad yang lalu. Aku sama sekali tidak mengharapakan hal-hal seperti fantasy tingkat tinggi akan kuhadapi saat ini.
Baiklah kurasa memang telah banyak yang berkembang, aku hanya telah melewati banyak masa. Jadi aku pun melewati gerbang dan memasuki kawasan benua tengah.
~
Sebelumnya, aku telah bangun di penginapan tepat saat matahari akan terbit. Dalam kebiasaan mereka, waktu itu adalah masih sangat pagi, mereka terlihat malas saat melayaniku untuk check out. Entah kenapa pagi ini aku sangat bersemangat.
Aku meninggalkan kota, melanjutkan perjalanan, dan siang ini aku telah dekat dengan tujuan.
Sesuatu di balik gerbang pohon, kupikir akan menjadi sesuatu yang lebih spektakuler. Jalanan Batu dengan tiang-tiang berbatu sihir bersinar di kepalanya, tersusun rapi berjejer disamping kiri dan kanan jalan.
Setelah kuanalisis dengan kemampuan penilaian salah satu bagian dari kemampuan psikis. Tiang-tiang itu berfungsi untuk membuat jalan lebih aman, benda itu menghalau magical beast, demon beast ataupun monster untuk menyerang pejalan yang memakai jalan ini.
"Karya yang hebat. " gumamku.
Itu yang kupikirkan, karena sekarang tidak ada siapa-siapa selain aku, jadi apa salahnya bicara sendiri.
Aku pun berlari santai, sambil menikmati pemandangan hutan yang terasa berbeda dari yang lain dan beberapa monster yang kulihat hanya duduk diam dibalik pepohonan.
"Felis memang telah menciptakan hal-hal menakjubkan. " Gumamku.
Sekarang aku pun berlari dengan kecepatan abnormalku.
.
Hutan telah berakhir, dan sekarang adalah tanah lapang, Padang rumput. Pemandangan hijau sejauh mata memandang benar-benar menyegarkan pikiranku lagi. Tiupan angin yang melambai-lambaikan rumput terlihat Indah seakan berirama. Itu membuatku tidak tahan untuk hanya melihat dan berdiam di jalur yang aman. Jadi kuputuskan aku keluar dari jalan dimana perlindungan tiang-tiang itu tak berfungsi.
Apa yang kuhadapi adalah sebuah kejutan lagi. Belum begitu lama aku berlari di Padang rumput, beberapa monster yang sepertinya magicial beast datang menyerangku. Namun mereka mati dalam satu pukulan.
"Tak kusangka, bahkan Padang rumput juga kekuasaan mereka." gumamku.
Aku bertarung menggunakan sebuah belati yang sebelumnya kudapatkan di reruntuhan desa itu, dengan mengayunkannya dan menggipaskannya membentuk serangan angin.
Ada mahluk yang berpostur serigala hanya saja bertaring besar dan panjang. Ada pula yang menyerupai gorila tapi bercakar beruang. Tetapi, yang paling banyak menyerangku adalah si yang berpostur serigala itu.
Berputar dan menebas mereka sekali banyak dalam satu tebasan. Tendang dan pukul.
Dalam sekejap bangkai binatang telah beserakan disekitar dan mewarnai kehijauan Padang rumput dengan cipratan merah darah.
"Ah... Kapan habisnya. "
Merasa bosan dengan hal ini, aku juga berpikiran ini akan menghabiskan waktuku sia-sia. Pilihan keluar dari jalan, ternyata memang pilihan yang salah. Karena sudah terjadi maka teruskan saja.
Aku berlari.
Kemudian hal mengejutkan lainnya kembali datang ke penglihatanku. Itu berada pada 1 km dari tempatku berdiri. Namun ukuran raksasanya memperjelas dan wujudnya memberikan kesan ''keren'' dikepalaku.
Itu seperti monster serigala, lagi. Tunggu sejak kapan Felis menyukai serigala? Setelah jenis magical beast, kali ini jenis raksasanya.
Bedanya adalah yang magical beast memiliki daging dan darah, sedangkan yang raksasanya tidak. Ini lebih menyerupai patung Batu yang dapat bergerak. Ia seperti Gargoyle.
Sekarang aku sudah tiba dihadapannya.
"OI!!! APA KAU DAPAT MENDENGARKU!!! "
Sejenak ia tidak merespon, lalu kepalanya bergerak dan mata bercahayakan biru mengarah padaku. Suara gesekan dan getaran Batu dapat terdengar saat itu.
Kraft
Tak kusangka, responnya buruk. Tidak, aku sudah menduganya.
Dalam sekejap cakar batunya itu telah menggaruk tanah tempat tadinya kuberpijak, sedangkan aku melompat tinggi kelangit menghindari itu.
"HEI!! APA KITA HARUS BERTARUNG? "
Aku mencoba bertanya, siapa tau ia paham dengan ucapanku. Terkadang monster raksasa lebih cerdas dari pada yang kecil. Apalagi jika itu benar-benar gargoyle.
"GRAOURRR!! "
"Baik, sepertinya kau tidak paham. " kataku.
Mengatakan itu selagi berada diudara, lalu mendarat mulus dengan mengambil jarak dari serigala Batu itu. Ia pun juga merespon dan kaki belakangnya juga mulai bergerak. Itu melangkah kedepan perlahan, dengan keempat kakinya.
Kali ini ia mengejarku sambil terus memainkan cakar batunya padaku. Sedangkan aku terus saja melompat mundur menghindari itu. Ia semakin cepat dan aku pun juga semakin cepat. Jika begini terus mungkin suatu hari nanti aku akan dikenal sebagai pelompat mundur tercepat yang pernah ada. Tidak, ini tidak akan terjadi.The story has been taken without consent; if you see it on Amazon, report the incident.
Soal ini Bukan berarti aku tidak bisa menyerang, atau terpojokkan olehnya. Sebaliknya, ini begitu mudah jika aku ingin menghancurkannya. Alasannya adalah karena aku takut.
Aku takut Felis akan marah padaku.
"Sial! Karena sepertinya tidak ada pilihan lain, aku akan menanggungnya. " gerutuku kesal.
Aku berhenti melompat setelah satu lompatan besar. Berdiri disana sambil mengeluarkan satu belati dan menghunuskannya kepada siserigala batu. Lalu melesat kedepan dan memangkas horizontal dua kaki depannya bersamaan.
Paarr
Dua kaki itu hancur sehingga ia jatuh kedepan dengan kepala yang merusak tanah.
Namun ternyata itu tidak mempan. Serpihan batu dari dua kaki yang hancur itu kembali menyatu dengan tubuh utama. Seperti magnet yang kembali melekat, dan membentuk dua kaki depan.
"Baik, ternyata kau cukup merepotkan. "
Musuh yang paling merepotkan adalah yang pintar beregenerasi. Itu fakta, karena setiap kali kau melukainya luka itu akan sembuh dalam sekejap dan kembali seperti semula. Jadi disini aku benar-benar harus menghancurkan dalam satu pukulan.
Satu hal lagi, biasanya mahluk seperti ini memiliki inti dalam tubuh mereka, yang membuatnya tetap hidup selama inti masih utuh. Jadi yang harus kulakukan adalah menghancurkan dalam satu pukulan dan mendapatkan intinya lalu menghancurkannya juga.
Kesimpulannya aku harus menghancurkan semua komponen tubuhnya.
