《Wanita Rahasia CEO》 Chapter 1 Chapter 1 BAB 1 I Gossip Via memperhatikan wajah Sean yang terlp. Rasa cinta yang membuncah pada pria di hadapannya sudah takgi terbendung. Ingin dia mengucapkan tiga kata sakral yang pasti akanngsung mengakhiri hubungan mereka b itu terucap. Berkali-kali dia menahan lidah dan menn kata cinta hanya untuk mempertahankan hubungan tanpa masa depan mereka. Gadis dua puluh empat tahun itu mengelus pipi Sean lembut. Hatinya bergetar k kulit mereka saling bersentuh. Tangan mulusnya terhenti tatk pria di hadapannya menggeliat karena sentuhan lembut jari-jemari yang dia beri, bahkan terdengar gumaman halus sisa-sisa kepuasan mm tadi. Tak lepas mata Via memeta wajah Sean yang rupawan. Amat sempurna dengan rahang keras membentuk persegi dengan lesung membh dagu. Dia dapat mengingat js dua lesung pipi yang menambah sempurna ketampanan pria itu. Masih js dm ingatan Via ketika pertama kali dia memasuki ruang interview, tidak sekali pun Sean mengangkat kep ketika dua bawahannya menanyakan kualifikasi Via ketika mmar kerja k itu. Bahkan dia sempat tersipu begitu beradu mata dengan HRD yang mewawancara ketika tertangkap basah mencuri pandang wajah rupawan Sean yang sempurna. Bahkan Via sempat bertanya seperti apa warna mata seorang Sean Reviano saat itu. Biru, sebiru dmnya samudra. Kini mata itu terbuka, menatap sayu ke arahnya. ¡°Sudah puas memandangku?¡± Tubuh Via bergetar mendengar suara maskulinnya. Tidak sekali pun Via bermimpi dapat mendengar suara serak bangun tidur Sean Reviano. Sekarang, dia puas mendengar suara itu setiap pagi. ¡°Aku tidak akan pernah puas,¡± jawab Via tanpa malu. Sean terkekeh pn dan mendaratkan kecupan di bibirnya. ¡°Jam berapa ini?¡± tanya Sean sembari menguap meregangkan tubuh. Via melirik jam yang terletak di atas nakas tepat di samping Sean. ¡°Subuh, Jam lima,¡± jawab Via merasa enggan, karena sebentargi matahari akan terbit dan mereka berpisah melewati hari di kantor tanpa menunjukkan kemesraan sedikit saja. Terkadang Via ingin mengutarakan isi hati, mengatakan dia keberatan dengan aturan hubungan yang Sean tetapkan sejak awal hubungan dimi. Masih dia ingat saat itu Sean mengatakan; ¡°No Commitment. No Pregnancy. No Wedding. Jika kau masih ingin memiliki affair denganku, hubungi nomor ini.¡± Awalnya dia mengira hatinya pasti kuat, ternyata dia sh kira sekilo kapas tidah lebih ringan dari sekilo baja. Semakin hari dilewati bersama, beratnya semakin terasa. ¡°Masih ada dua jamgi, jauh lebih cukup,¡± ucap Sean sembari menarik Via dm pelukan dan memi kecupan-kecupan panas hingga mereka terbuai hasrat yang tertunda. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­.. Jam makan siang baru saja dimi, tetapi percakapan akan tersiarnya berita pertunangan Sean Reviano dengan seorang model cantik menyebar dengan cepat. Ruang kantin karyawan Hotel Luna Star bising dengan bisik-bisik diskusi kabar pertunangan CEO muda mereka. Awalnya Via menulikan telinga, tetapi percakapan di sekitar tidakgi terbendung, bahkan sekretaris pribadi Sean yang bernama Altha paling bising di antara kumpn itu. Mngnya, Via duduk berhadapan sehingga mau tidak mau harus mendengar pembicaraan. ¡°Pak Sean masih belum mengrifikasi, tetapi dari apa yang aku baca itu bukan hoax. Mereka sering terlihat bersama di setiap acara,¡± kata Amber ikut menimpali. ¡°Iya, benar. Kemarin mereka juga terlihat makan berdua di Moon Caf¨¦,¡± bahkan Reina juga tak mau ketinggn. ¡°Katanya, mereka sudah dekat sejak kanak-kanak. Jadi, wajar saja b mereka menikah. Evelyn kan putri konglomerat perusahaan ekspedisi, statusnya setara dengan Pak Sean.¡± Tanpa Via sadari sendok yang dia pegang sejak tadi bentuknya sedikit berubah, bengkok karenama ditekan. ¡°Ya ampun, lihat-lihat mereka benar-benar serasi¡­.¡± Satu meja mencondongkan tubuh ke arah Cece yang mengayunkan ponsel ke udara, memamerkan foto kemesraan Sean dengan seorang wanita. Keduanya terlihat saling merangkul, berpose pada kamera dibalut baju mewah elegan usai menghadiri acara g. Seks Via melihat wanita yang berpasangan dengan Sean. Sungguh dia merasa insecure dengan tubuhnya yang tidak seramping dan setinggi itu. Bahkan make up yang dipoles ke wajah benar-benar sempurna, bersih terawat disentuh dokter spesialis kulit ratusan juta. ¡°Andaikan saja wajahku secantik dia dan berasal dari keluarga kaya, pasth setengah mashku selesai. Betapa iri memiliki paras sempurna,¡± desah Amber dengan mata berandai-andai. Altha hanya tertawa mendengar pujian dari rekan kerjanya yang tak putus-putus pada wanita bernama Evelyn. Hanya senyum lemah tidak tulus terukir di wajah Via yang mi lesu. Kini nafsu makannya hng sudah, sangat susah dia menn sisanya. ¡°Kau sedang sakit?¡± tanya Keiza yang duduk di sebh. Sejak tadi dia tidak ikut hanyut dmutan kekaguman yang rekan kerjanya mi. Seakan imun sama seperti dirinya. ¡°Tiba-tiba perutku ms,¡± jawab Via berpura-pura. ¡°Ya ampun kenapa diteruskan, pakai ini,¡± kata Kezia menatapnya simpati sembari menyodorkan minyak kayu putih. ¡°Terima kasih, nanti juga membaik,¡± ucap Via menerima. ¡°Apa kau percaya dengan berita yang beredar?¡± tanya Kezia tiba-tiba. Via menggeleng pn. ¡°Aku tidak tahu, semua bisa saja benar. Fakta bahwa mereka sangat dekat sudah cukup menjadi bukti.¡± Kezia mendengus tidak setuju. Dia berkata; ¡°Sebelum ada rifikasi, berita yang beredar masih abu- abu.¡± Ms memberi bsan, Via tertunduk ke meja. Dia ingin jam istirahat belu saja. Bahkan telinganya seh memiliki kehendak sendiri, mendengarkan satu per satu percakapan di sekitar. Tanpa malu mencuri dengar, wu arahnya dua meja dari grupnya berkumpul. Hatinya membisik, ada baiknyangsung bertanya daripada menduga. Tetapi kepnya menk hingga mata dan telinga seakan tuli serta buta logika. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­.. Rapat baru saja dimi, tetapi Via ingin semua cepat berakhir. Mungkin tidur sebentar bisa membuatnya berfungsi kembali. Pikirannya myang entah kemana, namun dia tersentak saat suara maskulin yang familiar memangil, membuat beberapa kep memandang Via penuh tanya. ¡°Via, dari tadi aku memanggilmu. Apa kau sakit?¡± wu intonasinya terdengar biasa, Via masih dapat mendengar seks nada khawatir dari suara itu. Berdehem sebelum bersuara, Via sedikit malu menjadi pusat perhatian. ¡°Sejak tadi siang saya merasa kurang enak badan,¡± jawabnya dan mnjutkan, ¡°Maaf, sudah mengganggu konsentrasi Anda.¡± ¡°Tidak-tidak, jika memang sudah tidak kuat mengikuti rapat kamu bisa beristirahat.¡± Content ? N?velDrama.Org. Sean dikenal sebagai pimpinan yang perhatian, wu terkadang dia sangat tegas dan disiplin, kesehatan karyawan slu menjadi prioritas. ¡°Seperti sebelum-sebelumnya, minth izin jika merasa kurang sehat sebelum rapat dimi,¡± ucap Sean sembari membuka dokumen yang dia jskan tadi. ¡°Kembali ke rapat, aku ingin kita meningkatkan pyanan Luna Star dan ¡­.¡± Rapat bengsungncar seperti biasa, namun Via yang tidak fokus mengalihkan perhatian pada sosok Sean yang duduk di bangku kebesaran. Dia terhanyut dm buain suara Sean yang slu dia dengar setiap mm ketika membisikkan kata manis dan lembut diranjang mereka yang panas. Bibir melengkung bagai bn sabit itu tak luput dari perhatian. Dm benak, Via bertanya; berapamagi dia bisa menikmati semua itu. Sampai kapan tangan kekar itu melingkari tubuhnya, dan melindunginya dari mimpi mm yang menghampiri. Bisakah dia menikmati sandaran lembut pada dada bidangnya yang slu dibalut stn jas hitam formal saat bekerja, atau mungkin ini adh hari-hari terakhirnya menikmati semua. Sungguh, dia dilema. Bisa-bisa tidak ada pria yang dapat mengimbangi sosok Sean Reviano dm hidup Viania. Next Chapter Chapter 2 Chapter 2 BAB 2 I Perayaan Satu Tahun Hari itu Via png lebih cepat dari biasa, karena Sean yang meminta. Khawatir melihat wajahnya yang pucat usai rapat berakhir. Via juga merasa tidak sehat sehingga dia menerima. Sesampainya di apartemen, Via berniat untuk masak, tetapi takut Sean memarahi karena bukannya berbaring mh sibuk membuat makan mm sendiri. Bunyi dering ponsel pertanda pesan baru yang masuk membuat Via mengurungkan diri. Dia tahu pasti Sean yang mengirim. Pria itu bagai cenayang, tahu bagaimana kep Via bekerja. Jangan memasak apa-apa. Istirahat saja, akan kubawa makan mm dari luar. -SR- Sudut bibir Via mengukir senyum bahagia, mendapat perhatian Sean Reviano bagai dapat merengkuh bn. Bahagianya bukan kepng. Seth bersiap ritual skin care mm, Via memutuskan untuk tidur lebih dulu. Lama mata Via terpejam saat dia merasa sentuhan hangat dari kecupan bibir Sean di bahu, membuatnya membuka mata sembari mengulum senyum. ¡°Maaf membuatmu terjaga, tetapi ada baiknya kau makan lebih dulu sebelumnjut tidur,¡± bisik Sean dengan menarik Via beranjak dari kasur. Keduanya duduk di dapur, menikmati makan mm yang Sean beli tadi. ¡°Kau menginap mm ini?¡± tanya Via penuh harap, sedikit malu-malu. Sean mengangguk, tak bersuara karena mulut penuh. ¡°Aku sangat khawatir, kau tampak pucat pasi. Apakah sudah baikan?¡± Jemari Sean menggeser piring di meja. Dia berdirilu menghampiri Via yang enggan mengunyah. Makan mmnya juga tidak dilirik, hanya diputar-putar dengan sendok tanpa niat menghabisi. Duduk keduanya yang tadi saling menghadap kini berubah posisi bersebhan. Sean mengambil alih sendok di tangan Via,lu menyuapkan nasi sertauk ke depan bibir ranumnya. ¡°Aaaa ¡­,¡± gumam Sean hingga Via tertawa. ¡°Aku bisa makan sendiri,¡± ucap Via hendak mengambil alih situasi. Sean mengk, dan menk Via yang protes. ¡°Tidak, jika kubiarkan, kau hanya memainkan piring dan sendok. Bisa berjam-jam kita di sini.¡± Wajah Via merona, mendapat tatapan hangat yang diberi oleh Sean. Pria itu sungguh perhatian. Dengan menekan malu, Via menerima suapan pertama, kedua, ketiga ¡­ hingga kosong tak bersisa. ¡°Tiduh, aku akan menyusul seth menyelesaikan sesuatu,¡± katanya sembari bangkit dari kursi, membersihkan sisa makan mereka, dan membereskan piring kotor di meja. Via ikut beranjak dari sana. Melihat punggung Sean yang menghadap padanya, membuat kerongkongan Via terasa tercekat. Menn rasa malu, Via mendekat dan melingkarkan kedua lengan pada pinggang Sean yang saat ini sedang membs gs, sedang kep Via menyandar pada punggungnya yang bidang. Sesaat, Sean menghentikan aktivitas, tetapi mnjutkan kembali ketika keduanya memilih hanyut dm diam. Suasana sekitar berubah syahdu, tatk Sean bersenandung dengan suara rendah yang merdu. Hidung Via menghirup aroma Sean dm-dm hingga mengisi paru-paru, sedang telinga merekam getar suara dan detak jantung Sean yang berirama. Hati Via berbisik sendu, mungkin ini waktu-waktu terakhir mereka bisa nikmati bersama. Sedikit apa pun, akan dia habiskan baik-baik. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­ Pagi itu Via mendapati sebuket bunga di atas meja kerja. Beberapa rekan wanita berkumpul mengelilingi meja yang dia tempati satu tahun terakhir. Mereka ber oh-ah bersama, membayangkan diminya romantisme kantor di Luna Star. Segudang pertanyaan dilemparkan, yang Via jawab dengan senyuman. ¡°Ya ampun, aku tidak tahu jika kau punya pacar,¡± ucap Cece sembari memfoto buket di pelukan Via. ¡°Buketnya besar sekali, pasti tidak murah.¡± Hati Via membuncah bahagia. Kali pertama dia mendapat buket, dan dari inisial si pemberi, Sean Reviano adh pku utama. Tidak hanya itu, sekotak sarapan juga duduk manis di meja, beserta sekardus kecil cemn di sebh. Takut menjadi bahan gossip, Via membagikan makanan itu pada rekan kerja di sana. ¡°Ayo beri tahu siapa pacarmu Via, apakah dia karyawan di sini?¡± ¡°Tidak, dia bukan siapa-siapa. Kalian juga tidak akan kenal,¡± jawab Via menutupi rahasia. Andai hubungannya dan Sean terbuka publik, mungkin dia tidak akan berst lidah. Sungguh berat tidak mengakui Sean sebagai kekasih perhatian. Kejadian pagi itu ternyata belum selesai, siangnya Via mendapat kiriman makanan dari luar. Dengan pandangan bertanya dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Sean. Tidak biasanya, ada dua kejutan dm satu hari. Di kantor p. Sungguh, bukan seperti Sean yang biasa. Via: Ada apa dengan kejutan buket dan makanan hari ini? Tanya Via sembari pura-pura mengerjakan dokumen di komputer. Tidakma kemudian, dia mendapat bsan. Sean: Untuk merayakan satu tahun kita bersama, kau lupa? Detak jantung Via berdebar-debar. Rona merah menjr dari pipi hingga ke telinga. Bagaimana bisa dia lupa hari penting seperti ini, bahkan tidak mengira Sean yang mengingat lebih dulu. Via: Maaf, aku benar-benar lupa. Aku tidak menyiapkan kado, kau mau apa? Sean: Tidak perlu. Kehadiranmu cukup. Rasanya Via ingin melompat-lompat girang mendapat pesan Sean yang tanpa malu menggoda. Biasanya dia membs tanpa memedulikan rayuan atau kata sejenis. Sungguh tidak seperti Sean yang biasa, membuat Via benar-benar bertanya. ¡°Via,¡± panggil Keiza yang datang dari arah luar. ¡°Ya?¡± jawab Via sembari menyembunyikan ponsel ke dm sakua. ¡°Anak-anak mengajak kita bergabung ke bar, kau mau ikut?¡± Beberapa saat Via menimbang-nimbang, tetapi dia tidak ada janji dengan Sean hari ini. Biasanya Sean akan menghubungi b mereka hendak bertemu di luar. Tetap saja, Via harus bertanya pada Sean dulu. ¡°Ehm ¡­ aku pikirkan dahulu, nanti aku kabarigi,¡± jawab Via tidakngsung memastikan. Keiza mengangguk dan keluar dari sana. Melihat rekan kerjanya menghng dari pandangan, Via pun membs pesan Sean sekaligus bertanya. Via: Ucapanmu membuatku bahagia, terima kasih. B ada yang kau mau, katakan saja. Sejenak Via menjeda ketikan diyar, menyusun kata untuk menanyakan adakah acara berdua. Via: Oh iya, rekan kerja yangin mengundangku ke bar. Apa kita ada rencana mm ini? Hanya memastikan apakah menk atau menerima. Tidakma, dia mendapat bsan. Sean: Pergh, aku juga ada rapat dengan klien. Entah mengapa Via merasa ada rasa kecewa, tetapi dia tahu tidak boleh serakah. Baru saja mendapat buket bunga dan kiriman makan siang, tidak seharusnya dia menuntut perhatian Sean juga. Pria itu memiliki kehidupan berbeda, ada perusahan yang bergantung pada bahunya. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­.. Bar yang mereka kunjungi sangah ramai, membuat Via sedikit tidak nyaman. Dia hendak menghubungi Sean entah sudah ke berapa kali, tetapi jemarinya menggantung di udara tatk menatap layar ponsel yang gp. ¡°Sudah, pacarmu itu tidak akan marah. Lagi p kita semua di sini kan hanya wanita,¡± goda Altha mendapati Via yang gelisah. ¡°Benar, pacarku juga tidak keberatan sma jn dengan kita-kita,¡± tambah Cece yang asyik bermain dengan ponsel di tangan. Melihat rekan yangin gerah dengan gesture gelisahnya, Via memutuskan untuk lupa dan menikmati saja waktu yang ada. Bahkan, Sean tidakgi mengirim pesan atau menghubungi, jadi rasanya tidak berdosa jika dia ambil bagian bersenang-senang. Baru saja mereka semua pergi kentai dansa, saat Via merasakan tatapan panas berasal dari meja bar. Dia memutar kep dpan puluh derajat, dan matanya bertabrak pandang dengan manik mata yang menggetarkan jiwa. Ada senyum samar di balik wajah rupawan Sean dari balik gs di bibir sensualnya. Tanpa kendali, Via membs. Beberapama keduanya mengunci mata. Seh hanya mereka saja di sana. Hiruk-pikuk sekitar musnah seketika, menyisakan suasana syahdu yang dibagi berdua. Previous Chapter Next ChapterOriginal content from N?velDrama.Org. Chapter 3 Chapter 3 BAB 3 I Sentuhan Rahasia ¡°Bukankah itu Pak CEO,¡± ucap Cece dengan suara keras menyaingi music DJ. Beberapa kep menoleh ke arah Sean yang duduk di bar bersama beberapa pria-pria asing. R¨ºAdt??St chapters at Novel(D)ra/ma.Org Only Altha membenarkan ketika dia melihat wajah-wajah familiar yang bersama CEO mereka. ¡°Beliau ada rapat di sh satu tempat privat tak jauh dari sini, sepertinya mereka pindah ke bar untuk merayakan sesuatu,¡± js Altha menjawab beberapa wajah bertanya para rekan kerja. ¡°Astaga, kumpn pria-pria maskulin itu benar-benar luar biasa. Lihat saja, nyaris seluruh wanita tidak lepas memandang ke sana,¡± timpal Reina mengedarkan pandangan ke sekitar. Altha daninnya mnjutkan dansa, sedang Via memilih sudah. Dia enggan di hadapan Sean yang pasti memerhatikan dari bar. ¡°Aku balik ke sofa,¡± ucap Via yang hanya mendapat anggukan dari rekanin. Dia bergabung dengan Keiza yang tidak bergabung dintai dansa bersama mereka. ¡°Kau capek?¡± tanya Keiza sembari menyodorkan segs minuman. Kep Via menggeleng pn. ¡°Tidak, hanya tidak enak badan. Apa ada air putih?¡± tanya Via menk gs yang disodorkan. Seth menengguk setengah botol mineral, sebuah bayangan dari sosok Sean menutupi cahaya di sekitar Via dan Keiza. Keduanya mendongak bersama, mendapati Sean berdiri di hadapan mereka. Bahkan mata Via membt begitu p Keiza dengan rahang menganga. Tidak mengira bos mereka mendekat. ¡°Kulihat kalian tampak bersenang-senang,¡± kata Sean tanpa menunjukan ketertarikan pada Via yang duduk gelisah. Menjawab pertanyaan Sean, Keiza berdehem dan mengangguk iya. ¡°Boleh aku bergabung? Beberapa klien berpencar entah kemana.¡± Tunjuk Sean pada meja bar yang ditinggal pergi kumpn pria tampan tadi. ¡°Oh, shkan, Pak CEO,¡± jawab Keiza terdengar gugup. Sean memilih duduk di antara dua wanita tersebut. Dia membuka percakapan ringan pada keduanya. Via yang tidak tahan menunduk, mendengarkan seksama tanpa ikut terlibat. Beberapa kali terdengar intonasi Keiza yang berubah menjadi lebih berani saat berdiskui tentang apa saja. ¡°Kudengar kau lulusan terbaik di jurusanmu saat kuliah,¡± puji Sean pada Keiza yang merona. ¡°Tidak, berita tersebut hanya melebih-lebihkan, masih banyak yang harus saya pjari,¡± jawab Keiza mencoba merendah. ¡°Via bahkan jauh lebih berbakat. Dia sangat cekatan, aku beruntung satu divisi dengannya.¡± Mendapat lemparan pujian dari Keiza untuk mengalihkan perhatian, Via pun melotot pada gadis itu. Kini, balik Via yang menjadi bahan pembicaran. ¡°Kau benar, beberapa kali Via menyelematkan Luna Star dengan ide-ide brilian,¡± puji Sean sembari menyorotkan manik mata birunya pada Via yang menahan napas. Ada kupu-kupu berterbangan di perut dan dada, membuat Via tersipu-sipu. Kedua orang itu merubah topik entah ke berapa kali,lu tiba-tiba saja jantung Via berpacu begitu merasa tangan Sean merambat naik ke atas lengannya kemudian menautkan jari-jemari mereka di bawah meja jauh dari pandangan sekitar. Seh tidak terjadi apa-apa, Sean berbicara panjang lebar pada Keiza, sedang ibu jarinya mengelus halus jemari Via yang mulus. Kep Via tertunduk, menyembunyikan senyum saat dia merasa kehangatan sentuhan dari Sean merambat hingga ke dada. Mata Via melirik sekitar, takut b sh satu rekan kerja mendapati mereka sembunyi-sembunyi di bawah meja. Untung saja, suasana ramai mengalihkan perhatian siapa pun di sana. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­. ¡°Kalian bisa png sendiri? Aku bisa menyuruh beberapa orang untuk mengantar ke mat masing- masing,¡± ucap Sean menawarkan. Altha, Cece, Reina dan yangin menatap Sean penuh puja. Mata mereka tidak henti mengagumi sosok Sean yang rupawan dan baik hati hingga mau menawarkan tumpangan. Namun, rasa segan menghkan segnya. Mereka juga tahu batasan, sehingga menk dengan halus. ¡°Tidak perlu, Pak CEO. Kami bisa png masing-masing,¡± jawab Reina sedikit tersipu dapat berdekatan dan berbicara kasual dengan sang CEO. Cece juga tidak mau ketinggn, dia ingin mendapat perhatian. ¡°Saya dan Altha memesan taxi saja. Tidak perlu repot mengantar kami berdua.¡± Keiza dan Altha ikut mengkonfirmasi. Freya bahkan malu-malu ikut menk. ¡°Saudara saya akan menjemput, jadi tidak perlu Pak CEO.¡± Senyum yang Sean tebar memikat hati wanita di sana, hingga terdengar suara-suara tercekat, membuat Via ingin memutar b mata. Rekan kerjanya terlihat seperti sedang bertemu selebriti impian dan hendak meminta tanda-tangan, bahkan beberapa mencoba merapat wu jn di depan bar begitu lebar. Seth memastikan semuanya memiliki tumpangan png dengan aman, Sean pun menatap Via yang sejak tadi tidak bersuara. ¡°Ku begitu aku akan mengantarmu,¡± kata Sean terus terang, membuat Via mengernyit, menatap satu- satu wajah rekan kerja yang mungkin saja curiga, tetapi tampaknya tidak ada yang memberi mereka perhatian. Menganggap wajar Sean menawarkan diri pada Via karena hanya dia yang rumahnya paling jauh. Hati Via menjadi lega, hingga dia menjawab dengan anggukan saja. Satu per satu kumpn itu berpencar menuju tujuan masing-masing. Di dm mobil Sean dan Via tidak berbicara. Tautan tangan mereka cukup mengkomunikasikan perasaan satu samain. Suasana mobil itu terasa syahdu diiringi alunan musik mengalunkan melodi cinta yang lembut penuh haru. Begitu mobil berhenti di parkiran, Sean turun dan membuka pintu Vialu membantunya turun, menjaga keseimbangan kaki Via yang dibalut sepatu berheels tinggi. ¡°Kau ikut masuk?¡± tanya Via penuh harap. ¡°Hari ini aku akan menginap,¡± jawabnya menuntun Via menuju lift. Melihat suasana hati Sean, Via tahu pria itu menginginkan tubuhnya mm ini. Hati Via mengembang, senang menerima kehadiran Sean di tengah gossip yang menyebar. Bahkan pria itu masih mempekukannya sama, seakan tidak ada yang berubah. Tapi tetap saja Via masih gelisah sebelum ada penjsan dari Sean. Hati Via meminta untuk bersabar. Membisik kata menenangkan, karena Sean masih Sean yang slu bersamanya setiap mm. ¡°Bagaimana bisa kau sampai ke bar?¡± Via heran menemukan Sean di bar tadi. ¡°Kau bng ingin ke bar, jadi aku mengajak rekan bisnis ke sana seth rapat usai,¡± jawab Sean seh yang dkukannya biasa, padahal dari sudut pandang Via, membuat gadis itu berbunga-bunga, karena Sean seh tidak ingin Via ke bar tanpa dirinya. ¡°Kita bisa ke sana berdua saja,¡± ucap Via tanpa sadar, hingga dia mengatup bibir dan mengutuk diri karena mereka tidak boleh ke publik berdua saja seperti perjanjian. Sean tertegun, dan hanya menggumam tidak js, membuat hati Via kecewa kembali. ¡°Kau ingin makan apa?¡± tanya Sean mengalihkan pembicaraan. ¡°Aku sudah makan sebelum ke bar, ku kau masihpar aku bisa masakan sesuatu.¡± ¡°Tidak ¡­ tidak, aku juga sudah makan saat rapat tadi.¡± Keduanya memasuki apartemen, begitu pintu di bkang mereka tertutup, Seanngsung menyerang bibir Via hingga gadis itu terkesiap,lu mengunci tubuh feminine-nya ke dinding sedang kedua tangan Sean yang besar meraba tubuh Via yang tidak siap. ¡°Dari tadi aku menahan diri, kau terlihat cantik sekali mm ini,¡± bisik Sean di s sesi cumbuan mereka. dia mengerang dan menggendong Via menuju kamar. Previous Chapter Next Chapter Chapter 4 Chapter 4 BAB 4 I Sh Sangka Mata Via terbuka saat mendengar jam ram berbunyi, dia meraba ke sisi sebh dan merasa kecewa mendapati ranjang yang dingin pertanda Sean sudah pergi sejak tadi. Seth membisukan ram, Via pun duduk dengan posisi kep menyandar sedang mata menatap nanar pada sisi ranjang sebh kanan yang kosong. Jemari Via meraba kasur dimana biasanya Sean berbaring. Dia ingin pria itu berada di samping dan memeluk tubuhnya begitu terjaga. Jarang sekali mereka bangun bersama, biasanya Sean yang lebih dulu beranjak, meninggalkan Via sendiri. ¡°Kapan kau benar-benar melihatku, tidak hanya sebagai wanita simpanan?¡± bisik Via dengan napas tercekat menahan tangis. Dia ingin sekali saja Sean mengakui keberadaannya. Mungkin tidak di kota ini, bisa di tempatin dimana tidak seorang pun mengenal. Mereka bisa saja bersenang-senang di luar,yaknya pasangan biasa. Makan mm romantis di restoran bintang lima, berian di pantai, bermain ayunan di taman, menikmati liburan ke safari, berciuman di atas biangla di taman bermain, atau paling sederhana ke bioskop dan bnja di supermarket saja. Tetapi angan-angan hanyh hayn, Via tahu tidak mungkin terjadi. Sean bahkan tidak mau membawa hubungan ini lebih dari apa yang sudah disepakati, membuat Via murung kembali. Dengan berat dia membawa tubuh menuju kamar mandi, memi Sabtu pagi dengan memanjakan diri. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­. Dering ponsel mengganggu konsentrasi Via yang sedang membaca sebuah novel picisan. Awalnya sebuah senyum menghiasi wajahnya, namun kemudian tertekuk ke bawah ketika melihat bukan nama Sean yang tertera diyar sebagai Caller ID. ¡°Halo Bibi,¡± jawab Via terdengar kecewa. ¡°Kenapa, kau tidak suka aku menghubungi?¡± tanya sang Bibi dari seberang. Via berdehem, mengontrol suara. ¡°Maaf, aku pikir temanku,¡± jawabnya setengah berbohong. ¡°Kau slu saja menghindar setiap aku menghubungi, bahkan tidak sekali pun menanyakan kabar. Apa kau lupa memiliki keluarga yang masih hidup?