《Jenius Yang Nakal》 1. Mesin Sidik Jari Pagi itu sekolah sudah ramai dengan segala kesibukannya, di mulai dari sidik jari sebagai tanda mengikuti apel pagi hingga upacara penaikan Bendera karena hari itu adalah hari senin. Hari senin di Indonesia memang sudah diwajibkan kepada setiap sekolah dan juga instasi-instansi yang menjadi kesatu dalam suatu negara Indonesia untuk melakukan Upacara Bendera sebagai ucapan terimakasih dan juga untuk memperingati dan mengenang jasa para pahlawan yang telah susah payah membawa Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan merdeka. Tampak jelas perbedaan pakaian yang dikenakan oleh siswa baru yang masih terlihat sangat putih seperti kertas yang belum tertuang tinta dan cerah dibanding siswa lain yang sudah sedikit kusam atau menguning namun tetap terlihat bersih. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah 3 hari sebelumnya di adakan masa orientasi siswa yang di laksakan oleh para senior kelas 8 dan 9 yang sebelumnya tergabung dalam anggota Osis sekolah. Pelaksanaan upacara sedang di persiapkan dan beberapa pelaksana sedang mengambil posisi sesuai tugas masing-masing sebelum akhirnya kehebohan terjadi. Dari arah gerbang yang sebentar lagi akan ditutup tampak seorang laki-laki berjalan masuk dengan santai melempar senyum ke arah barisan siswa baru yang berada tidak jauh dari gerbang sekolah. Senyumnya terhampar indah bagaikan cahaya mentari yang kalah karena kehangatannya. "Bukankah itu Arya? tak ku sangka bisa melihatnya secara langsung. Dia terlihat sangat berbeda sekali, meskipun apa yang di deskripsikan oleh orang-orang selama ini sepenuhnya benar" bisik salah seorang siswa kelas 8. "Tidak dia lebih dari yang dikatakan oleh orang, Wajahnya bagaikan mentari yang bersinar di pagi hari. Wajah yang cukup tidak realistis, pokoknya aku bersyukur bisa hadir hari ini" tambah yang lain dengan nada yang tak kalah semangat. "Ya ampun,, lekuk wajahnya begitu sempurna laksana pahatan ilahi yang tercipta tanpa gores dan lesung pipinya saat tersenyum sungguh melemahkan kaki ketika melihatnya."Stolen content warning: this content belongs on Royal Road. Report any occurrences. Se isi lapangan ribut dan heboh karena kedatangan Adith. Namun kemudian menjadi semakin heboh melihat seseorang yang juga menyusulnya beberapa saat kemudian tak jauh dari belakang. Dan kini bergantian dengan para laki-laki yang menjadi semakin ribut. "Wow itu Yaola, aku tak tau kalau dia akan kesekolah ini" Teriak seorang siswa di barisan cowok. "Yaolaˇ­ selamat datang..." teriak yang lainnya. Keadaan semakin tak terkendali karena kedatangan Yaola yang menyebabkan para guru dan anggota Osis pun harus turun tangan untuk menenangkan keadaan yang semakin mengacau. "Hei, kamu... kamu tidak lihat ini sudah jam berapa? kamu tidak di izinkan masuk ke dalam barisan" ucap Siska, senior kelas 9 yang merupakan anggota osis. "Maaf kak, tapi sepertinya saya belum telat dan masih bisa memasuki barisan" jawab Yaola sopan tanpa menundukkan pandangannya. "Kamu kalau dibilangi telat yah telat!!" Fifian membentak dengan suara yang terdengar sedikit kasar. "Kakak bisa liat mesin sidik jari di pos jaga itu kan? mesin sidik jari itu sebagai penanda bagi satpam jika lampunya berwarna hijau itu berarti siswa masih bisa melakukan sidik jari dan belum terlambat sedangkan jika lampunya berwarna kuning maka siswa itu akan mendapatkan pinalti namun masih di izinkan untuk memasuki sekolah sedangkan jika berwarna merah maka siswa itu dikatakan terlambat dan tidak dizinkan masuk" ucap Yaola menjelaskan dengan suara lembut dan tetap sopan namun terdengar dingin. Semua orang terpaku dengan perkataan Yaola tidak terkecuali Fifian. bagaimana dia bisa tahu sampai sedetail itu peraturan sekolah sedang ini adalah hari pertama ia masuk dan belum banyak orang luar yang mengetahui mengenai mesin sidik jari itu karena alat itu barulah dipergunakan pada hari ini sedang sebelumnya hanya berupa absen berjalan saja. "Dia benar fifian, sebaiknya kamu jangan terlalu keras. mereka masih baru pertama masuk sekolah, jadi masih banyak penyesuaian yang harus di lakukan" Ucap Firman dari belakang Fifian yang merupakan ketua osis pada saat itu. Yaola dipersilahkan memasuki barisan dengan semua teriakan para laki-laki yang mengangungkan cara Yaola saat menangani sikap angkuh Fifian. Terlebih lagi dengan gaya yang tetap sopan namun dingin. ˇ°Hebat!!! Sikap tenang dia saat berhadapan dengan Fifian benar-nbenar luar biasa.ˇ± Bisik seorang pria di barisan upacara paling depan. ˇ°Keberaniannya layaknya api yang berkobar tak perduli akan siapaun dan apapun yang sedang dihadapinya.ˇ± Tambah yang lainnya lagi dengan terus berbisik-bisik yang membuat seorang anggota osis menegur mereka dengan tegas. ˇ°Dia bukan hanya cerdas, tapi juga cantik.ˇ± Seru seseorang yang berada pada barisan laki-laki kelas 8 yang kagum kepada Yaola. ˇ°Tidak hanya cerdas. Tapi dia juga cantik, kecantikannya itu bagaikan melati yang baru mekar. Wajahnya yang putih layaknya rembulan yang bersinar di malam hari yang gelap.ˇ± Seru seseorang yang berada disampingnya. ˇ°Salahˇ­ harusnya yang menyinari hatiku yang gelap! Hahahahahaˇ± mereka langsung tertawa cekikikan yang kemudia mereka segera mendapat teguran lagi dari salah seorang guru yang tak jauh berada disana. Kehadiran Yaola membuat semua orang yang berada disana cukup memiliki kesan yang tinggi kepadanya. Terlebih saat dia tidak perduli atau mungkin takt ahu bahwa Arya sang nomor satu disekolah itu sedang memperhatikan dirinya. 2. Loh Ngapain Kamu Disini? Upacara telah selesai dilaksanakan dengan semua siswa sudah beranjak dari posisinya menuju ke ruang kelas masing masing. Begitu pula seluruh siswa baru yang hadir pada pagi hari itu. Hanya Alisya dan Adit yang menuju ke papan informasi untuk melihat ruang kelasnya berada. "Kamu ada dikelas MIA 2 Sya..." ucap Karin menghampiri Alisya yang sibuk melemparkan pandangannya mencari arah kelas yang di tunjukkan. "Lagian kamu sih, kenapa tidak hadir pas masa Taaruf kemarin?"Tambahnya lagi seraya melingkarkan tangan di lengan Alisya dan menariknya pergi. Alisya tidak menjawab pertanyaan karin karena ia rasa itu tidak perlu ia lakukan. Karin adalah sahabat karibnya sejak SMP dan sangat mengenal Alisya melebihi Alisya sendiri. Tanpa sadar ia menurut saja mengikuti langkah Karin meski Ia tidak suka jika ada seseorang melingkarkan tangan di lengannya. Dan untuk Karin, ia adalah pengecualian. Adith yang sedari tadi memperhatikan mereka diam - diam tergerak mengikuti arah langkah kaki karin dan Alisya. Hingga akhirnya langkahnya harus terhenti karena kerumunan siswi menghampirinya namun tetap memasang jarak dengannya. "Adith kamu kelas MIA 1 kan? kita sekelas loh sini aku antar kamu ke kelas" serbu seorang siswi semangat. "Ah,, terimakasih... apa itu berseblahan dengan MIA 2?" tanya adith sambil mencari 2 orang perempuan yang sudah menghilang dari pandanganya. "MIA 2 letaknya agak jauh dari MIA 1, mereka hanya sekumpulan pecundang Dith. sedangkan kita itu kelas elit dengan rata-rata IQ di atas 100"Unauthorized reproduction: this story has been taken without approval. Report sightings. "Tingkat kita berbeda dengan mereka, itulah kenapa ruangan kita memiliki banyak keistimewaan khusus dengan semua fasilitas sendiri yang terpisah dari kelas lainya termasuk di antaranya perpustakaan, kantin, toilet dan gedung olah raga serta ruangan full Ace" tambah yang lain di antaranya "Itulah mengapa kelas kita memiliki kompleks yang sangat luas jauh dari kelas lainnya " Lanjut yang lain dengan tatapan penuh cinta. Adith sudah terbiasa dengan banyaknya siswi yang selalu mengerumuninya terutama tatapan penuh cinta yang dilontarkan mereka. namun karena hal itu pula yang membuatnya kehilangan ketertarikan terhadap mereka. Baginya sesuatu yang mudah tidaklah menarik minatnya. . "Um,,,, kalau begitu maukah kalian mengantarku ke kelas MIA 2? ucapnya mengukir senyum memperlihatkan lubang kecil pada bagian pipi yang langsung di anggukan oleh semua siswi di hadapannya. "Aku baru pertama kali liat senyumnya" teriak seorang siswi dalam bisik "Banyak yang bilang kalau dia kasar, sombong dan arogan. Tapi kalau untuk dia di siksapun aku akan bahagia" terang yang lain setengah berbisik juga sambil berjalan mengarahkan. "Kamu tampak seperti seorang Masokis yang bahagia" tambah yang lain di iringi oleh tawa siswi lainnya. "Nah, ini dia rungannya." ucap mereka hampir bersamaan dengan suara lembut yang merayu. "Oke. terimakasih kalian boleh pergi" ucapnya acuh tak acuh "Kamu ngapain masuk? di dalam kotor dan bau. kamu nggak cocok ada disini". Adith tidak menjawab dan hanya melemparkan pandangan mengancam yang sedetik kemudian membuat kerumunan siswi itu mundur dengan cepat secara bersamaan. Adith langsung memperhatikan Alisya yang duduk sendiri dekat jendela yang sedang menghadap langit. Hembusan angin menerpa rambutnya memperlihatkan pipi dan leher mulusnya yang berwarna kuning langsat cerah dengan hadset putih menutup telinganya. Baru saja Adith masuk, wali kelas sudah berada dibelakangnya menatap aneh para siswi yang ada disana. "Miya, kalian ngapain disini? " Tanya ibu Arni bingung. "Oh itu bu anu, cuman mau liat-liat aja kok" jawab miya sedikit gagap karena masih terintimidasi tatapan Adith. "Ya sudah kembalilah ke kompleks kalian" ucap bu Arni tegas. kompleks memang sebutan yang lebih tepat di banding kelas karena luas dan mewahnya tempat yang diberikan sekolah kepada mereka yang merupakan siswa-siswi elit itu. selain karena jenius, mereka semua juga berasal dari kalangan atas. "Selamat pagi anak-anak" Teriak ibu Arni riang setelah menempatkan barang bawaanya di atas meja. "Pagi bu... " Ucap mereka serentak membalas ibu Arni dengan pandangan bingung. "Hmmm... ada apa? " tanyany bingung sambil melirik ke arah pandangan para siswa. "Loh, kamu ngapain disini? ini bukan kelas kamu" tanya ibu Arni canggung 3. Melihat??? "Maaf bu saya hanya kemari untuk menyapa teman saya, tapi sepertinya dia bukan dikelas ini" "Begitu yah,,, Ya sudah kamu bisa balik ke kompleksmu juga" Ibu Arni bisa tau betul siapa yang berada di depan ruang kelas ini. Jika pada seluruh kompleks terdapat banyak elit dari kalangan atas, maka mereka masih berada jauh di bawah Adith, dialah elit yang sesungguhnya. "Baik bu, kalau begitu saya permisi.... " dengan sedikit anggukan dan senyuman yang membuat ibu Arni terpaku sejenak sebelum menjawab. "I Iya... " gagap dan merona karena ketampanan Adith yang terlihat tulus akan senyumnya. "sungguh ketampanan yang tidak bisa aku saksikan setiap hari" pikirnya dan terbatuk malu akan umurnya. Adith berjalan keluar pintu setelah cukup puas untuk setidaknya memastikan wajah yang cukup menarik baginya. bukan karena paras cantik atau pesona tubuhnya, melainkan sesuatu yang berbeda yang ada dalam diri Alisya. "Sepertinya sekolah ini akan menarik" pikirnya mengukir senyum penuh arti melangkah pergi di ikuti para siswi elit yang belum beranjak dari tempat itu. *** "Baiklah, sebagai wali kelas kalian.. pagi ini kita akan mendiskusikan mengenai pemilihan ketua kelas, wakil serta bendahara yang akan bertanggung jawab penuh terhadap kelas kita kedepannya" "Apakah ada yang berencana untuk ambil bagian? " lempar bu Arni ke seluruh siswa di dalam ruangan.This book is hosted on another platform. Read the official version and support the author''s work. "Itu bu, bagaimana kalau Alisya, saya rasa dia bisa jadi pemimpin yang baik" terang Rinto menujuk Alisya yang masih menatap langit dengan mata tertutup. "Saya juga setuju Bu, Alisya cocok untuk posisi ini" tambah Yogi semangat. "Kalian apa apa''an sih, memangnya siapa Alisya? dia tampak seperti seorang pemalas dan pembangkang! mana cocok? " bantah Yuyun sinis. "Lebih cocok Miska, dia cerdas dan sudah banyak pengalaman akan ini. dia juga cantik! di banding yang tidak punya sopan santun itu yang sedari tadi tidak memperdulikan ibu guru yang sudah masuk! " sambung Nely "Adora, sentuh pundak Alisya! pinta ibu arni yang sudah menghafal nama mereka sewaktu absen tadi sebelum perdebatan ini di mulai. Ragu ragu Adora menepuk pundak Alisya lembut. sadar akan tepukkan yang terasa sedikit hangat dan gemetar Alisya berbalik melihat Adora dan memandangnya bingung.. "????" "Ibu guru...." lirik adora kedepan kelas "hmmm... " ikutnya menoleh kedepan kelas "Kamu mau jadi ketua kelas?? wakil atau bendahara? " Ibu Arni hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Alisya juga tidak bersuara dan hanya menggelengkan kepalanya kemudian menoleh ke jendela. "Dasar tidak sopan, sombong sekali dia berprilaku seperti itu dihadapan ibu guru! apa ini yang kalian bilang pemimpin? " geram Yuyun menatap tajam Yogi dan Rinto. "Diam kau, sebaiknya kamu hati-hati dengan apa yang kamu ucapkan jika tidak mengenal siapa Alisya" ancam Rinto. "Ku harap Alisya tidak melihat apa yang kamu katakan! " tambah Yogi yang melirik ke arah Alisya takut. "Melihat??? pfftttt hahahaha... bukannya harusnya yang kamu katakan mendengar? berarti dia tuli yah? makanya itu yang buat ibu guru berbicara tanpa mengeluarkan suara? " ejek Nely dengan cekikikannya yang tak berhenti. Bagi para siswi yang tidak mengenal Alisya dia bukanlah seseorang yang akan mendapatkan perlakuan khusus. dan secara tidak langsung mereka sudah menumbuhkan kebencian di dalam diri mereka. Baru saja Siswa lainnya ingin menjawab, ibu arni sudah menghentikan perdebatan mereka. "Cukup, Nely hati-hati terhadap lidahmu! tegas Ibu Arni. "Kalau begitu Miska yang akan menjadi ketua kelas. sisanya biar Miska yang mengambil keputusan" "Baik Bu! " ucap Miska menunduk memberi hormat. Miska merupaka seorang anak yang cukup cerdas dengan pembawaan yang anggun dan tidak perlu berkata banyak karena dua orang pengikutnya secara tidak langsung sudah bisa mewakilinya. Untuk menjaga Image Anggunnya ia lebih memilih membiarkan dua orang itu saja yang berkotek-kotek untuknya. Setelah Ibu Arni Pamit, suasana rungan kembali ribut namun tidak kembali membahas masalah sebelumnya karena dihentikan oleh Miska. Yuyun dan Nely menjadi Wakil ketua kelas dan bendahara atas keputusan Miska. baginya memilih mereka berdua jauh lebih mudah di atur di banding harus memilih yang lainnya. 4. Tapi Aku Suka Pelajaran kedua telah selesai dengan tanda bunyi bel jam istrahat. Alisya hanya terduduk diam di mejanya melemparkan pandangannya keluar jendela. Ia akhirnya menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya dan itu adalah Karin. meski berbeda ruangan, Karin sudah terbiasa bersama Alisya sehingga dia datang menjemputnya untuk ke kantin. "Kamu nggak mau makan?" Ia tertunduk setengah berbisik. yang dijawab dengan gelengan kepala Alisya. Menepuk pundaknya lagi "Ayo makan, aku yang traktir" kali ini ia tidak menunggu jawaban Alisya dan langsung menariknya menuju kantin. Tepat ketika mereka sudah disana, kantin ternyata sudah ramai oleh para siswa. tentu saja tidak untuk para elit karena mereka punya kantin sendiri yang bisa disebut sebagai restoran dengan koki yang menghidangkan makanan plus menu yang berganti tiap harinya. "Wah.... sepertinya kita tidak kebagian tempat duduk nih Sya" ucapnya dengan terus melihat kesekeliling kantin. Alisya juga dengan malas melihat ke sekeliling hingga melihat Rinto dan Yogi beserta yang lainnya sedang duduk makan. Tanpa memperdulikan Karin yang sedang sibuk mencari, Alisya bergerak dan menepuk pundak Rinto. Seketika itu pula Rinto dan Yogi langsung mengosongkan tempat di ikuti pandangan bingung dari yang lainnya. "Silahkan duduk Sya, kami akan cari tempat lain saja" bisiknya menatap teman yang lain memberi tanda untuk pergi "Ayo kalian berdirilah! " ucap yogi kepada yang lain. Alisya mengangkat tangannya kepada Karin dan menyuruhnya mendekat.A case of literary theft: this tale is not rightfully on Amazon; if you see it, report the violation. "haaahhhh,,, " desahnya ketika mendekat. "Memang hanya dirimu yang mampu melakukan ini tanpa banyak bicara" entah ini pujian yang baik atau buruk iapun bingung harus bereaksi bagaimana tapi setidaknya mereka akhirnya bisa makan. "Ya sudah aku pesan Bakso dan Nasi goreng kamu Bakso dan Nasi goreng juga kan? " Nafsu makan kedua wanita ini cukup besar untuk bisa menghabiskan makanan itu. "Mie ayam dan Nasi goreng" tatapnya ketus kepada karin. "Dasar! Giliran makan aja baru keluar tuh suara" ledek karin. Ia sebenarnya tau makanan kesukaan Alisya tapi ia sengaja mempermainkannya. Setelah beberapa saat, pesanan mereka akhirnya datang. Karin dan Alisya dengan segera mempersiapkan bumbu bumbu penambah rasa yang sudah tersedia dia atas meja. dengan cekatan mereka menuang kecap, saos sambal, sambal, sedikit garam dan perasan jeruk.. Baru saja Alisya akan menyuap mulutnya tiba-tiba seseorang mengambil tangannya dan memakan Mie ayam di sendoknya. "Ummm.. Ini enak, bagaimana dengan ini? mengambil Nasi goreng menggunakan tangan Alisya. "Tidak buruk, kombinasi yang sempurna dan pecah di lidah meski sedikit pedas, tapi aku suka" ucapnya di belakang Alisya setengah tertunduk untuk bisa memasukkan makanan yang ada di tangan Alisya. Karin yang kaget melihat apa yang di lakukan Adith membuatnya terbatuk-batuk tanpa henti. pedasnya bakso menambah rasa gatal di lehernya. Setelah meminum air dia menoleh keseluruh ruangan kantin dan semua orang juga membeku dengan apa yang mereka saksikan sedang ekspresi Alisya tetap datar. "Ehem.. maaf tapi sepertinya ini bukan tempat untuk elit makan! karena aku pikir makanan ini tidak akan cocok buatmu dan bisa membuatmu sakit perut" Karin sedikit gugup ketika menjelaskan hal tersebut kepada Adith. Apa yang di ucapkan Karin mendapat Anggukan oleh semua siswi yang sedari tadi memperhatikan namun mereka tak berani bersuara karena takut. "Tidak masalah, aku punya banyak dokter pribadi yang akan mengurusku nantinya. Lagi pula aku bosan dengan Rejunk!" duduk di samping Alisya yang kembali fokus untuk makan tanpa memperdulikan Adith setelah mengganti sendoknya. "Aku pikir sebaiknya kamu kembali, disini bukan tempatmu" Ucap Alisya dingin sambil menyeruput kuah dari mie ayam. "Aku bebas kemana saja. Dan kenapa kamu mengganti sendokmu? bukankah kamu harusnya bersyukur memakai bekas sendokq" "Terserah padamu mengenai kemana saja tapi yang aku maksud adalah meja ini. Aku hanya tidak ingin tertular oleh penyakitmu" terus melanjutkan makannya. "Hei.. kau pikir aku memiliki penyakit menular? " "Jika tidak buat apa kamu memiliki dokter yang banyak jika satu saja cukup hanya untuk memastikan kau bisa makan dengan lahap? kau sepertinya memiliki tim dokter dari berbagai bidang yang memeriksa tiap inci tubuhmu" ucapan Alisya memang benar tapi itu terdengar seperti sedang mengejeknya. hanya saja keluarganya memiliki Tim dokter yang sesekali akan melakukan cekup kesehatan agar tubuhnya tetap prima selama menjalankan bisnis keluarga sedang ia masih SMA. selain itu dikarenakan dia memiliki alergi yang tinggi terhadap semua jenis parfum. 