"Hm... Aku tidak membutuhkan pisau untuk melakukan ini. "
Belati itu aku jatuhkan ditanah, sambil memasang ekspresi yakin.
Menunggu saat ia semakin lebih dekat, aku memasang kuda-kuda-ku.
GROURRR...
Ia melompat seperti singa yang menerkam mangsanya, namun masih dengan postur serigalanya.
Menanggapi itu aku juga melompat, menyiapkan tinju tangan kananku dan tangan kiriku sebagai perisai. Mungkin jika dilihat lewat samping akan dapat dilihat seperti kami akan beradu pukulan terakhir. Serigala itu dengan kepalanya dan aku dengan tinjuku.
Dan sekarang jarak pun semakin kecil. Sekarang adalah saatnya...
"Terima ini!! "
Bhar....
Satu pukulan merobohkan semuanya, ini seperti yang kuharapkan. Tapi...
Tidak, ini mungkin malah berlebihan.
"Whoa... Ternyata kau terlalu rapuh. "
Hasil dari tinjuku mengenai kepalanya, tembus hingga ke bagian ekornya. Retakan yang begitu cepat menyebar dari kejutan tekanan pukulanku yang kuat. Seperti pasir dan kerikil tubuhnya hancur menjadi seperti itu.
Dan tak ada lagi suara auman.
Lalu, sebuah bola kristal sebesar kepalan tangan muncul dari balik pasir dan kerikil itu. Bercahaya perak dan berpendar-pendar.
Pasir dan kerikil bereaksi dengannya.
Aku mengambil bola itu segera dan mengangkatnya hingga sejajar mataku. Pasir-pasir disekitarnya melayang dan menempel padanya seperti magnet.
Perlahan tapi pasti pasir-pasir dan kerikil yang bergerak itu akan kembali membentuk wujud serigala Batu raksasa. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena akan merepotkan menghancurkannya untuk yang kedua kalinya.
"Kali ini kau benar-benar hancur. "
Dengan genggamanku aku menghancurkannya, menjadi bongkahan kristal biasa di telapak tanganku. Bola kristal hancur dan pergerakan pasir pun berhenti sehingga kembali jatuh ketanah.
"Huh.... Ceramah Felis mungkin akan menantiku di masa depan... " ucapku lesu.
"... Dan aku merindukan itu. "
~~
Tumpukan pasir dan kerikil berserakan disekitar tempat Armil berdiri. Setelah menyimpan bongkahan kristal dikantong jubahnya, ia mulai meninggalkan tempat itu. Dengan santai berjalan merasakan tiupan angin Padang rumput. Ia tampak menikmatinya.
Pasir dan kerikil yang tadi menjadi timbunan dibalik rerumputan. Lenyap setelah ditiup angin menjadi debu berkilau hingga kemudian tak terlihat lagi. Rerumputan yang tadi tertimbun, kini sudah kembali bergoyang karena tiupan angin. Seakan tidak terjadi apa-apa beberapa saat yang lalu.
Beberapa menit kemudian, setelah melewati beberapa bukit kecil, Armil menghentikan langkahnya. Dengan wajah dibawah penutup kepala itu, ia terlihat mencurigakan.
Ada sekelompok demi-human bersenjata memblokir jalannya. Berpakaian seragam seperti militer Cina, dan membentuk barisan formasi tempur. Salah satu dari mereka, seorang ras demi-human Kucing berbadan kekar, maju kearah Armil dan menodongkan pedangnya.
"Apakah kau yang menghancurkan Wofleo kami di daerah ini? " ia bertanya dengan cukup tekanan.
Armil yang mendengar pertanyaan itu jadi bingung dan berkeringat dingin. Bukan karena tekanan intimidasi dari demi-human kucing ini. Melainkan karena hal lain.
Ia mengira Wofleo mungkin adalah sebutan mereka untuk serigala batu yang baru saja ia hancurkan. Dan Felis akan menagih pertanggung jawabannya untuk itu. Dengan mengirim mereka.
(Apa Felis benar-benar marah sehingga mengirim orang-orang ini padaku?) pikirnya.
(Apa yang harus kulakukan?)
Armil membuka penutup kepalanya untuk menghilangkan ketegangan. Sebelumnya ia mengenakan itu untuk menghindari panas. Jadi sekarang agar ekspresinya dapat dilihat oleh lawan bicara, ia membukanya.
"Ah.... Itu... Maaf, Aku tidak sengaja. Kalau boleh aku akan meminta maaf langsung pada Felis yang mengirim kalian kesini. Bagaimana? "
Mendengar jawaban Armil itu membuat wajah sikucing itu menegang marah. Genggaman pada pedangnya malah semakin kuat.
"Kau pikir kami akan memaafkanmu begitu mudah?! Dan juga trik murahanmu, ingin meminta maaf pada Felis?? Jangan bercanda!!! kau hanya akan mencelakainya! Kau juga tak menghormatinya dalam menyebutkan namanya! Mahluk sepertimu bahkan tidak pantas untuk menyebutkan namanya. Kau pikir aku tidak tau isi pikiranmu! Bajingan! "
(Whoa... Itu bohong, Kau tidak tau apa pun isi pikiranku, sebaliknya aku tau apa yang kau pikirkan dengan mudah... mengambil kesimpulan berdasarkan pikirkanmu sendiri, dan mengatakan itu isi pikiranku, bodoh. Jadi apa mereka ini semacam fans-nya Felis, atau apalah itu?. Tapi akan semakin rumit jika mereka dikirim kemari atas perintah Felis)
Di beberapa tempat seperti sekolah atau kantor yang memiliki Madonna disana, biasanya beberapa sekelompok lelaki menjadi Fans-nya dan mengancam setiap lelaki yang mendekatinya, seakan Madonna itu Dewi mereka. Dan sepertinya hal itu juga terjadi disini, terhadap Felis.
"Um... Apa nyona Felis... yang mengirim kalian? " tanya Armil, dengan sopan.
"Tidak! Kami adalah divisi 1 keamanan garis depan, bergerak otomatis atas tugas kami! "
Mendengar itu Armil lega, dan sedikit mengurut dadanya.
(Oh.... Syukurlah.. Kupikir Felis benar-benar sudah marah padaku)
Si kucing yang jadi pemimpin dikelompok itu, melihat gerakan Armil mengurut dadanya membuatnya waspada.
"Apa yang akan kau lakukan, sialan? "
"Eh? Apa? "
"Semuanya bersiap menyerang, musuh hanya sendiri. Pastikan kita mengalahkannya dan menyerahkan kepalanya kepada Felis!! "
"""YEAH"""
Sorak mereka bersama.
"Eeh... T-tunggu! "
Namun suara Armil tak lagi terdengar oleh mereka, dan Medan pertempuran pun tercipta.
"Eits.... "
Tembakan crossbow besi dan serangan pedang, menyerang Armil secara beruntun. Mereka bahkan tak menyempatkannya untuk bicara. Namun Armil hanya mengelak tipis dan melompat menghindari tembakan. Ia bahkan tak menyerang.
"Ada apa? Kau bahkan tak menyerang, pengecut! "
"Aku tidak meniatkan itu. " [Armil]
"Hahah.... Terserah mu, itu bahkan akan mempermudah kami mendapatkan kepalamu!! "
"Coba saja. "
Mereka semakin bersemangat, menunjukan seringai wajah menyeramkan dan ganas. Jika manusia biasa mungkin akan tumbang hanya dengan melihat dan merasakan tekanan mereka. Tapi bagi Armil itu hampir sama seperti sekumpulan serangga.