¡± Bibi Azura slu mengatakan hal-hal buruk setiap kali menghubungi Via, karena itu p Via enggan menerima. ¡°Bukan begitu Bi, aku hanya sedang sibuk. Perusahaanku sedang mengerjakan banyak Event sekarang,¡± js Via tidak berbohong kali ini, wu dia memang tidak mau menghubungi lebih dulu. ¡°Lalu, aku tidak sibuk maksudnya? Bahkan tokoku juga sedang sibuk menghadapi musim panas tahun ini, sampai aku butuh tambahan tenaga!¡± Via mengernyit mendengar suara Bibi Azura meninggi. ¡°Tidak seharusnya keluarga saling melupakan, anak muda. Tugasmu yang lebih dulu mengabari bukan sebaliknya. Atau kau tidak ingin menemuikugi, begitu? Apa karena kau bekerja di kota sekarang kau menjadi sombong?¡± Via hendak mengakhiri sambungan begitu saja, tetapi itu hanya akan menyulut amarah sang Bibi. Kepnya bahkan mi berdenyut mendengar tuduhan demi tuduhan yang tidak js. ¡°Bibi, aku tidak ¡­¡± Belum selesai Via bicara, Bibi Azura pun meny. ¡°Dengarkan aku dulu, kau memang tidak sopan dengan orang tua! Dimana rasa hormatmu? Susah payah kubesarkan tetapi tidak sekali pun kau peduli.¡± Air mata menggenang di pelupuk mata, hendak jatuh mendengar Bibinya mengatakan hal-hal begitu. Via sadar diri Bibi Azura membesarkan dia di saat Ibunya tidak mampu karena sakit. Sebenarnya Via juga ingin membs budi, tetapi sifat Bibi Azura yang suka mengucapkan kata-kata menyayat hati, membuat Via urung. ¡°Bibi, aku minta maaf. Lain kali aku akan menghubungi tanpa kau hubungi lebih dulu. Aku janji,¡± gumam Via terdengar bersh. Merasa puas maksudnya tersampaikan, Bibi Azura pun menggerutu dan merendahkan suara. ¡°Bagus, jadh anak baik. Aku ini sudah tua, jika bukan kau yang memperhatikanku siapagi. Bahkan kau tidak perlu bekerja di kota. Aku sanggup mempekerjakanmu di toko. Hidup di kota itu susah.¡± Via menulikan telinga. Sudah berapa kali Bibi Azura meminta dia untuk bekerja di toko keluarga, kemudian merendahkan pekerjaan Via di kota. Bahkan tanpa menyaring kata-kata, Bibi Azura menuduh Via mkukan hal tidak-tidak karena berhasil masuk ke sebuah perusahaan ternama. Sungguh sakit hatinya, tetapi dia hanya bisa melipat lidah, takut menyakiti Bibi Azura yang sudah tua. ¡°Baik Bibi, tetapi aku senang bekerja di sini,¡± kata Via berusaha sopan. Di seberang terdengargi gerutuan yang Via abaikan. ¡°Apa bibi sudah makan?¡± Pembicaraan sethnya lebih seperti formalitas. Bagi Via, hidup bersama Bibi Azura sangah menyiksa, wu Bibinya bertekad kuat membiayai semua kebutuhan Via sedari remaja, hingga tanpa sadar membuat sang Bibi enggan menikah, yang menjadi beban tersendiri bagi Via. Beberapa kali Via menyhkan diri, mungkin karena Viah Bibi Azura tidak pernah menikah, tetapi untung saja Bibi tidak pernah menyakiti Via dengan menyinggung perkataan mengarah ke sana sekali saja. Content ? N?velDrama.Org. Seth komunikasi berakhir, Via baru menyadari matahari sudah meninggi. Dia pun bergegas bersiap menuju supermarket untuk membeli kebutuhan dapur. Mata Via memandangyar ponsel yang mati, berharap Sean menghubungi, tetapi pria itu seakan lupa keberadaan Via, membuat dia tertunduk lesu saat melintasi pintu. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­ Via memilih beberapa produk daging dan sayur. Dia mengirimkan pesan pada Sean mau dimasakan apa, tetapi tidak satu pun pesan yang dia kirim mendapat bsan, dilihat saja tidak. Semakin menambah kecewa. Seth selesai memilih daging, Via beralih ke rak buah, tetapi matanya tertuju pada sosok Sean yang berdiri di dekat rak minuman dingin. Senyum Via mengembang, senang dapat berpapasan di sana, dia hendak merapat, namunngkahnya terhenti begitu melihat sosok wanita mendekati Sean yang terlihat sibuk memilih sesuatu. Tidak pernah sebelumnya Via melihat wanita itu, membuat hati Via berdenyut nyeri. Bahkan wanita itu menyentuh bahu Sean dengan gesture familiar seakan mereka begitu dekat. Kini jantung Via ingin melompat, berdebar dengan irama menyakitkan. Apagi ketika Sean membs senyum wanita itu dengan sensual, semakin menghunjam dada Via dengan ribuan bti. Baru saja Via mngkah mundur untuk menyudahi sakit hati, saat tiba-tiba manajer operasional Luna Star, Daren Osbert, memeluk wanita itu dari bkang. Keduanya tampak tertawa dan mengabaikan Sean yang menggelengkan kep, dan tanpa sengaja menoleh ke arah Via yang masih mematung tak jauh dari sana. Ksan mata Sean tampak terkejut begitu mata mereka terkunci, tiba-tiba hati Via kembali berbunga begitu Sean melemparkan senyum tipis ke arahnya, membuat Via lega karena tadi hanyh prasangka. Langkah Sean hendak mengarah ke Via, namun terhenti saat menyadari mereka tidakgi sendiri. Via pun mengerti dan membs Sean dengan senyum tipis yang sama sebelum belu ke arah sebaliknya, menjauhi mereka. Wu dipenuhi kecewa, Via tahu diri. Seanh yang pegang kendali hubungan keduanya. B pria itu bng berakhir, maka chapter cinta mereka ditamatkan dengan paksa. Meski berat hati, Via memutuskan png untuk menenangkan diri. Dm perjnan ponsel Via berbunyi, menandakan sebuah notifikasi baru saja masuk. Masih dengan perasaan ms, Via membuka ponsel itu acuhlu membaca pesan seks, namun hatinya berdebar melihat nama pengirim yang tertera. Sean: Apa pun yang kau masak pasti akan kuhabiskan. Kuserahkan menu makan mm hari ini padamu, Cheff. Katanya, membuat Via terkekeh mendapat panggn Cheff sh menggoda. Sean: Ngomong-ngomong, kau sangat cantik memakai dress kuning lemon. Apa itu baru? Sebelumnya aku tidak pernah melihatmu memakai dress itu. Wajah Via bersemu merah, menyadari Sean memang slu memerhatikan apa yang dia pakai dan hapal motif hampir seluruh baju di lemari. Sean: Daren sedang merayakan ng tahun dengan pacarnya, mereka mengajaku makan bersama, untung saja kau menanyakan menu hari ini, tadi nyaris saja aku terima. Hati Via lega, karena tadi hanya sh sangka, dan senyum Via semakin lebar karena Sean lebih memilih bersama dia. Sean: Jaga kesehatan, jangan telu lh. Nanti kau sakitgi. Pesan-pesan tersebut dikirim berurutan dm waktu berdekatan, membuat senyum Via mengembang tidak karuan. Bahkan suasana sekitar berubah merah muda mendapat pujian yang jarang diberikan. Entah mengapa, akhir-akhir ini Sean suka melontarkan pujian yang mmbungkan Via ke udara. Seth sampai di apartemen, Via pun membs pesan-pesan itu satu per satu. Previous Chapter Next Chapter Chapter 5 Chapter 5 BAB 5 I Perhatian Senin pagi Via merasa kembali tidak enak badan. Dia memutuskan untuk cuti satu hari saja. Sean menatapnya khawatir, terlihat enggan ke kantor ketika mendapati Via berbaring tak berdaya. Pria itu juga membujuk Via pergi ke dokter, tetapi dia menk karena rumah sakit memberinya trauma. Sean yang tahu bahwa Via takut rumah sakit akhirnya memilih untuk tidak memaksa, meski ekspresinya tampak keberatan. ¡°Ya Daren,¡± kata Sean sembari sesekali melirik ke arah Via yang mendengarkan dari atas kasur. ¡°Aku tidak bisa ke kantor hari ini,¡±njutnya, memberi tahu Daren mlui panggn telepon. ¡°Hmm ¡­ hmm ¡­ yup, Oh, Ok, baih,¡± gumam Seanlu berjn keluar menuju ruang kerja. Melihat punggung Sean yang menghng di balik pintu, membuat Via menghembuskan napas panjang. Tadinya dia pikir Sean tidak peduli dan pergi kerja meninggalkan Via sendiri, tetapi ternyata dia sh. Hatinya berbunga begitu Sean menghubungi manajer operasional bahwa dia cuti hari ini. Beberapa saat kemudian Sean kembali ke kamar, tidak terlihat ponsel di tangan yang digantikan semangkuk bubur. Dia tersenyum pada Vialu mendekat ke ranjang. Content ? N?velDrama.Org. ¡°Hari ini aku akan mengurusmu. Sudah kuminta Daren untuk menggantikanku di Luna Star sementara,¡± js Sean wu Via tidak bertanya. Akhir-akhir ini Sean sering mkukan hal-hal yang di luar kebiasaan. ¡°Kau mau makan sendiri atau aku yang suapi?¡± Melihat Sean hendak menyendok bubur, Via pun bangkit dan meminta mangkuk bubur tersebut. ¡°Aku suap ya,¡± bujuk Sean tiba-tiba. Sesaat Via termangu, wajahnya pun merona. Mendapat tatapan Sean yang memohon Via juga tidak mau menk. Satu suapan masuk ke dm mulutnya, mengukirkan senyum di wajah Sean yang rupawan. Hingga suapan terakhir, Sean tetap seperti enggan meninggalkan. ¡°Kau mau mkukan apa hari ini?¡± tanya Via begitu Sean menaruh mangkuk kosong ke atas meja. ¡°Aku akan mengerjakan sesuatu di ruang tengah, kau istirahat saja. Nanti akan aku bangunkan begitu makan siang tiba,¡± ucapnya sembari mendaratkan kecupan di dahi Via yang berkerut. ¡°Jangan cemberut, jika kau tidak sedang sakit, aku pasti tidak akan mau beranjak dari kasur.¡± Seth mendapat cubitan cinta yang Via beri, Sean pun keluar kamar sembari tertawa. Apagi wajah Via memerah bukan karena demam, minkan godaan Sean barusan. Beberapa jam kemudian, Via terbangun kembali, dan melirik jam di atas meja menunjukan pukul sebs. Dia tidak sanggup untuk mnjutkan tidur kembali, sehingga memutuskan untuk bersih-bersih diri dan mencari Sean sethnya. Pria itu tampak sibuk di meja makan dengan tumpukan kertas di tangan sertaptop yang meny di atas meja. Kepnya terangkat begitu melihat kehadiran Via saat memasuki ruangan. ¡°Hey,¡± sapa Sean melihat wajah Via segar kembali sehabis istirahat yang cukup. ¡°Hey,¡± bs Via mendekat dan mendaratkan ciuman di pipi pria itu. ¡°Kau sibuk sekali.¡± Sean menggelengkan kep, ¡°Tidak juga. Hanya beberapaporan yang masih bisa diperiksain kali. pekerjaanku baru saja selesai.¡± Dia berdiri sembari merapikan meja. Via memeriksa kulkas dan hendak menyiapkan makan siang saat dia merasakan tangan Sean melingkari tubuhnya dari bkang. ¡°Tidak perlu memasak, aku akan memesankan sesuatu,¡± bisik Sean sembari meninggalkan kecupan demi kecupan di sepanjang leher hingga bahu. Tubuh Via bergetar, menerima bibir Sean yang panas. ¡°Tapi aku ingin mkukan sesuatu. Diam saja membuatku bosan,¡± ucap Via di tengah cumbuan itu. Sean pun mengh napas dan melepas pelukan. ¡°Baih, aku akan membantu. Apa yang kau butuhkan?¡± tanyanya ikut memerhatikan isi kulkas di hadapan mereka. Seth memutuskan bahan-bahan yang akan digunakan, keduanya bekerja bersisian dengan suasana khidmat dan hening menyelimuti, hanya terdengar suara pisau di atas telenan, dan gemerisik air serta minyak pada wajan. Seth makanan siap dihidang, keduanya makan di ruang TV sembari menikmati film roman picisan yang Via plih. Sembari mengunyah, sesekali Sean mengomentari adegan demi adegan yang baginya tidak masuk akal. ¡°Lihat saja, mereka pasti putus,¡± katanya melihat pertengkaran pasangan diyar sma. Via tertawa saat prediksi Sean terbukti. ¡°Kau lebih cocok jadi komentator.¡± ¡°Filmnya mudah ditebak, dan alurnya telu mainstream,¡± jawab Sean melihat ending yang tidak memuaskan. Sean merapatkan tubuh dengan Via begitu mereka menghabiskan makan siang, sedang tangannya mengelus lengan dan bahu gadis itu wu matanya fokus ke depan menyaksikan pertunjukan. ¡°Kau mau menonton film yangin?¡± tawar Sean yang disetujui Via. ¡°Kau benar, filmnya tidak seru.¡± Seth berpindah channel, Via pun bersandar ke sofa dan merebahkan kep pada bahu Sean yang bidang. Jemari lentiknya memainkan baju kaos pria itu dengan gerakan ms. Kali ini keduanya menonton film tentang seorang wanita desa yang meraih mimpi di kota besar. Seth film berjn setengah, Sean seakan tidak bisa diam untuk tidak bertanya. ¡°Kau pernah bng ingin memiliki toko roti,¡± bisik Sean ketika Via mi mengantuk hingga kelopak matanya setengah terpejam. ¡°Ya, dan kau sudah tahu ini sejak awal kita bertemu.¡± Via ingin tertawa mengingat kirman roti yang sangat banyak ke apartemen di awal-awal mereka menjalin hubungan. ¡°Apa kau masih menk tawaranku?¡± ¡°Aku masih tidak ingin kau membantuku terus, toko roti ini adh impianku dan aku ingin membangunnya dari keringatku sendiri, Sean.¡± Beberapa kali Sean menawarkan maka sebanyak itu p Via menk. Baginya kehdiran Sean saja sudah cukup. Belumma ini Via juga merasa terganggu dengan pemberitaan di media tentang wanita yang dikabarkan bertunangan dengannya, tetapi Via memilih diam daripada bertanya. ¡°Tiduh, aku akan mebersihkan ini,¡± kata Sean mengakhiri pembicaraan. Mmnya, Via terjaga dan mendapati Sean tidak ada di sebh. Suara gumaman pria itu terdengar samar-samar dari arah ruang tengah. Seth mencuci wajah, Via bermaksud untuk menyusul Sean, dan juga dia merasapar. Begitu melintasi kamar, tanpa sengaja Via mendengar Sean mengatakan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. ¡°Aku akan png beberapa harigi Eve, kita bisa bertemu di sana.¡± Wu Sean tidak terdengar berbisik, tetapi Via merasa hatinya berdenyut bagai dicubit. Mendengar nama wanitain yang menjadi pasangan Sean di setiap gossip ternyata membuat hati Via tidak kuat. ¡°Ya, akan kusampaikan pada Ibu. Kau png juga?¡± Entah mengapa mendengar interaksi keduanya, semakin meyakinkan Via bahwa Sean dan Evelyn memiliki hubungan yang begitu dekat. ¡°Hmm ¡­ hmm ¡­ aku juga rindu padamu. Kabari aku b kau sudah sampai.¡± Hati Via bergetar mendengar nada Sean yang mengatakan rindu pada wanitain. Sma ini pria itu tidak sekali pun mengucapkan kata-kata yang menunjukan perasaan seperti rindu, atau panggn kecil; misalnya sayang, baby, atau sejenis. Hati Via terasa berdarah mendengar nada suara Sean yang rendah saat mengucapkan kata tersebut pada wanita di seberang. Tahu diri akan posisinya, Via pun menguatkan diri, memasang senyum pura-pura berharap Sean tidak menyadari, serta mempersiapkan diri keluar kamar begitu Sean menyudahi panggn telepon. Sengaja Via berjn dengan menghentakan kaki, sedikit bersuara untuk memberi tahu keberadaannya. ¡°Hey,¡± sapa Sean melihat Via keluar kamar dengan wajah masih mengantuk. ¡°Hey, akupar,¡± jawab Via dengan senyum kecil sedikit dipaksa, berharap senyumnya terlihat natural di mata Sean. ¡°Aku memesankan makanan kesukaanmu. Ayo kutemani,¡± katanya dengan pandangan lembut yang tidak biasa. Sesaat tadi Via merasa seh mata Sean memancarkan cinta, tetapi dia menepis karena seth mendengar cara pria itu berbicara dengan Evelyn, membuat Via tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Sean menuntun Via hingga ke ruang makan, keduanya menikmati makan mm dm hening. Via yang penuh akan pikiran sendiri, sedang Sean entah memikirkan apa di sebh. Previous Chapter Next Chapter Chapter 6 Chapter 6 BAB 6 I Pillow Talk Sore itu Via menanyakan apa yang ingin Sean makan, pria itu hanya mengatakan ingin makan ayam, sehingga Via memutuskan memasak sup. Hari ini Sean juga belum mengizinkan Via untuk kembali bekerja, sehingga dia mengisi kebosanan dengan mkukan apa saja. Tetapi saat tadi Via menonton drama di Televisi,gigi berita tentang Sean dan Evelyn memenuhiyar kaca, sehingga Via mematikanyar sma tersebut dengan hati menahan tangis. Via menjadi trauma setiap kali melihat Televisi, karenanya dia memutuskan untuk tidak menykan benda dua puluh Sembn inch tersebut hingga mm tiba. Seth sup ayam buatannya matang, Via mendengar suara pintu yang dibuka. Takma sethnya sosok Sean muncul dari arah ruang tengah. Pria itu tersenyum menatapnya yang masih kucel dibalut apron merah muda yang warnanya th pudar. ¡°Aku dapat mencium baunya dari parkiran,¡± kata Sean menggoda. Via tertawa karena jarak parkiran dan unit mereka sangah jauh. Tidak mungkin dapat tercium hingga ke basement. ¡°Bersiap-siah, akan kuhidangkan makan mmnya.¡± Sean mengecup pipi Via sebelum beranjak menuju kamar. Melihat punggungnya menghng dari pandangan, sebulir air mata Via jatuh menyentuh permukaan meja. Dia menghapusnya cepat, takut tertangkap basah menangis tanpa sebab. Lima bs menit kemudian, Sean kembali ke meja makan yang sudah terhidang makan mm dengan penampn fresh sehabis mandi, rambut hitamnya basah berantakan sehabis keramas. Pria itu menghampiri dengan mata menatap Via penuh kagum dan terima kasih. ¡°Kau slu tahu apa yang ingin kumakan setiap mm,¡± ucap Sean sembari mhap suapan pertama. Hanya senyuman yang Via berikan. Dia juga ikut menikmati makan mmnya. ¡°Apa badanmu sudah baikan?¡± Sean menaruh punggung tangannya di kening Via yang ternyata bersuhu normal. ¡°Sudah jauh lebih baik dari kemarin,¡± jawabnya sedikit berbohong, karena terkadang Via masih merasa mual dan sakit di persendian. Keduanya kembali makan dm keheningan, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu piring. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­ Sean mengecup lembut kening Via begitu hasratnya tersalurkan. Dia menarik beban tubuhnya dari atas gadis itu dan tidur telentang di sebh sedang satu tangan masih melingkar di tubuh Via, seh tidak ingin melepas kontak kulit mereka. ¡°Kemarin aku pergi bersama Daren ke toko roti yang sering dia kunjungi, aku lupa membawakan beberapa roti untukmu. Lain kali kita bisa pergi ke sana bersama,¡± kata Sean yang mi diselipi kantuk. ¡°Tidak apa. Kita bisa ke sana jika kau sempat saja,¡± jawab Via sama lhnya. ¡°Apa kau masih mau kupinjamkan uang untuk membangun toko roti impianmu?¡± Hati Via membuncah bahagia karena Sean ingat akan mimpinya untuk memiliki toko roti sendiri. Mereka sering membahas toko roti impian Via. Bahkan mungkin Sean sudah hapal bagaimana design yang Via bayangkan untuk toko rotinya. ¡°Tidak perlu, aku masih ingin bekerja di Luna Star. Biarkan mimpi itu jadi nyata seth aku penisun saja.¡± ¡°Tidak ada shnya membuka toko roti itu sgi kau bekerja denganku,¡± saran Sean kembali yang ditk oleh Via tanpa pikir panjang. ¡°Aku sangat berterima kasih kau memikirkan impianku, tetapi rasanya sh meminjam uang darimu. Kau sudah sangat banyak membantu sma ini.¡± Via sangat mengerti hubungan mereka tak lebih seperti transaksi bisnis. Dia tidak ingin Sean membantunya karena takut Sean berpikir dia bersama pria itu hanya demi materi. Bantuan kecil awalnya kini th menjadi besar. Bahkan setengah biaya pengobatan saat ibunya masih hidup dahulu, Sean juga ikut membantu. Dia tidak butuh diingatkan bahwa hubungan itu bukah hubungan romantis. ¡°Baih, katakan padaku b suatu saat nanti kau memang ingin membangun tokomu sendiri.¡± Tidak ingin memperpanjang diskusi, Via memberi anggukan seakan setuju wu sebaliknya. ¡°Apa logo untuk toko roti impianmu?¡± tanya Sean. ¡°Sepasang merpati,¡± jawab Via yakin. Alis Sean bertaut mendengar jawaban Via yang tidak biasa. ¡°Mengapa merpati?¡± ¡°Entah, aku hanya suka filosofinya. Merpati memiliki satu pasangan seumur hidup, bread love sangat pas memakai merpati sebagai logo brand.¡± Sean terkekeh pn mendengar nama toko roti tersebut. ¡°Plesetan Spread Love menjadi Bread Love tidah nyambung.¡± ¡°Tapi aku suka mendengarnya, coba saja katakana Bread Love, terdengar enak di telinga,¡± ucap Via teguh pendirian. Sebuah kecupan mendarat di bibir Via yang ranum. ¡°Baih ¡­ baih. Aku percaya, Bread Love ¡­,¡± tawa Sean dis mencuri cium dari bibir Via. Dia mengh dengan kekeras kepan wanita itu. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­ Berita pertunangan Sean semakin santer terdengar, namun Via tidak berani menanyakan kabar tersebut. Takut akan jawaban Sean yang bisa melukai hati. Di kantor, kantin, bahkan koridor hotel percakapan akan pernikahan Sean dan Evelyn tidakgi terbendung. Semua orang seakan tidak ketinggn menyebar berita yang Via yakini tidak sepenuhnya benar. ¡°Akhir-akhir ini kulihat kau lesu,¡± kata Keiza saat mereka ke resepsionis untuk menyerahkan lembaran checklist harian. ¡°Aku tidak lesu, hanya kelhan mengerjakanporan bnan,¡± jawab Via dengan senyum tipis di bibir menutupi hati yang gundah. ¡°Jika kau ingin cerita, aku siap mendengarkan.¡± Via memberi tatapan terima kasih pada Keiza yang terdengar peduli. Langkahnya pun terhenti ketika melihat Sean bersama rombongan Executiveinnya lewat di hadapan mereka. Pria itu terlihat sibuk berbincang dengan Daren yang berjn di samping. Sesaat tadi mata mereka bertabrak pandang, namun seperti sebelum-sebelumnya dengan cepat Sean mengalihkan tatap. Seakan tidak mengenali jika berpapasan jn. Hati Via terasa dicubit, karena sosok Sean Reviano di siang hari bukah Sean Reviano miliknya yang di mm hari. Sikap pria itu bertk bkang,yaknya memiliki dua kepribadian. Siangnya Sean adh sosok asing bagi Via, sedangkan mm Sean begitu dekat hingga ke urat nadi. Original content from N?velDrama.Org. ¡°Lihah, bagaimana para wanita tidak terg-g padanya,¡± bisik Keiza sembari menunjuk Sean dengan dagunya yangncip. Via berdehem dan membs; ¡°Dia memang sempurna, sulit untuk melupakan pria seperti itu.¡± ¡°Benar,¡± jawab Keiza sembari mengh napas, ¡°Beruntung sekali wanita yang menikah dengannya.¡± Hati Via membenarkan, wanita itu sungguh beruntung. Siapa pun dia, semesta menghadiahinya pria paling sempurna di bumi. Penyayang, perhatian, tahu memuaskan wanita di ranjang, wu memiliki hati sedingin salju, tetapi sosok Sean Reviano tidah mudah untuk dibandingkan atau pun dilupakan. Bayangkan b hati pria itu sehangat bara, bisa-bisa semua wanita meleleh di kakinya. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­.. Via melihat kedatangan Sean yang melewati foyer. Dia menunggu dengan duduk manis di sofa ketika pria itu masuk ke dm ruangan. Untuk sesaat alis Sean bertaut mendapati Via yang tidak seperti biasa menunggu di ruang makan. ¡°Apa ada mash?¡± tanya Sean mendekat dengan khawatir. Kep Via menggeleng sembari memberi senyum tipis di bibir, tidak seperti biasa yang merekah sempurna b melihat kedatangannya. ¡°Aku hanya sedang berpikir.¡± ¡°Tentang?¡± Via mengh napas dan menghembuskan pn. ¡°Tentang kita.¡± Kali ini wajah Sean yang terlihat bingung. ¡°Memangnya ada apa dengan kita?¡± Tengorokan Via tercekat hendak mengatakan sesuatu. ¡°Gosip tentang pertunanganmu dengan seorang wanita tersebar luas di hotel, bahkan media juga membicarakan. Apa kau tidak mau menjskan padaku?¡± Mata Via menatap Sean penuh ketidak pastian. Ada jeda di udara tatk Sean diam. ¡°Itu bukah urusanmu,¡± jawab Sean akhirnya yang membuat hati Via pecah berkeping. Dapat Via rasakan bunyi retakan di bagian dada, sengatan panasnya yang sakit membuat dia sedikit sesak. Apa yang Via takuti sma ini, terucap juga oleh Sean. Not your bussines. Katanya. Bagaimana mungkin itu bukan menjadi urusannya di saat mereka berhubungan begitu intim. Setidaknya patut bagi dia bertanya kejsan hubungan mereka di masa mendatang. Mungkinkah smanya Sean akan menjadikannya sebagai wanita simpanan. Oh tidak. Via menk dirinya disebut sebagai wanita simpanan. Jauh lebih baik dengan sebutan wanita rahasia. ¡°Aku berhak tahu dimana posisiku b ada wanitain hadir dm hubungan ini,¡± kata Via lirih dengan wajah menunduk pilu. Sengaja ia menyembunyikan wajah, takut Sean melihat ekpresinya yang terluka. ¡°Fokus saja pada karirmu. Jangan dengarkan berita yang tidak js. Aku tidak ingin membahasnya sekarang, kepku penuh dengan pikiranin. Besok aku juga harus kembali ke rumah orang tuaku, seth aku kembali baru kita bicarakangi.¡± Tanpa mengatakan apa-apa sethnya, Sean beranjak meninggalkan Via yang masih termangu di sofa. Suara pintu tertutup menyadarkan Via bahwa Sean tidakgi bersama. Pria itu meninggalkan dirinya sendiri keluar dari apartemen, bukan menuju ke kamar seperti biasa tiap kali ada pertengkaran. Mata indah itu berkaca-kaca sepeninggn Sean. Sungguh, Via menk air matanya yang hendak luruh. Saat ini dia merasa jauh lebih kesepian dibanding sebelum bersama Sean. Previous Chapter Next Chapter Chapter 7 Chapter 7 BAB 7 I Dia Memiliki Dua Nomor Original content from N?velDrama.Org. Hari ini Sean tidak png ke apartemen. Pria itu bersan karena dia hendak beberes koper di penthouse pribadinya yang tidak pernah sekali pun Via menginjakkan kaki. Sejak awal affair dimi, Sean memberinya apartemen pribadi. Awalnya, pria itu mengunjungi hanya ketika butuh,lu pergigi tanpa tidur bersama, kembali ke kediaman pribadi tanpa menunggu pagi. Namun seiring waktu pria itu map di sana bersamanya. Sem hanya menginap sehari dua hari, tanpa dirasa menjadi berbn- bnmanya. Besok pria itu akan pergi kembali ke kampung hman, mengunjungi kedua orang tua. Tetapi tidak hanya kunjungan biasa, saat makan siang di kantin Via juga mendengar bahwa wanita model bernama Evelyn Madini tinggal di kompleks yang sama dengan Sean. Desas-desus yang beredar membisikkan, bahwa kemungkinan sang CEO hendak mengadakan acaramaran karena rumah kedua orang tua mereka bersebhan. ¡°Dari mana kau tahu bahwa mereka akan mkukanmaran?¡± tanya Amber penasaran. Altha sebagai sumber cerita menjskan; ¡°Beberapa waktulu Pak CEO memesan cincin berlian dua karat. Kemarin cincin itu tiba, dan diangsung membawanya di kantonga. Wajahnya juga sangat sumringah, seperti orang sedang jatuh cinta. Apa namanya ku bukan kabar gembira untuk sebuah lamaran?