5. Kau Benar-benar Menggoda "Sepertinya kau tidak cocok berada di MIA 2 kau lebih cocok berada di MIA 1". "aku tidak cukup cerdas dan tidak memiliki ayah dengan perut yang besar" Di Indonesia, perut besar melambangkan kesejahteraan atau kekayaan. "hahahahahha,,, kau menggambarkan orang kaya dengan cara yang unik" Adith tertawa lepas dengan besar. "Ka mengingatkanku akan seseorang! " ucapnya sambil mendekati tubuh Alisya Melihat gerak tubuh Adith, Alisya dengan refleks memberikan peringatan tegas. "Sebaiknya kau tidak melakukan hal-hal seperti ini lagi" Ancamnya dengan ujung garpuk sudah berada tepat di leher Adith namun tersembunyi oleh rambutnya dan hanya dapat di lihat oleh Karin yang berada tepat dihadapannya. "Puufffttt... kau benar-benar menggoda" ucapnya tertawa dan menjauh. "Adith, kamu ngapain disini? apa yang terjadi?" Miya datang bersama siswi elit lainnya memandang Alisya dan tatapan permusuhan. "Bukan apa-apa! Ayo pergi.. " Adith melangkah pergi sambil tersenyum licik di ikuti Miya dan siswi lainnya namun memasang jarak yang cukup. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantin tanpa ada yang berani berada di hadapannya. kejadian saat itu benar-benar menjadi kejadian yang paling menghebohkan terutama karena kata-kata terakhir yang di lontarkan Adith kepada Alisya telah menimbulkan berbagai persepsi yang berbeda. "Kita belum di izinkan berinteraksi dengan para calon partner hingga acara pemilihannya berakhir Adith! " Jelas Miya ragu-ragu di belakang Adith "Iya, itu bisa mengurangi poin dan juga calon partner akan di diskualifikasi dari pemilihan" Tambah Dinar "Oh Ayolah, aku hanya bosan dengan makanan Rejunk (Kantin yang berada di kompleks disebut Adith Rejunk atau Restoran Junk). Aku hanya mencium aroma yang harum di kantin mereka. lagi pula aku tidak peduli dengan pengurangan poin itu! dan Lagi..." ia berbalik menoleh kepada para siswi itu! "aku tidak suka dengan parfum kalian! mulai besok yang memakai parfum jangan pernah berada di hadapanku!!! " ancamnya dengan tatapan mematikan.If you encounter this narrative on Amazon, note that it''s taken without the author''s consent. Report it. Perkataan Adith langsung membuat takut Miya dan Dinar begitu pula yang lainnya. dan hanya menjawab dengan anggukan kepala yang tertunduk. ***** Berita mengenai kejadian di kantin segera tersebar dengan cepat mengalahkan Dispacth yang tidak secara langsung menumbuhkan kebencian kepada Alisya. Bel tanda pulang telah berbunyi namun Alisya masih duduk menghadap jendela. "Alisya,,, pulang yuk? " ucap Karin setelah menepuk pudak Alisya yang di jawab anggukan. "mama pesan hari ini kalau bisa kamu kerumah, kita bisa merayakan hari pertama sekolah setelah sekian lama kamu kembali" jelasnya sambil berjalan keluar yang di ikuti ratusan tatapan mata siswi yang membicarakan Alisya. Tidak menunggu jawaban Alisya, ia melanjutkan kembali kalimatnya meski risih dengan tatapan orang-orang. "Jadi hari ini kamu harus pulang bareng aku! " ucapnya manja sambil melingkarkan tangannya di lengan Alisya. "Kamu tau kan aku tidak bisa naik mobil? aku tidak nyaman dengan bisingnya daerah yang harus kamu lewati! ". tegas Alisya lembut kepada Karin "Aku harap Ayah segera mendapatkan obat yang baik buat kamu secepatnya! " ia menghela nafas sedih. "Sampaikan saja salamku kepada Dokter gila dan Ibumu yang super seksi itu! aku punya jalan lain untk bisa kesana". terangnya menenangkan Karin. Klakson mobil berbunyi begitu mereka keuar dari gerbang sekolah. Alisya sudah memakai jaket bertutup kepala dan hapdhone di kepalanya sewaktu mereka berjalan. "Hai paman Boy?" sapa Alisya kepada supir Karin yang di balas bahasa isyarat olehnya. "Iya saya akan hati-hati" jawab alisya sambil tersenyum dan membukakan pintu buat karin lalu menutupnya setelah ia masuk. "Kamu jangan lupa datang yah... bye bye!" Ia menggerakkan bibirnya dengan lebar yang di balas lambaiyan Alisya. Seluruh penghuni sekolah baik dari kalangan atas, elit dan biasa semuanya menggunakan kendaraan pribadi. Baik yang memiliki supir pribadi maupun mereka yang membawa kendaraan sendiri. Dan ya tentu saja mereka diberi SIM khusus bagi para Elit. Mobil karin tidak terlalu mewah namun cukup mahal dengan tipe Honda Mobilio seharga 243 juta. itu masih tergolong harga yang wajar bagi seorang anak dengan Ayah seorang dokter ternama dan Ibu pegawai kantor yang super sibuk. namun keduanya tetap memiliki waktu buat karin. berbeda dengan yang di alami Alisya. "SMA CENDEKIA INDONESIA." tatap Alisya pada papan gerbang sekolah. Sekolah bertaraf internasional termahal di Indonesia dengan siswa-siswi elit anak millyader mengisi sekolah. sedangkan para siswa/siswi yang mereka sebut biasa adalah anak pegawai negeri sipil atau pengusaha kecil yang bisa di bilang cukup kaya. "Entah apa yang dipikirkan Ayah Karin dengan mendaftarkanku di sekolah ini" pikirnya menghela nafas sambil melemparkan pandangan pada ratusan mobil yang terparkin menunggu putri dan pangeran pemilikinya. Tampak jelas perbedaan Mobil Si Elit dan si Biasa. Para Elit kebanyakan terdiri dari merek merek yang sangat mahal dengan tipe Aston Vaquish seharga 3,4 milyar, Bently Varian Gt seharga 8,5 Milyar atau Ferari Berlineta seharga 12.5 Milyar. Sedang bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri memakai Aston Martin Vanquish seharga 11,8 Milyar atau Lamborghini LP 720-4 seharga 14 Milyar. Dan untuk 10 kalangan atas adalah deretan mobil termahal dunia. "Woy,,, ngapain sih kamu disitu minggir nggak?? " Teriak seseorang yang mengendarai Koesnigsegg CCXR trevita seharga 64 Milyar dengan kasar. "Ini dia 10 kalangan besar bermulut besar!" ucapnya sambil berbalik pergi setelah memuaskan matanya yang penggila otomotif. Ia tak memperhatikan apa yang di ributkan oleh si bermulut kasar tersebut. Semua penghuni sekolah keluar dan menghilang satu persatu dengan kendaraanya masing-masing dan hanya Alisya satu-satunya siswi yang berjalan kaki. 6. Oke Sudah Ditentukan Tidak seperi kemarin yang hampir telat, hari ini Alisya berangkat lebih awal bersamaan dengan Satpam yang baru saja membuka gerbang sekolah. Ia sengaja datang lebih awal untuk menghindari kebisingan kendaraan para penghuni sekolah itu. Dikelas Alisya terduduk menghadap kejendela dengan Hadset yang terpasang ditelinganya. Hadset itu adalah buatan ayah Karin khusus untuknya. "Alisya,,, " panggil Rinto setelah memberikan sedikit getaran pada meja Alisya agar Ia menoleh. Alisya sudah hafal betul siapa orang ini, dia adalah orang yang pernah di hajarnya habis-habisan sewaktu ia pertama kali kembali ke Jakarta. Waktu itu ia tidak sengaja menabraknya dan Rinto menjambak rambut Alisya lalu menyuruhnya untuk berlutut meminta maaf namun yang terjadi malah sebaliknya. Rinto adalah salah seorang yang cukup di takuti bagi orang biasa yang berada di tingkat 1 dan disekolah lainnya. namun setelah pertengkarannya dengan Alisya dia kehilangan kepemimpinannya dan banyak menjadi incaran dari pelajar sekolah lain. Akan tetapi Alisya lah yang menyelamatkan Rinto beserta kawan-kawanya. Itulah yang menyebabkan Alisya tidak bisa menghadiri acara taaruf sekolah lalu. Hal ini yang membuat Rinto sangat menghormati Alisya. "Aku rasa kamu harus hati-hati. Banyak yang membicarakanmu" Ia mengeluarkan suara seminimal mungkin membuat Alisya merasa aman melepaskan Hadsetnya dan mencoba mendengarkan Rinto. "Aku tidak meremehkanmu, tapi kalangan elit akan cukup sulit untuk di tangani karena mereka memiliki banyak kenalan kelompok gelap yang bisa melakukan apa saja untuk menghancurkanmu. dengan uang dan kuasa yang mereka miliki itu bukanlah hal mustahil bagi mereka" tambahnya lagi lebih pelan dari sebelumnya. "Benar Alisya, terutama orang kemarin yang meneriakimu! " lanjut Yogi dari belakang dengan suara yang sama pelan. "Aku paham. kalian tidak usah takut. terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengatasinya. Aku hanya minta kalian melindungi Karin untukku" Tegas Alisya menekankan permintaanya. "Tentu saja! aku sudah memberitahu temanku yang berada di MIA 3 untuk melaporkan kegiatan Karin tanpa sepengetahuannya! ". Alisya yang ingin berterimakasih terputus oleh suara orang-orang segera mendekat sehingga Alisya hanya melemparkan senyum tulus dan memberi tanda untuk mereka pergi. kemudian memasang hadsetnya kembali.Unauthorized use: this story is on Amazon without permission from the author. Report any sightings. Senyum Alisya yang tulus di bawah sinar yang tembus dari jendela terlihat sangat menawan dan mendebarkan jantung kedua pria itu. Di tambah angin sepoy yang meniup pelan rambutnya yang hitam panjang menambah kecantikan alami Alisya. "Sungguh pemandangan yang indah"Batin Rinto sambil berbalik menarik Yogi yang masih terpana. ***** Saat istrahat Alisya mengambil kesempatan untuk ke Perpustakaan bukannya ke Kantin. Dan tentu saja di temani oleh Karin, keduanya sedang mencari referensi untuk tugas Biologi. akan tetapi perpustakaan mereka tidak selengkap yang dimiliki oleh para elit meskipun begitu Alisya merasa cukup dengan materi yang di dapatkan karena ia rasa bisa mengembangkannya lebih lanjut. "Oh iya Sya... kamu sudah dengar belum kalau minggu depan akan ada projek presentase yang harus di ikuti oleh setiap siswa baik dari kalangan elit maupun kalangan atas" Jelasnya ketika membuka tumpukan buku yang ada dihadapan Alisya sehingga wajahny bisa terlihat jelas dari seberang. Alisya hanya melangkah pergi ke rak buku berikutnya yang menandakan ia sudah mendengar akan hal itu. "Kamu tau nggak kalau projek itu mengharuskan setiap orang untuk memiliki partner! Dan banyak dari kalangan biasa yang ingin berpasangan dengan para elit" lanjutnya lagi dengan melakukan hal yang sama. Alisya tidak peduli akan hal itu karena baginya hanya akan ada Karin. Ia hanya bergeser lagi ke rak buku berikutnya. Andai bukan karena dirinya Karin tentu saja akan masuk ke kalangan elit. Ia juga menghindarkan Karin untuk tidak sekelas dengannya agar ia terlindungi. namun Karin tetap saja bersikeras untuk tetap berada di samping Alisya. "Jadi kau mau berpasangan dengan siapa? bukankah kalangan elit akan lebih baik? kau akan memiliki Poin yang tinggi sehingga tidak di keluarkan dari sekolah. " Tanya Karin lagi setelah melakukan hal yang sama. Alisya mulai kesal dengan apa yang di lakukan Karin. Seharusnya Karin tidak perlu menanyakan hal itu karena sudah pasti Ia akan memilih dirinya sebagai partnernya. Dengan sabar Ia pindah lebih jauh ke Rak buku yang lainnya. Setelah beberapa saat tampak deretan buku itu akan terbuka dari seberang. Alisya menutup mata karena kesal dan menjawabnya dengan tegas. "Kamu mau ngapain sih sebenarnya??? Aku sudah pasti akan memilihmu sebagi partnerku! jika kau menolak aku akan memaksamu!" ucapnya sambil berbalik ke arah buku yang lain. "Oke sudah di tentukan!" Alisya berbalik ke arah suara yang jelas saja itu bukan suara Karin. Ia terkejut kalau ternyata itu adalah Adith. "Itu, bukan dimaksudkan untuk dirimu! " balasnya jutek. "Kau tidak bisa menarik kembali kata-katamu! Kecuali kau orang yang seperti itu! " ucapnya dengan nada mengejek. Alisya adalah orang yang sangat berpegang teguh terhadap apa yang dikatakannya tapi ia tidak ingin terlibat dengan cowok yang satu ini. "Terserah padamu tapi kata-kataku tidak ku tujukan padamu" tegasnya sambil berbalik melangkah pergi namun tertahan begitu mendengar rekaman suaranya sendiri. "Ini adalah kalimat yang kau ucapkan sendiri! Jadi kau tidak bisa mengindarinya! Ingat aku adalah pasanganmu!!! " Ancam Adith berbalik pergi sambil melambaikan rekamannya ke seluruh ruangan dengan angkuh. Hasil rekaman itu jelas saja di dengar oleh seluruh siswa/siswi yang berada di dalam ruangan itu termasuk Karin yang tertawa cekikikan menahan sakit perutnya melihat tingkah konyol sahabatnya itu. "Aku harap kali ini pertahananmu akan runtuh!!! " ejek Karin sambil menghapus air matanya. "Kamu sengaja melakukan hal itu? " tanya Alisya dengan wajah yang merah padam. "Tidak, awalnya memang aku yang membuka deretan buku itu! Tapi baru saja dia selesai bertanya akan dirimu, kau sudah melabraknya dengan agresif! " Karin tidak sanggup lagi menahan tawanya membuat ia mendapat teguran dari penjaga perpus. "Sial!!! aku harus menjelaskan padanya! Aku hanya ingin menjadi partnermu! " kalimat Alisya terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Ia pergi meninggalkan Karin yang masih menarik nafas menenangkan diri. 7. Mundurlah Nafas mu Sangat Bau Karin dengan sigap mengejar Alisya. ia tau betul kalau sahabatnya ini sangat berani bahkan terlalu nekat ketika berhadapan dengan seseorang siapapun dia. "Oh Ayolah Sya,,, kamu punya kesempatan yang besar dengan menjadi partnernya!" bujuk Karin namun tidak di perdulikan oleh Alisya. Dia terus melangkah mantap memasuki daerah elit yang tidak semua siswa biasa masuk kesana. Hak akses bisa didapatkan ketika seseorang telah memiliki kartu partner dengan seorang elit. "Baik. pergilah tapi kau harus ingat perjanjianmu dengan Ayah bahwa kamu akan tetap berada di sekolah ini dengan nilai sempurna dan dia tidak akan membocorkan keberadaanmu kepada ayahmu sebagai gantinya! " tegas Karin dengan membesarkan sedikit volumenya agar Alisya tersadar. Alisya bukanlah orang yang gegabah dan akan berbuat yang merugikan dirinya sendiri. Karin juga sebenarnya tau seberapa besar tingkat kemampuan Alisya. sewaktu SD dia memiliki IQ di luar batas anak-anak pada umunya namun karena beberapa hal yang terjadi dalam keluarganya Ia mengubur kecerdasannya itu untuk bisa menarik perhatian orang tuanya. namun kedua orang tuanya terlalu keras padanya. kata-kata Karin sempat menghentikannya sejenak tapi ia tetap melangkah dengan mantap menuju kelas MIA 1. Tepat dihadapan gedung yang tampak bukan seperti kelasnya malah terlihat seperti Vila dengan banyak ruangan elit serta fasilitas lainya. Alisya melewati beberapa ruangan bertuliskan kelas elit dari tingkat 2 dan 3 lalu terus menelusuri gedung hingga berhenti setelah melihat ruangan yang tampak seperti ruang perkuliahan yang memiliki susunan tempat duduk sofa melingkar bertingkat yang sangat mewah dan nyaman. Terlihat pada bagian atas pintu ruangan bertuliskan kelas yang Ia cari. Segera masuk, ia terhenti oleh seseorang yang dengan sigap menghalangi jalannya. "Wooww.. apa yang dilakukan siswa biasa disini! Poin kamu bisa berkurang jika ada guru yang melihatmu" seorang cowok menghalangi jalannya. "Aku mencari Adith! " tegasnya "Kau tidak dengar apa yang dia bilang yah? kau tidak pantas berada disini!!! " tambah yang lainnya dengan nada menghina sambil menunjuk bahu Alisya. Dengan sigap Alisya mengambil telunjuknya dan memutar tangannya membuat cowok itu merintih kesakitan. "Kau sudah gila ya!" Teriak cowok yang menghalanginya dan menaikkan tangannya ingin menampar Alisya. "Cukup!!! " Bentak seseorang dari jauh. A case of content theft: this narrative is not rightfully on Amazon; if you spot it, report the violation. Membuat si penghalang menghentikan aksinya. Tentu saja tidak segampang itu tangannya akan menyentuh Alisya. namun Ia sedikit terganggu dengan suara kerasnya yang menyakitkan telinganya. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menarik nafas dalam dengan tehnik yang lembut dan tersembunyi. Melihat keadaan itu jelas bagi Alisya kalau para elit ini bisa melakukan apa saja. "Kau orang pertama dari siswi biasa yang berani mengkahkan kakinya ke tempat ini! " Ucap seseorang mendekatinya dengan tatapan dingin. Ia sangat tampan dengan proporsi tubuh yang indah. Rambut landaknya sangat cocok dengan kontur wajahnya. Wajah blasteran Jerman-Indonesia dan sedikit Jepang! "Terimakasih!!!" jawab Alisya jutek. "Hei kau tidak tau lagi berbicara dengan siapa? " si penghalang membentak. Pemilik wajah blasteran itu menggeser si penghalang dan menempatkan dirinya berada tepat dihadapan alisa dengan tatapan mengintimidasi. Mencoba menggoyahkan Alisya dengan mendekatinya dan menundukkan wajahnya tepat di hadapan Alisya. "Mundurlah nafasmu sangat bau!!! " Semuanya tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan Alisya. namun tidak ada yang berani tertawa hingga dari belakang wajah blasteran itu muncul seseorang dengan tawa yang terbahak-bahak. caranya tertawa membuat wajahnya terlihat sangat tampan dengan barisan gigi putih kecil dan bibir yang merekah. "Baru kali ini ada seseorang yang menghinamu Zein. hahahahhahaa tak ku sangka ada yang berani pada orang nomor 2 di sekolah ini" ucapnya sambil terus melanjutkan tawanya. "Hei, bukankah aku ganteng dan juga kaya?" Ucapnya penuh percaya diri. "Kau terlihat seperti sampah! " "Aku suka keberanianmu! Siapa namamu? " tanya Zein si tampan blasteran yang menahan rasa kesalnya. bukan karena kata-kata Alisya tapi karena Riyan yang menertawakannya. "Bukan urusanmu! " Jawab Alisya lagi mulai kesal dan melangkah pergi. Riyan semakin terbahak-bahak akan tetapi berusaha mencegah kepergian Alisya. "Hei, jangan dulu pergi, sepertinya aku menyukaimu! Sudah di putuskan aku akan menjadikanmu partnerku! " Ucapnya tanpa bertanya kepada Alisya terlebih dahulu. "Aku tidak mau!!!" Jawabnya tegas. sekarang giliran Zein yang menyunginggkan senyum menertawakan Riyan. "Kau jangan pernah menjadi partner si penjahat kelamin itu! Sebaiknya kau lebih baik menjadi partnerku saja, ini kartumu!" ucapnya dingin sambil melemparkan kartunya. Alisya mulai kesal dengan cara dua orang ini memperlakukannya. Ia tidak menjawab Zein dan malah menginjak kartunya sebagai tanda penolakannya. Baru saja ia akan melangkah pergi, dari belakang seseorang telah memeluk pundaknya dengan lembut. "Dia partnerku! Dia sendiri yang memilihku! " Terangnya kepada Zein dan Riyan yang melongo melihat perlakukan Adith. "Sebaiknya kau menurut kali ini, jika tidak sahabatmu akan menerima imbas atas perlakuanmu terhadap dua ganteng ganteng serigala dihadapanmu itu! Dan lagi aku bisa melindunginya dari keduanya untukmu bagaimana??? " bisiknya di telinga Alisya dengan sangat lembut sehingga tampak kalau Adith hanya menghembuskan nafasnya ke rambut Alisya. Tingkah keduanya sangat inti membuat Zein dan Riyan berpikir bahwa Adith sedang menunjukkan kepemilikannya. Alisya baru ingat kalau Adith dan semua siswi biasa tau kalau Karin adalah sahabatnya. Dan penolakannya kepada kedua orang itu adalah suatu penghinaan besar. Menarik nafas ia hanya mengambil kartu yang berada di saku Adith dan melangkah pergi tanpa pamit. "Ia cukup cerdik untuk mengetahui kalau aku sudah membuatkan kartu atas nama dirinya" Batin Adith dan tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja Alisya tau kalau Adith akan segera membuat kartu itu. Hanya butuh 15 menit untuk mencetak kartu dengan nama kepemilikannya dan Alisya sudah berada disana selama 15 menit sedang Adith terlebih dahulu pergi sebelum dia. **** "Jadi bagaimana hasilnya??? " Karin langsung menyerangnya dengan pertanyaan. "Bagaimana mungkin kau masih menungguku disini? " tanya Alisya heran. "Aku penasaran sama hasilnya! jadi bagiamana??? kamu ketemu? batal atau lanjut sih" rengek Karin mengayun ayunkan tangan Alisya. Ia tidak menjawab dan hanya melemparkan sebuab kartu kepada Karin yang dengan sigap Karin menangkapnya. "Elite Card Acces Name : Alisya Quenby Lesham Partner : Radithya Azura Narendra" "Luar Biasa!!! " seru Karin antusias. Melihat itu Karin melompat kegirangan dan segera mengejar Alisya secepat kilat!!! 8. Pembully Yang Kolot Alisya menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Ia yang sebagian besar tidak dikenal bisa memiliki kesempatan besar dengan menjadi Partner seorang Elit nomor 1 bukan hanya di sekolah namun di Indonesia. Baik guru, siswa biasa, para elit dan 10 kalangan besar semuanya mencari Alisya. mereka ingin melihat langsung apa yang membuat Adith bisa berpikir bahwa cewek ini cukup menarik untuk menjadi partnernya namun banyak pula yang tidak menyukainya. Dari pagi hari sudah banyak serangan yang datang padahal Ia sengaja datang sedini hari mungkin ke sekolah untuk menghindari kebisingan. Kepalanya sudah cukup penuh dengan pertanyaan orang yang mendatanginya dengan sinis dan bisikan bisikan yang terang terangan dilakukan di hadapannya. "Hei kau kita perlu bicara!!! " bentak Yuyun memukul meja Alisya dengan keras membuat Alisya harus memegang telinga dan kepala nya yang sakit dengan jam di tangan Alisya yang berbunyi "Pippip". Se isi kelas yang tadi sibuk dengan urusan masing-masing sekarang beralih pandang ke meja Alisya. Bunyi di tangan Alisya membuat Yogi dan Rinto membelalak kepada Yuyun. "Yun!!! apa yang kau lakukan? Rinto menggertakkan giginya sewaktu bertanya dengan suara pelan. "Bukan urusanmu" tidak peduli dengan Rinto dia berbalik ke arah Alisya dengan marah. Rinto ingin menarik Yuyun namun dihentikan oleh Alisya yang memberi isyarat kalau dia baik-baik saja. Kondisi Alisya membuat Rinto dan Yogi sepenuhnya siaga. "Apa maumu?? " tanya Alisya dingin setelah menenangkan diri. "Kamu tidak cukup jadi cewek penggoda yah? " Nadanya sinis dan menghina "Huhhhh pergilah! " Ia merasa sudah malas untuk meluruskan. "Apa Hak kamu menjadi Partner Adith!!! Miska yang harusnya jadi partner Adith" geram nya lagi "Apa hak mu bertanya padaku?? "tatapnya tajam "Cih, kau bahkan tak pantas menjadi Partnernya" "Bukan urusanmu! " "Kamu pikir kamu siapa?? Kau hanyalah penggoda munafik" "Tentu saja Adith tidak mungkin mau menjadi partnernya. itu hanya rumor yang tidak jelas! "tambah Nely tersenyum menghina.Help support creative writers by finding and reading their stories on the original site. "Pembully yang kolot" ucapnya malas sambil mengalihkan pandangan tidak mengganggap keberadaan keduanya. Alisya paham akan maksud keduanya namun merasa tidak ada untungnya menjelaskan kepada mereka berdua. mudah saja baginya untuk tidak terpengaruh emosi karena keduanya. "Kau!!!! " Yuyun yang geram langung mencabut Hadset yang ada di telinga Alisya dan berteriak dengan keras "Kau harus diberi pelajaran" Belum melakukan apa-apa dan hanya mengambil Hadset Alisya. Alisya sudah berteriak dengan keras dan jam di tangannya juga berbunyi sangat keras. "Aaaaaahhhhhh... aaahhhh!!!!!! " teriak Alisya menahan sakit. Reaksi tak terduga Alisya yang tampak, membuat bingung Yuyun dan Nely. Rinto dan Yogi sontak langsung panik. "Gi, Hadphone kamu mana? " Dengan cepat Rinto mengambil Hadphone Yogi dengan ukuran yang cukup besar untuk menutupi seluruh telinga dan dengan cekatan menutup telinga Alisya. "A.. A.. Aku panggil Karin" ucap Yogi panik dan berlari sambil menyingkirkan kursi dengan keras. Rinto yang berusaha menutup telinga Alisya namun dia masih dalam mode yang mengkhawatirkan. muka Rinto pucat pasih dan memberi kode kepada semuanya untuk duduk perlahan dan tidak menimbulkan suara. Yuyun dan Nely bingung dengan apa yang sedang terjadi. Miska yang ingin bersuara untuk berpura-pura memarahi dua pengikut nya langsung di cegah oleh Rinto dengan menutup mulutnya. Tapi bunyi di tangan Alisya tidak berhenti dan malah semakin kencang. Karin datang secepat kilat dengan tehnik yang sangat lembut sehingga tak mengeluarkan suara segera menghampiri Alisya dan mengecek Jam tangannya. Angkanya menunjukkan 85 % tanda bahaya. Dengan sigap Ia menoleh kepada Rinto memberinya tanda. Rinto yang paham segera mengangkat Alisya di bantu oleh Yogi keluar ruangan. Se isi kelas tiba-tiba mengeluarkan nafas hampir secara bersamaan seolah olah telah menaham nafas yang cukup lama. Saling memandang satu sama lain dengan tatapan bingung dan heran. Mereka membawa Alisya ke Ruang UKS yang jauh lebih tenang dan sunyi. Karin mengeluarkan peralatannya dan secepat kilat Ia menyuntik Alisya yang beberapa saat kemudia Alisya menjadi lebih tenang dan bunyi di tangannya segera menghilang. "Sepertinya sekarang dia sudah cukup tenang! " ucap Karin pelan "Syukurlah!!! " Rinto bernafas lega "puaahh!!! " suara Yogi membuang nafas lega namun dengan suara yang sangat pelan dan lembut. terduduk ke lantai lemas dan bersyukur. "Kalian baliklah ke kelas, biar aku yang menemaninya! pinta Karin. "Sebaiknya aku harus memberi pelajaran kepada mereka! " geram Rinto. "Kau tau apa yang harus kau lakukan! Jika ini sampai bocor, kita semua dalam bahaya! dan pastikan mereka tidak merekam kejadian tadi" Karin mengingatkan dengan nada sedikit mengancam menyadari situasi yang sedang terjadi. "Tentu saja aku tau! Aku sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk sebelumnya setelah bermasalah dengan Alisya. "Ya... tapi dia tidak tau apa - apa sama sekali! " terang Yogi. "Apa maksudmu? " Karin terkejut. Yakin bahwa ada hal yang tidak di ketahuinya. "Kamu masih ingat kejadian dimana saat itu aku tidak sengaja di tabrak oleh Alisya??? " tanya Rinto. "Aku ingat!!! waktu itu akulah yang menenangkan Alisya" jelasnya setelah yakin mengingat kejadian itu. "Benar! Saat itu kalau bukan karena kedatangan kamu kami mungkin bisa mendapat luka yang lebih buruk lagi" Yogi menambahkan. "Tapi bukan itu intinya. Saat itu aku memiliki dendam terhadap Alisya karena kejadian itu di saksikan oleh beberapa orang dari siswa dari sekolah lain. Begitupula dari geng lain sehingga mereka berpikir kalau aku yang tak bisa dikalahkan bisa dengan mudah dihancurkan! sehingga banyak sekali sekolah lain dan geng lain yang ingin menghancurkan diriku. Hal itu membuatku sangat marah dan ingin mencelakai Alisya. Itulah kesalahan terbesarku! "ucapnya lirih. Karin memandang Rinto dan mendengarkan penjelasannya dengan serius tanpa bermaksud bertanya atau memotong pembicaraanya. "Rinto di culik oleh beberapa orang yang berbaju hitam tepat sebelum ia memiliki kesempatan untuk memukul kepala Alisya! " tambah Yogi. Karin yang mendengar niat Rinto itu sepenuhnya mengepalkan tangan karena marah namun berusaha untuk mendengarkan lebih lanjut. 9. Dia Memang Anak Yang Baik "Mereka menyekapku dan menyiksaku. aku pikir aku akan mati disana pada saat itu. namun kemudian seseorang datang dengan nada mengancam. ia mencoba membuat kesepakatan denganku! " lanjut Rinto menjelaskan dengan tenang. "Aku pikir aku tau siapa mereka" gumam Karin. "Mereka menyebut nama tuan "Ali" yang kemudian aku tau yang mereka maksud adalah Alisya setelah mendengarkan pembicaraan mereka" "Ya kau benar. itu adalah Alisya" karin mengiyakan. "Mereka membiarkanku tetap hidup karena takut jika Alisya tau orang lain mati karena dirinya maka kehidupan mereka akan lebih buruk lagi. mereka mengancam akan berbuat lebih jika ini sampai di ketahui oleh Alisya dan menyuruhku melaporkan kondisi Alisya selama berada disekolah." "Tidak! aku rasa kejadian hari ini jangan sampai diketahui oleh mereka begitupula Alisya tidak boleh tau kalau kau berhubungan dengan mereka". Karin meyakinkan Rinto. "Aku tau!!! " tegas Rinto di ikuti anggukan Yogi karena lirikan Karin dan Rinto dengan pandangan bertanya. "Tapi sepertinya aku melihat kau bukannya takut pada Alisya tapi lebih terkesan sangat menghormatinya. ada apa? tanya Karin yang merasa masih ada hal lain. "Aku di bebaskan mereka setelah mereka merawatku di rumah sakit, namun sekolah dan geng lain masih mengincarku. Saat itu tanpa disengaja Alisya lewat dan menemukanku hampir sekarat dilorong karena dikeroyok. Ia dengan sigap menyelamatkanku dan membawaku kerumah sakit setelah menyapu bersih seluruh pengeroyok diriku. setengah sadar waktu itu aku melihat Alisya yang seorang perempuan biasa tampak sangat keren saat berkelahi. Selain itu dia membayar semua biaya rumah sakit." "Dia memang anak yang baik" ucapnya memandang Alisya penuh sayang. "Aku pikir sebaiknya kita kembali keruangan dan mengamankan situasi" Yogi menepuk pundak Rinto dan menatap Karin. "Pergilah, aku akan tetap disini" ucap Karin mengiyakan. ***** Kembali kekelas Yogi dan Rinto langsung diserang oleh Miska dengan wajah khwatir.If you discover this narrative on Amazon, be aware that it has been stolen. Please report the violation. "Bagaimana keadaan Alisya, apakah dia baik-baik saja? " suaranya membuat semua ikut memperhatikan. "Hentikan aktingmu yang sangat buruk itu sayang" bisik Rinto yang mendekat ke telinga Miska. Wajah Miska seketika kembali dingin dan tak berekspresi. "Kumpulkan Handphone Kalian sekarang!" pinta Yogi yang berdiri di depan kelas. semua siswa cowok dengan sigap menuruti permintaan Yogi tanpa bertanya karena mereka sudah paham akan situasinya. "Apa maksudmu??? buat apa kamu menyita HP kami?" Nely bertanya dengan marah dan kesal. "Bawalah jika kalian ingin selamat! ancam Rinto menatap tajam Nely. "Aku tidak akan memberimu Handphoneku! " Tegas Yuyun. "Apa kau sadar bahwa kau telah melakukan kesalahan besar hari ini? Kau hampir saja membunuh kami semua, tau!!! " Rinto mulai tidak sabaran mengancam Yuyun dan mencekik lehernya. Yogi dan semua siswa cowok serentak menutup pintu dan tirai jendela agar tidak ada yang melihat ataupun ikut menyaksikan kejadian saat itu. semua orang yang ada didalam ruangn menjadi takut dan semakin bingung. Rinto melepaskan cekikannya ketika Yuyun mulai kehilangan nafas dan terbatuk-batuk. Yuyun menatap ke arah Miska yang mengangguk agar ia menyerahkan HP milikya kepada Yogi. melihat reaksi miska Yuyun menurutinya. "Aku ingatkan buat kalian semua! apa yang terjadi hari ini sebaiknya jangan sampai tersebar dan tutup mulut kalian rapat-rapat! Jika kalian ingin selamat dan masih bersekolah dengan nyaman disini lebih baik kalian mendengarkan apa yang aku katakan" Rinto mengingatkan kepada semuanya terhusus kepada para siswi yang berada dikelas itu. "To, semuanya aman! sepertinya tadi tidak ada yang sempat mengambil rekaman" bisik Yogi setelah memastikan semua HP telah di periksanya. "Bagaimana dengan Siaran Langsung??? " tanya Rinto mengingatkan. Yogi menoleh melihat Dino dan Beni untuk memastikan apakah mereka sudah selesai memeriksa semua akun medsos pemilik HP. "Semua aman" tangan dino memembentuk simbol OK!" "Aku juga tidak menemukan apa-apa" tambah Beni menyakinkan Rinto dan Yogi. "Hmmm... Baiklah! kembalikan HP mereka! " Rinto mengeluarkan nafas lega. Proses belajar mengajar berjalan sebagaimana biasa. Rinto menjelaskan bahwa Alisya tidak sempat hadir karena sedang berada di ruang UKS sebab kondisi tubuhnya yang kurang baik. "Aku semakin tidak menyukai Alisya. memangnya dirinya siapa? " Geram Nely. "Sepertinya Rinto menyukai Alisya makanya dia bersikap seperti itu" Tambah Yuyun sambil memegang lehernya yang masih keram meski tak berbekas. "Tenang saja! aku punya cara untuk membalas dan menyingkirkan Alisya" Senyum Miska sinis. "Apa kau punya ide? " Nely antusias. "Gunakan otakmu bodoh!" Tunjuk Miska. "Apa rencanamu? Yuyun mendekat. "3 hari lagi kita akan ada presentase untuk menentukan apakah kita tetap di sekolah ini atau keluar! Saat itu aku akan buat Alisya dikeluarkan dari sekolah ini." terang Miska. "Aku baru ingat. Apalagi kau berpasangan dengan Zein. meskipun Adith seorang yang jenius, Alisya bukanlah orang yang cukup cerdas dan tidak akan bisa mngalahkanmu!" "Tentu saja! dan tugas kalian berdua adalah membuat Alisya semakin di benci oleh seluruh sekolah terutama. Kak Siska! buat dia semakin membenci Alisya, dengan begitu akan sangat mudah menyingkirkan nya. "Kau sangat Cerdas Miska, aku sangat menghormatimu!" Nely berdiri dan memberi hormat. "Kau yang terbaik!! aku tidak sabar melihat ekspresi Alisya. terlebih lagi kita tau kelemahan dia!" timpal Yuyun. "Sebaiknya kalian jangan mengacaukan rencana ini" ancam Miska. "Tentu saja tidak! aku akan melakukannya sebaik mungkin" Yuyun meyakinkan Miska dengan tatapan mantap. "Bukankah ini bukan pertama kali lagi buat kita??? tambah Nely. Mereka tertawa terbahak-bahak mengingat rencana mereka yang akan sukses besar. padahal mereka tak tau kalau apa yang akan mereka lakukan nanti malah hanya akan berbalik melawan mereka sendiri. Alisya bukanlah lawan yang mudah, meski tanpa bantuan siapapun Alisya bisa dengan mudah untuk menghancurkan mereka. Terlebih lagi Alisya bukanlah orang bodoh seperti yang mereka pikirkan. Alisya sudah memiliki cukup rencana cerdas dalam menghadapi Presentasi minggu depan. Tes itu akan terdiri dari 3 tahap dimana tahap pertama dimulai dari Tes Pengetahuan, Tahap kedua Tes Keahlian atau Kemampuan dan Tahap Final adalah Presentase Sain atau Produk. 