Ia bahkan menguap ngantuk beberapa kali.
"Sialan, kenapa tidak ada satu pun yang berhasil. "
Ujar sikucing kesal, sedangkan Armil hanya berdiri diam tak jauh darinya dengan menutup sebelah matanya.
"Baik! Gunakan sihir kalian untuk melawannya! Dapatkan. Kepalanya!!"
"""Siap!! """
Sihir penguat tubuh, penguat senjata, dan sihir element. Beragam sihir dari skuad yang berbeda, skuap pedang dan skuad pemanah. Mereka menggunakan sihir untuk musuh yang mereka anggap sulit untuk dikalahkan. Tanpa sihir bahkan fisik mereka sudah dua kali lipat manusia biasa, dengan sihir maka akan menjadi lebih kuat.
Tapi tetap saja, percuma untuk melawan Armil.
Shift
Gerakan mereka semakin cepat, skuad pedang dengan tebasan pedangnya menghasilkan angin tebasan yang juga berbahaya. Tanah dan pohon yang terkena itu kini penuh dengan bekas tebasan.
Panah yang diluncurkan kini beralirkan sihir, lebih tajam dan kuat dan juga dapat mengejar musuh. Skuad pemanah yang mayoritasnya terdiri dari para elf, bukan perempuan tapi elf laki-laki.
Serangan panah cukup membuat Armil bergerak mengelak lebih cepat dari sebelumnya. Ia menghindari semuanya dengan sempurna. Mereka berpikir bahwa ia akan kelelahan nantinya. Tapi tidak ada tanda-tanda kelelahan pada Armil sedikit pun.
"Ada apa?!! Sial!! Kenapa tidak ada satupun yang kena!?! "
Sikucing itu semakin kesal melihat tidak ada satu pun serangan yang kena, sedangkan pasukannya sudah mulai kelelahan.
"Kalian tak lebih hanya serangga kecil bagiku! " jawab Armil acuh.
"Apa katamu?! Jaga bicaramu bajingan!! "
Sikucing semakin marah, emosinya meningkat.
"Untuk apa? Jika hanya menghadapi orang bodoh sepertimu! " [Armil]
"Sialan kau manusia! Seenaknya menghina kapten kami!! "
Salah satu dari skuad pedang marah saat Armil menghina sikucing.
"Kalian bahkan lebih buruk lagi, melawan musuh yang tak bersenjata dengan senjata! Apa guru kalian tidak mengajari itu dalam etika bertarung!! "
Semua orang tegang saat mendengar kata-kata Armil. Tadinya mereka pikir ia hanyalah manusia pengecut yang bersedia menundukan kepalanya pada mereka, dan mereka merendahkannya. Namun kini auranya terasa berbeda.
Itu jelas Armil sedikit melepaskan tekanan aura kekuatan besarnya.
"Biar kutanya sekali lagi, SIAPA YANG PENGECUT DISINI?!!! HAH? " [Armil]
Semua diam bahkan suara jangkrik pun tak terdengar.
"Baik, kalau begitu biar aku sendiri yang akan melawanmu..."
"... Pedang dengan pedang. Akan kutunjukan apa yang telah diajarkan pak Darkon padaku."
Sikucing berbicara sambil menyerahkan satu pedang kepada Armil dan satu pedang dalam genggamannya.
(Darkon? Sepertinya nama itu tidak asing bagiku.)
Sambil menerima pedang Armil memikirkan itu.
"Kapten!! Apakah akan baik-baik saja seperti itu? "
"Ya.. Apa kalian masih ingat apa yang diajarkan pak Darkon pada kita? Dan kita sama sekali tidak menjalankan itu saat berhadapan dengannya. "
"".......""
"Jadi biarkan aku melawannya dalam pertarungan pedang satu lawan satu! "
""Baik!! Kapten""
Dengan begitu mereka menyiapkan kuda-kuda masing-masing, para bawahan sikucing menjauh dari area pertarungan dan berharap kaptennya akan menang. Namun Armil bahkan tak memasang kuda-kuda, ia hanya berdiri lenggok dan memegang pedang tanpa mengangkatnya.
Melihat ekspresi dan sikap Armil yang bahkan sangat santai saat pertarungan akan dimulai itu malah membuat mereka dan sikucing semakin kesal. Sikucing jadi ingin segera mengalahkannya.
"MULAI!!! "
Dan pertarungan pun dimulai.
"Hyaa... "
Klang
Sikucing melesat kearah Armil dan mengayunkan pedangnya. Tapi ditangkis oleh pedang Armil membuat tangan sikucing gemetaran, sedangkan Armil tak berefek apa-apa, masih dengan tampang santai.
Tatapan mereka beradu begitu pula pedang mereka. Tapi yang paling tegang adalah sikucing. Ia merasakannya kekuatan Armil yang begitu besar lewat tangkisan pedangnya.
Hingga sebuah peringatan menurunkan ketegangannya.
"HENTIKAN!!! "
Sosok naga merah setinggi dua meter berseragam militer, muncul dari langit setelah melipat sayapnya. Sosok yang mereka kenal sebagai...
"Pimpinan? pak D-darkon? "
Ia menundukan wajahnya dan menyembunyikan matanya dengan topinya berjalan cepat kearah area pertarungan. Entah apa yang ia sembunyikan dimatanya, tak ada yang tau.
Reflek sikucing mundur dari Armil menurunkan pedangnya dan tunduk pada Darkon.
"Musuh a_"
Namun Darkon mengacuhkannya, ia bahkan tak meliriknya. Dan malahan ia melakukan hal yang mengejutkan semuanya.
Darkon berlutut pada manusia itu.
"Se-Selamat datang kembali, Master! "
.
.
.
Chapter 12
Darkon pov
Saat itu aku dalam perjalanan menuju pertempuran. Baru saja bawahanku melapor bahwa Wofleo barat telah dihancurkan, dan itu mengejutkanku.
Sejatinya, monster serigala batu itu, bukanlah lawan yang mudah untuk dihancurkan. Juga dengan ratusan Magical Beast disana akan semakin mempersulit untuk menangani semuanya. Setidaknya untuk menangani itu semua, musuh tidak sendiri atau berkelompok dalam penyerangan ini.
Lagi pula, dengan musuh yang tidak melewati jalur aman dan berhadapan dengan Wofleo, menandakan bahwa musuh hendak menyusupi Academy Town tanpa melewati pintu gerbang. Tapi bukankah ini malah hanya menjadi sebuah keributan, lalu apa maksud musuh yang sebenarnya?
Para penantang Felis sebelumnya, bahkan sama sekali tidak ada yang menghabiskan waktu mereka untuk berhadapan dengan Wofleo. Mereka juga memasuki Academy Town dengan sopan, meski dengan niat yang buruk. Namun untuk kali ini, aku tidak dapat memahami apa motif musuh. Hanya satu kesimpulan yang ingin kupetik, ''musuh kali ini adalah yang terbodoh tanpa maksud yang jelas dan mengamuk seenaknya di wilayah kami''.
Tapi sebenarnya musuh seperti itu lebih menyenangkan diajak bertarung. Aku menantikannya.