¡± Semua wanita di meja serentak mendesah penuh kekaguman bercampur iri pada Evelyn Madini. Tidak sedikit yang ingin menggantikan posisi wanita model itu. Perasaan Via semakin terguncang mendengar cincin berlian pesanan. Tidak mengira Sean akan berbuat sejauh itu tanpa mengakhiri hubungan sebelum berpindah hati. Dia mengira smanya Sean akan mjang, seperti komitmennya sebelum affair mereka dimi. Atau hanya dia saja yang polos menerima bahwa Sean Reviano tidak akan menikah pada orang berstatus sosial seperti dia. Benar bahwa hati mudah dibk-balik. Lagi p ini perkara romantisme politik kaum sosialita, dimana Sean hanya menikahi yang sekufu dengannya. ¡°Sudah, jangan disebar sesuatu yang belum benar kejsannya,¡± kata Keiza mencoba mengakhiri. Baginya tidak baik membicarakan atasan di lingkungan kerja. ¡°Ini sudah pasti benar, tidak pernah Pak CEO tersenyum perkara cincin berlian. Berita di media juga mendukung san cincin itu,¡± ucap Altha membenarkan asumsi mereka. ¡°Tidak ada hubungannya dengan kita b beliau menikah, biar saja jangan ditambahgi.¡± Keiza tidak mau kh. ¡°Setiap hari Pak CEO jadi bahan pembicaraan, masih banyak topik menarikinnya.¡± Amber meny dan tidak ingin ketinggn; ¡°Wajar jika menjadi objek pembicaraan, beliau sudah seperti selebritis dengan sorotan media.¡± Via meletakkan tangan di paha Keiza, menahan rekannya untuk tidak membs sesuatu yang tidak bisa dimenangkan. ¡°Kei, sepertinya aku lupa meminta data kalibrasi dari Hadley. Mungkin dia sudah kembali dari rapat, temani aku ke ruangannya.¡± Keiza menahan lidah, dan mengangguk wu enggan beranjak. Benar juga, percuma mendebat b lawan bicara sama batunya dengan dia. Keduanya berpamitan dan meninggalkan kantin dengan perasaan berbeda. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­.. Baru saja Via kembali ke apartemen sesaat seth dia mendapat pesan dari Sean yang mengatakan dia baru saja berangkat menuju kampung hman. Beberapa kali Via menghubungi, namun ponselnya tidak aktif. Besoknya di kantor dia tidak melihat Sean di lobby atau pun koridor seperti biasa. Barh Via yakin mereka sudah tidakgi berada di kota yang sama. Tiga hari belu begitu saja, namun tidak sekali pun Sean mengabari. Dm hati Via menyadari aph dia yang hanya wanita rahasia pria itu. Bukan tugasnya memberi Via kabar setiap waktu, dan bukan hak Via menuntut diperhatikan. Hubungan mereka ada karena saling membutuhkan. Keterikatan fisik adh sesuatu yang rapuh dan dapat goyah kapan saja. Ini sudah hari ke tujuh, tetapi Sean tidak juga kembali. Bahkan secuil kabar sepertinya mustahil Via dapatkan. Sampai dia lh mengutak-atik nomor Sean, menghubungi tanpa lh siang mm yang hanya dijawab operator dengan suara ceria mengatakan nomor yang dituju tidak dapat dihubungi. Baru saja Via duduk di kantin, sengaja mencari kursi kosong di sudut, saat tiba-tiba gerombn ratu gossip mengerubungi mejanya. Entah apa yang membuat mereka menempel padanya, seakan kemana dia pergi gerombn wanita itu ikut dengan sendiri. ¡°Kau dengar kabar pagi ini?¡± tanya Amber memi gossip mereka. ¡°Kabar apa?¡± disambut oleh Altha, Cece daninnya. ¡°Pak CEO bergandengan dengan Evelyn di acara g dinner mm tadi,¡± jawab Amber antusias. Hati Via terbh menjadi dua. Dadanya panas mendengar berita barusan. ¡°Mereka sudah sering bersama, lihat, bahkan dm seminggu ini keduanya sudah menghadiri acara sebanyak tiga kali, ditambah dinner romantis berdua di sh satu restoran bintang lima. Lihah kemesraan yang keduanya tunjukkan saat dinner, ini foto yang diambil papparazi.¡± Seperti biasa Cece memamerkanyar ponselnya pada grup mereka. Via menk untuk melihat, dia tidak yakin hatinya yang patah dapat disatukan kembali, sesaat tadi dia mendengar retakan di hatinya yang takmagi menjadi pecahan puing. ¡°Ya ampun serasi sekali!¡± seru mereka serentak. Tanpa Via sadari tangannya mengepal, meremas rok span hitam yang dia kenakan. ¡°Apa kau tahu kapan Pak CEO akan kembali?¡± tanya Amber masih dengan pandangan mengagumi foto- foto Sean. Altha mengangguk sembari menn roti bakar. ¡°Beliau bng dua minggugi b urusannya selesai. Katanya, dia bisa bekerja dari sana mengurus pekerjaan di sini.¡± Kep Via mendongak mendengar penjsan itu. Hatinya berdebar hendak menanyakan sesuatu; ¡°Kapan dia menghubungi?¡± ¡°Setiap hari dia menelepon ke kantor, jadi semua urusan di sini dapat dia selesaikan. Aku juga mengirimkanporan mlui emailnya, ini sudah menjadi prosedur saat beliau absen.¡± Via terhenyak mendengar itu. Sma ini dia mengira Sean benar-benar tidak ada waktu memegang ponsel, ternyata pria itu hanya tidak ada waktu untuk dirinya. Tetapi bagaimana bisa Sean menghubungi kantor b nomornya tidak pernah aktif, membuat Via mencurigai Sean tidak hanya memiliki satu nomor. Matanya panas dibalut emosi sendu, tetapi menahan diri agar tidak ada yang curiga. ¡°CEO kita memang pekerja keras,¡± puji Amber yang kekagumannya semakin meningkat. ¡°Benar sekali, dia juga menanyakan kabar karyawan satu per satu. Aaaah, benar-benar CEO idaman,¡± kata Altha menambahkan. Percakapan itu terus mengalir dimana topiknya tidak jauh-jauh dari sang CEO idaman. Sejak tadi Via hanya diam, menjadi tim pendengar yang hatinya sudah tidak berbentukgi seiring banyaknya informasi yang dia terima. Begitu rombongan itu keluar dari kantin, Via menarik lengan Altha dan mencoba bersikap kasual. ¡°Aku ingin mporkan sesuatu pada Pak CEO, apa boleh aku meminta nomornya?¡± Via memasang wajah dataryaknya professional. Menunjukkan bahwa itu hanya untuk kebutuhan pekerjaan. Altha tidakngsung mengiyakan. Dia menimbang lebih dahulu sebelum memutuskan untuk memberi nomor tersebut. ¡°Nomornya 0¡­..¡± Nomor baru itu terprogram ke ponsel Via, dan keduanya memutuskan berpisah begitu sampai di lobby. Via yang hatinya tidak tenang sejak jam makan siang akhirnya memutuskan ke toilet wanita. Lama dia mengamati nomor ponsel yang tertera diyar. Bahunya tertunduk lesu ketika menyadari bahwa itu adh nomor yang berbeda. Dia tidak berani memanggil, remuk redam hatinya mendapati kenyataan Sean sengaja mengabaikan keberadaannya. Tampa terasa air matanya mengalir tak terbendung, dia terisak di atas dudukan toilet. Memikirkan cinta yang tidak berbs, ditambah pemilik hatinya sedang berbahagia bersama wanitain dan tidak sedikit pun memedulikannya. Menanyakan kabar saja tidak, mungkin dia juga tidak ada dm kep pria itu. Previous Chapter Next Chapter Chapter 8 Chapter 8 BAB 8 I Dua Garis Biru Di supermarket Via membeli beberapa kebutuhan dapur. Meski pun Sean tidak ada, tetapi kecintaan Via terhadap memasak tidak menghentikannya untuk membuat menu makanan yang dia suka. Ketika berada di area sea food, tiba-tiba saja Via merasa mual hingga dia menghindar dari sana. Bahkan Via juga mual begitu mencium bau daging, membuatnya refleks menjauh ke area minuman. Dm kep Via menghitung waktu menstruasinya, untuk sesaat dia merasa tubuhnya tegang karena ada yang janggal pada siklus bnan yang tidak dia sadari. Via mengambil lima test pack yang berjajar di rak dan memutuskan cepat-cepat keluar dari supermarket, namunngkahnya terhenti ketika matanya menangkap tabloid yang terpampang wajah Sean sebagai Headline utama. Tanpa sadar Via mendekati tabloid tersebut dan membaca judul bercetak tebal; Kemesraan Evelyn Madini dan Sean Reviano. Tanpa bisa melepaskan mata dari potret Sean di cover tabloid tersebut, Via pun membaca isi kontennya; menceritakan Sean dan Evelyn yang terlihat mesra bergandeng tangan sedang jn berdua di sebuah taman, bahkan potret kemesraan keduanya terpampang js di setiap hman. Sean yang menggenggam tangan Evelyn saat menyeberang jn, Sean yang tersenyum mendengar Evelyn yang berbicara, Sean yang terlihat bahagia berdiri berdampingan dengan Evelyn. Dimana pun Sean berada, Via dapat menggambarkan dengan js bagaimana manisnya senyum itu, bagaimana wajah Sean yang cerah ketika bahagia, atau matanya yang tersenyum saat mendengar lelucon lucu. Semua js terukir dm ingatan Via yang tajam, tapi rasanya sakit sekali ketika semua itu tertuju pada wanitain. Air mata berkumpul di pelupuk mata, namun Via menknya jatuh. Dia masih tidak percaya Sean melupakannya tanpa menjskan apa-apa, namun bukti bahwa pria itu pehanhan mengabaikan dan sengaja menghindar cukup membuat luka. Bahkan dia tidak bisa bemama melihat Sean dengan wanitain wu hanya mlui gambar di atas kertas. ¡°lihah, mereka sangat serasi,¡± ucap wanita yang tiba-tiba berdiri di sebh. Via hanya memasang wajah datar dan menaruh tabloid itu kembali ke tempat sem. ¡°Apa kau juga fans mereka?¡± Kali ini Via menn tangisnya yang hendak tumpah. ¡°Ah ¡­ itu ¡­ aku hanya sedang lihat-lihat,¡± jawab Via canggung. ¡°Tidak usah malu mengakui kau patah hati melihat CEO tampan dan kaya seperti itu akhirnya akan menikah. Aku juga merasa patah hati, begitu p jutaan wanita di dunia. Pria single paling diidamkan akhirnya menemukan tambatan hati, betapa beruntungnya Evelyn.¡± Wanita itu tertawa sembari mengambil tabloid untuk dibawa ke kasir. Via mematung di tempat sepeninggn wanita tersebut. Menyadari bahwa sma ini tidak ada yang mengetahui kehadirannya dm hidup Sean. Tidak sekali pun dia berada dm satu frame dengan Sean Reviano. Ingin dia berteriak pada wanita itu, bahwa sebelum Evelyn ada Via yang menghangatkan tempat tidur Sean Reviano, yang memasakkan makan mm kesukaan pria itu, yang menyiapkan stn kerjanya setiap pagi, yang menyambutnya png dengan senyuman wu dm keadaan lh. Ada Via yang menemani Sean Reviano sma satu tahun ini. Sean hanya menyembunyikan keberadaannya. Kali ini Via merasa kh, karena Sean memang tidak ingin publik tahu tentang dirinya. Dengan satu kesadaran pahit itu, Via mngkah pergi bersama bnjaannya menuju kasir dengan bahu tertunduk lesu. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­.. Via terduduk lemas dintai kamar mandi apartemen sembari memandangi test pack bergaris dua. Kenyataan yang sulit dia terima disaat hubungannya dan Sean tanpa masa depan. Kalut dia memikirkan nasib bayi dm kandungan, dan takut menghadapi reaksi Sean yang menk kehadirannya. Masih diliputi kebingungan, Via menghubungi satu-satunya nomor yang menjadi tempat dia bersandar. ¡°Haloooo,¡± sapa suara dari seberang dengan nada ceria seperti sambutan biasa ketika Via menghubungi. ¡°Halooo ¡­?¡± Suara itu mi terdengar bingung ketika Via tak juga bersuara. ¡°Via?¡± tanya Disya diliputi keheranan. Bulir air mata Via jatuh membasahi pipi tanpa permisi hingga isakan tangis tertahan terdengar sampai ke seberang sambungan. ¡°Ada apa Via? Kenapa kau menangis? Cerita padaku,¡± ucap Disya terdengar gelisah dengan nada khawatir. ¡°Aku ¡­ Aku hamil,¡± tangisnya semakin keras. Untuk sesaat semua suara di sekitar hening, kecuali isak tangis tiada putus yang lolos dari bibir Via. Termasuk suara statis dari sambungan yang menghubungkan pembicaraan, seh ikut merasakan dilemma yang menyesak dada. ¡°Aku hamil.¡± Tangis itu semakin keras, tak membendung dan tanpa kontrol bagai raungan seorang wanita terluka. ¡°Aku hamil.¡± ngnyagi dangi seh tidak ada pembendaharaan katain sebelum akhirnya mencurahkan isi hati yang terpendam. Original content from N?velDrama.Org. Disya mendengarkan satu per satu daftar dosa seorang Sean Reviano dari pengakuan Viania. Daftar itu semakin panjang, hingga membuat Disya ikut merasakan dmnya luka yang Via derita. Bersama keduanya menangis, terisak menahan sakit di dada. Satu aturan th dnggar. No Pregnancy. Tiada tawaran. Secepatnya Via akan terhempas jauh dari hidup Sean Reviano. Jauh dm lubuk hati, Via dapat merasakan waktu itu akan segera tiba. Dia sangat takut menghadapi Sean yang murka, namun nuraninya lebih takut Sean memutuskan sepihak nasib bayi dm kandungannya. Insting keibuan pehan menyelimuti Via yang tidak mau menyerah. Benaknya membenarkan, tanpa Sean dia bisa membesarkan bayi itu. ¡°Sebaiknya kau beri tahu Sean tentang kondisimu, Via,¡± saran Disya yang membuat Via gemetar takut. ¡°Aku tidak bisa,¡± bisiknya ragu. ¡°Via, katakan padanya. B dia menk, kita pikirkan jn bersama.¡± Via menatap nomor yang diberikan Altha, bermaksud untuk menghubungi Sean dari nomor tersebut. ¡°Aku ¡­ akan mencoba.¡± Pada akhirnya nurani lebih menang dibanding ketakutannya akan ketidak pastian. Keduanya memutus sambungan. Jemari Via ragu menekan tombol panggil pada nomor Sean yang baru. Hatinya bergetar penuh ketakutan akan reaksi pria itu. Awalnya hanya terdengar nada dering panggnnya tersambung, tetapi kemudian terdengar penkan yang semakin menyakitkan bagi Via, tetapi dia tidak menyerah. Ketika panggn yang ke tiga tidak diterima, Via memutuskan untuk mengirimkan pesan. Ini aku Viania. Beberapa kali aku mencoba menghubungi tetapi tidak diangkat, jadi aku memutuskan mengirimkan pesan. Maaf karena tidak menunggu hingga kau png, karena aku sangat takut sekarang. Hubungi aku secepatnya. Via menunggu beberapa menit sebelum akhirnya mendapat bsan. Dari mana kau mendapat nomor ini? Sedikit lega Via membaca bsan itu, karena akhirnya dia bisa menghubungi Sean wu dia kembali merasa sedih menyadari kenyataan bahwa Sean benar-benar sengaja menonaktifkan nomor yang biasa dia hubungi hanya untuk menghindarinya. Dari orang-orang di kantor. Jawab Via lesu, karena bsan yang dia dapat bukah menanyakan kabarnya minkan asal nomor itu. Kali ini Via tidak menahan air matanya untuk jatuh membasahi pipi. Aku sedang sibuk, akan kuhubungi nanti. Hati Via teriris membaca pesan tersebut, bukannya menanyakan apa yang Via takuti, atau bagaimana kabarmu, atau mungkin apa yang kaukukan sma aku tinggal pergi, minkan dia mendapat bsan untuk menyuruh Via secara halus untuk tidakgi menghubungi. Perasaan terluka itu digantikan marah, dia tidak peduli b menyampaikan berita kehamn mlui pesan. Baginya lebih cepat dia beri kabar itu, maka lebih cepat p hati penasarannya terpuaskan akan jawaban Sean. Seth menimbang beberapa menit kemudian, Via kembali mengirim pesan. Aku hamil, Sean. Lama Via menunggu bsan. Rasanya hati ini berdetak sangat cepat seakan hendak lepas dari tubuhnya hingga Via memutuskan untuk duduk di sofa, takut terjatuh b terus berdiri gelisah. Hamper sepuluh menit menunggu, bsan yang ditunggu pun tiba. Namun tubuh Via terasa digs saat membaca apa isi pesan tersebut. Ponsel dm genggaman Via pun jatuh kentai memecahkanyarnya. Sepersekian detik hati Via berhenti. Sekeliling Via berputar dan tanpa Via sadari dia menangis keras bagai hatinya disayat sembilu. Perih tak berdarah. Pesan diyar ponselnya yang retak masih meny dengan pesan tertera di sana; Gugurkan, aku tidak punya waktu untukmu Previous Chapter Next Chapter Chapter 10 Chapter 10 BAB 10 I Sean Reviano Reviano menatapyar ponsel berisikan teks dari orang tuanya yang menanyakan kapan dia akan png. Sejenak dia memandang karyawan yang sedang rapat bersama di ruang meeting. Dia memasukan kembali ponsel itu dan melirik ke arah Via yang sedang menyelipkan rambut panjangnya ke balik telinga. Mata Sean tidak bisa lepas memandangi wajah rupawan Via yang menunduk membacaporan, tetapi logikanya menang sngkah hingga dia lega dapat memalingkan wajah. Sedikit berdehem, Sean mengumpulkan perhatian; ¡°Sampai dimana kita tadi?¡± ¡°Laporan rating dan review hotel kita di tform booking room, Pak. Saya rasa ¡­.¡± Rapat kembali benjut, tetapi mata Sean tidak bisa menjeda pandang dari Via yang menjskan tentangporan review Hotel Luna Star yang sedikit menurun dari bn sebelumnya. Di tengah sesi Sean mendapati Via yang mmun. Agar terlihat profesioanl tidak pilih kasih, Sean pun menegur. ¡°Via?¡± panggil Sean saat gadis itu mi hng fokus. ¡°Viania Harper!¡± panggilnyagi. Hingga paggn ke tiga, gadis itu tetap tidak mengangkat wajah membuat Sean sedikit khawatir. Dengan wajah tenang seperti biasa, Sean memanggil Via terakhir kali karena dia tidak nyaman ketika mi terdengar suara berbisik dari sekitar. ¡°Via!¡± Gadis itu tersentak, js terkaget karena tidak mendengarkan. Dia tertunduk malu, yang membuat Sean merasa sedikit bersh. ¡°Via, dari tadi aku memanggilmu. Apa kau sakit?¡± ¡°Sejak tadi siang saya merasa kurang enak badan,¡± jawab gadis itu terlihat segan dan mnjutkan, ¡°Maaf, sudah mengganggu konsentrasi Anda.¡± Dengan keberadaan Via saja sudah cukup membuat Sean hng konsentrasi, tetapi tentu dia tidak akan menjawab demikian. ¡°Tidak-tidak, jika memang sudah tidak kuat mengikuti rapat kamu bisa beristirahat.¡± ¡°Seperti sebelum-sebelumnya, minth izin jika merasa kurang sehat sebelum rapat dimi.¡± Kini dia merasa khawatir wu Via berkata sebaliknya. Ekor mata Sean terus mengawasi Via yang tetap mengikuti rapat sembari dia membuka dokumen yang baru dijskan tadi. ¡°Kembali ke rapat, aku ingin kita meningkatkan pyanan Luna Star dan ¡­.¡± ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­ Daren baru saja masuk ke dm ruang kerja Sean di Luna Star. Sahabatnya itu mendekat sembari membawa tumpukan dokumen. ¡°Aku mendengar dari bibi kau akan png ke Blueberry Hill,¡± ujar Daren begitu menaruh tumpukan dokumen ke atas meja. Sean terlihat enggan menjskan, namun pada akhirnya dia mengangguk saja. ¡°Ibu memintaku untuk png,¡± katanya. ¡°Aku hanya sebentar di Blueberry, sethnya aku akan ke Michigan untuk menyelesaikan proyek yang ayah beri dua tahunlu.¡± Wajah Daren tampak tertarik untuk ikut bergabung. ¡°Aku juga ingin ikut serta.¡± Satu tatapan tajam dari Sean mampu membungkam mulut Daren yang tidak ada rem. ¡°Kau pikir aku mau mengerjakan proyek itu? Luna Star saja masih butuh bimbingan, ayah mh ingin membangun hotel baru di Michigan. Sudah kujskan untuk menunda dulu sampai Luna Star stabil, dia menk mentah-mentah. Benar-benar keras kep,¡± sungut Sean sembari membaca dokumen yang dibawa Daren satu per satu. ¡°Bukannya itu proyek taman bermain?¡± Kini Daren dibuat bingung dengan perubahan rencana. ¡°Sejak kapan berubah menjadi hotel?¡± Sean menutup dokumen yang dia baca dan menatap Daren kembali. ¡°Sejak Nicko Anderson mengumumkan akan membangun taman bermain tidak jauh dari lokasi taman bermain yang ayah rencanakan.¡± Kali ini Sean tidak bisa menutupi rasa kesalnya. Wajah tenangnya yang biasa berubah keruh. ¡°Ya ampun, kau bisa membangun di tempat yang baru.¡± ¡°Tidak semudah itu, mkukan riset ng hanya akan menambah biaya saja. Ditambahgi aku tidak ingin berurusan dengan mafia.¡± Mengingat bahwa Nicko Anderson bagian dari mafia Italia tentu bukah hal mudah, dan Sean tahu konsekuensinya b berhadapan dengan orang-orang seperti mereka. ¡°Akupar, ayo kita makan keluar,¡± rengek Daren yang membuat Sean sakit kep. Sean meletak kembali dokumen yang nyaris dia tanda tangani, namun mengingat Daren yang rewel lebih menyebalkan dibanding menyelesaikan tumpukan dokumen itu, maka dia memutuskan untuk makan siang sebelum waktunya. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­. ¡°Kemana kau membawaku?¡± tanya Sean begitu mereka tiba di dekat pusat perbnjaan. ¡°Toko roti favoritku, beberapa waktulu kau memakasa untuk diajak ke sini. Apa kau lupa?¡± Original content from N?velDrama.Org. Mendengar kata toko roti, Sean pun keluar lebih dulu, membuat Daren terkekeh. Dia tidak mengerti mengapa sahabatnya suka sekali mengunjungi setiap toko roti di kota itu. Lebih dulu Sean sampai di dm toko tersebut, dia memerhatikan sekitar dengan seksama,yaknya tim peni yang memerhatikan tiap detail bangunan. ¡°Hey, kita ke sini untuk membeli bukan menyelediki lubang di setiap dinding,¡± bisik Daren saat mereka dipelototi pria penjaga etse. Seakan tidak peduli, Sean mengedikan bahu sembari mnjutkan penian sem. Dia bahkan memerhatikan dengan rinci setiap menu yang dipajang. Melemparkan banyak pertanyaan tentang bahan dasar kue-kue di sana, membuat Daren merasa tidak enak hati dengan si penjaga. ¡°Kau mau beli atau sedang merancang bisnis baru?¡± Bagi Daren pertanyaan terakhir lebih masuk akal. ¡°Menurutmu berapa persentase keberhasn bisnis toko roti sebesar ini?¡± tanya Sean tiba-tiba, Daren hendak menjawab saat Sean menjawab sendiri pertanyaan barusan. ¡°Kurasa cukup menguntungkan dengan eksposur yang tepat. Lagi p, dia juga tidak peduli dagangannyaku atau tidak.¡± Kali ini Daren yang dibuat bingung. ¡°Siapa?¡± Sean mengibas tangan ke udara, mengabaikan pertanyaan barusanlu tanpa dosa memesan banyak kue yang terpajang di etse. Nyaris keseluruhan sebagai sampel. ¡°Bng saja kau tidak mau bercerita, jangan mengibaskan tanganmu dengan tidak sopan,¡± dengus Daren sembari memukul tangan Sean yang masih di udara. Dengan tersenyum puas, Sean menatap Daren sembari menenteng bnjaan. ¡°Beritahu aku b kau temukan toko yang baru,¡± katanya sambil belu meninggalkan Daren yang belum memesan apa pun. ¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­¡­ Satu per satu Sean membs pesan dari ibunya. Dia mengabari kapan akan tiba di Blueberry Hill. Saat hendak keluar ruangan, ponselnya berbunyi. Dia mengira ibunya memanggil, tanpa melihat caller Id, Sean mengangkat panggn tersebut. ¡°Halo,¡± sapanya. ¡°Halo, Sean. Ini aku Eve. Aku dengar dari bibi kau akan png, kenapa tidak mengabari?¡± tanya Evelyn dengan suara manja seperti biasa. Sean tertawa mendengarnya dan mengurungkan niat keluar dari ruangan. ¡°Maaf, kupikir kau sangat sibuk. Dua harigi aku akan png, kita bertemu di sana saja. Saat ini aku sangat sibuk Eve,¡± js Sean tidak ingin membuat bawahannya menunggu di ruang rapat. Dia melihat arloji yang menunjukan jadwal rapat segera dimi. ¡°Akan kuhubungi b ada waktu,¡± tawar Sean yang disambut Evelyn dengan tidak terima. ¡°Apa tidak bisa menyuruh mereka menunggu? Rasanyama sekali kita tidak berbicara,¡± sungut gadis itu dari seberang. ¡°Tidak bisa, Eve. Hargai waktu mereka, aku tidak bisa seenaknya membatalkan rapat hanya karena kau ingin berbicara.¡± Wu terdengar kasar, tetapi Sean tidak ingin Evelyn menjadi terbiasa. Dari nada suara gadis itu, Sean dapat mendengarnya saat cemberut. ¡°Baih-baih CEO yang pengertian. Telepon aku saat kau ada waktu.¡± Sean tertawa mendengar kkar tersebut. Dia menyetujui sebelum akhirnya memutus sambungan. Baru saja Sean membuka pintu saat sekretaris pribadinya tiba-tiba memanggil dengan suara ceria yang membuat Sean mengernyitkan dahi. ¡°Pak, ada paket yang baru saja datang!¡± seru wanita itu sembari beriri kecil dengan sepatu hak tinggi yang membuat bising saat berbenturntai. Wajah Sean berubah sumringah ketika dia ingat cincin berlian pesanannya yang tiba hari ini. Tangannya cepat mengambil paket tersebut dari genggaman Altha yang terulur. ¡°Terima kasih,¡± ujarnya dengan senyum merekah sempurna, tanpa sadar membuat wanita di hadapannya terperangah dengan mata membt. Tidak sabar, Sean pun membuka kotak tersebut dan melihat cincin berlian yang dia design sendiri th berwujud. Begitu elegan persis seperti yang dia bayangkan, bahkan jauh lebih sempurna dari gambar yang dia lukis. Langkahnya begitu ringan ketika menuju ruang rapat, sekali pun senyum tidak pudar mengukir wajah Sean yang rupawan hanya karena sebuah cincin dm sakua. Previous Chapter Next Chapter Chapter 11 Chapter 11 BAB 11 I Kenapa Proyek yang diberikan oleh ayahnya, membuat Sean menunda kepngan ke New York Awalnya dia kesal karena harus menghabiskan waktu lebihma di Blueberry dan Michigan. Untung saja Evelyn slu menemani di saat dia bosan seharian menatapyar komputer. ¡°Kau tidak ingin makan mm bersama?¡± tanya Evelyn yang berjn di sebh. Mereka menikmati udara sore di dekat taman yang tidak jauh dari rumah. ¡°Bukankah setiap mm kita slu makan mm bersama?¡± tanya Sean mengingat kembali sesi makan mm setiap hari. Jika bukan di acara g, maka kedua orang tua mereka akan menyuruh untuk pergi berdua makan di luar, tidak jarang keluarga mereka mengadakan makan mm di rumah. ¡°Tapi kau bng mm ini tidak ingin keluar, kita makan di apartemen pribadimu saja,¡± tawar Evelyn yang dipertimbangkan Sean. 1 ¡°Tidak ¡­ tidak, kita bisa makan di luar,¡± jawab Sean membalik tawaran. ¡°Tidak mash, sgi kita menghabiskan waktu bersama. Kau sangat sibuk jadi jarang png, apa kau tidak memikirkanku?¡± sungut Evelyn saat mereka menyeberang jn. Sean menuntun wanita itu, karena Evelyn tidak pandai menyeberang sendiri. ¡°Kau juga sibuk pemotretan, jangan shkan kesibukanku,¡± b Sean. Keduanya sedang berjn menuju apartemen saat Sean mendapati dua papparazi bersembunyi di dm mobil SUV merah. ¡°Ada papparazi mengikuti,¡± katanya menunjuk dengan dagu ke arah kamera yang tertuju pada mereka. 1 Evelyn tampak acuh dan bahkan berpose manja di lengan Sean. ¡°Apa yang kaukukan?¡± tanya Sean kebingungan. ¡°Biarkan saja, mereka hanya sedang bertugas. Aku kan model terkenal, mereka pasti ingin tahu aku jn dengan siapa. Anggap saja orang-orang itu tidak ada.