10. Idiot Tampan Sudah sekitar 2 jam Alisya terbaring karena suntikan dan obat penenang yang diberikan oleh Karin. Karin masih sangat khawatir dengan kondisi mental Alisya, inilah yang menyebabkan Karin selalu sedia membawa peralatan yang telan diberikan oleh ayahnya. Karin menjadi orang yang di percaya ayahnya untuk bisa memberi penangan dasar kepada Alisya. "Bagaimana keadaanya?? " Ibu Arni masuk dengan wajah yang tampak sedikit khawatir. "Dia baik-baik saja, kondisinya sudah lebih stabil sekarang! " Jelas Karin. "Ya sudah saya akan mengurus surat izinnya hari ini, kamu bisa mengambilnya sebentar setelah dia bangun sebaiknya dia harus ke Dokter Hady agar mengecek kondisi mentalnya hari ini! " Ibu Arni yang menjadi wali kelas Alysa telah diberikan informasi lebih mengenai kondisi Alysa dan juga diberi tanggung jawab penuh kepada Alisya selama berada disekolah. "Iya ibu benar, aku akan menghubungi ayah nanti" tambah Karin lesu. "Aku pergi dulu untuk mengurus semua. kamu jangan lupa makan juga! Alisya akan sangat marah jika kamu tidak memperdulikan dirimu sendiri" Ibu Arni menenangkan Karin yang sangat khawatir mengenai kondisi sahabatnya itu. Karin hanya tertunduk lesu dan mengangguk menyaksikan ibu Arni keluar dari ruangan UKS. baru beberapa saat setelah Ibu Arni pergi, pintu UKS kembali terbuka dan Karin terkejut bagaimana ia bisa tau kalau mereka berada disana. "Apa berita mengenai Alisya sudah tersebar hingga ke kompleks elit? " tanya Karin bingung dengan kedatangan Adith. "Jika hanya untuk mengetahui hal mengenai Partnerku, itu bukanlah hal sulit! " terang Adith menenangkan Karin bahwa mengenai Alisya tidak satupun yang tahu selain dia. "Ohhh... " jawabnya pendek membenarkan. "Aku sudah mengurus izinnya selama dua hari tidak bisa lebih! " ucapnya frustasi tidak bisa mendapatkan lebih banyak kesepakatan. "Itu lebih dari cukup! tapi tentu Alisya tidak akan setuju karena dia tidak suka menampilkan kelemahannya. Aku rasa kamu bisa membantunya! " "Apa maksudmu? " Adith menyipitkan matanya penasaran. "Beberapa minggu terakhir kau menjadi orang yang bisa mengacaukan emosinya. entah sejak kapan aku melihatnya bisa memperlihatkan ekspresi dengan begitu jelas. Selama ini dia hidup bagaikan Zombie, tak pernah marah, kesal, kecewa, ataupun senang. Aku tak pernah melihatnya menangis dan tertawa! Tapi semenjak kau selalu mengganggunya, ia dengan jelas memperlihatkan emosinya. " jelasnya panjang lebar. Adith terdiam dan hanya berpikir. mungkin inilah yang membuatnya tertarik pada Alisya.This book was originally published on Royal Road. Check it out there for the real experience. Adith merasa kalau Alisya bukanlah tipe yang murung atau pendiam hanya karena bullyan ataupun pengucilan tapi ada sesuatu di dalam matanya yang memohon untuk mengeluarkannya dan menariknya dari sana. terkadang ia terpesona kepada Alisya terkadang juga ia merasa ada yang aneh dengan Alisya. "Bisakah aku meninggalkan Alisya padamu sebentar? aku ingin menghubungi ayahku!" "Pergilah, aku akan tetap berada disini untuk sementara waktu. kau bisa makan mengambil makan untuk dirimu sendiri juga! " "Terimakasih! " Karin keluar meninggalkan Adith yang duduk menghadap Alisya. "Siapa sebenarnya dirimu? kenapa aku merasa pernah bertemu dengan dirimu? " Adith duduk mendekat memperhatikan wajah Alisya dengan lekat. Wajah Alisya putih bersinar dan sangat menawan. Ia tidak tampak seperti seorang anak kaya yang penuh dengan perawatan ataupun berwajah tebal akan makeup. Manis wajahnya sangat Alami dan menawan. tidak terlihat cantik namun siapapun yang melihatnya tak bisa mengalihkan pandangan untuk bisa terus memuji ciptaan Tuhan yang satu ini. Wajah Alisya terlihat seperti seorang yang ketakutan atau sedang berlari dari sesuatu atau juga menghindari sesuatu yang berbahaya. Wajahnya mulai banjir akan keringat dan tampak mulai gusar. Adith mendekat setengah berdiri mendakti Alisya karena khawatir. "Sya, kamu kenapa?? apa ada yang sakit? tanya Adith mulai panik melihat Alisya. "Uwaaa..." Alisya terbangun dengan cepat menabrak hidung dan bibir Adith. Alisya memegang dahinya merintih kesakitan dan memperhatikan sekitar lalu kemudian diketahuinya kalau sedang berada di ruang UKS. "kamu kenapa? kamu baik-baik saja? " Tanya Adith lagi cemas. Alisya menoleh menatap Adith bingung namun kemudian mengangguk. "Aku lupa kalau hari ini harusnya kita melakukan diskusi mengenai Presentase nanti! " Ucap Alisya tersadar setelah mengingat janjinya kepada Adith. "Tak usah kau pikirkan itu. aku sudah mengurus beberapa hal" memandang Alisya dengan lembut. "hhh??? pppfftttt... hahahahahahahaha. wajah mu itu idiot atau tampan sih? aku tidak bisa membedakannya!!! " Alisya tertawa terbahak bahak sambil menujuk wajah Adith. "Apa maksudmu? kau baru bangun tapi sudah langsung menghina? " Adith kesal dengan kata-kata Alisya. "Maaf, aku tidak menghina tapi wajahmu memang seperti itu "Idiot Tampan" ucap Alisya menekankan 2 Kalimat dengan keras lalu menujuk cermin. Adith masih bingung dengan ucapan Alisya, terlebih dia yang baru siuman dan yang sedang menahan tawa dihadapannya ini sangat berbeda jauh dengan deskripsi yang dijelaskan oleh Karin tadi. apakah wanita itu berbohong atau wanita ini yang sedang beracting. "Hahhhh???? apa yang terjadi disini? anak itu minum apa? apa yang kamu berikan pada Alisya? Dia kelihatan seperti orang mabuk!!!" Karin masuk menyerang Adith dengan banyak pertanyaan melihat kejadian aneh yang sedang terjadi. Karin berbicara kepada Adith yang sedang membelakanginya. Begitu Adith menoleh Karin hanya mampu menahas nafas hingga wajahnya memerah. "Dasar wanita gila!!! Bagaimana bisa kau tertawa??" Maki Karin melihat Alisya yang berani menertawakan Adith. "hehh hehh heh,," lenguh Alisya lelah tertawa. "Tak ku sangka aku bisa menyaksikan ekspresi bodoh itu!!!". "Apa yang sudah kau lakukan sampai hidung berdarah dan bibirnya bengkak seperti itu??" tanya Karin kebingungan. "Dia terbangun secara tiba-tiba dan menabrakku! " Adith segera mengambil tisu membersihkan hidungnya. Ia tidak sadar kalau hidungnya berdarah dan bibirnya bengkak akibat tabrakan tadi. "Bukannya minta maaf! kau hanya tertawa" geleng Karin melihat Alisya. Namun Karin diam diam mengabadikan kejadian tersebut tanpa sepengetahuan Alisya. Ini adalah suatu keajaiban besar baginya terutama bagi mental Alisya. "Apa kau sudah memberitahu ayahmu tentang hal ini? " Ekspersi Alisya kembali dingin setelah mengingat apa yang sudah terjadi padanya. "Tentu saja sudah! Kau tau apa yang terjadi tadi itu bisa saja merenggut nyawamu! " "Aku tau!" Alisya tertunduk menyesal. "Aku akan pindah kekelasmu. setidaknya aku akan memastikan hal yang seperti tadi tidak terjadi lagi dan kali ini kau tidak bisa mencegahku" Karin terdengar sangat tegas. "Aku sudah menyiapkan mobil didepan!" Adith memberi perintah kepada Alisya. "Tidak terimakasih! tapi aku baik-baik saja! " tolak Alisya tegas paham maksud Adith. "Baiklah! terserah padamu tapi kau harus benar benar Fit ketika presentase nanti. masih banyak yang harus kita kerjakan" "Tentu saja! " jawab Alisya yakin. 11. Jenius Tampan Dari kejauhan Adith memperhatikan seseorang yang sedang berjalan kaki memakai jaket bertutup kepala ditepi jalan dengan panas matahari yang terik. Ia tak menyangka di masa serba mesin tingkat tinggi seperti masih ada saja manusia yang berjalan kaki dan itu adalah Alisya partnernya. Sedang dia mengendarai mobil bertipe Mercedes Benz Maybach Exelero seharga 106 Milyar rupiah. Kondisi mereka bagaikan kisah dongeng Cinderella dimana seorang pangeran jatuh cinta kepada wanita miskin. Baru saja Alisya akan memasuki gang yang sempit, Adith segera menahannya. "Masuklah ke mobilku!" Adith menarik lengan Alisya. "Tidak terimakasih! " Tepisnya. "Kau tidak punya waktu untuk berdebat denganku! " Adith langsung mendorongnya dengan kasar mendudukkanya kedalam mobil. Pintu mobil terkunci meski Alisya berusaha keluar dari mobil. "Kau akan menyesal karena sudah memasukkan aku kedalam mobil berhargamu ini" ancam Alisya. "Tidak usah khawatir! aku takkan melakukannya! " "Baiklah! jangan salahkan aku! " Alisya duduk dengan manis sambil melipat kedua tangannya. Adith tidak yakin apa maksud dari Alisya hingga 5 menit kemudian semua kata-kata Alisya terbukti. Alisya yang tidak bisa naik mobil karena mabuk darat super akutnya yang tidak bisa di atasinya itulah yang membuatnya lebih memilih untuk berjalan kaki. "Uwweeeekkkkk!!!" Alisya muntah tepat di baju Adith. "Perasaan mabuk inilah yang paling tidak aku su uummm ka mmm i (Sukai)" tambahnya sambil menahan muntah. "Kenapa kau tidak mengatakannya dari Awal??? " Adith kesal karena hidungnya sangat sensitif terhadap bau meski itu bukan bau parfum tapi muntahan Alisya. "Bukan kah sudah ku katakan kau akan me nyesal.. Uweeeekkkkk" Ia muntah setiap kali membuka mulut. "Yang benar saja! apa kau sedang memuntahkan isi hatimu??? " "Diam kau! sudah kubilang jangan menyalahkan aku! sekarang turunkan akuhhh" Alisya semakin tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga. "Mana mungkin!!! dengan kondisimu separah itu! aaragghhhh" Adith semakin frustasi. Mobilnya berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah dengan taman luas dan dipenuhi dengan bunga. Alisya sudah tertidur tak sadarkam diri kelelahan mengeluarkan seluruh isi kampung tengahnya. Support the author by searching for the original publication of this novel. Dua jam berlalu semenjak Alisya tak sadarkan diri. Begitu ia bangun dengan cepat dan langsung dalam posisi duduk ia kaget kalau tempat itu asing baginya. Pakaiannya juga sudah terganti dengan yang lebih bersih. ia melemparkan pandangannya keseluruh ruangan menganalisis apa yang sedang terjadi. Melihat Adith yang terduduk di kursi sofa menghadap dan memandang dirinya membuatnya sedikit mengerutkan dahinya. "Apa kamu masih mual?" Adith yang berada disana tersenyum melihat kebingungan Alisya. "Ini dimana? aku sudah mati?" Tanya Alisya bingung melihat ruangan luas indah yang bertema putih termasuk apa yang dipakainya. "Ini neraka bagian ibu kota!" ucap Adith dan menjitak kepala Alisya. "Aduh!! kenapa neraka bisa seindah ini?" tambahnya lagi meringis. "Bibi,,, bibi.... tolong ambilin kampak dong!!! Teman aku masih belum siuman nih.. " Teriak Adith memanggil pembantunya. "Oh jadi aku masih hidup?" Alisya memegang tubuhnya dan mendekapnya. "Sepertinya otakmu sudah bergeser ke lutut yah? " ucap Adith dengan nada menghina. "Bangunlah proyek presentase kita masih harus di selesaikan! Lusa Tes akan dimulai setidaknya kamu harus mempersiapkan diri. " Ucap Adith sambil melangkah pergi keluar ruangan. Mereka terus bekerja hingga menjelang malam hari tanpa ada yang menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Alisya takut membuat neneknya khawatir sehingga dia ingin segera pulang secepatnya. "Aku harus pulang sekarang! " Alisya mengingatkan. "Aku akan mengantarmu! " "Tidak, aku sudah tidak sanggup jika harus... " "Aku akan memboncengmu menggunakan motor. apa itu masalah? " potong Adith cepat. "Terimakasih tapi aku... " "Kenapa kau terus menolak? " Adith mulai kesal. "Karena aku tak nyaman dan tidak terbiasa! " bantahnya dengan suara keras. "Baiklah.. apa kamu bisa mengendarai motor matic? " tanya Adith setelah menarij nafas dalam-dalam tak ingin berdebat. "Iya, Aku bisa! " "Kalau begitu kau bisa membawa salah satu motor pembantuku untuk kau kendarai selama menjadi partnerku. kau tak boleh menolaknya karena aku tak ingin kau selalu terlambat kesekolah atau ke tempat pertemuan! " perintah Adith. "hhufffft.. Baiklah" Jawabnya pasrah. "Pakai Ini, biar aku tidak kesulitan berkimunikasi denganmu! " Adith melemparkannya sebuah Handphone bermerek Samsung S8. "Aku tidak butuh ini! " Alisya mencoba menolak karena ia sangat menghindari menggunakan Handphone selain karena ia sedang tak ingin di lacak, ia juga tidak suka karena baginya HP terlalu ribut. "Pakailah karena aku yang membutuhkannya. Aku tidak begitu yakin mengapa kamu tidak suka kebisingan, untuk itu aku buat dalam mode getar dengan kualitas suara yang sangat minim sehingga kau takkan terganggu!" Adith meyakinkan Alisya. Alisya terdiam beberapa saat setelah kemudian pasrah dengan semua keinginan Adith. "Besok kita akan bertemu di lab kompleks jangan terlambat" Adith mengingatkan. "Aku tau! " jawabnya tegas. Alisya memacu motornya keluar dari taman rumah Adith yang sangat indah pada malam hari karena kelap-kelip lampu taman yang menyinari seluruh taman. Karena terlalu serius menikmati pemandangan malam itu ia tidak sadar telah berpapasan dengan mobil yang ditumpangi oleh Ibu Adith. "Berhenti!!!!" Ibu Adith berkata tiba-tiba kepada supirnya. namun motor Alisya terus melaju kencang. "Ada apa nyonya?? " tanya sang sopir yang kaget. "Siapa wanita yang baru saja keluar tadi? " tanya ibu Adith. "Saya juga kurang tau nyonya! sepertinya itu temannya tuan Adith" Ibu Adith terdiam beberapa saat memikirkan seseorang yang baru saja dilihatnya. "Dith,,, Adith.." Panggil ibunya mencari Adith. "Ya ma??? " Adith segera menghampiti ibunya. "Siapa wanita yang baru saja keluar tadi? " "Itu teman Adith ma, Partner Adith di sekolah!" jawab Adith. Ibunya terdiam lagi beberapa saat sambil memikirkan siapa wanita itu. Jelas sekali kalau ia pernah melihat anak itu dan sangat mengenalnya tapi ia masih belum yakin. "Kenapa sih ma? ada apa? " tanya Adith penasaran. "Ah bukan apa-apa kok! mama cuman kaget aja ada cewek keluar dari rumah" Ibunya merasa perlu mencari lebih banyak informasi sebelum memberitahu Adith. **** Alisya yang baru saja keluar kamar setelah mandi melemparkan tubuhnya di atas ranjang di kagetkan dengan getaran tepat di belakangnya. setelah menyalakan HP itu ia melihat 1 pemberitahuan pada satu satunya aplikasi yang tampak pada layar kaca. Alisya yang bingung terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka aplikasi WhatsApp itu. "Gunakan Matic itu untuk ke sekolah! " Tampak pada pesan kalau pengirimnya adalah Jenius Tampan dengan fotoprofil berwajah Adith. "Dasar!!! si Narsis ini benar-benar bisa berbuat seenaknya saja!" Alisya yang kesal hanya menutup kembali HP itu dan membuangnya ke tepi ranjang lalu kemudian dalam hitungan detik ia sudah menyelami indahnya pulau kapuk. Adith yang sedari tadi duduk memperhatikan Handphonenya terus saja mengambil lalu kemudian membuagnya kembali menunggu balasan Alisya dengan gengsi yang tinggi namun rasa penasarannya juga tak kalah tinggi. "Sial!!! sudah 2 jam malah hanya di read saja. sepertinya dia sudah tertidur. " Adith yang menunggu balasan pesan dari Alisya membuatnya tidak bisa tertidur dan terjaga sepanjang malam. 12. Aku Ingin Membunuh Manusia Itu "Miska, bagaimana rencanamu?" Yuyun penasaran melihat Miska yang tampak santai dan tenang. "Besok kita presetntase, kamu sudah menjalankan rencanamu atau belum? " tambah Nely "Tentu saja sudah!!! aku akan membuatnya di tuduh mencuri bahan presentasiku! " Miska tersenyum sinis. "Maksud kamu?" Nely bingung. "Aku sudah mendapatkan bahan presentasi yang seharusnya akan di presentasikan oleh Alisya dan Adith! Besok Tim aku yang akan menampilkan Bahan presentasi kami terlebih dahulu sebelum Alisya dan Adith. oleh karena itu mereka akan di anggap mengambil atau memplagiat bahan presentase kami" jelas Miska. "Wah gila!!! bagaimana bisa kamu mendapatkan bahan presentase mereka? " tanya Yuyun sambil bertepuk tangan. "Aku menyewa satpam sekolah untuk mengambil data di ruang komputer tempat Alisya bekerja! Dan juga menyuruh Diana untuk mengambil Copyan File yang berada di Laptop Alisya saat ia sedang ke toilet" tambahnya lagi. "Mereka akan benar benar tamat besok! Kau taukan kepala sekolah takkan menerima dan mentoleransi plagiat atau mencontoh presentasi orang lain. bukan hanya di skorsing, tapi mereka bisa mendapatkan hukuman yang lebih berat dan untuk Alisya dia bisa di keluarkan! " Ucap Nely menatap Yuyun semangat. "Bagaimana bisa kau sejahat ini? bukankah ini masih terlalu awal??? " Yuyun tertawa jahat memikirkan kemalangan Alisya. "Kita perlu memperlihatkan Pada Alisya siapa kita dan siapa dia yang berani melawan kita! Cewek bodoh dan miskin yang tidak punya apa-apa beraninya mencari masalah dengan kita" mata Miska berkilat licik. Jika ada yang melihat maka mereka akan berpikir kalau anak ini sangat cocok jadi pemain sinetron Indonesia yang mana yang kaya menjadi pemeran Antagonisnya. "Kau benar" aku sudah tidak sabar melihat kemalangannya besok. mereka tertawa dengan semangat memikirkan apa yang akan diderita oleh Alisya. Mereka tak berpikir bahwa tentu saja Adith takkan membiarkan hal itu terjadi dan juga tidak semudah itu menjatuhkan Alisya yang bahkan mereka tidak tau tingkat kejeniusan dari Alisya. Alisya bukanlah lawan yang mudah ketika dia terpojokkan. ******* "Kau sudah mempersiapkan semuanya? " tanya Zein kepada Miska sesat sebelum memasuki Aula presentase. "Tentu saja kau tidak perlu khawatir, aku bukanlah orang yang bodoh! " seyum Miska yakin. "Presentase kali ini di titik beratkan kepada kemampuan Tim dalam membawakan materi. Aku sudah membacanya semalam dan aku tau ini cukup menarik dan mudah saja bagiku membantumu jika ada masalah nanti" Zein tidak terlalu khawatir dengan kemampuan Miska, karena dia adalah kandidat terkuat yang dimiliki sekolah untuk menjadi seorang partner. sedang Alisya bahkan 10 besarpun ia tidak masuk sehingga dirinya cukup yakin untuk bisa mengalahkan Adith dan Alisya.If you encounter this story on Amazon, note that it''s taken without permission from the author. Report it. "Aku tau! aku takkan biarkan mereka mendapatkan poin yang cukup dan dengan mudah akan mengalahkan mereka" Senyumnya lagi. "Baik... presentase akan segera dimulai, kepada para siswa dan partnernya untuk