"Lapor! Musuh dikonfirmasi hanya sendiri, tanpa rekan bahkan senjata. "
Suara telepati memasuki pikiranku. Ini adalah laporan dari pasukan divisi 1 yang sudah lebih dulu dan sekarang mungkin sedang berhadapan dengan musuh. Tapi ini hanya sendiri.
Tidak sesuai dengn perkiraanku, tapi malah membuatku semakin bingung.
(Sendiri, tanpa senjata apalagi rekan? Lalu dengan apa ia menghancurkan Wofleo dan ratusan Magical Beast? Tinjunya? Sihirnya?)
Aku berpikir lebih dalam.
Ia hanya sendiri, dan aku berpikir bahwa ia adalah yang paling gila dari setiap musuh-musuh ku sebelumnya. Paling tidak mereka memiliki senjata sebagai pendukung kekuatan tempur mereka, yang biasanya bisa jadi pedang, panah, tombak ataupun staff sihir.
Meski begitu ia tidak menggunakan senjata, menghabisi ratusan monster magical beast, dan satu raksasa Batu tanpa senjata cukup merupakan hal yang gila untuk dibayangkan. Itu juga menandakan betapa kuatnya dia.
"Hoh... Gairah bertarungku, membuatku tidak sabar, kali ini adalah lawan yang kuat. "
Ya, aku tidak sabar untuk bertukar pukulan dengan lawan gila yang kuat ini. Mungkin bisa kuperkirakan ulang, bahwa ia adalah seorang pecandu tempur.
".... Hm... Tapi, "
(Tunggu, bukankah ini aneh... )
Aku berpikir lagi, sudah lama aku tidak berpikir mendalam seperti ini. Karena keseharianku yang selalu bersenang-senang.
(... Ia mengamuk, dan mengundang banyak perhatian. Ini bisa jadi semacam pengalihan. )
Pengalihan, itu yang terpikirkan olehku. Ada kemungkinan bahwa ini adalah taktik musuh, membuat keributan untuk menarik perhatian pada satu titik. Sementara yang lainnya menyusup tanpa kami sadari.
Baik, aku beruntung menyadarinya sebelum sampai pada tujuan.
"Semuanya!!! Dengar!!! Segera amankan setiap titik perbatasan kota di wilayah barat, kemungkinan ini hanya semacam pengalihan. Jadi pergilah!! Segera!! Untuk yang satu ini biar aku yang urus!! "
"""Yes!!! pak Darkon!!! """
(Haah... kira-kira sejak kapan aku dipanggil pak)
Setelah aku mengumumkan itu, divisi keamanan 2, 3, dan 4 dengan masing-masing kaptennya, segera mengubah jalur ketempat yang berbeda. Sedangkan aku masih lurus dan tujuanku adalah tempat divisi 1 bertempur. Tentu saja, keinginanku adalah bertarung dengan musuh yang kuat ini. Kalau tidak salah kapten divisi satu adalah muridku, aku hanya berharap ia masih baik-baik saja dengan kebodohannya itu.
Namun keinginanku untuk bertarung sirna...
Saat aku semakin dekat aku merasakan tekanan aura yang membuatku menegang.
Sebuah aura yang besar dan begitu familiar. Begitu besar hingga aku tak dapat menyamainya dengan kekuatanku. Sungguh aku tidak akan pernah bisa melupakan aura ini.
Sudah sangat lama aku tidak merasakan aura ini. Hingga membuatku tidak dapat menahan emosiku. Air mataku tak terbendung, sehingga aku menutup wajahku dengan topiku untuk menyembunyikannya. Aku pun berlari semakin kencang, karena rasa ketidaksabaran.
Hal ini sudah sangat lama kunantikan.
"Ti-tidak salah lagi, itu bukan musuh, itu adalah..... "
Aku tidak lagi bisa mengatakan bahwa itu adalah musuh...
" ....Master ."
Pov end
.
~~~
.
Baik, jadi.... Siapa naga ini?Did you know this story is from Royal Road? Read the official version for free and support the author.
Tunggu mereka mengatakan Darkon, apa ia Darkon Silvano si kadal merah bodoh itu? Seingatku dulu ia hanya kadal merah tanpa sayap.
Tidak, sayapnya memang sudah ada hanya saja waktu itu masih, kecil.
Jadi inikah dia sekarang? Tidak jauh beda dengan Zelioth yang sudah terlihat tua, ia juga beruban. Ya, aku melihat rambut putih disana.
Jika seperti ini apa Felis juga terlihat tua?. Tidak, itu tidak mungkin aku tidak akan mau berhubungan intim nenek-nenek. Tapi kalau memang itu yang terjadi, aku terpaksa mentransformasi tubuhnya. Aku yakin ia masih bertubuh muda, harus.
Hal yang membuatku bingung adalah, kenapa ia menutup wajahnya dengan topi sementara berlutut padaku?. Aku jadi tidak bisa melihat wajahnya, dan mengkonfirmasi dengan ''Darkon'' diingatanku.
"Um... Ya, jadi... Apa kau Darkon Silvano? "
Sambil menggaruk kepala belakangku. Aku mencoba bertanya, karena kurasakan tekanan udara yang semakin menegang, apalagi keributan dari orang-orang yang kurasa bawahannya Darkon ini.
"Y-ya... Ma-master Armil, s-saya Darkon Silvano, muridmu. "
Ada apa dengan suaranya? Semakin bergetar. Seakan ia berat untuk mengatakan itu. Dan aku yang mendengar menjadi tidak nyaman.
"... Kalau boleh, bisa kau tunjukan wajahmu! Aku jadi tidak bisa mengkonfirmasi apa kau memang Darkon, si kadal merah bodoh dan ceroboh itu? "
Ia menegang mendengar permintaanku, tapi segera ia hilangkan dan meletakan tangannya di topinya.
"B-baik, maafkan aku master. "
...
Melihat itu, aku cukup terkejut.
Tubuh kekar dan besar, jika menangis ternyata tampak sangat... Lucu.
Dibalik topinya adalah wajah naga, aku tidak lagi bisa mengatakan kadal dengan wajah intimidasi seperti itu. Tapi menangis? Wajah seram seorang naga, tak pernah kusangka akan terlihat lucu saat menangis.
Ini seperti wajah boneka naga.
"Pffft... Ternyata kau memang Darkon, lama tak jumpa ya... "
"Iya, master... "
Tidak lagi ada keraguan dihatiku, ini memang wajah yang familiar. Darkon Silvano salah satu muridku yang paling semangat dan gila bertarung.
Kalau tidak salah mungkin ada satu lagi yang bersifat sama sepertinya, hanya saja ia seorang perempuan. Aku pasti akan bertemu dengannya juga suatu hari nanti.
"Baik, sekarang apa kau bisa melakukan sesuatu terhadap orang-orang itu? "
Aku menunjuk ke arah sekumpulan demi-human yang menyerangku, yang mengaku bahwa mereka adalah divisi 1 keamanan garis depan. Mungkin Darkon adalah pemimpin tertinggi mereka, tidak... Kurasa memang sudah pasti begitu. Dan tadi sikapten bodoh ini juga memanggilnya ''Sensei''? Apa ia juga guru mereka?.
"Baik master, akan kulakukan. "
Lalu ia berbalik menghadap seluruh anggota divisi 1. Berdiri tegas dan tegap sangat berbeda saat berhadapan denganku yang bertubuh lebih kecil darinya.
"Dengarkan!! Kuperintahkan divisi 1!! kembali ke markas!!"