¡± Sean hendak melepas genggaman Evelyn tetapi wanita itu semakin mengeratkan cengkraman. ¡°Ku kau lepas, aku yang malu. Berita seorang Evelyn ditk pria di tengah jn bukah berita lucu. Reputasiku bisa rusak. Mainkan saja perannya,mama mereka juga capek sendiri,¡± bisik Evelyn dengan wajah mengulum senyum. Seh tidak sedang terjadi apa-apa. Sean menghembuskan napas, dan menyunggingkan senyum tipis pada wanita itu. S . ¡°Ayh, aku sangatpar,¡± rengek Evelyn sembari menggyut manja, menyeret Sean hingga ke apartemen. 1 Keduanya baru saja masuk ke dm apartemen itu saat Sean teringat dia lupa mengaktifkan ponselnya yang satugi. Jika diingat sudah lebih seminggu dia tidak menghubungi Via. Content ? N?velDrama.Org. ¡°Aku akan bersiap dulu sebelum kita makan di luar,¡± kata Sean mempershkan Evelyn duduk di sofa. Dia mengambil ponsel yang terabaikan sma seminggu lebih di atas meja, sesaat dia tertegun memandangiyarnya yang mati. Bimbang antara menghubungi Via atau membiarkan saja. Pada akhirnya dia membiarkan dan meletakan ponsel itu kembali di meja, sebelum belu menuju kamar untuk bersiap ke luar. Saat Sean kembali berada di ruang tengah seth mengganti baju, Evelyn terlihat sedikit pucat. Wanita itu bahkan menggigit kuku tampak gelisah. ¡°Ada apa?¡± tanya Sean kebingungan. Padahal tadinya wanita itu baik-baik saja. Evelyn terkejut mendengar suara Sean yang tiba-tiba. Mata Evelyn membt melihat Sean yang berdiri di bkang. Dia tampak berpikir keras hingga tidak menyadari kehadiran Sean barusan. ¡°Oh ¡­ aku ¡­ itu ¡­ mungkin karena belum makan sejak siang, perutku sedikit sakit,¡± kata Evelyn dengan suara sedikit bergetar. 3 Tatapan mata Sean berubah lembut. Dia menatap Evelyn bersh. ¡°Seharusnya kau katakan sejak tadi, Eve. Bibi bisa memarahiku jika kau png dm keadaan sakit,¡± kata Sean dengan nada khawatir. 1 Dia membawa Evelyn segera keluar dari apartemen, namun ekor matanya menatap aneh pada ponsel yang bergeser dari tempat sem. Tanpa memikirkan lebih jauh dia pun mengabaikan dan bergegas ke luar. Pekerjaan Sean akhirnya selesai di Michigan, tidak terasa hampir sebn dia meninggalkan New York dan Luna Star. Sma itu dia hanya memantau pekerjaan di Luna Star dari kejauhan,gi p ada Daren yang menghandle semua tanpa dia harus turun tangan. Sean tidak sabar untuk segera ke apartemen, sehingga begitu sampai di bandara diangsung menuju ke sana. Perjnan png tidak begitu mulus, jnan macet karena ada demonstrasi. Sean yang biasanya sabar menjadi orang paling tidak bisa diam. Berkali-kali dia mengumpat dan menyuruh supir pribadi untuk menambah kecepatan, padahal js sekali itu mustahil. Bahkan sebelum mobil berhenti sempurna, Sean keluar tergesa-gesa. Dia mngkah terburu buru dan menaiki lift tanpa menoleh sekitar seperti biasa menyapa penjaga pintu. 1 Setibanya di depan apartemen, Sean membuka kunci dengan miliknya pribadi. Hari sudah mendekati mm, jam segini biasanya Via sedang memasak makanan. Seharusnya dia menghubungi wanita itu lebih dulu, agar Via bersiap-siap menyambut kepngannya. Langkah Sean terhenti di voyer melihat apartemen itu gp dan dingin. Tidak ada tanda tanda tempat itu didiami seseorang. Bahkan Ac danmpu yang seharusnya meny tampak tidak pernah dihidupkan seharian. Dia menghidupkanmpu satu per satu. 3 Saat terang menyapa, posisi barang masih seperti biasa. Rapi wu sedikit berdebu. Alisnya bertaut bingung, hingga jantungnya berdetak kencang. Dia menjauhi pikiran buruk, berharap Via hanya sedang berkunjung ke rumah teman karena sendirian. 1 ¡°Via?¡± panggil Sean wu sadar tidak akan ada jawaban. ¡°Via?¡± panggilnyagi menuju ke kamar. Sepanjang lorong dan tangga juga gp, membuat Sean tidak tahan dan menykanmpu yang ada. Kamar itu juga kosong, seprei dan bantal tersusun rapi seperti biasa, namun yang janggal hanyh meja rias. Kosong tanpa satu pun pertan wajah Via yang biasanya berjejer di sana. Kali ini Sean mngkah buru-buru. Dia memeriksa semua lemari dan hatinya terhenyak mendapati tidak satu baju pun tergantung di sana. Bahkan dua koper besar milik Via tidak ada d i tempat sem. ¡°Jangan panik, dia pasti ke suatu tempat,¡± gumam Sean sembari mengeluarkan ponsel yang biasa berkomunikasi dengan Via. Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobh beberapa saatgi. Jawab operator di ujung sambungan. Sean mondar-mandir sembari berpikir tempat yang mungkin Via kunjungi, tetapi kepnya nk begitu menyadari dia tidak mengenal orang-orang terdekat wanita itu. Sean hanya tahu Ibu Via yang sakit tetapi baru saja meninggal beberapa waktulu, sayangnya saat itu dia sedang berada di Jepang sehingga tidak ikut menghadiri pemakaman. Dan sethnya pun Sean tidak ingat pernah ikut berziarah setiap Via mengajak, slu saja ada hngan. Dm kekacauan, Sean menghubungi Daren yang mungkin saja masih ada di Luna Star. ¡°Oh, jadi kau baru ingat punya sahabat dan menghubungi sekarang?¡± sindir Daren begitu telepon tersambung. ¡°Aku tidak sedang ingin bermain-main, aku butuh bantuanmu,¡± geram Sean meninggikan suara. Mendengar ada nada panik wu sedikit dari suara Sean, Daren pun menegakan kep. ¡°Ada apa? Sesuatu yang buruk?¡± ¡°Bisa ya bisa juga tidak,¡± jawab Sean ambigu. Dia tidak tahu harus mengkategorikan situasi bagaimana. ¡°Bisakah kau tanya pada divisi QC untuk menghubungkanku dengan Viania Harper?¡± Sean dapat mendengar kep Daren berpikir keras san dia menanyakan sh satu karyawan. ¡°Memangnya kenapa dengan wanita ini?¡± Terdengar suara kursi menandakan Daren beranjak, dan juga pintu yang dibuka. Sahabatnya pasti berjn ke ruangan dimana kantor karyawan berada. ¡°Tunggu sebentar, akan kuhubungigi,¡± kata Daren, membuat Sean tidak sabar. Mereka memutus hubungan. Sean mengusap wajah dengan kedua tangan, masih mondar-mandir di tempat sem. Matanya nanar menatap kamar yang tidakgi ada jejak kehadiran Via. Terutama meja rias, dimana gadis itu biasanya duduk sebelum jam tidur, dan Sean sering menggodanya dari bkang. 1 Ponselnya baru berdering satu kali, Seanngsung menjawab membuat Daren tidak siap dan ggapan. ¡°Ya ampun Sean, kau mengagetkanku.¡± Tanpa basa-basi Seanngsung mengejar Daren dengar pertanyaan. ¡°Hadley bng dia resign tiga minggulu,¡± jawab Daren yang membuat Sean tertegun. Tidak memercayai perkataan sahabatnya. ¡°Apa? ngigi?¡± tanya Sean tidak percaya. Suaranya terdengar kh karena pukn emosi yang tk di dada. ¡°Wanita yang kau cari mengundurkan diri, Sean,¡± ng Daren yang kebingungan.¡± Memangnya ada apa dengan wanita ini?¡± 1 Susah payah Sean mengendalikan diri, dan terduduk di ujung kasur dengan bahu menekuk ke bawah. Postur mengh. Dia pun berdehem dan menjawab sahabatnya yang menunggu di seberang, ¡°Tidak ada, maaf mengganggumu,¡± kata Sean mematikan sambungan tanpa memberi kesempatan Daren membs. Perasaan terluka yang Sean rasa pehan berganti amarah, dia menghempas ponsel di tangan hingga berserakan membentur dinding. Matanya merah menahan emosi, bahkan tangannya mengepal kesal hingga tanpa sadar dia meninju pintu kamar hingga jebol. ¡°Kenapa?¡± tanya Sean dengan suara tajam pada udara di sekitar. ¡°Kenapa!¡± makinya sembari memukul dinding sebagai pmpiasan. Hatinya benar-benar sakit ditinggal tanpa san. Padahal dia merasa hubungan mereka baik-baik saja. Wu saat pergi ada sedikit percekcokan. Tidak mungkin Via sesempit itu pikirannya hanya karena pertengkaran kecil yang tidak berdasar. 5 ¡°Kenapa Via! Kenapa!¡± 1 Geramnya sembari mengacak-acak isi kamar yang tidak pernah ditempati lebih dari tiga minggu. Previous Chapter Next Chapter Chapter 12 Chapter 12 BAB 12 I Berita Di Televisi Melihat bangunan tua bercat cokt di depannya, Via pun menoleh pada Disya yang jn lebih dulu menuju hman rumah pertanian tua di sh satu desa yang cukup jauh dari kota, terkesan terpencil dari keramaian. Sejauh mata memandang, Via hanya melihat satu dua rumah dengan model sama. Tidak hanya itu, sepanjang jn ke sana Via menemukan beberapa kuda berkeliaran di hman luas dikelilingi pagar putih dengan pohon apel tumbuh berjajar. ¡°Apa kau yakin ini tempatnya?¡± tanya Via, menatap bangunan dengan cat dinding sebagian mengelupas. ¡°Nana mewariskan rumah peternakan ini. Kau tahu aku tidak berasal dari keluarga kaya. Ini adh satu-satunya harta yang kumiliki sin apartemen di New York.¡± Disya berhentilu menoleh pada Via yang masih mematung sejak kedatangan mereka, enggan mngkah lebih jauh. ¡°Masuh.¡± Sekaligi Via menatap bangunan tua tersebut sebelum memutuskan ikut masuk ke dm, menyusul Disya yang lebih dulu di depan. Tidak seperti tampn luar, ruangan di dm jauh lebih terawat, bahkan tidak terlihat debu di sekitar. 1 ¡°Apa ada yang tinggal di sini?¡± tanya Via sembari ikut menjjah sekitar. ¡°Aku meminta beberapa orang yang kukenal di desa untuk membersihkan sebelum kita tiba,¡± jawab Disya mengakui. 1 Via menatap sahabatnya penuh terima kasih, setidaknya dia memiliki tempat sementara untuk menenangkan diri. ¡°Aku berhutang banyak padamu,¡± bisik Via dengan mata berlinang air mata. Disya mendekat dan menggenggam tangan Via yang dingin karena udara luar. Musim gugur segera berakhir, tidakmagi musim dingin tiba. Melihat tubuh rapuh Viania, Disya merasa tidak tega meninggalkan gadis itu sendiri di rumah tua. ¡°Hanya ini yang bisa kkukan. Kau juga banyak membantu saat aku dm kesulitan,¡± bisik Disya menggamit tangan Via menuju perapian. Rumah itu belum dipasang penghangat ruangan, menambah daftar kekhawatiran Disya pada Via yang akan tinggal sendiri. Keduanya memutuskan untuk menikmati cokt panas sembari menghangatkan tubuh. Tanpa sadar Via mengelus perut datarnya. Wajah Via menggambarkan kekhawatiran akan masa mendatang. ¡°Apa kau pikir aku bisa menjadi ibu yang baik?¡± tanya Via dengan tangan gemetar mengusap kulit halus pada perut yang belum menunjukan tanda-tanda kehamn. 1 Disya menyentuh lengan Via lembut; ¡°Kau akan jadi ibu yang luar biasa, anak ini beruntung memiliki ibu seperti dirimu.¡± Keduanya melempar senyum dan menyesap kembali minuman yang mi dingin. Esok pagi Disya memutuskan kembali ke New York. Dia berat meninggalkan Via dengan seorang wanita muda yang akan membantu urusan di rumah tua. Seth diskusi mm tadi. Disya meminta sh satu kenn di desa untuk menemani Viania sementara. ¡°Willow, aku menitipkan Via padamu,¡± ucap Disya sembari menenteng tas sandang menuju mobil terparkir di hman. Via memeluk Disya yang hendak berangkat, sedang Willow memerhatikan keduanya dari undakan tangga. ¡°Aku berjanji Miss Flontin. Miss Harper akan baik-baik saja bersamaku di sini,¡± Willow meyakinkan Disya. Lima menit kemudian, mobil yang membawa Disya pun menghng dari pandangan, menyisakan debu jnan yang bertebaran menghampiri Via yang berdiri di dekat gerbang. ¡°Miss Harper, sebaiknya kita masuk ke dm. Hari semakin dingin.¡± Willow mendekatlu menarik tangan Via, menuntun masuk ke dm rumah denganngkah hati-hati. Wanita muda itu menykan perapian, menambah kayu di pembakaran, dan menyelimuti Via yang tenggm dm pikiran. ¡°Rambutmu sangat indah, apa aku boleh mengepangnya?¡± tawar Willow saat Via terlihat tidak merespon sekitar. Dia hanya mendapat anggukan dan pandangan kosong. ¡°Kau memiliki kulit yang sehat. Apa air di kota membuat semua wanita terlihat semakin cantik? Membuatku iri saja,¡± ujar Willow membuat topik pembicaraan. Via tersenyum dan menggeleng pn mendengar kepolosan gadis muda itu. ¡°Tidak ada hubungannya cantik dengan air kota atau pun air di desa. Semua wanita itu cantik, hanya perlu merawat diri saja,¡± js Via pada Willow yang mi terkekeh mendengar perkataannya sendiri. ¡°Miss Flontin dan juga dirimu memiliki kecantikan yang tidak dimiliki gadis di desa. Sangat berks. Aku hanya iri ketika melihat kalian berdua, membuatku ingin merantau ke kota dan memi hidup baru di sana.¡± 10 Via menoleh ke arah Willow dan menatap gadis itu dengan pandangan sendu. Dia melihat dirinya sendiri pada Willow ketika masih remaja. Mimpinya saat itu sangah besar, merantau ke kota dan memi hidup baru sebagai gadis muda yang memiliki cita-cita sangat besar serta semangat membara seakan dia bisa menaklukan rintangan apa saja. Sungguh, Via lupa bahwa dia pernah senaif itu. Sekarang lihah dia, terpuruk di lubang paling dm, jauh dari impian dan cita-cita masa remaja dan bersembunyi di sebuah desa antah berantah, ¡°Kehidupan di kota sangat melhkan, kau beruntung bisa hidup di sini dan jauh dari lejamnya kota besar. Willow. Jika tuhan memberiku kesempatan kedua, aku ingin memutar waktu dan membuat diriku untuk memilih untuk tetap di desa dimana aku dibesarkan. Jauh lebih baik daripada harus hidup seperti ini, tanpa kepastian dan patah hati yang tidak ada obatnya.¡± Mata Via berkaca-kaca, dia menoleh kein arah dan menghapus air mata yang hendak luruh. Suaranya bergetar, susah payah menahan gtan emosi. Sungguh, dia sangat ingin untuk lupa, tetapi baru beberapa hari saja belu, waktu akan terus berjn dan sesekali mengingatkan keshan yang dia pernah buat. Willow mengelus kep Via penuh kelembutan. ¡°Maaf kan aku, sudah membuatmu menangis Miss Harper,¡± bisiknya merasa bersh. Kep Via menggeleng pn. ¡°Panggil saja Via. Dan ini bukan shmu, aku hanya telu emosional, mungkin bawaan bayi ini,¡± ujar Via berusaha menaikan suasana. Dia mengs senyum wu bibirnya bergetar, menk untuk mekar. 1 Willow pun bangkit dari kursi. ¡°Akan kubuatkan cokt panas untuk kita berdua. Tunggu sebentar.¡± Tubuh Willow menghng menuju dapur. Saat ith Via baru bisa mengh napas, mengatur perasaan yang berantakan. Hidupnya sudah kacau, dia tidak ingin menambahnya dengan mengingat yang sudah-sudah. ¡°Aku membuatkanmu sandwich.¡± Willow datang kembali dengan nampan di tangan. Aroma dari dua cangkir cokleat panas dan sepiring sandwich menggoda penciuman Via. ¡°Apa kau ingin menonton sesuatu?¡± tanya Willow sembari meletakan nampan di atas meja,lu menghidupkan televisi dan merubah channel yang ada. ¡°Hmm ¡­ hmmm,¡± gumam Via seakan tidak peduli. Dia sibuk menikmati sandwich dan cokleat panas buatan Willow yang nikmat, tidak sadar sejak tadi dia sangatpar. ¡°Sepupuku sedang mencari pekerja part time untuk bagian front office di rumah singgah yang dia kel, Miss Flontin bng kau juga sedang mencari pekerjaan sma di sini.¡± Via mengangguk dan meletakan gsnya kembali ke atas meja. ¡°Ya, aku memiliki tabungan tetapi aku tidak ingin memakainya, jadi aku butuh kerjaan untuk membiayai hidup di sini.¡± Sebenarnya Via memiliki uang yang cukup untuk membiayai persalinan dan juga kebutuhan bayinya sampai berusia lima tahun, tetapi dia tidak ingin menghabiskan uang tersebut karena untuk berjaga- jaga. Saat ini dia hanya punya dirinya sendiri, dan bayi dm perutnya membutuhkan uang yang banyak untuk tumbuh. Via tidak ingin bayinya kekurangan apa pun seperti yang dia mi saat masih kecil. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dan dia juga tidak akan meminta bantuan dari Disya. Sahabatnya sudah banyak membantu, saatnya Via berdiri dengan kaki sendiri, bahkan dia juga belum memberitahu Bibi Azura. Via takut bibinya akan menghina dirinya karena hamil, dan dia tidak sanggup mendapat caci maki dari sang bibi. Bayi dm perutnya tidak bersh, semua adh shnya sendiri, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. ¡°Kau mau aku membicarakannya dengan sepupuku?¡± Untuk sesaat Via menimbang-nimbang. Dia masih ingin meratapi nasib dengan tidur dan berms- msan, tetapi tentu saja dia tidak boleh mkukan itu. ¡°Baih, tetapi tanyakan padanya apa aku boleh meminta waktu satu minggu saja sebelum mi bekerja.¡± Willow tersenyum dan mengangguk setuju. ¡°Tentu saja, dia juga tidak sedang buru-buru, saat ini bukan musim libur.¡± Content ? N?velDrama.Org. Keduanya kembali diam dan menikmati diri masing-masing. Via dengan cokt hangat sedangkan Willow dengan suguhan acara di televisi. Beberapama keduanya diselubungi suasana khidmat hingga kemudian Willow mengganti channel dan acara di hadapan mereka berganti menampilkan berita tentang Sean Reviano. Tubuh Via membeku tiba-tiba dengan tangan memegang cangkir cokt yang menggantung d i udara ketika si pembawa acara menyampaikan sebuah kabar terbaru. ¡®Sean Reviano dikabarkan sebentargi akan mengadakanmaran. Hal ini dikonfirmasi dengan dibelinya cincin berlian dua karat dari Red Rubby, bahkan kabarnya sang billionaire tampan akan mengadakan pertemuan keluarga dengan Evelyn Madini di sh satu Resort milik keluarga Reviano. Mrs. Madini dan Mrs. Reviano terlihat bersama-sama memasuki sh satu butik baju pernikahan. Sepertinya kedua wanita berpengaruh tersebut sedang merencanakan pernikahan antara Reviano dan Madini disaat Sean dan Evelyn sibuk pemotretan pre wedding di Lake Michigan.¡¯ 1 Sebuah gambar cincin berlian yang sangat indah dan elegan terpampang diyar kaca, membuat Via menahan napas dan tangannya gemetar hebat hingga dia menurunkan gs cokt dm genggamanlu menaruhnya di meja. Gambar berganti dengan dua wanita berpakaian elegan dan mour memasuki butik diikuti beberapa paparazzi melemparkan pertanyaan pada keduanya di jn. Segerombn bodyguard berjas hitam berjaga di sekitar wanita-wanita itu. Tubuh Via lemas nyaris luruh kentai saat dia melihat beberapa foto Sean dan Evelyn berada d i danau dengan pose saling berdekatan, wu tidak saling bersentuhan. Wajah pria itu tampak bosan, tetapi memancarkan maskulinitas yang memiliki daya tarik luar biasa. Dia memakai jas hitam slim fit yang pas tubuh. Keduanya sangat serasi berada dm satu frame, semakin menghancurkan hati Via yang sudah pecah berkeping. ¡°Bisakah kau mematikan televisi, sangat berisik,¡± bisik Via dengan suara rendah dan bergetar menahan tangis. Melihat wajah pucat pasi wanita di sebhnya, Wilow pun mematikan TV. Gadis muda itu terlihat panik. ¡°Ada apa Via? Apa kau sakit?¡± Wilow berdiri dan menyentuh lengan Via yang dingin nyaris beku padahal suhu ruangan terasa hangat dari pancaran perapian. Via menggeleng lemah, memandang kosong padayar sma yang mati tiada siaran. ¡°Lh, aku hanya lh,¡± ucapnya sembari berdiri dengan tubuh goyah sehingga Wilow membantu dia berdiri. ¡°Aku antar ke kamar, b kau merasakan sesuatu kita bisa ke rumah sakit.¡± Kep Via menoleh ke arah Wilow, tetapi seakan tidak ada kehidupan di sana. ¡°Aku butuh waktu untuk sendiri.¡± Willow mengangguk, dan menuntun Via menuju kamar. Gadis itu bahkan tidak memiliki tenaga untuk berjn, sehingga Willow memberi bahu sebagai sandaran. Previous Chapter Next Chapter Chapter 13 Chapter 13 BAB 13 I Tubuhnya Hanya Sekecil Polong Willow menatap bingung pada televisi yang tidakgi berada di atas nakas. Dia melirik ke arah Via yang terlihat sibuk bjar cara merajut kaus kaki bayi. Gadis itu sedang konsentrasi penuh dengan gulungan benang di sekitar dan buku-buku bjar merajut berserakan dintai. ¡°Kemana televisi yang ada di sana?¡± Willow mendekat dan mengambil sh satu benang berwarna merah muda. Original content from N?velDrama.Org. Bahu Via mengedik sambil terus berupaya menjalin benang satu per satu. ¡°Aku menaruhnya di atap,¡± jawab Via tanpa menoleh. Wajah Willow berkerut bingung karena benda itu masih berfungsi dengan baik. Di rumah tua itu tidak ada hiburan untuk menghabiskan waktu kecuali menonton televisi, sehingga dia bingung hendak mkukan sesuatu. 1 ¡°Ada apa dengan televisi itu? Kemarin masih baik-baik saja.¡± Willow melirik ke luar jend saat dia mendengar suara mustang yang parkir di hman, sepupukikinya pasti sudah tiba untuk mengantar bahan makanan pesanan mereka. ¡°Entah, tidak meny pagi ini,¡± kata Via dengan suara datar, enggan menjskan. Melihat Via yang sibuk sendiri, Willow pun memutuskan keluar menyambut Asher yang berjn menuju teras. ¡°Sepupuku sudah tiba,¡± katanya sembari membuka pintu. Tidak ada suara dari Via yang konsentrasi dengan jarum dan benang. ¡°Hei, Ash,¡± sapa Willow menyambut kedatangan sepupunya. Asher tersenyum hangat dan masuk ke dm rumah. Dia berhenti di depan pintu dan menoleh ke arah Via yang duduk begitu anggun di atas kursi goyang. Untuk sesaat Asher terdiam, matanya tidak lepas dari Via yang tampak tenggm dengan dunia sendiri bersama gulungan benang dan jarum di tangan. ¡°Kau membawa pesananku?¡± tanya Willow yang berjn lebih dulu menuju dapur. ? Beberapa detik Asher menulikan telinga, tampak fokus pada Via dengan kening berkerut mempjari p di buku. ¡°Ash!¡± Suara Willow yang meninggi menyadarkan Asher kembali. Dia berdehem dan mengikuti sepupunya menuju dapur, wu ekor mata tetap mengawasi Via yang sama sekali tidak sadar dengan sekitar. ¡°Apa itu teman Disya?¡± tanya Asher begitu sampai di sebh sepupunya, menaruh kantung bnjaan di meja. ¡°Iva, namanya Via. Dia wanita yang kuceritakan ingin bekerja di penginapan. Apa kau lupa?¡± Willow mendelik tajam pada Asher yang menggaruk telinga. Dia benar-benar tidak mendengarkan saat Willow menjskan mm tadi. Jika saja dia tahu wanita itu secantik bidadari, pasth dia akan segera datang pagi ini. 1 Asher meringis dan memasang senyum penuh pesona yang biasa dia tebar saat membuat keshan. ¡°Mungkin hanya terlewat saja.¡± Kep Willow menggeleng pn, dan perhatiannya kembali pada bnjaan di atas kitchen ind. ¡°Kau tidak membeli crackers?¡± tanya Willow seth membongkar semua bnjaan yang Asher bawa. ¡°Ah, benarkah. Mungkin aku lupa,¡± kata Asher bersan karena dia memang tidak memasukan crackers dm list. ¡°Ash, Via tidak bisa makan ku tidak ada crackers. Dia butuh crackers untuk morning sickness,¡± js Willow terlihat kesal dengan kepikunan sepupunya. ¡°Morning¡­ sickness?¡± Asher merasa dia sh pendengaran. ¡°Iya, Via sedang hamil, dia butuh makanan asin seperti crackers sebelum menn apa pun.¡± Asher terdiam, memproses informasi yang baru saja dia dapat. Kepnya menoleh kembali ke arah ruang tengah dimana Via berada, tetapi dari tempatnya berdiri dia tidak bisa melihat gadis itu. Ada sedikit rasa kecewa, mengetahui bidadari itu sedang hamil dengan priain. ¡°Apa yang kaukukan?¡± desis Willow saat melihat sepupunya mencari-cari keberadaan Via.¡° Bersikah sopan, Ash.¡± ¡°Aku hanya ¡­.¡± Asher terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak seharusnya dia mkukan barusan. ¡°Ehem ¡­ maksudku, tidak ada apa-apa. Adagi yang perlu kubantu?¡± Willow mengibaskan tangan ke udara. ¡°Tidak ada, ini cukup, hanya crackers yang tertinggal. Apa kau mau kuperkenalkan dengan tuan rumah? Rasanya tidak sopan b tidak menyapa.¡± Lagigi Asher menggaruk telinga, entah mengapa dia merasa gugup. Sembari mengedikan bahu, dia mengikuti Willow ke ruang tengah. ¡°Via, perkenalkan ini sepupu yang kuceritakan kemarin,¡± ujar Willow yang berdiri di depan Via. ¡°Asher Ackerson.¡± Asher mengulurkan tangan ke arah Via. ¡°Viania Harper,¡± bs Via menyambut uluran tersebut. ¡°Maaf kan aku, tetapi ada urusan yang harus kukerjakan sehingga tidak bisa bemama,¡± kata Asher terlihat buru-buru hendak keluar. Via bermaksud untuk berdiri tetapi Willow menahannya. ¡°Biar aku saja yang mengantar Asher ke luar.¡± Sebuah senyum tipis tersungging di wajah rupawan Via, membuat Asher terperangah sesaat. ¡°Sampai jumpa nanti, Via,¡± ujarnya berpamitan. Keduanya berjn keluar. Willow mencubit Asher yang berdiri di dekat mustang. ¡°Jangan menatapnya seperti itu,¡± desis Willow terdengar gemas. ¡°Ouch, sakit,¡± geram Asher sembari mengelus lengan kiri yang berdenyut. ¡°Aku tidak mkukan apa- apa,¡± khnya. ¡°Apa kau pikir aku buta? Js-js kau tertarik dengan wanita hamil!¡± Asher mendelik pada Willow yang nyaris meninggikan suara. ¡°Dia wanita cantik, wajar saja aku tertarik. Hamil atau tidak, wajahnya tidak berubah jadi Ogre. Dia tetap cantik,¡± ujar Asher memb diri. Willow menarik napas dan berdoa untuk sabar. ¡°Dia sedang patah hati sehinggari ke Moines, jadi kumohon untuk tidak mengganggunya Ash. Kau memang pria idaman wanita di seantero Moines, tetapi kumohon untuk tidak mengganggu wanita satu ini.¡± Asher menggeleng pn dan tersenyum kecut pada sepupunya. ¡°Aku tidak akan mkukan apa pun, Willow. Aku janji.¡± I Asher mengangkat jari kelingkingnya ke udara dan Willow menautkan jari mereka. * 0 ¡°Pinky Promise,¡± ucap keduanya bersamaan. ¡°Jangan lupakan crackers untuk Via, Ash,¡± ujar Willow sebelum Asher benar-benar pergi. 1 Pria itu mengangguk, dan berjanji akan kembali dua harigi. Via menatap buku-buku di sekitar dengan pandangan bingung. Dia kesulitan meluruskan p buatannya menjadi kaos kaki. Bukannya kaos kaki yang dia buat, minkan sesuatu berbeda, berantakan tanpa aturan. Bahkan Via heran, bagaimana bisa kaos kaki itu berubah p menjadi topi kurcaci berbentuk segitiga. 