segera memasuki Aula" Seorang guru sudah memanggil para siswa yang telah mempersiapkan diri memasuki Aula yang sangat besar dan luas dengan tatanan tempat duduk layaknya akan ada Drama musical atau konser yang akan di adakan. Ratusan kursi sudah di siapkan untuk di tempati para siswa bersama partnernya dan di bagian depan aula tampak panggung dengan layar putih serta pertalatan lainya sebagai alat presentase dan paling depan baris kursi yang menghadap panggung terdapat barisan meja dengan kursi mewah menghadap panggung seperti akan diduduku oleh para Tim penilai presentase. "Kau tau kali ini yang akan menjadi eksekutornya adalah Pak Amir Guru Sains yang terkenal Killer dan sangat teliti dalam menilai" bisik seorang siswa kepada partnernya. "Bukan hanya itu. penilaian kali ini sangat selektif dan jauh berbeda dari sebelumnya yang berpatok pada individu saja baik ketua atau pasangannya. jadi lebih menitik beratkan kepada kedua belah pihak dalam menampilkan presentase" "Ya kau benar! Tahun lalu Sang ketua yang melakukan semuanya presentase sedangkan si partner hanya menampilkan kesimpulan akhir saja" ucap yang lainnya. "Bukan hanya itu saja! Kali ini akan ada sesi tanya jawab setelah presentase! mirip seperti ujian skripsi pada tingkat kuliahan! " tambah yang lainnya sambil menghela nafas. "Apa??? aku bahkan tidak siap berdiri di sana apa lagi harus kena hantaman anak panah (pertanyaan) dari para juri killer itu! Habislah aku" keluh kesah seluruh murid mulai memenuhi Aula yang sangat besar itu. **** Plaaakkkkkk.... hantaman yang cukup kuat mengenai dahi Alisya membuatnya sangat terkejut dan emosinya tiba-tiba saja menjadi tersulut. "Kau sudah gila ya?? apa kau pikir ini tidak sakit? " Alisya marah menatap tajam Adith yang tersenyum mengolok. "Dengan suara se besar itu, aku rasa cukup sakit! " ucapnya sambil meniup tangannya seolah telah berhasil menepuk nyamuk. "Sial, kau benar-benar ingin di hantam yah? " baru saja Alisya ingin menaikkan tendangannya Pak Amir lewat memasuki gedung dan menyuruh mereka masuk juga berhenti bermain-main. Pak Amir sudah memiliki penilaian yang cukup buruk melihat kelakuan Alisya. Adith hanya tersenyum menang melihat ekspresi Alisya menurunkan tendanganya dengan cepat seperti orang yang sedang menari dengan kaku tampak seperti robot. "Aku hanya ingin kamu tidak usah terlalu gugup. Aku akan terus berada disampingmu apapun yang terjadi" goda Adith sambil mengedipkan matanya. "Aku tidak gugup! aku hanya merasa sangat semangat melihat mulut mereka menganga setelah melihat kemampuanku! Aku akan menyapu rata para Juri termasuk Bakemono yang baru masuk tadi" Tegas Alisya membara. "hahahahahaha... aku suka rasa percaya dirimu! ayo kita masuk" tanpa permisi Adith langsung menggandeng tangan Alisya dan menariknya masuk ke dalam Aula. Alisya berusaha melepaskan genggaman Adith tapi tetap saja ia tak kuasa melepasnya. suasana aula yang semula ribut tiba-tiba menjadi tenang dan semua terkejut melihat pemandangan itu. mereka tampak seperti dua orang yang sedang berkencan dan sekali lagi melihat itu pak Amir menambah nilai negatif Alisya dimatanya. Setelah mendapat tempat duduk di dekat Karin, Alisya langsung melepaskan genggaman Adith dan membuang diri duduk disamping karin sambil menutup wajahnya yang kesal. "Kalian mau datang presentase atau mau nikah sih? goda Karin berbisik di telinga Alisya. "Aku ingin membunuh manusia itu! " geram Alisya yang dibalas cekikikan karin. "Kau memakai peredam suara yang baru di buat ayah kan? itu sangat efektif di ruang seperti ini." tanya Karin khawatir mengingat suasana Aula cukup bising bagi Alisya. "Tentu saja! Jika tidak aku sudah menggila dari tadi. Oh iya aku tak tau kamu menjadi partner siapa?" Alisya yang terlalu disibukkan oleh Adith baru teringat akan siapa pasangan sahabatnya ini. "Kau terlalu sibuk kencan jadi lupa sama aku" goda Karin di balas wajah ngotot Alisya menginginkan jawaban. "Lihat siapa yang datang.. dia partnerku? " tunjuk Alisya dari arah samping kanan Alisya. "Riyan??" mata Alisya membelalak. Karin hanya tertawa melihat ekspresi terkejut Alisya. Ia paham maksud tatapanya itu tapi Riyan adalah pilihan yang paling tepat bagi Karin jika harus menjadi partner karena Riyan juga terkenal kecerdasaannya setelah Adith dan Zein. 13. Apa Kalian Buta??? Seorang guru segera mengambil mic dan membuka acara pelaksanaan presentase yang dijadikan sebagai bahan ujian bagi para siswa. berbeda dengan sekolah lain yang biasanya pertengahan semester akan dilaksanakan ulangan tengah semester, SMA CENDEKIA INDONESIA malah mengadakan ujian dengan cara yang berbeda yang jika tidak memungkinkan memiliki poin yang bagus bisa jadi mereka akan di keluarkan. inilah kenapa sekolah ini memiliki siswa-siswi dengan tingkat kecerdasan yang rata-rata cukup tinggi. "Seperti yang kalian ketahui, bahwa tiap tahun akan di adakan tes dengan 3 tahapan yaitu tes pengetahuan, keahlian dan yang terakhir presentasi. Namun tahun ini kami mengadakan sedikit perubahan dimana 1 tes bisa mencakup ketiga tes tersebut! " pernyataan ini sontak saja membingungkan para murid tidak terkecuali para elit. "Tes kali ini hanya akan di adakan satu tes saja dimana tiap tim yang terdiri dari ketua dan partnernya akan membawakan presentase dimana akan ada sesi tanya jawab dengan para juri/penilai sehingga pengetahuan dan keahlian dalam presentase bisa secara langsung mendapatkan penilain. selain itu akan ada tambahan nilai dari para siswa-siswi yang hadir dengan menekan tombol nilai. silahkan lihat pada bagian bawah kursi kalian". kepanikan segera saja membahana diruang aula presentase. Alisya hanya tesenyum sinis mendengar pengumuman yang mendadak ini. Adrenalinnya seperti terpacu dan tertantang akan gebrakan yang akan terjadi nantinya. melihat sifat tenang alisya, Adith juga menarik senyum tipis dan memperbaiki posisi duduknya yang semula baik baik saja. Ia merasa kalau akan ada banyak kejutan yang akan terjadi nanti. Presentasi yang sudah dimulai dengan beberapa siswa yang beranggotakan tim elit pun kalah oleh serangan serangan yang dilakukan oleh pak Amir. Hal ini memperlihatkan betapa sulitnya tes kali ini yang sedang mereka jalani namun mereka masih bisa menyelesaikan beberapa serangan dari dua juri lainnya sehingga kemampuan mereka tidaklah dapat di anggap remeh. "sekolah ini benar-benar mencari bibit unggul sebagai wajah indonesia dalam tingkat dunia." Karin merasa kagum dengan semua kemampuan para siswa-siswi yang melakukan presentase. "Kau benar, bahkan tema dan bahan yang mereka bawakan semua mengangkat isu serta kejadian yang sedang menjadi pelik pada saat ini" Alisya yang juga merasakan hal yang sama. "Tapi sepertinya itu tidak cukup memuaskan pak Amir. Dari tadi ia selalu memberi nilai dibawah 60 dan selalu memberi serangan mematikan kepada tiap peserta." Timpal Adith "Ia sedang mencari seseorang yang mampu memberikannya serangan balik untuk bisa memberikannya nilai sempurna" tambah Riyan Analisa dari kedua orang itu cukup masuk akal mengingat pak Amir masih menunjukan ekpresi kurang puasnya.Stolen content warning: this tale belongs on Royal Road. Report any occurrences elsewhere. "Ya kau benar, bahkan kalian yang mengangkt tema mengenai likuifaksi yang baru saja terjadi di palu dan menampilkan proses terjadinya pun hanya mendapatkan nilai 60 olehnya" Terang Alisya kemudian. Peserta yang tampil sudah hampir semua menyisakan Adith dan Alisya serta Zein dan Miska. mereka menjadi peserta yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh orang yang ada didalam aula tersebut. "Kedua peserta terakhir ternyata memiliki tema pembahasan yang sama untuk itu kedua tim diharapkan untuk berada di atas panggung" ucap salah seorang juri yang diketahui semunya bernama ibu Yosi. Alisya yang nampak bingung melihat ke arah Miska yang tersenyum dalam diam namun sudut matanya merasa bahwa ia telah menang. "Bagaimana bisa? bukankah kau bilang belum ada yang mengambil tema ini? " tanya Zein kesal setengah berbisik kepada miska. "Aku tidak tau apa yang terjadi, kita akan liat nanti" Miska menenangkan Zein. Zein adalah tipe yang memiliki abisius dan daya saing yang tinggi menyebabkan ia tak begitu suka dengan kejadian yang baru saja terjadi. Alisya menatap kewajah Adith yang hanya diberi isyarat untuk ke panggung saja terlebih dahulu dan melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi. "Bagaimana bisa tema kalian sama? bukankah dari awal kalian tidak diperbolehkan mengambil tema yang sama? " tanya Ibu Yosi kepada kedua tim ketika mereka sudah berada di atas panggung. Seisi aula sudah mulai kacau dengan opini masing-masing. "Tolong berikan penjelasan kalian. Dimulai dari tim mu Zein" Tambah Pak Affandi seorang juri lainnya. "Sepertinya ada kesalah pahaman pak, Tim kami sudah memutuskan untuk mengambil tema ini jauh sebelumnya" terang Zein. "Maaf pak, tapi Tim kamilah yang sudah memberi ajuan terlebih dahulu." Alisya memberi penjelasan cepat. "Kau belum disilahkan berbicara" tegur pak Amir dengan nada jengkel. "kalian taukan kalau temanya sama maka akan di diskualifikasi dengan tak mendapatkan poin apapun dan terancam dikeluarkan dari sekolah! kami tidak membutuhkan siswa-siswi yang kurang mampu bersaing. " Ancamnya lagi. Seolah olah merasa terancam, Miska membuka mulutnya. "Ummm... sepertinya Alisya mencuri bahan presentase kami pak! " ucap miska dengan beracting meragukan. "Kamu tau konsekuaensi yang kamu katakan jika tidak benar Miska? " Ibu Yosi mengingatkan. Perkataan Miska menujuk batang hidung Alisya sontak saja menbuat seisi aula menjadi semakin ribut dengan sorakan menghina. "Tentu saja bu, saya punya buktinya kok!" Ucap miska meyakinkan pernyataanya. "Baiklah, silahkan tunjukkan buktinya" tambah pak Affandi. Miska segera menuju ke tempat proyektor dan memasukkan sebuah flash lalu menampilkan sebuah rekaman dimana terlihat potongan video Alisya yang sedang mengambil flash di bawah meja komputer yang digunakan oleh Miska. Melihat video itu sontak saja semua orang menyoraki Alisya dengan penuh hinaan dan melemparinya dengan kertas. Karin mulai panik dengan keributan yang sedang terjadi sedang pak Amir semakin marah dan tidak menyukai Alisya. Rinto dan Yogi yang duduk paling belakangpun segera berdiri mendekat mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. "Alisya, perbuatan mu itu adalah tindakan yang sangat buruk!!! " Ibu Yosi meninggikan suaranya. "Kamu bisa di keluarkan dari sekolah dan takkan bisa mendaftar disekolah manapun yang ada di indonesia". Tambah pak Affandi jengkel. "Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!" tunjuk pak Amir geram. Adith melirik kepada Alisya yang hanya tersenyum penuh arti. Ia bingung bagaimana bisa Alisya hanya berdiri disana sambil tersenyum tenang melihat dirinya sedang mendapatkan fitnah yang sangat berbahaya bagi dirinya nntinya. ketenangan Alisya membuat Adith menantikan sikap Alisya. "Apa kalian buta atau keterlaluan bodoh sih??? " Alisya tersenyum sinis. ucapannya membuat pak Amir semakin marah. Seluruh ruangan juga merasa terhina dengan kata-kata tajam Alisya. "Apa maksudmu berkata seperti itu? " pak Amir berdiri dari tempat duduknya menatap tajam ke arah Alisya. Adith hanya tertawa melihat reaksi yang dilakukan oleh Alisya membuat seluruh ruangan menjadi semakin panas. "Mudah saja untuk mendapatkan kesalahan dari video tersebut, itulah kenapa aku berkata kalian semua buta dan cukup bodoh karena tertipu oleh potongan video ini. Kesalahan kalian dari awal adalah sudah memberikanku penilaian buruk tanpa mengenaliku lebih dalam" terang Alisya sambil melemparkan pandangannya keseluruh ruangan. 14. Modusmu Oke Juga Zein mendengarkan perkataan Alisya dengan sangat serius lalu sejurus kemudian mencoba melihat tanyangan video yang sedang diputar berulang-ulang untuk memojokkan Alisya. Semakin ia perhatikan, semakin ia tidak menemukan kejanggalan pada video tersebut. Ia merasa kalau Alisya sedang menggali kuburannya sendiri dengan mengeluarkan pernyataan yang salah. Adith mengambil posisi dan berdiri tepat di tempat proyektor berada dan mulai melakukan sesuatu terhadap video yang sedang terputar. Ia tampak paham apa yang di maksud oleh Alisya sehingga bergerak cepat dan membiarkan Alisya mengambil Alih panggung seorang diri. Ia percaya kalau Alisya bisa menanganinya meski tak berdiri di sampingnya. Paham dengan tindakan Adith, Alisya segera menganggukkan kepalanya memberi tanda kepada Adith. "Bisa kalian lihat di video tersebut bahwa aku sedang setengah tertunduk tampak seperti baru selesai mengambil sesuatu dari komputer menggunakan Flash, tapi setelah di perhatikan baik-baik komputer sekolah kita memiliki CPU dengan tipe ProLiant ML15 Gen15. CPU tipe khusus server dengan colokan Flash yang hanya terdapat di bagian belakang CPU saja sedang bagian depannya hanya terdapat tempat Disk dan tombol power" Terang Alisya yang melirik ke arah Adith dan meng zoom posisi Alisya yang berada pada bagian depan CPU. "Selain itu bisa kalian lihat juga Flash yang saya gunakan adalah Flash tipe khusus yang dimiliki oleh Adith dengan lambang Flash A yang tentu saja ini berarti hanya file khusus yang di buat oleh Adith saja yang bisa masuk dan keluar atas se izin si pemilik Flash! Begitu pula bahan yang telah kami rampungkan adalah bahan yang sudah diberi format khusus. terkecuali jika bahan tersebut adalah bahan mentah yang berasal dari komputer saya!" Adith juga memperlihatkan lambang A yg berada di tangan Alisya yang kemudian memandang Alisya kagum karena bisa mendekripsikan sedetail itu barang miliknya tanpa ia beritahu sebelumnya mengenai Flash yang di berikannya kepada Alisya. Sambil tertawa kagum kepada Alisya. Adith melangkah mendekat dan berdiri tepat disisi Alisya. "Untuk itu, dari video itu malah membuktikan bahwa Alisya tidak mengambil apapun dari komputer tersebut atau malah tak menyentuh sama sekali, ia hanya mengambil Flashnya yang terjatuh karena tidak sengaja menabrak meja komputer melihat dari posisi Alisya yang tubuhnya lebih berat berada di sisi sebelah kanan meja yang tampak sedikit tergeser posisinya" jelas Adith menambahkan sambil tersenyum sinis ke arah Zein. Zein tampak terpaku dan kagum terhadap Alisya. Baru kali ini ia melihat seorang perempuan yang dengan setenang itu mampu juga cerdiknya menangani situasi dan tekanan yang cukup besar dari ratusan pasang mata menghina. Miska mulai tampak gusar tidak menyangka kalau Alisya bisa membalikkan keadaan. Rinto dan Yogi serta Karin yang khawatir dengan kondisi Alisya hanya cekikikan menahan tawa melihat ekspresi miska yang kalah.This novel''s true home is a different platform. Support the author by finding it there. Pak Amir yang semula memberikan penilaian buruk kini mulai berpikir bahwa ia telah salah paham terhadap Alisya mulai meluluhkan sedikit penilaiannya. "Saya tidak begitu yakin bagaimana bisa tema bahan presentasi kami bisa sama, namun tidakkah kami harusnya diberi kesempatan untuk setidaknya melakukan presentase terlepas dari kesamaan atau siapa yang mencuri bahan presentase milik siapa! " Lanjut Alisya menenangkan suasana ruangan. Alisya sebenarnya paham betul akan apa yang sebenanrnya sedang direncanakan oleh Miska namun ia memilih untuk menyembunyikannya dan membuat seolah-olah bahwa tema yang mereka ambil hanya kebetulan saja. "Dengan begitu kami bisa tetap mendapatkan poin kami sesuai dengan kemampuan kami dalam membawakan bahan presentasi yang telah kami siapkan" Lanjut Adith menambahkan. Ia yakin bahwa mereka bisa membalikkan keadaan dan memberikan pukulan telak kepada Miska. "Baiklah, kita akan istrahat dulu 30 menit untuk mendiskusikan hal ini" Ucap Ibu Yosi setelah menghela nafas melihat seluruh ruangan memberikan tatapan untuk memberikan kesempatan karena malu atas perlakuan mereka kepada Alisya. Meski mereka sebenanrnya cukup senang jika mendapatkan sesuatu yang bisa membuat mereka bergosip ria terlepas dari kebenaran yang sesungguhnya. Kedua tim turun dari panggung dengan wajah Miska yang merah padam menahan amarah karena tingkah laku Alisya yang baginya tampak sedang mencari muka dihadapan para penguji dan seluruh orang yang ada di ruangan Aula tersebut. Miska dengan jengkel mengaitkan kakinya ke kabel yang bearada di dekat kaki Alisya untuk membuat Alisya terjatuh dari atas tangga yang tampak seolah ia tidak sengaja terkait oleh kabel tersebut. Alisya yang terkejut karena kakinya terkain oleh kabel berusaha menyeimbangkan tubuhnya dan akan terjatuh kebelakang menindih Zein. Melihat Alisya yang akan terjatuh membuat Zein memajukan tubuhnya untuk menangkap tubuh Alisya namun dengan sigap Alisya mendorong tubuh Zein sehingga membuatnya pasrah dengan memilih jatuh kebawah. Alisya menutup mata bersiap akan benturan ke lantai malah merasakan dua tangan telah menangkap tubuhnya. begitu membuka mata ia melihat wajah Adith yang tersenyum dengan sangat tulus memperlihatkan kontur wajah tampan mempesona dengan rahang kokoh yang memperlihatkan kejantanan seorang laki-laki dan kilatan mata bercahaya menatap lurus sambil membawa tubuh Alisya tanpa menurunkannya. "Kau benar benar punya banyak cara untuk menggodaku" Senyum Adith tidak mengalihkan pandangannya. Tersadar akan posisinya Alisya