""Tapi... ""
"Segera laksanakan!!! "
""Ya.. ""
Ternyata masih ada yang bingung dengan apa yang terjadi, ya. Tentu saja, melihat pimpinan mereka yang tiba-tiba saja tunduk pada musuh itu pasti akan mengejutkan akal mereka. Kuharap Darkon menjelaskannya dimasa depan, jika tidak kurasa ia akan kehilangan kepercayaan mereka.
"Len!! Pimpin anggotamu dengan baik!! "
"B-baik pak Darkon. "
Jadi sikapten bodoh itu dipanggil sebagai ''Len'', itu seperti kata ''lend'' dalam bahasa inggris yang artinya ''pinjamkan''. Yah, sifatnya tidak beda jauh dengan Darkon muda. Kurasa cocok mereka menjadi guru dan murid.
"Ah... Mereka sudah pergi. "
Sekarang sekumpulan itu sudah pergi, hanya ada aku dan Darkon disini.
"Mohon maafkan aku master, karena sudah membiarkan mereka menyerangmu. "
Darkon kembali menundukan kepalanya, ia tampak merasa bersalah karena tak dapat menghindari bawahannya untuk menyerangku.
"Tidak apa, itu Bagus untuk selalu waspada. Lagi pula orangnya Zelioth juga melakukan hal yang sama. "
Aku mengatakan tentang bawahan Zelioth, pasukan yang dipimpin oleh Gora di desa kedalaman hutan kabut barat.
"Zelioth? Master sudah menemuinya? "
"Ya... Ia orang pertama yang kutemui, saat datang dari penghujung benua barat, kira-kira begitu. Nah, mari tidak perlu begitu formal, panggil saja Armil, oke?"
"B-baiklah, m-master. "
"Oke... Sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu untukku! "
Sebuah ide yang tiba-tiba saja terlintas dikepalaku. Membuat senyum tipis licik terlukis diwajahku.
Aku beruntung bertemu Darkon.
~~~
Dibalik awan dan kabut Mentari bersembunyi, dan dibawahnya aku...
"Uooh... Kelebatan hutan tampak sangat Indah dari atas sini.!!! Ini... sudah sangat lama aku tak merasakan sensasi ini... "
Saat ini, aku terbang dan angin penerbangan mengahantam kuat wajahku. Rasanya begitu segar dan perasaan nostalgia saat terbang dilangit memenuhi kepalaku.
"Kau tau, Darkon aku beruntung menemuimu, karena aku juga sudah bosan berjalan.... "
Aku tidak terbang dengan kekuatanku sendiri melainkan dengan menunggang naga. Ini benar-benar naga, meski tubuhnya humanoid tapi sayapnya tetap sayap naga. Tubuhnya kekar dan hampir dua kali lipat ukuran tubuhku. Seperti yang diduga, aku menunggangi Darkon.
"Armil, aku tak menduga kau memintaku untuk menjadi tungganganmu!"
Darkon yang berada di bawahku berkata.
Ia tidak benar-benar di bawah. Hanya saja saat ini aku duduk dipundaknya sambil berpegangan didua tanduknya. Ini lebih seperti adegan ayah yang menggendong anak laki-lakinya.
"Ada apa, kau keberatan? "
Tanyaku. Mana tau ia keberatan baik fisik ataupun mental. Jika memang fisik apa mungkin badanku berat? Jika mental aku malas memperkirakannya.
"A.. T-tidak, tidak mungkin aku keberatan. Sebaliknya, ini merupakan suatu kehormatan bagiku. Aku cuma tak mengira bahwa anda tidak dapat terbang."
"Jika aku bisa, aku sudah berada didekat Felis saat ini juga..."
"Aha... Benar juga. "
Tentang kemampuan terbangku masih tersegel disuatu tempat. Dan tempat itulah yang kini jadi tujuanku. Tapi itu bukan alasan nomor satu bagiku. Tentu saja, alasan utama adalah Felis.
"Jadi, Academy town apa masih jauh? "
"Ah... Itu,... "
Kami terbang diatas lautan pohon setelah melewati kawasan Padang rumput. Tanah disini tidak rata, melainkan miring seperti lereng. Menurut apa yang dikatakan Darkon, saat ini kami berada di kawasan perbukitan Benua tengah. Memang benar, aku juga melihat lereng dan tebing disana sini. Sekali lagi aku beruntung mendapat tunggangan terbang, karena melewati bukit-bukit itu adalah merepotkan.
Dan setelah melewati kawasan ini barulah Academy Town.
"Kau terlalu lambat Darkon!! Tambah kecepatanmu!! "
"Okeee... "
Satu hentakan sayap naga itu, menambah kecepatan berkali lipat di udara. Sekalipun terpaan angin itu kuat hingga menimbulkan jejak diudara, itu tak berpengaruh pada kami berdua yang merupakan eksistensi abnormal dunia ini. Apalagi aku yang merupakan master dari ke-6 murid abnormal. Ah, terlalu berlebihan memang.
30 menit kemudian, aku tiba ditempat yang diharapkan. Kota besar Academy Town.
Tidak jauh dibawah sana adalah gerbang logam berpadu kayu, beberapa hiasan kristal yang berpendar dan pohon tinggi dikedua sisi. Sepanjang garis sisi gerbang, dinding kayu berlapis dengan logam sebagai lapis intinya. Berpadu pula dengan itu, tiang-tiang Batu kristal yang berjarak masing-masingnya, memancarkan sihir pelindung atau barier transparan kelangit, membentuk semacam kubah besar yang melindungi satu kota yang bahkan aku tak dapat melihat ujungnya.
Tanpa menurunkan ketinggian Darkon terus melaju terbang, menembus barier dengan mudah, dan masuk kekawasan kota.
Begitu rapi sejuk dan rindang. Aku sangat kagum bahwa Felis memimpin kota seperti ini. Sangat rapi bersih dan teratur, ditambah dengan beberapa pohon yang tumbuh dipersimpangan atau taman kecil yang menambah kenyamanan kota ini.
"Jadi inikah Academy Town? "
Gumamanku lepas saat menikmati keindahan kota dari atas sini. Tapi siapa sangka Darkon akan membalasnya.
"Sayangnya itu kurang tepat master. "
"Eh? "
Wajah polos pun kutunjukan seiring dengan mengeluarkan ''eh''. Lalu ia menjelaskan.
"Apa yang disebut Academy Town adalah pusat kota. Sedangkan kawasan ini adalah West Town, lalu ada juga North Town dan East Town."
"Bagaimana dengan South Town? "
"South adalah kawasan tebing tinggi, sungai dan hutan, dengan kawasan seperti itu tidak memungkinkan untuk membangun pemukiman disana. "
Penjelasan singkat tentang bagian dari Academy Town. Itu keluar dengan lancar dari mulut Darkon, seakan ia sudah paham betul akan tataan kota disini. Dan itu cukup membuatku kagum padanya. Karena jelas ia sudah banyak berubah dari gambaranku tentang Darkon sikadal bodoh.
"Oo... Ternyata kau cukup pintar juga, Darkon. Setauku kau dulu hanya kadal bodoh yang nakal. "
"Hehe... Keadaan dan pangkat yang memaksaku untuk berubah. Dan waktu juga telah sangat lama berlalu, Master. Tidak mungkin aku akan selamanya bodoh seperti dulu."