2 Semangat membara yang pagi tadi berubah menjadi amarah, dia melempar benang di tangan dan menangis tiba-tiba. Perasaannya kacau bu, semua terlihat sh di mata, bahkan dia merutuki diri karena tidak mampu membuat p. Saat Willow kembali masuk ke rumah, Via pura-pura sibuk dengan rajutan tanpa bentuk yang tidak lamagi akan berada di tong sampah. Dia mengh napas frustrasi dan merebahkan diri di atas kursi. Lagigi ingin menangis tanpa san js mtarbkangi. ¡°Willow, aku ingin istirahat di kamar,¡± kata Via sembari bangkit dari kursi. Dia melirik ke dapur tempat favorit Willow menghabiskan waktu mencoba resep baru. ¡°Ok!¡± seru gadis muda itu tanpa menoleh ke ruang tengah. Via mengh napaslu bergegas menuju kamar, dia hendak berbaring namun terhenti saat melihat selembar foto Sean tergeletak dintai. Sepertinya dia lupa membakar yang satu ini. Tangan Via bergerak cepat mengambil foto yang terjatuh, bermaksud merobek menjadi dua, tetapi gerakannya terhenti saat matanya dan mata Sean pada figura tersebut beradu. Jemari Via mengelus lembut wajah rupawan Sean di atas kertas itu. Masih ada cinta bergetar di hati yang tidak bisa dia bohongi. ¡°Sungguh bodoh,¡± bisik Via dengan bibir bergetar menahan tangis. ¡°Kau sungguh bodoh, Via. Benar- benar bodoh,¡± tangisnya, tidak bisa merobek selembar foto yang tersisa. Satu-satunya kenangan Sean yang Via punya. 1 Tubuh Via luruh kentai, terduduk dengan pandangan redup menatap selembar photograph berisikan kenangan Sean yang terakhir. Sebh tangan Via menyentuh perut, sedang satunya menggenggam foto. ¡°Apa yang akan kukatakan pada anak ini, Sean? Apa yang harus kuceritakan tentang ayahnya pada anak ini,¡± bisik Via dengan suara parau. Tidak mungkin Via mengatakan pada anak mereka bahwa ayahnya tidak menginginkan keberadaannya dan meminta ibunya membunuh anak itu wu masih berbentuk janin. ¡°Ukuran tubuhnya hanya sekecil polong, Sean. Dia masih sangat rapuh butuh perlindungan. Mengapa harus kita membunuhnya? Apa kau tidak mau dia tumbuh?¡± Via terisak sembari mengusap perut. ¡°Ku kau memang tidak mau bersamaku, seharusnya katakan saja. Jangan membunuh anak ini, aku tidak menginginkan pernikahan b itu yang kau takutkan, aku hanya ingin anak ini hidup.¡± Kali ini Via merasa g berbicara pada selembar foto tak bernyawa. Tangisnya pecah diselingi senggukan. Via dapat merasakan yang ibu rasa semasa Via kecil. Mungkin ibu juga sama seperti Via saat ini ketika ayahnya menk untuk berada dm hidup mereka, bahkan ayah Via meninggalkan Ibu hanya untuk menikahi wanita yang lebih muda. Dia merasa takdir tidah adil karena nasib sama terng kembali. Dan: Bibi Azura pasti memiliki amunisi untuk lebih membencinya b tahu keadaan Via saat ini. 2 E B tuhan benar-benar ada, Via berdoa anak yang dhirkannya memiliki orang tua utuh, wu bukan bersama Sean. Dia hanya ingin anaknya tumbuh dengan ayah, siapa pun itu. Melihat foto Sean kembali, Via sadar dia butuh setidaknya satu figura untuk anak dm kandungan. Seburuk apa pun, anak itu butuh tahu siapa ayahnya, dan Via tidak sejahat itu melukiskan sosok Sean seh penjahat dm cerita. Bukankah, pria itu memiliki banyak kebaikan dm kenangan mereka, dan Via akan menceritakan satu per satu saat anak ituhir kk. Dia berhak tahu sosok ayahnya. Previous Chapter Next Chapter Chapter 14 Chapter 14 BAB 14 I Dia Menk Untuk Ingat Begitu bangun dari tidur, Viangsung beri ke toilet dan memuntahkan isi perut di closet, Tubuh Via terduduk dintai saat tidak ada yang keluar. Lama dia berdiam sebelum akhirnya mencuci mulut dan wajah. Seluruh persendian terasa sakit, membuat Via ingin berbaring barang satu dua menit. Suara ram membangunkan Via kembali, dia mengernyit heran mendapati waktu belu cepat. Rasanya dia hanya berbaring lima menit, tidak mengira sudah belu sma dua jam. ¡°Via? Apa kau baik-baik saja?¡± tanya Willow yang mengetuk pintu dari luar. Via pun bangkit dari kasur dan memeriksa wajah yang masih sembab. ¡°Aku akan keluar sebentargi,¡± jawab Via sembari berjn menuju kamar mandi hendak membersihkan diri. Di ruang makan semua menu sarapan sudah tersaji di meja. Willow terlihat sibuk membersihkan wajan dan panic di westafel. Ada rasa bersh melihat Willow bekerja sendiri, membuat Via sedikit tidak enak hati. 1 ¡°Maaf kan aku tidak membantu,¡± kata Via yang bergabung dengan gadis muda itu. Willow tersenyum dan membereskan cucian. 1 ¡°Tidak apa-apa, aku dibayar untuk ini,¡± ucap Willow seth mengeringkan tangan dengan serbet bersih. ¡°Kau dibayar untuk menjagaku bukan untuk bersih-bersih.¡± Gadis muda itu melirik ke arah Via. ¡°Aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta, begitu p dengan patah hati, tetapi melihatmu yang tersiksa. Aku berdoa semoga tidak pernah merasakan yang kau mi. Anggap saja tuhan mengirimkan seorang teman untuk membantu sma kau berkabung atas hatimu yang luka.¡± Willow menarik kursi dan menyuruh Via duduk. ¡°Banyak pjaran kudapat darimu, jadi jangan mengatakan sesuatu karena kau tidak enak hati.¡± Bibir Via mengulum senyum, wu tidah selebar biasa, tetapi dia bersyukur tidak mati rasa. This belongs to N?velDrama.Org: ?. Keduanya makan dengan khidmat, sesekali Willow mengatakan sebuah cerita tentang orang orang di desa yang Via dengarkan seksama. ¡°Kita bisa pergi ke pusat desa, dan berkeliling melihat-lihat, sekalian berkunjung ke penginapan tempat kau akan bekerja nantinya. Bagaimana?¡± Ajakan Willow terdengar menarik, tetapi Via masih merasa tidak enak badan. Dia ms wu hanya berkeliling saja. ¡°Mungkinin kali, aku masih tidak ingin keluar dm kondisi seperti ini.¡± Willow menatap Via simpati. ¡°Baih, tetapi aku ingin pergi ke rumah untuk menjemput beberapa baju. Kau ingin titip sesuatu?¡± Kep Via menggeleng pn. ¡°Bnjaan yang sepupumu bawa sudah cukup. Tetapi ¡­,¡± Via menggigit bibir hendak menanyakan sesuatu. Gadis muda di hadapannya mendengarkan dengan wajah penasaran. ¡°Aku ingin membeli mobil untuk kendaraan sm di sini. Apa kau tahu seseorang yang menjual mobil bekas? Karena aku tidak butuh mobil baru.¡± Kep Willow mengangguk antusias. ¡°Asher pasti tahu seseorang, akan kuhubungi dia b sampai di desa.¡± Via menyebutkan range harga dan spesifikasi mobil yang dia inginkan, dan Willow mencatat baik-baik di kep untuk disampaikan pada Asher nanti. Seth diskusi dan sarapan berakhir, keduanya bubar menjnkan kegiatan masing-masing. Via dengan rajutan yanggigi gagal, sedangkan Willow membersihkan dapur sebelum kembali png ke rumah. Sean duduk di sofa dengan kedua tangan menangkup wajah. Tubuhnya bergetar karena tarikan napas keras dan jantung berdebar tanpa irama, sedangkan Daren yang duduk di seberang hanya bisa menatap sahabatnya simpati. ¡°Akan kubantu mencari keberadaan wanita itu,¡± kata Daren mencoba meredakan Sean yang gelisah. Sudah beberapa hari Sean berprku bagai remaja tempramen dengan emosi tak terkendali. Bahkan karyawan di Luna Star heran mendapati sikap CEO mereka berubah menjadi pria pemarah tanpa disiplin seperti junjungan yang dipuja sma ini. 1 Tidak satu karyawan pun berani mendekat atau pun mendebat sma rapat. Terpaksa Daren harus turun tangan dan memngkan Sean dan mrang pria itu tidak bekerja dulu sebelum amarah mereda. Kep Sean terangkat, mata birunya berubah pekat saat menatap Daren yang duduk tenang di seberang ¡°Tidak perlu, dia sengaja pergi tanpa memberi tahu. Wanita itu tidak pantas dicari,¡± ucap Sean dengan suara berat baritone yang dm dan penuh emosi. 2 Sayangnya, Daren berpikir sebaliknya. ¡°Kau akan terus bersikap seperti ini, b pertanyaan di hati tentang san gadis itu pergi tidak terjawab. Aku mengenalmu dengan baik, Sean. Kau bisa berbohong tetapi matamu berkatain.¡± Sean mendenguslu berdiri dan berjn menuju pantry. Dia membuat kopi dan berusaha menenangkan diri. 1 Daren ikut berdiri tetapi menk untuk mendekati Sean yang sedang memupuk emosi. ¡°Aku benar-benar tidak tahu kau memiliki hubungan dengan wanita itu,¡± gumam Daren tanpa bermaksud Sean mendengar, Kep Sean semakin merunduk, menatap ke gs kopi di tangan. ¡°Kehidupan pribadiku bukan topik yang menarik.¡± ¡°Katakan itu pada ribuan copy majh dan berita di TV,¡± ujar Daren sembari mengh napas lh. Mata Sean melirik sahabatnya yang berdiri di ambang pintu pantry. ¡°Aku hanya ingin sedikit waktu, tetapi¡­,¡± ucapan Sean terhenti. Jemarinya meremas gs di tangan. ¡°Kau benar-benar pria paling keras kep yang kukenal.¡± Daren menggelengkan kep, dan beranjak dari sana. ¡°Sedari awal kau sudah tahu san gadis itu pergi karena pemberitaan yang ada, tetapi kau bersikap pura-pura. Sekarang aku yang akan mengatakan padamu; jangan cari wanita itu. Lupakan dia dan jni hidupmu,¡± desis Daren membalikan ucapan Sean yang tadi. Ada rasa marah di hati karena Sean tampak bimbang. Dia tahu sahabatnya masih memiliki sanin, tetapi Daren menk untuk tahu. Percuma berbicara pada manusia batu. Baru saja Daren hendak mngkah keluar saat tiba-tiba Sean menghentikannya. ¡°Ibu ingin aku menikahi Evelyn.¡± Tubuh Daren berputar kembali menghadap Sean yang bersandar di meja pantry. Kedua tangan Sean meremas sisi meja yang ada di balik tubuh. (1 Udara di Moines turun beberapa derajat hingga menyebabkan suhu ruangan menjadi dingin. Via berjn tertatih menuju perapian untuk menykan pemanas. Dia mendengar suara angin yang keras seh hendak membongkar setiap dinding pada rumah tua. Sesekali Via melirik ke luar mlui jend dekat ruang tengah. Jnan sepi tanpa satu kendaraan melewati. Perasaan Via berubah cemas, dia segera beri ke kamar untuk mengambil ponsel yang tertinggal. 2 Via kembali ke ruang tengah, menunggu gelisah di depan perapian yang meny. Kapan kau kembali?¡¯ Tanya Via pada Willow yang pastinya sibuk bersama keluarga di rumah. Barh Via sadari dia hanya sendiri b tidak ada Willow menemani. Bahkan, Via takut menghubungi Disya dan menambah beban pikiran sahabatnya itu. ¡°Seth badai reda aku akan segera ke sana.¡¯ Jawab Willow beberapa menit kemudian. Hati Via sedikit lega, wu masih dilingkupi cemas. Pandangan Via tertuju padayar ponsel yang meny. Demi untuk melupakan Sean, sengaja dia mengganti ponsel dengan yang barulu membuang miliknya yangma dmci lemari di apartemen milik mereka. Tanpa ponsel itu pun, Via sudah hapal luar kep dua nomor pribadi Sean, tetapi Via menk untuk memprogram ng nomor-nomor tersebut dm ponsel barunya. Dia menk untuk ingat. Previous Chapter Next Chapter Chapter 15 Chapter 15 BAB 15 I Kotak Cincin Dm Laci Apartemen yang baru saja Sean masuki terasa dingin. Tidakgi tercium aroma mentega dan manis kue panggangan yang dulu pernah menjadi kenangan. Langkah Sean begitu berat saat melintasi ruang tengah. Sengaja dia tidak menghidupkanmpu dan membiarkan suasana menjadi suram. Untuk apa? Bukankah jejak Via sudah hng sepenuhnya. Kaki Sean mngkah menuju kamar. Dia membaui udara, menghirup keharuman Via yang tersisa, tetapi indra penciumnya tidak menangkap apa-apa, menjadikan Sean kecewa. Matanya nanar menatap ranjang yang kosong. Sean berjn mengitari ruangan yang pernah Via tempati. Tangan Sean menyentuh setiap benda yang mungkin terdapat sidik jari Via. Tidak luput p permukaan kasur yang sepreinya baru saja diganti. Hatinya kecewa, karena hanya dingin yang Sean dapat dari setiap jamahan di sana. Sepertinya Daren benar; lupakan Via dan semua kenangan mereka. 1 Tetapi, melupakan sosok Viania bukah hal mudah. Ada sesuatu pada gadis itu yang seh mengikat Sean hingga membutakan logika. Bagai puzzle, Via adh satu potongan kunci yang melengkapi keseluruhan cerita. Perhatian Sean beralih padaci meja rias. Dia mengintip isinya dan menemukan ponsel Via yang mati. Matanya hanya menatap benda itu tanpa niat untuk menyentuh. Sean merogoh sakua. Sebuah kotak berwarna merah dari kain beludru berada dm genggaman. Dia membukanya, dan sebuah cincin berlian berdesign elegan memamerkan ku tatk diterpa cahaya purnama yang mengintip dari balik jend. Sebelum dia png ke rumah orang tua, Sean memesan cincin itu. Sengaja dia design sepenuh hati dengan tangan sendiri. Belum sempat dia berlutut, Via pergi dengan tega. Meninggalkan Sean hingga bertanya-tanya. Apa shnya? 1. Copyright N?v/el/Dra/ma.Org. Kotak berlian itu menutup kembali sebelum Sean melemparnya dmci lemari, bersebh dengan ponsel Via yang mati. Sean tutup rapatci itu, bertekad melupakan. Dia berharap, ini kali terakhir menginjakan kaki di sana. 2 Sudah saatnya dia menjni hidup tanpa Via membayangi. Waktu berkabung sudahma berakhir, ini saatnya Sean bangkit kembali. Melupakan kenangan mereka yang seharusnya berakhir di hari Via pergi. Sebuah mobil mustang berwarna marun memasuki hman. Willow dan Via melihat jend secara bersamaan. ¡°Kurasa Asher sudah menemukan mobil yang kau cari,¡± kata Willow sembari menyambut sepupunya di depan pintu. Via ikut menyambut Asher yang tersenyum ketika menatap pada kedua wanita itu. ¡°Heydies,¡± sapa Asher yang dijawab dengan dengusan Willow. ¡°Apa itu mobil yang kau bng?¡± tanya Willow, menunjuk mustang berwarna marun di hman. Kep Asher mengangguk mengiyakan. Dia mengeluarkan kunci dari sakua dan memberinya pada Via. ¡°Aku sudah memeriksa mesin mobil itu. B ada sesuatu, hubungi saja aku.¡± Via menerima kunci tersebut, dan memberi Asher senyuman tipis. ¡°Hari senin kau bisa mi bekerja. Ini jadwal dan juga tugas harianmu sma di Cherry Blossom,¡± kata Asher sembari menyodorkan selembar kertas pada Via. Mendengar nama penginapan milik pria di hadapannya, Via menyembunyikan senyum. Dia tidak mengira Asher menamai penginapannya dengan pohon sakura. 1 Wajah Asher memereh seketika, sadar bahwa Via menertawai dm hati saat mendengar nama pilihan untuk penginapan yang Asher miliki. ¡°Banyak yang bng nama bunga bisa mengikat wisatawan. Kunamai Cherry Blossom karena kebanyakan pengunjung adh wanita,¡± jsnya, padahal Via tidak bertanya. Sebelum sepupunya mempermalukan diri, Willow menepuk bahu Asher pn. ¡°Kau mau masuk atau tidak?¡± tanya Willow sedikit ketus. ¡°Nama Cherry Blossom memang indah, tetapi aneh b keluar dari mulutmu itu.¡± Mendapat delikan tajam dari wanita di sebhnya, Asher pun membs dengan delikan sama. Berani sekali Willow menghina penginapan yang Asher besarkan sejak masih beuk hamparan lang. Susah payah dia bangun dengan cucuran keringat,lu memberinya nama agar penginapannya seindah bunga sakura. ¡°Semakinma aku melihatmu, kau semakin mirip dengan grandma,¡± ujar Asher yangngsung mendapat pukn di bahu. ¡°Aku hanya mengantar mobil ke sini,¡± katanya sembari mengibas tangan Willow menjauhi bahu dan bagian tubuh yang slu menjadi sasaran tinju. Willow hendak bertanya bagaimana cara Asher png b dia meninggalkan mobil di sana saat terdengar suara kendaraan yang melintas di depan gerbang. ¡°Jemputanku sudah tiba,¡± kata Asher sembari menunjuk mobil berwarna hitam yang terparkir di depan gerbang. Dari jend pengemudi, Willow dapat melihat sh satu teman dekat Asher yang menjemput. ¡°Tunggu sebentar, aku ingin kau berikan kue buatanku untuk Tate,¡± ucap Willow yang buru buru menuju dapur. Via tertawa kecil melihat Willow menghng dari balik pintu. ¡°Dia membuat kue seharian, katanya kau dan teman-temanmu sangat suka makanan manis,¡± kata Via sembari mempershkan Asher masuk. Pria itu terlihat canggung begitu Via mengajaknya ke dm, tetapi dia tidak ingin menk ¡°Oh, aku hampir lupa mengucapkan terima kasih,¡±njut Via yang merapikan buku rajutan serta beberapa keranjang benang dan jahitan setengah jadi. Melihat aneka sepatu lucu, Asher pun mengambil satu dari keranjang. ¡°Kau membuat ini?¡± tanya Asher sembari memperhatikan sepatu rajut yang hanya muat dua jarinya saja. Via mengangguk dan mengs senyum. Dari lengkungan bibir wanita itu, Asher tahu Via tidak benar- benar tersenyum. Bahkan senyumnya tidak menyentuh mata, membuat Asher sadar bahwa Via tidak dm keadaan baik-baik saja. ¡°Aku tidak tahu apakah itu kek. Ini kali pertama aku menjahit sesuatu,¡± js V¨ªa sembari meringis saat melihat sekeranjang penuh kegagnnya yang tertumpuk di sudut ruangan. Mata Asher membt tak percaya ketika mendapati gunungan produk rajutan tidak berbentuk dm keranjang ¡°Kau yang membuat ¡­ itu semua?¡± tanya Asher memastikan. Willow yang baru saja kembali dari dapur tertawa melihat ekspresi sepupunya. Dia mendengar percakapan keduanya saat memasuki ruang tengah. ¡°Via betih seharian, d?n mengnggi dari awal sampai jadi sebanyak itu.¡± Tiga orang tersebut melirik kembali pada rajutan Via yang gagal. 1 ¡°Tetapi, ini sepatu yang lucu,¡± gumam Asher melihat rajutan sepatu bayi dm genggaman. 1 Sepatu itu lebih mirip gantungan kunci, tetapi dia tidak mungkin mengatakan itu pada Via. Bisa -bisa wanita itu membuang sepatu imut tersebut ke dm keranjang bebel gagal. ¡°Mungkin itu rajutanku yang ke empat puluh, dan satu-satunya yang berhasil.¡± Mendengar itu, Asher merasa lega th menahan lidah tidak menyuarakan isi hati. Bisa-bisa Via berpikir dia tidak berbakat merajut ¡­ wu sejujurnya wanita itu memang tidak berbakat sama sekali. Asher melihat ada kepuasan di wajah Via yang tadinya murung. Kini wanita itu mengs senyum tulus hingga melembutkan wajahnya yang rupawan. ¡°Apa kalian sudah berkunjung ke dokter?¡± tanya Asher sembari melirik perut Via yang datar. Willow dan Via menggeleng bersamaan. ¡°Aku akan membuat janji dengan dokter terdekat segera.¡± Kep Asher mengangguk setuju. ¡°Jika kau butuh teman untuk mengantar ke rumah sakit, aku memiliki banyak waktu. Sekarang pengunjung tidak begitu ramai,¡± katanya menawarkan. ¡°Terima kasih, tetapi Willow bisa membantuku,¡± tk Via halus. Tidak ingin membuat temannya menungguma, Asher pun pamit dan meninggalkan kedua wanita itu, tetapi sebelum dia berjn menuju hman, Asher berbalik dan menatap ke arah Via yang berdiri di ambang pintu. 1 ¡°Kau memiliki bakat merajut. Sepertinya bayimu membutuhkan selimut, sepatu saja tidak cukup,¡± katanya memberi semangat untuk Via mnjutkan rajutan. Wu sedikit berbohong, tidak ada shnya memberi dukungan. 1 Kali ini Via benar-benar mengs senyum hingga matanya bersinar, sedang satu tangan mengelus perut yang masih datar. Previous Chapter Next Chapter Chapter 16 Chapter 16 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 16 ¨C EDISI SPESIAL 16 ¨C Sean & Via Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di depan sebuah restaurant mewah, dan tampak beberapa mobil terparkir di sekitar. Suasana di dm mobil membuat Via sedikit gugup dan tanpa sadar dia menggenggam tangan Sean yang duduk di samping, sedang matanya fokus melihat keluar jend, pada valet yang bersiap menyambut kedatangan mereka. Sean melirik jemari Via yang meremas tangannya, seh gadis itu tidak tahu bahwa yang dia pegang adh tangan Sean. Merasa itu sebuah kesempatan, Sean pun membs dengan usapan lembut di sepanjang jemari lentik itu. ¡°Apa ¡­ ini benar tempatnya?¡± tanya Via dengan kep menatap sekitar. Dia merasa aneh karena parkiran itu hanya diisi beberapa mobil, seh tidak ada sesuatu perayaan atau keramaian menandakan sedang bengsung sebuah Event. Sean mengikuti arah pandang Via dan menjawab; ¡°Iya, ini benar tempatnya.¡± Ketika Via menoleh, barh dia menyadari bahwa sejak awal tangan mereka th bertaut. Dia pun menjadi tersipu dan hendak menarik tangan tersebut lepas. ¡°Maaf kan aku,¡± ucap Via dengan gugup. Namun, Sean tetap menahan genggaman mereka, membuat Via bingung harus berbuat apa. ¡°Tidak ada yang perlu dimintai maaf. Lihat, kita bisa berbagi panas tubuh mlui sentuhan ini.¡± Rasanya Via ingin menyembunyikan wajah, karena js sekali Sean menggodanya. Pria itu bahkan tetap menjaga ekspresi seperti mereka sedang membicarakan cuaca, padahal hati Via sedang berperang hendak melompat keluar memeluk pria di sebh. Karena tidak ingin membuat Via sh tingkah, Sean pun keluar dari mobil dan membantu membukakan pintu dari sisi wanita itu. ¡°Kenapa tempat ini sepi?¡± tanya Via sembari menerima uluran tangan Sean dan keluar dari mobil seth mengangkat rok bagian bawah gaun mmnya. ¡°Karena hanya orang-orang tertentu saja yang menghadiri Event, juhnya sangat terbatas,¡± js Sean sembari menuntun Via masuk ke dm. Wanita itu menatap sekitar dengan penasaran. Ini kali pertama dia memasuki sebuah restaurant dengan interioryaknya sebuah istana besar. ¡°Tempat ini sangat indah,¡± bisik Via dengan bergyut di lengan yang Sean sodorkan begitu turun dari mobil. ¡°Dulunya ini adh kediaman pribadi seorang milyuner, tetapi dia menjualnya seth terkena kasus pajak dan pemilik yang baru merubahnya menjadi restaurant, karena interior dan gaya bangunan ini sangat unik,¡± js Sean sembari berjn ke dm. Mereka disambut beberapa pyan dan keduanya diarahkan ke sebuah Hall. Terdengar musik mengalun indah begitu mereka melewati sebuah pintu prancis yang dibuka dari dm oleh seorang penjaga. ¡°Apa kau mau berdansa?¡± tanya Sean tiba tiba padahal mereka belum duduk dan melihat apa saja yang ada di dm sana, ¡°Tetapi ¡­ apa tidak sopan b kita tidak menyapa pemilik acara?¡± tanya Via dengan kep berputar ke seg arah, mencari seseorang yang memiliki ciri pemilik pesta. Sean tertawa pn dan membawa Via mendekati sepasang paruh baya yang berkumpul dikelilingi beberapa orang. B hitungan Via benar, maka juh orang-orang yang menghadiri tempat itu tidak lebih dari tiga puluh. Apa itu acara privat? Batin Via sembari menatap wajah-wajah tamu undangan yang menyebar dm ruangan. Mungkin saja dia mengenal mereka, artis terkenal misalnya. ¡°Oh, Mr. Reviano!¡± sapa seorang pria dengan tubuh tambun dan kumis tebal nyaris menutupi mulut. Sean menjabat tangan pri tersebut dan juga wanita paruh baya yang berdiri di sebhnya. ¡°Senang berada di sini, Mr ¡­¡± Sean tampak berpikir seh-h lupa nama pria di hadapan, padahal dia memang tidak tahu. ¡°Mr. Hilton,¡± jawab pria itu sembari tertawa, seh hal itu lucu. ¡°Ya ampun, kita baru saja bertemu seminggu yanglu, Mr. Reviano,¡± ¡°Ah, benar, Mr. Hilton. Telu banyak nama yang harus kuingat,¡± ucap Sean membual. Pasangan itu pun beralih pada Via dan memperkenalkan diri mereka ¡°Ah, aku tidak mengira bisa bertemu dengan anda, Mrs. Reviano,¡± kata pria paruh baya yang membuat Via tercekat sedang Sean terbatuk. Via hendak meluruskan saat Sean berkata; ¡°Aku senang bisa bertemu denganmugi, Mr. Hilton, tetapi sayangnya aku ingin berdansa dengan wanita cantik yang menggenggam lenganku menggunakan iringan musikini.¡± Via tersipu karena Sean memujinya terang-terangan di depan semua orang. Seketika orang-orang di sekitar mereka mendengarkan suara musik instrumen yang memainkangu Perfect dari Ed Sheeren. R¨ºAdt??St chapters at Novel(D)ra/ma.Org Only ¡°Baih, aku tidak ingin mengganggu pasangan muda yang kasmaran. Shkan¡­ shkan,¡± kata pria itu sembari tertawa seh mengingat masalu diikuti kerlingan mata pada wanita paruh baya di sebh. Rona merah di wajah Via semakin pekat, membuatnya ingin mencari air untuk mengguyur pipi yang terasa memanas. Dia pun melirik ke arah Sean yang tersenyum sumringah pada pasangan itu, tanpa sekali pun membenarkan dugaan yang sh. Kep Via tertunduk malu ketika kedapatan memperhatikan Sean yang tersenyum dengan lesung pipit menyembul di kedua pipi, namun kep wanita itu terangkat kembali ketika Sean mengulurkan tangan dan mengajak Via untuk berdansa dengannya, membuat Via tidak mampu berkata-kata karena ada banyak mata menatap ke arah mereka. Dengan wajah semerah delima, Via pun menerima ajakan tersebut. Seketika Sean membawa mereka kentai dansa. ¡°Kenapa kau tidak mengatakan pada pasangan itu bahwa aku hanya bawahanmu?¡± tanya Via seth Sean memutarnya sebanyak dua kali. Sean hanya tersenyum dan mengayunkan tubuh mereka bersamaan, mengikuti irama musik yang mengalun merdu dari piano dan bi. ¡°Tidak perlu. Aku tidak ingin menambah topik pembicaraan,¡± ucap Sean yang membuat Via bungkam. ¡°Sebenarnya acara apa ini?¡± bisik Via sembari melirik ke arah pasangan paruh baya yang kini berpindah ke meja hidangan Wajah Sean mendekat tepat ke telinga Via, membuat tubuh mereka semakin rapat. ¡°Hanya pertemuan biasa sesama rekan bisinis,¡± jawab Sean membuat-buat san. Sebenarnya, dia tidak mengenal orang orang yang hadir. Brodi sengaja menyewa actor teater, sehingga penyamaran mereka tidak akan mudah terbongkar. Saat musik berganti menjadi lebih mellow, Via pun membaringkan kep di dada pria itu, sedang tubuh keduanya berayun pn ke kanan-kiri mengikuti irama. Hanya dengan satu isyarat, semua orang di sekitar meninggalkan Hall satu per satu, menyisakan Sean dan Via yang berdansa di tengah tengah ruangan, tepat di bawah chandelier yang berku diterpa cahaya. Kedua lengan Via memeluk leher Sean, sedang tangan pria itu memegang pinggul Via dengan sangat hati-hati. Tanpa sadar Via mendesah puas, karena suasana sekitar begitu nyaman dan damai. Ditambah hangat tubuh Sean yang membungkusnya dm dekapan. Dada pria itu juga membuat Via ingin bema- lama membaringkan kep. Apagi wangi tubuh dan parfumnya yang maskulin bercampur jadi satu, membuat Via mengendus jas Sean diam diam. ¡°Apa kau baru saja mengendusku?