dengan lihai melompat dari tangan Adith dengan lembut tanpa memberikan dorongan keras kepada Adith. "Modusmu oke juga" Timpal Alisya melangkah seolah olah tidak terjadi apa-apa meninggalkan Adith yang tersenyum gemas melihat tingkah Alisya. Ratusan pasang mata yang melihat kejadian itu bukannya memberikan rasa simpati kepada Alisya karena kejadian sebelumnya, perlakuan Adith malah membuat para wanita menggila dan membenci Alisya. mereka melihat kalau Alisya sengaja melakukan hal tersebut untuk menarik perhatian Adith. Miska yang semula kesal karena ingin mempermalukan Alisya, sekarang tersenyum jahat karena tanpa ia sadari ia telah berhasil membuat Alisya menambah musuh meski tak secara langsung memprovokasi keadaan. melihat ekspresi semua pasang wajah jengkel para wanita bucinnya Adith. "Aku semakin membenci Alisya, tidak ku sangka dia bisa se cerdik itu!" bisik Yuyun setelah mendekati Miska. "Sial... bagaimana bisa??? apa dia sudah tau kalau kita sengaja melakukan semua itu?" tanya Nely dengan suara pelan. "Aku juga tidak tau bagaimana, tapi sepertinya dia sengaja membiarkan kita melakukannya dengan begitu dia bisa membalikkan keadaanya. Dia pikir aku tak bisa melawannya! cih..." cibir Miska semakin kesal. "hahaaha.. dia lupa yah.. kalau kau adalah peringkat pertama di MIA 2! sedangkan dia, nilainya hanya berada di 20 besar saja! " Yuyun tertawa mengingat posisi Miska yang lebih baik di banding Alisya. "Kamu bisa menjatuhkannya pada saat presentase nanti... aku yakin dia hanya bergantung pada kemampuan Adith saja. sedangkan dia bukanlah sesuatu yang harus kamu khawatirkan. " tambah Nely semangat. Mereka tersenyum penuh arti sambil melirik ke arah Alisya dan Karin yang sedang berbincang-bincang di tambah dengan Adith yang terus saja menggoda Alisya sehingga siapapun yang melihat mereka bagaikan Tom & Jerry yang bertengkar dengan cara yang relatif mesrah di mata para bucinnya Adith. Note : Bucin "Budak cinta" 15. Reaksi Termit 30 menit kemudian kedua tim kembali ke atas panggung presentase untuk mendengarkan hasil diskusi apakah mereka mendapatkan kesempatan ataukah semua akan berakhir dengan kegagalan saja. "Baiklah, kami sudah buat kesepakatan yaitu kalian tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan presentase" ucap ibu Yosi tegas. Semua orang terkejut dengan hasil kesepakatan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Alisya tetap memasang wajah tenang di ikuti tarikan bibir Adith setengah tersenyum mendegar hal tersebut. Sedangkan Miska tampak gusar dan Zein tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Alisya. "Tapi kami akan memberikan ujian sejauh mana kalian menguasai bahan materi kalian untuk melihat apakah memang ini kebetulan atau ada konspirasi di dalamnya" tambah pak Amir dengan nada yang dingin. "Kami harap kalian tidak mengecewakan kami" sambung pak Affandi lembut. Wajah Miska seketika berubah menjadi semangat dan menyunggingkan senyuman yang terlihat sinis dengan tatapan tajam mengarah ke Alisya yang lebih memilih membuang wajah tidak melihat keduanya. "Aku akan mulai dari Tim Zein, apa yang memilih kalian mengambil tema ini? " Ibu Yosi memulai tes dengan pertanyaan yang sederhana. "Seperti yang kalian ketahui, tema presentase kami adalah Reaksi Termit. Reaksi ini biasa digunakan sebagai pengelasan logam dengan bahan Besioksida dan bubuk Aluminium yang bisa menghasilkan panas yang cukup tinggi." Jawab Miska dengan lancar dan lantang. "Selain itu reaksi termit ini rencana kami akan simulasikan sebagai contoh pengelasan yang biasa di lakukan sehari hari oleh para pekerja bengkel, bangunan maupun furniture pagar dan juga simulasi meletusnya gunung merapi yang baru-baru ini terjadi". Tambah Zein mantap. Pak Amir dan 3 juri lainnya menganggap bahwa materi presentase yang mereka tampilkan cukup menarik sehingga tampak mengangguk anggukan wajah tanda setuju mengingat zaman ini adalah zaman dimana segala sesuatunya telah berhubungan dengan mesin serta penciptaan barang barang yang menggunakan besi, logam maupun aluminium telah melakukan proses reaksi Termit sebagai langkah dasar yang banyak orang kenal hanya sebagai proses pengelasan biasa. "Bagaimana dengan Tim kalian Adith??? Apa yang memilih kalian mengambil tema yang sama? " Tanya pak Amir dingin. "Pada dasarnya kami mengambil prinsip kerja yang sama pada reaksi termit seperti yang telah kalian dengar sebelumnya. Akan tetapi titik pembahasan kami lebih mengarah pada Reaksi termit yang bisa menghasilkan daya ledak yang cukup tinggi." Alisya menjawab dengan tenang dan lancar menatap Adith untuk melanjutkan. "Reaksi termit jika dinyalakan akan menghasilkan panas dengan skala lebih dari 3000 derajat selsius. Dan suhu tersebut melebihi titik didih dan titik leleh dari besi atau beton. Yang jika tereaksi dengan air maka akan menghasilkan ledakkan freatik seperti yang terjadi pada letusan gunung berapi. Ini mirip sekali dengan jenis Bom yang meledak pada gedung pemerintahan Indonesia yang baru saja terjadi bulan lalu. pada penyelidikan dikatakan bahwa pada ledakkan terdeteksi reaksi termit." Ucap Adith menambahkan dengan lihai dan tampak seperti seorang yang pro dalam melakukan presentase. "Tidak heran kalau diumur segini dia sudah memegang bisnis keluarga nya! dia memang luar biasa" Batin Alisya kagum dengan kemapuan Adith.If you encounter this narrative on Amazon, note that it''s taken without the author''s consent. Report it. Mendengar jawaban dari kedua tim yang jauh berbeda, pak Amir mulai memperbaiki posisi duduknya untuk lebih maju kedepan menandakan bahwa ia tertarik dan penasaran akan apa yang bisa di lontarkan oleh kedua tim selanjutnya. Semua peserta juga merasa kagum dengan tekhnik pembawaan presentasi yang dibawakan oleh kedua tim sehingga dengan antusias memperhatikan dengan serius apa yang akan terjadi selanjutnya dalam persaingan ini. Mendengar adanya Kompetisi dalam presentase kali ini, kepala sekolah beserta para petinggi sekolah tidak ketinggalan untuk bisa menyaksikan kejadian langka ini terlebih lagi melibatkan 2 sosok fenomenal anggota elit tertinggi disekolah itu. "Kembali kepada timmu Zein, bisa kalian jelaskan lebih lanjut mengenai reaksi termit dalam pengelasan atau letusan gunung berapi?" Tanya pak Affandi. "Pada pengelasan bioksidasi dan Aluminium akan dilakukan pembakaran dengan suhu yang cukup tinggi sehingga dapat melelehkan logam yang kemudian bisa dijadikan sebagai sambungan yang sangat kuat terhadap besi atau logam lainnya. Namun reaksi ini cukup berbahaya dan menghasilkan sinar yang cukup menyilaukan sehingga perlu penanganan khusus ketika melakukan kegiatan pengelasan." Miska memperlihatkan prosedur pengelasan secara langsung dan tampak ahli dalam melakukannya. Peralatannya tampak sudah siap mendukung presentasi yang dilakukannya. "Begitupula pada proses letusan gunung berapi, semua material yang terdapat di dalam gunung berapi yang aktif memilki jenis yang sama untuk bisa menghasilkan reaksi termit. dan ledakkan yang terjadi pada saat letusan adalah karena adanya air dari dalam gunung yang bereaksi terhadap reaksi termit. inilah yang di sebut dengan ledakkan freaksi seperti yang baru saja terjadi pada letusan gunung berapi yang baru saja terjadi pada gunung Sumeru" Zein juga menampilkan simulasi secara langsung bagaimana proses letusan gunung berapi karena reaksi termit dan tentu saja dengan jarak yang cukup aman dan penggunaan bahan yang pas sehingga tidak berbahaya. Pak Affandi sangat kagum dengan cara mereka menampilkan presentase dan dengan kemampuan yang baginya dilakukan oleh seorang yang cukup profesional di bidangnya. Miska memperlihatkan pandangan yang puas menganggap bahwa mereka lebih unggul dalam membawakan presentase kali ini. Para peserta dan juga penonton yang lain pun memberikan tepuk tangan yang meriah terhadap hasil presentase yang di lakukan oleh Zein dan Miska. "Untuk kalian berdua!" pak Amir menunjuk ke arah Adith dan Alisya. "Bagaimana bisa kalian mengatakan bahwa Bom itu menggunakan reaksi termit? " Tantang pak Amir masih dingin. "Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut mengenai Bom dengan rekasi termit, perlu kalian ketahui bahwa Bangunan gedung pemerintahan Indonesia memiliki pilar dari penyangga dengan rangka bangunan 4 kali lebih tebal dari bangunan gedung biasa sehingga disebut super pilar karena kekuatannya. Dan tidak sembarang bom biasa bisa menghancurkannya. Ini terlihat dari bekas reruntuhan dari gedung tersebut sewaktu saya melakukan penelitian disana" Ucap Alisya memperlihatkan gambar gambar dari reruntuhan bangunan gedung Pemerintahan Indonesia. "Apakah itu berarti Bom yang di ledakkan bukanlah Bom biasa?" Pak Amir tidak tahan untuk bertanya kembali melihat kemampuan Analisa Alisya yang mengalahkan para ahli riset kepolisian. "Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, itu karena adanya reaksi termit yang melelehkan besi atau beton pada gedung tersebut. Ketika ledakkan terjadi, air dari sprinklepun keluar dan menyebabkan ledakkan freatik yang mirip seperti pada letusan gunung berapi. sehingga pilar sudah tidak mampu menyangga beban dari bangunan dan akhirnya bangunan tersebut runtuh. Substansi ini sebenarnya lebih mudah di dapatkan dari pada bubuk mesiu dan biasa di jual pada daerah ini. " Adith juga menampilkan video simulator bagaimana runtuhnya gedung tersebut akibat ledakkan bom yang menggunakan reaksi termit dan juga peta dari pembelian substansi Bom tersebut. "Melihat dari lokasi perkiraan, berdasarkan bukti yang di tinggalkan maka pembelian bahannya berkisar pada area ini mengingat pelaku terekam cctv hanya berjalan kaki dan tidak menggunakan angkutan umum untuk menghindari pelacakan Identitas" Tambah Alisya sebelum mengakhiri presentasinya. pak Amir terdiam dan terpaku dengan jawabam yang diberikan keduanya. bukan saja mereka berhasil melakukan presentase dengan sangat baik, mereka bahkan telah bisa saja membantu kepolisian dengan Analisis mereka yang terbilang sangat akurat. Hal ini membuat seorang petinggi telah diam diam menghubungi kepolisian tepat setelah Adith memulai analisisnya untuk mengecek kebenaran. ketiga juri dan seluruh orang yang berada di dalam gedung masih terdiam tak tau apa yang harus mereka katakan. mereka masih teroaku dan mencerna bagaimana bisa dua orang anak SMA menganalisis dan memecahkan masalah yang bahkan para kepolisian saja belum menyelesaikannya. Seorang petinggi turun menuju ke panggung dan menyalami Adith serta Alisya dengan suara lantang. "Berkat kalian berdua, kami telah berhasil menangkap pelaku pengeboman dan mendeteksi lokasi Bom selanjutnya! untuk itu kalian akan diberikan penghargaan begitu pula dengan sekolah ini" ucapnya sambil menyalami Adith dan Alisya. Mendengar itu semua orang langsung berteriak dengan gemuruh dan bertepuk tangan dengan keras. suasana mendadak lebih ribut dari sebelumnya membuat peredam Alisya tidak berfungsi dengan baik. Ia segera meminta izin untuk turun dari panggung setelah memberi hormat kepada petinggi tersebut. Melihat reaksi Alisya , Adith langsung mengejarnya sedangkan si petinggi tersebut kembali ke posisi semula dan berbincang kepala sekolah. Adith dan Alisya meninggalkan semua kerumunan yang merasa Aneh karena bintang acara tiba-tiba saja menghilang. Begitu pula dengan para Juri yang saling melihat satu sama lain. 16. Dia Memang Menakutkan Gosip mengenai hasil presentase yang dilakukan oleh Alisya dan Adith telah beredar dengan sangat cepat layaknya virus mematikan yang menggerogoti seluruh isi sekolah SMA CENDEKIA INDONESIA. Kepopuleran Adith sontak saja sampai ke seluruh pelosok Indonesia, siapa yang tidak mengenalnya? seorang pelajar muda berbakat dengan kejeniusan tingkat tinggi dan ketampanan wajah oriental melayu namun begitu gagah perkasa juga berwibawa serta pemegang jabatan tertinggi dalam bisnis yang di jalankannya dalam keluarganya semakin menambah kharisma dari seorang Radithya Azura Narendra. Sedang Alisya menjadi sosok yang populer di kalangan siswa namun sangat misterius dengan latar belakang yang diketahui sebagian besar orang hanya tinggal bersama neneknya selain itu mereka tak menemukan info apa-apa. Akan tetapi kecerdasan Alisya dalam melibas semua pertanyaan guru paling Kiler membuatnya tampak menawan dan mempesona baik di kalangan biasa maupun di kalangan elit. Hanya saja hal ini juga menimbulkan kebencian mendalam bagi para siswi di sekolah itu. "Bagaimana sekarang? bukan saja harusnya dia di permaluka, malah ia akan mendapatkan penghargaan sial!!! " Yuyun menggerutu kesal dengan gosip positif yang terus mengalir ketelinganya. "Aku... a,, aku.. errrrggggh" Nely tidak bisa mngeluarkan kata-kata lagi karena terlalu kesal dan marah. "Tenang saja! aku takkan biarkan dia mendapatkan semua kesenangan ini dengan tenang! 3 hari lagi sekolah akan mengadakan acara penghargaan kepada Adith dan Alisya atas kemenangan presentase mereka dan hasil analisi mereka yang telah membantu kepolisian! " Miska bergumam pelan. Nely dan Yuyun mendengarkan dengan seksama perkataan Miska dan bertanya dalam kalut. "Apa rencanamu kali ini??" "Aku takkan biarkan dia hadir dalam acara itu! dengan begitu dia bukanlah menerima penghargaan melainkan di Cap sombong dan angkuh karena berani tidak datang di acara yang sangat penting bagi wajah sekolah yang terkenal disiplin ini. terlebih lagi dia hanyalah seorang siswi biasa yang tak memiliki latar belakag yang kuat untuk melindunginya" Miska tersenyum licik mengingat rencana lain yang dipikirkannya. "Untuk itu apa yang akan kamu lakukan padanya? kau tau kalau Adith selalu berada di didekatnya bahkan mengawasinya dari jauh. Dia cukup protektif hanya terhadap seorang partner rendahan karena kejadian sebelumnya di kelas. " Nely meyakinkan dirinya sendiri kalau hal itu dilakukan Adith hanya karena kelembutan Adith sajalah dan bukan karena ia teratrik pada Alisya. "Mustahil ia menyukai Alisya" Batin Nely mengutuk Alisya. "Adith mungkin akan mengawasi Alisya, tapi kita tau kelemahan Alisya yaitu Karin dan juga Alat yang terpasang pada telinganya! kalian lihatkan kemarin sewaktu acara belum usai dan mendapatkan sorakan yang begitu riuh, Alisya memegang telinganya tampak kesakitan dan menghambur keluar dengan terburu-buru? " Miska mengingatkan.A case of theft: this story is not rightfully on Amazon; if you spot it, report the violation. "Ya, kejadian itu mirip dengan apa yang terjadi di kelas lalu" Yuyun mengangguk cepat membenarkan perkataan Miska. "Sepertinya kita bisa memanfaatkan kejadian tersebut nanti" tambah Miska kemudian. Nely bertatapan dengan Yuyun dan mengangguk pelan sambil tersenyum licik memahami maksud dari Miska. Bagi mereka Alisya adalah tembok besar yang menghalangi mereka dalam mendapatkan ketenaran serta posisi yang penting disekolah serta penghambat terbesar dalam mendapatkan perhatian para elit untuk meningkatkan pamor mereka dan menarik perhatian para elit. **** "Dimana Alisya??? kenapa 3 hari ini dia tidak hadir di sekolah?? dia juga bahkan mengabaikan telponku! " Adith langsung menyerang Karin begitu melihatnya yang sedang berjalan di koridor sendirian. "Alisya punya handpone sejak kapan??" tanya Karin tidak tau mengenai masalah ini. "Tidak kau di ajarkan sopan santun untuk menjawab pertanyaan orang lain terlebih dahulu sebelum bertanya kemudian? " Adith yang terkenal dingin menikam Karin dengan pertanyaannya dalam nada bengis. Karin akhirnya sedikit gemetar melihat tatapan Adith yang menusuk hingga kedalam tulangnya membuat bulu kuduknya berdiri dengan hebat. "Aku tak menyangka ia bisa semenakutkan ini hanya karena mencari Alisya" Batin Karin menenangkan diri. "Dia sudah mengambil izin kepada sekolah karena neneknya sedang sakit dan di larikan ke UGD beberapa waktu lalu! " Karin hanya memberi alasan saja demi menyembunyikan kejadian sebenarnya yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. "Rumah sakit mana? katakan padaku!" nada memerintah Adith membuat Karin sedikit gentar. "Terimakasih atas perhatianmu, tapi Alisya tidak suka jika kehidupan pribadinya di usik bahkan olehku sahabat karibnya!" Karin sengaja menekan kalimat Kehidupan Pribadi untuk membuat Adith tidak bertanya lebih lanjut mengenai Alisya. "Lalu, apakah dia akan hadir besok? jika tidak maka biarlah acara besok hancur berantakan" Adith memutuskan untuk tak menghadiri kegiatan besok jika ia harus berdiri seorang diri menerima penghargaan yang tak seberapa baginya. "Kau tak perlu khawatir, besok dia sudah memutuskan untuk tetap hadir demi menyelesaikan sekolahnya disini" Karin meyakinkan Adith. Adith berlalu pergi dengan membawa aura membunuhnya namun masih menyisakan sedikit nuansa mematikan sepanjang koridor tempat Karin berdiri menatap punggung kokoh Adith yang berjalan menghilang di pembelokkan. Melihat tatapan bengis Adith yang berjalan di sepanjang koridor membuat semua siswa maupun siswa menyingkir dengan teratur dan merapat di dinding menyelamatkan diri dari amarah penguasa dingin yang sedang tersulut. Adith tampak seperti gunung semeru yang memperlihatkan keindahannya yang berbahaya dan mematikan yang bisa saja meledak kapan saja jika ada yang berani mengusiknya. "Dia memang menakutkan, tapi ku harap dia bisa melindungimu dengan kekuasaannya Alisya" lenguh Karin menaruh harapan yang tinggi kepada Adith. **** 3 jam lagi acara penghargaan akan segera dimulai. seluruh siswa dan tamu undangan telah berdatangan satu persatu untuk menyaksikan kejadian bersejarah yang ditorehlan oleh sekolah ini terlebih lagi karena acara ini akan di disiarkan secara langsung oleh stasiun Berita Nasional dan swasta. Selain itu banyak sekali pejabat tinggi dan pemimpin perusahaan besar Indonesia ikut menghadiri acara ini sebagai bagian dari trik mereka dalam menarik perhatian keluarga Narendra penguasa tertinggi dari perusahaan terkemuka di Indonesia. Acara ini akan diresmikan oleh presiden secara langsung sebagai pemberi penghargaan. Bukan hanya dari kalangan biasa dan elit tingkat 1 yang hadir, melainkan tingkat 2 dan tingkat 3 pun juga hadir memenuhi Aula utama kompleks Elit sekolah tersebut. Adith yang berjalan masuk dengan pakaian sekolah di balut Jas hitam almamater kebangsaan sekolah lengkap dengan Dasi hitam yang menambah ketampanannya yang sangat mempesona dan bersinar terang di ribuan mata yang melihatnya. Ia bagaikan barang mewah yang tak bisa setiap saat mereka lihat dengan bebas seperti ini. Alisya masih belum tampak di luar maupun di dalam kompleks Aula elit yang sudah dipenuhi oleh banyak wartawan dan tamu undangan membuat Adith sedikit gelisah di tempat duduknya. Ia merasa kesal karena dengan semangat datang ke acara itu karena perkataan Karin yang meyakinkannya bahwa Alisya akan ikut hadir bersama dirinya. "Aku takkan memaafkannya jika dia berani menipuku" Batin Adith mulai gusar. 