"Aku senang kau menyadarinya, betapa bodohnya kau dulu yang hanya berpikir dengan otot... Dan bukankah kau kembali memanggilku master. "
"Aku lebih suka memanggilmu begitu. "
"Hn.. Terserah padamu. "
Lagi, tembok besar dari logam baja hitam mengkilat, datang ke penglihatanku. Tembok besar yang tampak seakan tidak bisa berkarat dan rapuh menutupi bangunan Indah dibaliknya.
Gedung-gedung besar berhiaskan dan bergaya eropa kuno yang rapi dan seragam tersusun disana. Lalu orang-orang dan anak-anak yang berseragam sama berlalu lalang di jalanannya. Sebagian ada yang melihat keatas sebagian ada yang tak peduli.
Yang membuatku takjub sekali lagi adalah bangunan besar diujung sana. Berdiri diatas tanah yang lebih tinggi, dibentengi oleh tebing alami, dan tempat yang kami tuju pada saat ini.
Ketakjuban membuat suaraku keluar.
"Itu..."
"Kediaman Felis. "
"Ha? "
Kediaman Felis, Darkon katakan. Yang berarti itu adalah rumah Felis.
"Jadi itu, rumah Felis. "
"Seperti yang kau duga, master. "
Mengetahui itu adalah rumah Felis membuat jantungku berdebar. Yang paling kuinginkan dan menjadi tujuan utamaku adalah menemuinya kembali, setelah 10 tahun berlalu. Meski bagiku 10 tahun tapi baginya adalah 1 setengah abad. Dalam perhitungan umur manusia, harusnya tidak ada yang dapat hidup setelah melewati waktu selama itu. Tapi ia bukan manusia, melainkan elf suatu wujud keindahan dari dunia fantasi. Dan suatu keindahan yang hanya boleh dilihat dan dinikmati olehku sendiri.
Ia adalah kekasihku ia adalah istriku.
"Akhirnya... "
Tiba-tiba sosok yang melaju kencang diudara, hingga melampaui kecepatan suara, datang dan menghantam tubuhku. Mengangkat dan menjauhkanku dari dudukanku dipundak Darkon. Mengangkat tinggi keudara lalu memeluk kencang tubuhku. Pelukan yang begitu hangat.
Terakhir, kecupan hangat dan nikmat tepat dibibir. Kenikmatan yang sudah sangat lama tidak kurasakan. Kehangatan yang melenyapkan kerinduan. Dan air mata yang mengalir kepipiku, sementara bibir kami menyatu.
Lalu terlepas membentuk tali saliva diantara bibir kami. Tak kusadari airmataku pun ikut terjatuh, melihat sosok itu. Wajah menangis Felis Kelina, kekasihku.
"Aku pulang."
"Ya~~ hiks. Selamat datang kembali, Sayang."
~~~---
Side Story 2
~
"Jadi sekarang hanya ada kita berlima, ya... " [Seigi]
"Sepertinya begitu, Seigi."[Minami]
"Hidup di istana adalah yang terbaik, ini adalah impianku. Aku tak tau mengapa ia memilih ke kota... " [Souri]
"Mungkin ia sombong. Ia pikir bisa hidup dengan mudah di luar sendirian, aku yakin ia pasti akan menyesal dan kembali ke istana! " [Minami]
"Hm... Aku juga yakin itu. " [Seigi]
Beberapa saat yang lalu, setelah menyelesaikan sarapan mereka di istana, yang ternyata hanya ada mereka berlima, membuat Seigi bertanya-tanya, kemana perginya salah satu dari mereka?. Lalu pada saat itu pula Perdana mentri Horis muncul terburu-buru mendatangi mereka. Ia langsung bertanya.
"Para pahlawan, kalau boleh saya minta sesuatu? tolong bacakan tulisan ini. "
Kalimatnya juga terburu-buru.
Saat Seigi membacanya keras-keras, saat itulah semuanya terkejut. Horis pun langsung bersegera menuju Rajanya. Sebuah kejutan dipagi hari yang Indah menghilangkan keindahan itu saat itu juga.
''Saya akan berlatih di luar istana mulai sekarang. Dan saya akan kembali saat waktunya tiba''
Itu baru saja lepas dari sarapan teh dan roti mereka. Dan langsung dikejutkan oleh surat pendek tersebut.
Setelah mendengar kabarnya, surat itu ditemukan oleh pelayan istana yang hendak merapikan kamar pahlawan, lalu sampai ke tangan Perdana mentri yang juga telah curiga tentang jumlah pahlawan dan pada saat itu juga mendatangi kamar tersebut.
Agar tidak terjadi hal yang sama, pelayanan terhadap para pahlawan pun ditambah, itulah apa yang ada di pikiran Horis. Hanya berusaha untuk membuat nyaman para pahlawan tanpa menyadari bahwa mereka juga memiliki keinginan dan ketidaksukaan, pemikiran yang tidak jauh beda dengan Rajanya.
Dan sekarang para pahlawan sedang dituntun oleh seorang ksatria kerajaan menuju tempat pelatihan.
"Aku tidak yakin ia akan kembali" [Toriko]
"Hn? Apa maksudmu? " [Seigi]
Toriko yang menyambung pembicaraan Seigi bersama partainya, langsung ditanya dengan nada tak sedap oleh Seigi.
"Orang itu, Katsuragi Jio, tidak pernah mengambil keputusan sebelum di pikirkan matang-matang. Ia adalah penyendiri yang cerdik untuk mengatasi hidupnya sendiri. Kau tau, sifatnya sama seperti Rafa." [Toriko]
"Rafa? Si pintar itu ya... " [Minami]
"Yang populer itu... Dan semuanya berteriak ''kyaa'' " [Souri]
"Hn... Aku tak melihat ia seperti anak pintar itu... " [Seigi]
"Itu karena, ia tidak menunjukkan kepintarannya kepada banyak orang, seperti yang dilakukan Hayato-san. Ia selalu saja membaca bukunya atau bermain game saat di kelas." [Toriko]
Itu kenyataannya. Jio adalah penyendiri yang cerdik. Kemampuan academiknya adalah nomor dua di kelas, yang artinya satu tepat di bawah Hayato yang identitas aslinya adalh Armil. Menghabiskan waktu di kelas ataupun di atap dengan kebiasaan yang sama, baca buku (novel) atau main game. Ia sama sekali tidak iri dengan Hayato, yang ada malah ia kasian dengannya. Sedangkan Hayato yang iri dengannya.
Rafa (Armil) yang hanya karena ia sering keceplosan menjawab pelajaran dan menunjukan kehebatan secara tidak sengaja itu yang membuatnya populer. Sedangkan Jio kuat menahan diri untuk tidak ceroboh seperti itu.
Itulah perbedaan diantara mereka.
...
"Ng-ngomong-ngomong, so-soal Rafa itu. Ha-harusnya ia juga terpanggil kedunia ini saat itu.. "
Tiba-tiba ada yang nyambung pembicaraan dari samping Toriko.
"Myuka? Kamu bicara... Uwah... Imutnya... " [Souri]
"A.. Ah... Ma-maafkan aku, hu... " [Myuka]
"Tidak apa-apa Myuka... " [Souri]
"Hu..... Hm... " [Myuka]
"Wu... Myuka imut. " [Minami]
"..... " [myuka]
Wajah gadis boneka itu memerah, lalu ia melirik ke arah Toriko yang tersenyum hangat padanya. Ia semakin menyembunyikan wajahnya dan memeluk satu tangan besar Toriko.