¡± tanya Sean yang membuat Via malu dan semakin membenamkan wajah. Mendengar tawa lepas pria itu. Via pun Mendengar tawa lepas pria itu, Via pun menepuk dadanya pn. ¡°Maaf¡­ maaf, seharusnya aku tidak tahu dan diam saja. Sudah, teruskangi, aku tidak keberatan,¡± goda pria itu yang semakin mendapat pukn gemas. ¡°Lihat, aku juga mkukan hal yang sama,¡± ucap Sean pn sembari menghirup dm-dm leher Via hingga wanita itu terkesiap dan mh menahan napas. ¡°Sekarang kita impas,¡± bisiknya di telinga Via yang berubah warna semerah bata Sebelum mengakhiri dansa, Sean meninggalkan satu jejak ciuman di bawah telinga Via paling bawah, yaitu sisi leher sebh kanan hingga terlihat samar -samar merah di kulit putih porselinnya. Sampai makan mm pertama mereka berakhir, tidak sekali pun Via sadari bahwa Sean th menaruh tanda kepemilikan di tubuhnya. Bahkan, wanita itu membawa bekas ciuman tersebut hingga mereka kembali ke apartemen. Previous Chapter Next Chapter Chapter 17 Chapter 17 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 17 ¨C EDISI SPESIAL 17 ¨C Via & Sean Sekembalinya dari Hotel Luna Star, Via membereskan barang-barang ke dm tas yang dia bawa beberapa waktulu. Urusannya di sini th selesai, dan tidak ada san baginya untuk tetap di apartemen Sean. Nanti akan dia pikirkan seth sampai di apartemen pribadi bagaimana cara menghangatkan diri sebelum pemanas ruangan berfungsi kembali. Merasa semuanya th beres di dm tas, Via pun meninggalkan ruangan. Sebenarnya, Via ingin mengatakan pada Sean mlui pesan singkat, tetapi dia tidak ingin mengganggu pria itu. Terlebihgi; Via tidak mau tenjur menjadi nyaman di apartemen bosnya. Entah mengapa rasanya sh, seh dia memanfaatkan keadaan. Saatngkahnya sudah mencapai lobby, tiba-tiba saja ponsel Via berbunyi dan melihat nama Sean tertera diyar, namun dia mematikan benda itu karena tidak ingin Sean menanyakan apa yang sedang Viakukan. Denganngkah terburu-buru, Via pun berjn melewati kerumunan untuk menaiki kereta. Sesampainya di apartemen,gigi wanita di sebh kamar menyapa. ¡°Hey, aku tidak melihatmu sma beberapa hari,¡± kata wanita itu sembari menyembulkan kep dan hanya menunjukan setengah badan di luar pintu. Via tersenyum tipis dan menjawab; ¡°Aku sedang ada pekerjaan sehingga menginap di luar.¡± Wanita itu menutupi mulut dengan tangan. ¡°Benarkah? Terakhir kali aku melihatmu dengan seorang pria.¡± ¡°Oh ¡­ ya, dia ¡­ teman kerja,¡± jawab Via kikuk, karena dia tidak ingin menambah topik pembicaraan. Wanita itu masuk kembali ke kamar dan seperti biasa, berteriak keras ketika hendak memberitahu Via tentang pemanas ruangan. ¡°Pengel gedung bng pemanasnya akan kembali berfungsi lima harigi!¡± Yang sama sekali tidak membantu Via, karena itu artinya dia harus tersiksa sma berhari-hari. ¡°Terima kasih,¡± bs Via sembari mengunci pintu kembali. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Via pun mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, dan saat ith dia menyadari betapa sepi hidup yang dia jni. Ingin rasanya Via menghubungi Disya, tetapi temannya itu masih sibuk di Coffe Shop jam segini, dan dia juga tidak bisa berbicara pada Ibu karena masih berada dm perawatan rumah sakit. Membayangkan Bibi Azura akan menceramahi panjang lebar, Via pun memilih untuk tidak menghubungi lebih dulu sebelum wanita paruh baya itu yang memi. Content ? N?velDrama.Org. Ditengah-tengah pikiran yang penuh, Via pun mendengar suara ketukan di pintu. Matanya terpejam, dan dia berdoa semoga itu bukan Sean. Namun, Tuhan sepertinya sedang ingin menguji, karena dari balik ch kusen yang retak, Via dapat melihat sosok Sean berdiri di depan dengan tangan berada dm sakua. Sebelum mempershkan pria itu masuk ke dm kamarnya yang sebesar kotak sepatu, Via pun menarik napas lebih dulu, menata hati dan merapikan diri,lu kemudian betih memasang senyum professional yang biasa dia berikan pada pnggan di Coffe Shop. ¡°Hay,¡± sapa Via begitu pintu terbuka, namun bukan mendapat bsan, pria itu mh menatap Via dengan masam. Ada raut kecewa di balik manik mata birunya, menyurutkan senyum Via seketika. ¡°Aku mencoba menghubungi berkali kali,¡± kata Sean dengan nada bertanya apa yang sebenarnya terjadi. ¡°Tapi kau mengabaikan panggnku sebanyak itu p.¡± Kep Via menunduk karena tidak kuat memandang mata Sean teluma. Entah mengapa dia ikut merasa kecewa. ¡°Maaf, aku¡± Belum sempat Via menjskan, Sean pun mengangkat kepnya untuk menyamakan level mata mereka. ¡°B kau merasa yang kkukan kemarin sudah melewati batas, setidaknya beritahu aku. Jangan pergi tanpa mengabari.¡± Perkataan Sean membuat Via membuka mulut hendak bertanya, namun dia terdiam sesaat dan memikirkan bagian mana yang Sean maksud. Sebuah ingatan ketika pria itu mengecup lehernya hadir kembali, mengakibatkan wajah Via berubah semerah cherry. Bahkan dia baru menyadari bukti kepemilikan pria itu begitu memasuki Hotel. Sh satu staff wanita dari bagian keuangan meminjamkan Via kosmetik untuk menutupi memar merah yang benar-benar memalukan, karena banyak yang menanyakan bagaimana mm panas yang dia habiskan semm. ¡°Ma-maksudku bukan begitu,¡± kata Via terbata, hendak meluruskan, namun ternyata Sean masih sh sangka. ¡°Aku tahu sudah menyentuhmu tanpa permisi, tetapi aku memang tidak bisa menahan diri.¡± Ucapan pria itu semakin membuat Via terperangah, bahkan dia kesulitan berkata-kata ketika Sean mnjutkan. ¡°Seharusnya aku mendekatimu sebagaimanakiki mempekukan pasangan yang hendak dia jadikan kekasih, tetapi aku telu tidak sabar.¡± Sean mengelus wajah Via yang berdiri kaku seperti manekin. Wanita itu js sekali terlihat shock dengan pengakuan barusan. Mulutnya bahkan membuka dan menutup sepeti ikan kehabisan air. Untuk sesaat Sean menarik napas dan menghembuskan pehan, tampak seperti pria bersh th mkukan suatu dosa. Tanpa sadar Via menyentuh lengan pria itu, namun tetap saja pita suaranya seakan berpuasa untuk bicara sehingga dia tidak mampu berkata-kata. Merasakan sentuhan yang Via beri, Sean pun membawa jemari lentik itu ke bibir. Jika saja pria itu tahu betapa kuat detakan jantung Via yang hendak meledak, mungkin Sean akan berhenti saat itu juga. Sembari menatap Via dengan mata birunya yang pekat, Sean pun berbisik. ¡°Jika kau ingin memiliki affair denganku, hubungi nomorku. Tapi aku tidak bisa menjanjikan padamu komitmen, pernikahan dan ¡­ kehamn.¡± Seketika keduanya terdiam, namun Sean mnjutkan; ¡°Aku memiliki reputasi yang harus dijaga, namun b kau merasa bisa menjnkannya denganku dengan rahasia, aku akan menunggu jawaban darimu.¡± Sean mundur satungkah, sedang matanya tidak lepas memandang gadis di hadapan. Sebelum menghng dari pandangan Via, Sean pun membuka jas panjang yang membalut tubuh dan menyelimuti Via dengan benda itu, kemudian mendaratkan satu kecupan lembut di dahi. ¡°Kuharap kau dapat memutuskan, karena aku menunggu,¡± ucapnya sebelum berjn pergi menuju tangga, meninggalkan Via yang masih terpaku karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia pun menyentuh dahi, dimana bekas kecupan Sean masih terasa hangat, sedang kepnya berputar-putar kebingungan. Setidaknya Via butuh penjsan, namun seakan Sean tidak memberi kesempatan danngsung melempar pertanyaan. Lalu, bagaimana Via harus memikirkannya b dia sendiri tidak mengerti hubungan seperti apa yang Sean cari. Previous Chapter Next Chapter Chapter 18 Chapter 18 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 18 ¨C EDISI SPESIAL 18 ¨C Sean & Via Tatapan Sean fokus pada CCTV yang menampilkan kegiatan Via di ruang kerja pribadi wanita itu. Tidak sedikit pun matanya mengedip, sedang satu tangan di atas meja bergerak dengan irama seperti bunyi tapak kuda. Ketika Via beranjak dari kursi dan keluar ruangan, Sean segera menggantiyar dengan CCTV di setiap koridor yang dluinya. Tampak Via menyapa beberapa karyawan dan berhenti sebentar untuk sekedar berbicara. Melihat rutinitas wanita itu yang sudah hapal di luar kep, Sean pun mengalihkan perhatian pada pekerjaan di meja dan menyeruput kopi hitamnya sembari sesekali melirik keyar CCTV. Kali ini Via bergerak menuju ke arah pantry, dan mata Sean tetap mengikuti, namun cangkir dm genggamannya terhenti di depan bibir ketika melihat seseorang ikut masuk ke pantry tepat dibkang wanita itu. Via merasa haus tiba-tiba dan dia lupa membawa botol minum ke ruangan. Seth menyapa senior-seniornya, Via pun memilih untuk tidak bemama untuk berbicara, karena dia masih sangat canggung. Untung saja di pantry tidak ada siapa-siapa sehingga dia merasa sedikit lega. Segera Via membuat teh dan mengambil beberapa cemn yang terhidang di meja,lu mencicipi dua potong saja. Suara pintu yang dibuka membuat Via menoleh ke sumber suara, dan seorang seniorkiki dari Departemen Pyanan memasuki ruangan sembari mengs senyuman. Sebelumnya Via pernah diperingatkan oleh Amber bahwa pria itu memiliki tabiat yang tidak baik pada anak baru, terutama wanita, sehingga kewaspadaan Via meningkat tiba-tiba. ¡°Hey,¡± sapa pria itu sembari mendekat dan membuat teh di sebh. Merasa risih karena ruang privasinya diintervensi, Via pun bergeser satungkah ke samping, tapi ternyata pria itu mengikuti sembari bersiul seh hal barusan tidak terjadi. ¡°Ha ¡­ hay,¡± bs Via gugup. Dia melihat ke arah pintu berkali-kali dan berharap seseorang masuk ke dm ruangan. ¡°Aku mendengar kau baru bekerja di sini sma beberapa hari,¡± kata pria itu membuka topik pembicaraan, namun Via mi merasa tidak nyaman sehingga dia hanya mengangguk saja. ¡°Oh, ya, aku lupa memperkenalkan diri,¡± ujar pria itu sembari menjulurkan tangan. ¡°Namaku Devan.¡± Ragu-ragu Via menerima jabatan tangan tersebut, namun karena tidak ingin terlihat sombong, dia pun menjabat dengan berat hati. Dan benar saja, pria itu memegangi tangan Via bemama, membuat dia risih dan bersusah payah menarik tangan yang terperangkap dm genggaman Devan. ¡°Mmm ¡­ Pak Devan, aku ingin mengaduk teh, tapi ¡­¡± Via melirik ke arah tangan mereka, sebagai isyarat dia menginginkan tangannya kembali. Pria itu bahkan tampak tidak peduli dan mkukannya bemama dengan senyum creepy yang membuat Via inginri. ¡°Sepertinya, memanggilku Devan saja sudah cukup. Kata ¡®Pak¡¯ mh membuatku merasa ada jarak di antara kita,¡± goda pria itu sembari mengelus tangan Via dan mendekatkan diri sampai wanita itu terpojok ke sudut lemari pantry. Via mencoba mendorong tubuh Devan agar memberinya ruang untuk mrikan diri, tetapi pria itu mh semakin mendekat. ¡°Senang bertemu denganmu,¡± dusta Via dengan hambar. ¡°Tetapi aku ingin keluar, permisi,¡± kata Via hendak berkelit, namun pria itu mh mengurungnya dengan dua tangan ke meja. ¡°Oh, sebentar, sepertinya ada benang di bahumu,¡± ucap pria itu sembari mendekatkan wajah dan berpura-pura hendak mengusap pundak Via, namun suara bantingan pintu membuat mereka terlonjak dan memisahkan keduanya secepat mungkin. Mata Via membt begitu melihat CEO Luna Star memasuki pantry dengan kedua tangan berada di sakua, sementara pandangannya fokus pada pria yang terlihat sh tingkah dan kesulitan menn saliva tepat di samping Via. Wajah Sean Reviano tampak datar tanpa ekspresi, namun jauh di dm sana dia kesulitan mengontrol emosi. Cukupma ketiganya terdiam, tetapi hanya Sean yang berani memperhatikan dengan terang-terangan, sementara itu Devan terlihat inginri, sedang Via lebih seperti berusaha mengkerutkan diri. Merasa gugup, Via pun menundukan kep, terutama ketika mata biru Sean Reviano beralih memperhatikannya. Suasana tegang di sekitar ruangan buyar seketika, saat tiba-tiba Altha memasuki Pantry dengan sepatu hak tingginya yang bising saat beriri ke dm. ¡°Pak CEO! Kopimu sedang dipesan, anda tidak perlu harus jauh-jauh ke pantry. Dan sejak tadi Mr. Jared menunggu di Lobby,¡± js Altha dengan napas tersengal karena mengejar Sean yang bern cepat bagai kt. Wanita mng itu bahkan sampai membungkuk dan memegangi perut. Sean menoleh ke balik bahu, pada sekretarisnya yang bawel. Untung saja dia wanita pekerja keras dan slu membantu Sean disaat- saat yang tepat, sehingga posisinya dapat dipertahankan, tetapi suara berisik sepatu hak tingginya terkadang membuat Sean ingin membenturkan kep ke meja kerja. Seharusnya dia perintahkan saja wanita itu pergi mencari benda-benda pra sejarah di luar sana agar tidak diinterupsi, sehingga Sean memiliki banyak waktu ketika mendatangi pantry. Seth napasnya normal kembali, Altha pun mengakkan tubuh dan menatap pasangan di depannya dengan tatapan heran. ¡°Apa kalian berpacaran?¡± tanya Altha tanpa filter pada Devan dan Via, membuat Sean mendengus keras yang mengakibatkan dua wanita itu tersentak kaget. ¡°Astaga, Pak CEO, mood anda yang dapat berubah-ubah seperti badai ketika kekurangan asupan nutrsi benar-benar butuh diperbaiki,¡± tambahnyagi sembari mengambil beberapa cemn yang terhidang di meja. ¡°Maaf kan pertanyaanku tadi, kupikir kalian sangat dekat karena rona merah di pipi masing masing.¡± Mendengar itu, Via pun menjadi lebih gugup hingga tangannya berkeringat. ¡°Altha,¡± panggil Sean dengan nada suara yang dingin, mengakibatkan sekretarisnya mengutuk diri karena sudah telu banyak bicara. ¡°Pergi temui Jared ke ruang pertemuan, dan temani dia sampai aku kembali.¡± Mendengar perintah atasannya itu, Altha pun segera memindahkan cemn di meja ke piring dan keluar ruangan secepat mungkin. Seth suara hak sepatu tingginya terdengar samar-samar, barh Sean menatap Devan dengan tatapan tajam kembali. ¡°Miss Harper,¡± panggil Sean dengan lembut, jauh berbeda dengan nada yang digunakan ketika berbicara dengan Altha barusan. ¡°Kembalh ke ruanganmu.¡± Dia melirik Via sama lembut dengan suara, dan tatapannya beralih tajam ke Devan begitu mendapati senyuman manis terukir di wajah wanita itu. Sebelum keluar melewati Sean, Via merasakan sentuhan hangat di lengan, dan kepnya sedikit terangkat pada pria yang menatap lurus ke depan. Meski pekuan pria itu tidak begitu kentara, dan hanya dikethui mereka berdua, namun jauh dm lubuk hati Viamerasa namun jauh dm lubuk hati Via merasa terlindungi, karena secara tidakngsung sentuhan itu mengisyaratkan sebuah pesan yang bermakna; ¡®Aku di sini, bersamamu, jangan takut.¡¯ Seth pintu di bkangnya tertutup, barh Sean mendekati Devan yang sejak tadi berdiri mematung dengan pita suara tercekat. Pria itu menyadari bahwa Sean mendapatinya tadi dm posisi yang patut dipertanyakan, bahkan wajah marah yang tersembunyi dibalik topeng poker facenya memancarkan aura sesak menakutkan. ¡°Itu tadi¡­¡±Copyright N?v/el/Dra/ma.Org. Belum sempat dia bersuara, sebuah pukn mendarat di pipi Devan yang mengakibatkannya tersungkur kentai. ¡°Bereskan barang-barangmu dari meja kerja, dan mpoh pada HRD untuk mengurus pemecatanmu. B kau ingin mengadukanku pada polisi karena pukn barusan, aku juga tidak akan segan membuatmu kehngan sumber penghasn, dan juga ¡­ CCTV di sudut ruangan merekam js apa yang baru saja terjadi saat kau melecehkan karyawan wanita,¡± kata Sean dengan rahang mengeras dan amarah yang tercetak js. Hng sudah wajah kalem dan tenang yang dia tunjukan di depan Via barusan. ¡°Jangan meremehkan ucapanku barusan, dan keluah dari tempat ini dengan menutup mata serta mulutmu b kau tidak ingin kesulitan di masa depan.¡± Sean tahu Via pasti tidak akan memperpanjang mash sampai ke kantor polisi, dan satu-satunya yang bisa diakukan adh membuat hidup pria di hadapannya mendapat bsan setimpal. Sh satu caranya adh membuat beberapa perusahaan menkmaran kerja yang hendak Devan masuki, serta menaruh pria itu di daftar hitam jaringan HRD seluruh Amerika. Devan menatap Sean dengan mata marah, namun dia diam saja sembari memegangi pipi yang terluka dengan satu tangan, sedang satunya mengepal di atasntai yang menjadi sandaran. Sesaat dia menoleh ke arah CCTV dan barh Devan menyadari benda itu tertanam di sana, karena sma ini tidak pernah ada CCTV di ruang pantry, hanya koridor dan beberapa ruangan saja. Mata keduanya saling mengunci, tetapi Devan lebih dulu menundukan pandangan, tahu bahwa dia berada di posisi yang kh. Tanpa mengatakan apa-apa, Sean pun belu ke luar pantry. Dia diam sejenak di depan pintu, sedang matanya menatap kanan dan kiri bergantian, seakan berat memutuskan; menemui Via atau mnjutkanngkah ke kantor pribadi. Satu kakinya mngkah ke kiri, namun secepat itu p dia berputar arah ke kanan, karena saat ini bukan waktunya menyusul wanita itu. Previous Chapter Next Chapter Chapter 19 Chapter 19 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 19 ¨C EDISI SPESIAL 19 ¨C Via & Sean Jantung Via masih berdebar, dan dia kembali ke ruangan dengan perasaan masih diselimuti takut. Bahkan sebuah pertanyaan singgah di kep; bagaimana b Devan masuk ke dm? Karena tidak ingin seseorang memasuki ruangan kerjanya secara tiba-tiba, Via pun mengunci pintu, dan berharap bosnya, Hadley, tidak bertanya. Begitu duduk kembali di kursi, Via berusaha untuk fokus menyelesaikan dokumen-dokumen di komputer, tetapi tetap saja dia gelisah dan tidak tenang sehingga mencari remot AC untuk menurunkan suhu ruangan agar lebih segar. Sebuah bunyi ping tanda pesan masuk ke ponsel menyadarkan Via seketika. Firasatnya mengatakan bahwa Seah si pengirim. Sean: Apa kau baik-baik saja? Lama Via mematung ketika membaca pesan yang tertera. Dia mengetik beberapa kata,lu menghapusnya kembali, bingung hendak mengatakan apa. Jari Via pun terhenti saat dia ingin mengatakan ¡®tidak baik-baik saja¡¯ dan seketika Via menaruh kep di atas meja dengan ponsel berada di sampingnya tanpa membs pesan tersebut. ¡°Aku harus menjawab apa?¡± gumam Via sembari memegangi rambut hingga berantakan. Js sekali tadi Sean melihat posisi mereka, dan tidak mungkin Via mengatakan dia baik-baik saja padahal vomoditarima hamamdh yang dia terima barusan adh pelecehan seksual. Dm keadaan gelisah tersebut, dia pun menerima pesan dari Seangi. Sean: Aku meminta Hadley untuk memberimu izin png. Beristirahah sma dua hari. Kep Viangsung terangkat begitu dia membaca pesan itu. Sembari menggigit bibir, Via pun hendak membs dengan tidak usah¡¯ tetapigigi jarinya membeku di udara. Suara ketukan di pintu menyentak tubuh Via, membuat ponsel di tangannya hendak melompat dari genggaman. Menyadari tadi dia mengunci pintu dari dm, Via pun segera bangkit dari kursi dan membukanya sembari mengs senyum seh tidak terjadi apa-apa. R¨ºAdt??St chapters at Novel(D)ra/ma.Org Only ¡°Pak Hadley,¡± sapa Via dengan membuka pintu lebar-lebar. ¡°Aku mendapatporan dari Pak CEO tentang apa yang terjadi di Pantry,¡± ucap Hadley yang melunturkan senyum Via seketika. ¡°Apa kau ingin membicarakannya? Kami memberimu opsi untuk mporkan kejadian ini ke kantor poli¡± 2. Seketika Via menggelengkan kep dengan cepat dan mengatakan ¡®tidak¡¯ dengan nada sedikit histeris. ¡°Tidak perlu Pak Hadley! Benar-benar tidak perlu.¡± Mendapati mata Via yang membt diikuti shock, Hadley pun merasa bersh th menyampaikan pesan tersebut dengan posisi berdiri. ¡°Ku begitu ¡­ aku ingin kau png saja dan biar kami yang mengurus semua,¡± ucap Hadley sembari menyerahkan sebuah bingkisan. ¡°Pak CEO merasa bersh karena kau mengmi ini di minggu pertamamu bekerja.¡± Awalnya Via hanya menatap bingkisan yang disodorkan padanya, namun melihat raut wajah Hadley yang tampak bersimpati, membuat Via segera menerima benda itu dengan gerakan ragu-ragu. ¡°Ini bukan sh Pak CEO, tidak seharusnya dia memberiku_¡±} ¡°Anggap saja sebagai kompensasi. Kau tenang saja, kami akan menyelesaikan mash ini.¡± Via melirik bingkisan itu sebentar,lu menatap Hadley bergantian sebelum akhirnya dia mengangguk dan UMRI¡­ HALUAVADUDDHAULA. menerimanya dengan senyuman. ¡­¡­¡­¡­.. Begitu sampai di apartemen, Via terduduk di atas kasur dengan ponsel bermain di tangan. Dia menatapyar ponsel lekat, seakan berharap seseorang menghubungi, yang tidakin adh Sean. Namun dia harus menn kecewa karena pria itu tampaknya sedang sibuk dan tidakgi menanyakan kabar Via saat ini. Seth pikirannya tenang kembali, barh Via menyadari bahwa Sean masuk ke dm ruangan Pantry disaat yang tepat, seh-h pria itu memiliki telepati bahwa Via dm keadaan bahaya. Dan bukankah, ruangan direksi berbeda dengan gedung pantry? Untuk apa dia sampai ke sana, mencari kopi? Karena tidak ada yang bisa diakukan, Via pun memilih untuk mandi dan tidur secepatnya. Baru saja dia hendak berbaring seth mengeringkan rambut, saat tiba-tiba ponselnya berdering dan nama Sean muncul diyar. Sean: Apa kau sudah makan? Via ingin tertawa membaca pertanyaan sik yang biasanya dilontarkan setiap pria. Via: Sudah, baru saja. Dia menunggu bsan, namun teringat akan bingkisan, Via pun mengirim pesan susn. Via: Terima kasih atas pemberianmu tadi. Sebenarnya, itu tidak perlu. Poborna datil zamudian sann Beberapa detik kemudian Sean memberikan jawaban. Sean: Anggap saja aku mentraktirmu karena insiden sebelum jam makan siang. Bsan tersebut membuat Via teringat kembali pada kejadian tadi, dan senyum di wajahnya sedikit pudar. Via: Terima kasih, kau datang disaat yang tepat. Sean: Apa dia mkukan sesuatu? Maaf, tapi aku hanya ingin tahu mungkin dia ¡­ Kelopak mata Via mengerjab, dia tahu apa yang hendak Sean tanyakan. Sejauh mana Devan melecehkannya. Via: Tidak, karena kau tiba disaat dia hendak menyentuh bahu. Lama sekali Via mendapat bsan, mengira Sean mungkin sedang mkukan sesuatu. Dengan rasa kecewa, Via pun hendak menyimpan ponsel seth lebih dari lima menit menunggu, namun bubble yang muncul di bawah chat menunjukan pria itu sedang mengetik sesuatu. Sementara itu, pria yang sedang Via pikirkan di seberang sana sedang menahan marah seth membaca chat yang dia kirimkan. Bahkan rahangnya yang mengeras serta tangan yang mengepal di setir kemudi sudah cukup menunjukan berapa besar Sean menahan diri untuk tidak memukul seseorang. Sean: Bagaimana dengan pemanas di apartemenmu? Dahi Via berkerut, karena Sean merubah topik pembicaraan. Entah mengapa dia ingin Sean mengatakan sesuatu yang menunjukan bahwa dia sedang khawatir. Merasa pikirannya berlebihan, Via pun mengenyahkan hal tersebut. Dan setidaknya dia merasa lega, karena dia tidak perlu mengingat kejadian traumatis siang tadi. Via: Masih mati, pengel bng akan meny sekitar tiga harigi. Seketika ponsel Via beredering keras, menandakan dia mendapat panggn. Dm keadaan panik, Via pun terduduk dan memencet tombol terima sembari merapikan diri, padahal Sean tidak akan melihat penampnnya saat ini. ¡°Halo,¡± sapa Via seth berdehem dan mencoba duduk dengan tenang. ¡°Kau akan mati kedinginan b menunggu sma tiga hari,¡± ucap Sean tanpa sm dengan nada tidak senang. Via terdiam, mendengarkan kemarahan pria itu yang lebih terdengar seperti nyanyian. ¡°Tapi aku tidak mau menginap di hotel,¡± bs Via sembari berbisik dm hati bahwa dia tidak punya uang wu untuk tidur di tempat itu semm saja. Awalnya Via mengira sambungan terputus karena Sean diam cukupma, tetapi seth mendengar suara dehemannya, kekecewaan Via pun terangkat seketika. ¡°Ku begitu ¡­,¡± ucap Sean dengan perkataan terjeda, seh dia sedang memikirkan sesuatu untuk dikatakan.¡° Tinggah di apartemenku.¡± Kali ini Via yang terdiam dengan jantung berdegub kencang. Kemarin Sean mengutarakan perasaan, dan sekarang dia meminta untuk tinggal bersama? Mereka bahkan baru bertemu kurang dari dua minggu, bagaimana bisa ini terjadi dengan cepat? ¡°Maaf kan aku, tapi ¡­ bolehkah aku bertanya?¡± bisik Via ragu-ragu. ¡°Tentu saja, tanyakan apa yang ingin kau tahu.¡± Mendengar itu, Via menggigit bibir bawah dan seth menarik napas, dia pun melemparkan apa yang mengganggu benak beberapa jam terakhir. ¡°Mengapa kau memilihku?¡±¡± Terdengar tawa kecil di seberang sambungan. ¡°Karena aku tertarik padamu.¡± Mendengar suara tawanya yang renyah, membuat Via sedikit terhanyut. ¡°Bukan karena kau menganggapku mudah untuk ¡­ didapat?¡± Tawa itu pun lenyap seketika, membuat Via takut pertanyaan barusan menyinggung perasaan. Dengan sangat hati-hati, Sean berkata; ¡± Tidak pernah terlintas di kepku pemikiran seperti itu.¡± Pria itu pun diam sesaat. ¡°B kau benar-benar ingin percaya, kenapa kita tidak bertemu saja dulu dan membicarakan hal ini secarangsung sehingga kau dapat menatap mataku yang berbohong atau tidak.¡± Mendengar tawaran tersebut, Via pun melirik jam di dinding yang menunjukan pukul tujuh. Sebenarnya masih telu dini untuk menaiki kasur disaat orang orang baru saja memi makan mm. ¡°Mmm ¡­ sekarang?¡± ¡°Ya sekarang, aku akan ke atas tiga menitgi,¡± ucap Sean yang seketika membuat Via bangkit dari kasur dan berjn berkeliling dm ruangan. ¡°Tiga menit?!