17. Ini Cukup Yuyun dan Nely yang melihat Alisya melenggang menuju ke Aula dengan cepat membuat mereka menghambat langkahnya. "Apa mau kalian? " Alisya merasa ada sedikit tekanan di balik tindakan mereka. "Lihat ini" Nely menyodorkan sebuah gambar dari Handphonenya kepada Alisya. Melihat itu Alisya hampir saja ingin melempar HP itu kewajah Nely yang menatapnya dengan angkuh tapi hanya mengurungkan niatnya dan menggenggam erat HP itu sambil mengikuti langkah dari kedua wanita bengis itu. Alisya paham betul keinginan mereka sehingga berusaha tenang mengikuti langkah mereka meski sebenanrnya acara akan dimulai 15 menit lagi sehingga saat kedua wanita itu mencegatnya tidak ada satupun yang melihat karena semuanya sudah berada di dalam Aula. Setelah merasa sudah berada di tempat yang cukup tersembunyi, HP yang berada di tangan Alisya segera berbunyi dan terlihat nama Miska di panggilan itu. "Halo... " Suara dingin Alisya siap menerkam Miska yang berada diseberang telpon. "hahahaaha,, santai saja sayang..." Miska tertawa mengejek Alisya. "Apa maksud semua ini? " "Oh, ayolah.. kau tau apa maksudku yang sebenarnya" pancing Miska sinis. "To the Point!!! " Alisya yang menggertakkan giginya membuat Nely dan Yuyun tersenyum jahat. "Kau benar tak suka banyak biacara! pffttt,,, Karin akan aku lepaskan jika kamu tidak menghadiri acara hari ini" Ancamnya dengan tegas langsung mematikan telponnya menandakan bahwa tidak ada negosiasi dalam hal ini. Alisya benar benar marah dan langsung meninju tembok sehingga HP yang berada di tangannya ikut retak. Darah mengalir deras di tangannya membuat Nely dan Yuyun hanya semakin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Alisya yang menunjukkan kemarahannya. "Percuma kau menghancurkan Handphoneku karena aku bisa membeli 2 bahkan 10 lusin barang seperti itu" Nely menatap jijik Alisya. "Kalian akan menanggung akibatnya jika terjadi sesuatu kepada Karin" Alisya menatap keduanya tajam menusuk membuat keduanya sedikit takut karena aura wajah Alisya yang tampak tak biasa. "K.. kau harusnya nelihat posisimu sendiri!!! ucap Yuyun gagap takut oleh aura mengintimidasi yang di keluarkan oleh Alisya.This story is posted elsewhere by the author. Help them out by reading the authentic version. Keduanya pergi dengan senang menuju ke Aula meninggalkan Alisya setelah menabraknya dengan keras. Alisya bisa saja membalas keduanya tapi berusaha menekannya mengingat Karin yang sedang dalam bahaya. Ia tidak yakin harus memilih yang mana, Alisya tau betul kalau Karin tidak akan terima jika dia melanggar perjanjiannya dengan Ayahnya dan lebih memilih untuk mendengarkan ancaman murahan yang diberikan oleh Miska. Tapi jika dia memilih untuk tidak menghadiri acara itu maka Miska akan dengan mudah menindasnya dan memanfaatkannya di kemudian hari. Bagi Miska ini mungkin hanya sebuah permulaan saja, tapi mereka tidak tau kalau bisa saja ini adalah akhir dari kehidupan mereka. Alisya berpikir dengan sangat keras dan berjalan dengan lunglai hingga datang Rinto dan Yogi menghampirinya setelah lelah mencari Alisya di seluruh sekolah. "Kami mencarimu kemana saja! apa yang kamu lakukan disini? " tanya Yogi dengan terengah engah. "Aku punya pesan untukmu dari Karin" ucap Rinto cepat tanpa memberi kesempatan Alisya untuk menjawab. "Pergilah, lalu selamatkan Aku!" itu ada di pesan terakhirnya yang dikirimkan padaku! awalnya aku tidak mengerti tapi setelah melihat note to Ali akhirnya aku paham apa itu" tambahnya lagi setelah mengambil nafas panjang. Sadar bahwa Alisya menahan sakit sejak mereka menghampirinya. Rinto dan Yogi mundur sejauh mungkin secara perlahan dan berusaha menahan nafas lalu menenangkan diri mereka agar bisa mengatur nafas mereka dengan baik. Yogi dengan cepat mengambil Hadphone miliknya yang besar dan memasangkannya ke telinga Alisya yang meringis dalam diam. "Apakah kau baik-baik saja?" Yogi berusaha mengeluarkan suara sepelan mungkin setelah melihat Alisya mulai tenang. "Apa yang terjadi? kenapa kau tidak memakai peredam suaramu? " Rinto bertanya dengan wajah yang sangat cemas. "Dua iblis itu sepertinya mengambil alatku sewaktu menabrakku tadi! " Alisya menahan nafas sewaktu mengeluarkan suara dengan berat. Rinto dan Yogi paham siapa yang di maksud Alisya, karena dua orang itulah yang mereka lihat keluar dari tempat itu dengan tertawa jahat sehingga memberi mereka petunjuk kalau Alisya juga berada di tempat yang sama. "Apa yang akan kamu lakukan?" Rinto tidak yakin dengan keputusan Alisya. "Apa kau punya penyumbat telinga yang lebih tebal dari ini? " Alisya melenguh menunjuk Hadphone di telinganya. Yogi paham maksud dari Alisya. "Aku akan mencarikannya untukmu di UKS secepatnya" Yogi segera berjalan menjauh dan berlari dengan cepat ketika merasa jaraknya sudah cukup. "Kamu bisa berjalan? waktu kita tinggal 5 menit lagi, jadi kita harus berada disana secepatnya" Rinto mengingatkan dan ingin membantu tapi tak berani menyentuh tubuh Alisya. Alisya mengangguk dan mulai berjalan gontai menahan sakit di kepala yang menjalar keseluruh tubuhnya. Rasa khawatir terhadap Karin membuatnya merasakan sakit dua kali lipat dari yang dirasakannya sebelumnya. Adith yang memberi batasan jika dalam waktu 10 menit acara dibuka Alisya tak kunjung muncul, maka ia akan meninggalkan acara tidak peduli sekalipun presiden akan tiba pada acara intinya. Alisya, Rinto dan Yogi tiba bersamaan di depan pintu Aula Kompleks elit. Acara sudah berlangsung selama 10 menit setelah sebelumnya dari kejauhan presiden sudah memasuki Aula tepat sebelum kedatangan mereka bertiga. Alisya terkejut tak percaya melihat rombongan presiden yang memasuki Aula namun sudah tak bisa mundur lagi Alisya membiarkan rombongan itu terlebih dahulu memasuki Aula. Masuknya rombongan itu membuat Miska dan yang lainnya menyunggingkan senyum tanda kemenangan mereka. Mereka yakin bahwa Alisya tidak akan datang dan menghancurkan acara ini sehingga dengan begitu Miska kemungkinan besar bisa saja menggantikan posisi Alisya mengingat dialah pemenang kedua dalam presentase lalu. Dengan kata lain dia dan Zein akan menggantikan posisi Adith dan Alisya. Terlebih lagi ketika Ia melihat Adith berdiri meninggalkan Aula. "Aku tidak yakin ini cukup untukmu" Yogi menyodorkan dua buat buntalan kecil halus yang terbuat dari kain. "Ini cukup!!! " Alisya meyakinkan. Baru saja ia ingin membuka pintu dan masuk, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya dan tampak Adith berdiri dihadapan mereka. Suara MC dari kejauhan sudah terdengar memanggil mereka berdua membuat Adith tidak sempat bertanya apapun namun langsung menarik Alisya menuju panggung. Dari Jauh Alisya tampak yang berjalan dengan santai dan tenang. Ia tidak sebanding dengan kemewahan Adith namun tetap mempesona dalam kesederhanaanya. Rambutnya terurai rapi mengalun yang ujungnya menepuk lembut pinggangnya. Pemandangan ini membuat Adith menyunggingkan senyum menatap Alisya. Ia yakin bahwa Alisya adalah Batu intan tersembunyi yang masih butuh di poles untuk bisa memperlihatkan kecantikan alaminya. Untuk sejenak ia lupa akan amarahnya yang sejak tadi sudah menguasainya. Melihat Alisya yang hadir pada acara itu sontak saja membuat Miska berdiri tak percaya kalau Alisya mengabaikan ancamannya dan berani hadir di panggung itu. terlebih lagi dia dengan santainya berjalan di iringi oleh Adith membuatnya semakin mengeram dalam diam. matanya terbelalak penuh Emosi. 18. Lihat Aku Jika Kau Takut Setelah berada di atas panggung, barulah Alisya sadar bahwa banyak kamera sedang menyorot mereka berdua dari segala macam penjuru. Alisya marah dan menggertakkan giginya tak percaya akan hal ini. Ia telah bersepakat dengan Kepala sekolah bahwa ia akan menghadiri acara ini jika sekolah atau siapapun tidak meliput kegiatan itu berlangsung. Tidak cukup ia terkejut karena ia melihat presiden tadi, tapi ketika ia masuk jelas betul jawaban dari keterkejutannya. "Kau harus menjawab pertanyaanku begitu kita selesai nanti" Bisik Adith dengan gerakan lembut tanpa ada yang menyadari apa yang di lakukan Adith. Setelah memperhatikan warna wajah Alisya dari jarak dekat, Adith baru menyadari kalau Alisya sedang berada dalam tekanan yang cukup besar. Peluh mengalir di pelipis Alisya dengan tangan bergetar hebat yang berusaha Alisya sembunyikan. Membelakangi semua orang Adith menyentuh lembut belakang pinggang Alisya dengan cepat namun terasa hangat oleh Alisya sehingga membuatnya menoleh menatap Adith. Adith menatap Alisya dengan lembut dengan tatapan yang meneduhkan dan senyuman yang menenangkan. "Lihat aku jika kau takut, tutup matamu dan dengarkan suaraku!!!" Suara lembut Adith secara perlahan menyembur kedalam telinga Alisya menenangkannya membuat jantungnya kembali berdetak dengan teratur. Alisya merasa pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya, tapi tidak tau dimana. namun berkat perkataan Adith suasana hatinya menjadi lebih tenang. Alisya berpikir bahwa ia harus menyelesaikan acara ini secepatnya dan menyelamatkan Karin. Karin jauh lebih penting dibanding ketakutannya saat ini. "Sudah agak mending?" tanya Adith pelan yang di jawab anggukkan lembut Alisya. Gerak gerik Adith dan Alisya yang tampak di hadapan semua orang seperti sedang melakukan percapakan biasa yang ringan. Acara kemudian berlangsung dan memasuki acara inti dengan tanda diberikannya penghargaan kepada Adith dan Alisya sebagai Pemuda Pelajar Berprestasi. Adith dan Alisya juga mendapatkan tawaran melanjutkan kuliah ke Universitas ternama di seluruh negara yang mereka inginkan meski mereka masih baru di pertengahan tahun kelas 1 SMA. "Bagaimana perasaan kalian mendapat penghargaan ini?? " Para wartwan sudah berjejer dihadapan Adith dan Alisya layaknya konfernsi pers dengan ratusan kilatan cahaya menghantam wajah keduanya. "Sebagi seorang pelajar, aku sangat bangga" Jawab Adith dengan tegas namun santun terlihat sangat berwibawa. Ia tampak lebih dewasa di banding umurnya yang masih remaja. Para Wartawan dengan kompak menoleh ke arah Alisya dengan tatapan menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Melihat Alisya yang sedikit gusar membuat Adith menggenggam tangan Alisya di bawah meja untuk menenangkannya dan dengan lirikan lembut ia mengarahkan Alisya untuk menjawab. "aku.. aku bersyukur dan tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan ini" Ia sedikit terbata namun tenang. Adith kagum dengan sikap Alisya yang mampu menyembunyikan perasaaanya dengan baik. Dan untuk Adith, Ia terlalu peka jika itu sudah berurusan dengan Alisya entah sejak kapan.Support the author by searching for the original publication of this novel. Wawancara telah usai dengan sebagian besar tamu undangan mulai meninggalkan ruangan bersamaan dengan Presiden yang di ikuti para wartawan menyisakan para murid yang masih berinteraksi satu sama lainnya. Rinto dan Yogi yang sedari tadi sudah memantau Miska dan yang lainnya melihat mereka mulai melakukan pergerakan. Tanpa disadari oleh semua orang termasuk Adith, Alisya sudah menghilang dari dalam Ruangan itu. Sekarang Adith tidak bisa tenang lalu menghambur keluar mencari Alisya dengan panik. Dari jauh ia melihat Alisya berlari dengan kencang menuju ke belakang sekolah, tanpa pikir panjang Adith mengikuti punggung Alisya yang sudah menghilang di balik tembok. Ia melirik ke arah kiri dan kanan mencari Alisya dengan panik dan melihat pintu gudang setengah terbuka. Adith berdiri di depan pintu gudang yang tampak gelap dari luar dengan gemetar dan tak berani masuk. Kakinya lemas tak bisa melangkah dan jantungngnya berdetak dengan kencang tapi sangat menghawatirkan Alisya. 5 menit kemudian Rinto dan Yogi terengah engah menatap Adith dengan wajah bingung namun takut bertanya. Mereka segera masuk kedalam tanpa memperdulikan Adith yang berdiri terpaku di hadapan gudang. Begitu masuk Rinto dan Yogi melihat Karin sudah lepas dari ikatannya namun menangis histeris melihat Alisya jatuh tersungkur dengan darah segar keluar dari telinga dan hidungnya. Kondisi Karin juga tak kalah mengenaskan dengan pipi lebam dan bibir pecah berdarah namun sudah kering. "Apa yang terjadi??? " Rinto bertanya dalam kebingungan. "Bantu aku membawa Alisya, Cepattt" bentak Karin panik setelah melihat Rinto dan Yogi. "Bagaimana dengan dirimu? lukamu juga parah! " Yogi masih khawatir dengan kondisi Karin. "Jangan pikirkan aku! Ayo keluarkan Alisya dari sini" Karin tetap berbicara dengan suara panik. Rinto dan Yogi marah merasa kurang cukup setelah tadi melayangkan tamparan keras di wajah Miska sebelum kemudian berlari mengikuti punggung Adith. Mereka mengutuk keras perbuatan Miska dan tidak akan memaafkan ketiganya. Rinto dan Yogi tidak berani menyentuh Alisya namun terpaksa membantu Karin yang bersikeras untuk membopong tubuh Alisya. Adith yang mendengar jeritan Karin merasakan sakit hati yang sangat mendalam karena tidak bisa berlari masuk kedalam gudang. Ia masih belum bisa melepaskan diri dari trauma terbesarnya. Dengan setengah sadar Adith mengeluarkan Handponenya dengan gemetar kemudianmenelpon ambulance dari rumah sakit pribadinya. "Datanglah dalam 5 menit jika kalian ingin hidup" Ucapnya sambil berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar. "Siapkan semua dokter pribadiku dan juga ruang VIP" perintahnya lagi dengan nada yang cukup kejam membuat se isi rumah sakit panik serta bingung dengan lampu merah tanda bahaya yang di nyalakan oleh Adith. Kurang dari 5 menit kemudian ambulance tiba lebih awal bersamaan dengan keluarnya Rinto yang membopong Alisya di bantu oleh Karin dan Yogi. Melihat Rinto membopong Alisya, mata membunuh Adith terpancar keluar mencegat langkah kaki mereka bertiga. Dengan lembut Adith mengambil tubuh Alisya dan menaikkanya ke Atas tandu Ambulance. Melihat Adith memperlakukan Alisya dengan sangat lembut membuat hati Karin sedikit tenang dan menghapus air matanya yang tak bisa berhenti mengalir. "Aku akan menemani Alisya! Kalian tolong temani Karin! Adith menjelaskan dengan suara lembut dengan tatapan mata yang sarat akan kesedihan dan kekhwatiran yang mendalam. Wajah Adith yang selama ini hanya memperlihatkan ekspresi dingin dan menngintimidasi membuag kaget ketiganya. mereka dengan kompak mengangguk pelan mengikuti perkataan Adith. "Aku serahkan Alisya padamu! Tapi Ayahku yang lebih tau kondisi Alisya! " Karin mengingatkan. "Katakan padanya untuk datang ke rumah sakit Internasional Indonesia! Naiklah di ambulance yang satunya lagi untuk mengobati dirimu juga! " Adith memberitahu Karin dengan lembut melihat kondisi Karin yang juga tidak kalah parah. Melihat 2 buah mobil ambulance memasuki sekolah dengan leluasa membuat kepala sekolah panik dan langsung menarik perhatian seluruh penghuni sekolah bingung dengan apa yang sedang terjadi. "Periksa apa yang sedang terjadi!" perintah kepala sekolah cepat kepada security sekolah. "Jangan biarkan wartawan meliput kejadian ini" tambah guru penjas yang berada tak jauh dari kepala sekolah. Beruntung saja mereka semua sudah berada di dalam ambulance begitu para siswa berbondong-bondong datang melihat karena penasaran. mereka kecewa karena tidak sempat melihat peristiwa itu karena gerakan mereka cepat dan terorganisir dengan sangat baik. Bahkan pihak sekolah tidak mendapatkan info apapun terhadap apa yang sedang terjadi. Para security sekolah hanya berhasil menghalau para wartawan. Beberapa saat kemudian kepala sekolah mendapat telepon dari Asisten perusahaan Narendra yang mengatakan bahwa itu adalah simulasi keselamatan yang dilakukan oleh rumah sakit pribadi perusahaannya. Dan mengintruksikan kepada kepala sekolah untuk sebaiknya tidak mengeluarkan kalimat yang tidak perlu mengenai kejadian tersebut. Paham akan hal itu kepala sekolah dengan tenang menginformasikan di pengeras suara sekolah bahwa tidak ada kejadian apa-apa melainkan hanya simulasi dari rumah sakit Internasional Indonesia. Dengan begitu keadaan yang semula kacau menjadi kembali tenang dan satu persatu siswa mulai meninggalkan sekolah. 