Gadis itu memang pemalu, membuatnya irit bicara dan hanya melekat ke Toriko. Bagaimana pun mereka adalah pasangan.
Dan, dua gadis itu menggoda Myuka.
"Ya... Aku juga melihat, lingkaran aneh itu, juga ada dibawah Hayato-san saat itu. Dan seharusnya kita ada bertujuh saat ini.. " [Toriko]
".... Hn, aku tidak begitu melihatnya, aku hanya terkejut dengan keadaanku sendiri saat itu. " [Seigi]
"... Anak pintar itu, tampak lebih banyak misteri saat ia sendiri. Kepintarannya benar-benar abnormal. " [Toriko]This content has been misappropriated from Royal Road; report any instances of this story if found elsewhere.
"Aku juga berpikiran begitu." [Seigi]
...
"Pahlawan sekalian, silahkan kita sudah sampai... "
""Eh? ""
Lamunan mereka terbuyarkan, oleh perkataan ksatria yang membimbing mereka. Kini mereka dihadapkan oleh pintu kayu besar berdaun dua. Kstaria itu memegang daun pintu, tapi ia belum membukanya. Ia menunggu para pahlawan untuk memintanya membukanya.
"Silahkan dibuka. " [Toriko]
"Baik" [ksatria]
Cahaya menembak masuk, dan semakin besar hingga akhirnya jelas apa yang ada dibalik pintu itu.
~
Istana kerajaan Hyugland, sebuah istana besar yang berdiri megah, dari batu-batu yang kuat yang diberkati sihir, menjadi bangunan paling besar di ibukota. Dengan lambang kerajaan mahkota, dipasang hingga jelas terlihat oleh seluruh penduduk kerajaan.
Lalu tepat disamping bangunan itu, sebuah bangunan besar kedua berdiri disana. Gereja suci, yang menjadi tempat ibadah penduduk kerajaan. Batu putihnya disusun rapi dan diujung bangunan ada Batu kristal suci sebagai lambang gereja.
Kemudian bangunan terbesar yang ketiga. Royalty Academy, tempat belajar dan berlatihnya para ksatria-ksatria muda kerajaan Hyugland. Meskipun tidak sebesar Academy Town, Royalty Academy telah melahirkan ksatria-ksatria hebat yang saat ini memimpin di garis depan peperangan dengan ras Iblis.
Itulah tiga bangunan besar di ibukota kerajaan Hyugland.
"Perkenalkan, saya Barton, ksatria nomor dua terkuat di kerajaan. Mulai saat ini akan membimbing para Pahlawan sekalian dalam pelatihan menjadi ksatria." [Barton]
Dihadapan para pahlawan seorang ksatria nomor dua terkuat di kerajaan, memperkenalkan dirinya, dengan hormat.
Seorang pria berotot, dengan tinggi badan rata-rata dan baju besinya yang mengkilat. Karisma dari dirinya benar-benar terpancar untuk orang-orang disekitarnya.
"Y-ya, terimakasih... " [Seigi]
"... Mohon bimbingannya " [Toriko]
"""Uooo.... Barton!!! Pahlawan!!! """
Dan di sekitar mereka, para ksatria pelatihan, menyoraki dengan semangat pagi mereka. Memang benar-benar pagi yang Indah menurut mereka. Saat dimana Pahlawan masa depan yang menghancurkan Iblis, memulai pelatihan pertama mereka.
Hanya dua laki-laki yang merespon Barton. Sedangkan tiga gadis Pahlawan lainnya, gemetaran karena gugup, dikelilingi ratusan orang dan disoraki. Dan yang paling gugup adalah Myuka. Ia memegang erat baju dan lengan Toriko.
"A... Barton. Bisakah kita mulai sekarang, dan keluar dari kerumunan ini. " [Toriko]
"Oh... Ternyata tuan Pahlawan sudah tidak sabar, benar-benar semangat yang Indah..." [Barton]
Dilain pandangan Barton terpesona dengan tubuh besar Toriko. Seakan ia sangat senang mendapat murid baru yang berbakat, sehingga akan ada seorang yang menjadi pengganti dirinya.
Ia juga mengira bahwa Para Pahlawan sudah tak sabaran. Padahal mereka gugup dan gemetaran hanya karena kerumunan. Memang banyak yang perlu dilatih.
"Baiklah, ikut aku! " [Barton]
Mereka pun pergi dari kerumunan.
~
"Whoa... Indahnya.... " [Souri]
"Indah sekali..." [Minami]
Di halaman besar yang menghadap ke jajaran bukit yang Indah, Barton membawa para pahlawan untuk latihan. Posisi mereka tepat berada di bagian belakang Royalty Academy, dan tak banyak orang yang berlatih disana. Sehingga menjadi tempat yang cocok sebagai tempat pelatihan para pahlawan.
Disana juga telah ada seseorang yang menunggu mereka.
"Mungkin sedikit terlambat tapi, selamat datang ke Royalty Academy. Pahlawan sekalian, saya Remina Astela Dartkushi, kepala penyihir kerajaan. Silahkan panggil saya Rem. Mulai saat ini saya yang akan menjadi guru sihir Pahlawan sekalian."
Berdiri disana, seorang wanita berambut perak panjang, dengan pakaian yang menyerupai pakaian Yunani kuno. Dan staf sihir besar dengan bola kristal berkarisma sebagai kepalanya, tergenggam di tangan kanannya.
Ia mengatakan dengan bangga, seakan ia sangat bersyukur telah mendapat tugas itu. Menjadi guru para Pahlawan yang akan menyelamatkan dunia, tentu saja itu adalah kebanggaan tersendiri.
"Mohon bimbingannya, Rem-san."
Jawab salah satu dari mereka.
Ksatria terkuat ke-2 kerajaan dan seorang kepala penyihir kerajaan, akan mengajar mereka tentang bertarung mulai hari itu. Menggunakan senjata dan sihir untuk melawan pasukan Iblis dan membunuh Iblis lord. Sebuah tugas yang berat bagi seorang yang awalnya hanyalah manusia biasa yang telah hidup di dunia modern. Bahkan sebelumnya mereka tidak pernah membunuh mahluk berakal, dan kini adalah menjadi tugas mereka untuk melakukan itu. Meskipun itu bukan manusia, iblis juga memiliki akal.
Dan dari titik inilah petualangan keras mereka dimulai.
~
Setelah mempersiapkan seragam pelatihan mereka. Para pahlawan kini sudah berkumpul di lapangan, bersama Barton dan Remina, mereka tampak begitu bersemangat. Sama halnya dengan kedua orang mentornya itu.
"Namaku, Akahiro Seigi, panggil saja Seigi"
"Aku, Reina Minami. Silahkan panggil Minami."
"Kakihara Souri, panggil saja Souri. "
"A-aku, He-hebihime Myuka. Myuka "
"Toriko! Higiya Toriko! "
Secara bergilir mereka memperkenalkan diri mereka masing masing, kepada dua guru mereka.
"Jadi... Seigi, Minami, Souri, Myuka, dan Toriko. Letak nama panggilan yang berbeda dengan dunia kami... " [Remina]
"Ya... Begitulah" [Seigi]
"Ada perbedaan seperti itu, rupanya. " [Barton]
"Kalau tak salah... bukankah ada 6 pahlawan? " [Remina]
Remina menyadari hal itu.