¡± tanya Via histeris. Dia bahkan beri ke depan kaca dan nyaris menjerit saat mendapati penampnnya seperti orang-orangan sawah. Rambut tidak disisir yang mencuat ke seg arah, muka sembab karena dingin, baju kedodoran bepispis; sangat tidak menarik sama sekali. ¡°Memangnya kau ada dimana?¡± Belum sempat Sean menjawab, Via menambahkangi dengan satu tarikan napas. ¡°Beri aku waktu untuk merapikan diri!¡± Gadis itu segera membuka lemari dan mens hanc mengobservasi baju-baju yang ada. ¡°Kau tidak memakai busana pun tidak apa-apa,¡± bisik Sean bermaksud tidak ingin Via dengar, tetapi tembat karena pipi wanita itu berubah merah saat itu juga. ¡°Ehem.¡± Sadar th mengatakan hal barusan begitu mendengar tarikan napas Via yang tercekat, Sean pun berdehem.¡± Maksudku ¡­ aku akan menunggu.¡± Sean mengangkat kep dari ponsel di tangan, kemudian menatap lurus ke depan, pada apartemen Via. Sejak tadi dia menunggu di luar dengan keadaan mesin mobil masih meny, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan pesan. Padahal awalnya Sean hanya ingin tahu apakah Via baik baik saja, namun mendengar pemanas mangan andis itu masih mati darah Sean ruangan gadis itu masih mati, darah Sean kembali mendidih. Sejak di kantor tadi, dia ingin menyusul Via ke sini, namun pekerjaan yang datang bertubi-tubi menahannya dm ruangan seharian. Dan kali ini Sean tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk meyakinkan Via bahwa tinggal bersamanya jauh lebih baik, ketimbang membeku di apartemen yang bangunannya nyaris roboh. Previous Chapter Next Chapter Chapter 20 Chapter 20 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 20 ¨C EDISI SPESIAL 20 ¨C Sean & Via Sean melirik jam tangan yang melingkar di lengan, seth menunggu sma lima bs menit, barh dia keluar dari mobil dan bergegas menuju tangga apartemen. Sengaja dia mmbatkan langkah agar Via memiliki waktu lebihma mempersiapkan diri. Baru saja Sean memasuki koridor yang akan membawanya ke kamar gadis itu, saat tiba-tiba langkahnya terhenti dan mendapati seorang wanita mengintip dari apartemen di sebh kamar Via. ¡°Apa kau kekasih Viania,¡± bisik wanita tersebut yang menunjukan sebh wajah, dan hanya menunjukan satu mata saja, sedang bagian tubuh yangin terhngi pintu. Sean menaruh jari telunjuk di bibir dan membuat wanita itu menutup mulut dengan satu tangan sembari mengangguk, kemudian menutup pintu apartemennya kembali dengan pn. Seth memastikan tidak ada interupsi dari tetangga sekitar, Sean pun mengetuk pintu kamar Via yang rapuh. Dari posisinya berdiri, Sean tahu bahwa wanita itu biasanya mengintip dari ch kusen yang retak, membuat Sean semakin tidak senang. Namun, dia memilih untuk menutup mulut, daripada harus membuat Via semakin merasa tidak nyaman dengan keadaan apartemen yang kondisinya sudah seperti tempat penyiksaan. Tidak butuh waktuma, wanita itu pun membuka pintu dengan penampn yang menunjukan seakan mereka hendak pergi berkencan. Dm hati. Sean merasa senang karena Dm hati, Sean merasa senang, karena itu artinya Via memiliki keinginan untuk membuat dia terkesan. ¡°Aku suka dengan warna bajumu, sangat serasi dengan matamu yang indah,¡± puji Sean yang seketika membuat Via menunduk malu. Dia mendekati wanita itu dan merapatkan sweater yang melindungi Via dari hawa dingin. ¡°Tunggu sebentar,¡± kata Via ketika dia teringat akan jas yang Sean tinggalkan.¡± Aku sudah mundrinya,¡± ucap Via sembari melipat jas itu dengan rapi dan membawanya ke hadapan Sean. Pria itu menerima jas pemberian Via dengan senyuman. ¡°Apa kau tidak ingin mengumpulkan baju -bajumu lebih dulu?¡± tanya Sean yang seketika membuat Via terdiam. Wanita itu merasa d¨¦j¨¤ vu, seakan mereka mengng adegan beberapa hari yanglu. ¡°Untuk apa aku mkukan ¡­ itu?¡± Sebh alis Sean naik ke dahi mendengar pertanyaan Via yang penuh keraguan. ¡°Bukankah aku sudah katakan akan membawamu ke apartemen di pusat kota?? Via melirik ke dm apartemen pribadinya, entah mengapa dia merasa ada ketakutan b pindah bersama pria di hadapan. ¡°Tapi kita belum meluruskan sesuatu,¡± ucap Via sembari menatap Sean kembali. Melihat betapa besar keraguan di mata Via, Sean pun tersenyum tipis dan menarik wanita itu menjauhi pintu. ¡°Baih, ku begitu kita membutuhkan tempat untuk membicarakan ¡­ sesuatu,¡± ucap Sean dengan tatapan teduh. Pandangan Via jatuh ke tangan mereka yang saling menggenggam. Ingatan di pantry membawa Via pada kejadian saat Devan menjabat tangannya. Saat itu rasanya Via ingin menjerit dan beri menjauh, tetapi ketika Sean yang mkukannya, dia tidak merasa takut sama sekali, minkan hanya kenyamanan dan getaran yang membuatnya ingin agar fisik mereka saling menyentuh. ¡°Kemana kau akan membawaku?¡± Via tahu bahwa apartemennya yang dingin tidak masuk dm daftar tempat yang akan mria itu milih akan pria itu pilih. ¡°Ke suatu tempat,¡± jawab Sean ambigu yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Via barusan. Pemandangan kota New York di hadapan mereka membuat Via terpaku seketika. Dia belum pernah melihat kota New York di mm hari dari tempat setinggi ini, bahkan angin yang menyapa pipi beserta kulitnya membuat Via tersenyum bahagia. Keduanya berada di rooftop sebuah gedung tinggi yang letaknya tepat di jantung kota New York. ¡°Kenapa kau membawaku ke sini?¡± tanya Via penasaran sembari menahan rambut yang diterbangkan angin mm. Sean membantunya ikut merapikan anak rambut yang berpencar dibawa angin ke seg arah, sehingga Via sedikit kesulitan melihat. B dia tahu seperti ini, lebih baik rambutnya diikat saja tadi. Namun karena ingin tampil menarik, rambut tergerai menjadi pilihan. ¡°Stupid hair,¡± bisik Via yang membuat Sean tertawa. Wanita itu memang tidak bisa mengumpat dengan bahasa kotor, membuatnya semakin menggemaskan di mata Sean. Karena tidak ada benda yang bisa digunakan, Sean pun melepas dasi birunya dan menjadikan benda itu pengganti ikat rambut. ¡°Aku ingin menjskan bagaimana hubungan ini akan berjn,¡± ucap Sean sembari menyibak rambut Via dari leher dan mengumpulkannya dm genggaman. Mendengar itu, Via pun menahan napas dan menunggu antisipasi akan penejsan Sean berikutnya, tetapi sebelum pria itu berpikir bahwa Via wanita yang murah, lebih dulu dia meluruskan ¡°Aku tidak bisa kau beli, dan dijadikan mainan,lu kau campakan.¡± Perkataan Via menghentikan tangan Sean seketika. Pria itu mencondongkan tubuh, membuat punggung Via menyentuh dada Sean hingga keduanya hanya dibatasi oleh pakaian masing-masing. ¡°B aku memang begitu, untuk apa repot-repot memberikan perhatian padamu sma beberapa hari?¡± Content ? N?velDrama.Org. Perkataan Sean membuat Via menoleh kearah pria yang berdiri di bkang, namun napasnya tercekat begitu menyadari bahwa sejak tadi kep Sean tepat di dekat wajah hingga mereka nyaris berciuman. Ujung bibir Sean melengkung membentuk senyum yang tipis, dan pria itu semakin mendekatkan wajah mereka sampai-sampai hidung keduanya saling beradu. ¡°Percayh padaku, Baby, aku pasti akanngsung memberimu penawaran untuk tidur denganku, atau setidaknya ¡­ kita sudah tidur di mm pertama aku membawamu ke apartemen.¡± Sean sengaja mengecup pucuk hidung Via, hingga kelopak mata wanita itu terpejam. ¡°Untuk apa menahan diri sma itu disaat aku bisa saja mkukan semua dengan cara mudah.¡± Kelopak mata Via membuka kembali, dan dia dapat melihat dengan js bahwa Sean membuka diri tanpa ada yang ditutupi. Semua yang dia katakan adh kejujuran. Bahkan, pria itu menahan wajah Via agar mata mereka dapat saling mengunci. ¡°Lalu, apa yang bisa kau tawarkan padaku?¡± Sean diam sebentar,lu dia pun menjawab; ¡°Bagaimana b kita menjninya lebih dulu? Untuk saat ini ¡­ nomitment, no wedding, no pregnancy.¡± Keraguan masih terlihat js di mata wanita itu, sehingga Sean pun memutar tubuh Via agar keduanya bisa lebih mudah membaca ekspresi satu samain. ¡°Tinggah di apartemen yang kemarin,¡± ucap Sean sembari mengelus bibir bawah Via yang memerah, karena kebiasaan wanita itu yang suka menggigitnya ketika gugup. ¡°Semua yang kau butuhkan tersedia di sana, dan kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Akan tetapi ¡­. aku menginginkan satu hal.¡± Sean mrikan jemari telunjuknya di setiap lekuk leher Via, yang seketika mengirimkan sengatan listrik di sekujur tubuh wanita itu. Mata Via terpejam sesaat ketika Sean menyentuh lembut tng sngka Via dengan buku-buku jari, dan sentuhan itu pun turun hingga mendekati bhan dada. Tampaknya, pria itu sengaja menggoda tubuh Via dengan gerakan sensual yang membangkitkan gairah. Via yang tanpa sadar hanyut akan sentuhan Sean, hanya menatap sayu pada pria di hadapan dengan mata berkaca kaca yang terpejam beberapa kali. Tanpa sadar dia mengangkat kep, seh tubuhnya meminta Sean menyentuh lebih jauh. ¡°Apa itu?¡± tanya Via dengan suara serak, pehanhan hng kontrol diri. ¡°Merahasiakan hubungan ini dari semua orang,¡± ucap Sean sembari menarik wajah Via di antara kedua tpak tangan, sebelum akhirnya melumat bibir ranum yang menggoda sejak awal dia menginjakan kaki di depan pintu. Previous Chapter Next Chapter Chapter 21 Chapter 21 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 21 ¨C EDISI SPESIAL FINAL ¡°Merahasiakan ¡­ dari semua orang?¡± tanya Via dengan suara berbisik, tepat di depan bibir Sean yang baru saja menciumnya. Pantn cahaya dari gedung di sekitar membuat bibir keduanya tampak berku karena basah. ¡°Hmm .. mmm ¡­,¡± gumam pria itu yang diikuti geraman ketika mrikan pucuk hidungnya tepat ke bkang leher Via, sehingga tubuh wanita itu bergetar. Mata Via kembali terpejam saat Sean meninggalkan jejak-jejak kecupan demi kecupan yang dkukan secara pehan di sekitar kulit leher yang sensitive. ¡°Sean,¡± panggil Via yang tidak mengerti apa yang tubuhnya inginkan. Copyright N?v/el/Dra/ma.Org. ¡°Yes, Baby,¡± bs Sean sembari menarik pinggang Via hingga badan bagian bawah mereka berdua menempel dekat. Via terlonjak kaget ketika merasakan sesuatu mendesak di sekitar kewanitaan, membuat Sean tertawa pn dan sengaja mencium bibir wanita itu untuk menghngkan protes. Awalnya Sean hanya menggoda bibir bagian bawah Via dengan gigitan-gigitan kecil,lu sethnya dia menyapukan lidah ke dm bibir wanita itu ketika mulut Via membuka. Sean menggeram dengan suara berat begitu Via mendesah k lidah mereka saling bertaut, dan dia pun menggunakan kesempatan itu untuk semakin memperdm ciuman keduanya hingga Via merasa seakan tubuhnya myang, yang tanpa sadar membuatnya mengeratkan pegangan pada kemeja pria itu. Seketika saja Via merasa sangat lemas, sehingga Sean menyangga tubuh Via dengan satu lengan yang melingkar di sekitar pinggang bkang agar mereka tetap berada dm posisi berdiri. Kaki wanita itu rasanya seperti Jelly, apagi ketika Sean mi meraba ke sekitar perut bagian bawah, sementara kedua tangan Via menahan pipi Sean, karena pria itu hendak menarik diri. Ibu jarinya mengelus halus rahang Sean yang mulus dari bekas cukuran pagi tadi. Seketika, rasa yang membuncah di dada membuat Via memaksa untuk memperdm ciuman mereka dengan tempo yang cepat. ¡°Take it easy Baby, take it easy¡­,¡± gumam Sean ketika Via mencoba untuk memburu ciuman keduanya. Sean kembali mengambil alih pehan dan membiarkan Via bernapas sebentar. Begitu ciuman itu berhenti, Sean pun membawa tubuh wanita itu ke dm pelukan dan sepenuhnya menjadi sandaran bagi Via yang nyaris luruh kentai. Ketika mata Via terbuka, pertama kali yang dia lihat adh mata biru Sean yang intens dengan penuh hasrat membara hingga berubah pekat. ¡°Apa itu ciuman pertamamu?¡± tanya Sean dengan sudut bibir melengkung membentuk senyuman. Kep Via menunduk ke bawah, dan dia menyembunyikan wajah di dada bidang Sean yang kini bergetar karena tawa. Merasa malu, Via pun menepuk dada itu pn. ¡°Maaf¡­ maaf,¡± ujar Sean dis tawa yang tidak reda. Dia pun menarik tubuh Via lebih ke atas, dan mendaratkan satu kecupan di pucuk kep. Ada rasa bangga dm diri karena bisa menjadi yang pertama. Sean benar-benar tidak mengira ku Via masih perawan. Wajar saja wanita itu mudah gugup dan tidak bisa menentukan ritme ketika berciuman. Menyadari tubuh Via yang pehan menggigil, Sean pun semakin mengeratkan pelukan dan menatap ke sekitar dimana angin mm mi berembus kencang. Tanpa mengatakan apa-apa, dia Tanpa mengatakan apa-apa, dia menggendong Via di antara kedua lengan yang mengakibatkan wanita itu memekik kaget. Tangan Via seketika melingkar di leher Sean dan dia pun membenamkan wajah di dadanya. Seth merasa Via nyaman dm posisi itu, barh Sean membawa wanita tersebut menuju penthouse. Jemari Via memainkan kancing kemeja Sean dengan gerakan memutar, membuat kulit di bawah baju yang pria itu pakai terasa terbakar, sehingga dia pun mempercepatngkah. Bahkan, Sean merasa kesulitan menutupi benda di balika saat menuruni tangga menujuntai di bawahnya. Mendengar suara Sean yang menggeram, Via pun mendongak, dan bertanya apa yang terjadi. ¡°Tidak ada,¡± jawab Sean yang tersenyum dengan gigi beradu serta kulit wajah mengetat karena menahan hasrat. Dia berharap bisa kuat sebelum lepas kontrol dan mkukannya dengan Via di anak tangga. ¡°Apa aku berat? Ku begitu turunkan aku,¡± kata Via dengan mata panik bercampur malu. Sean semakin mempercepatngkah dan meyakinkan Via bahwa bukan itu yang menyebabkan dia tersiksa. ¡°Tidak ¡­ tidak, bukan itu mashnya. B kau ingin tahu, coba saja sentuh ke bawah,¡± kata Sean dengan rahang mengeras menahan sakit. Via yang bingung akhirnya mengikuti perkataan pria itu, dan seketika matanya membt saat merasakan sesuatu yang menonjol dengan ukuran besar ada di ¡­ sana. Via yakin, ukurannya tadi tidak sebesar itu. Bagaimana mungkin bisa bertambah? Seketika Sean menggeram lebih dmgi dengan napas memburu, yang membuat Via cepat-cepat melepas remasan yang tidak disengaja; dia pikir Sean hanya menggoda. Susah payah Via menn saliva dan pikirannya sudah kemana-mana. ¡°Sebelum kau bertanya apakah itu muat atau tidak, sebaiknya kita coba dahulu untuk mencari jawaban,¡± ucap Sean dengan tatapan geli yang mendapat pukngi di dada hingga pria itu kembali tertawa. Seth mereka sampai di sebuah kamar berukuran master dengan nuansa maroon d aold Saan nunmaroon dan gold, Sean pun membaringkan Via di atas ranjang king Size. Lampu tidur yang baru saja pria itu nykan berpendar dengan cahaya kuning redup, menambah suasana sekitar semakin hangat dan menenangkan. ¡°Aku jarang menempati penthouse ini,¡± ucap Sean sembari berdiri di sisi ranjang dan menatap Via yang telentang di hadapan. Kep Via menatap sekitar dengan pandangan mengagumi, karena kamar itu jauh lebih besar daripada apartemen Sean di dekat Luna Star. ¡°Lalu, mengapa ¡­?¡± ¡°Entah, mungkin karena tempat ini cukup romantis untuk menghabiskan mm berdua,¡± ucap Sean yang san Sean yang sebenarnya karena dia tidak ingin mkukan mm pertama mereka di atas kasur yang biasa dia tiduri dengan puluhan wanita berbeda di masalu. Via tidak seharusnya mendapat pekuan seperti itu, dan Sean merasa sangat sh, namun dia juga tidak mungkin menaruh wanita itu di sh satu dari dua penthouse yang dia punya. Bagaimana jika ibunya berkunjung ke penthouse ini dan bertemu Via? Menaruh wanita itu di penthouse yang Sean tempati di gedungin juga bukan pilihan sempurna, karena semua mat koresponden yang dia miliki adh penthouse tersebut. Belumgi b ada pemburu berita yang melihat Via keluar masuk bersamanya di sana. Seth dari sini, Sean akan mengganti semua kasur di apartemen dengan yang baru. Dia ingin menghapus setidaknya jejak masalu yang dimiliki bersama wnaita-wanita tanpa nama dm ingatan. Seharusnya dia mkukan itu, sebelum membawa Via ke apartemen yang biasa dia gunakan sebagai tempat untuk bersenang-senang. Bachelor pad tersebut sudah seharusnya direnovasi. Menyadari posisinya saat ini, Via pun berguling hendak ke sisi kasur sebh, namun dengan cepat Sean menaiki ranjang dan menahan tubuh wanita itu tetap di tempat sem. Via terkesiap karena Sean menarik pingganggnya hingga tubuh mereka beradu. Seketika Sean melingkarkan lengan ke tengah-tengah tubuh wanita itu dan dapat dia rasakan bukti gairah pria itu menyesaki bokong tanpa tahu malu. ¡°Se.. Sean ¡­,¡± ucap Via gugup hingga suhu tubuhnya naik dan rasa penas menjr dari ujung kep hingga kaki. Detak jantungnya yang memacu bahkan tidak membantu keadaan, karena rasanya Via ingin memanjati tubuh pria yang kini memeluknya erat di ranjang. Tapi di satu sisi Via juga takut, karena ini baru kali pertama. Untuk membuat wanita itu rks kembali, Sean mencoba menyentuh Via di beberapa titik tertentu. Awalnya dia meraba ke balik baju, hingga gadis itu terlena dengan bian halus yang diakukan sebelum melepas kaitan bra yang masih tersembunyi di balik dress. ¡°Apa kau tidak merasa panas?¡± tanya Sean sembari mencium tepat di balik telinga dan tengkuk wanita itu, sampai sampai Via mendesah dan tubuhnya menggeliat karena gelenyar aneh di sekujur tubuh. ¡°Huh?¡± tanya Via yang tidak mampu berpikir sehingga dia tidak tahu apa yang Sean tanyakan. Pria itu hanya tersenyum dan membalik tubuh Via hingga berada di posisi bawah sedangkan Sean berada di atas dengan tatapan meny ketika mengobservasi setiap ekspresi Via yang menerima sentuhan di titik-titik sensitif,lu dia menarik pinggang wanita itu sedikit ke udara dan melepas bajunya satu per satu hingga menyisakan bagian tank top serta dman. Sembari merendahkan tubuh maskulinnya, Sean pun menggodanya dengan cumbuan di sekitar dada dan perut wanita itu, yang mendapar respon lenguhan serta suara terkesiap tertahan. Menyadari dirinya setengah tnjang, tangan Via seketika menyng di sekitar bahu dan perut, membuat Sean berhenti dan menahan berat tubuhnya di atas wanita itu dengan kedua tangan di sisi kep Via, sedang mata mereka kembali bertemu. ¡°Kau memiliki tubuh yang indah, jangan tutupi dariku ¡­ please,¡± bisik Sean yang membuat tangan Via mengendur pehan dan dia pun kembali dapat melihat tubuh Via dengan bebas. Sean mendaratkan satu kecupan tepat di sh satu pucuk dada Via dan menggigitnya dari balik bra yang masih menutupi, membuat punggung wanita itu seketika melengkung ke udara, diikuti sebuah lenguhan panjang dan remasan kedua tangan feminimnya di setiap sisi seprai ranjang. ¡°That¡¯s it Baby,¡± bisik Sean di sekujur tubuh Via yang kini hanya ditutupi bra tanpa pengait, sehingga dengan mudah Sean dapat melepaskan. Dia mrikan jari jemari ke perut hingga di antara paha feminim wanita itu, membuat Via mendesah dan menggelinjang di ranjang. Menyadari wanita itu sudah lebih dulu basah di bawah sana, mata Sean pun berdtasi, dan seketika tatapan mereka bertemu kembali. Keduanya dapat merasakan semesta yang berputar di sekitar, dan untuk kali pertama; Sean menyadari ada hal yang berbeda terjadi di antara mereka. Sepertinya sesuatu yang luar biasa menarik keduanya dengan sangat kuat, melebihi chemistry dan veromon, membuat jantung Sean berdetak keras, menyamai ketukan irama jantung Via yang tanpa mereka sadari th menyerahkan diri dengan utuh untuk dapat dimiliki. Tanpa mengatakan apa-apa, Sean pun melepas seluruh baju yang melekat di tubuh dan memposisikan diri di antara kedua paha wanita itu. *SPESIAL EDITION SEAN & VIA BERAKHIR* Previous Chapter Next Chapter Chapter 22 Chapter 22 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 22 ¨C SNEAK PEAK BABY CARO Via baru saja memenuhi bak mandi dengan air hangat dan memasukan bomb bath ke dmnya saat tiba-tiba dia mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup. Kep Via menoleh seketika dan dengan mulut membt berbentuk huruf o, tatapannya pun bertanya pada Sean yang juga ikut masuk ke dm. ¡°Apa yang kaukukan?¡± tanya Via sembari melirik ke ch pintu yang sedikit terbuka. ¡°Mandi,¡± jawab Sean yang mi membuka baju saat itu juga. ¡°Bagaimana mungkin kau mandi disaat Caro sendirian di sana?¡± Via menarik handuk dari raklu memakainya dan kemudian berjn melewati sang suami, namun lengan pria itu yang melingkar di pinggang, seketika menghentikan Via di tempat. ¡°Aku sudah memberikan dia mainan, kau tidak perlu khawatir,¡± ucap Sean ringan, seh mereka sedang membicarakan seekor anak kucing di luar sendirian bukannya bayi berusia sepuluh bn. ¡°Bagaimana b dia menangis, Sean, tidak ada yang menjaganya saat ini,¡± protes Via yang mencoba melepaskan diri. Sayang sekali, pengasuh Baby Caro meminta izin untuk mkukan sesuatu di luar sana. ¡°Ku begitu, kita bisa membuka pintu kamar mandi sedikit saja,¡± saran Sean yang mh mendapat delikan tajam. Sembari meringis, Sean pun memikirkan cara untuk membujuk Via agar mereka dapat mandi bersama. ¡°Apa kau ¡­ tidak mau ¡­.¡± Tangan Sean yang bebas membuka sedikit handuk yang melilit di tubuh Via, sehingga dia dapat mengintip bhan dada wanita itu. Seketika Via mengibaskan tangan Sean yang mencoba meggoda. ¡°Aku tidak bisa men¡± ¡°Sepuluh menit!¡± Keduanya saling tatap begitu Sean meminta waktu yang sangat singkat. ¡°Sepuluh menit saja, mmm ¡­?¡± Melihat mata birunya yang memohon, Via pun menatap ke bawah tubuh sang suami. ¡°Sepuluh menit? Apa cu¡ª¡± Perkataan Via terhenti begitu Sean menggendongnya menuju bak mandi dengan pintu yang dibiarkan terbuka agar mereka dapat mendengar suara Baby Caro b menangis di luar. ¡°Tapi aku mau melihat Ca-¡± ¡°Nah, hanya sepuluh menit saja Baby, sethnya kau bisa mkukan apa pun sementara aku akan mengasuh Caro sgi kau memanjakan diri.¡± Mendengar tawaran tersebut, Via pun menyetujui dm hati, namun tentu saja dia tidakngsung mengatakan iya karena bisa-bisa Sean mkukan hal seperti inigi. ¡°Sepuluh menit?¡± tanya Via, memastikan. Sean mengerlingkan mata dan ikut membawa Via berendam ke bak yang th wanita itu persiapkan. Mereka berada di dm tanpa sehi benang menutupi. Awalnya Sean hanya membi sana sini sembari menyirami kulit Via dengan air yang berbusa, kemudian tangannya mi meraba ke bawah, sedang kep wanita itu menyandar di dada dm posisi membkangi Sean sementara Via berada di atas pangkuan. Baru saja Sean hendak mencium bibir istrinya saat tiba-tiba mereka mendengar suara; ¡°Dada!¡± yang bersal dari ambang pintu. Kep keduanya berputar cepat menatap putera mereka yang merangkak di atasntai sembari menyeret boneka dm genggaman. ¡°Dada!¡± panggil Carolus yang duduk sebentar dan menatap dua insan di dm bak mandi dengan mata bt birunya yang polos. Vin dan Soun berkzadin bersamaan Via dan Sean berkedip bersamaan, mendapati keberadaan puteranya dengan tubuh membeku. Saat Carolus mnjutkan perjuangan mendekati kedua orangtuanya, Sean dan Via punngsung tersadar seketika th tertangkap basah dm posisi yang seharusnya tidak dilihat putera mereka. Tangan Sean yang tadinya berada di dada Via saat itu juga berpindah ke wajahnya, sedangkan wanita itu semakin merendam tubuh ke dm bak. ¡°Ha.. hay, Baby,¡± sapa Via yang memasang senyuman, sementara pria di bkangnya menengadah kengitngit sembari menenangkan diri yang sedang diujung tanduk. Dan saat ith Sean merasakan bukti gairahnya melembut, membuat dia menggeram tidak senang. ¡°Dada ¡­ dada ¡­ dada ¡­!¡± celoteh bayi sepuluh bn itu sembari mengayun ayunkan boneka kain di tangan, seh hendak mengajak Sean bermain. Via menatap Sean dengan delikan, dan dia pun menyikut pria itu untuk segera mkukan sesuatu. Dengan satu han napas berat, Sean pun mendaratkan satu kecupan di pucuk kep sang istri sebelum dia keluar dari bak mandi. Kulit Sean tampak berkt karena air sabun yang masih melekat, dipadukan tubuh proporsional dengan perut membentuk kotak, membuat Via menggigit bibir diikuti desahan, sehingga pria itu pun menoleh dan menatap Via dengan sebh alis naik ke dahi. Ekspresi Via berubah biasa seketika, dan dia menatap Sean sama polosnya seperti yang Carokukan tadi. ¡°Seth ini, aku tidak akan membiarkanmu. Bersiap-siap besok pagi kekurangan waktu tidur.¡± Ancaman itu membuat Via memutar b mata, karena dia yakin Sean pasti mkukannya tidak hanya satu mm saja. Kali ini, dia bertanya, siapagi yang akan menjadi pengasuh Bayi mereka. Pasangan Reviano yang ada di Blueberry? Bisa-bisa, kakek dan nenek itu terbang ke New York saat ini juga tanpa ada penkan dan membawa Baby Caro ke Blueberry dengan senang hati. Sean meninggalkan Via yang masih ingin mnjutkan berendam di dm sana. Dia pun menggendong Baby Caro ke kumpn mainan yang berada dintai dekat kaki tempat tidur mereka. ¡°Tadikan sudah Ayah bng untuk tetap di sini, Son. Apa kau tidak ingin memiliki saudara perempuan untuk menjadi teman bermain?¡± ucap Sean sembari mencium pipi puteranya hingga terdengar suara tawa geli yang menggemaskan. ¡°Dada!