19. Memakiku Dengan Lembut Hati Adith begitu pedih membuat dadanya serasa sesak melihat kondisi Alisya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Selama perjalanan Adith tidak berani menyentuh seujung jari Alisya meski ia sangat ingin sekali menggenggam tangannya dengan erat. Tidak butuh waktu lama, mereka segera di layani oleh seluruh dokter terbaik yang ada di rumah sakit Internasional Indonesia yang sudah berjejer rapi berharap harap cemas akan kedatangan mobil ambulance yang tidak diketahui mereka siapa yang telah membuat Si penguasa mengaum begitu keras. "Jangan khwatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk meninjau kondisinya" Kepala rumah sakit berusaha menenangkan Adith begitu melihatnya turun dengan gontai dari mobil. Adith hanya mengangguk dan berlalu pergi menuju ke toilet mencuci wajahnya untuk kembali memfokuskan dirinya. "Siapa sebenarnya dirimu Alisya? kenapa aku bisa sampai setakut ini jika kehilanganmu" Adith mengingat kembali dirinya yang begitu dingin dan tidak terlalu suka dekat perempuan menemukan dirinya yang tak terkendali di hadapan Alisya. Tanpa ia sadari kalau ia merasa terikat dengan diri Alisya. Ia mendesah begitu keras mengingat ketidakberdayaan dirinya. Ia bahkan tidak mampu bergerak se incipun dan malah bercucuran keringat dingin dihadapan gudang sekolah. Ia merasa marah dengan kelemahannya. Rasa trauma yang tidak hilang meski sudah 10 tahun berlalu. "Pak Dimas, cati tau mengenai kejadian disekolah yang melibatkan Alisya hari ini, beri mereka pelajaran yang membuat mereka takkan pernah menampakkan wajahnya di hadapan Alisya lagi" Suara Adith begitu tegas dan mengintimidasi ketika dia menelpon Asisten keluarga Narendra. "Baik Tuan! " ia tak berani bertanya ketika mendengar suara Adith yang tidak seperti biasanya dan membuatnya sedikit takut. Alisya sudah berada di ruang rawat VVIP kelas 1 yang sudah dipersiapkan oleh Adith sebelumnya. "Bagaimana kondisinya?" Adith berjalan masuk langsung menyerbu para dokter yang berdiri menghadapi Alisya. "Kondisinya baik-baik saja. kamu tidak usah khawatir, dia hanya butuh istrahat yang cukup" seseorang yang berada paling ujung dekat Alisya menjawab dengan wajah lembut. "Apa ruangan ini kedap suara? itu akan sangat berguna bagi kesembuhan Alisya". Tambahnya lagi. "Tentu saja, ruangan ini di rancang khusus untukku karena aku juga tidak begitu menyukai keributan" Jawab Adith sambil memicingkan matanya karena bingung dengan siapa yang di ajaknya berbicara. "Dia ayahku, aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya! Dialah yang lebih mengetahui mengenai Kondisi Alisya" Karin datang bersama dengan Rinto dan Yogi setelah mengobati luka-lukanya. This tale has been unlawfully obtained from Royal Road. If you discover it on Amazon, kindly report it. "Perkenalkan saya Hady Reynand" ucapnya sambil menjulurkan tangan. "Radithya Azura Narendra! Saya teman Alisya" "Dia dokter terbaik yang dimiliki Indonesia, prestasinya dalam bidang medis bahkan mendapat pengakuan dunia. Namun sekarang dia sudah tidak bekerja dirumah sakit manapun, kemampuannya sangat disayangkan." Terang kepala rumah sakit begitu Adith menjabat tangan dokter Hady. "Terimakasih, saya merasa tersanjung di ingatkan akan hal itu. tapi sudah keputusan saya untuk menjadi dokter pribadi Alisya. Dia sangat berarti bagiku" senyum dokter Hady santun. "Apa kamu baik-baik saja?" matanya sendu melihat kondisi Karin. "Aku baik-baik saja yah, Alisya bagaimana? " suaranya lembut menenangkan ayahnya. "Aku sudah memberinya suntikan penenang, dia akan baik-baik saja seperti yang sudah sudah. Tapi kali ini aku sedikit khawatir dengan kondisi mentalnya. " Suara dokter Hady mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. "Dia akan bangun dan melupakan semuanya kembali Yah.. jangan khwatir, dia sudah mendapatkan emosinya kembali" Karin menatap Adith penuh arti. Ayah Karin mengikuti arah tatapan anaknya dan mengerti akan apa yang dimaksud. "Baiklah, aku harus kembali ke lab. Ada hal yang harus ku lakukan secepatnya sebelum Alisya bangun" Dokter Hady berjalan pergi di ikuti oleh semua dokte yang berada disana. Mereka mengantar kepergian dokter Hady dengan sopan dan santun. Setelah kepergian dokter Hady, semua dokter mengeluarkan lenguhan nafas dengar keras. mereka seperti telah menahan nafas selama 30 menit karena kedatangan dokter hebat di indonesia. Mereka takjub tak percaya bisa berada satu ruangan melihat dua orang top Indonesia berbincang satu sama lain begit dekat dihadapan mereka. Bahkan para suster yang melihat dokter Hady pun tak bisa mengalihkan pandangannya karena ketampanannya yang tak lekang termakan usia. ****** "Bagaimana bisa mereka tertidur dengan posisi duduk seperti itu? " Tunjuk Adith melihat Yogi dan Rinto yang sudah meringkuk tertidur karena kelelahan. "Biarkan saja, mereka sudah bekerja keras hari ini" senyum Karin. Ruangan hening beberapa saat lalu kemudian Adith memberanikan diri bertanya akan maksud percakapan Karin dan Ayahnya sebelumnya dan maksud dari tatapan keduanya. "Mengapa ayahmu bisa menjadi dokter pribadi Alisya? dan... apa maksud dari tatapan kalian berdua tadi? " Adith bertanya dengan canggung. "Sepertinya kau sedikit melunak! Aku pikir kau hanya akan bersikap baik pada Alisya saja" Adith mengerutkan dahi mendengar ucapan Karin. "Ehemmm... itu karena alhamarhumah Ibu Alisya! " jawabnya terbatuk melihat ekspresi kelam Adith. "Jadi benar ibu Alisya sudah meninggal? " Adith tak percaya kalau ternyata gosip yang beredar ada benarnya. "Ibu Alisya meninggal karena menyelamatkan aku dari ledakkan Bom di sebuah kafe keluarga tidak jauh dari Monas. Ayahku selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan ibu Alisya karena pecahan kaca yang tertanam di kepala dan jantung ibu Alisya. maka dari itu ia mengaggap kegagalannya sebagai aib terbesar dalam hidupnya yang membuat dia meninggalkan rumah sakit dan memutuskan untuk menjadi dokter Alisya" terang Karin yag berada disisi kiri Alisya dengan suara lembut tidak ingin menganggu Alisya. Adith masih mendengarkan dengan serius tepat di sisi kanan Alisya. "Bagaimana kamu berada di Kafe tersebut? " Adith bersuara lirih. "Ayah Alisya sebenarnya menginginkan seorang laki-laki, itulah kenapa dia sangat disiplin kepada Alisya. Hal itu pula yang membuat Alisya tidak memiliki seorang teman perempuan sampai ia bertemu diriku. Ibu Alisya sangat menyayangi kami berdua dan dia yang mengajak kami untuk makan diluar! Insiden Bom itulah yang menjadi trauma kedua yang di alami Alisya" tambahnya lagi setelah mengusap peluh di dahi Alisya. "Berkat kau Alisya yang sudah kehilangan emosinya, yang bahkan tidak merasakan sakit sama sekali kini mulai dengan mudah menampakkan sedikit ekspresi diwajahnya. Aku sebenarnya bingung, apakah kalian pernah bertemu sebelumnya" Karin memasang wajah serius dan penasaran. Belum sempat Adith menjawab, perut Karin berbunyi dengan hebatnya membuat wajah Karin tertunduk malu dengan kelancangan si kampung tengah. "Sebaiknya kamu makan dulu, aku sempat mengira seseorang baru saja memakiku dengan lembut" Adith tertawa kecil mendengar bunyi perut Karin. "Aku sampai lupa makan! ikutlah bersama kami" Karin memanggil Adith sambil membangunkan Rinto dan Yogi. "Aku masih belum lapar, pergilah! Aku akan menemani Alisya disini" Adith memandangi wajah Alisya dengan lekat. "Baiklah kami pergi dulu. Aku akan membawakanmu beberapa buah nanti" Ucapnya sambil berlalu pergi di ikuti langkah gontai Rinto dan Yogi yang berjalan seperti zombie. Sebenarnya Adith masih memiliki banyak perntanyaan kepada karin. Mulai dari trauma Alisya yang disebutkannya sebagai trauma kedua yang berarti Alisya memiliki trauma yang pertama. Dan mengapa Karin juga menganggap bahwa keduanya pernah bertemu seperti dirinya yang merasa bahwa pernah mengenal Alisya jauh sebelumnya. Namun ia tidak ingin memaksa Karin menceritakan semuanya dalam kondisi lapar seperti itu. "Pak Dimas, Tolong selidiki nama Alisya Quenby Lesham dan cari tahu mengenai ledakkan BOM di sebuah kafe keluarga dekat Monas" Ucap Adith memberi perintah kepada Asistennya dengan suara tenang. 20. Jenius Yang Nakal "Bagaimana bisa dalam waktu 3 hari ini kamu belum menemukan informasi apapun mengenail Alisya??? Bukankah dia warga negara Indonesia? " Adith berjalan dilorong rumah sakit dengan gusar merasa frustasi segala hal tentang Alisya. "Maafkan aku, tapi bahkan data dia di kepolisianpun tidak ditemukan! Saya pikir dia tidak pernah benar benar mendaftarkan dirinya atau bisa saja dia...." Blum selesai sang Asisten berbicara Adith langsung menyela dengan kasar. "Aku rasa aku tak perlu mengajarkanmu tentang hal ini, kalau begitu biarkan aku yang akan turun tangan langsung! Siapkn ruanganku" Adith sudah tidak sabar menunggu hasil kerja dari Asistennya Dimas. Baru kali ini sang Asisten mengalami kesulitan hanya karena mencari informasi mengenai seseorang. "Baiklah tuan, saya permisi! " Setelah menunduk kepala sedikit Dimas segera berpamitan melaksakan perintah Adith secepatnya. Adith tidak menyangka karena kejadian sebelumnya Alisya bahkan belum sadarkan diri selama 3 hari. Dan sekarang dia sedang berada di depan pintu Alisya berharap kalau kali ini ia akan segera bangun. Begitu memasuki ruangan Alisya, Ia tidak melihatnya terbaring atau berada di dalam ruangan itu. Ia panik mencari kedalam Toilet dan seluruh ruangan namun tidak di temukannya. "Ada apa?? wajahmu pucat sekali.. bisakah kau makan sekarang? kau sudah 3 hari ini belum makan Dith!!! " Karin menghentikan langkah Adith sewaktu akan keluar dari ruangan Alisya. "Alisya, dia tidak ada di dalam!" Adith menjelaskan situasinya kepada Karin. Karin menoleh kearah ranjang yang ditiduri oleh Alisya dan disana nampak kosong dan rapi seperti telah di bereskan oleh seseorang. "Ah... kemana itu anak! " Gumam Karin kesal. "Kita berpencar mencarinya, kau carilah ke arah taman! " Tunjuk Adith cepat sambil berlalu pergi. Karin dengan sigap mengikuti petunjuk Adith dan langsung menuju ke taman rumah sakit. Adith menuju ke atap rumah sakit. Disana tidak terlalu terang hanya ada cahaya bulan yang temaram menyinari seluruh atap rumah sakit. Adith berkeliling, menoleh ke kiri dan ke kanan tapi ia tidak melihat Alisya. Begitu ia akan segera turun, dari sudut matanya ia melihat seseorang sedang berjalan di atas teras memakai Gaun putih rumah sakit yang tampak sedikit transparan disinari cahaya lampu sorot dari bawah. Adith menghentikan langkahnya memandang seorang gadis yang membelakanginya dengan rambut hitam terurai indah dan terkibas oleh hembusan angin malam yang basah. Adith mendekatinya dengan perlahan dan melepas Jaketn tebalnya yang hangat tapi lembut dan menempelkannya di bahu Alisya. Menyadari seseorang sedang berada di belakangnya dengan sigap Alisya melayangkan sikunya mengarah kepelipis Adith yang di tangkis sebelah tangan. "Ya ampun, kamu mengagetkanku! kau tidak apa apa kan? "Alisya kaget begitu mengetahui kalau itu adalah Adith. "Tenang saja pukulanmu terlalu lambat untuk mengenaiku!" Ucap Adith dengan tenang sambil membenarkan posisi jaketnya agar menutupi tubuh Alisya.Support the creativity of authors by visiting Royal Road for this novel and more. "Ah terimakasih tapi aku baik-baik saja! " suaranya lembut. "Pakailah, dengan begitu kamu akan merasa lebih hangat" Adith memandang Alisya dengan tatapan yang sopan namun dalam. "Bagaimana kau bisa tau kalau aku ada disini? " Alisya ingat kalau ia keluar tanpa seorangpun melihatnya. "Aku melihat dua buntalan aneh di atas meja! Dan kupikir itu pasti buatanmu, sangat buruk! tapi karena itu aku tau kalau kamu akan berada di atap yang hanya terdengar suara angin di banding berada di taman dengan puluhan orang" Tangannya kemudian menyentuh kepala Alisya membelainya dengan lembut dan memasukkan sesuatu kedalam telinga Alisya. "Apa ini?? " sadar akan sesuatu yang kini berada di kedua telinganya. "Alat ini akan membantumu dengan lebih baik" Jelasnya. "Benarkah? rasanya sama seperti buatan om Hady! tapi ini sedikit lembut dan nyaman di pakai" Alisya tersenyum simpul dengan pemberian Adith. Senyum yang terlintas di wajah Alisya meski tidak begitu jelas, Adith merasa senyuman itu begitu cantik dan indah. Mata Alisya yang memancarkan kebahagiaan ketika menatap Adith membuat darah Adith berdesir kencang dan detak jantungnya berdegup kuat. Ia mundur selangkah lebih jauh menghindari Alisya mendengarkan suara detak jantungnya. "Kau bisa mengatur volume suara yang ingin kau dengarkan atau tidak! selain itu aku sudah menambahkan beberapa vitur seperti pelacak IP, dan juga... coba kau ketuk dua kali" Adith mengsimulasikan pada telinganya sebanyak dua kali sambil memandang ke arah telinga Alisya. Melihat gerakan Adith, Alisya mengetuk telinganya dengan sangat pelan dan terdengan suara intruksi. "Silahkan sebutkan nama kontak yang akan anda panggil" Alisya melihat ke arah Adith dengan mata membelalak. "Sebutkan namaku! " Tambahnya lagi. "Adith! " Alisya berkata dengan pelan. "Bukan panggilanku tapi nama kontakku di HP mu! " Adith tersenyum melihat wajah konyol Alisya. "Jenius tampan! " Alisya mendengus kesal mengingat nama kontak yang tidak sempat ia ganti. 5 detik kemudian suara dering yang berasal dari saku Adith berbunyi. "Aku sudah menghubungkan semua nomor kontak yang ada di handphone mu ke alat yang ada di telingamu! jika kamu mengetuknya sekali saja maka itu akan terhubung ke pesan. kau tak perlu mengetiknya cukup dengan mengatakan isi pesan itu saja! dan jika kau menekan lama maka itu akan terhubung dengan panggilan darurat! " Terang Adith dengan sengaja mengeluarkan suara yang makin lama makin. keras. "Luar biasa! aku bisa mendengar kau meninggikan suaramu tapi aku tak merasakan terganggu sama sekali! Dimana kau membelinya?? Adith hanya mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Alisya. "Jadi kau membuat ini sendiri??? Lanjut Alisya Takjub. Adith hanya terdiam namun Alisya tau kalau tebakannya benar. "Kau benar benar, teramat sangat jenius!!!" Alisya menaikkan kedua jempol tangannya tepat di wajah Adith. "Kenapa aku merasa ini bukan pujian??? " Adith berjalan menuju pintu keluar dari atap rumah sakit. "Aku serius!!! kamu benar2 jenius! tak ku sangka seorang anak SMA tingkat 1bisa menciptakan alat secanggih ini" Alisya berlari mengikuti punggung Adith. "Terimakasih!!!" Jawab Adith jutek. "Tapi sepertinya bukan hanya itu fitur yang ada, Apa!!! kau menaruh pemindai???? bukankah ini sedikit hentai? kau Jenius yang Nakal!!! " Alisya sibuk memainkan alat ditelinganya sambil terus menceramahi Adit. "Itu pemindai lokasi tempat dimana kamu berada! " Adith mulai kesal dengan reaksi Alisya. "Ini hebat!!! aku menyukainya!!! " Alisya berkata dengan lantang. "Kalau begitu pakai dan jangan pernah lepas!!! " Adith berbalik seketika ketika mereka telah berada di dalam lift sehingga membuat Alisya menabrak dada Adith yang bidang dan keras. "Kamprettt!!! ngapain berhenti tiba-tiba sih!!! " Alisya melenguh memegang hidungnya yang sakit lalu berdiri di sebelah Adith. Adith masih tak bergerak karena tabrakan Alisya membuat Adith bisa mencium aroma wangi dari rambut Alisya. Hirupan itu sekali lagi membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Refleks Adith menggeser tubuhnya selangkah lebih jauh dari sisi Alisya. Baru saja Alisya mau memencet tombol lift beberapa orang berpakaian Jas hitam tampak akan memasuki lift. Alisya mengenali orang yang berada paling depan yang tampak seperti ketua di antara yang lainnya. Dengan sigap ia langsung membelakang dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Adith. 5 orang berpakaian serba hitam itu memasuki lift dan mendapati 2 orang muda mudi sedang berpelukkan membuat mereka sedikit terganggu tapi tak bisa menunggu lift selanjutnya dan terpaksa membiarkan saja keadaan itu. "Ali... " Adith yang menyebut nama Alisya dengan cepat mulutnya di tutup oleh tangan Alisya. Si ketua tampak mendengar sedikit namun kemudian tidak bereaksi lebih lanjut melihat kemesraan keduanya. "Anak Zaman sekarang! " Batinnya sambil menggelengkan kepalanya dalam diam. Muka Adith memerah dan tubuhnya memanas. ia tak menyangka kalau Alisya bisa seberani ini, meski Alisya tetap mempertahankan jarak antara tubuhnya dan tubuh Adith, Adith tetap bisa merasakan hembusan nafas Alisya yang mengenai lehernya. 2 orang dari lantai lain memasuki Lift yang sama membuat keadaan di dalam semakin sempit dan Alisya terdorong semakin mendekat dan tanpa di sengaja bibir hangatnya menyentuh tulang selangka leher Adith. Jantung Adith serasa mau copot. sekarang berganti dengan kepalanya yang berdenyut cepat dan telinganya berdengung tak bisa menafsirkan keadaan yang sedang terjadi. 5 orang berpakaian serba hitam itu kemudian keluar tepat di lantai kamar dimana Alisya dirawat. Setelah pintu lift itu menutup kembali Alisya menarik nafas legah.