"Di_" [Seigi]
"Salah satu dari kami telah pergi meninggalkan istana dengan maksud berlatih sendiri, tanpa bantuan dari kerajaan. " [Toriko]
Sejenak Seigi memelototi Toriko yang mengambil jatahnya untuk menjawab. Namun Toriko hanya mengangkat bahu, dan menganggap bukan masalah.
" Aku tidak tau kalau ada 6 Pahlawan. Tapi, Berlatih sendiri? Ia tidak tau apa-apa soal dunia ini!, apa ia akan baik-baik saja sendiri? Apa yang bisa dilakukan nya?" [Barton]
"Ini hanya di ketahui penyihir kerajaan yang membantu pemanggilan... Tapi aku juga berpikiran begitu, apa ia akan baik-baik saja." [Remina]
Remina yang merupakan kepala penyihir kerajaan, tentu saja hadir dalam upacara pemanggilan para pahlawan. Ia yang mengepalai semua penyihir kerajaan, sebagai pasukan tempur ataupun sebagai upacara sihir atau acara lainnya. Bisa dikatakan ia adalah penyihir terkuat kerajaan, tapi itu belum bisa dipastikan dengan jelas.
Masih banyak langit diatas langit.
....
Mereka semua diam sejenak dengan pikirkan masing-masing. Lalu dipecah oleh Barton.
"Tapi sekarang bukan saatnya membicarakan itu, bagaimana kalau kita mulai pelatihan pagi ini. ?" [Barton]
""Baik""Jawab mereka.
Barton dan Remina pun mengambil sikap siap mengajar, yang berbeda dari sebelumnya.
Mereka siap mengajar.
"Untuk pelajaran pertama kita, adalah hal-hal dasar sebagai seorang petarung. Pelatihan fisik." [Barton]
"Dan sebagai penyihir adalah, kalian harus dapat merasakan mana yang ada di dalam tubuh." [Remina]
"Untuk penyihir kemampuan fisik bukanlah sesuatu yang perlu di tingkatkan. Tapi karena kalian adalah para pahlawan yang akan menjatuhkan Iblis lord, adalah penting untuk meningkatkan itu juga. Bukan begitu Barton-san. " [Remina]
"Ya... Kalian akan melebihi tingkat seorang ksatria sihir kerajaan suatu hari nanti. " [Barton]
Itu memang benar, mereka akan berlatih sihir dan teknik bertarung secara fisik. Efek yang dihasilkan dari perjalanan antar dunia memberikan mereka kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya, itulah yang diharapkan dari Para pahlawan.
"Maka untuk pelatihan pertama adalah pelatihan fisik, bagaimana Remina-san? " [Barton]
"Aku setuju silahkan, aku akan menonton dari atas. " [Remina]
Ada bangunan besar di dakat lapangan sana. Sebuah tempat yang memiliki ruang untul belajar teori sihir maupun praktik sihir. Dan Remina akan menonton mereka dari balkon gedung itu.
"Baikalah, maka untuk melihat kemampuan fisik kalian... "
"Apa yang harus dilakukan? " [Souri]
Ia cukup berkeringat dingin mengingat olahraga bukan hobinya, dan dalam pikirannya ia akan mengahadapi neraka. Sedangkan Myuka, dua kali lipat perasaannya dari pada Souri. ''Ini akan jadi menyeramkan...'' pikirnya.
"...keliling lapangan 50 kali, push up 30 kali sit up 30 kali, kemudian lari lagi 10 kali..."
""W-wha.... ?!""
Latihan pertama pun dimulai
~~~~
Prang!
Sebuah gelas berisikan teh jatuh dan pecah kelantai lalu disertai dengan...
"APA?!!! Bagaimana mungkin?! "
Suara melengking terkejut yang memecah ketenangan dipagi hari. Itu berasal dari seorang pria tua yang menjabat sebagai Raja di kerajaan Hyugland.
Pagi itu ia tengah menenangkan diri dengan secangkir teh di Balkon ruang Raja sambil menikmati pagi yang indah. Namun setelah ia menerima informasi dari Perdana Mentarinya, tidak ada lagi pagi yang Indah baginya dipagi itu. Benar-benar pagi yang buruk.
Menurut informasi dari Perdana mentrinya. Salah satu pahlawan telah keluar dari istana dan meninggalkan surat dengan tulisan dari dunianya. Lalu surat itu dibacakan oleh pahlawan lain yang tentu saja bisa membaca surat tersebut.
Yang membaca itu adalah Seigi, dan ia pun terkejut setelah membaca surat itu.
''Saya akan berlatih di luar istana mulai sekarang. Dan saya akan kembali saat waktunya tiba''
".... Bagaimana mungkin ia bisa keluar dari istana dengan mudah? .... Horis!!! Bukankah saya sudah memerintahkanmu untuk memperketat penjagaan di sekitar istana, kemarin!? Bagaimana bisa seperti ini?" [Raja]
Horis adalah perdana mentri kerajaan Hyugland. Ia juga tak jauh dari julukan ''pria tua''. Seorang yang sudah melayani sang Raja sejak Raja itu menduduki tahta. Dan kesetiaan juga tidak diragukan lagi. Tapi hal seperti ini benar-benar tak diperkirakan oleh Horis dan Raja itu sendiri.
"Seperti yang telah anda perintahkan yang mulia. Saya sudah meningkatkan penjagaan, dan sama sekali tidak ada masalah dengan itu."
"Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Pahlawan adalah aset penting kita saat ini! Kita tidak bisa membiarkan mereka keluar dari kontrol kita" [Raja]
".... Menurut spekulasi saya, ini mungkin adalah salah satu kemampuan dari pahlawan itu. Bukankah kemampuan pahlawan melebihi rata-rata dari warga dunia kita,? Yang mulia"
".... Itu, memang benar kekuatan mereka melebihi kita, tapi itu adalah hari pertama mereka didunia ini, tidak mungkin kemampuan mereka sudah tinggi secara langsung. Itu mustahil " [Raja]
" .... Mungkin kita terlalu meremehkan mereka yang mulia... "
".... Meremehkan? Aku tak berpikir begitu, ku pikir kehidupan di istana sudah sangat lebih baik dari pada di luar." [Raja]
Memang, raja tak menyangka bahwa akan ada pahlawan yang kabur dari istana. Bagaimana pun juga mereka mendapat pelayanan istimewa selama di istana tidak akan mungkin mereka akan kabur dari istana. Tapi Jio tidak menginginkan itu, ia ingin bebas.
Begitulah, Raja masih mengganggap para pahlawan hanya sebagai senjata andalan mereka sebuah alat, dan ia berpikir bagaimana untuk merawat senjata itu. Itu merupakan pemikiran terburuk seorang penguasa, yang bahkan mengganggap manusia hanya sebagai alat baginya, sebagai bidaknya, tanpa menyadari mereka juga punya perasaan. Jelas Raja itu sama sekali bukankah seorang Raja yang bijaksana.
".... Juga, bukan hanya itu yang di temukan di kamarnya. "
"Bukan hanya itu? Ada hal lain? " [Raja]
Mendengar pernyataan Horis, membuat raja menjadi penasaran. Tentu saja, ia takkan melewatkan informasi apapun. Sekecil apapun itu.
"Aku menemukan ini di lantai kamarnya. "
Horis memberikan kepada Rajanya secarcik kertas. Kertas yang berbeda dengan surat yang di tulis Jio. Dengan beberapa gambar dan tulisan dunia mereka.
"Ini.... "
~~~