¡± ucap Carolus sembari mengucapkan hal-hal berupa kata-kata konsonan yang hanya bisa dia mengerti sendiri. ¡°Iya, iya, Ayah tahu,¡± jawab Sean asal sembari mendudukan bayikiki itu kembali ke tumpukan mainannya. ¡°Kau sudah berusia sepuluh bn dan tidakmagi merayakan usia satu tahun.¡± Meskipun dia tidak mengerti keseluruhan ucapan Baby Caro, tetapi Sean slu menjawab dengan kalimat yang lengkap agar puteranya cepat bicara. ¡°Bubu? Bubu¡­,¡± tunjuk Carolus ke arah pintu kamar mandi, dan seketika Carolus hendak merangkak kembali menyusul sang Ibu. Sean tertawa kecil danngsung menyambar puteranya itu ke dm gendongan dan menciumi seluruh wajah mungilnya hingga mereka berdua tertawa lepas. Sesi cengkrama anak dan ayah itu diinterupsi ketika terdengar suara bell berbunyi, menandakan rumah itu kedatangan tamu. Bersama Carolus, Sean pun berjn melintasi kamar hingga ke depan pintu. Napas Sean berubah berat k dia mendapati sekumpn tamu tidak diundang tengah berkumpul di luar sana. Wajahnya menjadi masam begitu dia membukakan nintu dan menyambut membukakan pintu dan menyambut lebih dari dpan orang yang datang tanpa memberi kabar. ¡°Mau apa kalian ke sini?¡± tanya Sean dengan tatapan tajam, namun dia mh mendapat dengusan dari seorang wanita yang terlihat mengandung enam bn. ¡°Siapa juga yang ingin melihatmu, b Via tidak menikah denganmu, aku juga tidak akan ke sini,¡± ucap Disya ketus pada pria di hadapan, namun tatapannya berubah lembut saat mendapati Baby Carolus yang terlihat mengemut jempol dan memperhatikan kumpn orang di depan dengan mata menyipit sama seperti sang Ayah. Duo anak ayah itu bahkan memiliki ekspresi yang sama, membuat Nicko Anderson ingin tertawa. ob MuRabuCarom Diamavano ¡°Oh, My Baby Caro!¡± seru Disya yang hendak memeluk bayi tembem itu, tetapi Nicko menahannya. ¡°Bukannya aku mrangmu, tapi bayi itu beratnya lebih dari sepuluh kilo.¡± Mendengar penjsan tersebut, Disya pun mengurungkan niat dan hanya mencium pipi gempal bayi tersebut,lu masuk ke dm rumah tanpa dipershkan lebih dulu. Sementara itu, Nicko mengikutinya dari bkang, sedangkan sisa tamu yangin berdiri di depan pintu sembari menatap Sean dengan ekspresi sama; bosan. ¡°Kau membolehkan kami masuk atau tidak?¡± tanya Tya yang mengunyah permen karet di mulut. Melihat peluang ketidakberhasn mengusir orang-orang ini, Sean pun mempershkan mereka masuk satu per satu. Saat melewatinya, mata Sean pun jatuh pada wanita hamil berikutnya, yaitu wanita berambut madu yang merupakan kembaran Disya bernama Mia Bradwood. Bahkan Sean kesulitan membedakan keduanya, sehingga dia penasaran bagaimana pasangan mereka bisa membedakan kembar identik tersebut. Melihat perut wanita itu, seketika Sean merasa d¨¦j¨¤ vu karena Mia bisa mhirkan kapan saja dengan ukuran perut sebesar itu. Rasa trauma saat ketuban Via pecah di acara amal sekh Blueberry masih segar dm ingatan, dan dia pun melirik lki yang datang bersama Mia. Tatapan kedua pria itu bertabrakan, dan tampaknya apa yang ada di mata Sean tersampaikan dengan baik. Ami giran tamu terakhir, deon Rose dan Kalea Nusersama burt perempuan mereka yang ketika membuat cantus ribut hendak menyentuh pupyi krempuan berusia Tatapan Gideon berubah tajam, insting protekatnya bekerja lebih cepat dan js Schali dia tidak senang ketika anak perempuannya berdekatan dengan bayikikiin Melihat ekspresi pria itu, Sean mkukan hal yang sama berpasangan di masa mendatang,¡± gumam Danny yangngsung dijawab;¡° Tidak!¡± dengan serentak oleh kedua ayah itu. ¡°Astaga, kau seharusnya bahagia, karena Eve anak yang cantik. Lihat, Carolus bahkan kesulitan mengalihkan mata,¡± ucap Disya yang seketika menjadikan kedua bayi itu pusat perhatian. ¡°Son, kau harus ingat bahwa mereka berbeda denganmu,¡± bisik Sean tepat di telinga anaknya yang langsung mendapat pukn di punggung dari Tya. ¡°B kedua bayi ini menikah di masa depan, aku akan memakai sepatu balet dan rok tutu kemudian menari di hari pernikahan keduanya,¡± sumpah Danny yang membuat Jaxon mendengus. Jaxon pun mengeluarkan sebuah kunci dari saku dan menunjukannya ke udara; Ku begitu, aku bertaruh dengan apartemen di Down Town. B mereka menikah, ini akan menjadi hadiah pernikahan keduanya.¡± Tidak mau kh, Nicko mkukan hal yang sama dan mengeluarkan sebuah kunci berwarna emas; ¡°Aku akan memberikan kapal pesiar sebagai hadiah bn madu.¡± Sementara itu, Xavier hanya tertawa di sudut ruangan. Sean dan Gideon mendengus bersamaan, dan mereka menk ide g tersebut. ¡°The Hell No!¡± sumpah serapah keduanya bersamaan yangngsung mendapat delikan tajam. This belongs to N?velDrama.Org: ?. ¡°Ada bayi di sini!¡± geram para wanita yang membuat dua pria itu mengulum bibir dan mencium bayi masing masing, seh-h meminta maaf. Mata Sean dan Gideon bertabrakan dan keduanya menggeleng bersamaan, tetapi Carolus yang tidak mengerti apa-apa mh bermain mata sembari tertawa pada bayi dm gendongan ayah protektif di depannya. Mendengar tawa kedua bayi tersebut, wajah kedua pria itu semakin masam yang pada akhirnya menjadi lelucon yangin. ¡°Kubng juga apa,¡± ucap Disya sembari tertawa. Sean hendak kembali membantah, saat tiba-tiba dia mendengar suara feminim yang berkata; ¡°Ketubanku sepertinya pecah.¡± Suara-suara di sekitarpun berubah hening tiba-tiba, dan semua kep menatap wanita berambut madu yang sedang mengunyah roti sambil berdiri di tengah ruangan. Mata kesemuanya tertuju bersamaan kentai tempat wnaita itu berpijak, dan benar saja, ada genang air di sana. Seketika terdengar suara kehebohan dan orang-orang menjadi panik, terutama Jaxon Bradwood yang langsung memanggil seluruh bawahannya. Namun, Sean dan Gideon tampak tenang saat menatap kumpn orang-orang yang mencoba mkukan sesuatu di depan mereka. Keduanya berdiri bersisian dan membuai bayi dm gendongan. ¡°Apa aku terlihat sebodoh itu saat Kalista mhirkan?¡± gumam Gideon pada diri sendiri sembari menatap bayi perempuannya, dan ternyata Sean juga mlukan haliano sama ikukan hal yang sama. Kurasa kita terlihat bodoh saat itu,¡± iwab Sean lebih pada diri sendiri embari mencium dahi puternya. KISAH SEAN & VIA SELESAI* Cerita Sean & Via Sudah berakhir. Snjutnya Kisah Hilda & Danny. Terima Kasih. Previous Chapter Next Chapter Chapter 23 Chapter 23 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 23 ¨C Via & Sean 1 Udara dingin menusuk tng membuat Via semakin merapatkan syal di sekitar leher. Langkahnya tampak terburu-buru saat melintasi jnan kota New York yang sedikit berangin. Mungkin, hujan akan turun mm ini, membuat Via semakin mempercepatngkah. Dan baru saja dia hendak tiba di depan gedung Luna Star, saat tiba-tiba sebuah mobil mjumbat di sisi jn yang mengharuskannya berhenti. Tanpa sadar dia memutar b mata begitu melihat siapa yang berada di balik kemudi. ¡°Masuk ke dm mobil, atau aku akan memukul bokongmu yang cantik itu begitu kita tiba di rumah,¡± ucap pria yang mencondongkan tubuh ke arah jend dan mantan Vin denean tatanan tidak dan menatap Via dengan tatapan tidak ingin dibantah. Bukannya mengikuti perkataan Sean yang pasti akan mkukan janjinya barusan, Via mh mnjutkan jn dan membuat Sean mau tidak mau memarkirkan mobil di tepi jn. Dia tidak peduli b nanti ditng polisi, karena baginya, membawa wanita keras kep itu kembali ke rumah jauh lebih penting. Dan dengan sangat tergesa, Sean pun segera keluar dari mobil untuk mengejar Via yang mi berjn menjauh. ¡°Baby,¡± panggil Sean lembut sembari mengikuti dari bkang. ¡°Aku sudah bng untuk tidak bicara padaku,¡± geram Via denganngkah lebar yang dengan mudah Sean susul hingga keduanya jn bersisian. ¡°Aku tahu kau sedang marah, tapi tidak seperti ini cara menyelesaikan mash,¡± kata Sean, berusaha menarik perhatiannya. Dia menggamit lengan Via yang dengan cepat ditepis wanita itu, membuat Sean sedikit terhenyak karena jarang sekali Via mkukan hal demikian. Lirikan tajam yang istrinya lemparkan juga cukup js untuk menunjukkan bahwa dia memang sedang tidak ingin dirayu atau pun diajak bicara, membuat Sean meringis dm hati karena keshannya kali ini mungkin tidak bisa ditoleransi. ¡°Aku minta maaf, hmm ¡­,¡± ucap Sean lembut sembari menarik Via ke sisi bangunan di sepanjang trotoar agar mereka tidak ditabrak penggunainnya. Dia tahu berbicara di tempat seperti ini tidak akan membawa mereka kemana mana, tapi dia tidak ada pilihan sehingga mencoba sebisanya saja. Saat Sean mencoba menyentuh wajah Via, wanita itu dengan cepat mengk, membuat Sean mengh napas dan membiarkan tangannya menggantung di udara untuk beberapa saat. Dan Via memilih untuk diam,lu mengalihkan pandangan dari mata biru pria di hadapan yang biasanya membuat dia terpaku dan berubah menjadi mentega karena ditatap telu panas. Shkan saja hati yang masih membara, wu sudah berkali-kali Sean lupa akan janji mereka karena lebih memprioritaskan kerja. ¡°Ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan,¡± katanya hati-hati sembari membuka lengan Via yang bersidekap di depan dada, gestur yang menunjukkan menutup diri dan tidak nyaman. Lalu, dia pun membawa kedua tangan wanita itu dm genggaman yang membuatnya sedikit lega karena kali ini Via tidak mengkgi. ¡°B aku tahu kau menunggu sampai mm, aku pasti png secepatnya, Baby,¡± kata Sean jujur dari hati, tapi mungkin Via sudah tidakgi terima karena ini lebih dari beberapa kali terjadi. Dan Sean tahu dia yang sh, karena lebih memilih rapat daripada png ke rumah di saat Via sudah menyiapkan perayaan anniversary pernikahan mereka yang ke lima tahun. Via mencoba untuk melepaskan genggaman mereka, namun Sean mh semakin mengeratkan pegangan, yang pada akhirnya dia mun pasrah begitu pria pada akhirnya dia pun pasrah begitu pria itu memerangkap kedua jari-jemarinya di antara tpak tangan pria itu yang jauh lebih hangat dibandingkan saku jaket Via saat ini. ¡°Lihat, kau kedinginan, lebih baik kita png ke rumah,¡± bujuk Sean dengan nada suara yang rendah. ¡°Aku tidak ingin kau sakit karena udara saat ini tidak sedang bersahabat.¡± Via dapat melihat tatapan Sean yang tulus, namun dia tidak ingin luluh begitu saja karena pria itu dengan sangat mudahnya membuat Via lupa akan te pertengkaran yang terjadi hanya dengan ucapan manis dan pekuan lembutnya. ¡°Aku tidak akan png mm ini,¡± katanya bersikeras sembari mencoba melepaskan tautan tangan mereka dengan paksa, yang membuat Sean mau tidak mau harus mengh, dan dia pun mengh napas serta menyugar rambut blondenya menjadi berantakan, membuat Via gatal ingin merapikan, namun menahan diri dan memasang wajah cemberut kembali. Wanita itu pun berbalik badan menuju gedung Luna Star yang sudah di depan mata, membuat Sean mengekor di bkang ¡°Baby, kau bisa tidur di kamar dan aku akan tidur di sofa,¡± kata Sean, mencoba menawar yang tentu saja tidak Via terima karena masih merasa kesal luar biasa.¡± Jika kau tidak mau, aku akan tidur di kamar sebh.¡± Tawaran demi tawaran Sean sodorkan, yang tidak satupun Via gubris. Bahkan, dia memilih diam dan mengabaikan Sean yang berusaha merayunyagi. Via benar-benar kesal, karena bisa bisanya pria itu lupa janji makan mm mereka padahal dia sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Dan dengan polosnya pria itu bahkan bertanya, memangnya ini hari apa? Tepat di saat Via menghubungi untuk menanyakan kenapa Sean datangma sekali padahal dia sudah menunggu hampir dua jam. Beberapa kali Via menghubungi, tapi ponsel pria itu mati sebelum Via berangkat ke restauran tempat janjian dan Altha mengatakan Sean sudah png sejak tadi. Dia mengira Sean sudah tiba lebih dulu, tapi ternyata pria itu tidak terlihat sampai Via nyaris menangis di tengah keramaian karena Seangi- lagi melupakannya. This belongs to N?velDrama.Org: ?. ¡°Jika kau mau, aku akan membawamu liburan, hmm? Tapi tunggu sampai proyek hotel di Mahogani Hill selesai.¡± Mendengar itu,ngkah Via pun terhenti dan dia menoleh cepat ke arah suaminya dengan tatapan kesal. ¡°Aku tidak perduli dengan honeymoon ke dua, yang kuinginkan adh waktumu Sean! Kau bahkan slu lupa semua hal penting, termasuk acara pentas seni di sekh Carolus sebn yanglu.¡± Delikan tajam yang Via beri membuat Sean mengusap tengkuk karena dia menyadari keshannya sebn yanglu. ¡°Tidak hanya itu, kau juga melupakan kegiatan Together with Son and Daddy di sekh putramu sandiri! Dan terpaksa aku meminta Nicko Anderson untuk menggantikan,¡± geram Via sembari menusuk dada pria itu dengan jari. menusuk dada pria itu dengan jari telunjuk. Merasa amarah wanita di hadapan yang tidak akan reda dengan membawa-bawa keshan masa lalu, Sean pun melingkarkan jemarinya di telunjuk sang istri,lu memegangi tangannyagi. ¡°Maaf kan aku, Baby. Aku ¡­ sepertinya telu sibuk sampai melupakanmu,¡± ucap Sean dengan nada suara penuh penyesn, dan anehnya mh membuat Via merasa berdosa karena sudah marah- marah. Kerena tidak tahan melihat wajah Sean yang mems, Via pun sengaja membuang wajah dan menarik tangannya dari sentuhan pria itu, kemudian dia memutuskan untuk berjn kembali menuju hotel Luna Star yang hanya tinggal beberapangkah. Namun, Sean mh menahannya dan mereka kembali saling berhadapan. ¡°Aku tidak ingin berbicara padamu sampai kau memikirkan semua ini,¡± kata Via dengan ultimatum terakhir.¡° Bayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga kita untuk seterusnya b kau telu sibuk pada pekerjaan, bahkan kau tidak memiliki waktu untuk putramu sendiri,¡±njut Via dengan mata berkaca kaca yang membuat Sean mencoba untuk mendekatkan dirigi, namun wanita itu mh mundur untuk menjauh, membuat pria itu diam dan mendengarkan. ¡°Aku benar-benar tidak ingin menjni pernikahan seperti ini Sean. Seumur hidup adh waktu yang tidak sebentar.¡± Keduanya diam dan saling menatap wajah satu samain. Saat Sean hendak mengatakan sesuatu. Saat Sean hendak mengatakan sesuatu, Via pun mengangkat satu tangan ke udara. ¡°Dan tidak, aku tidak akan png ke rumah.¡± Mendengar itu, mata Sean tampak menatap sendu. Ketika dia hendak protes,gigi Via memotongnya dengan mengatakan; ¡°Aku ingin sendiri di hotel, jadi jangan meminta kunci cadangan pada resepsionis, karena aku tahu kau pasti akan mkukannya.¡± Baru saja Sean memiliki ide tersebut, namun harus dia lenyapkan saat itu juga karena pastinya Via akan semakin marah b dia sengaja sembunyi-sembunyi masuk ke kamar istrinya di Luna Star. ¡°Mmm ¡­ Apa kau tidak mau tidur di kamar kamar-¡± ¡°Tidak,¡± tk Via cepat, karena dia tahu Sean pasti menawarkan kamar khusus yang memang untuk mereka tempati b ingin menginap di Luna Star. ¡°Aku akan memesan kamar berbeda.¡± ¡°Tidak perlu Baby, kau bisa memakai kamar itu.¡± Via menatap Sean geram, karena dia tahu apa yang suaminya pikirkan. ¡°Apa kau pikir aku tidak tahu kau juga memasang CCTV di kamar itu?¡± Mendapat tuduhan tersebut, Sean hanya mengangkat bahu. Setidaknya b mereka tidak tidur bersama, dia bisa memantau Via yang tertidur ps dariyar ponsel. Streaming istri yang tertidur di saat mereka terpisah ranjang kedengarannya tidak buruk, tapi sepertinya dia harus menerima kenyataan bahwa Via sudah jauh lebih sadar dengan keadaan sekitar Termasuk setiap CCTV dan penyadap suara serta GPS yang sengaja Sean pasang pada beberapa barang dan ruang untuk melihat Via ketika dia sedang jauh Semua Seankukan hanya untuk berjaga jaga b terjadi sesuatu yang tidak terduga ¡°Dan jangan coba-coba menaruh kamera tersembunyi di saat aku menginap di sana!¡± kata Via yang melempar delikan Ouch, mungkin Sean harus memikirkan carain agar bisa mengawasi Via di saat wanita itu berada di sh satu kamar Luna Star Lagi p, Via tidak akan tahu b dia menyuruh sh satu petugas kebersihan tempat yang tidak terlihat di saat istrinya sedang keluar Sepertinya remot TV atau jam di dinding bisa dijadikan tempat persembunyian kamera pengintai. Seth mengatakan ancamannya, Via pun memutar tubuh ke arah gedung Luna Star,lu dia berjn cepat dan meninggalkan Sean yang menatap kepergian wanita itu dengan tidak r. Previous Chapter Next Chapter Chapter 24 Chapter 24 Read Wanita Rahasia CEO by Blezzia Chapter 24 ¨C Via & Sean 2 Baru satu jam Via berada di kamar dan berbaring di atas kasur saat tiba-tiba dia mendengar suara bell berbunyi nyaring, membuatnya mengh napas dan bergegas membuka pintu hanya untuk mendapati Sean berdiri di depan dengan Carolus dm gendongan. ¡°Mama!¡± panggil balita berwajah rupawan dengan mata bt birunya yang besar. Melihat itu, hati Via pun mencelos karena untuk sesaat dia nyaris lupa dengan keberadaan puteranya yang ditinggalkan bersama pengasuh di rumah. Mata Via seketika mengarah ke pria yang menggendong putera mereka dengan tatapan seperti tanpa dosa. ¡°Dia bng ¡­ rindu pada Ibunya,¡± kata Sean sembari mengayunkan sedikit tubuh ke kanan-kiri yang membuat kep Carolus rebah di dada sang ayah, dan matanya pun tampak berat hendak menutup. Kelopak mata Via mengerjab-ngerjab hingga bulu mata lentiknya ikut mengipas wajah dengan gerakan begitu anggun saat tiba-tiba mendapati keberadaan duo ayah dan anak itu. Sean berdehem karena Via tampak terpaku dan kesulitan berkata-kata. ¡°Sepertinya dia tidak bisa tidur tanpamu dan slu memanggilmu dm tidur.¡± Oh, tentu saja itu hanya san, tapi bagaimana mungkin Via menk kehadiran mereka dengan masing masing memasang wajah polos bersama mata bt him ana sanoatidantil mata bt biru yang sangat identik mengarah padanya. ¡°Aku tahu kau akan berbuat licik, Sean,¡± geram Via dengan suara rendah sembari meminta Carolus dari gendongan Sean yang tentu saja tidak pria itu berikan, karena bisa saja Viangsung menutup pintu b anak mereka sudah berpindah tangan. ¡°Sssttt ¡­ Dia sudah mengantuk berat, biar aku yang menidurkannya di ranjang.¡± Tanpa memedulikan Via yang melempar delikan, dia pun memberikan suaminya itu jn. Dan sebelum melewati pintu, Sean berhenti sebentar untuk memberinya kecupan yang membuat Via masih tetap merasakan debaran jantung saat bersama pria itu. ¡°Apa kau sudah makan?¡± tanya Sean pn, yang Via jawab dengan satu anggukan kep. Pria itu tidak mengatakan apa-apa sethnya dan meneruskanngkah menuju kasur. Astaga, padahal Via hanya bermaksud menginap satu hari saja untuk memberi pjaran agarkiki itu jera, tapi tentu saja seorang Sean Reaviano memiliki banyak cara untuk tetap bersamanya! Seth menidurkan putera mereka di atas tempat tidur, Sean pun menguap lebar dan mengucek matanya seakan dia benar-benar mengantuk. Sadar akan apa yang pria itukukan, Via pun membuka pintu kamar lebar-lebar dan mengisyaratkan pada Sean untuk keluar tanpa diminta, yang tentu saja tidak pria itu terima begitu saja. ¡°Maaf Baby, tapi sepertinya aku tidak bisa menyetir png,¡± katanya memberi san diikuti mulut yang lagigi menguap lebar, tapi matanya masih tampak jernih, tanpa sedikit bayangan kantuk menggyuti. ¡°Tidur saja di kamar milikmu,¡± bs Via memberikan solusi. Sean bisa tidur di mana saja, termasuk memilih kamar Executive di Luna Star. ¡°Oh, aku lupa. Sh satu teman bisnisku baru saja menempatinya,¡± kata Sean sembari membuka dasi yang membuat Via panik seketika. ¡°Dan aku tidak bisa menyetir dm keadaan seperti ini,¡± tambah pria itu sembari membuka kancing lengan kemeja. ¡°Bagaimana b Carolus bangun dan mencariku seperti dia mencarimu tadi?¡± Sebh alis pria itu naik ke dahi sembari melempar tatapan tidak biasa dengan sudut bibir sedikit melengkung ke atas. Dada Via berdebar-debar karena js sekali Sean sedang merencanakan sesuatu. Dan ¡­ oh, bisa- bisanya pria itu bersikap seh mereka sedang wisata keluarga dengan membawa Carolus ke sana! ¡°Akan kutanyakan pada resepsionis untuk meminta kamar yangin untuk kau tempati.¡± Via segera mendekati pesawat telepon yang terhubungngsung ke bagian pyanan, dan ¡­ tidak hanya kamar khusus milik direksi th dipakai untuk tamu penting, tapi juga secara tiba-tiba semua kamar th terisi hingga Luna Star dinyatakan penuh untuk tiga hari ke depan. Padahal, tadi saat dia sedang memesan kamar masih banyak pilihan hingga Via kesulitan memutuskan. Bagaimana mungkin kurang dari satu jam semua kamar terisi? Via yakin jawabannya adh pria setengah tnjang yang memamerkan tubuh six pack di tengah ruangan dengana masih terpasang sempurna, hanya saja bajunya entah mengapa sudah terbuka semua padahal suhu ruangan tidak ada indikasi kepanasan. Begitu dia menutup telepon, Via pun melirik ke arah Sean yang sedang membuka ikat pinggang. ¡°Aku tidak ingin tidur satu ranjang denganmu mm ini,¡± kata Via dengan ekspresi tanpa negosiasi. Kep Sean hanya mengangguk saja tanpa sedikit pun menoleh ke arah Via yang terus memerhatikan suaminya saat berjn menuju kamar mandi. ¡°Ku begitu aku ingin membersihkan diri,¡± kata Sean sembari menoleh ke arah Via dengan tatapan mengh. Dia pun menutup pintu kamar mandi pn dan tidakma sethnya terdengar suara percikan air yang menandakan Sean sibuk di dm sana. Melihat tidak ada yang bisa dkukan, Via pun menatap puteranya yang terlp. Dan dia yakin, pasti Sean membawa putera mereka dari tempat tidurnya sebelum menyusul ke Luna Star. ¡°Oh, my baby,¡± ucap Via sembari menciumi pucuk kep puteranya yang beraroma bodal bavi beraroma bedak bayi. Baru saja dia hendak berbaring di sebh Carolus, saat tiba-tiba Sean memanggil dari ch pintu kamar mandi yang terbuka. ¡°Via,¡± panggil Sean lembut dengan suara sedikit serak, membuat Via heran karena biasanya b pria itu menggunakan suara barusan, artinya dia meminta untuk bercinta. Seketika kep Via menoleh ke sumber suara dan mendapati suaminya mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. ¡°Ada apa?¡± tanya wanita itu dengan wajah bertanya. ¡°Aku lupa membawa handuk,¡± ucap Sean yang membuat Via segera bangkit dari ranjang dan mencari handuk bersih di dmci lemari. Pintu kamar mandi pun terbuka sedikit lebar, memamerkan tubuh Sean yang basah bersama air mengalir dari rambut blonde hingga melintasi kulit keemasan yang diterpa cahayampu di atasnya. Rasanya Via ingin melempar pria itu dengan handuk di tangan, namun ternyata rasa cinta menahannya dan membuat matanya slu mengarah ke tubuh tnjang suaminya. ¡°Hey, mataku di sini, Baby,¡± kata Sean sembari menunjuk wajahnya, yang membuat pipi Via merona merah. Wanita itu berdehem sembari mengulurkan handuk di tangan saat tiba tiba Sean menariknya dan membuat Via terpekik kaget karena seketika tubuhnya berpindah tempat ke dm kamar mandi yang showernya masih meny hingga membuat tubuhnya ikutan basah. ¡°Sean!¡± pekik Via yang berusaha membuka pintu, namun Sean mh membawanya ke bawah air yang mengucur deras. Pria itu mengurung Via di dinding dengan kedua lengan masing-masing di sisi kep wanita itu, dan dia pun merapatkan tubuh hingga tidak ada jarak di antara mereka, kecuali baju basah yang masih melekat di tubuh Via. Content ? N?velDrama.Org. ¡°Apa yang kaukukan!¡± geram Via saa dia merasakan sh satu tangan Sean meraba semakin ke bawah. Pria itu hanya tertawa pn sembari menyibak bajunya hingga terbuka, memamerkan kulit porselin Via yang mi memerah karena siraman air hangat di sekitar. Dan Sean vakin saninnva adh# pto rtante pa pe yang bisa kkukan Sean tepat di telinga sembari PERSTICIA Mi sepanjang leher Via yang basah setang tangan kekarnya bergerilya ti sepanjang perut dan bhan dada wanita itu membuat Via menahan napas ¡°Kau benar benar¡± capan Via dibungkam begitu saja lengan duman yang membuat lidah tuere taarya saling bertaut Dan tidak butuh Dan Sean yakin saninnya adh sikap mi istrinya yang masih malu malu saat disentuh, membuat Sean tertawa pn dan mendaratkan satu kecupan di atas gundukan dada yang tiba -tiba saja menggoda mata. ¡°Menurutmu, apa yang bisa kkukan?¡± tanya Sean tepat di telinga sembari menciumi sepanjang leher Via yang basah sedang tangan kekarnya bergerilya di sepanjang perut dan bhan dada wanita itu, membuat Via menahan napas seketika. ¡°Kau benar-benar sa¡ª¡± Ucapan Via dibungkam begitu saja dengan ciuman yang membuat lidah keduanya saling bertaut. Dan tidak butuh waktuma bagi Sean untuk memberi Via godaan-godaan kecil dengan bibir panasnya, yang pada akhirnya membuat wanita itu seketika meleleh bagai mentega hingga keduanya menghabiskan mm itu di bawah pancuran air hangat yang meny. Dan besok paginya, Sean pun memutuskan untuk mengambil waktu istirahat dari seg pekerjaan di Luna Star untuk waktu yang cukupma, karena baginya keluarga jauh lebih penting saat ini. Dan Sembn bn kemudian, pasangan Reviano itu pun mendapatkan anak perempuan yang diduga tercipta tepat di mm perayaan ng tahun pernikahan yang ke-lima. Uhuk, ya ¡­ sepertinya mm itu mereka berhasil menambah anggota baru Reviano. Satu-satunya anak perempuan seth lima generasi. Previous Chapter The Novel will be updated first on this website. Come back and continue reading tomorrow, everyone!